sumber http://www.kangzusi.com
PENGANTAR :

Pendekar Cinta di susun oleh Si Tabib_Gila – cersil khusus DEWASA
(18+, di bawah itu jangan coba2 ngintip baca nanti bintitan he..he..he)

Menceritakan petualangan Li Kun Liong terjun di dunia kangouw serta petualangan2 cintanya.

Nama Jagoan : Li Kun Liong
Ilmu Silat : Susah di ukur, terus meningkat
Sifat : Jujur, keras, ulet, teguh, romantis
Kelemahan : Lemah terhadap gadis cantik, sedikit mudah tersinggung
Musuh Besar : Kaum Liok-Lim dan Bu-Lim yg munafik
Slogan : Bercintalah jangan perang
Motto : Tidak mau di sebut pendekar tapi manusia biasa saja

Seri ke satu – Dendam Kesumat – TAMAT
Seri ke dua – Rahasia Lukisan Kuno – TAMAT
Seri ke tiga – Bidadari dari Thian-San (Thian-San-Thian-Lie)
PENDEKAR CINTA
(Seri kesatu – Dendam Kesumat)

Jilid 1. Puncak Gunung Thai-San

Pemandangan gunung Thai San di musim semi sangat indah, dimana-mana akan tercium harum bunga dan rerumputan dalam tiupan angin sepoi-sepoi. Juga tidak ketinggalan gemericik air terjun dan sejuknya belaian angin gunung.

Di lereng-lereng gunung dan jurang bermekaran bunga-bunga liar seolah menyambut kedatangan tamu dari jauh. Bunga-bunga di Gunung Thai San kebanyakan tumbuh tebing-tebing terjal, maka hanya dapat dipandang dari jauh. Hanya mereka yang memiliki ginkang yang tinggi dapat memetik dan merasakan harum semerbaknya bunga gunung Thai San.

Setiap musim semi, gunung-gunung di sini menjadi lautan bunga persik, ada yang warna putih, ada pula yang merah. Lembah-lembah di sini penuh ditumbuhi pohon persik. Setiap musim semi, dilihat dari jauh, bunga-bunga persik warna merah jambu menghias seluruh pemandangan.”

Udara cerah dan jarang kabut membuat pelancong jarang melewatkan kesempatan untuk melihat matahari terbit dari lautan awan di puncak gunung.

Di gunung Thai San ini terdapat lebih 300 puncak, 260 sungai. Dan untuk mencapai puncak-puncak gunung itu tidaklah mudah, hanya ahli silat kelas satu yang dapat mendaki puncak gunung Thai San. Para pemburu umumnya hanya berburu sampai di sekitar kaki gunung, jarang yang mampu sampai ke puncak gunung.

Pagi hari, awan dan kabut tipis membubung perlahan-lahan menyelimuti seluruh Gunung Thai San. Dilihat dari bawah gunung, puncak gunung tampak samar-samar, kadang-kadang tertutup oleh awan, dan dilihat dari puncak gunung, tampak lautan awan. Kadang-kadang di atas gunung kabut tebal menutup pemandangan, sedang di bawah gunung hujan rintik-rintik; setelah kabut buyar, terhampar di depan mata pemandangan yang indah menawan.

Jauh di atas puncak tertinggi gunung Thai San terdengar sayup-sayup suara beradu denting logam. Ternyata suara itu berasal dari dua pasang pedang yang berkilauan di timpa sinar matahari pagi.

Terlihat seorang pemuda tujuh belasan tahun dengan tubuh yang kekar dan kuat sedang berlatih sejenis ilmu pedang sedang menyerang dengan sepenuh hati lawan tandingnya – seorang tua berkisar 75 tahunan dengan rambut dan jenggot yang sudah putih semua – melayani serangan si pemuda dengan sungguh hati. Yang mengherankan untuk orang setua itu masih memiliki daya tahan yang kuat untuk menahan dan membalas serangan pedang si pemuda dengan ilmu pedang yang sama.

Teknik pedang yang dipergunakan jelas merupakan salah satu ilmu pedang terhebat. Gerakan ilmu pedang tersebut seolah-olah awan-awan yang menutupi matahari. Sepintas ilmu pedang ini terlihat sangat dasar dan biasa-biasa saja. Namun bagi mereka yang pernah merasakan langsung gerakan ilmu pedang ini terasa timbul medan energi pelindung yang dapat menahan semua serangan lawan dan bahkan dapat menjadi serangan senjata makan tuan bagi siapa saja yang berada dalam lingkupan cahaya pedang.

Si pemuda memiliki kecepatan yang mengagumkan sedangkan si orang tua memiliki pertahanan yang sangat kokoh bak gunung Thai San yang tak tergoyahkan.

Makin lama gerakan pedang yang mereka mainkan semakin lambat, namun hawa chi yang dipergunakan semakin besar. Kelihatannya jurus-jurus terakhir dari ilmu pedang itu akan segera dilontarkan terbukti terkumpulnya hawa chi di ujung pedang mereka sehingga gerakan pedang terlihat melambat. Dapat dipastikan gabungan jurus-jurus pedang dengan chi dari tubuh mereka masing-masing menghasilkan perpaduan jurus pedang sakti yang tak terkalahkan.

Tiba-tiba mereka saling melontarkan pedang dan mundur menjauh dengan cepat – aneh namun nyata, pedang mereka tetap saling menyerang, ternyata dalam gerakan terakhir ilmu pedang ini, pedang dikendalikan dengan lwekang (tenaga dalam) yang tinggi sehingga pedang dapat mereka kendalikan sesuka hati. Kehebatan jurus pedang yang mereka mainkan sangat mengiriskan hati.
Namun lama kelamaan jelas kelihatan si pemuda mulai keteteran mengendalikan pedangnya dan tertekan oleh pedang si orang tua.
Trak… akhirnya pedang si pemuda patah dalam bentrokan terakhir dan terlempar keluar dari lingkaran pedang.

“Cukup A Liong” kata si orang tua. Engkau sudah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu pedang kita, cuma lwekangmu perlu engkau latih lebih mendalam untuk menyakinkan jurus terakhir dari pedang terbang supaya engkau dapat menjalankan semua jurus pedang terbang. Rahasia ilmu pedang perguruan kita ini adalah dengan memadukannya chi (hawa sakti) yang kau miliki dan akan menghasilkan perpaduan yang tak terkalahkan. Lohu perkirakan asal engkau rajin bersemedi melatih lwekangmu, tidak sampai 10 tahun ke depan, lwekang yang kau miliki sudah cukup untuk menguasai ilmu pedang terbang perguruan kita.

“Terima kasih Suhu” kata si pemuda yang bernama Lie Kun Liong sambil berlutut. Budi baik suhu tidak akan pernah murid lupakan. Sambil menghela nafas si orang tua berkata “Lohu tahu engkau sudah tidak sabar lagi mencari musuh besarmu dan membalas dendam kematian ayah bundamu yang sangat misterius”. Dengan bekal kepandaian yang sekarang engkau miliki, lohu boleh berlega hati membiarkanmu turun gunung dan berkecimpung di dunia kang-ouw. Tidak banyak ahli silat kosen yang dapat mengalahkanmu saat ini.

“Petuah Suhu akan selalu teecu patuhi” kata si pemuda. Memang benar teecu sudah tidak sabar lagi mencari tahu siapa sebenarnya pembunuh yang membuat keluarga teecu hancur. Setahu teecu waktu kejadian 12 tahun yang lalu itu, sedikitnya ada 5 orang yang berpakaian hitam dengan berkedok menutupi wajah yang menyerang dan mengeroyok ayah dan ibu. “Lohu tahu” kata si orang tua. Kalau tidak kebetulan lohu lewat di depan rumahmu dan mendengar suara pertempuran, mungkin saat itu engkaupun akan mereka bunuh untuk membabat rumput sampai ke akarnya.
Namun sayang saat itu lohu sedang terluka dalam yang parah sehingga lohu tidak yakin dapat mengalahkan mereka. Lagipula saat lohu tiba kedua orangtuamu baru saja menghembuskan nafasnya di tangan mereka. Yang lohu perhatikan saat itu adalah menyelamatkan dan menyembuyikanmu terlebih dahulu dari tangan kejam mereka.

“Oh ya suhu, kalau teecu boleh tahu siapa yang mampu membuat suhu terluka parah saat itu” kata A Liong dengan rasa ingin tahu.
“Sebenarnya kau punya seorang susiok tapi susiokmu itu sejak dari dulu mempunyai tabiat yang kurang baik sehingga sering melakukan perbuatan-perbuatan sesat dan di benci oleh kaum persilatan. Lohu sudah berupaya agar susiokmu itu sadar atas segala perbuatannya namun tak pernah dihiraukan, bahkan terakhir kali ia bertemu lohu, susiokmu itu bekerjasama dengan kawan-kawannya mengeroyok lohu dan membokong lohu secara pengecut dengan racun hingga lohu terluka parah. Untungnya lohu berhasil meloloskan diri dari kerubutan mereka. Sebenarnya sejak kecil lohu yang mewakili Insu mendidik dan mengajari ilmu silat susiokmu itu, untungnya Insu sudah sejak awal melihat tabiatnya kurang baik sehingga ia berpesan pada lohu untuk tidak mengajarinya 8 jurus terakhir ilmu pedang terbang. Saat ini mungkin umur susiokmu berkisar 40 tahunan”.

Boleh di bilang salah satu yang membuat lohu kecewa dalam hidup ini adalah tidak mampu mengendalikan sepak terjang sute sendiri. Lohu harap jika engkau bertemu dengan susiokmu itu, sampaikan kata-kata lohu supaya ia segera sadar atas perbuatan jahatnya. Kalau dia tetap tidak berubah, engkau boleh melawan dan membasminya – syukur bila engkau dapat memunahkan ilmu silatnya saja tapi kalau keadaan terpaksa engaku boleh membasminya, demi ketenangan dunia kang-ouw.

Susiokmu bernama Tan Kin Hong, julukannya Tok-tang-lang (si belalang berbisa) dan memiliki ilmu silat yang tinggi. Lohu rasa dengan ilmumu sekarang ini engkau sudah mampu menandingi susiokmu, tapi satu perlu diperhatikan adalah ilmu racunnya. Entah dari mana ia mempelajarinya, ia mempunyai keahlian meracuni orang tanpa disadari yang bersangkutan, baik melalui makanan, minuman maupun dari hembusan nafasnya. Semua senjatanya baik pedang, senjata rahasianya dilumuri racun keji yang dapat membunuh secara seketika. Jadi berhati-hatilah jika ketemu susiokmu.
“Teecu akan berhati-hati suhu” kata si pemuda.

“Sebelum engkau turun gunung sebaiknya perlu lohu beritahukan sekilas keadaan dunia persilatan sekarang ini biar engkau tidak buta akan keadaan dunia kang-ouw.

Saat ini Hong-tiang (ketua) biara Shaolin – Tiang Pek Hosiang, ketua partai Bu-Tong – Kiang Ti Tojin , dan ketua partai Thai-San – Master The Kok Liang, serta ketua perkumpulan Kay-Pang – Sun Lo-Kai merupakan tokoh yang paling berpengaruh di dunia persilatan, boleh di bilang mereka adalah tokoh paling kosen dan dimalui semua orang. Namun seperti yang engkau ketahui di antara ke empat tokoh tersebut hanya Master The Kok Liang yang berkeluarga dan mempunyai seorang putri yaitu teman mainmu Cin-Cin.

Selain Master The Kok Liang, lohu juga berteman baik dengan Sun Lo-Kai – Ketua Kay-Pang tapi sudah sudah belasan tahun ini lohu tidak bertemu dengannya, disamping lohu sibuk mengajarimu ilmu, juga Sun Lo-Kai senang berkelana ke seluruh penjuru sehingga bahkan murid-murid Kay-Pang pun sulit menemukannya.

Apabila kau mujur berjumpa dengannya, sampaikan salam dan pesan lohu supaya dia tidak pelit ilmu. Mudah-mudahan ia mau mengajarimu sejurus dua jurus ilmu saktinya”. Sedangkan dengan Tiang Pek Hosiang dan Kiang Ti Tojin, lohu cukup kenal dan pernah bertemu mereka tukar pikiran.
“Bagaimana dengan suhu ?” kata Lie Kun Liong, teecu yakin ilmu suhu tidak kalah lihai dari mereka.
“Huss.. jangan mengumpak suhu sendiri. Dalam dunia persilatan masih banyak tokoh-tokoh kenamaan, hanya mereka tidak mau menonjolkan diri. Ingat pepatah diatas langit masih ada langit”.
“Baiklah besok engkau boleh pergi turun gunung, sekarang engkau boleh siap-siap”.
“Baik suhu” kata Lie Kun Liong.

Ia segera pergi kembali ke kamarnya dan menyiapkan buntalan pakaian serta bekal yang dibutuhkan. Setelah itu ia pergi ke puncak gunung Thai-San di sebelah timur dari pondok kediaman mereka untuk menemui Cin-Cin. Mereka sudah semenjak lama berteman mulai di waktu ia baru tiba di gunung Thai-San. Ia ingat waktu pertama kali suhu mengajaknya ke Thai-San-Pay untuk menyambangi sahabat suhunya – ketua Thian-San-Pay Master The Kok Liang, disana ia diajak oleh Cin Cin untuk berkenalan dengan saudara seperguruannya. Tapi ia paling akrab dengan Cin Cin dan Tang Bun An, suheng Cin Cin – murid pertama dari master The Kok Liang.

Mereka bertiga sering bermain, bercengkrama, berburu dan menjelajahi hutang di gunung Thai San bersama-sama, bahkan kadangkala mereka bermalam di hutan sambil membakar hewan hasil buruan, tidur beratapkan langit seolah-olah mereka sedang berkelana di dunia kangouw.

Sesampainya di Thai San Pay, segera ia mencari Cin Cin dan Tang Bun An memberitahu mereka akan kepergiannya esok hari.

“Kenapa mendadak sekali, aku mau minta ijin ke ayah agar diperbolehkan turun gunung juga” kata Cin Cin sambil berlari masuk kedalam rumah mencari ayahnya.

Sambil tersenyum menatap kepergian Cin Cin, Tang Bun An berkata, “Engkau beruntung Liong-heng boleh terjun ke dunia kangouw sekarang” Sedangkan menurut suhu masih perlu waktu 1-2 tahun lagi bagi kami untuk menamatkan pelajaran.

“Moga moga kalian juga bisa turun gunung secepatnya, supaya kita bisa bersama-sama berkelana dunia kangouw” kata Lie Kun Liong sambil tersenyum. Suhu sebenarnya berat melepas kepergianku tapi suhu sadar cepat atau lambat aku harus pergi dan mencari tahu siapa pembunuh keluargaku.

“Mudah-mudahan engkau berhasil membalas dendam kematian orangtuamu” kata Tang Bun An. Oh ya, apa rencanamu begitu turun gunung ?

“Aku akan kembali ke kampung halaman dulu, mencari tahu kabar dari tetangga sekitar mengenai kejadian 12 tahun yang lalu, siapa tahu ada petunjuk yang bisa didapatkan”

Tak berapa lama kemudian Cin Cin kembali dengan wajah cemberut diiringi ayahnya – Master The Kok Liang dan ibunya – Nyonya Hui Lan . Penampilan ketua Thian San Pay ini sederhana dan bersahaja, berumur sekitar 50 tahunan namun masih tampak lebih muda dari umurnya. Apabila tidak mengenal asal-usulnya, orang bisa menyangka ia hanya susing (pelajar) pertengahan umur yang lemah.

Namun di balik penampilan yang lemah ini tersembunyi kekuatan dahysat dan tidak banyak tokoh silat yang mampu menghadapi ilmu silatnya. Di usianya sekarang ini ia sudah mampu menempatkan diri sebagai salah satu tokoh terbesar dan berpengaruh di Bu Lim bahkan yang termuda di antara yang lainnya. Tiang Pek Hosiang, Kiang Ti Tojin dan Sun Lo-Kai sudah berumur 70-80 tahunan.

Di bawah kepemimpinannya ilmu pedang perguruan Thai San Pay berkembang dengan pesat dan diakui rimba persilatan sebagai salah satu ilmu pedang yang dahysat sejajar dengan Bu Tong Pay. Saat ini partai Thai San memiliki kurang lebih 500 murid dengan 7 orang murid utama yang memiliki kungfu tertinggi dan di kepalai oleh Tang Bun sebagai murid pertama dan sudah mewarisi seluruh ilmu partai Thai San. Sedangkan Cin Cin boleh di bilang masih kalah dari toa suhengya Tang Bun An, terutama di tenaga lwekang. Namun apabila mereka berlatih bersama-sama, mereka berdua merupakan jelmaan Master The Kok Liang dan nyonya Cen Hui Lan di masa muda. Sute-sute mereka tidak mampu mengalahkan mereka walaupun di keroyok 6 orang.

Sedangkan istrinya yang bernama Chen Hui Lan merupakan pasangan yang setimpal dengannya, selain sebagai istri, ia juga merupakan pasangan suaminya dalam ilmu silat karena sebenarnya mereka adalah suheng-sumoy. Di waktu masih muda keduanya sudah mengemparkan dunia persilatan dengan ilmu pedang bersatu padunya. Kalau sang suami kelihatan gagah dan bersemangat, Nyonya Cen Hui Lan lemah lembut dan bekas kecantikan di masa muda masih jelas terlihat. Tidak heran kecantikan Cin Cin rupanya menurun dari orang tuanya.

“Hiantit, lohu dengar dari Cin Cin engkau mau turun gunung ?” kata Master The Kok Liang. Apa benar ?
Ya, paman suhu mengijinkan cayhe (saya) untuk menimba pengalaman di dunia kangouw. Mulai besok aku turun gunung sekalian mohon pamit dan doa restunya dari paman dan bibi.
“Engkau harus berhati-hati A Liong” kata nyonya Cen Hui Lan, dunia kangouw sangat kejam dan banyak tipu muslihatnya. “Apakah gurumu sudah memberitahu keadaan dunia persilatan saat ini” kata Master The Kok Liang.
“Sudah paman” kata Lie Kun Liong. Bahkan menurut suhu paman termasuk empat tokoh paling tersohor di dunia kangouw selain ketua Shaolin, ketua Butong dan ketua Kaypang.
“Wah gurumu pintar merendahkan diri rupanya hiantit” kata master The Kok Liang sambil tertawa., siapa yang tidak kenal dengan Sin Kiam Bu Tek (Dewa Pedang Tanpa Tanding) – *** Khi Coan 30 tahun yang lalu, suhumu itu. Bahkan lohu masih perlu belajar lagi kalau berhadapan dengan suhumu kata Master The Kok Liang dengan serius.

“Benar A Liong, bibi rasa omongan gurumu itu perlu di revisi sedikit. Yang benar adalah 5 tokoh besar bukan empat, suhumu sudah pasti salah satu diantaranya” kata nyonya Cen Hui Lan sambil tersenyum.

“Cin Cin setuju dengan perkataan ibu, aku pernah mencuri lihat latihan silat *** locianpwe (orang tua gagah) dan Liong-ko, sangat hebat dan mendebarkan hati” kata Cin Cin sambil tertawa-tawa

“Cin Cin! Engkau tidak boleh mencuri lihat orang sedang berlatih kungfu, pantang bagi kaum persilatan melakukannya” kata Master The Kok Liang dengan wajah berkerut marah.

“Tidak apa-apa paman, suhu sebenarnya sudah tahu kalau Cin-moy suka melihat waktu kami berlatih. Suhu cuma berlagak pilon saja dan tidak marah” kata Lie Kun Liong menenangkan keadaan.

“Syukur suhu A Liong tidak marah, sebenarnya mencuri lihat latihan orang merupakan pantangan utama kaum persilatan, bahkan bisa menimbulkan pertempuran mati hidup. Engkau tidak boleh melakukannya lagi Cin Cin” kata master The Kok Liang masih dengan nada marah.

“Ya ayah” kata Cin Cin sambil menundukkan wajahnya. Tapi dengan sembunyi-sembunyi meleletkan lidahnya ke arah Lie Kun Liong begitu ayahnya tidak melihat.

Lie Kun Liong tersenyum melihat kelakuan Cin Cin yang masih kekanak-kanakan itu. Ia tahu Cin Cin memang manja dan suka bertindak sesuka hati. Ia menganggap Cin Cin seperti adik sendiri karena ia tidak punya adik sendiri untuk disayangi.
Mereka bertiga lalu pergi ke belakang lembah di belakang partai Thai San, tempat di mana mereka biasanya mengobrol dan bertukar pikiran.

“Liong-ko apa engkau sudah menguasai ilmu pedang terbang sehingga suhumu memperbolehkanmu turun gunung” kata Cin Cin dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Aku tidak heran sumoy, Liong-heng memang berbakat sekali bahkan ilmu suratnya melebihi kita” kata Tang Bun dengan nada kagum. Menurut sunio (ibu guru wanita) Liong-heng memiliki bakat yang sangat jarang sekali yaitu “Sekali melihat tak terlupakan”.

“Engkau bergurau twako, dulu kalau bukan engkau dan Cin-moy yang memohon bibi untuk memperbolehkan aku ikut serta belajar ilmu surat dengan kalian, mungkin saat ini aku tidak melek huruf” kata Lie Kun Liong.

“Sekarang Liong-ko sudah menjadi pendekar yang Bun Bu Coan Cay (mahir ilmu silat dan ilmu surat)” kata Cin Cin sambil bergurau.

“Kalian bergurau saja, bagaimana dengan kalian – siapa yang tidak kenal dengan kehebatan gabungan ilmu pedang kalian, mungkin ilmuku tidak ada seujung jari kalian” balas Lie Kun Liong.
“Bagaimana kalau kita coba-coba berlatih bersama” kata Cin Cin dengan semangat.
“Jangan sumoy, nanti suhu marah” kata Tang Bun buru-buru.
“ Huh.. penakut” cibir Cin Cin.

“Sudahlah jangan bergurau lagi” kata Lie Kun Liong. Mari kita bicara tentang dunia persilatan. Apa saja yang kalian ketahui tolong beritahu untuk bekal nanti.

“Ketika susiok datang berkunjung tahun yang lalu, dia orang tua pernah memberitahu bahwa untuk angkatan muda yang paling menonjol saat ini adalah selain angkatan muda murid-murid utama partai Shaolin, Butong, Thai San, Kaypang, Hoa San Pay, Go Bi Pay masih ada dua orang yang menjulang namanya akhir-akhir ini yaitu Bai Mu An dengan julukan Si Pedang Kilat dan Liok In Hong dengan julukan Dewi Pedang (Sian Li Kiam). Ilmu silat keduanya kabarnya sangat mengejutkan dan tidak ada yang tahu berasal dari aliran mana ilmu pedang mereka” kata Cin Cin.

“Benar susiok memang suka berkelana, dia orang tua tahu benar perkembangan dunia persilatan saat ini. Sayang susiok belum datang lagi ke sini, kalau tidak engkau bisa menimba pengetahuan yang banyak Liong-heng” kata Tang Bun.

“Rupanya kalian masih punya susiok” kata Lie Kun Liong dengan heran. Selama berkunjung di sini, aku tidak pernah tahu bahwa paman dan bibi masih punya saudara seperguruan.

“Engkau benar Liong-ko, waktu susiok datang setahun yang lalu engkau sedang sibuk memperdalam ilmu pedang terbang dan selama kurang lebih 3 bulan engkau jarang berkunjung ke sini” kata Cin Cin.

Menurut ayah susiok memang jarang datang ke sini, terakhir kali dia orang tua datang waktu aku masih bayi. Sebenarnya sudah lama aku tahu masih punya susiok tapi karena jarang bertemu jadi lupa. Ibu bilang ilmu silat susiok susah di ukur tingginya karena susiok gemar sekali ilmu silat dan banyak belajar ilmu silat di luar Thai San Pay kita.

Sebenarnya yang harus menjadi ketua Thai San Pay adalah susiok sebagai murid pertama kakek guru tapi susiok tidak mau pusing dan harus menetap di gunung Thai San ini – dia tidak betah makanya kakek guru menetapkan ayah sebagai penggantinya.

“Waktu berkunjung tahun kemarin susiok mengajarkan aku dan toako ilmu menutuk jari dari negeri Taylie yang di sebut It Ci Sian. Ilmu ini sangat lihai bisa menutuk urat nadi orang dari jarak jauh tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Sampai sekarang aku cuma menguasai kulitnya saja, mungkin toako sudah menguasainya” kata Cin Cin sambil melirik Tang Bun.

“Masih belum sesempurna susiok sumoy, tapi sudah lumayan. Yang penting adalah lwekang harus kuat karena ilmu tutuk jari ini sangat mengandalkan tenaga dalam” kata Tang Bun.

“Selamat kalian bisa mendapatkan ilmu yang langka itu” kata Lie Kun Liong. Aku jadi sedikit iri dengan kalian punya susiok yang maha lihai.

“Kalau engkau mau nanti aku ajari It Ci Sian” kata Cin Cin kepada Lie Kun Liong.

“Jangan-jangan, aku cuma bergurau, nanti susiokmu marah kamu sembarangan mengajari orang ilmu yang dia ajarkan” kata Lie Kun Liong buru-buru. Wah sudah siang, suhu pasti sudah menunggu-nunggu, aku pulang dulu yah – sampai ketemu lagi di dunia kangouw kalau kalian sudah turun gunung.

“Liong-heng besok kami akan berkunjung ke tempatmu untuk mengantar kepergianmu” kata Tang Bun.

“Tidak usah merepotkan, aku pergi pagi-pagi sekali – sampai ketemu lagi yah” tampik Lie Kun Liong sambil berjalan pergi.

Cin Cin memandang kepergian Lie Kun Liong dengan termangu, ia merasa ada sesuatu yang hilang – entah apa tapi yang jelas ia merasa sedih kehilangan teman bermainnya. Untuk gadis usia lima belas tahun, ia tidak tahu perasaan itu adalah benih-benih cinta.

Selagi Cin Cin termenung, Tang Bun pun sedang melirik Cin Cin sembunyi-sembunyi, didalam hatinya ia tahu Cin Cin merasa kehilangan Lie Kun Liong. Diam-diam tanpa sepengetahuan kedua temannya ia sudah lama menaruh hati pada Cin Cin. Diantara mereka dialah umurnya yang paling tinggi – delapan belas tahun sehingga masalah cinta sedikit banyak ia lebih mengerti dari kedua kawannya itu. Timbul beban berat di hatinya karena sadar punya saingan untuk merebut si pujaan hati. Entah apa yang akan terjadi asmara segi tiga di antara mereka.

Di lihat dari penampilan, Tang Bun dan Lie Kun Liong sama-sama memiliki kelebihan. Muka Tang Bun lebih kelaki-lakian dan sedikit kasar sedangkan Lie Kun Liong wajahnya lebih halus sehingga terlihat lebih tampan. Dari bentuk tubuh Tang Bun lebih kokoh dan terkesan gagah sedangkan Lie Kun Liong terkesan lemah seperti siucai (pelajar lemah). Namun dari sorot mata, Lie Kun Liong lebih tajam dan bersinar terang menandakan pemilik mata ini sudah menguasai ilmu lwekang yang dalam.

“Toa suheng! kenapa engkau menatapku terus, ada yang salah dengan penampilanku” kata Cin Cin tiba-tiba sambil melihat ke a rah pakaian yang dipakainya.
“Tidak apa-apa sumoy” kata Tang Bun gelagapan.
“Mari kita pulang” ajak Tang Bun buru-buru.
Akhirnya mereka berjalan pulang dengan pikiran masing-masing.
Mereka tidak tahu harapan untuk turun gunung akan tercapai beberapa bulan kemudian setelah Lie Kun Liong turun gunung.
Jilid 2. Kembali ke kampung halaman

Bulan tiga seputar Kota Siangyang*,
Ribuan bunga, ‘bak gambar sulaman.
Mana tahan, merana di musim semi,
Sudah gini, jadi penginnya minum.
Kaya miskin, panjang pendek usia,
Jengukan takdir, saat pagi buta.
‘Bis seguci, tak p’duli hidup mati,
Sulit meramal, yang bakal terjadi.
Sudah mabuk, terus lupa daratan,
Tersentak kaget, cuma ada guling.
Tidak sadar diri, lupa semuanya,
Nikmatnya arak, di atas segala.

*sekitar kota Chang An sekarang

Syair buatan penyair kenamaan Li Pai ini terpampang di dinding kedai arak “Wei An” di salah satu sudut kota Siangyang, terkenal akan ciu (arak)nya yang harum dan memabokkan terutama arak Huangciu buatan kedai ini sangat terkenal. Boleh di bilang pengemar arak yang mampir di kota Siangyang ini tidak akan melewatkan kesempatan mencicipi Huangciu dari kedai ini.

Siang hari itu cerah dimana matahari bersinar lembut dan tiada awan, nampak seorang pemuda berpakaian sederhana namun bersih mendatangi kedai arak “Wei An” dan memilih duduk di pojokan meja dekat jendela menghadap jalanan. Ia memesan seporsi bakmi, beberapa potong bakpau dan tentunya Huangciu buatan kedai ini.

Sambil menikmati Huangciu dan makanan yang dipesan, ia memandang jalanan disekitarnya. Siang hari itu tidak banyak orang yang berlalu lalang begitu pula keadaan kedai ini cuma berisi dua tiga orang tamu saja.
“Cukup sepi hari ini lopek” sapa si pemuda ke pelayan kedai.
“Ya kongcu (tuan muda), biasanya nanti mulai sore hingga malam hari pelanggan kedai ini baru pada datang” sahut pelayan itu.
“Lopek sudah lama bekerja di sini?” tanya si pemuda.
“Sudah tigapuluh tahunan kongcu” jawab si pelayan.
“Aku (saya) baru pertama kali datang ke kota ini lopek, mau mengunjungi saudara misan ayah yang tinggal di sebelah ujung jalan ini. Apakah lopek tahu letak kediamanan keluarga Lie, yang menjalankan usaha toko obat ?” tanya si pemuda.

“Oh maksud kongcu adalah pemilik toko obat yang dipanggil Lie sinshe (tabib) ?” jawab si pelayan dengan rasa kaget. Sayang sekali keluarga Lie sinshe 12 tahun yang lalu mengalami musibah. Lie sinshe dan istrinya ditemukan tewas mengenaskan dan anak lelakinya menghilang tak berketentuan. Menurut pelayan keluarga itu yang kebetulan keponakan kenalan lohu – namanya A hwi, ketika kejadian ia kebetulan sedang keluar dan baru saja hendak kembali ketika ia melihat bayangan beberapa orang berpakaian hitam dan berkedok turun dari kereta kuda dan menuju kediaman Lie sinshe.

Melihat gelagat kurang baik ia segera sembunyi di pojokan jalan. Tak berapa lama kemudian ia mendengar suara orang berkelahi. Ia semakin ketakutan dan tidak berani keluar dari tempat sembunyinya. Ia baru berani keluar setelah ia melihat gerombolan berpakaian hitam itu keluar dan menghilang dikegelapan malam.
Dengan memberanikan diri, ia mengendap-endap mendekati kediaman Lie sinshe dan menemukan suami istri itu telah tewas. Namun di dekat mayat Lie sinshe ia menemukan sebaris huruf dari goresan tangan Lie sinshe sebelum meninggal.

“Apa isi tulisan tangan itu” tanya si pemuda dengan muka tegang.
“Tulisan itu cuma berisi kata Bu Tong” sahut si pelayan. Menurut pihak keamanan kota, peristiwa itu merupakan perselisihan dunia kangouw sehingga mereka tidak berani mengusutnya lebih lanjut dan langsung menguburkan mereka di pemakaman di sebelah Timur pinggiran kota ini.
“Apa benar mereka yang kongcu cari?” Tanya si pelayan dengan nada menyelidik.

“Kemungkinan besar benar lopek” kata si pemuda dengan nada sedih. Aku mau menyambangi kuburan mereka untuk memberi penghormatan terakhir, mohon tunjukan arah ke pemakaman itu lopek” kata si pemuda.

“Silakan kongcu ambil arah ke kiri dari ujung jalan ini, lalu setelah sampai ke pinggiran kota, belok ke kanan. Tidak jauh dari situ ada bukit dan di puncak bukit itu kuburan mereka berada” jawab si pelayan.

“Terima kasih banyak lopek atas informasi dan petunjuknya” sahut si pemuda sambil membayar makanan dan memberi tip yang lumayan besar buat si pelayan itu.

“Sama-sama kongcu” jawab si pelayan dengan muka berterima kasih.
Mengikuti petunjuk si pelayan tadi, si pemuda yang kita kenal sekarang sebagai Lie Kun Liong tiba di puncak bukit dimana kuburan itu berada. Keadaan kuburan siang hari itu sunyi dengan beberapa deretan kuburan yang masih segar dan merah. Ia berjalan perlahan-lahan membaca tanda nama di setiap kuburan itu yang cukup luas. Di ujung kuburan itu akhirnya ia menemukan papan nama kedua orangtuanya.

Sambil berlutut dan menumpahkan air mata kesedihan yang sudah lama ditahannya di depan kuburan kedua orangtuanya, Lie Kun Liong berdoa bagi ketenangan jiwa mereka dan memohon petunjuk mereka untuk dapat menangkap pembunuh berdarah dingin itu.
Di saat ia masih di landa kesedihan, tiba-tiba ia mendengar suara seruling. Suara itu datang cukup jauh dari kuburan dan dari arah berlawanan dimana ia datang tadi.

Dengan perasaan tertarik, Lie Kun Liong berjalan mendekati suara seruling itu. Ternyata suara seruling itu berasal dari bawah bukit sebelah Barat. Di atas batu besar duduk bersila seorang pemuda berbaju putih sedang meniup seruling. Suara seruling itu lembut dan merdu serta mendayu-dayu. Dengan irama lagu cinta yang lancar, nadanya relatif panjang dan dapat dengan baik mengungkapkan seluruh pikiran dan perasaan si peniup suling. Memberikan rasa indah yang mendalam.

Setelah selesai meniup seruling si pemuda berbaju putih lalu bangkit dan berbalik menghadap arah datangnya Lie Kun Liong. Rupanya ia sudah tahu kedatangan Lie Kun Liong. Wajahnya sangat tampan dan halus. Pakaian yang dikenakannya putih bersih dan terbuat dari bahan kwalitas bagus. Ia kelihatan seperti seorang siucai yang hendak menempuh ujian di kota raja.
“Tiupan seruling saudara sangat merdu, maaf bila aku menganggu ketenangan saudara” kata Lie Kun Liong sambil berjalan mendekat. Aku Lie Kun Liong kebetulan berada di kuburan di sebelah sana dan mendengar tiupan seruling saudara.

“Ah, tidak apa-apa “ kata si pemuda baju putih. Aku juga kebetulan lewat dan tertarik dengan suasana pemandangan di sini sehingga timbul keinginan untuk meniup seruling. Nama aku Liok Han Ki. Saudara penduduk di sekitar sini ?

“Di sini kampung halaman aku dan baru hari ini kembali ke sini untuk menyambangi kuburan orang tua aku “ kata Lie Kun Liong. Karena Liok-heng baru pertama kali ke sini sebaiknya Liok-heng bermalam di penginapan dekat tengah kota. Penginapan di sana cukup bersih dan ada restorannya sehingga tidak perlu keluar dari penginapan untuk mencari makan.

Kalau Liok-heng suka minum arak, tidak boleh melewatkan arak buatan kedai arak “Wei An” yang terletak di sudut kota ini.
“Terima kasih atas petunjuk Lie-heng, aku sebenarnya tidak biasa minum arak tapi untuk secangkir dua cangkir bolehlah, apalagi kata-kata Lie-heng tentang arak buatan kedai “We An” menarik minat aku untuk mencobanya” kata Liok Han Ki.

Sesampainya di kedai arak mereka langsung memesan dua poci arak Huangciu dan makanan sekedarnya.

“Memang enak dan harum arak ini, sudah lama aku tidak mersakan arak seharum ini” kata Liok Han Ki sambil menuang kembali seloki arak. Maaf, kalau aku lihat Lie-heng pasti memiliki ilmu silat yang tinggi. Kalau boleh tahu siapa guru dan dari aliran mana perguruan Lie-heng ? tanya Liok Han Ki.

“Ah cuma untuk sekedar jaga diri saja Liok-heng, aku belajar dari guru silat biasa dan bukan dari aliran perguruan terkenal” sahut Lie Kun Liong mengelak. Malah ilmu silat Liok-heng pasti lihai sekali sambil menatap sarung pedang yang di sandang Liok Han Ki.

Sambil tersenyum Liok Han Ki berkata, “Lie-heng terlalu merendahkan diri, melihat sinar mata Lie-heng yang tajam aku rasa tidak sembarang jago silat dapat mengalahkan Li-heng”.

“Oh ya, Liok-heng hendak menuju kemana ?” kata Lie Kun Liong mengalihkan perhatian.

“Sejak keluar dari perguruan aku ingin sekali berkunjung ke kota raja. Sudah lama aku dengar kemegahan Nanking yang terkenal dengan masakannya yang enak-enak dari restoran-restoran terkenal, istana raja, serta taman danu kerajaan yang indah” kata Liok Han Ki. Kalau Lie-heng mau kemana ?

“Aku mau mengunjungi Butong-san (gunung Butong), aku dengar Butong-san terkenal akan keindahan pemandangannya, di samping itu juga ingin sekedar melihat kemegahan partai Butong, syukur bila bisa berkenalan dengan para pendekar dari Butong” kata Lie Kun Liong.

“Kalau begitu arah perjalanan kita sama. Kebetulan aku juga belum pernah mengunjungi Butong-san, kalau Lie-heng tidak keberatan, aku ingin mengadakan perjalanan bersama Lie-heng pergi ke Butong-san” Liok Han Ki dengan bersemangat.

“Bagaimana dengan keinginan Liok-heng mengunjungi kota raja” tanya Lie Kun Liong ragu-ragu karena ia sebenarnya ingin pergi sendiri ke Butong untuk menyelidiki kematian orang tuanya yang gelagatnya berkaitan erat dengan Butong. Ia tidak ingin melibatkan kawan barunya ini dalam persoalan pribadinya.

“Kunjungan ke Nanking bisa aku tunda dulu setelah menemani Liok-heng ke Butong-san” kata Liok Han Ki dengan pasti. Lagi pula sebelum ke Nanking harus melewati Butong-san dulu.
Jilid 3. Suatu perkara aneh

Perjalanan bersama Liok Han Ki cukup menyenangkan, ia rupanya sudah cukup lama berkelana dan sudah berpengalaman sehingga Lie Kun Liong tidak sedikit mendapatkan keuntungan dari kawan barunya ini. Sepanjang perjalanan mereka kadang-kadang mereka terpaksa bermalam di hutan atau kelenteng rusak. Bila menginap di hotel, Liok Han Ki selalu memesan dua kamar untuk mereka. Lie Kun Liong pernah menyatakan

keheranannya kenapa harus memesan dua kamar, bukannya satu kamar lebih dari cukup dan dapat menghemat biaya perjalanan. Namun Liok Han Ki mengatakan bahwa ia dari kecil sudah terbiasa mempunyai kamar sendiri dan tidak biasa berbagi kamar. Lie Kun Liong cukup memakluminya, ia tahu tabiat kawan barunya ini cukup keras dan manja, mungkin ia dibesarkan di keluarga yang cukup berada sehingga suka membawa adatnya sendiri.

Dia tidak berani banyak bertanya mengenai keluarga Liok Han Ki karena ia mempunyai kesulitan-kesulitan sendiri dan tampaknya Liok Han Ki juga merasa bahwa Lie Kun Liong cukup tertutup mengenai latar belakangnya sehingga ia tidak banyak tanya.

Suatu hari mereka tiba di dusun kecil dan mampir di warung makan satu-satunya di dusun itu. Warung itu cukup sederhana, hanya terdapat beberapa meja dan makanan yang tersedia hanya bakmi dan bakpau saja. Saat itu pelanggan yang datang hanya mereka berdua saja. Selagi mereka menikmati makanan, masuk dua orang pria berusia pertengahan sambil menenteng pedang dan memilih duduk di meja yang menghadap ke pintu masuk warung. Dilihat dari penampilan mereka sepertinya memiliki ilmu silat yang cukup tangguh terutama pria yang berpakaian abu-abu, sinar matanya cuku tajam menandakan lwekangnya cukup tinggi.

Sambil memesan makanan, mereka memandang Liok Han Ki dan Lie Kun Liong sekejap lalu sambil menyantap makanan mereka bicara satu sama lain dengan suara lirih.

“Ke dua pemuda ini sepertinya berisi, kita harus hati-hati” kata pria berbaju abu-abu.

“Si-heng terlalu khawatir, dua bocah ini aku rasa cuma siucai yang berlagak bawa pedang supaya tidak diganggu penjahat kacangan saja. Aku rasa mereka cuma gentong nasi tidak perlu dipedulikan” sahut pria yang bercambang lebat.
Walaupun mereka bicara berbisik-bisik namun Lie Kun Liong dapat mendengarnya dengan jelas. Ia tidak mau usil dan hanya tersenyum saja. Lain dengan Liok Han Ki, rupanya ia juga dapat mendengar pembicaraan ke dua orang itu. Ia mendengus tanda hatinya merasa tersinggung. Tapi melihat Lie Kun Liong diam saja maka iapun tidak berbuat apa-apa hanya memandang hina ke dua orang itu.

Salama makan kedua orang itu tidak banyak bicara. Setelah puas makan mereka lalu pergi melanjutkan perjalanan.

“Lie-heng kedua orang itu cukup mencurigakan, mari kita ikuti perjalanan mereka” kata Liok Han Ki.

“Sebaiknya kita tidak usah mencari perkara sama mereka Liok-heng. Aku lihat kedua orang itu memiliki ilmu yang lumayan terutama pria yang berbaju abu-abu” kata Lie Kun Liong.

“Justeru itu aku curiga mereka adalah penjahat yang hendak berbuat sesuatu yang jahat. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang kebentur di tanggan aku lolos” jawab Liok Han Ki.

Dengan perasaan apa boleh buat Lie Kun Liong mengerahkan ginkangnya mengikuti kawannya mengejar kedua orang itu.

Untuk pertama kalinya ia dapat mengukur ilmu ginkang kawan barunya itu ternyata tidak berada di bawah kepandaiannya. Entah bagaimana dengan kungfunya. Lie Kun Liong cukup kaget karena menurut suhunya ilmu ginkang mereka teng peng touw sui (menginjak rumput menyeberang sungai) termasuk ilmu kelas wahid, jarang yang bisa menandinginya.
Dengan bekal ginkang yang sama-sama tinggi, dengan cepat mereka mampu mengejar ke dua orang tadi. Ternyata kedua orang itu memang perampok dan saat ini sedang terlibat pertempuran dengan kawanan piauwsu (pengawal barang). Para piauwsu itu terbagi menjadi dua kelompok, kelompok yang satu maju mengeroyok ke dua orang perampok sedangkan kelompok yang lain mengelilingi dan melindungi peti berisi barang bawaan.

Namun kelihatan jelas bahwa para piauwsu yang mengeroyok kedua orang itu kewalahan, sudah ada sebagian besar piauwsu yang mengeroyok mati terbunuh. Bahkan kelompok yang melindungi barang bawaan sekarang sudah ikut mengeroyok ke dua orang itu mati-matian. Pemimpin mereka dengan pedang di tangan sudah terluka namun masih gigih melawan ke dua perampok itu. Ilmu silat pemimpin piauwkiok ini sebenarnya cukup tinggi dan penjahat biasa bukanlah tandingannya.

Entah sudah berapa ratus pertempuran ia alami tapi pertempuran kali ini yang paling hebat sepanjang hidupnya. Baru kali ini ia menghadapi perampok yang mempunyai ilmu setinggi ini. Anak buahnya merupakan jago-jago pilihan semuanya namun di tangan ke dua perampok ini para piauwsu ini ibarat kunang-kunang dan lilin. Jelas kelihatan ilmu mereka kalah unggul dengan perampok tersebut. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum kawanan piauwsu itu terbasmi habis.

Kedatangan Lie Kun Liong dan Liok Han Ki tepat pada waktunya. Sambil menyabut pedang dari sarungnya Liok Han Ki berteriak “Perampok dari mana yang berani mati merampas barang di tengah hari bolong”. Lalu ia menyabetkan pedangnya ke arah perampok bercambang lebat. Sambil mengelak si perampok berkata “Rupanya bocah bau tengik tadi yang berlagak mau jadi pahlawan. Lebih baik segera pulang ke pangkuan ibumu sebelum pedang toyamu ini menembus badanmu” Liok Han Ki dengan murka melancarkan serangan secara beruntun. Tanpa belas kasihan ia mencecar si perampok dengan ilmu pedang kebanggaannya.
Dengan susah payah si perampok melayani serangan Liok Han Ki.

“Bocah dari mana asalnya ini, kok ilmu pedangnya sangat lihai” kata si perampok dalam hati. Ia menangkis sekuat tenaga jurus terakhir yang dilancarkan Liok Han Ki. Gagang pedang ditangannya hampir terlepas dari pegangannya, telapak tangannya terasa sakit. Dengan penuh rasa kaget si perampok melawan sekuat tenaga serangan Liok Han Ki.

Kalau si perampok yang melawan Liok Han Ki terkaget-kaget, perampok satunya lagi yang melawan Lie Kun Liong juga tidak kalah terkejutnya. Setiap serangan pedang Lie Kun Liong hanya dengan susah payah dapat ia punahkan. Ia yang sudah berpengalaman puluhan tahun sekarang ketemu batunya, bahkan ilmu pedang yang dimainkan Lie Kun Liong tidak dapat ia raba asalnya. Syukur baginya Lie Kun Liong baru terjun ke dunia kangouw sehingga pengalaman bertempurnya masih sedikit dan ragu-ragu untuk meneruskan serangan yang lebih mematikan, kalau tidak sudah dari tadi si perampok berbaju abu-abu itu kalah.

Suatu saat Lie Kun Liong mengincar dan menusuk ke arah pundak kiri si perampok namun dengan tiba tiba ujung pedangnya membentuk lingkaran dan arah yang di tuju adalah pundak kanan si perampok. Kali ini si perampok tidak dapat berkelit lagi, ia sudah salah mengantisipasi jurus serangan Lie Kun Liong yang awalnya menuju ke pundak sebelah kirinya tapi mendadak di tengah jalan mengincar pundak kanannya.

Pedang yang ia pegang di tangan kanannya jatuh ke tanah dan sebelum ia bereaksi lebih lanjut ujung pedang Lie Kun Liong sudah berada di depan tenggorokannya. Dengan rasa jeri dan takjub terlihat jelas di wajah si perampok, Lie Kun Liong menutuk tiam hiat (jalan darah) si perampok sehingga tidak dapat bergerak. Lalu ia memandang pertempuran antara Liok Han Ki dengan perampok yang lainnya juga hampir selesai.

Ia kagum dengan kelihaian ilmu pedang Liok Han Ki, kecepatan dan ketepatan jurus yang dilancarkan Liok Han Ki sangat akurat – hanya mereka yang sudah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu pedang yang dapat melakukan gerakan seperti yang barusan diperagakan oleh Liok Han Ki. Suatu ketika cukup dengan sontekan ujung pedangnya perut si perampok tertembus pedang Liok Han Ki dan si perampok jatuh ke tanah berlumuran darah, nasibnya jauh lebih buruk dari perampok yang melawan Lie Kun Liong. Ternyata Liok Han Ki masih merasa marah dengan perkataan si perampok di warung makan tadi sehingga ia bertindak cukup kejam dengan membunuh si perampok.

Para piauwsu yang masih hidup dan terluka memandang ke dua penolong mereka dengan rasa kagum dan berterima kasih. Pemimpin piauwkiok (perusahaan pengawal barang) sambil menjura berkata “Terima kasih atas bantuan inkong (tuan penolong) berdua, kami dari perusahaan piauwkiok “Harimau Kemala” sangat berutang budi pada jiwi berdua.

“Oh rupanya dari perusahaan piauwkiok paling terkenal di seluruh dunia persilatan” kata Liok Han Ki dengan keheranan. Setahu aku jarang yang mampu dan berani membegal barang bawaan piauwkiok “Harimau Kemala” makanya aku juga heran dengan kungfu kedua perampok ini sangat lihai dan tidak kelihatan seperti perampok piauwkiok biasa.

Perusahaan piauwkiok “Harimau Kemala” merupakan perusahaan pengawalan barang terbesar dan paling terkenal, pemimpinnya adalah sute dari ketua partai Go Bi pay – In Cinjin. Semua barang kawalan dari piauwkiok “Harimau Kemala” di jamin sampai ke tujuan dengan selamat dan belum pernah gagal dalam melaksanakan tugas. Di samping sute dari ketua Go Bi Pay, pemimpin perusahaan piauwkiok “Harimau Kemala” – Liu Siu Ciang ini pandai bergaul dengan kalangan rimba hijau, ia tidak segan-segan memberi hadiah kepada kalangan liok-lim (rimba hijau) sehingga mereka segan dan menghormatinya.

Memang ada beberapa penjahat yang tidak tahu diri berani mencoba membegal barang kawalan piauwkiok “Harimau Kemala” namun semuanya gagal karena para piasu yang diperkerjakan semuanya bukan jago-jago silat biasa. Jarang sekali pemimpin utama mereka, Liu Siu Ciang turun tangan langsung mengawal barang kawalan. Cukup dengan memandang bendera piauwkiok yang bergambar sepasang harimau berwarna kuning keemasan, tidak ada penjahat yang berani mati merampoknya. Anak cabang piauwkuok “Harimau Kemala” ada di seluruh penjuru propinsi dengan jumlah piauwsu ribuan orang.

Saat ini operasional piauwkiok “Harimau Kemala” dipegang langsung oleh putera Liu Siu Ciang yang bernama Liu Cin Hok, ia sudah mewarisi seluruh ilmu silat sang ayah bahkan kalau sedang berkunjung ke Go Bi Pay, ia mendapat petunjuk yang berharga dari susioknya In Cinjin sehingga ilmu silatnya maju pesat.

“Kalau jiwi berdua heran, kami malah lebih heran lagi karena selama piauwkiok ini berdiri barang kawalan piauwkiok kami tidak ada yang pernah gagal atau dibegal perampok, namun 2 bulan belakangan ini sudah ada 8 barang kawalan dari piauwkiok kami yang dirampas orang. Siau Kongcu (tuan muda) kami sudah turun tangan langsung menangani masalah ini” jawab pemimpin piawsu.

“Memang aneh, tapi jangan lupa sekarang kita sudah menangkap salah satu perampok, mari kita tanyai dengan jelas” kata Liok Han Ki sambil berjalan menghampiri si perampok yang telah tertutuk oleh Lie Kun Liong. Namun ternyata si perampok sudah mati, di sela-sela mulutnya mengalir darah segar.

Dengan heran Lie Kun Liong memeriksa mulut si perampok, ternyata di bagian dalam mulutnya perampok itu membawa racun yang sewaktu-waktu dapat ia gigit, rupanya ia sadar tiada harapan lagi sehingga memutuskan nyawanya sendiri.

“Siapapun yang mendalangi ini pasti memiliki wibawa yang besar sampai anak buahnya lebih rela mati daripada membocorkan rahasia” kata si pemimpin piauwkiok.

“Apakah baru-baru ini piauwkiok kalian mengawal barang yang sangat berharga dan di incar kaum persilatan” tanya Liok Han Ki.

“Tidak, belakangan ini barang-barang kawalan kami kebanyakan adalah perhiasan, emas dan harta benda pejabat pemerintahan. Tentunya tidak menarik jago-jago kosen dunia persilatan” jawab pemimpin piauwkiok sabil berkerut kening. Bahkan barang kawalan kami ini walaupun tidak seperti biasanya namun rasanya belum bisa mengerakkan jago persilatan untuk merampasnya tanpa memandang muka piauwkiok kami.

“Memang apa isi barang kawalan kali ini, kalau boleh aku tahu” tanya Liok Han Ki.

“Tentu saja boleh, jiwi adalah penyelamat kami” kata pemimpin piauwkiok. Kali ini kami mengawal persembahan pejabat sementara tihu kota kepada gubernur yang berada di bawah keresidenan propinsi Hulam. Isinya disamping sekotak emas berlian, juga sepasang kuda pualam yang indah dari Tibet.

“Aneh kalau begitu” kata Liok Han Ki. Mungkinkah ada orang yang ingin membalas dendam atau persaingan dagang kepada Liu Siu Ciang ayah beranak dengan cara membegal barang kawalan sehingga piauwkiok “Harimau Kemala” bangkrut untuk mengganti barang-barang yang hilang?
“Kemungkinan itu ada tapi untuk membuat bangkrut piauwkiok kami bukan urusan mudah karena sudah puluhan tahun perusahaan piauwkiok ini berjalan dan tidak sedikit keuntungan yang kami peroleh sehingga untuk mengganti barang-barang yang hilang selama 2 bulan ini bukan perkara yang sangat besar. Sedangkan masalah persaingan dagang rasanya juga bukan karena selama ini perusahaan piwakok kami tidak serakah mengambil semua barang kawalan. Bahkan sudah menjadi kebijakan pemimpin utama untuk saling berbagi rezeki dengan perusahaan piauwkiok lainnya.

Masalahnya adalah nama baik piauwkiok kami bisa hancur” kata pemimpin piauwkiok.

“Di depan beberapa li dari sini kalian bisa sampai di kota terdekat, sekalian kami hendak melewatinya juga, sebaiknya kita berjalan bersama-sama untuk berjaga-jaga ada hadangan lagi di depan” kata Liok Han Ki.

“Terima kasih banyak inkong” jawab pemimpin piauwkiok dengan penuh rasa syukur. Di dalam kota ada cabang perusahaan piauwkiok kami sehingga dapat segera memberi kabar ke kantor utama. Ia segera memerintahkan piauwsu yang masih sehat untuk membantu piauwsu yang terluka dan bersama dengan kedua inkong mereka menuju kota terdekat.
Sepanjang perjalanan tiada aral melintang, pemimpin piauwkiok yang dipanggil Can kawsu oleh anak buahnya mengucapkan teima kasih kepada Liok Han Ki dan Lie Kun Liong serta mengundang mereka untuk menginap di cabang mereka, namun mereka tolak.

Mereka akhirnya menginap di penginapan di kota itu sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya.
Pagi-pagi sekali selagi mereka sedang sarapan pagi di restoran hotel tersebut, datang seorang pemuda berusia dua puluh tahunan bersama-sama dengan Can kawsu pemimpin piauwkiok kemarin yang mereka tolong. Wajahnya cukup tampan dan berwibawa.

“Aku Liu Cin Hok mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan jiwi berdua terhadap piauwkiok kami” kata pemuda itu sambil menjura dalam.

“Inkong berdua, kebetulan siau kongcu kami sedang berada di anak cabang kota ini ketika kami tiba. Setelah mendengar musibah yang kami alami siau kongcu segera memerintahkan kami untuk mencari inkong berdua untuk berterima kasih langsung, syukur inkong belum pergi dari kota ini” kata Can kawsu.

“Senang bertemu Liu-heng, kami cuma kebetulan lewat saja dan tidak dapat berpangku tangan melihat perampasan itu” kata Lie Kun Liong.

“Ya, seperti yang jiwi ketahui piauwkiok kami belakangan ini memang sedang mengalami masalah besar. Tapi aku sudah berhasil melacak keberadaan kawanan perampok itu, menurut hasil penyelidikan aku markas mereka ada di sekitar kota ini. Itulah sebabnya aku berada di kota ini dari dua hari yang lalu untuk mencari letak markas mereka” kata Liu Cin Hok. Barusan pagi ini aku mendapat konfirmasi letak markas mereka.

Liok Han Ki rupanya senang ikut campur urusan orang lain, ia menawarkan diri untuk membantu menangkap perampok itu. Dengan senang hati Liu Cin Hok menerima tawaran itu. Rencananya nanti malam ia akan datang lagi ke penginapan ini untuk bersama-sama menuju markas perampok-perampok itu.
Jilid 4. Pertempuran yang dahsyat

Malam turun dan semakin larut. Tampak tiga bayangan orang berkelabat bagai angin di atas atap rumah penduduk menuju ke pinggiran kota. Tidak lama kemudian bayangan tersebut berhenti di atas tembok gedung yang besar. Dengan berhati-hati mereka mengamati sekelilingnya. Sambil mengerahkan ginkang masing-masing ketiganya melompat turun ke pekarangan gedung itu.

Di tengah gedung terdapat ruangan yang masih terang benderang dan suara percakapan sekelompok orang.
Dengan berindap-indap mereka bertiga mendekati sumber suara. Untungnya di dekat ruangan itu terdapat pohon yang rindang sehingga memudahkan mereka menyembunyikan diri.
Di dalam ruangan itu tampak sekitar delapan orang sedang duduk di atas meja bundar sambil makan-makan. Di ujung meja yang menghadap pintu tampak seorang pria pertengahan umur berkisar 40 tahunan sedang berbicara.

“Majikan memerintahkan kita untuk terus menghadang dan merampas barang kawalan piauwkiok “Harimau Kemala” kata pria itu. Aku mendapat kabar yang boleh dipercaya bahwa dua teman kita Si-heng dan Ti-heng telah gagal menjalankan tugas dan gugur di bunuh orang yang menolong kawanan piauwsu itu – sepasang pemuda yang kabarnya memiliki ilmu silat yang lihai sekali. Asal mula mereka sampai sekarang misterius, majikan menyuruh kita untuk berhati-hati bila kesampok mereka berdua.

Untuk sementara kita sebaiknya kita membagi diri hanya menjadi dua kelompok bukan lima kelompok seperti biasanya untuk memperkuat keberhasilan kita. Aku juga sudah mendengar siau kongcu dari piauwkiok “Harimau Kemala” sudah turun tangan dan berada di kota ini. Bila tiba waktunya biar aku atau Ji-heng yang menghadapinya.

Mendengar pembicaran mereka dan sudah memastikan bahwa memang benar mereka yang berada di dalam ruangan itu adalah kawanan penjahat yang selama ini menghadang barang bawaan piauwkioknya, Liu Cin Hok tidak sabar lagi dan membentak “Aku Liu Cin Hok sudah di sini, kalian perampok laknat jangan harap lolos kali ini dari tanganku”

Mereka yang berada di dalam ruangan kaget sekali, dengan sebat mereka menghadang dan mengepung Liu Cin Hok. Dengan mengembangkan seantero kepandaiannya, Liu Cin Hok menghadapi kawanan perampok itu dengan gagah berani.

“Kalian mundur semua” kata pria pertengahan menyuruh mundur anak buahnya. “Ji-heng, tolong kau hadapi siau kongcu kita ini” kata pria itu.
Dengan lagak jumawa keluar seorang pria berusia 35 tahunan dengan wajah berkumis dan matanya tajam bagaikan elang, menghampiri Liu Cin Hok.

“Rupanya ini siau kongcu dari perusahaan piauwkiok “Harimau Kemala, lebih baik suruh bapakmu datang ke sini menghadapi aku” katanya sambil mencemooh.

Dengan tenang Liu Cin Hok menghadapi pria yang dipanggil Ji-heng itu dan tidak memberikan komentar apapun. Ia sadar akan menghadapi pertempuran hidup mati dengan kawanan perampok ini dan diperlukan ketenangan serta tidak terpancing dengan siasat yang dijalankan musuh.

Ia langsung mengambil inisitif menyerang dan ingin menyelesaikan pertempuran secepat mungkin. Kematangan jurus yang ia lancarkan sudah mencapai taraf tertinggi, tidak malu ia sebagai orang kedua dari perusahaan piauwkiok “Harimau Kemala” yang membawahi ribuan orang.

Dari pengalaman tempurnya selama ia membantu ayahnya menjalankan perusahaan piauwkiok, baru kali ini ia menghadapi perlawanan yang ketat dari musuhnya. Perampok yang di panggil dengan Ji-heng ini memiliki ilmu pedang yang cukup mengejutkan, dengan baik ia dapat melayani semua serangan Liu Cin Hok bahkan membalas dengan tidak kalah hebatnya. Liok Han Ki dan Lie Kun Liong yang masih bersembunyi di atas pohon menyaksikan dengan kagum jalannya pertempuran di bawah. Mereka mengagumi kecepatan dan keindahan ilmu pedang Go Bi Pay yang dimainkan Liu Cin Hok. Namun mereka juga heran dan kagum akan kehebatan ilmu pedang yang dimainkan oleh si perampok itu yang dapat mengimbangi dengan baik semua serangan Liu Cin Hok.

Mereka tidak dapat meraba dari aliran mana ilmu si perampok itu. Jelas ia termasuk jago kosen dunia persilatan namun Liok Han Ki yang sudah cukup berpengalaman berkecimpung di dunia persilatan belum pernah mendengar ada jago kosen dengan ilmu pedang yang sangat lihai ini.
Khawatir Liu Cin Hok di bokong selagi bertempur, mereka berdua lalu turun menerobos ke dalam ruangan Kedatangan mereka di sambut dengan serangan berbagai macam pedang yang dilancarkan oleh 4 orang perampok. Rupanya pria pertengahan yang menjadi pemimpin sudah menduga bahwa Liu Cin Hok pasti membawa kawan-kawannya untuk membantu menghadapi mereka.

Di keroyok masing-masing oleh dua orang perampok, Liok Han Ki dan Lie Kun Liong melayani dengan tenang sambil sekali-kali melirik pertempuran Liu Cin Hok. Ilmu pedang yang dimainkan ke empat perampok itu berasal dari sumber yang sama dengan perampok yang bernama Ji-heng, jelas mereka berasal dari perguruan yang sama. Liok Han Ki melayani mereka dengan hati-hati dan mengerahkan semua kemampuannya untuk mengalahkan mereka. Dengan jurus pedang andalannya ia mencecar ke dua perampok itu sehingga mereka hanya bisa bertahan sekuatnya tanpa mampu membalas. Namun tidak mudah bagi Liok Han Ki untuk merobohkan mereka karena mereka bertahan dengan gigih, dibutuhkan puluhan jurus lagi sebelum ia dapat menghancurkan pertahanan mereka.

Sementara itu Lie Kun Liong juga menghadapi pertarungan yang ketat dengan lawan-lawannya. Baru kali ini ia terlibat pertempuran yang hebat sejak turun gunung sehingga merupakan kesempatan untuk menambah jam tempurnya. Ia mengeluarkan jurus-jurus pedang yang sering dilatihnya menghadapi mereka. Ternyata tidak sia-sia ia berlatih dengan tekun, lawan-lawannya sangat keteteran menghadapi ilmu pedangnya. Tidak sampai belasan jurus lagi mereka berdua pasti kalah namun kedua perampok itu bertahan sebisanya sambil mengharapkan bantuan dari teman-temannya.

Menyaksikan jalannya pertempuran itu, si pemimpin perampok sadar kalau dibiarkan lebih lama merka akan mengalami kekalahan, maka ia memerintahkan tiga orang yang tersisa untuk ikut mengeroyok Liok Han Ki sehingga Liu Cin Hok dan Liok Han Ki masing-masing menghadapi 3 orang perampok. Keadaan sementara cukup berimbang. Sedangkan si pemimpin perampok juga ikut terjun kedalam pertempuran dan mengeroyok Lie Kun Liong. Ia memilih Lie Kun Liong karena ia sadar dari ketiganya yang ilmunya paling tinggi adalah Lie Kun Liong.

Mendapat bantuan dari pemimpinnya, kedua perampok yang mengeroyok Lie Kun Liong bernafas lega karena tekanan terhadap mereka mengendur sedikit. Lie Kun Liong harus membagi perhatiannya terhadap serangan dari si pemimpin perampok. Serangannya tidak boleh dianggap enteng, ia harus mengerahkan semua perhatian utuk menghadapinya. Si pemimpin merupakan lawan paling tangguh yang pernah dihadapi Lie Kun Liong sejak turun gunung. Tidak heran perusahaan piauwkiok “Harimau Kemala” mengalami pembegalan sampai delapan kali tanpa perlawanan. Ternyata para perampoknya memiliki ilmu silat yang sangat mengejutkan.
Semakin lama pertempuran semakin sengit dan semakin mendebarkan hari, semua pihak bertarung mati-matian untuk meraih kemenangan.

Semakin lama dikeroyok oleh tiga perampok itu, Liu Cin Hok mulai terdesak dan sekarang keadaan mulai berbalik ia hanya bisa bertahan dan sesekali melancarkan serangan. Liok Han Ki yang menyaksikan itu sadar ia harus segera merobohkan lawan-lawannya secepatnya dan membantu Liu Cin Hok. Ia melancarkan serangan ke arah salah satu pengeroyoknya yang paling lemah sambil berkelit dari tujaman pedang perampok lainnya. Kali ini serangannya cukup berhasil menggores pundak si perampok hingga bercucuran darah dan tekanan sedikit berkurang.

Dengan semangat Liok Han Ki terus mengincar lawannya yang terluka. Ujung pedangnya berkelabat ke sana kemari menangkis serangan lawan sambil mencari kesempatan untuk melakukan serangan yang mematikan. Kesempatan itu datang tidak lama kemudian ketika perampok yang terluka itu gerakannya sedikit lambat dan tidak disia-siakan Liok Han Ki. Sambil berputar ia menyabetkan pedangkan ke arah perut si perampok dan disusul dengan serangan kilat yang tak dapat ditangkis oleh perampok yang terluka – ia hanya melihat kilau pedang Liok Han Ki sudah berada di depan mata dan tahu-tahu sudah menembus tenggorokannya.

Dengan mengeluarkan suara krok krok si perampok sudah mati sebelum jatuh ke lantai. Kedua perampok yang lain dengan meraung murka semakin memperhebat serangan mereka namun dengan berkurangnya satu orang yang mengeroyoknya, Lik Han Ki semakin leluasa memainkan ilmu pedangnya sampai tingkat tertingginya. Ia mulai melancarkan serangan-serangan kilat dan kilau pedangnya berseliweran bagaikan sinar pelangi sehabis hujan sore hari, sangat indah sekali. Tapi bagi kedua perampok itu pedang Liok Han Ki bagaikan malaikat pencabut nyawa yang semakin dekat mengancam mereka. Dengan gerakan yang sangat manis Liok Han Ki menghabisi salah satu pengeroyoknya tanpa sempat dihalangi lawannya yang lain. Kini dengan hanya tersisa satu orang, Liok Han Ki dengan cepat menghabisi lawannya yang sudah patah semnagat bertempurnya, lalu meluncur ke arah Liu Cin Hok untuk membantu menghalau kawan perampok itu. Kedatangannya menambah semangat Liu Cin Hok, dengan bergabung keduanya mampu melayani keroyokan ke tiga perampok itu.

Di pertempuran antara Lie Kun Liong dan lawan-lawannya juga sudah mendekati tahap akhir dimana salah seorang perampok sudah terluka kakinya oleh pedang Lie Kun Liong. Mendadak si pemimpin perampok itu bersuit nyaring sambil melemparkan semacam bola kecil ke lantai dan segera mengeluarkan asap memenuhi seluruh ruangan. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan pihaknya si pemimpin perampok memberi isyarat mundur ke anak buahnya.

Lie Kun Liong, Liok Han Ki dan Liu Cin Hok mundur keluar ruangan menghindari asap tersebut, takut asap itu mengandung racun. Setelah asap buyar, kawanan perampok itu sudah menghilang di kegelapan malam.

“Tidak usah di kejar, siapa tahu mereka masih mempunyai kawan-kawan lainnya” kata Liu Cin Hok.
Mereka lalu memeriksa isi gedung dan di salah satu ruangan mereka menemukan peti-peti hasil rampasan dari piauwkiok “Harimau Kemala”.

“Aku mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan jiwi berdua, tanpa bantuan kalian entah apa yang terjadi” kata Liu Cin Hok sambil menghela nafas.

“Sama-sama Liu-heng, sudah sepantasnya kita sebagai kaum persilatan saling membantu” sahut Lie Kun Liong.

“Aku harus segera memberi kabar ke ayah bahwa kawanan perampok ini sangat lihai supaya dapat berjaga-jaga. Mungkin kami harus mengundang teman-teman ayah untuk menghadapi mereka” kata Liu Cin Hok.

“Aku rasa mereka sementara pasti berdiam diri dulu sambil menyusun kekuatan baru sebelum bertindak lagi” kata Liok Han Ki. Yang mengherankan siapa orang dibalik semua ini yang bisa mempunyai anak buah selihai itu dan memiliki ilmu silat yang tidak kalah dengan murid-murid utama partai-partai besar. Dan apa tujuan mereka membegal piauwkiok “Harimau Kemala” ?

Setelah membereskan peti-peti yang berisi barang-barang kawalan piauwkiok “Harimau Kemala”, Liok Han Ki dan Lie Kun Liong berpisah dengan Liu Cin Hok kembali ke penginapan mereka untuk beristirahat memulihkan tenaga.

Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda beberapa hari.
Jilid 5. Musibah di Sungai Yangtze

Suatu pagi mereka tiba di perkampungan nelayan di tepi sungai Yangtze. Sungai Yangtze adalah sungai terpanjang di antara 7 sungai besar lainnya di Tiongkok. Di bagian tengah dan hulu sungai terdapat tiga buah ngarai yang sangat panjang dan merupakan daerah pemandangan yang sangat terkenal keindahannya bagi para pelancong.

“Lie-heng bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan dengan menyewa perahu sehingga bisa menghemat waktu dan lebih santai” tanya Liok Han Ki.

“Boleh juga, aku memang belum pernah berkelana menyusuri sungai” sahut Lie Kun Liong.
Mereka lalu mencari tukang perahu yang mau menyewakan perahunya. Umumnya tukang perahu menolak membawa mereka karena tujuannya terlalu jauh. Beruntung seorang kakek tua bersedia membawa mereka dengan perahunya.

Sepanjang perjalanan dengan gembira Liok Han Ki melantunkan syair penyair terkenal Li Pai…

K’la pamitan Baidi dililiti awan lembayung pagi
Ribuan li menuju Jiangling ditempuh dalam sehari
Sepanjang tepi belum terputus pekikan suara lutung
Biduk ringan sudah melaju melewati gunung gemunung .

Lie Kun Liong bertepuk tangan memuji suara merdu Liok Han Ki dan berkata “Liok-heng sayir yang engkau lantunkan sangat cocok dengan keadaan kita sekarang, ternyata di samping pandai meniup seruling, Liok-heng juga pandai berpantun ria”
Sambil tertawa Liok Han Ki berkata “Jangan bergurau Lie-heng, aku juga tahu Lie-heng juga pasti pandai ilmu surat. Bagaimana kalau Lie-heng menyumbangkan sebuah syair buat aku dengar”
“Baiklah tapi jangan ditertawakan, pengetahuan aku masih kalah jauh sama Liok-heng” kata Lie Kun Liong. Ia melantunkan syair buatan penyair Shi Jing…

Pohon persik muda mekar
Bunganya indah mekar menyala
Anak dara jadi menantu
Keluarga baru rukun bahagia

Pohon persik muda mekar
Buahnya ranum padat berlimpah
Anak dara jadi menantu
Rumah tangga rukun bahagia

Pohon persik muda mekar
Daunnya subur hijau raya-raya
Anak dara jadi menantu
Sanak keluarga ikut bahagia

Liok Han Ki bertepuk tangan dengan semangat dan berkata “Wah Lie-heng rupanya sangat pandai dan memiliki pengetahuan yang dalam akan ilmu kesusasteraan, kagum..kagum..”

“Engkau bisa saja Liok-heng” sahut Liok Kun Liong malu. Syair ini sebenarnya aku sering dengar dari sahabat aku sehingga cukup apal, tapi kalau di suruh melantunkan syair yang lain aku menyerah.

“Kalau boleh tahu siapa sahabat Lie-heng itu, aku jadi ingin berkenalan” kata Liok Han Ki ingin tahu.

“Namanya Cin Cin dan teman aku sejak kecil” kata Lie Kun Liong.

“Jangan-jangan dia pujaan hati Lie-heng” kata Liok Han Ki bergurau namun wajahnya sedikit berubah tapi Lie Kun Liong memperhatikannya.

“Cin Cin aku anggap sebagai adik sendiri, Liok-heng” kata Lie Kun Liong.

Liok Han Ki tidak mendesak lagi walaupun ia sangat penasaran akan latar belakang Lie Kun Liong karena ia mempunyai kesulitan sendiri mengungkapkan jati dirinya.

Selama beberapa hari ke depan mereka dengan aman menyusuri sungai Yangtze. Bila merasa bosan dengan bekal yang mereka bawa, mereka menyuruh si kakek tukang perahu untuk menepi sebentar di kota terdekat dan memasuki restoran yang paling besar serta memesan masakan yang enak. Setelah puas mereka kembali ke perahu dan melanjutkan perjalanan. Untuk urusan tidur tidak mereka persoalkan karena perahu itu cukup besar cukup untuk beristirahat buat mereka bertiga.

Suatu hari perahu mereka sedang melaju perlahan-lahan menyusuri sungai, disebelah kanan-kiri sungai tampak pepohonan yang lebat dan rimbun.

“Jiwi berdua kita harus hati-hati di sini biasanya banyak begal air beraksi karena jauh dari kota ata perkampungan terdekat. Tapi setahu lohu setahun yang lalu sudah diobrak-abrik oleh seorang pendekar, namun siapa tahu masih ada sisa-sisa kawanan begal” kata kakek tukang perahu sambil menengahkan dan mempercepat luncuran perahunya.

“Jangan khawatir lopek, kita akan hancurkan mereka bila masih berani menganggu perahu yang lewat” kata Liok Han Ki. Memangnya siapa pendekar yang sudah menghancurkan markas mereka tanyanya ingin tahu.

“Menurut yang lohu dengar pendekar itu sedang menyusuri daerah sungai ini dengan perahunya seorang diri, tiba-tiba di serang kawan begal air namun ternyata pendekar itu lihai sekali, seorang diri ia mengalahkan puluhan begal air di atas perahunya. Orang bilang pendekar itu masih muda dan julukannya adalah Si Pedang Kilat.
“Oh dia” kata Liok Han Ki.

“Apa Liok-heng kenal dengan pendekar itu” kata Lie Kun Liong. Ia ingat pernah mendengar julukan Si Pedang Kilat dari penuturan
Cin Cin sebelum ia turun gunung.

“Aku pernah bertemu beberapa kali tapi tidak begitu mengenalnya” kata Liok Han Ki dengan wajah sedikit berubah merah namun tidak kentara oleh Lie Kun Liong.

“Kalau tidak salah aku pernah dengar pendekar muda yang sedang naik daun saat ini adalah Si Pedang Kilat dan Dewi Pedang” kata Lie Kun Liong.
Liok Han Ki diam tidak menanggapi seolah tidak mendengar perkataan Lie Kun Liong.

Tiba-tiba perahu mereka terguncang keras dan terdengar bunyi krak di bawah perahu serta di tepi kiri sungai muncul belasan begal air sambil mendayung perahu mendekati perahu mereka. Ada sekitar 5 perahu, mereka di pimpin seorang pria tinggi besar dengan wajah berewokan.
Ternyata mereka di serang dari dalam dan luar sungai sekaligus.

“Mereka mau menenggelamkan perahu kita” kata Liok Han Ki dengan panik. Lopek segera menepi, biar kita lawan mereka di tepi sungai. Namun sudah terlambat untuk menepikan perahu karena perahu-perahu perompak itu sudah dekat jaraknya.

“Liok-heng bisa berenang?” tanya Lie Kun Liong dengan gugup. Ia yang tinggal di gunung tidak pernah belajar berenang sehingga di serang begini rupa membuatnya rada gugup.

“Tidak bisa, aku dulu pernah belajar berenang tapi tidak diteruskan” sahut Liok Han Ki dengan gugup pula.

“Bagaimana ini” kata kakek tukang perahu sambil tetap mendayung perahunya dengan ketakutan.

“Liok-heng engkau tetap di sini melindungi tukang perahu, aku berjaga-jaga di belakang perahu” kata Lie Kun Liong buru-buru.

Para perompak itu mulai memanah mereka bertiga. Liok Han Ki sibuk menangkis panah-panah yang mengarah ke tubuh si kakek dan ke tubuhnya. Dengan tangkas ia menangkap anak panah-anak panah yang mengarah ketubuhnya lalu dengan lwekangnya ia meluncur balikkan anak panah-anak panah itu ke para perompak. Daya luncur yang sangat kuat tidak dapat di tangkis para perompak itu, beberapa dari mereka tertembus ujung panah dan jatuh ke sungai.
Lie Kun Long membidik para perompak yang berada di permukaan sungai dengan anak panah yang berhasil ia tangkap. Sudah ada beberapa orang berhasil ia bunuh dengan anak panah. Sebagian yang lain dengan cerdik menyelam ke dalam sungai sehingga susah bagi Lie Kun Liong untuk membidiknya.
Perahu yang mereka tumpangi mulai di guncang-guncang oleh para perompak di bawah air dan akhirnya air mulai masuk ke dalam perahu dengan cepat.
Si kakek tukang perahu sadar sebentar lagi perahunya akan karam, lalu ia terjun ke dalam air dan berusaha berenang ke tepi sungai.
“Liok-heng mari kita lompat ke perahu mereka, sebentar lagi perahu ini karam” teriak Lie Kun Liong.

Dengan mengembangkan ginkang, mereka melayang ke perahu para perompak dan hinggap di bagian buritan perahu sambil memutar-mutar pedang mereka menangkis anak panah.

Lie Kun Liong melompat ke arah perahu di mana pemimpin perompak itu berada. Dengan cepat ia melancarkan serangan ke pemimpin perompak itu. Tahu dirinya bukan tandingan Lie Kun Liong, pemimpin perompak itu lalu terjun ke dalam sungai di ikuti anak-buahnya. Dengan selulup di bawah air mereka sekarang berusaha menenggelamkan perahu yang dinaiki Lie Kun Liong dan Liok Han Ki, sedangkan perahu yang lain sudah mereka tenggelamkan untuk berjaga-jaga kedua pemuda itu melompat ke perahu yang lain.
Liok Han Ki berusaha mendayung perahu yang ia naiki ke tepi sungai, namun karena tidak menguasai ilmu dayung perahunya hanya bergerak maju sedikit. Bagian bawah perahunya sekarang sudah kemasukan air sungai, dengan panik ia mencoba mmbuang air yang masuk namun tiba-tiba perahunya terguncang hebat sehingga ia kehilangan kesimbangan dan tejatuh ke dalam sungai.

Sambil menahan nafas ia terus melawan dengan gigih para perompak itu di dalam air. Ada sekitar lima orang perompak mengepungya di dalam air. Ia berhasil menusuk mati dua dari lima orang perompak itu namun salah satu perompak berhasil memegang kakinya dan menyeretnya makin jauh ke bawah sungai.

Saking paniknya ia lupa kehabisan nafas, dengan gelagapan ia meminum air sungai. Makin lama makin banyak air yang ia minum dan akhirnya ia tidak tahu lagi apa yang tejadi.
Di bagian atas sungai Lie Kun Liong juga sedang keras menjaga agar perahu yang ia rebut jangan sampai dilobangi perompak namun tidak berhasil. Air dengan cepat mulai masuk dan membuat oleng perahunya. Tiba-tiba ia mempunyai akal, ia mencabut beberapa lembar papan yang ada di perahu itu dan melemparkannya ke sungai lalu ia melompat ke atas papan yang ia lemparkan tadi. Bagaikan burung bangau ia melayang dan menutulkan kakinya di atas papan itu sebagai tempat pijakan sementara sambil melemparkan papan-papan kayu yang lain menuju ke tepi sungai. Dengan menggunakan papan-papan sebagai batu loncatan ia berhasil mencapai tepi sungai.
Ketika ia melihat ke tengah sungai, ia tidak melihat Liok Han Ki. Dengan gugup ia berlari sepanjang sisi sungai mencari jejak kawannya itu namun Liok Han Ki tidak kelihatan batang hidungnya.
Saat Lie Kun Liong melompat ke tepi sungai, kawanan perompak itu tidak tahu karena mereka berada di bawah air. Dengan bersembunyi di balik pepohonan Lie Kun Liong menunggu kawanan perompak itu keluar dari sungai.

Tidak berapa lama kemudian, seperti yang ia harapkan kawanan perompak itu keluar dari sungai. Jumlah meraka tinggal beberapa orang saja termasuk pemimpin perompak serta Liok Han Ki yang pingsan kebanyakan minum air sungai.

Dengan marah Lie Kun Liong tanpa basa basi keluar dari persembunyiannya dan langsung menyerang para perompak dengan ilmu pedangnya. Jelas mereka bukan tandingan Lie Kun Liong, hanya dalam waktu sekejap mereka terbasmi habis dan hanya tinggal pemimpin perompak itu yang masih bertahan sekuatnya. Tapi akhirnya dengan sabetan pedang yang di lancarkan Lie Kun Liong bagaikan kilat tidak dapat ia hindarkan lagi. Ia tewas dengan tubuh tertembus pedang Lie Kun Liong.
Lie Kun Liong dengan tergesa-gesa menghampiri Liok Han Ki yang terbaring pingsan, mukanya pucat dan perutnya kembung. Ia membalikkan tubuh Liok Han Ki untuk mengeluarkan air dari perut lalu memeriksa nafas Liok Han Ki. Tidak ada nafas, dengan panik ia membuka mulut Liok Han Ki dan menyalurkan nafas buatan dari mulut ke mulut, namun sesudah beberapa kali mencoba tidak berhasil. Rupanya di perut Liok Han Ki masih ada air sungai yang belum seluruhnya keluar.
Tanpa pikir panjang Lie Kun Liong menekan-nekan perut Liok Han Ki untuk mengeluarkan air yang tersisa, lalu menempelkan telinganya di dada Liok Han Ki untuk memeriksa denyut jantungnya. Jantungnya berhenti berdetak, segera ia menekan ke dua tangannya ke dada Liok Han Ki namun terhalang sesuatu yang kenyal, dengan heran ia membuka baju Liok Han Ki dan di depan matanya terpampang dua gumpalan buah dada yang membusung dihiasi puting kecil kemerahan – tampak segar dan ranum bagaikan buah apel segar kemerahan dan manis rasanya.
Payudara yang membusung itu di balut oleh kulit yang putih mulus dan lapat-lapat tercium harum aroma tubuh gadis perawan. Lie Kun Liong terbelialak menatap gundukan buah dada yang ranumdan terawat rapi, ternyata Liok Han Ki adalah seorang dara muda..!.
Selama hidupnya belum pernah ia melihat buah dada seorang gadis perawan. Dengan hati berdebar-debar Lie Kun Liong menutup baju Liok Han Ki dan dengan mengeraskan hati ia meneruskan kedua tangannya menekan dada Liok Han Ki secara berkelanjutan sambil sekali kali meniupkan nafas ke mulut Liok Han Ki.
Tiba-tiba Liok Han Ki tersedak dan nafasnya mulai berjalan kembali. Lie Kun Liong menghentikan usahanya sambil menatap wajah Liok Han Ki yang mulai berubah warnanya dari pucat ke warna kemerahan. Dengan perlahan Liok Han Ki membuka matanya dan melihat wajah Lie Kun Liong yang masih melongo kebingungan berlutut di samping tubuhnya.
Sambil berusaha duduk ia bertanya kepada Lie Kun Liong “Lie-heng, apa yang terjadi, bagaimana dengan perompak-perompak tadi?” Ketika ia sedang berbicara, sekonyong-konyong ia melihat bajunya tersingkap dan akibatnya buah dadanya kembali tersembul keluar sebagian. Dengan menjerit lirih ia merapatkan bajunya sambil menatap tajam Lie Kun Liong dengan kedua bola matanya yang mulai mengeluarkan letupan-letupan kemarahan.
“Ma..aaf caa..hyee tidak sengaja, jantung dan nafas Liok-heng berhenti, terpaksa…” kata Lie Kun Liong dengan terbata-bata tanpa menyelesaikan perkataannya.
Liok Han Ki segera ingat apa yang terjadi, terakhir kali ia berada di bawah sungai sedang bertempur dengan kawanan perompak, ia sadar apa yang dilakukan Lie Kun Liong adalah untuk menolongnya. Namun sebagai seorang gadis ia merasa malu seorang pria telah menyentuh bibir dan melihat buah dadanya yang putih bersih. Sambil terisak ia berlari menjauhi Lie Kun Liong.
Lie Kun Liong diam terpaku menatap kepergian Liok Han Ki. Ia tidak mempunyai tenaga untuk mengejarnya, sudah terlalu banyak kejadian hari ini yang membuat dirinya shock. Dengan tubuh lunglai ia meninggalkan tepi sungai dan melanjutkan perjalanan seorang diri.
Akhirnya ia sampai di kota dan segera mencari penginapan untuk membersihkan badan dan berharap berjumpa Liok Han Ki di situ.
Keesokan harinya ia berkeliling kota mencari Liok Han Ki namun bayangannyapun tak tampak, gelagatnya Liok Han Ki tidak berada di kota ini atau jangan-jangan telah berlalu dari kota ini pikirnya.
Tergesa-gesa ia kembali ke penginapan dan meminta pelayan hotel membelikannya seekor kuda, ia berniat melanjukan perjalanan dengan berkuda supaya lebih cepat.
Jilid 6. Si Pedang Kilat

Suatu ketika ia sampai di daerah pegunungan di pinggir tanah cekung wilayah Sichuan dengan hamparan tanaman teh seperti karpet tebal berwarna hijau. Semilir udara segar pegunungan berhembus pelan hingga daun-daun teh bergoyang seirama. Siang itu, terik matahari sepertinya malu-malu membakar bumi karena terhalang awan dan pepohonan. Rasa lelah dan penat karena seharian menunggang kuda sepertinya tak terasa. Badan menjadi segar dan pikiran pun terasa lapang.
Di kebun teh itu tampak para wanita pemetik teh yang rajin sedang sibuk memetik daun teh sambil menyanyikan lagu memetik daun teh, lagu yang mereka nyanyikan turun temurun. Kesemua itu membentuk gambaran kehidupan petani yang indah di Sichuan bagian barat.

Terlihat serombongan anak-anak dengan baju berwarna-warni menari, berkejaran menikmati suasana panen teh dengan mengejar kupu-kupu. Menurut legenda, seorang petani obat pada jaman Dinasti Han Barat, Wu Lizhen yang pertama kali menanam pohon teh di gunung ini, ia menanam 7 batang pohon itu di gunung tersebut. Konon ketujuh pohon teh itu masih tetap subur meski telah berusia ribuan tahun, dan setiap tahun tumbuh daun teh muda yang sempit dan panjang serta sangat sedap rasanya. Ketujuh pohon teh itu oleh masyarakat setempat dinamakan Teh Dewata.

Di sebelah kiri kebun teh itu terdapat sebuah warung teh bagi para pelancong yang ingin menikmati secangkir teh segar. Sambil menunggang kudanya perlahan-lahan Lie Kun Liong menyusuri pegunungan itu melalui jalan tanjakan berbatu menuju warung teh itu. Sambil menunggu teh yang di pesan datang, ia menyaksikan pemilik warung yang sibuk mengolah daun teh. Dengan cara yang sangat tradisional, si pemilik warung menggoreng daun teh di wajan dengan tangan, daun teh yang hijau dengan cepat berubah menjadi kuning muda dan menyebarkan harum yang sedap dan segar.

Di sekitar warung teh terdapat belasan pohon ginko kuno yang tumbuh subur. Duduk di kursi bambu, mereguk minuman teh yang sedap dan segar di bawah pohon sambil melepas pandang ke gunung yang jauh, Lie Kun Liong bisa merasakan ketenangan yang syahdu. Selagi menikmati teh dalam suasana alam yang indah dan tenang, kupingnya yang tajam mendengar suara denting beradunya pedang di kejauhan. Pada mulanya ia malas untuk mencampuri pertikaian dunia persilatan namun dari bunyi beradunya pedang tersebut ia dapat membedakan pihak yang sedang bertempur merupakan jago-jago kosen. Tertarik hatinya untuk melihat jalannya pertempuran itu, segera ia mengembangkan ginkangnya ke arah suara tadi.

Ternyata di belakang perkebunan teh itu terdapat terdapat hutan bambu. Semilir angin yang menerabas pepohonan bambu di sekitarnya mengalirkan keteduhan. Di bawah rindangnya pepohonan bambu, seorang pemuda sedang bertanding dengan seru melawan seorang nenek tua berusia enam puluh tahunan. Walupun kelihatannya lemah dan tua tapi gerakan si nenek sangat lincah tidak kalah lihainya dengan si anak muda.

Pedang di tangan pemuda itu berkelabat bagaikan kilat menyambar ke sana kemari mengincar tubuh tua si nenek. Pemuda itu berusia sebaya dengannya, wajahnya cukup tampan dan sedikit jumawa, pakaian yang dikenakannya terbuat dari bahan berkualitas berwana hijau muda. Gerak-geriknya sangat sebat dan menguasai ilmu pedang yang sangat tinggi. Gerakan ilmu pedang pemuda ini sangat mengandalkan kecepatan dan ketajaman bilah pedang. Gaya pedang yang dimainkannya sangat tidak mengenal ampun, semua serangan dilakukan dengan sepenuh hati seolah-olah ia menyerahkan seluruh jiwanya ke dalam pedang, sangat mengiriskan hati. Selama berkelana di dunia persilatan beberapa bulan ini, pemuda inilah yang menurut hasil pengamatannya memiliki ilmu pedang yang tidak kalah dengan ilmu pedangnya.

Lie Kun Liong tidak yakin apakah ia sanggup mengalahkan ilmu pedang si pemuda itu dengan ilmu pedang perguruannya. Entah persoalan apa yang terjadi diantara mereka hingga melangsungkan pertempuran mati hidup di hutan bambu ini pikir Lie Kun Liong. Ia tidak berani mencampuri sebelum jelas duduk persoalannya walaupun ia bersimpati kepada si nenek tua yang terus bertahan dengan gigih terhadap setiap serangan si pemuda itu. Sambil bersembunyi di balik rerimbunan pohon bambu ia mengamati jalannya pertandingan dengan serius untuk menambah pengetahuannya. Dengan sekilas saja ia sudah mampu mengingat setiap gerakan-gerakan yang hebat dari kedua orang tersebut, memang gurunya sering memujinya memiliki bakat dan ingatan yang sangat baik.
Setelah beberapa puluh jurus kemudian terlihat si nenek mulai agak keteteran tapi ia tetap bertahan sekuatnya. Ilmu si nenek sebenarnya sangat lihai, terbukti ia mampu melayani si pemuda ini tanpa terdesak. Kelemahan si nenek adalah usianya, keuletannya kalah sama yang muda. Yang satu sedang dalam kondisi puncak kemudaannya sedangkan yang lain sedang dalam kondisi menurun di usia tua. Kedua orang itu sudah mengucurkan keringat di dahi masing-masing, tanda-tanda kelelahan tampak di wajah keduanya. Siapapun yang menang pasti tidak mudah diperoleh dan memerlukan pengorbanan tenaga yang banyak. Naga-naganya tidak berapa lama lagi menang kalah dapat segera di tentukan.
Lie Kun Liong merasa serba salah, ia kasihan sama si nenek tapi ia belum tahu masalah yang terjadi, takut terjadi kesalahpahaman.

Akhirnya ia memutuskan untuk menampakkan diri sambil berharap dengan kedatangannya kedua orang ini berhenti berkelahi hingga ia bisa menanyakan duduk persoalan sebenarnya.
Harapan tinggal harapan, mereka yang sedang bertempur tidak berhenti sekalipun mereka tahu kedatangan Lie Kun Liong bahkan jurus-jurus yang dimainkan semakin ganas.

Suatu ketika ujung pedang si pemuda berhasil menuai sukses mendekati tubuh lawan serta memecah hawa chi si nenek mengakibatkan lobang darah di bagian pundak si nenek. Dengan cepat darah mengucur keluar dan gerakan si nenek yang lincah mulai berkurang terpengaruh oleh lukanya. Si pemuda tidak melewatkan waktu sedetikpun, ia terus melancarkan rangkaian serangan mematikan.

Sadar akan bahaya yang dihadapinya, si nenek mengeluarkan segenap kemampuan yang tersisa mendesak mundur si pemuda beberapa langkah sambil melemparkan am gie (senjata rahasia) berbentuk bintang segi lima yang sangat tajam dan terbuat dari logam. Selagi pemuda itu sibuk menangkis senjata rahasia, si nenek melompat mundur dan melarikan diri ke arah Lie Kun Liong sambil berteriak “Anak Kin, serang pemuda itu” dan menghilang di balik hutan bambu.
Lie Kun Liong melongo memandang belakang tubuh si nenek, mendengar kata-kata nenek itu ia tidak mengerti. Namun belum sempat ia berbalik, terdengar siur sambaran pedang sudah berada dekat punggungnya. Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ia miliki, ia berhasil menghindarkan diri dari serangan itu. Ternyata ia diserang oleh si pemuda yang menyangka Lie Kun Liong sebagai murid atau cucu si nenek.

“Eh nanti dulu looheng” kata Lie Kun Liong sambil sibuk menghindarkan diri dari serangan ganas si pemuda. “Aku bukan siapa-siapa nenek itu” kata Lie Kun Liong buru-buru.
Tapi si pemuda itu tidak mau mendengarkan kata-kata Lie Kun Liong sedikitpun, ia terus membombardir Lie Kun Liong dengan jurus-jurus mematikan. Terpaksa Lie Kun Liong menghadapi si pemuda dengan penuh perhatian sebab kalau lengah sedikit, tubuhnya akan bolong tertembus ujung pedang si pemuda.

Lie Kun Liong mengumpat dalam hati akan kesembronoan si pemuda itu, dengan susah payah ia melayani si pemuda dengan tangan kosong. Tiada kesempatan baginya untuk mencabut pedang yang berada di punggungnya. Untungnya ia sudah sempat sedikit menyelami gaya ilmu pedang si pemuda tadi hingga sedikit banyak ia masih bisa mengelak ke sana ke mari, lalu sambil melancarkan pukulan yang disertai hawa lwekang, ia mencabut pedangnya untuk mempertahankan diri lebih sempurna.
Awalnya ia hanya mencoba mempertahankan diri sambil mencari kesempatan untuk berbicara menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi namun serangan-serangan si pemuda sangat ganas dan mematikan hingga ia sebagai pemuda yang masih berdarah panas menjadi marah dan mulai membalas serangan si pemuda itu.

Terjadilah pertarungan yang jarang terjadi di dunia persilatan antara dua jago pedang yang sama-sama masih muda dan bersemangat. Bagi keduanya ternyata pertarungan ini merupakan pertarungan yang paling sengit yang pernah mereka hadapi selama berkecimpung di dunia kangouw. Pedang yang mereka miliki sama-sama pedang pusaka dan sudah menyatu dengan jiwa raga mereka. Saling serangpun berlangsung dengan seru, masing-masing pihak mengeluarkan seantero kemampuannya untuk mengalahkan lawan.

Kalau gerakan pedang si pemuda itu secepat kilat, gerakan pedang Lie Kun Liong tidak kalah mantapnya. Kecepatan di hadapi dengan kemantapan. Sayang tidak ada yang menyaksikan pertarungan kelas wahid ini. Suatu saat keduanya melancarkan serangan pedang yang mengakibatkan bentrokan yang sangat keras sehingga pedang di tangan mereka masing-masin terlontar ke atas terlepas dari pegangan masing-masing. Dari situ dapat diketahui keduanya memiliki lwekang yang setingkat.

Sebenarnya kalau mau selagi pedangnya terlontar ke udara, Lie Kun Liong bisa mengendalikan pedang dan untuk digunakan menyerang kembali si pemuda yang telah kehilangan pedangnya dengan ilmu pedang terbang. Tapi ia masih sadar ini kesempatan baik untuk menjelaskan salah paham ini.

“Harap dengarkan kata-kata aku loheng, aku tidak mengenal nenek itu sama sekali, aku hanya kebetulan lewat di sini” kata Lie Kun Liong buru-buru takut si pemuda ia masih gelap mata dan menyerangnya membabi buta.Pemuda itu tertegun sebentar, lalu menyadari bahwa murid ataupun cucu si nenek itu tidak mungkin memiliki ilmu pedang yang selihai ini bahkan lebih lihai dari si nenek.
“Tapi aku dengar sendiri Hui Thian Mo Lie (Hantu permpuan terbang ke langit) itu menyebutmu anak Kin” kata pemuda itu ragu-ragu.
“Aku juga tidak mengerti mengapa nenek itu memanggil aku begitu, mungkin dalam keadaan terdesak ia mau melemparkan beban ke aku untuk meloloskan diri” kata Lie Kun Liong penasaran.
“Rasanya memang itu tujuannya, untung engkau menjelaskan kalau tidak aku bisa salah membunuh orang tak bersalah” kata si pemuda seolah-olah yakin sekali Lie Kun Liong pasti akan kalah bila pertandingan diteruskan.

Sambil tersenyum tawar Lie Kun Liong bertanya “Ada sengketa apa antara loheng dengan nenek itu” Ia sedikit tidak suka akan kejumawaan si pemuda itu.
“Hui Thian Mo Lie itu adalah pembunuh keluarga misan aku, sudah lama aku memburunya dan tempat ini akhirnya bisa menyandaknya. Sayang ia lolos kali ini tapi lain kali jangan harap dia seberuntung ini” kata pemuda itu dengan lagak sombongnya.
“Maaf kalau kemunculan aku tadi menganggu rencana balas dendam loheng” kata Lie Kun Liong
“Tidak apa-apa, bukan salah loheng. Oh ya aku Bai Mu An, siapa nama loheng” tanya pemuda yang bernama Bai Mu An itu.
“Rupanya Bai-heng yang terkenal dengan julukan si Pedang Kilat” kata Lie Kun Liong kaget.
“Tidak berani, teman-teman persilatan yang memberi julukan itu” kata Bai Mu An, namun tidak mampu menyembunyikan rasa bangga diwajahnya.
“Nama aku Lie Kun Liong, kebetulan sedang berkelana di sekitar sini” kata Lie Kun Liong diam-diam tertawa dalam hati melihat kejumawaan Bai Mu An.
“Lie-heng hendak kemana” tanya Bai Mu An.
“Aku mau pergi ke Nanking, sudah lama dengar akan kemegahan kota raja” jawab Lie Kun Liong.

Sebenarnya ia berharap dapat berjumpa dengan Liok Han Ki di sana karena ia ingat akan pembicaraan mereka dulu. Entah mengapa sejak ia secara tidak sengaja membuka penyamaran Liok Han Ki yang ternyata adalah seorang dara bahkan melihat buah dada seorang gadis perawan untuk pertamakalinya, wajah Liok Han Ki selalu terbayang-bayang dalam benaknya.
“Kebetulan aku juga hendak ke kota raja mencari teman” kata Bai Mu An. “Bagaimana kalau kita berdua berjalan bersama?” tanya Bai Mu An. Ia merasa cocok dengan Lie Kun Liong yang rendah hati.
“Boleh, kebetulan aku sendirian. Ditemani Bai-heng yang berpengalaman membuat aku senang” jawab Lie Kun Liong.
7. Pencuri di Istana

Nanking adalah ibu kota kerajaan dan dikenal sebagai pusat ilmu, kebudayaan, kesenian sejak dahulu dan merupakan salah satu kota terpenting di Tiongkok dan menjadi ibu kota sepuluh dinasti atau kerajaan. Juga dikenal sebagai “Ibu kota Surga”. Telah menjadi pusat kerajaan dan ekonomi bagi daerah delta sungai Yangtze selama beratus-ratus tahun. Nanking juga adalah penghubung pengangkutan di bagian timur Tiongkok dan kawasan muara sungai Yangtze.
Memasuki gerbang kota Nanking, Lie Kun Liong memandang sekeliling kota dengan terkagum-kagum. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini dan makmur. Di kiri kanan sepanjang jalan terdapat warung makan kecil sampai yang besar dan penginapan-penginapan kelas satu. Tercium wangi masakan dari warung-makan besar membuat perutnnya berontak minta diisi.

Ia mengajak Bai Mu An memasuki salah satu warung makan yang terbesar. Suasana warung makan itu ramai sekali, para pelayan hilir mudik membawa masakan-masakan yang membuat air liur menetes, semua masakan disajikan panas-panas langsung dari dapur. Mereka memesan tumis sayur, burung dara goreng nanking yang terkenal, dua botol arak dan empat mangkok nasi putih yang masih panas mengepul. Dengan lahap mereka menyantap masakan yang dihidangkan dan ludes dalam sekejap.

Di sebelah mereka duduk sekawanan pemuda dengan pakaian yang mewah, kelihatan mereka berasal daridari keluarga terpandang atau anak pejabat pemerintahan. Mereka sedang membicarakan kejadian dua hari yang lalu di warung makan ini.

“Ciu-heng apa benar gadis itu cantik jelita” tanya pemuda berbaju putih kepada kawannya yang bertubuh gendut.
“Benar toako, gadis itu baru tiba ke kota ini dan sedang makan di pojokan meja sebelah sana sendirian sewaktu rombongan tuan muda Pai datang dan mencoba mengoda gadis itu” jawab pemuda bertubuh gendut. Seperti yang toako ketahui, pengawal tuan muda Pai sangat lihai tapi cukup dengan sebatang sumpitnya, gadis itu membuat kedua pengawal Pai kongcu takluk. Kalau tidak percaya coba toako lihat lobang bekas lemparan sumpit gadis itu di dinding sebelah sana. Memang benar di dinding tersebut terdapat dua lobang kecil seukuran sumpit. Dengan meleltkan lidahnya pemuda berbaju putih itu bertanya “Sungguh lihai sekali gadis itu, apa yang terjadi kemudian ?”.

“Dengan sebatang sumpitnya si gadis itu melayani kedua pengawal Pai kongcu dengan seenaknya bahkan kedua telapak tangan pengawal itu berlobang tertembus sumpit yang dilemparkan gadis itu lalu menembus dinding di sana. Tenaga gadis itu hebat sekali” kata pemuda gendut itu.
“Bagaimana potongan gadis itu” tanya pemuda yang lain.
“Wajahnya cantik mempesona bagaikan putri istana, tingginya sedang dan tubuhnya langsing, kulitnya putih dan halus, jari-jari dan alis matanya lentik sekali. Sungguh jarang aku melihat gadis secantik itu” kata pemuda gendut itu kesengsem.

Mendengar pembicaraan para pemuda itu, Bai Mu An berkata pada Lie Kun Liong “Rasanya yang mereka bicarakan adalah kawan yang aku lag cari, ciri-cirinya mirip”
“Siapa nama gadis yang Bai-heng hendak cari” tanya Lie Kun Liong
“Dia bernama Liok In Hong dan julukannya Sian Li Kiam (Dewi Pedang)” jawab Bai Mu An.
“Sian Li Kiam yang terkenal itu, ternyata Bai-heng kenal dengannya” kata Lie Kun Liong. Dengan hati berdebar-debar Lie Kun Liong merasa curigai jangan-jangan Liok Han Ki yang ia kenal merupakan penyaruan dari Liok In Hong si Dewi Pedang.
“Keluarga aku dengan keluarganya punya sedikit hubungan persahabatan tapi aku baru-baru ini saja mengenalnya” kata Bai Mu An dengan wajah luar biasa.

Setelah urusan mengisi perut selesai, mereka lalu mencari penginapan yang bersih untuk membersihkan badan dan memulihkan tenaga.
Di sore harinya mereka berkeliling di sekitar kota raja untuk menyerapi kabar Sian Li Kiam namun bukan berita tentang Liok In Hong yang mereka dengar tapi berita tentang berhasil dimasukinya gudang pusaka istana raja oleh maling yang lihai. Kejadiannya berlangsung tadi malam.

Para wie-su (perwira kerajaan) yang berjaga tiada seorangpun yang menyadari gudang pusaka istana telah kemalingan, baru pada keesokan harinya kejadian yang menghebohkan itu ketahuan. Semua orang tahu bahwa istana raja di jaga sangat ketat, ibaratnya burung pun tidak leluasa untuk terbang di atas istana apalagi manusia. Namun si maling itu berhasil memasuki gudang pusaka dengan melewati penjagaan dari pasukan Gie-lim-kun (pasukan penjaga istana) dan Kim-mie-wie (pasukan pengawal kerajaan bersulam emas).

Namun yang lebih mengherankan si maling tidak mengambil barang-barang berharga seperti pedang pusaka, perhiasan emas dan berlian yang biasa di pakai putri-putri istana. Ia hanya mengambil sebuah lukisan bergambar pemandangan gunung di waktu musim salju. Memang lukisan itu cukup berharga karena merupakan hadiah dari Khan Agung kerajaan Mongolia sebagai tanda persahabatan.

Dengan adanya peristiwa ini penjagaan istana semakin diperketat dan pintu gerbang kota raja juga di jaga ketat. Setiap orang yang hendak keluar kota raja di periksa bawaannya.
“Entah siapa gerangan orang yang berani mati mencuri di istana kerajaan, sedangkan yang dicuri hanya sebuah lukisan” kata Lie Kun Liong.
“Pasti seorang jago kosen kangouw dan memiliki peta keadaan istana yang mampu melakukan pencurian itu” kata Bai Mu An.
“Berarti ia pasti bekerjasama dengan orang dalam untuk mendapatkan gambaran keadaan istana, kapan waktu pergantian penjagaan, siapa yang sedang memimpin penjagaan” kata Lie Kun Liong.
“Kabarnya Tong-leng (pemimpin Gie-lim-kun) – Sun Kai Shek yang berjuluk Kip-hong-kiam (si pedang angin lesus) sedang cuti pulang ke kampung halaman, sedangkan Ciong-cie-hui (pemimpin Kim-mie-wie) – Sim Ok Ciang yang berjuluk Kim-gak-tiau (si rajawali bermata emas) malam itu sedang dipanggil Hong-siang (Kaisar)” kata Bai Mu An. Si pencuri memilih saat yang sangat tepat dalam melakukan aksinya.
“Bagaimana dengan ilmu silat kedua pemimpin itu” tanya Lie Kun Liong.
“Termasuk kelas wahid dalam dunia kangouw. Tong-leng Sun Kai Shek merupakan sute (adik seperguruan) dari ketua Hoa-san-pay saat ini. Ilmu pedangnya Hong-kui-liu-in (angin lesus membuyarkan awan) sangat lihai dan entah sudah berapa banyak korban yang mati di bawah ujung pedangnya. Ia sudah belasan tahun menjadi pemimpin nomor satu di pasukan Gie-lim-kun.

Kalau Ciong-cie-hui Sim Ok Ciang terkenal dengan ilmu silatnya Pek-pian-yu-tui (tendangan seratus gaya) merupakan jago kosen yang sudah malang melintang di dunia kangouw puluhan tahun sebelum menjabat Ciong-cie-hui beberapa tahun yang lalu. Aku rasa tidak gampang bagi si pencuri mengaduk-aduk gudang pusaka istana bila ke dua orang ini sedang bertugas” kata Bai Mu An.
“Menurut perkiraan Bai-heng siapa gerangan pencuri itu” kata Lie Kun Liong.
“Susah diperkirakan, banyak orang kosen di kalangan Liok-lim (kalangan penjahat / rimba hijau). Di samping itu belum tentu pencuri tersebut dari kalangan Liok-lim bisa juga dari kalangan Bu-lim (rimba persilatan)” sahut Bai Mu An.
“Pengetahuan Bai-heng tentang dunia kangouw luas sekali, kalau aku boleh tahu siapa saja jago kosen dari kalangan Liok-lim” tanya Lie Kun Liong.

“Ada Kwi-eng-cu (si bayangan iblis) yang terkenal dengan ilmu ginkangnya, lalu Cap-sah-thian-mo (13 iblis besar) susah dilayani, Bwe-hoa-cat (penjahat bertanda bunga bwe) seorang jai-ho-cat (penjahat pemetik bunga) yang selalu membunuh korban-korbannya setelah selesai diperkosa. Kemudian Jian-jiu-lo-sat (si hantu wanita bertangan seribu) yang terkenal akan kelihaiannya ilmu mencurinya. Mereka-mereka inilah sedang naik daun di kalangan liok-lim.
Untuk angkatan tuanya Lie-heng harus hati-hati bila bertemu dengan Bu-eng-cu (si tanpa bayangan), Pian-mo (setan cambuk), Tok-tang-lang (si belalang berbisa) dan Kim-mo-siankouw (dewi berambut emas) yang terkenal akan kejalangannya terhadap pemuda-pemuda tampan” kata Bai Mu An.

“Bai-heng tahu dimana tempat tinggal Tok-tang-lang” tanya Lie Kun Liong. Ternyata ia masih ingat dengan nama julukan susioknya Tan Kin Hong yaitu si belalang berbisa. Ia ingin menemui susioknya itu dan menyampaikan pesan-pesan gurunya.
“Aku tidak tahu, mereka ini sudah puluhan tahun di dunia kangouw dan sudah jarang berkecimpung di dunia persilatan. Apakah Lie-heng ada persoalan dendam kesumat dengan Tok-tang-lang” tanya Bai Mu An ingin tahu.
“Ya benar” kata Lie Kun Liong singkat. Ia tidak ingin Bai Mu An tahu persoalan intern perguruannya diketahui orang luar.

Hari sudah sore matahari perlahan-lahan mulai terbenam dan tahu-tahu malam telah tiba, mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Malam yang sunyi dan kelam. Bulan pucat menggantung di langit beberapa bintang tak bosan berkedip. Cahaya bulan menolong memberikan pemandangan malam yang tidak begitu gelap. Kadang terdengar teriakan panjang dari lorong entah di mana menggemakan gaung malam. Tersentak sadar dalam samadhi oleh suara lirih pejalan malam di atas genteng kamarnya, Lie Kun Liong merasa heran akan kelihaian orang tersebut. Bila ia tidak dalam keadaan sedang melatih lweekang pasti ia tidak akan mendengar sama sekali.

Jelas seorang jago kosen sedang berkeliaran di luar sana. Dengan hati-hati ia melompat keluar ke atas genteng penginapan dan mengikuti bayangan orang yang masih nampak di kejauhan sebelum menghilang di balik bangunan.
Dengan mengembangkan ilmu teng-peng-touw-sui (menginjak rumput mnyebrang sungai) ia dengan sebat mengikuti bayangan itu dengan penuh perhatian. Rupanya bayangan itu menuju ke pintu keluar gerbang kota, dengan ilmu pek-houw-yu-ciang (cecak merayap di tembok) bayangan itu menaiki tembok dan dengan cepat keluar dari kota raja. Tak seorangpun prajurit di sekitar tembok itu menyadari ada orang yang keluar dari kota raja dengan diam-diam.
Dengan ketat Lie Kun Liong mengikuti bayangan itu, syukur baginya malam sedang gelap-gelapnya hingga ia tidak konangan oleh orang itu. Sekeluarnya dari kota raja, bayangan itu mengembangkan ginkangnya seluas-luasnya. Dengan susah payah Lie Kun Liong mengikuti orang itu, ia sangat kagum akan ilmu mengentengkan tubuh bayangan itu, hanya dengan mengerahkan seluruh kemampuannya baru ia dapat mengimbangi lari orang itu.

Setelah berlari selama seperminuman teh, mereka tiba di sebuah bangunan. Ternyata bangunan itu adalah sebuah kelenteng yang sudah rusak dan tak berpenghuni. Bayangan itu memasuki kelenteng dan menghilang ke dalam. Lie Kun Liong ragu-ragu untuk mengikutinya, ia khawatir di dalam kelenteng sudah ada orang yang menunggu si bayangan itu dan melihat ada orang yang mengikuti bayangan itu.

Sekonyong-konyong ia mendengar suara jeritan berkumandang dari dalam kelenteng itu. Dengan mengambil resiko ketahuan Lie Kun Liong melayang ke atas atap kelenteng dan mengintip ke dalam ruangan di mana bayangan tadi masuk. Ruangan itu gelap sekali tiada sinar lilin, hanya dengan mengandalkan sinar rembulan ang menerobos jendela yang terbuka dan mata yang tajam Lie Kun Liong meneliti sekitar ruangan itu. Di sudut ruangan, bayangan yang ia kejar tadi terbaring telungkup.

Gelagatnya teriakan tadi berasal darinya, ada orang yang membokong dan melukainya. Lie Kun Liong dengan sabar menanti sambil berharap orang yang membokong bayangan itu segera menampakkan diri. Tapi tungu punya tunggu tidak tampak sesosok bayanganpun yang keluar dari kelenteng sehingga dengan hati-hati ia melayang turun ke dalam ruangan dan mendekati orang yang terbaring telungkup itu.

Sebatang pisau menancap di balik punggungnya menembus ke bagian dada, darah segar mengalir di sekitar tubuhnya. Sambil membalik tubuh orang itu, Lie Kun Liong memeriksa nadi orang tua – nadinya masih berdenyut lemah sekali, ia belum mati. Lie Kun Liong menyalurkan tenaga dalam ke badan orang itu. Tidak berapa lama orang itu sadar sambil meringis kesakitan. Lie Kun Liong sadar orang itu tidak dapat diselamatkan lagi, lukanya sudah terlalu parah. Ia hanya berusaha menyadarkan orang itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan mata sayu orang itu menatap Lie Kun Liong dan berkata “Sii..apa anda” tanyanya dengan bersusah payah.
“Aku kebetulan lewat dan mendengar suara jeritan di dalam kelenteng” kata Lie Kun Liong.
“Paman siapa dan mengapa sampai terluka begini”
Dengan kecut orang itu meringgis kesakitan dan berkata “Aku berjuluk Maling Sakti dan orang yang memasuki gudang pusaka istana kemarin malam. Orang yang melukai aku adalah orang yang memberi tugas untk mencuri lukisan pemandangan. Ini tidak pernah aku sangka sama sekali ia begitu tega berusaha membunuh aku untuk menutup mulut”.

Dengan tersenggal-senggal ia merogoh baju dan mengeluarkan sebuah kalung giok berwarna hijau dan menyodorkannya ke tangan Lie Kun Liong sambil berkata dengan susah payah “Ca..ari Siau Erl di rumah pelesiran “Bunga Merah” di kota raja dan berikan kalung ini untuk tukar dengan lukisan yang asli. Lukisan yang aku bawa tadi palsu” Mengingat ia berhasil menipu orang yang telah menyuruhnya mencuri lukisan, terbayang rasa puas di wajahnya. Sesudah mengatakan kalimat itu, orang itu mati dengan mata terbelalak seolah-olah tidak rela meninggalkan dunia ini.
Dengan menghela nafas gegetun Lie Kun Long menyimpan kalung giok yang kelihatan sangat mahal itu ke dalam saku bajunya, ternyata dunia kangouw ini kejam dan penuh dengan tipu muslihat.
8. Jian-jiu-lo-sat (si hantu wanita bertangan seribu)

Sekembalinya ke kota raja, Lie Kun Liong langsung mencari pelesiran Bunga Merah. Cukup mudah baginya menemukan pelesiran itu karena termasuk pelesiran yng terkenal di kota raja. Malam itu walaupun sudah larut malam namun di pelesiran Bunga Merah malah semakin meriah.

Dengan ragu-ragu Lie Kun Liong berdiri di pintu masuk pelesiran itu, baru pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini.
Selagi belum tahu apa yang harus dilakukannya untuk bertemu dengan seorang wanita yang bernama Siau Erl, nampak mendatangi sebuah tandu yang digotong dua orang tukang berhenti di depan pintu pelesiran Bunga Merah. Lalu dari dalam tandu keluar seorang wanita muda berpakain hijau muda, wajahnya cukup cantik dan tercium aroma wangi melati dari tubuhnya yang langsing dan berisi. Melihat Lie Kun Liong berdiri di depan pintu masuk, ia sambil tertawa genit menyapa “Kong-cu mencari siapa ?”. Kebetulan bagi Lie Kun Liong, ia berkata “Aku datang ke sini untuk mencari orang yang bernama Siau Erl. Apakah nona bisa membantu ?”

Sambil tertawa dan menutup bibir delima merekah dengan tangannya dia berkata “Siau-moy inilah yang biasa dipanggil Siau Erl, ternyata kong-cu ingin membooking siau-moy. Mari masuk ke dalam kata Siau Erl sambil mengandeng tangan Lie Kun Liong. Dengan gembira karena tidak menyangka orang yang ia cari ternyata adalah wanita ini, Lie Kun Liong mengikutinya menuju kamar yang terletak di lantai dua rumah pelesiran itu. Sepanjang jalan menuju ke kamar Siau Erl ini ia mendengar suara desah dan lengguhan suara wanita mengundang birahi dari balik kamar yang ia lewati. Dengan muka merah dan hati berdegup-degup ia terus mengikuti Siau Erl.

Setiba di dalam kamar sambil terkikik kecil Siau Erl berkata “Tunggu sebentar ya kong-cu, siau-moy membersihkan tubuh dulu sebelum melayani kong-cu”. Dengan perasaan serba salah Lie Kun Liong hanya mengangguk lemah. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat.

Kamar itu sangat besar dan mewah, pasti Siau Erl ini merupakan primadona di rumah pelesiran ini. Dengan gerakan lemah gemulai Siau Erl berjalan menuju lemari pakaian yang berada di pojok ruangan, lalu dengan perlahan-lahan melepaskan pakaian yang dikenakannya.

Terlihat pundaknya yang putih mulus, leher yang jenjang dan pakaian dalam warna merah menyala, terpampang belahan buah dada membusung ketat di baliknya. Tanpa merasa malu Siau Erl mulai melepaskan pakaian dalamnya yang ketat dan segera tampak sepasang buah dada yang montok dihiasi puting susu yang kecil kecoklatan. Tubuhnya seperti layaknya gadis seusianya putih mulus dan segar bugar. Tiba-tiba ia melepaskan rok panjang yang dipakainya dan tampak pahanya yang mulus dan langsing, berpura-pura tidak tahu Siau Erl sambil tersenyum tipis memiringkan tubuhnya yang padat berisi sedikit menghadap Liok Kun Liong hingga terlihat jelas dihadapannya bagian inti seorang perempuan. Baru pertama kali ini ia melihat bagian paling inti milik seorang perempuan. Ia seperti berada di tengah hutan lebat dan jurang dalam.

Dengan tubuh tanpa sehelai benangpun, semua bagian tubuhnya sangat menakjubkan. Setiap lekuk tubuhnya mampu membangkitkan gairah setiap laki-laki. Siau Erl lalu berjalan memasuki kamar mandinya. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air gemericik, begitu pelan, lamban dan samar. Muncul dari kamar mandi, tubuh Siau Erl harum, segar, terbebat kain diseputar buah dadanya, dengan bintik-bintik air di tengkuknya.
Sambil melepaskan kain yang dipakainya ke lantai, ia berbaring di sebuah kasur empuk dengan bersitekan pada sebelah sikunya dalam posisi menyamping, memperlihatkan seluruh tubuhnya. Ekspresi wajahnya segar dan bibirnya merah delima merekah dengan sorot mata mengundang yang sekan-akan menyiratkan bahwa tak ada persoalan apa pun dengan ketelanjangannya. Ia seperti melayang di atas kasur empuk, dengan perangai tubuh yang leluasa bergerak tanpa sehelai benang pun. Setiap lekuk tubuhnya menciptakan ruang eksistensinya sendiri sekaligus menjadi dirinya sendiri. Seluruh perangai ketelanjangan, ekspresi dan sorot matanya, membayangkan sebuah sikap merayu, memancing orang (lelaki) untuk menelan air liurnya.

Tubuh Lie Kun Liong tergetar, sambil menutup matanya ia menenangkan diri sepenuhnya dan berkata “Nona, aku datang ke sini atas permintaan seseorang dengan goresan di bagian bawah matanya sambil mengeluarkan seuntai kalung giok yang ia peroleh dari si Maling sakti”

Dengan kaget Siau Erl langsung bangkit dari kasurnya, mengambil kain dilantai untuk menutupi tubuhnya, lalu menghampiri Lie Kun Liong.
“Di mana Maling Sakti berada ?” tanya Siau Erl dengan suara mendesak.
“Dia telah mati di bokong oleh orang yang hendak ditemuinya di sebuah kelenteng rusak tidak jauh dari kota raja ini” sahut Lie Kun Liong.
Dengan wajah pucat Siau Erl mengambil kalung giok dari tangan Lie Kun Liong dan mengamatinya sambil mengeluarkan air mata.
“Apa hubungan nona dengan Maling Sakti ini” tanya Lie Kun Liong ingin tahu.
“Dia ayahku” jawab Siau Erl sambil menyusut air matanya.

Dengan wajah tercenggang Lie Kun Liong menatap wajah sedih Siau Erl, ia tidak menyangka si Maling Sakti memiliki seorang putri yang bekerja di rumah pelesiran ini.
“Engkau pasti heran kenapa Maling Sakti memiliki putri seperti aku bukan” tanya Siau Erl seolah-olah dapat membaca pikiran Lie Kun Liong.
Lie Kun Liong diam tak menjawab, ia tidak ingin membuat Siau Erl merasa tersinggung.
“Sebenarnya tidak banyak orang yang tahu bahwa rumah pelesiran ini merupakan milik ayahku. Dari sinilah ayahku bisa mendapat informasi yang berharga dari tamu-tamu yang datang dan melakukan aksinya. Tidak ada cara yang lebih ampuh untuk mendapatkan rahasia selain dengan wanita penghibur. Umumnya para tamu yang datang tidak curiga sama sekali kalau kami sedang mengorek-orek rahasia mereka, terlebih apabila mereka dicekoki arak hingga mabuk” kata Siau Erl.
“Lalu apa tujuan kalian hanya mencuri lukisan dari gudang pusaka istana” tanya Lie Kun Liong heran.
“Sebenarnya ayah mendapat order pesanan dari seorang angkatan tua kangouw untuk mencuri lukisan itu dengan bayaran yang sangat besar, cukup untuk tidak mencuri lagi selamanya. Kalung giok ini adalah salah satu bukti pembayaran darinya” kata Siau Erl.
“Apakah kalian tahu apa yang di cari orang itu dari lukisan yang kalian curi ?” tanya Lie Kun Liong.
“Tidak tahu, cuma memang ayah merasakan hal ini sangat aneh hingga untuk berjaga-jaga ia telah mempersiapkan segala sesuatu dengan membuat tiruan lukisan itu sedangkan yang asli aku simpan” kata Siau Erl sambil berjalan menuju lemari pakaian yang ada dipojok ruangan dan membukanya. Tampak bagian dalam lemari itu sama seperti lemari biasa namun ternyata dengan menekan suatu alat tertentu di balik lemari itu ada ruangan yang tersembunyi.

Siau Erl masuk ke ruangan tersembunyi itu dan tidak beberapa lama kemudian ia keluar sambil membawa sebuah gulungan kain dan menaruhnya di atas meja bundar di tengah kamar serta membukanya lebar-lebar. Ternyata gulungan kain itu adalah lukisan yang di curi si Maling Sakti, melukiskan pemandangan pada musim rontok, di mana bulan terang, angin bertiup sepoi-sepoi sehingga udara dan sungai tampak bersih sekali. Sebuah maha karya lukis yang mengagumkan sehingga tidak heran termasuk barang pusaka istana.

Setelah mengamati lukisan itu sekian lama, lapat-lapat Lie Kun Liong merasa pernah melihat gambar lukisan itu tapi entah di mana ia pernah melihatnya.
“Siapakah angkatan tua yang telah memberi tugas mencuri lukisan ini ?” tanya Lie Kun Liong.
“Ayah tidak sempat memberitahu karena ia terburu-buru hendak menyerahkan lukisan ini ke orang itu. Yang pasti orang itu mempunyai kedudukan yang tinggi di dunia persilatan sehingga ayah pun tak kuasa menolak permintaannya” kata Siau Erl.
“Apakah orang itu tahu kediaman Maling Sakti di sini ?”tanya Lie Kun Liong.
“Tidak seorang pun yang tahu” jawab Siau Erl yakin.
“Sebaiknya nona menyingkirkan diri dari sini, siapa tahu orang itu memiliki mata-mata dan mendapat tahu kediaman Maling Sakti di sini. Apalagi bila ia mendapat tahu lukisan yang diserahkan ayahmu itu palsu” saran Lie Kun Liong.
“Baiklah, Siau Erl pasti mendengarkan saran Lie-ko” jawabnya sambil tersenyum manis mengoda.
“Kalau begitu aku pergi dulu” kata Lie Kun Liong seolah-olah tidak melihat senyuman yang membuat hatinya berdebar-debar.

Sambil termangu Siau Erl memandang kepergian Lie Kun Liong, entah mengapa baru kali ini ia mempercayai seorang lelaki dan menceritakan semua rahasia mereka kepada orang luar. Hanya satu yang tidak ia berani ia beritahukan yaitu julukannya Jian-jiu-lo-sat (si hantu wanita bertangan seribu).
9. Perayaan ulang tahun ketua partai Bu-tong-pay

Keesokan paginya selagi mereka berdua sedang menikmati sarapan pagi di warung penginapan, Lie Kun Liong mendengar namanya di panggil-panggil. Ketika ia menengok ke arah suara panggilan itu, tampak sedang menuruni anak tangga loteng penginapan itu Cin-Cin, Tang Bun An dan ketua partai Thay-san-pay – Master The Kok Liang.
Dengan girang Lie Kun Liong berdiri dan menyambut kedatangan mereka sambil berkata “Cin-moy, Tang-heng rupanya kalian juga sudah turun gunung”. Ia lalu memberi hormat ke Master The-Kok-Liang.
Sambil tertawa gembira Cin-Cin berkata “Ayah mendapat undangan perayaan ulang tahun ke 80 ketua partai Bu-tong – Kiang Ti Tojin, jadi sekalian untuk menambah pengalaman kami ikut pergi sedangkan ibu tetap tinggal di rumah.
“Sebenarnya kami bisa langsung ke Bu-tong tapi Cin-moy merengek-rengek mau melihat-lihat keindahan kota raja dulu” kata Tang Bun An sambil tertawa mengoda.
Sambil memonyongkan mulutnya Cin-Cin berkata “Padahal aku tahu suheng sebenarnya kepingin juga melihat-lihat kota raja”
“Sudahlah kalian berdua ini selalu ribut-ribut, malu di dengar orang” kata Master The-Kok-Liang.

Lie Kun Liong lalu mengenalkan mereka teman seperjalanannya – Bai Mu An. Sambil sarapan pagi bersama, Cin-Cin berkata “Liong-ko bagaimana kalau engkau ikut bersama kami ke Bu-tong, di sana pasti ramai sekali dan banyak tokoh-tokoh silat kenamaan yang datang untuk megucapkan selamat ulang tahun kepada Kiang Ti Tojin”
“Benar Lie-heng, sebaiknya kita pergi bersama-sama untuk menambah pengalaman” sahut Tang Bun An sambil menoleh ke arah suhunya meminta ijin.
Master The-Kok-Liang mengangguk-anguk tanda setuju sambil mengusap jenggotnya. “Benar A Liong, ini kesempatan yang langka, jarang terjadi kita bisa memenuhi undangan dari parai Bu-tong., sekalian ajak hiantit Bai Mu An” kata Master The Kok Liang.
“Terima kasih cianpwe atas ajakannya tapi wanpwe masih ada urusan pribadi di kota raja ini” jawab Bai Mu An dengan hormat.

Lie Kun liong tahu Bai Mu An masih penasaran hendak mencari Liok In Hong sampai ketemu sehingga ia tidak telalu mendesak.
Selesai sarapan Bai Mu An pergi untuk menyelesaikan urusan pribadinya sedangkan mereka bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Bu-tong-pay.

Sepanjang perjalanan Lie Kun Liong menceritakan pengalamannya secara garis besar saja selama beberapa bulan ini termasuk peristiwa semalam.
“Aneh sekali, siapa gerangan angkatan tua yang bisa memerintahkan Maling Sakti untuk melakukan pencurian yang sangat beresiko di istana. Setahu lohu Maling Sakti memiliki ginkang yang tiada taranya dan ilmu silat yang tinggi, termasuk salah satu jago kosen dunia persilatan” kata Master The Kok Liang.
Sepanjang perjalanan ke Bu-tong mereka melihat banyak orang-orang persilatan mulai dari pengemis, ******* dan lain-lain juga menuju ke Bu-tong-san. Rupanya kali ini pihak Bu-tong-pay merayakan ulang tahun ketua partainya besar-besaran.

Sekilas mengenai partai Bu-tong saat itu, dengan ribuan murid yang tersebar di seluruh penjuru, tak pelak lagi Bu-tong-pay merupakan salah satu partai terkuat di dunia persilatan saat ini.
Pimpinan tertinggi Bu-tong-pay selain ketua adalah hu-ciangbujin (wakil ketua) partai yang saat ini dipegang sute Kiang-Ti-Tojin bernama Kiang-Siang-Tojin serta para tianglo (sesepuh perguruan) yang merupakan sute-sute Kiang-Ti-Tojin dan Kiang-Siang-Tojin.

Sedangkan angkatan kedua partai Bu-tong merupakan murid-murid utama pimpinan partai ini yang rata-rata sudah berumur 40-50 tahunan terkecuali murid penutup Kiang-Ti-Tojin yang baru berusia 19 tahunan bernama Tan Sin Liong. Sedangkan angkatan muda partai Bu-tong saat ini yang memiliki kepandaian tertinggi adalah 7 pendekar dari Bu-tong yang merupakan murid-murid angkatan kedua Bu-tong-pay.

Di bawah kedudukan wakil ketua adalah kedudukan pelaksana harian yang mengatur semua kegiatan sehari-hari Bu-tong-pay termasuk kegiatan perayaan ulang tahun ini, dipimpin oleh murid pertama Kiang-Ti-Tojin yang bernama Tiong-Pek-Tojin. Tiong-Pek-Tojin ini baru berusia pertengahan 50 tahunan disebut-sebut sebagai calon ciangbujin (ketua) Bu-tong-pay menggantikan gurunya Kiang-Ti-Tojin. Ilmu silatnya adalah yang paling lihai di angkatan ke dua Bu-tong-pay dan dikabarkan telah mewarisi semua ilmu gurunya sehingga sangat cocok menjadi calon pengganti ciangbujin saat ini dan didukung sebagian besar sute-sutenya serta kalangan muda Bu-tong-pay.

Namun dikalangan angkatan ke dua Bu-tong-pay yang sangat berambisi menjadi calon pengganti ciangbujin adalah murid satu-satunya Kiang-Siang-Tojin yang bernama Tiong-Cin-Tojin berusia dua tahun lebih muda dari Tiong-Pek-Tojin. Dari segi ilmu silat ia masih kalah seurat dari suhengnya Tiong-Pek-Tojin tapi dari segi kecerdikan Tiong-Pek-Tojin kalah jauh dari sutenya ini. Tiong-Pek-Tojin wataknya teguh, dapat dipercaya dan jujur sedangkan Tiong-Cin-Tojin cerdik cenderung licik, supel dan kurang mempunyai wibawa di mata murid-murid Bu-tong-pay.
Lain dengan suhengnya yang menjabat sebagai pelaksana harian, Tiong-Cin-Tojin lebih suka berkelana dan memiliki pergaulan yang luas dengan berbagai kalangan.

Kiang-Siang-Tojin tentu saja lebih menginginkan murid satu-satunya ini yan menjadi calon ciangbujin tapi yang berhak membuat keputusan adalah ketua partai. Menurut kabar angin selain merayakan ulang tahunnya yang ke 80, Kiang-Ti-Tojin juga akan mengumumkan siapa yang menjadi calon penggantinya. Itulah sebabnya mengapa perayaan ulang tahun ini dirayakan besar-besaran.

Sedangkan bagi para undangan, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memberi selamat kepada tokoh paling terkemuka juga untuk mengenal lebih dekat calon ciangbujin Bu-tong-pay yang baru.
Setibanya mereka di gunung Bu-tong sudah banyak undangan lain yang hadir. Mereka di sambut oleh murid-murid penerima tamu dan begitu mengetahui yang datang adalah caingbujin Thay-san-pay segera mereka memberitahu pelaksana harian Tiong-Pek-Tojin yang keluar menyambut mereka. Walaupun menurut tingkatan Master The-Kok-Liang sejajar dengan ciangbujin Bu-Tong-Pay tapi Master The-Kok-Liang bersahabat kekal dengan Tiong-Pek-Tojin karena selain berusia hampir sama, juga mereka terjun ke dunia kangouw dan mengangkat pada masa yang sama.

“Apa khabar The-heng, sudah puluhan tahun tidak bertemu ternyata The-heng masih kelihatan muda dan tidak berubah banyak” kata Tiong-Pek-Tojin dengan gembira menyambut kawan lamanya.
“Baik-baik saja Can-heng, engkau juga tidak berubah malah semakin gagah” balas Master The-Kok-Liang gembira. Ia menyebut nama Tiong-Pek-Tojin sebelum ia menjadi Tojin (******* Tao).
“Bagaimana kabar dengan Chen Kouwnio” Tiong-Pek-Tojin menanyakan kabar istri Master The-Kok-Liang.
“Baik-baik saja, Hui-Lan tetap di Thay-San mengurus partai” kata Master The-Kok-Liang. Lalu ia memperkenalkan rombongannya.

Tiong-Pek-Tojin mengajak rombongan Thay-San-Pay ini duduk di bagian tamu kehormatan. Para undangan yang hadir hanya sedikit yang mengenal ketua Thay-san-pay ini karena selain sudah lama tidak berkecimpung di dunia persilatan, letak gunung Thai-san yang jauh serta murid-murid partai Thai-san-pay jarang yang berkelana membuat partai ini sedikit kurang dikenal kalangan persilatan. Tapi begitu mengetahui mereka berasal dari Thai-san-pay dan dipimpin langsung oleh ketuanya yang tersohor, kebanyakan undangan menjulurkan leher mereka untuk melihat lebih jelas rombongan Thay-san-pay. Apalagi rombongan Master The-Kok-Liang terutama Cin-Cin yang cantik jelita sudah menarik minat kalangan muda yang hadir.

Memang Cin-cin memiliki bentuk tubuh dan paras rupa yang sempurna. Ia dihiasi dengan kecantikan, kemanisan, keindahan, kejelitaan, kehalusan, kelemah-lembutan, dan segala sifat-sifat keperibadian yang terpuji di samping bentuk tubuhnya yang mempesona serta memikat hati setiap yang memandangnya. Sedangkan Lie Kun Liong dan Tang Bun An adalah pemuda-pemuda pilihan dan tampan sehingga menarik minat para dara muda yang hadir.
Di bagian tamu kehormatan ternyata sebagian besar sudah terisi, sepanjang jalan sebentar-sebentar Master The-Kok-Liang berhenti menyambut sapaan kenalan-kenalan lamanya.

Ternyata selain ketua Thay-san-pay, juga hadir ketua partai Hoa-San-Pay – Master Yu-Kang, ketua Go-Bi-Pay – Ong-Sun-Tojin, ketua Kun-Lun-Pay – Sie-Han-Cinjin, wakil ketua partai Kay-Pang – Kam Lo-kai, serta sute ketua biara Shao-Lin – Tiang-Lok Hwesio serta ketua partai-partai lainnya.
Boleh di bilang perayaan kali ini termasuk peristiwa langka di dunia persilatan, di mana pimpinan utama 7 partai besar yaitu Shao-Lin, Bu-Tong-Pay, Thay-San-Pay, Hoa-San-Pay, Go-Bi-Pay, Kun-Lun-Pay dan perkumpulan Kay-Pang hadir semua di sini.

Dengan wajah berseri-seri, murid-murid Bu-Tong melayani para tetamu dengan hormat. Mereka tahu para tamu undangan yang datang kali ini merupakan tokoh-tokoh utama dunia kangouw.
Bagi Lie Kun Liong ini merupakan kesempatan yang baik untuk mencari tahu keadaan Bu-Tong-Pay karena seperti yang ia dengar dari pelayan warung makan mengenai kematian kedua orang tuanya sangat erat kaitannya dengan Bu-Tong.
Sedangkan di pihak Bu-Tong-Pay, seluruh pimpinan dan murid-murid utama telah dikerahkan menyambut kedatangan tamu kehormatan diantaranya nampak Tiong-Pek-Tojin, Kiang-Siang-Tojin, Tan Sin Liong, 7 pendekar Bu-Tong, dan lain-lain.

Setelah di rasa waktunya telah tiba, ketua partai Bu-Tong Kiang-Ti-Tojin keluar. Tampak seorang tua dengan rambut telah putih semua memasuki ruangan, wajahnya masih tampak sehat kemerahan, sinar matanya masih bersinar terang menandakan lweekang yang sudah sempurna – Inilah salah satu tokoh paling terkemuka di dunia persilatan. Kiang-Ti-Tojin lalu mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan dan mempersilakan para tamu untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan, lalu ia menghampiri dan menyapa para tamu kehormatan satu per satu untuk mengucapkan terima kasih atas kesediaan mereka datang ke Bu-Tong-Pay.

Setelah melihat para hadirin sudah puas makan minum hidangan yang disediakan, Kiang-Ti-Tojin lalu berdiri dan berkata kepada para tamu undangan “Pinto berterima kasih atas kunjungan para sahabat sekalian. Seperti yang diketahui, sekarang ini pinto sudah berusia 80 tahun dan selama ini kewajiban pinto sebagai ketua diwakili sute Kiang-Siang-Tojin dan murid pinto – Tiong-Pek-Tojin dalam mengurus keseharian partai ini. Saat ini pinto bersama sute Kiang-Siang-Tojin dan para tianglo sepakat untuk menyerahkan tampuk pimpinan ke angkatan yang lebih muda dan lebih bersemangat untuk memajukan partai. Sedangkan pinto bersama sute dan para tianglo hanya akan mengawasi dan memberi pertimbangan-pertimbangan jika diperlukan. Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, pinto memutuskan untuk menunjuk murid pertama pinto – Tiong-Pek-Tojin sebagai pejabat ciangbujin untuk mengantikan pinto dan akan dilantik secepatnya”

Terdengar tepukan tangan yang ramai dari murid-murid Bu-Tong-Pay dan para tamu undangan tanda penunjukan Tion-Pek-Tojin sesuai dengan harapan mereka.

Demikianlah pidato Kiang-Ti-Tojin mengakhiri perayaan ulang tahunnya dengan meriah. Para tamu undangan merasa puas dengan pelayanan murid-murid Bu-Tong-Pay dan menyebarkan kabar penting ini ke seluruh penjuru dunia persilatan. Tiong-Pek-Tojin sibuk melayani ucapan selamat yang diterimanya dari para tamu undangan khususnya dari Master The-Kok-Liang yang merasa sangat gembira sahabat lamanya sekarang menjadi ketua partai Bu-Tong sejajar kedudukannya dengan dirinya.

Tiong-Pek-Tojin mendesak Master The-Kok-Liang untuk tinggal selama beberapa hari di Bu-Tong dan di sambut dengan sukarela oleh Master The-Kok-Liang dan rombongan.
Lie Kun Liong, Cin-Cin dan Tang Bun An selama di Bu-Tong-Pay ditemani oleh murid penutup Kiang-Ti-Tojin – Tan Sin Liong. Dengan cepat mereka merasa akrab dan cocok satu sama lain. Mereka diajak Tan Sin Liong bertamasya di gunung Bu-Tong yang sangat terkenal atas keindahannya. Mereka begitu takjub melihat keindahan Bu-Tong-San, tinggi menjulang, biru dari kejauhan dan terkadang tertutupi awan dipuncaknya
Kawasan gunung Bu-Tong tidak hanya menyajikan panorama alam nan sejuk, tetapi juga memiliki air terjun yang indah. Mereka dapat menikmati keindahan alam dan segarnya air terjun dengan beraneka macam kupu-kupu beterbangan di sana sini.

Uniknya lagi, di bagian bawah air terjun ini terdapat sebuah gua. Di dalam gua itu terdapat stalaktit yang cukup indah. Dari dalam gua mereka bisa dapat melihat lembar-lembar air terjun yang jatuh ke bumi bagaikan tirai.
Mereka bertiga merasa puas sekali tinggal di gunung Bu-Tong dan berteman dengan Tan Sin Liong. Wajah Tan Sin Long cukup tampan namun terkesan pendiam alias tidak banyak bicara. Bagi Tan Sin Liong mereka merupakan teman-teman yang baru pertama kali ia temui, walaupun di gunung Bu-Tong ini pemuda-pemudi yang sebaya dengan dirinya cukup banyak namun karena secara kedudukan tingkatannya lebih tinggi, mereka menjadi agak sungkan dan bergaul pun menjadi kurang akrab. Memang di jaman itu, masalah tingkatan masih dianggap sangat penting sehingga walaupun umur mereka sebaya, mereka tetap harus memanggilnya susiok (paman guru).

Selama berada di Bu-Tong, Lie Kun Liong berusaha mencari tahu hubungan Bu-Tong dengan ayahnya. Ia mencoba minta bantuan Master The-Kok-Liang dengan menceritakan semua yang ia dengar mengenai kematian ke dua orangtuanya dari pelayan warung makan, dimana sebelum meninggal ayahnya meninggalkan goresan kata Bu-Tong. Dengan serius Master The-Kok-Liang mendengarkan penuturan Lie Kun Liong. Ia lalu berkata “Ini memang perkara yang aneh, apakah ada murid Bu-Tong-pay yang terlibat dengan kematian ke dua orangtuamu masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Begini saja, biar lohu mencari tahu dari Tiong-Pek-Tojin dan sute-sutenya apakah mengenal ayahbundamu. Mungkin dari sini kita bisa mendapatkan sedikit petunjuk”.

Tapi selama beberapa hari tinggal di Bu-Tong, Lie Kun Liong tidak dapat menemukan kabar apa pun mengenai kematian kedua orangtuanya. Master The-Kok-Liang memberitahukan hasil penyelidikannya dengan bertanya kepada Tiong-Pek Tojin dan sute-sutenya bahwa tak seorang pun yang mengenal kedua orangtuanya.
Di malam terakhir mereka di Bu-Tong, Lie Kun Liong tidak dapat tidur, ia kecewa tidak mendapatkan petunjuk apapun. Apakah kematian kedua orangtuanya tidak akan pernah terungkap, sebagai anak ia merasa telah mengecewakan harapan orangtuanya.

Akhirnya untuk menenangkan diri ia berjalan keluar kamar menuju taman tidak jauh dari kamarnya. Ia duduk termenung sambil menatap kilauan bintang-bintang di langit malam, tak ada bulan hanya ada awan yang datang menyelimuti, ia merasakan malam begitu kelam sekelam pikirannya. Tiba-tiba kupingya yang tajam mendengar sayup-sayup suara lirih dari balik tembok taman lalu menghilang. Di picu rasa ingin tahu, Lie Kun Liong melompat melewati tembok taman dan mencari sumber suara tadi. Agak jauh ke depan dari belakang tembok taman merupakan hutan yang dipenuhi pepohonan, dengan hati-hati ia memasuki hutan itu. Suara tadi mulai ia dengar kembali. Dari balik pepohonan ia melihat dua orang murid Bu-tong sedang melakukan pembicaraan. Lie Kun Liong mengenal kedua orang itu sebagai sute-sute Tiong-Pek-Tojin, entah apa gerangan yang mereka bicarakan di malam yang sudah larut ini. Pria pertengahan yang wajahnya terlihat jelas ia kenal bernama Tiong-Jin-Tojin sedangkan pria yang satunya lagi bernama Tiong-Kok-Tojin, keduanya adalah suheng-suheng Tan Sin Liong.

Ia memasang telinga baik-baik, karena jarak persembunyiannya cukup jauh ia hanya mendengar sepotong-sepotong pembicaraan mereka. Tapi yang membuat hatinya melonjak adalah ketika ia mendengar kata “Pemuda itu…..Lie Kun Liong….anak mereka….. Lie Hong Kiat”
Akhirnya ia mendapat petunjuk terang mengenai sebab kematian kedua orangtuanya, mata Lie Kun Liong mulai meletupkan sinar berapi-api.

Sudah jelas ada murid Bu-Tong-Pay terlibat dalam pembunuhan kedua orang tuanya. Jangan-jangan kedua orang ini turut terlibat dalam pengeroyokan dua belas tahun yang lalu.
Lie Kun Liong menunggu ke dua orang itu pergi sebelum ia keluar dari tempat bersembunyinya, lalu kembali ke kamarnya. Ia tidak mau bertindak sembrono sebelum mengetahui semuanya dengan jelas dan mengungkapkan siapa dalang dari pembunuhan ke dua orangtuanya.

Keesokan paginya ia menemui Tan Sin Liong untuk memancing informasi lebih lanjut mengenai kedua orang itu semalam.
“Tan-heng, aku lihat masa depan Tan-heng ke depan pasti gilang-gemilang dengan terpilihnya suhengmu Tiong-Pek-Tojin sebagai ciangbujin berikutnya, bukan tidak mungkin Tan-heng dagkat sebagai wakil ketua atau pelaksana harian” kata Lie Kun Liong membuka pembicaraan.

Dengan menghela nafas panjang Tan Sin Liong mengeluarkan unek-uneknya dan berkata“Lie-heng sebagai orang luar mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di tubuh partai kami saat ini. Kelihatannya semua murid-murid Bu-Tong saling rukun tetapi sebenarnya terdapat perselisihan-perselisihan kecil yang kalau dibiarkan bisa membesar”
“Kalau Tan-heng percaya sama aku, persoalan apa yang terjadi di Bu-Tong-Pay saat ini ?”
“Tentu saja aku percaya sama Lie-heng yang sudah aku anggap sebagai teman karib. Persoalan ini mengenai Tiong-Cin suheng beserta murid-murid yang mendukungnya. Sudah bukan rahasia lagi Tiong-Cin suheng memiliki ambisi untuk menjadi ciangbujin Bu-Tong-Pay, dengan ditunjuknya Tiong-Pek suheng sebagai ciangbujin menggantikan suhu, membuat pihak Tiong-Cin suheng kecewa. Sebelumnya sudah berulangkali Tiong-Cin suheng mengkritik Tiong-Pek suheng dalam melaksanakan tugas sehari-hari partai Bu-Tong namun selama ini Tiong-Pek suheng cukup arif tidak melayani provokasi Tiong-Cin suheng. Tapi bila terus diprovokasi bukan tidak mungkin Tiong-Pek suheng terpancing sehingga bisa terjadi bentrokan. Ini yang aku khawatirkan terjadi, Bu-Tog-pay bisa menjadi lemah dari dalam.” kata Tan Sin Liong.

“Kira-kira siapa saja yang berada di pihak Tiong-Cin-Tojin, apakah cukup banyak ?”
“Di angkatan kami hanya Tiong-Jin suheng dan Tiong-Kok suheng yang mendukung Tiong-Cin suheng sedangan suheng-suheng yang lain ada yang mendukung Tiong-Pek suheng, ada juga yang netral. Sedangkan di angkatan yang lebih muda, tentunya murid-murid Bu-Tong mendukung masing-masing suhu mereka” jawab Tan Sin Liong.
“Apakah pihak Tiong-Cin-Tojin yang kecewa bisa mengundang orang luar untuk ikut campur?” tanya Lie Kun Liong.
“Walaupun aku tahu Tiong-Cin suheng memiliki pergaulan yang luas di kalangan kangouw tapi aku harap itu tidak terjadi. Ini bisa dianggap menghianati partai, aku rasa Tiong-Cin suheng tidak akan bertindak sejauh itu” kata Tan Sin Liong dengan mimik serius.
10. Pengeroyokan di peternakan kuda

Setelah berpamitan, siang harinya mereka meninggalkan Bu-Tong-Pay. Rombongan Master The-Kok-Liang hendak menuju ke kota Nan-chang yang terletak di sebelah selatan Bu-Tong-San di keresidenan Jiang-Xi untuk berkunjung kepada sanak saudaranya sebelum kembali ke Thay-san. Lie Kun Liong yang masih ingin menyelidiki lebih lanjut penemuannya di Bu-Tong menolak dengan halus ajakan Master The-Kok-Liang untuk berjalan bersama. Cin-Cin yang mendengar Lie Kun Liong akan melanjutkan perjalanannya sendiri merasa kecewa dan merasa sedih.

“Liong-ko, mengapa engkau tidak mau ikut kami ke kota Nan-chang ?” tanya Cin-Cin penasaran.
Sambil menghela nafas panjang Lie Kun Long menjawab “Cin-moy masih banyak urusan yang harus kuselesaikan, sampai saat ini belum satupun yang selesai. Tapi aku harap kali ini mendapatkan titik terang mengenai kematian orangtuaku. Aku tidak boleh melewatkan petunjuk yang kudapatkan menjadi sia-sia, untuk itulah aku tidak bisa menyertai kalian”
“Kalau begitu aku akan minta ayah untuk mengijinkanku dan suheng membantumu melakukan penyelidikan, lagipula ini kesempatan bagi kami untuk terjun ke dunia kangouw”
“Tidak usah Cin-moy, urusan balas dendam adalah urusan pribadi, aku tidak mau melibatkanmu dan Tang-heng dalam masalah ini”

Cin-Cin terdiam, ia tahu tidak boleh terlalu mendesak karena masalah balas dendam memang menurut aturan kangouw harus diselesaikan oleh yang bersangkutan.
Di ujung persimpangan jalan mereka berpisah dengan Lie Kun Liong. Merasa sepi dan sendirian setelah beberapa hari berkumpul dengan kawan-kawannya, Lie Kun Liong beristirahat di bawah pohon rindang di tepi jalan, ditiup angin silir-silir sambil memikirkan langkah apa yang harus ditempuh untuk mengungkapkan misteri kematian orangtuanya. Sekarang ia tidak buta samasekali akan kematian ayah bundanya, jelas murid Bu-Tong terlibat, hanya ia tidak tahu seberapa jauh mereka terlibat dan apakah mereka biang keladinya ataukah hanya pion saja. Yang jelas ia harus mencari tahu melalui Tiong-Jin-Tojin dan Tiong-Kok-Tojin yang ia dengar pembicaraanya semalam.

Selagi duduk termenung, terdengar derap kaki kuda di kejauhan mendekat kearahnya. Lie Kun Liong tidak ingin bertemu siapa pun saat ini, ia bangkit dan berjalan menjauhi jalanan menuju jalan setapak ke hutan sebelah dalam dari jalanan.
Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan yang berdebu dan bertebangan mengiringi derap kaki kuda yang terpacu dengan cepat. Dari jauh ia mengawasi ke dua ekor kuda itu melintas, kuda-kuda itu ditunggangi oleh dua orang pria berusia pertengahan. Lapat-lapat Lie Kun Liong mengenali punggung ke dua penunggang kuda itu adalah Tiong-Jin-Tojin dan Tiong-Cin-Tojin.

Kebetulan sekali ia sedang bingung langkah apa yang harus dilakukannya, dengan cepat ia mengembangkan ilmu meringankan tubuh mengikuti derap kaki kuda itu semakin lama terdengar menjadi semakin jauh.
Untungnya ilmu ginkangnya sudah mencapai taraf tertinggi hingga tidak mengalami kesulitan mengikuti kuda-kuda itu.
Tiba di kota terdekat, mereka berhenti di sebuah warung makan untuk mengisi perut dan memberi makan kuda. Lie Kun Liong tidak berani masuk ke warung dan mengawasi mereka dari ujung jalan.

Demikianlah selama dua-tiga hari ia mengikuti mereka dengan ketat dan mulai kepayahan. Keduanya memacu kuda mereka tanpa henti, hanya pada malam hari saja mereka berhenti dan beristirahat di penginapan. Lie Kun Long tidak berani meninggalkan mereka sebentarpun untuk membeli kuda, takut mereka berlalu tanpa sepengetahuannya.
Syukur di hari ketiga gelagatnya sudah sampai ke tujuan, mereka memasuki sebuah gedung yang terletak di sebuah peternakan kuda yang luas, kira-kira masih duabelas mil lagi ke kota Hui-Chang.

Di sisi kiri gedung sejauh mata memandang nampak lembah hijau yang sangat luas. Dari atas laksana padang rumput berlatar belakang dua gunung hijau. Di tengah “padang rumput” itu ratusan ekor kuda sedang makan rumput dan ilalang yang tersedia melimpah.
Sementara itu, di antara pepohonan yang rimbun dan teduh nampak seorang pemuda tanggung mengangon dan mengawasi kuda-kuda itu. Lie Kun Liong menghampiri dan menyapanya. Ia mengaku sebagai pelancong yang hendak beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke kota terdekat.
“Adik kecil, peternakan kuda ini punya siapa, pasti seorang yang memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan” kata Lie Kun Liong.
“Siangkong salah, peternakan ini dimiliki oleh hartawan Bok-Wangwe (hartawan Bok)” jawab peganggon kuda yang dipanggil Siau kecil.

Sambil bercakap-cakap dengan Siau kecil, Lie Kun Liong berhasil mendapat tahu pemilik peternakan kuda ini adalah Bok-San yang terkenal kaya raya dan juga memiliki penginapan, rumah judi dan beberapa rumah makan di kota Hui-Chang. Bok-Wangwe tinggal di sebuah gedung megah di tengah kota Hui-Chang dengan beberapa orang selir dan hanya mempunyai seorang anak perempuan berumur enam belas tahun dari istri tuanya.

Sesampai di kota Hui-Chang ia langsung mencari penginapan untuk memulihkan tenaganya yang terkuras selama tiga hari ini dan memesan makanan untuk diantarkan di kamarnya. Begitu sadar dari siu-lan (semedi), ternyata hari sudah malam. Tubuhnya terasa segar siap untuk melakukan penyelidikan ke peternakan kuda tadi. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya dengan pakaian pejalan malam – hitam kelam dan mengantung pedang di punggungnya.
Sambil berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh Liok-Tee-Hui-Teng (terbang di atas bumi) ia dengan cepat sampai di peternakan tadi dan melayang ke atap gedung yang berada di tengah peternakan kuda. Suasana gedung itu tenang, gelap dan sunyi-senyap, kelihatannya semua penghuni gedung telah terlelap dalam tidurnya. Tapi di salah satu ruangan yang terletak di bagian belakang gedung masih terlihat nyala lampu dan bayangan tubuh orang yang sedang duduk. Dengan hai-hati ia berjalan mendekati ruangan tersebut, dari jendela yang terbuka ia melihat dua orang buruannya tadi yaitu Tiong-Cin-Tojin dan Tiong-Jin-Tojin sedang bercakap-cakap.

Dengan mengerahkan segenap ilmu ginkang, ia berindap-indap mendekati jendela yang terbuka dan berusaha mendengarkan percakapan mereka. Ia tahu kedua Tojin ini memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, sedikit lengah dapat berakibat persembunyiannya konangan. Ia tidak berani bernafas keras-keras, jaraknya dengan mereka tidak lebih dari lima meter jauhnya, hanya dipisahi dinding ruangan itu.

Terdengar suara Tiong-Jin-Tojin sedang bertanya kepada Tiong-Cin-Tojin,
“Apa suheng yakin anak Lie Hong Kiat tidak akan mengetahui sebab kematian kedua orangtuanya”
“Percayalah sute, malam itu ketika kita mengeroyok Lie Hong Kiat dan istrinya tidak ada seorang pun yang tahu, lagipula saat itu kita mengenakan pakaian hitam dan berkedok. Jangankan orang lain, Lie Hong Kiat dan istrinya belum tentu tahu bahwa yang mengeroyok mereka saat itu adalah sahabatnya sendiri” kata Tiong-Cin-Tojin tertawa bangga.
“Engkau memang pintar suheng bisa bersahabat dengan orang semacam Lie Hong Kiat yang menganggapmu sebagai saudara sendiri, kalau tidak kita tidak akan mengetahui rahasia yang dimilikinya”
“He..he itu pun hanya kebetulan saja, waktu itu dia sedang memandangi lukisan pemandangan yang tergantung di kamarnya dengan wajah bingung. Iseng-iseng aku menanyakan apa yang sedang ia pikirkan.

Ternyata beberapa tahun yang lalu ia pernah menolong seorang tua yang terluka parah di tengah hutan habis di begal oleh gerombolan perampok. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, orang tua itu menyerahkannya segulungan kain yang disembunyikannya di balik punggungnya sehingga tidak ikut di rampas gerombolan perampok kepada Lie Hong Kiat. Si kakek tua memberitahu Lie Hong Kiat bahwa lukisan pemandangan itu memiliki rahasia besar.

Bagi yang berhasil memecahkannya akan mendapatkan suatu ilmu peninggalan jago silat paling kosen ratusan tahun yang lalu. Namun sayangnya orang tua itu pun tidak tahu rahasia lukisan ini” kata Tiong-Cin-Tojin sambil mengeluarkan segulungan kain lukisan dari saku bajunya yang longgar.
“Bagaikan geluduk mengelegar di atas kepalanya, mata Lie Kun Liong mengeluarkan api yang dapat membakar hangus sekitarnya. Akhirnya ia dapat memecahkan misteri kematian kedua orangtuanya. Ternyata ayahnya bersahabat kental dengan Tiong-Cin-Tojin tapi sampai mati pun mungkin ayahnya tidak tahu siapa yang mengeroyok mereka. Hanya dari gerakan ilmu silat yang mengeroyoknya, ayahnya tahu si pengeroyok memiliki ilmu silat aliran Bu-Tong-pay dan meninggalkan goresan kata Bu-Tong sebelum meninggal. Demikian dugaan Lie Kun Liong.

“Tapi sehabis membunuh Lie Hong Kiat dan istrinya, kita tidak menemukan siapa pun di dalam rumahnya termasuk anak lelakinya yang sekarang masih hidup dan aku rasa memiliki ilmu silat yang tinggi.” kata Tiong-Jin-Tojin sambil mengerutkan dahi.
“Jangan khawatir berlebihan sute, kalaupun anak Lie Hong Kiat memiliki ilmu silat yang tinggi dan mendapat tahu sebab kematian orangtuanya, lalu kenapa, tidak mungkin ia bisa mengalahkan kita dan tidak mungkin juga ia mengetahuinya selama kita berlima tidak membuka mulut kepada siapapun. Yang perlu kita khawatirkan saat ini adalah Tiong-Pek suheng, aku rasa ia mulai curiga terhadap kita bertiga yang sering turun gunung, apalagi sekarang ia sudah menjadi ciangbujin, kita harus semakin waspada.”
“Sudah sekian lama kita mencari tahu rahasia dari lukisan ini namun tidak berhasil mendapatkan petunjuk secuil pun, apa orang tua yang memberikan lukisan ini kepada Lie Hong Kiat berbohong” kata Tiong-Jin-Tojin.

Selagi mendengarkan percakapan, tiba-tiba Lie Kun Liong merasakan hembusan pukulan yang mengarah ke punggungnya. Ada orang yang membokongnya, dengan sebat ia melayang ke depan menghindari pukulan itu sambil mencabut pedang di punggungnya dan melancarkan serangan balasan ke belakang tubuhnya. Tampak seorang pria gendut berpakaian mewah berusia lima puluh tahunan dan memiliki gerakan tubuh yang sangat gesit sedang bergerak menghindar dari serangan pedang yang ia lancarkan. Mendengar suara ribut-ribut, Tiong-Cin-Tojin dan Tiong-Jin-Tojin memburu keluar.

“Apa yang terjadi Bok-heng, siapa orang yang berkedok ini” tanya Tiong-Cin-Tojin sambil mengawasi Lie Kun Liong lekat-lekat.
“Tidak tahu, aku melihat dia sedang mendengarkan pembicaraan kalian di dekat jendela tadi” jawab pria gendut itu yang ternyata adalah tuan rumah gedung ini – Bok Wangwe alias Bok San.
Dengan wajah kaget Tiong-Jin-Tojin berteriak “Jangan biarkan dia lolos, dia sudah mendengarkan rahasia kita”
Mereka bertiga mengepung Lie Kun Liong dengan rapat.
“Siapa engkau, mau apa datang ke sini” tanya Bok-San mengancam.

Lie Kun Liong dengan tenang menghadapi mereka, ia tidak mau membuka rahasianya sebelum ia tahu siapa saja ke lima orang yang telah mengroyok ayah bundanya. Sekarang ia sudah tahu dua orang, masih tiga orang lagi belum ia ketahui namanya.

Melihat orang berkedok itu diam tidak menjawab sepatah kata pun, Tiong-Jin-Tojin dengan tidak sabar melancarkan serangan pedang ke arah pundak diikuti ke dua kawannya.
Menghadapi kerubutan tiga orang yang memiliki ilmu silat yang tidak boleh dianggap main-main, Lie Kun Liong mempertahankan diri sebaik-baiknya sambil melancarkan serangan balasan yang bertubi-tubi terutama kepada kedua Tojin ini.

Tiong-Cin-Tojin dan Tiong-Jin-Tojin merupakan pentolan teratas Bu-Tong-Pay terutama Tiong-Cin-Tojin sudah mencapai tingkat tertinggi ilmu pedang dan memiliki pengalaman tempur puluhan tahun. Lalu masih ada Bok-San teman sehaluan yang memiliki ilmu andalannya Eng-Jiauw-Kang (ilmu pukulan Cakar Garuda) yang telah mencapai kesempurnaan, mereka bertiga yakin dapat dengan mudah menundukkan pria berkedok ini.
Bagi Lie Kun Liong ini adalah pertempuran terhebat yang pernah ia alami. Untung baginya sejak turun gunung ia telah beberapa kali mengalami pertempuran yang hebat dengan jago-jago kosen dunia persilatan mulai dari perampok barang piaukiok sampai Bai Mun An si Pedang Kilat.

Dengan ketat ia mempertahan diri dari serangan mereka, namun sayang pengalaman bertempurnya masih kurang cukup hingga kadang-kadang ia masih ragu-ragu dan menghilangkan banyak peluang membalas serangan mereka. Dari segi ilmu silat apabila satu lawan satu, ia yakin dapat menandingi mereka. Tapi dikeroyok bertiga oleh jago-jago top persilatan saat ini, ia mulai keteteran. Suatu ketika ia di serang dari tiga jurusan yang berbeda, yang satu mengincar pundaknya, pedang yang satu lagi mengincar batang leher, serta bagian perutnya.
Tidak sempat berpikir sejenakpun Lie Kun Liong mengerahkan segala kemampuan yang ia miliki menghindari serangan-serangan itu. Dua serangan berhasil ia gagalkan, hanya serangan yang dilakukan Tiong-Cin-Tojin yang mengincar pundaknya kurang berhasil ia lewati. Ujung pedang Tiong-Cin-Tojin berhasil mengores sisi lengan kirinyanya dan mengeluarkan darah segar.

Sadar akan bahaya yang dihadapinya bila ia meneruskan pertempuran ini, dengan mengigit bibirnya kencang-kencang Lie Kun Liong mulai melancarkan jurus andalan “Ilmu Pedang Terbang” perguruannya. Sekonyong-konyong sambil mundur menjauh dari kepungan, ia melemparkan pedangnya ke atas dan melompat ke atas pohon terdekat.
Dengan lweekang yang dimiliki ia mengendalikan pedang yang terlempar ke arah Tiong-Jin-Tojin yang tidak menyangka akan di serang sedemikian rupa. Dengan susah payah ia mencoba menangkis pedang Lie Kun Liong dengan pedangnya namun kalah cepat sedikit, pedang Lie Kun Liong berhasil menggores luka yang cukup dalam di bagian pundaknya. Gerakan pedang Lie Kun Liong tidak berhenti di situ saja, sekarang ujung pedangnya mengarah ke Bok-Wangwe secepat kilat.

Sebelum Bok-Wangwe sadar dan menghindar ujung pedang Lie Kun Liong sudah mendekat dan mengancam dadanya, untung baginya, Tong-Cin-Tojin yang berada di dekatnya bertindak cepat menangkis pedang Lie kun Liong dan terlontar ke atas kembali ke tuannya. Dalam pertarungan antara ahli silat yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan, menang kalah kadang kala di tentukan dari unsur kejutan yang dihadirkan lawan, semakin terkejut lama semakin besar peluang berhasil. Demikian juga dengan serangan Lie Kun Liong, lawan tidak menyangka sama sekali ia sudah menguasai ilmu pedang yang dapat menyerang lawan dari jarak jauh.

Boleh di bilang serangan barusan hanya terjadi dalam waktu sepersekian detik. Sambil memegang pedangnya kembali Lie Kun Liong melayang turun dan berlari ke arah belakang peternakan kuda itu. Tiong-Cin-Tojin dan teman-temannya tidak mau melepaskan Lie Kun Liong semudah itu. Mereka mengejar sekuat tenaga dan mengintil dengan ketat Lie Kun Liong.

Saling kejar pun terjadi, ilmu meringankan tubuh mereka sama kuatnya hanya Bok-Wangwe yang sedikit ketinggalan. Beberapa li telah berlalu namun jarak mereka dengan Lie Kun Liong masih tetap sama beberapa depa saja.
Apabila ada orang awam yang menyaksikan kejar mengejar itu, mungkin ia akan mengira melihat bayangan-bayangan setan yang berkelabat dengan cepatnya melayang di atas tanah padang rumput pada tengah malam yang gelap gulita.
Luka di lengan Lie Kun Liong mulai mengeluarkan darah yang banyak dan membuatnya sedikit pusing, sambil berlari Lie Kun Liong melihat sekelilingnya mencari tempat yang baik untuk menyembunyikan diri. Mereka sekarang berada di bagian bawah pegunungan dengan pepohonan yang tampak menjulang tinggi dari kejauhan. Dengan cepat Lie Kun Liong memasuki hutang pegunungan dan memanfaatkan kegelapan malam menghilang dari kejaran mereka bertiga. Ia terus berlari memasuki bagian dalam hutan dan baru berhenti setelah ia yakin telah berhasil lolos dari kejaran mereka.
Tak jauh dari situ terdapat sebuah sungai di tengah hutan. Ia membersihkan luka-lukanya, wajahnya pucat tanda kehilangan banyak darah, tubuhnya sangat letih. Ia merasa lemah sekali kehabisan tenaga, memang suhunya pernah memberitahu kalau ilmu pedang terbang membutuhkan pengerahan tenaga dalam yang besar, mereka yang belum memiliki tenaga dalam yang sempurna tidak dapat mempelajari ilmu ini bahkan bisa berbahaya bagi kesehatan apabila dipaksakan.

Lie Kun Liong jatuh pingsan kelelahan. Setelah melancarkan ilmu pedang terbang yang mebutuhkan pengerahan tenaga dalam yang besar, ia masih harus berlari berjam-jam lamanya dalam keadaan terluka hingga otomatis tenaganya semakin terkuras habis.

Diluar tahunya, sejak ia datang sudah ada sepasang mata bening menatap kedatangannya tanpa bersuara di atas pohon besar di sebelah kiri. Sepasang mata itu dimiliki oleh seorang dara muda yang cantik. Rupanya gadis ini adalah gadis kangouw yang kemalaman dan memutuskan bermalam di hutan sebelum melanjutkan perjalanan. Dia sedang beristirahat ketika melihat bayangan orang berlari mendekat dan berhenti di depan sungai. Ia tidak dapat melihat jelas siapa pria itu sehingga ia memutuskan untuk tidak mengunjukkan diri. Namun ketika dilihatnya pria itu jatuh pingsan dan mukanya menghadap ke arah persembunyiannya baru ia mengenali pemuda ini adalah Lie Kun Liong, pria yang sudah tinggal dalam sanubarinya sejak pertemuan pertama mereka.

Ia melayang turun dari pohon menghampiri Lie Kun Liong dan membawanya ke bawah pohon. Gerakan ilmu meringankan tubuhnya sangat lihay. Ia menyandarkan tubuh Lie Kun Liong di pohon dan memeriksa luka-lukanya. Untung ia membawa bekal obat-obatan secukupnya, lagipula luka Lie Kun Liong tidak terlalu parah. Di atas luka di bagian lengan kiri Lie Kun Liong ia bubuhi bubuk obat lalu dibebatnya dengan sepotong kain untuk mencegah darah kembali keluar. Ia tahu Lie Kun Liong pingsannya bukan karena lukanya yang parah tapi karean kehabisan tenaga dan terlalu banyak mengeluarkan darah, cukup beristirahat satu-dua hari akan pulih kembali.

Di kala mentari pagi mulai beranjak dari batas langit ketika tetes embun masih bergayut erat di dedaunan, Lie Kun Liong sadar dari pingsannya dan melihat lukanya sudah dibersihkan dan di ikat dengan sepotong kain. Rupanya selagi dirinya jatuh pingsan ada orang yang menolongnya. Ia memandang sekelilingnya mencari si penolong tapi tidak nampak seorang pun.

Merasa haus Lie Kun Liong bangkit dan berjalan ke arah sungai di mana ia jatuh pingsan semalam. Sambil berjongkok di atas batu sungai yang besar ia meraup air sungai yang dingin dan jernih dengan tangannya ke mulutnya.
Tidak jauh dari tempatnya jongkok, di balik batu besar di sebelah kanan ia mendengar suara gemericik air. Dengan mendongakkan kepalanya ia melihat seorang wanita muda muncul dari balik batu besar berenang menghampirinya. Ia mengenali wajah gadis itu – Siau Erl, putri dari Maling Sakti. Matahari mulai bersinar sangat terangnya, cahaya keperakan, menimpa sungai dengan tenang dan lembutnya membuat tubuh telanjang Siau Erl nampak jelas di bawah air sungai yang bening.

Sepasang mata Lie Kun Liong tidak lepas dari tubuh yang sangat menggiurkan itu, terlebih-lebih terlihat jelas dalam keadaan telanjang bulat dan sedang mandi di sungai. Ini kedua kalinya ia melihat Siau Erl dalam keadaan polos. Dengan tenang Siau Erl keluar dari sungai memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sintal, indah dan sensual. Sepasang buah dada yang kenyal dan mungil seperti buah ceri bergoyang-goyang mengikuti gerak tubuhnya yang putih mulus.
Masih dengan tubuh telanjangnya, Siau Erl mendekati Lie Kun Liong, terpana pada tubuh dan payudara yang berdiri di depannya! Jantungnya berdenyut lebih kencang, secara reflek matanya menatap buah dada dan pangkal paha Siau Erl.
Ia tidak merasa malu atau canggung telanjang di depannya, dan melihat Siau Erl begitu wajar dengan ketelanjangannya. Tidak tampak grogi atau malu. Ia malah seperti dengan sengaja memamerkan keindahan lekuk liku tubuhnya yang memang indah. Bagian bawahnya di sela-sela kedua pahanya tertutup rapat, hanya menyisakan sedikit miniatur rumput liar.

Pengaruh suasana pagi yang cerah dan tubuh yang masih sedikit lemah membuat Lie Kun Liong menyerah pasrah. Dalam keadaaan seperti ini tidak ada seorang lelaki pun yang sanggup bertahan terhadap godaan di depan matanya ini kecuali seorang lelaki yang impoten!

Bunga bermekaran, seresah dan tanah basah, yang menyajikan simphoni bau harum alam. … Air yang masih mengalir dari tubuhnya ketika Siau Erl memeluk dengan erat Lie Kun Liong, bau harum segar seorang gadis muda terpencar menerpa hidungnya dan membuat gairahnya bangkit perlahan-lahan.

Siau Erl mendesah dan mengelinjang kedinginan dalam pelukan Lie Kun Liong. Ia memang sudah merancang kejadian ini dengan teliti sampai ke detail-detailnya dan ternyata berhasil dengan baik.

Lie Kun Liong mencium dan memagut bibir Siau Erl yang merah terbuka bagaikan ombak mencium pasir dengan lembut dan membuat Siau Erl merintih kecil. Rasanya manis bagaikan buah anggur merah.
Dengan lembut Siau Erl berbaring di atas rerumputan selembut beludru, diam-diam dia sudah mulai bergairah dan menikmati tatapan mata Lie Kun Liong yang mesra yang berbaring di sampingnya.

Tangan Li Kun Liong meraih buah dada Siau Erl yang bulat penuh dan kenyal dengan puting kemerahan lalu meremas-remasnya dengan lembut membuat membuat Siau Erl mengerang penuh kenikmatan. puting payudaranya tegak tegang dipacu nafsu yang mengalir pada semua pembuluh darah dan semakin mengeras ketika lidah lie kun long menyentuh puting susunya, lalu mengulum putingnya yang kemerahan sambil sesekali menyedotnya dan mengigit pelan-pelan puncak puting yang keras itu sedangkan tangannya memain-mainkan puting susunya yang lain, membuat Siau Erl mengerang kecil penuh kenikmatan.

Perlahan-lahan lie kun liong mulai menindih tubuh mulus Siau Erl, terasa olehnya tubuh Siau Erl menegang sekejap ketika merasakan kejantanannya menyisip ke dalam gerbang kewanitaannya.
sambil mengelinjang, mengerang dan sesekali merintih, Siau Erl mengerak -gerakkan tubuh dan pinggulnya yang erotis dengan cepat dan lincah mengikuti gerakan naik-turun tubuh lie kun liong.

Terasa oleh lie kun liong desah nafa Siau erl semakin memburu dan terasa ada sesuatu yang menarik-narik dan menjepit miliknya, hangat rasanya diantara paha Siau Erl. tiba-tiba Siau Erl mendekap lie kun liong dengan kencang, tubuhnya mengejang ke atas, mulutnya mengeluarkan jeritan tertahan lalu bersamaan dengan itu, kakinya melingkar di pinggang lie kun liong dan mengunci dengan erat.

Sementara lie kun liong hampir tidak bisa bergerak dan hanya menekankan kejantanannya semakin dalam, tak lama kemudian Siau Erl mendesah semakin keras penuh kenikmatan tiada tara dan akhirnya mulai tampak rileks dan melonggarkan kakinya. sementara lie kun liong meneruskan dayungan keluar-masuk secara perlahan-lahan dan Siau Erl hanya diam kelelahan dengan nafas yang tidak teratur.

Tidak lama, tampaknya birahi Siau Erl mulai bangkit lagi dan menggerakkan pingulnya lagi. lie kun liong merasakan kejantanannya semakin menegang dan dengan erangan panjang ia merasakan sesuatu yang memuncrat bagai pancuran air mancur merenggut sebagian kesadarannya. ia merasa bagaikan berada di langit ke tujuh. dengan tubuh lunglai lie kun liong berbaring di samping Siau Erl yang sedang tersenyum sungging lemah.

Daun pepohonan nyiur melambai, angin pagi yang segar membelai wajah mereka yang kuyu. dengan perlahan Siau Erl menyentuh dan membelai-belai lie kun liong. lie kun liong duduk diam membisu, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, perlahan kesadaranya mulai pulih membumi. penyesalan yang luar biasa mulai menyentuh hatinya terhadap apa yang telah dilakukannya, terhadap ketakberdayaannya terhadap godaan. ternyata ia hanyalah manusia biasa yang tak kan selalu putih, pun tak ingin hitam lagi. ia bukan manusia super yang memiliki kekuatan luar biasa dan mampu menolak segala halangan di depan mata.

Siau Erl menatap wajah lie kun liong dan tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ia bertanya apakah lie kun liong menyesal dengan apa yang barusan mereka lakukan. dengan tenang ia berkata “aku tidak mengharapkan atau menuntut apa pun, apa yang tadi terjadi telah tejadi dan bagiku merupakan salah satu peristiwa yang paling indah selama hidupku. aku akui bukan wanita yang sesuai dengan harapan kalangan umum, bagiku asal suka sama suka sudah lebih dari cukup dan urusan kita berdua selanjutnya terserah pada masing-masing”. ternyata Siau Erl yang masih semuda itu memiliki pandangan yang bebas terhadap hubungan pria dan wanita.

apalagi pada jaman itu, seorang gadis yang bertindak sebebas ini akan di sebut wanita jalang, bahkan di jaman modern saat ini masih banyak yang menganggap pandangan ini secara negatif.

dengan perasaan malu dan berterima kasih lie kun liong memegang tangan Siau Erl dengan erat tanpa sanggup berkata-kata. mereka kemudian meninggalkan hutan yangmenjadi saksi bisu keintiman yang dilakukan sepasang manusia ini.

setiba di kota mereka mencari rumah penginapan dan mengisi perut di rumah makan yang terletak di bawah loteng penginapan ini. lalu pergi ke kamar untuk beristirahat.

Siau Erl menceritakan pengalaman hidupnya, mulai dari masa kecil di mana ia hanya tinggal berdua ayahnya si maling sakti dan di tinggal mati ibunya sejak ia lahir. mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sebelum ayahnya memutuskan untuk menetap dan mengusahakan pelesiran bunga merah sebagai kediaman tetap mereka sejak sepuluh tahun yang lalu.

Ia bernama cu-siang-erl namun biasa dipanggil ayahnya Siau Erl, julukannya jian-jiu-lo-sat (si hantu wanita bertangan seribu) ia peroleh dari kaum kangouw atas keahliannya mencopet dan mencuri yang dipelajari dari ayahnya.

“begitulah cara kami mempertahankan hidup sampai kejadian beberapa waktu lalu yang meyebabkan ayah binasa” kata Siau Erl dengan nada sedih.dengan simpati ia mengenggam tangan Siau Erl, lalu berkata “mengapa sekarang engkau berkelana, apakah mereka yang menyebabkan ayahmu mati berhasil menemukan kediamanmu ?”

“benar sekali, mengikuti anjuranmu agar aku menyingkir dahulu dari rumah pelesiran sementara waktu maka setelah engkau pergi, buru-buru aku menginap sementara di rumah penginapn yang terletak persis di seberang rumah pelesiran kami tanpa memberitahu siapapun kemana aku pergi. beberapa hari tidak ada kejadian apa pun sehingga aku memutuskan untuk kembali, namun di malam hari sebelum aku kembali
terjadi peristiwa yang menyebabkan rumah pelesiran kami terbakar habis.

“apa yang terjadi” tanya li kun liong ingin tahu.
“berdasarkan penuturan kacung kami yang selamat, malam itu kebetulan tamu yang datang tidak terlalu banyak karena habis hujan deras di sore harinya. tiba-tiba menerobos datang empat orang berkedok hitam tanpa ba..bi..bu.. langsung mencari pemilik pelesiran dan mengobrak-abrik pelesiran kami seolah-olah mencari sesuatu. setiap kamar mereka masuki dan di obrak-abrik mulai dari meja kursi, lemari bahkan dinding dan atap mereka bongkar, dan di kamarku mereka berhasil menemukan ruangan
tersembunyi di balik lemari tapi untungnya barang-barang berharga termasuk lukisan sudah kubawa serta sehingga mereka tidak menemukan apa-apa. sesudah itu mereka langsung membakar rumah pelesiran kami hingga hangus tak bersisa. Demikianlah sejak itu aku langsung meninggalkan kota raja dan berkelana” kata Siau Erl.

“apakah lukisan itu masih berada di tanganmu”
“masih” kata Siau Erl sambil mengambil lukisan itu dari buntalan pakaiannya. sejak mendengar pembicaraan tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin di peternakan kuda semalam, ia akhirnya ingat di mana ia pernah melihat lukisan pemandangan ini yaitu di kamar ayah bundanya.

Memang sering ia melihat ayahnya memandangi lukisan ini
tapi yang membuat ia heran, manakah di antara kedua lukisan itu yang asli. Dengan seksama, sekali lagi ia memeriksa lukisan itu tapi tetap tidak menemukan petunjuk apa pun.

Melihat li kun liong begitu tertarik dengan lukisan itu, Siau Erl berkata
“sebaiknya lukisan ini engkau saja yang membawanya”
“tidak boleh begitu, lukisan ini adalah barang peninggalan ayahmu” seru li kun liong sambil menyerahkan kemabali lukisan tersebut namun dengan tegas ditolak Siau erl.

“aku tidak mau, lebih baik engkau saja yang membawanya, gara-gara lukisan ini aku kehilangan ayah, rumah dan sekarang dikejar-kejar mereka. lebih baik lukisan ini tidak bersamaku sehingga aku tidak selalu was-was” akhirnya dengan perasaan apa boleh buat, li kun liong menggulung lukisan itu dan memasukkan ke dalam sakunya.
“sebaiknya engaku kembali ke kamarmu dan beristirahat” kata li kun liong.
“memang kenapa kalau di sini saja” jawab Siau Erl tersenyum menggoda.
dengan muka merah li kun liong memelototkan matanya.
“baiklah aku pergi” sungut Siau Erl sambil berjalan keluar kamar.
11. Hutang darah bayar darah
sore harinya li kun liong mencari tahu dari pelayan penginapan rumah kediaman bok- wangwe, ia masih penasaran untuk mencari tahu siapa-siapa saja yang mengeroyok mati orangtuanya. ia curiga bok-wangwe merupakan salah satu diantara lima pengeroyok itu.

Ia mengajak Siau Erl berjalan-jalan dan menuju tengah kota di mana kediaman bok- wangwe berada.

gedung kediaman bok-wangwe dengan mudah ditemukan, merupakan bangunan yang paling besar dan megah, terletak persis di sudut jalan yang paling ramai di kota ini.

terlihat dua orang penjaga berdiri tegak di pintu gerbang gedung tersebut, setiap tamu yang datang harus melalui mereka dahulu sebelum diijinkan masuk. Sambil berjalan perlahan-lahan, dari sudut matanya ia melihat seorang berpakaian pelayan bergegas keluar dari pintu gerbang menuju ke arah luar kota sambil menyelipkan sepucuk surat di saku jubahnya. tergerak hati li kun liong untuk mengikutinya, bersama Siau Erl mereka menguntit pelayan tersebut.

Lalu Siau Erl mendemonstrasikan kelihaiannya dalam mencopet, ia mendahului si pelayan dan di tikungan jalan berikut ia muncul sambil berjalan santai menyongsong pelayan tersebut. saat mereka berpapasan, dengan kecepatan kilat tangan Siau Erl yang mungil dan lentik merogoh saku si pelayan tanpa sedikitpun disadarinya. Dengan tersenyum manis, Siau Erl menunjukkan dua pucuk surat yang berhasil ia ambil dari si pelayan.

Mereka segera kembali ke rumah penginapan dan langsung membuka serta membaca isi surat tersebut yang ternyata hampir sama isinya. rupanya hari ini merupakan hari keberuntungan li kun liong, di dalam surat tersebut yang masing-masing ditujukan kepada sim-*** yang tinggal di kota jing-men yang terletak di keresidenan hu-bei
dan lu-seng-hok yang tinggal di kota huai-nan yang terletak di keresidenan an-hui.

Dalam suratnya bok-wangwe menulis mengenai peristiwa pengeroyokan mereka terhadap seorang pria berkedok yang mencuri dengar pembicaraan tiong-jin-tojin dan tiong- cin-tojin tentang lukisan pemandangan, ia juga menceritakan kemunculan li kun liong sebagai anak li hong kiat yang mereka keroyok dua belas tahun yang lalu.

Bok-wangwe meminta mereka untuk tenang dan waspada.
akhirnya tanpa susah payah li kun liong berhasil mengetahui semua musuh-musuh yangmengeroyok ayahnya. bok-wangwe pasti tidak menyangka sama sekali bahwa surat yangia kirim telah berhasil di rampas dan di baca li kun liong.

Ia memberitahu Siau Erl rencananya untuk membalas dendam dengan cara menghadapi mereka satu-persatu karena bila tidak agak susah baginya menghadapi pengeroyokanmereka. dengan satu lawan satu ia yakin mampu membalas dendam kematian orangtuanya. pertama-tama ia akan mendahului pelayan yang membawa surat dari bok- wangwe, membunuh sim-*** dan lu-seng-hok terlebih dahulu mumpung mereka Belem mengetahui rahasia mereka telah terbongkar. dari situ baru ia akan berurusan dengan bok-wangwe serta tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin bertiga. ilmu silat keduanya belum diketahuinya namun dari ke lima orang tersebut, ia rasa yang paling lihai adalah kedua tojin dari bu-tong.

Untuk mengejar waktu mereka bergegas malam itu juga berangkat ke kota huai-nan terlebih dahulu untuk menghabisi lu-seng-hok.
kota huai-nan terbentuk pada waktu liu-bang berkuasa, ketika itu ia memberi gelar raja huai-nan kepada salah satu panglima yang paling ia percayai – ying-bu.

Mereka tiba di kota huai-nan beberapa hari kemudian di waktu malam hari. Kediaman lu-seng-hok terletak di pinggiran kota berbentuk perkampungan kecil dengan beberapa rumah tinggal mengelilingi bangunan terbesar, kelihatannya bangunan ini tempat di mana lu seng hok dan keluarga bermukim.

Bagaikan elang mereka berdua melayang di atas genting gedung utama tersebut dan mengamati keadaan sekelilingnya dengan penuh perhatian. di sebelah kiri terlihat sebuah loteng yang masih bersinar cahaya terang. di dalam loteng tersebut nampak seorang pria berusia lima puluh lima tahun seorang diri sedang sibuk menghitung dengan sipoanya. selagi sibuk mengerakkan jari-jarinya di atas sipoa tersebut, tahu-tahu menerobos sesosok bayangan tubuh ke dalam ruangan. reaksi pria ini cukup
cepat, ia melemparkan sipoa yang dipegangnya ke arah lilin sehingga ruangan menjadi gelap gulita.

Terdengar suara gedubrakan meja dan kursi, di dalam kegelapan mereka ternyata sudah saling bergebrak melancarkan pukulan yang beruntun
ke masing-masing lawan. li kun liong yakin pria ini adalah lu seng hok, ilmu silatnya ternyata di luar dugaanya semula, lebih tinggi seurat dari bok-wangwe, setingkat dengan tiong-jin-tojin. setiap pukulan yang dilancarkan dibarengi dengan kesiuran angin menandakan tenaga dalam yang sempurna. dalam gebrakan pertama tadi hampir saja ia terkena pukulan lu seng hok yang sangat lihai.

Tiba-tiba ruangan ini terang benderang kembali, cahaya yang muncul berasal dari lilin yang dipegang Siau Erl. otomatis pertarungan terhenti, masing-masing pihak mundur mengamati lawan masing-masing. wajah pria pertengahan tersebut kurus tirus, agak kekuning-kuningan dengan sedikit kumis tipis, matanya agak sipit dan licik.

“siapa kalian, mengapa datang malam-malam begini” tanyanya dengan penuh curiga.
“apakah engkau yang dipanggil lu seng hok” tanya li kun liong.
“benar, aku adalah lu seng hok, ada urusan apa dan mau apa kalian ?”
“masih ingatkah kejadian 12 tahun yang lalu di kota siang-yang, di mana kalian berlima mengeroyok secara pengecut ayah saya li hong kiat, aku adalah anaknya.siap-siaplah untuk menerima pembalasan atas perbuatan kalian tersebut” sahut likun liong sambil mencabut pedang dan melancarkan tusukan mengincar bagian depan dada lu seng hok.

Dengan wajah terkejut lu seng hok menghindarkan tusukan pedang li kun liong dengan manis sambil mundur menjauh dan meraih pedang yang tergantung di dinding ruangan tersebut. terjadilah perang tanding yang seru, masing-masing mempunyai pikiran yang sama untuk menyudahi pertempuran ini secepat mungkin hingga langsung mengeluarkan jurus
andalan mereka.

Secepat kilat tebasan pedang li kun liong mengarah ke kaki lu seng hok diikuti dengan gerakan menusuk ke atas. lu seng hok menghindarkan diri dengan gerakan lee- hie-tha-teng (ikan gabus melentik) sambil mundur dengan gerakan tui-po-lian-hoan (mundur berantai), lalu dengan tiba-tiba melancarkan tusukan bertubi-tubi mengarah tubuh li kun liong.

Pertempuran mati hidup terus berlangsung dengan cepat, puluhan
jurus telah berlalu, masing-masing pihak mampu bertahan terhadap serangan lawan sekaligus melakukan serangan mematikan.
dengan khawatir Siau Erl memperhatikan pertempuran yang terjadi, ia berharap li kun liong berhasil membalas dendam. kalau menurut dorongan hati, ingin sekali ia ikut membantu li kun liong menghadapi pria ini, namun li kun liong sudah wanti- wanti berpesan padanya untuk tidak ikut terlibat, ia ingin membalas dendam kematian kedua orangtuanya dengan tangannya sendiri.

Melihat kelihaian ilmu silat lu seng hok, li kun liong sangat terkejut, ia baru menyadari sepenuhnya nasehat gurunya bahwa di dunia kangouw sangat banyak jago- jago kosen yang tersembunyi alias tidak di kenal. cukup dengan melihat kelihaian ilmu silat lu seng hok ini, boleh di bilang merupakan jago kosen kelas satu, tidak kalah dengan tokoh-tokoh terkenal dari tujuh partai utama.

Sambil melayani serangan pedang lawan, li kun liong mencari kesempatan untuk melancarkan ilmu pedang terbang, ketika itu ia dapatkan tidak lama kemudian. Di saat ujung pedang lawan mengincar pundaknya, ia berlagak seolah-olah kewalahan dan mundur teratur. melihat peluang baik ini tentu saja tidak disia-siakan oleh lu seng hok, ia terus maju mencecar li kun liong. dengan tergesa-gesa li kun liong menangkis serangan lawan dengan pedangnya dan terlontar ke atas. di saat yang bersamaan, setelah berhasil melepaskan pedang lawan, lu seng hok makin memperhebat serangannya.

Dengan tangan kirinya li kun liong melancarkan pukulan pek-lek-ciu
(tangan geledek) menangkis serangan pedang lawan, di waktu yang sama tangan kanannya mengendalikan pedang yang terlempar ke atas meluncur dan menusuk tubuh lu seng hok dari samping. sebelum lu seng hok menyadari serangan dashyat tersebut, telah terlambat baginya untuk mengelakkan serangan pamungkas dari li kun liong ini. dengan telak ujung pedang yang sangat tajam menghujam iganya tembus sampai ke
bagian perut.

Dengan mengeluarkan jeritan yang menyayat hati, lu seng hok mundur sempoyongan, darah muncrat dan mengalir dengan deras dari iganya.
“il..mu pe.dang te..r.baang” teriaknya dengan mata terbelialak dan nafasnya putus saat itu juga.

Sambil menarik pedangnya dari tubuh lu seng hok, li kun liong berlutut dan berdoabagi ketenangang arwah kedua orangtuanya. akhirnya ia berhasil membalas sebagian hutang darah keluarganya.
“sebaiknya kita segera pergi dari sini liong-ko” kata Siau Erl terburu-buru. Ia telah melihat sejumlah penghuni telah bangun dan keluar menuju ke loteng sumber jeritan tadi. li kun liong dan Siau Erl berlari ke arah belakang bangunan dan menghilang di kegelapan malam.

—-000—–

Gedung tersebut dari kejauhan nampak seperti bayangan hitam besar oleh kegelapanmalam di tengah kota jing-men. tapi dari dekat tampak megah dan berkilauan denganpendaran cahaya lampu gantung seperti bersolek menyambut tamu yang datang, sangatindah. jelas pemiliknya seorang yang kaya-raya atau paling tidak pejabat pemerintahan yang berkedudukan tinggi.

kali ini li kun liong dan Siau Erl masuk dengan terang-te rangan melalui pintugerbang yang terbuka sebelum penjaga gedung sadar ada yang menerobos masuk ke dalam. sambil mengerahkan lweekangnya li kun liong berteriak “orang yang bernama sim-*** lekas keluar untuk membayar hutang-hutangmu”.

Suaranya bergema di seluruh gedung dan mengagetkan penghuni gedung tersebut. tidak lama kemudian keluar serombongan orang sekitar enam sampai tujuh orang mendatangi. yang berjalan di paling tengah adalah seorang pria berusia sekitar lima puluhan, bertubuh buncit dengan jubah
keemasan berkibar mengikuti langkah kakinya. wajahnya bulat kemerahan dengan mata yang agak sayu seolah-olah memikul beban kehidupan yang berat.

sedangkan di samping kanan ia didampingi seorang wanita berusia akhir empat puluh tahunan yang masih memperlihatkan garis-garis kecantikan di masa muda. di sebelah kiri nampak sepasang anak muda, yang satu gadis muda belasan tahun dengan baju hijau, wajahnya cukup manis dengan tahi lalat kecil di sekitar dagu menambah kemanisan wajahnya.
sedangkan yang satu lagi adalah seorang pemuda delapan belas tahunan berbaju kuning dengan wajah biasa-biasa saja, nampak berjalan dengan cukup gagah sambil memegang sebuah kipas tangan bergambar naga. agak sedikit belakang pemuda tersebut, berjalan dengan langkah lamban dan santai, seorang tua berusia sekitar delapan puluh tahunan. wajahnya masih kelihatan segar dengan jenggot putih melambai-lambai di tiup angin, sorot matanya sangat tajan dan mencorong.

Di antara rombongan orang-orang ini, li kun liong merasa orang tua ini yang paling lihai dan patut di waspadai.

“siapa kalian, mengapa teriak-teriak di malam hari?” kata pria berperut buncit tersebut sambil memandang dengan tajam ke arah mereka berdua.
“apakah engkau sim-***” tanya li kun liong.

“benar, lohu adalah sim-***, kepala keluarga di sini, siapakah siangkong dan ada perlu apa ?”
“aku li kun liong datang untuk menagih hutang darah berikut rentenya!”
dengan wajah sedikit pucat sim-*** bertanyaa “bisa dijelaskan hutang darah apa yang harus lohu lunasi ?”

“masih ingatkah engkau dengan kejadian dua belas tahun yang lalu di kota siang-yang, dengan pengecut kalian mengeroyok kedua orang tuaku sampai binasa”.
“sii.ap..a..kah orang tuamu, apakah li hong kiat” tanya sim-*** gagap.

“apakah benar engkau anak li hong kiat ?” tanya si orang tua sambil maju mendekat ke arah li kun liong.
“benar, aku adalah anak mereka yang lolos dari perbuatan kalian yang keji” teriak li kun liong dengan hati panas membara.

Sekonyong-konyong si orang tua tersebut bergerak dengan kecepatan kilat menyerang li kun liong dengan gerakan liong-heng-coan-cian (naga menembus tangan), untung li kun liong sudah mewaaspadai orang tua ini sejak tadi hingga dengan gerakan yang susah payah ia masih dapat menghindarkan diri dari serangan tersebut. belum sempat ia memperbaiki kedudukan, gelombang serangan kedua telah datang mengincar
pundaknya. kali ini ia tidak sempat mengelakkan diri, dengan telak jari si orang tua telah menotok thian-cong-hiatnya (urat nadi di bagian pundak) yang membuat tubuhnya kaku. ibarat elang yang menyambar buruannya, si orang tua dengan secepat kilat mennyambar tubuh li kun liong dan melayang pergi dengan ginkang yang tiada tara.

Hanya sekejap ia telah menghilang, Siau Erl tidak sempat bereaksi sekejap pun,hakekatnya kejadian barusan hanya berlangsung sekian detik saja. selama hidupnyabelum pernah ia melihat kepandaian silat selihai itu.
apabila Siau Erl sangat terkejut, apalagi buat li kun liong, walaupun sudah
berjaga-jaga namun ia masih tidak mampu menghadapi serangan si orang tua tadi yang sangat aneh. ia hanya merasa pundaknya sedikit kesemutan, tahu-tahu tubuhnya sudah di kempit si orang tua dan di bawa pergi entah kemana. ia tidak mau berteriak, dengan pasrah ia membiarkan si orang tua memperlakukan dirinya sesukanya sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan urat nadi yang tertotok. namun kali
ini pun ia tercekat, urat nadi thian-cong-hiatnya terasa sangat sakit tergempur arus tenaga dalamnya. tapi jika ia tidak mengerahkan tenaga dalam untuk membebaskan totokan, tidak terasa sakit. ternyata ilmu totokan si orang tua lain dari pada yang lain, sangat lihai dan aneh.

Ia semakin menyadari nasehat suhunya bahwa diantara manusia yang lihai masih ada yang lebih lihai lagi, diantara bukit yang tinggi masih ada yang lebih tinggi lagi. kelihaian orang tua ini susah diukur bahkan pada hakekatnya mendengar pun belum pernah, mungkin lebih tinggi dari
tokoh-tokoh kosen saat ini.

Setelah berlari sepertanakan nasi lamanya, mereka tiba di sebuah perbukitan dengan pepohonan yang rimbun. tak lama kemudian mereka tiba di sebuah kelenteng kuno yang sudah tak berpenghuni, si orang tua membebaskan totokannya hingga li kun liong mampu bergerak kembali. dengan tenang si orang tua menghadapi sikap permusuhan li kun liong, ia berkata “tahukah engkau hubungan lohu dengan sim-*** ?”
“tidak” jawab li kun liong singkat.
“dia adalah muridku”
“jadi cianpwe hendak membela murid sendiri ?”
sambil menghela nafas sedih, si orang tua berkata “sebaiknya engkau duduk terlebih dahulu, masalahnya tidak sesederhana yang kau pikirkan”
dengan ragu-ragu li kun liong mengikuti saran si orang tua.

Sambil mengelus jengotnya yang sudah putih semua, orang tua tersebut berkata “lohu mau menceritakan sedikit mengenai murid-muridku. lohu mempunyai tiga orang murid, yang pertama telah meninggal dunia, yang kedua adalah sim-*** yang ingin kau bunuh untuk balas dendam, sedangkan yang ketiga adalah seorang wanita yang akhirnya menjadi istri muridku yang pertama.

“sebenarnya murid pertama lohu lebih berbakat dari sim-***, di samping menguasai ilmu silat, ia juga menguasai ilmu pertabiban dari lohu bahkan dia akhirnya lebih tertarik akan ilmu pertabiban dari pada ilmu silat, sayang ia mati muda. Sedangkan sim-*** kurang tertarik dengan ilmu pertabiban, ia lebih suka mempelajari ilmu silat saja. dari segi watak, murid pertama lohu lebih baik dan jujur sedangkan sim-*** memiliki watak agak lemah dan sedikit malas, mungkin karena ia keturunan
hartawan hingga suka mengagulkan kekayaan orang tua di masa mudanya. tapi pada dasarnya sifatnya tidak terlalu jelek. hubungan mereka berdua pun baik-baik saja, di bilang akrab juga tidak karena mereka mempunyai sifat yang berbeda. Keretakan mulai terjadi kala masing-masing jatuh cinta pada sumoi sendiri, sedangkan murid
lohu yang terakhir ini sifatnya halus dan pendiam hingga lebih cocok dengan murid pertama lohu. mereka berdua di luar tahu sim-*** sudah saling mengikat janji sehidup semati, jadi ketika orang tua sim-*** meminta ijin lohu untuk meminang murid lohu ketiga ini, barulah lohu dan sim-*** tahu asmara mereka hingga otomatis membuat sim-*** kecewa sekali. ia merasa di khianati saudara seperguruan sendiri.
sejak berkeluarga masing-masing semakin jarang bertemu, murid pertama dan ketiga lohu pindah ke kota siang-yang dan membuka toko obat sambil berpraktek sebagai tabib. engkau sekarang mungkin sudah dapat meraba siapa murid pertama dan ketiga lohu tersebut” kata si orang tua.

“jaa..di sim-*** dan ayahku adalah saudara seperguruan” teriak li kun liong kaget. dengan wajah bingung ia berlutut di hadapan sucouwnya (kakek guru). dengan terharu si orang tua yang ternyata adalah guru dari ayahnya mengelus rambut cucu muridnya.

“sejak pinangannya di tolak, sim-*** lebih suka mabuk-mabukan. Kejadian pengeroyokan kedua orang tuamu itu bermula dari mulutnya, di waktu mabuk tanpa sengaja ia menceritakan rahasia suhengnya sendiri, apakah engkau sudah tahu mengapa kedua orangtuamu di bunuh ?”
“sudah sucouw, setelah bersusah payah akhirnya aku berhasil mengetahui sebab musababnya. yang tidak aku sangka adalah sim-*** dan ayah adalah saudara seperguruan”

“memang semua ini terjadi karena kelalaian sim-***, ia bergaul dengan kaum terpandang persilatan yang munafik seperti kedua tojin dari bu-tong-pai tersebut. begitu mereka tahu rahasia ayahmu, mereka bersekongkol untuk merebut lukisan tersebut. malam itu dengan membawa sim-*** yang sedang mabuk, mereka berempat
mengeroyok kedua orang tuamu sedangkan sim-*** terlalu mabuk untuk menyadari ulah yang telah ia lakukan. begitu tahu menyesal pun telah terlambat, sejak itu sim-*** dihinggapi rasa bersalah yang mendalam, lohu tahu ia benar-benar menyesal atas perbuatannya. lohu tidak mau mencampuri urusan balas dendammu, semua terserah kebijaksanaanmu sendiri untuk memutuskan masalah ini”.

Li kun liong mengangguk lemah, ia sendiri bingung untuk memutuskan masalah ini.
12. Si tabib sakti

Atas pemintaan sucouwnya, li kun liong setuju ikut ke tempat kediaman kakekgurunya untuk memperdalam ilmu silat. ia merasa kepandaiannya saat ini masihkurang, di samping ia kini merasa masih mempunyai terdekat dari kedua orang tuanya.

sepanjang perjalanan li kun liong mendengarkan penuturan latar belakang kakek gurunya. kakek gurunya berjuluk si tabib sakti, ilmu pertabiban yang ia kuasai di akui oleh seluruh dunia kangouw sebagai nomer satu, tidak ada penyakit yang tidak dapat ia sembuhkan bahkan orang yang buntung tangan atau kakinya, sepanjang belum terlalu lama, masih bisa ia pulihkan kembali. ia juga mengenal semua jenis racun mematikan, bagaimana meramu dan menangkalnya. namun jarang kalangan kangouw
mengetahui di samping lihai ilmu pengobatannya, ilmu silat yang ia kuasai juga nomer wahid.

Lagi pula ia jarang terjun ke dunia kangouw hingga seberapa lihai ilmu silatnya tidak ada yang tahu. sejak muda ia sering berkelana jauh kepedalaman bahkan sampai keluar dari tembok besar untuk mencari tanaman-tanaman untuk ramuan-ramuan obat. semua orang yang terluka atau sakit pasti tidak akan ia tolak, hanya satu pantangannya yaitu ia tidak pernah mau menyembuhkan pasien yang ia ketahui berasal dari kalangan baik-baik tapi di baliknya sebenarnya musang berbulu domba.

Ia pernah mengalami peristiwa yang pahit bahkan hampir merengut nyawanya. Waktu itu ia mengobati seorang pemuda yang terluka berat, pemuda tersebut bernama tan kin hong. dengan telaten ia mengobati luka-luka pemuda tersebut hingga sembuh total, bahkan karena si pemuda sangat tertarik akan pengetahuannya akan racun dengan sukarela ia mengajari pemuda tersebut segala sesuatu tentang racun, mulai dari cara menangkal, mengenali, meramu racun-racun yang berasal dari hewan-hewan maupun dari tanaman-tanaman beracun. tapi tanpa sepengetahuannya si pemuda tersebut mengincar buku racun yang ia tulis dengan susah payah berdasarkan pengalaman-pengalamannya selama ini.

Pemuda tersebut mencampur racun yang paling lihai yaitu tak berwarna dan tak berbau ke dalam minumannya hingga membuatnya hampir mati. syukur sejak muda tubuhnya sudah sering menjadi kelinci percobaannya dalam mencari ramuan-ramuan yang mujarab hingga memiliki kekebalan yang tidak lumrah terhadap racun. apabila bagi orang biasa racun yang di minum pasti akan membinasakan dalam waktu sekejap, tapi ia masih bisa bertahan bahkan mampu membuat
pemuda tersebut melarikan diri dengan terluka parah akibat pukulannya. Sayangnya buku racun yang dimilikinya berhasil di bawa lari pemuda tersebut. sejak itu ia paling benci dengan orang yang kelihatannya baik tapi sebenarnya munafik.

Mendengar penuturan sucouwnya, li kun liong memberitahu bahwa pemuda yang bernama tan kin hong tersebut sebenarnya adalah susioknya yang telah tersesat. Suhunya sendiri telah berpesan untuk membasminya apabila ia terus berbuat kejahatan.

Di waktu senggang, li kun liong menerima pelajaran ilmu silat dan ilmu pertabiban dari sucouwnya, ternyata ia memiliki bakat yang baik sekali akan ilmu pertabiban, semua pelajaran dengan cepat dapat ia kuasai dengan baik sekali. si tabib sakti sangat kagum dan gembira cucu muridnya mampu mempelajari ilmu yang diberikan dengan cepat, bahkan ia berkata sepanjang hidupnya belum pernah ia melihat bakat sebagus yang dimiliki li kun liong. li kun liong minta diajari jurus serangan yang
pernah dilancarkan kakek guru nya sewaktu membekuknya di rumah kediaman sim-***, ia sangat kagum akan jurus tersebut.

Sambil tersenyum tabib sakti berkata “sebenarnya ilmu silat yang engkau miliki sekarang sudah jarang ada yang mampu menandingimu, kalau waktu itu lohu mampu membuatmu tak berdaya bukan karena ilmu silat yang kau miliki kalah dari ilmu lohu tapi karena engkau belum menguasai atau menyelami teori sesungguhnya dari ilmu silat. sebenarnya semua ilmu silat berasal dari sumber yang sama, hanya variasi-variasi jurusnya saja yang berbeda. engkau tidak boleh melihat jurus serangan lawan dan berpikir dengan jurus apa menghadapinya, yang perlu engkau perhatikan adalah mencari titik kelemahan dari serangan lawan dan mencari usaha bagaimana menghindarinya. jurus apa pun yang engkau termasuk jurus yang sederhana sekali pun apabila di pergunakan pada saat yang tepat bisa berubah menjadi jurus yang paling lihai. jadi engkau sebaiknya jangan terpaku pada jurus-jurus silat yang selama ini engkau pelajari, semua jurus bisa berubah sesuai dengan keadaan. tidak berubah adalah berubah, dengan tidak berubah menghadapi semua perubahan itulah teori ilmu silat tertinggi. ini berlaku untuk semua cabang ilmu silat baik ilmu pedang, ilmu pukulan, ilmu tutuk jari, ilmu tombak, ilmu golok, dll. bila engkau mampu menyelami kata-kata lohu barusan berarti engkau sudah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu silat”.

Dengan wajah termangu dan tatapan mata nanar lie kun liong berusaha menyerap kata-kata sucouwnya tadi, pikirannya berjalan cepat bagaikan roda yang terus berputar. kata-kata tadi merangsek pola pikirnya selama ini, bagaikan tikar, tumpang tindih, kadang-kadang ia terbentur teori yang selama ini ia pelajari makin lama makin ruwet.. sederhana tapi tidak sederhana untuk dimengerti. bagaikan angin utara yang memporak-pandakan pengertiannya selama ini, kata-kata tersebut mungkin berbeda dengan pemikiran orang kangouw kebanyakan namun perlahan-lahan ia mulai dapat menangkap intisarinya, matanya mulai berpijar bagaikan nyala lilin di kegelapan. pikirannya melonjak bagaikan melingkar-lingkar, bagaikan topan yang dengan dahsyatnya menimbulkan putaran-putaran air serta gelombang yang bergolak mengerikan.

Sedangkan di sela-sela riuhnya gelombang yang membentur pantai itu, terselip pula sebuah nada yang melukiskan seolah-olah sebuah perahu yang kecil sedang menyusup diantara gelegak ombak, berusaha mencapai pantai. menyaksikan li kun liong terus berdiam diri dengan muka pucat, kadang-kadang dengan dahi berkerut kencang, tatapan mata sebentar kosong sebentar bersinar, tabib sakti tahu cucu muridnya sedang dalam tahap yang menentukan bagi kemajuan ilmu silatnya. ia tidak berani menganggu bahkan bernafas pun pelan-pelan takut menganggu pemusatan pikiran li kun liong, bisa sangat berbahaya bagi kesehatannya. perlahan-lahan wajah li kun liong mulai bersemu merah, gelagatnya ia berhasil menyelami perkataan sucouwnya tadi.

Menyaksikan perubahan tersebut, tabib sakti dengan ternganga saking kagumnya, ia tidak menyangka dalam waktu sesingkat ini li kun liong mampu menyelami perkataannya. ia sendiri memerlukan waktu belasan tahun untuk menyelami semuanya. timbul rasa hormatnya bagi bakat langka yang dimiliki cucu muridnya tersebut.
“apakah engkau sudah mengerti semuanya” tanya tabib sakti ingin tahu.
“sudah, berkat petunjuk berharga dari sucouw, aku sekarang bisa melihat sisi lain ilmu silat yang selama ini terpikirkan pun tidak pernah”

sambil tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba tabib sakti bergerak secepat kilat menyerang li kun liong. namun kali ini dengan tenang li kun liong menghindarkan serangan sucouwnya sambil melancarkan serangan balasan yang tak kalah ampuhnya.

Serangan bergelombang tabib sakti terus menerpa li kun liong bagaikan angin yang berhembus sangat kencang, namun tak satu pun yang berhasil merobohkan li kun liong. ilmu silat yang dimainkannya masih tetap yang dulu namun sekarang perbawanya berubah seratus delapan puluh derajat, jauh lebih lihai dan susah di tebak arah serangannya. bahkan kadang-kadang terselip jurus-jurus baru sesuai dengan keadaan dalam pertempuran.

Li kun liong sekarang dengan li kun liong beberapa saat yang lalu bagaikan kupu- kupu yang baru keluar dari bungkus kepompong, dengan sayap berwarna-warni, melayang-layang berterbangan dengan indah dan bebas, walaupun di terpa angin ia akan hanyut bersama arah angin yang membawanya.

— 000 —

Beberapa bulan kemudian, mereka tiba di kota leh di negeri tibet atau di kenal sebagai negeri “atap dunia” karena terletak ribuan kaki di atas permukaan laut. kota ini terkenal dengan istana besar bertingkat sembilan, yakni istana sengge namgyal —raja leh, istana tersebut adalah sebuah hasil karya yang indah dan eksplisit dari seni arsitektur tibet, yang dipercaya telah mengilhami pembangunan istana dalai lama terkenal di lhasa, tibet – istana potala.

Selama beberapa hari, mereka menginap di kota ini guna mempersiapkan bekal dan pakaian secukupnya. dengan menempuh jalan yang berliku liku dan tidak rata, mereka melintasi pegunungan nangba la (atau sekarang di kenal sebagai pegunungan himalaya).

Dalam perjalanan, udara cukup segar, walaupun mereka telah menutupi tubuh dengan pakaian tebal, namun udara tetap dapat menembus hingga mereka perlu mengerahkan lweekang untuk menahan dingin. sesekali muncul marmot-marmot kecil kecoklatan dan lucu-lucu yang agak mirip anak kucing yang terawat baik, melompot-lompat dari batu ke batu dan kadang-kadang saling kejar mengejar di dekat mereka dalam jarak yang aman. tapi jika li kun liong sengaja berhenti untuk mengendong mereka, mereka pun menghilang ke balik batu-batu besar.

Langit diatas pegunungan dan sekitarnya biru seperti tinta, bahkan suara pun tidak ada, suasana terasa hening dan sepi. kadang-kadang mereka beristirahat kami melepaskan pandangan ke sekeliling dan pemandangannya benar-benar menakjubkan. ditengah-tengah pemandangan yang tertutup salju tersebut, terlihat melihat ratusan umbul umbul dalam multiwarna berkibas- kibas ditiup angin seolah-olah sedang berdoa demi kedamaian dan ketenangan para
penduduk yang dibawa oleh sepasukan tentara tibet.

Sambil memandang ke arah selatan, ke lembah indus yang terkenal, yang mungkin masih menyembunyikan rahasia dibalik perabadan sekarang ini, li kun liong melihat barisan gunung-gunung yang tertutup salju yang termasuk kedalam barisan pegunungan zanskar. di sebelah utara terlihat sasser massif, yang termasuk kedalam pegunungan karakoram.

Tabib sakti yang sudah terbiasa melintasi daerah-daerah pergunungan, menjadi pemandu li kun liong selama perjalanan. pengetahuannya tentang lembah ini cukup luas sehingga ia bisa mengenal daerah lebih dekat. lembah nubra (berarti taman) yang terletak antara khardungla dan glatsier siachin, memperoleh namanya dari sungai nubra – anak sungai shyok, yang berhulu dari hamparan es mencair sepanjang tujuh puluh delapan kilometer – glatsier siachin kedua sungai tersebut berhulu
dari sasser massif masing-masing di timur dan di barat, lalu menyatu menjadi sungai shyok dan dalam perjalanannya sungai ini berkembang menjadi sungai indus yang sangat besar di baltistan. sungai-sungai tersebut dalam perjalanan mereka selanjutnya memecah menjadi kali-kali yang mengalir ke lembah-lembah. ketika salju mulai mencair sungai-sungai tersebut berubah menjadi jeram-jeram dengan ombak yang bergelombang-gelombang.

untuk mencapai kediaman tabib sakti, mereka juga harus mcnyelusuri endapan-endapan es, li kun liong menyaksikan pemandangan yang menakjubkan sepertia adanya tonjolan-tonjolan es yang tidak mencair, tumbuh atau bergantung seperti stalaktik dan stalagmit disepanjang jalan yang mereka lewati. mereka terpaksa mengerahkan ginkang untuk menghindari gumpalan-gumpalan es itu. alam memperlihatkan keindahannya yang lain lagi setelah mereka tiba di suatu lembah yang bernama lembah nubra. tanpa ditumbuhi pepohonan, daerah-daerah yang terletak di puncak-puncak pegunungan ini terasa kering dan gersang.

Alam disini menampakkan warna-warna seperti abu-abu, coklat atau jingga, dan disamping itu tampak juga warna-warna magenta, kuning dan biru. di beberapa tempat lembah nubra di tutupi oleh semak-semak berduri dan pepohonan. disana sini mereka menyaksikan pula bunga-bunga mawar yang tumbuh liar dengan warna magenta, crimson, kuning dan merah, yang memberikan gambaran seperti sebuah karya sulam bermotif bunga yang tergantung di alam raya.

Banyak pula terdapat tanaman-tanaman liar yang sesekali di petik tabib sakti untuk bahan ramuan obat. selama beberapa bulan melakukan perjalanan bersama kakek gurunya, li kun liong semakin tertarik dengan ilmu pertabiban yang diajarkan tabib sakti. pada awalnya ia hanya mempelajari sekedarnya terutama ilmu racun dan ilmu totok urat nadi, tapi semakin lama mempelajarinya ia semakin menghargai kelihaian ilmu pertabiban ini yang tak pernah ada titik henti. ia dihadapkan dengan masalah-masalah pelik yang tak kalah dengan jurus-jurus ilmu silat yang ia pelajari dari tabib sakti seperti bagaimana meramu berbagai macam tanaman, menakar jumlah yang diperlukan, menumbuk dan meraciknya untuk menghasilkan pil-pil yang mujarab.

Setelah melewati daerah padang yang luas, mereka melewati jalan menuju glatsier siachin yang berliku-liku. perjalanan sepanjang sungai nubra sangat menyenangkan, dengan melalui dusun-dusun yang ramai. tabib sakti memberi tahu li kun liong bahwa dusun-dusun ini rnerupakan rute perdagangan ke daerah tengah (irak, persia pada masa kini), sehingga ramai dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan para kafilah yang membawa rempah-rempah dan garam. mereka senang singgah disini untuk mengumpulkan tenaga sebelum meneruskan perjalanan selama dua pekan melewati padang pasir karakoram dan pegunugan kunlun. suatu perjalanan dimana orang tidak akan menemukan sesuatu yang bisa disantap atau diminum di tengah perjalanan. bahkan untuk makanan ternak yang menarik kereta-kereta kafilah itu juga tidak ada. dengan demikian, dusun-dusun yang tersear di daerah itu, menjadi sangat penting artinya bagi perdagangan.

Dalam perjalanan sepanjang jalan itu mereka menemukan beberapa mata air panas berbelerang, yang bersumber dari pegunungan, yang membuat tanah sekitarnya berwarna kuning oker. tabib sakti memberitahu li kun liong bahwa mata air panas tersebut mengandung khasiat penyembuhan, penduduk sekitarnya membangun saluran- saluran dan kolam-kolam kecil untuk mandi.

Suatu hari mereka tiba gurun pasir. gurun pasir ini tak jemu-jemunya menyuguhkan kejutan-kejutan kepada mereka. tatkala mereka menuju pegunungan hundar, mereka melihat bukit-bukit pasir besar dengan pola-pola arah angin jelas tergores diatas pasirnya yang dingin, berwarna kelabu. bukit-bukit pasir setinggi 60-80 kaki tersebut sama berbahayanya dengan bukit-bukit pasir di daerah jaisalmer (sekarang rajasthan) yang lebih mudah ditempuh. tetapi disini tersedia unta berpunuk ganda,
unta bactria— asli mongolia— yang dengan mudahnya bisa melaju di padang pasir tersebut. unta-unta ini adalah alat transportasi utama yang digunakan oleh para pedagang.

Mereka meneruskan perjalanan dengan mengikuti matahari yang sedang menuju peraduannya, sehingga dia tampak seperti sebuah bola besar berwana kemerahan. langit biru dan awan-awan pun ikut berubah warna menjadi crimson. dan tanpa disadari bayang-hayang pun semakin memanjang begitu sore beranjak malam untuk memberi kesempatan kepada manusia dan makhluk bernyawa lainnya yang mendiami daerah ini untuk beristirahat dan melepaskan penat dari keganasan siang harinya. sambil memandang langit terbuka malam itu dengan bintang-bintang berserak jelita di atas sana, li kun liong terkenang pada gadis-gadis yang dikenalnya, mulai dari cin-cin yang rupawan dan ceria, liok han ki yang sampai saat ini belum pernah ia lihat wajah aslinya sebagai seorang gadis namun tubuh mulus dan buah dadanya yang ranum menantang sudah pernah ia lihat serta di sentuhnya. juga percintaannya dengan Siau Erl merupakan pengalamannya yang pertama dan tak terlupakan.

Masih jelas terbayang di benaknya aroma tubuh harum Siau Erl dengan buah dada yang putih dan puting yang merona merah – mampu membuat kejantanannya berkedut kencang bila mengingatnya. kadang kali ia rindu akan semua itu, perjalananan ini tidak ia sesali bahkan merupakan ujian buatnya untuk melatih diri kuat terhadap segala macam godaan. di samping itu, ia sangat menikmati pengembaraan ini dan melihat hal-hal baru.

Sejak ia mampu menyelami arti sesungguhnya ilmu silat dan mempelajari bermacam- macam jurus dari sucouwnya, terasa olehnya ilmu silatnya maju pesat, tapi entah seberapa jauh kemajuaannya ia tidak tahu karena hingga sekarang ia tidak pernah bertempur dengan siapapun. bahkan dalam memberikan petunjuk pun tabib sakti hanya memberi penjelasan lisan dengan contoh-contoh sekedarnya buatnya untuk berlatih. Lagi pula sebagian besar waktunya sekarang dihabiskan untuk mempelajari ilmu pertabiban yang tidak mudah dan rumit.

keesokan harinya, tabib sakti memberitahu kediamannya sudah dekat tidak terlalu jauh lagi. dua hari kemudian, mereka tiba di suatu pegunungan yang nampak indah dan permai. untuk menjangkau puncak gunung tersebut mereka harus melalui tebing-tebing yang curam dan jurang-jurang yang mengangga menanti ketidakhati-hatian mereka yang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna.

Setiba di atas puncak gunung tersebut, wajah mereka di terpa hembusan angin gunung yang kencang dengan udara yang sangat dingin. di sini mereka bisa menikmati suatu panorama yang indah dengan
hutan-hutan yang lebat menghijau. ini tempat yang menantang dan karena beratnya medan terbayar dengan pemandangan alamnya yang indah. di atas puncak gunung tersebut, terlihat sebuah bangunan gubuk sederhana berdinding bambu berlantai kayu dengan beberapa ruangan yang di isi oleh perabotan yang sederhana. di salah satu ruangan tampak berpuluh-puluh botol obat dengan tulisan kecil-kecil yang menunjukkan nama dan khasiat obat-obatan tersebut.

Di bagian belakang gubuk terdapat kebun tanaman obat yang sangat luas, beratus- ratus jenis tanaman tumbuh secara alami di sekelilingnya. li kun liong sudah bisa mengenali beberapa jenis tanaman yang tumbuh tersebut. kebun tanaman ini merupakan perpustakaan hidup bagi tabib sakti, di sinilah ia menghabiskan waktunya melakukan percobaan-percobaan. demikianlah mulai saat itu li kun liong tinggal bersama tabib sakti memperdalam ilmu pertabiban dan ilmu silat sekaligus.
13. kegemparan di kota wu-han

waktu seakan tidak pernah berubah mengitari ruang lingkup manusia didunia, tetapi terkadang waktu berjalan berbeda dengan kehidupan seorang manusia seperti halnya aliran air, kadang terbelokkan oleh secuil puing, atau oleh tiupan angin sepoi- sepoi. tapi jika kita perhatikan sebuah sungai didesa atau kota tempat tinggal kita misalnya. dimana air sungai tersebut mengalir dari hilir ke hulu atau dari atas turun kebawah, maka begitu juga dengan waktu. setiap desahan detik, menit dan jam pasti berawal dan akan berakhir.

Orang-orang pertapaan memandang waktu sebagai bukti adanya tuhan. tak ada yang tercipta sempurna tanpa adanya sang pencipta. Tak ada yang universal yang tidak bersifat ketuhanan. Semua yang mutlak adalah bagian dari maha mutlak. Lalu bagaimanakah dengan perputaran waktu yang tidak pernah berubah bak sebuah lingkaran.

Artinya apa yang terjadi sekarang pernah terjadi jutaan tahun sebelumnya. Semua pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh manusia. sebab manusia hanya bisa melekat pada waktu yang menggelinding di jalurnya sendiri-sendiri. Ada yang melekat pada waktu kesedihan, ada pula yang melekat pada waktu gembira. Cepat atau lambatnya tergantung mana yang lebih dipercaya oleh manusia itu sendiri apakah waktu mekanis atau waktu tubuh; waktu yang pertama kaku, tak dapat ditolak dan telah ditetapkan sebelumnya. waktu yang kedua meliuk-meliuk, dan mengambil keputusan sekehendak hati. atau mungkin jika ada yang ingin waktu berjalan lambat terus menerus sehingga wajah cantiknya tidak akan punah dan pudar, dia dapat tinggal di daerah pegunungan karena menurut para ilmuwan waktu akan berjalan semakin lambat jika letak berpijak manusianya menjauh dari pusat bumi, sedangkan pegunungan adalah tempat yang tinggi dan tentunya jauh dari pusat bumi.

Lain cara lagi manusia dapat tinggal saling berjauhan dengan jarak yang sangat jauh. Sebab pada kenyataannya waktu di setiap tempat berbeda dan berubah-ubah, maka setiap detik mendekati penuaan dan kematian di satu kota, akan terlambat seper sekian detik dari waktu di kota lainnya.

Andaikata manusia dapat memilih ruang waktu dan tidak terjebak dengan kepasrahan dan tawakkal maka dimensi waktu dapat terlihat oleh mereka, seperti kelahiran- kelahiran, pernikahan-pernikahan, kematian-kematian adalah pertanda sebagai adanya dimensi waktu.

Beberapa orang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan. mereka memilih berlambat-lambat, berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian. sedangkan yang lain tergesa-gesa berpacu menuju masa depan. manusia dapat memilih waktu seperti empat buah probabilitas seorang lelaki muda yang hendak bertemu seorang perempuan yang suka menyeleweng dan mengkritik, dan mungkin akan membuat hidupnya sengsara.

Probabilitas pertama ia tidak jadi menemui perempuan itu.

Kedua, ia menemui perempuan itu dan bercinta dengannya lalu pergi saja meninggalkan rumahnya.

Ketiga pria itu menemui si wanita tersebut akan tetapi tidak bisa mengutarakan cintanya.

dan yang terakhir mereka saling mencintai dan hidup bersama.

Disamping itu masih terdapat rentetan kemungkinan lain yang dapat terjadi. jika benar waktu seperti itu maka tidak ada lagi benar atau salah. salah atau benar mensyaratkan adanya kebebasan dalam memilih. dan kalau tiap tindakan telah dipilihkan, maka kemerdekaan untuk memilih tak mungkin lagi ada. di dunia dimana masa depan telah pasti, tak seorang pun terbebani tanggung jawab. ruang-ruang telah diatur sebelumnya. maka ucapan selamat bagi orang yang merasakan kebebasan ganjil, bisa melakukan apa pun yang ia sukai, bebas didalam dunia tanpa kebebasan.

Misteri waktu yang tidak pernah terbantahkan oleh setiap mahluk hidup membuat kita seringkali terkukung sesuatu yang absurd oleh nasib dan sesuatu yang banyak orang menyebutnya ketetapan tuhan, namun seberapa seringkah otak manusia bertanya maksud tuhan dari penciptaan waktu tersebut. cobalah dekati tuhan untuk bertanya soal waktu. seorang einsten pun sebelum menyelesaikan teori relativitasnya sempat berkata pada besso sahabat karibnya, “aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati tuhan.”. betapa hebatnya waktu sampai-sampai tuhan pun bersumpah demi diri sang waktu tersebut, apakah waktu bukan ciptaan tuhan atau seiring waktu yang berjalan sehingga terciptalah tuhan? apakah waktu sebuah keabadian?.

Waktu, seperti kemarin terus berlalu begitu cepat, seperti angin, tak terasa meninggalkan hari demi hari, berganti minggu menuju kedua belas bulan, tuk menggenapi tahun. terkadang bila dihitung waktu berjalan lambat sekali. … namun terkadang tak terasa begitu cepat. lima tahun tlah berlalu.

Suatu hari di kota wu-han di keresidenan hu-bei sedang berlangsung festival pertengahan musim gugur atau festival bulan yang berlangsung pada hari ke lima belas di bulan ke delapan penanggalan tiongkok. konon menurut legenda pada malam festival ini bulan memiliki cahaya yang lebih terang dan bentuknya lebih bulat. Perayaan penting ini akan menjadi kesempatan bagi penduduk kota untuk berkumpul bersama sambil mencicipi kue bulan dan menonton serangkaian pertunjukan yang digelar di jalan-jalan utama kota ini.

Di bawah cahaya terang bulan musim gugur ini, persahabatan dijalin dan diperbarui lagi. beberapa penyair terkenal telah menulis syair tentang kisah kasih asmara dua insan yang telah lama tidak berjumpa dan akhirnya menemukan jalan pertemuan kembali antara satu dengan lainnya pada malam khusus ini, diantaranya karangan penyair terkenal li pai yang berjudul “rindu d’hening malam”…

cahaya rembulan depan pagar perigi
sudahkah embun beku, menutupi bumi
dongakkan kepala, ternyata terang bulan
begitu menunduk, rindu kampung halaman

sedangkan bagi yang sendirian di malam festival ini, tidak ketinggalan merayakannya sambil berpelesir dengan perahu di danau di bawah cahaya bulan sambil membawakan syair bertemakan minum arak di tengah rembulan…

sepoci arak, di antara kembang,
tak ada sanak, teguk sendirian.
tawari rembulan, sambil ‘kat cawan,
jadi b’tiga, bila hitung bayangan.
nikmatnya arak, bulan tak fahami,
bayangan pun cuma, bisa buntuti.
t’pi bulan bayangan, sedang temani,
perlu pesta pora, mumpung ‘simsemi.
bulan berayun, kala ku bernyanyi,
bayangan oleng, kala ku menari.
baku hibur, tatkala masih waras,
terus bubaran, kala aku mabuk.
kekal rekat, lewat guyonan ini,
rindu bersua, nun di bimasakti.

Di tengah danau nampak seorang pemuda perlente bersama beberapa teman dan kekasih mereka sedang berperahu di sungai sambil berpesta minum. bulan purnama bercahaya kemilau. dia mengangkat gelas mengajak rembulan, dan melihat bayangan rembulannya terpantul di permukaan sungai. setengah mabuk dia hendak menceburkan dirinya ke
sungai, merangkul rembulan, untung teman-temannya dapat mencegahnya. seorang gadis muda berwajah cantik, berbaju merah muda sibuk menolong menyadarkan si pemuda tersebut, rupanya dia adalah kekasih pemuda itu.

Tak jauh dari situ, sebuah perahu kecil berpenumpang satu orang pria berusia sekitar dua puluh lima tahunan menyaksikan kejadian tadi dengan tersenyum kecil dan mata yang berbinar-binar terutama ke arah gadis muda cantik. wajah pemuda tersebut cukup tampan dan halus, senyumannya mampu menarik hati gadis-gadis muda, hanya sorot matanya yang sedikit ganjil, seolah-olah hendak menelan bulat-bulat setiap gadis muda yang di tatapnya. pakaian berwarba putih yang dikenakannya sangat rapi dan bersih menandakan pemiliknya sangat memperhatikan penampilan.

Tanpa sepengetahuan pemuda perlente dan kawan-kawannya, pemuda berbaju putih tersebut mengikuti dengan perlahan perahu mereka yang menuju pinggiran danau untuk menepi. ternyata rombongan pemuda-pemudi tadi hendak kembali rumah, pertama-tama si gadis berbaju merah muda tersebut di antar pulang oleh mereka kembali ke kediaman orang tuanya. suasana kediaman gadis tersebut masih ramai dan hiruk pikuk celotehan kerabat-kerabatnya yang berkumpul di ruang tengah merayakan festival ini sambil menunggu fajar. dia berhenti sebentar memberi salam kepada saudara- saudaranya sebelum dengan alasaan sudah mengantuk ia berpamitan dan menuju kamarnya yang terletak di ujung bangunan tersebut. dengan ditemani seorang pelayan wanita, dia membersihkan diri dan bersiap-siap untuk tidur.

Tanpa sepengetahuan siapa pun di atas atas kamar tersebut, pemuda berbaju putih yang ada di danau tadi dengan tenang nangkring di wuwungan mengamati si gadis tersebut membersihkan diri.
tampak si gadis tadi di bantu sang pelayan sedang menanggalkan bajunya pelan-pelan sehingga tampak pakaian dalam warna merah. pundaknya yang putih mulus terlihat jelas dengan buah dada membusung ketat di balik pakaian dalamnya. sosok tubuhnya yang berkulit putih bersih dan bobot badannya ideal membuat penampilan gadis ini sangatlah menggoda lebih-lebih kalau dilihat oleh kaum lelaki.

Pemuda di atas atap tersebut menelan ludahnya susah payah, birahinya mulai bangkit perlahan-lahan melihat pemandangan di kamar tersebut.
sambil berjalan menuju lemari pakaian, gadis tersebut melepaskan pakaian dalamnya jatuh ke lantai, mempertontonkan tubuh bugilnya yang mulus dan memperlihatkan keindahan buah dadanya yang ranum dan dihiasi puting kecil kecoklatan serta belahan di antara kedua buah dada terlihat simetris.

Bagian bawah si gadis itu juga tak kalah menggairahkan, paha yang putih mulus dengan kaki yang ramping, pinggang yang ramping serta bentuk pantat yang aduhai indahnya. di antara kedua pahanya ditutupi bulu-bulu halus bagaikan beludru sutera yang halus.

Si pelayan wanita mengambil handuk, membasahinya dengan air panas yang ada di baskom, lalu mengusap-usapkannya ke seluruh tubuh nonanya. tidak tahan menyaksikan pemandangan yang terpampang di depan matanya, si pemuda dengan lweekang yang tinggi meniup padam lampu lilin satu-satunya yang terletak di atas meja. dengan sebat dalam suasana gelap ia menutuk si pelayan dan pada saat yang bersamaan menerkam ke arah si gadis yang belum menyadari sepenuhnya apa yang akan menimpa dirinya. dia hanya merasa tubuhnya yang telanjang di peluk dan di pondong ke pembaringan lalu di tindih seseorang.

Belum sempat ia mengeluarkan suara dari mulutnya, bibirnya yang merah merekah telah di bungkam dengan ciuman yang penuh nafsu. sambil menangis, dia berusaha meronta-ronta melepaskan diri dari dekapan orang tersebut, namun semakin kuat ia meronta semakin bernafsu pemuda ini, ia sangat suka memperkosa gadis yang masih hijau dan mendengarkan rintihan mereka.

Tangannya bergerilya kemana-mana, meremas-remas kedua buah dada yang kenyal dan memain-mainkannya sambil mulutnya menciumi, menghisap, mengigit kecil puting susu yang berwarna kecoklatan.
kecapaian dan kalah tenaga membuat rontaan gadis tersebut melemah, dan akhirnya pasrah. terasa olehnya orang tersebut mengulum bibirnya, lidahnya terus mendorong- dorong memaksa ingin masuk ke mulutnya. mulutnya pun pelan-pelan mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk dan bermain di dalamnya, lidahnya secara refleks beradu dan terasa menyentil-nyentil seakan mengajaknya ikut menari. suara desahan tertahan, deru nafas terrdengar jelas olehnya. mulutnya perlahan-lahan turun mencium perutnya yang rata dan terus berlanjut makin ke bawah.

Darahnya semakin bergolak oleh permainannya yang erotis itu matanya yang terpejam terbuka ketika dirasakan tangan orang tersebut mengelusi paha mulusnya, dan terus mengelus menuju pangkal paha. jarinya menekan-nekan liang kewanitaannya dan mengusap-ngusap belahan bibirnya dari luar, membuatnya menggelinjang, terlebih lagi jari-jari lainnya menyusup dan menyentuh dinding- dinding dalam liang itu.

“ooohhh…nikmat sekali!” ucapnya sambil menatapi wajah gadis yang pucat dengan matanya yang mengigil ketakutan. belum pernah ia di sentuh pria seperti ini. tubuhnya jadi bergetar, kedua belah pahanya semakin erat mengapit. pria tersebut membentangkan kedua paha gadis ini dan mengambil posisi berlutut di antaranya.

gerbang kewanitaannya terbuka memancarkan warna merah merekah diantara bulu-bulu beludru halus, siap untuk menyambut yang akan memasukinya. “aaakkhh…!” erangnya kesakitan sambil mengepalkan tangannya yang mungil erat-erat saat kejantanan pria tersebut melesak masuk ke dalam tubuhnya.

“aauuuhhh….!” gadis ini menjerit lebih keras dengan tubuh berkelejotan karena hentakan keras benda yang menghujam diantara kedua pahanya. dengan gerakan perlahan dia menarik mundur kejantanannya lalu ditekan ke dalam lagi seakan ingin menikmati dulu gesekan-gesekan pada himpitan lorong sempit yang bergerinjal- gerinjal itu.

Gadis ini bergelinjang kesakitan dan membuatnya semakin menggila, kedua gunungnya jadi ikut terguncang-guncang dengan kencang. pria tersebut merintih makin tak karuan menyambut klimaks yang sudah mendekat bagaikan ombak besar yang akan menghantam pesisir pantai. tangannya terus menjelajahi lekuk-lekuk tubuh si gadis, mengelusi punggung, pantat, dan paha. hingga akhirnya mencapai suatu titik dimana tubuhnya mengejang, detak jantung mengencang, dan pandangan agak kabur lalu disusul erangan panjang tanda kenikmatan.

Si gadis merintih sambil menggigit bibirnya menahan rasa perih akibat tusukan benda tumpul pada gerbang kewanitaannya. air matanya meleleh keluar. tubuh pria tersebut tergolek lemas bersebelahan.
sambil mengenakan pakaiannya, pemuda berbaju putih tersebut lalu mengebaskan tangannya menghantam pelipis gadis itu, dan membuatnya terkulai mati tanpa suara. sedangkan si pelayan wanita dengan tubuh kaku menyaksikan semua ini terbelalak ketakutan namun ia pun mengalami nasib yang sama dengan nonanya.

Dengan melepaskan sepotong bunga bwe ke jalan darah thay-yang-hiat (daerah pelipis) yang mematikan mengarah kepada si pelayan, pemuda tersebut menghilang di kegelapan malam.

Keesokan harinya, kota wu-han gempar akan berita matinya si gadis tersebut yang merupakan puteri dari hartwan cin dan merupakan kembang kota yang diperebutkan oleh pemuda-pemuda kaya kota tersebut. tidak ada yang tahu siapa yang memperkosa dan membunuh gadis tersebut dengan keji. tapi berdasarkan bukti sepotong bunga bwe
yang menancap di pelipis si pelayan wanita tersebut, yang menjadi tersangka sementara dan di duga dilakukan oleh bwe-hoa-cat (penjahat bertanda bunga bwe).

Seorang jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga) yang sangat terkenal beberapa tahun belakangan ini namun tak seorang pun pernah melihat wajah dan nama aseli si penjahat ini. ia hanya meninggalkan sebuah bunga bwe pada setiap korban-korbannya. pada awalnya jai-hoa-cat ini mengincar dan memperkosa gadis-gadis biasa namun lama kelamaan ia semakin berani menganggu puteri hartawan, puteri kaum kangouw, puteri pejabat pemerintahan bahkan puteri selir raja pun tak luput dari gangguannya sehingga pihak kerajaan sampai mengirim wie-su pilihan dan tong-leng (pemimpin gie-lim-kun) – sun kai shek yang berjuluk kip-hong-kiam (si pedang angin lesus) untuk memburu penjahat tersebut.

Cukup banyak kaum gagah persilatan mencoba mencari dan membasminya tapi sampai sekarang keberadaannya masih misterius. bahkan mereka yang berhasil berhadapan dengannya pulang tinggal nama. kelihaian jai-hoa-cat mengetarkan seluruh dunia persilatan karena lawan-lawannya merupakan jago-jago silat kelas satu dan selama
ini belum pernah kalah diantaranya jago-jago muda dari bu-tong-pai yang terkenal dengan julukan bu-tong-sam-kiam-hiap (tiga pendekar pedang dari bu-tong) semuanya mati terbunuh setelah sebelumnya memperkosa satu- satunya anggota wanita dari bu-tong-sam-kiam-hiap – si lim ci.

Jago silat lain yang turut menjadi korban adalah ******* muda dari shao-lin – murid utama wakil ketua shao-lin, jago muda nomer satu dari hoa-san-pai yang berjuluk kun-cu-kiam (si pedang jantan) cia sun, merupakan murid kesayangan ketua hoa-san-pai master yu-kang serta yang paling menghebohkan ia berhasil membunuh sute dari ketua go-bi-pai yang berjuluk kim-to- bu-tek (si golok emas tanpa tanding) yang telah malang melintang puluhan tahun tanpa tanding.

Namun kecerdikan bwe-hoa-cat selama tak ada yang menandingi, terbukti tak seorang pun yang dapat melihat wajah aselinya dan selama beberapa tahun ini selalu berhasil menghindarkan diri dari kejaran para jago dunia persilatan. mendengar bwe-hoa-cat beraksi kembali di kota wu-han, jago-jago persilatan yang selama ini selalu menguntit dan memburu jai-hoa-cat ini berbondong-bondong datang ke kota wu-han.

Di antaranya terdapat jago muda terlihai dari kun-lun-pai – sie han li, murid utama ketua go-bi-pai – lu ***, pendekar muda dari kay-pang – tiauw ki yang merupakan murid utama wakil kay-pang kam-lokai, kedua tojin dari bu-tong- pai yaitu tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin dan para wie-su pilihan dari pihak kerajaan serta tong-leng (pemimpin gie-lim-kun) – sun kai shek. mereka datang secara terpisah namun berkumpul dan berdiam sementara di rumah penginapan terbesar di kota wu-han ini, menantikan kabar mengenai bwe-hoa-cat.

— 000 —

Di suatu pagi hari yang cerah, matahari pelan-pelan naik ke tangga langit. Awan sedikit kelabu menampakkan sisa hujan musim kemarau tadi malam. embun diatas rumput masih tampak segar dan membentuk hamparan butiran air jernih yang menyejukkan mata. udara juga terasa sangat dingin. tepat sekitar jam tujuh -setelah bebenah dan menyapu – ketika pelayan warung makan membuka pintu warung, angin pagi mendesiu dan mendesak masuk ke dalam ruangan. membuat badan terasa menggigil, tapi tampak segar dan..ngantuk, segera ia mulai menyeduh teh buat pelanggan-pelanggan hari ini.

Pelanggan pertama datang tak berapa lama kemudian, seorang pemuda dua puluh tahunan berbaju putih dengan wajah yang tampan dan halus, serta sinar mata yang tajam dan potongan tubuh seperti seorang siucai (pelajar) memasuki warung makan serta memesan semangkok bakmi dan sepoci teh harum.

“kongcu baru tiba di kota ini ?” tanya si pelayan.
“benar lopek, apakah lopek bisa memberitahu rumah penginapan yang bersih di kota ini” kata si pemuda tersebut.

“sebaiknya kongcu menginap di rumah penginapan di tengah kota ini, terkenal sangatbersih dan pelayanannya sangat baik. tapi cayhe kurang tahu apakah masih tersediakamar kosong karena sejak beberapa hari belakangan ini banyak tamu yang menginap di sana”
“memangnya ada peristiwa apa lopek hingga banyak tamu yang berdatangan ke kota ini ?’’ tanya si pemuda ingin tahu.

“kota ini mengalami musibah, seorang jai-hoa-cat memperkosa dan membunuh mati kembang kota ini, putri hartawan cin. kabarnya penjahat ini sudah lama di buru kaum kangouw karena sering memperkosa dan membunuh korban-korbannya”.
“oh rupanya begitu” kata si pemuda tertarik hatinya.

Selesai bersantap pagi pemuda tersebut berjalan menuju tengah kota untuk mencari rumah penginapan sesuai saran si pelayan. untung baginya masih tersedia sebuah kamar kosong di rumah penginapan ini. sambil
menaruh buntalan pakaiannya di pembaringan, ia duduk bersila untuk memulihkan tenaga.

Siang harinya ia turun dari loteng penginapan ke rumah makan yang terletak dibawah rumah penginapan ini. suasana rumah makan sangat ramai dengan tetamu yang makan siang. di mana-mana tercium bau harum masakan yang lezat yang teruar dari dapur warung makan tersebut. pemuda tersebut memilih duduk di pojokan yang
menghadap pintu masuk.

Sambil menunggu pesanan datang, ia memandang sekelilingnya.
ia melihat banyak tamu yang menyandang pedang menandakan mereka adalah kaum kangouw. ia menduga mereka adalah orang-orang yang diceritakan oleh si pelayan warung makan tadi, yang hendak memburu jai-hoa-cat.

Di sebelah kirinya, duduk dua orang pemuda menyandang pedang di punggung mereka. yang satu berbaju biru, berwajah cukup tampan tapi angkuh, memiliki sinar mata mencorong ketika tanpa sengaja pemuda itu dengan pemuda berbaju biru ini saling bertatapan. sedangkan pemuda yang satu lagi berbaju kuning, berusia dua-tiga tahun lebih muda dari teman seperjalanannya dan memanggil si pemuda berbaju biru suheng.

“suheng, siauwte dengar kabarnya penjahat jai-hoa-cat ini masih berkeliaran dikota ini” kata si pemuda berbaju kuning dengan lirih, namun dengan lweekangnya yang tinggi, pemuda berbaju putih tersebut masih mampu mendengarnya dengan jelas.

“banyak kabar yang berseliweran, belum tentu pasti kebenarannya. cuma menurut kabar yang dapat di percaya memang benar si penjahat masih berada di kota ini bahkan kabarnya akan beraksi kembali dalam waktu dekat” jawab si pemuda berbaju biru sambil melirik curiga ke arah pemuda berbaju putih.

Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke meja pemuda berbaju putih tersebut.
sambil menyoja ia berkata “rupanya looheng (saudara) baru tiba di kota ini, bolehkah cayhe tahu nama besar looheng” pemuda berbaju putih tersebut berdiri dan balas menyoja “cayhe kebetulan mamang
baru tiba di kota ini pagi tadi, nama cayhe li kun liong”

Ternyata pemuda berbaju putih ini adalah jagoan kita li kun liong. setelah lima tahun memperdalam ilmu silat dan pertabiban bersama tabib sakti, ia diperbolehkan sucouwnya untuk kembali ke tiongkok. sedangkan tabib sakti yang sudah merasa terlalu tua, tetap berdiam di kediamannya menghabiskan masa tuanya.

“rupanya li-heng, cayhe lu *** dari go-bi-pai, kalau boleh tahu dari aliran mana dan siapa gerangan guru li-heng”
“cayhe bukan dari aliran mana pun, sedangkan guru cayhe bukan dari kalangan yang terkenal” jawab li kun liong diplomatis.

“kalau li-heng tidak keberatan, mari duduk bersama” kata lu *** sambil menyoja kembali namun kali ini di sertai dengan pengerahan tenaga dalam yang mengarah ke li kun liong. rupanya ia penasaran ingin menguji ketangguhan ilmu silat li kun liong.

Sambil tersenyum tawar, seolah-olah tidak tahu apa pun, li kun liong balas menyojadan berkata “terima kasih lu-heng, tapi cayhe tidak berani menganggu kalian.”

Lalu ia duduk kembali ke meja untuk meneruskan makan siangnya.lu *** merasakan tenaga dalam yang ia lancarkan melalui kedua tangannya tadi seolah-olah batu yang menyemplung di lautan yang maha luas. ia merasa kaget dan tidak menyangka li kun liong memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna. Dengan muka berubah ia kembali ke mejanya dan bersantap sambil berdiam diri kejadian saling mengukur kepandaian dengan saling menyoja merupakan kebiasaan yang lumrah di kalangan dunia persilatan sehingga sewaktu peristiwa yang barusan terjadi tidak luput dari pengamatan para tetamu persilatan.

Mereka umumnya mengenal lu *** sebagai jago muda paling lihai dari go-bi-pai, wajah mereka pun turut berubah ketika menyaksikan li kun liong tidak merasakan apa pun. Pendapat mereka terhadap li kun liong sebelumnya menganggap enteng ketika li kun liong memasuki ruang makan tersebut berubah menjadi kekaguman. namun diantara mereka tidak ada satu pun yang mengenal li kun liong sehingga seperti lu *** mereka menaruh perhatian khusus terhadapnya.

Sehabis bersantap, li kun liong kembali ke kamar untuk memulihkan tenaga kembali. sore harinya ia keluar berkeliling menikmati suasana kota wu-han. kota wu-han adalah kota dengan kehidupan yang ramai, di sekeliling jalan utama terhampar bangunan-bangunan yang terdiri atas warung-warung makan, rumah penginapan, warung arak, rumah pelesiran, dan rumah perjudian serta pedagang-pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, minuman, mainan, dan lain-lain.

Ia mampir di sebuah warung arak dan menikmati arak buatan kota ini, cukup harum walaupun tidak seharum arak buatan kota asalnya, siang-yang. ia terkenang akan masa kecilnya bersama ayahnya berkeliling kota siang-yang di sore hari sambil menikmati jajanan manisan yang dibelikan ayahnya. biasanya setelah lelah berkeliling, ayah mengajaknya makan bakmi langganan mereka di pinggir jalan. Ia termenung mengingat keluarganya, sekarang ia hidup sebatang kara, berkelana di dunia kangouw yang kejam demi menuntut balas kematian orang tuanya.

Kesedihan yang mendalam tampak di wajah li kun liong. adakah yang pernah merasakan getaran- getaran rasa yang mendalam justru ketika kesedihan meluncur demikian dalamnya ? mungkin hanya mereka yang bernasib sama dengannya mampu memahami kesedihan yang dialaminya.

kehidupan macam apa yang dapat menghidupkan jiwa yang yang berhati kesedihan mendalam. sambil menghela nafas, li kun liong mereguk secawan arak dalam genggamannya.tahu-tahu malam telah menjelang tiba, dia pun pergi meninggalkan warung arak, berjalan tak tentu arah, menerobos lalu lalang orang, menuju rumah penginapannya dengan langkah yang gontai, dia mencari sesuatu yang tak akan pernah ia temui
lagi, kenangan pada orang tua telah membuat li kun liong sedih.

Dadanya dipenuhi akan kesedihan dan jiwanya yang terluka berbicara, mengisahkannya pada alam dan cakrawala, pada malam-malam yang hening, pada bulan yang berjaga, dan pada bintang-gemintang, pada semuanya ia kabarkan betapa kesedihan telah membelenggunya.li kun liong gelisah, tak sekejappun ia sanggup memejamkan mata. malam semakin kelam, ia berjalan keluar rumah penginapan berjalan tak tentu arah. tiba-tiba ia melihat sekelabatan bayangan orang melintas di atas wuwungan, tergerak hatinya untuk mengikuti bayangan tersebut.

Bayangan tersebut bergerak luar biasa cepat hingga li kun liong kehilangan jejaknya. ia merasa kaget melihat kelihaian ginkang bayangan itu, sambil memasang mata ia berputar-putar di mana bayangan tadi menghilang. sekonyong-konyong ia mendengar sebuah jeritan yang diteriakkan oleh seorang wanita di kejauhan, dengan sebat ia menuju arah jeritan tersebut. ia tiba di depan sebuah gedung yang berdiri megah tempat jeritan tadi berasal, melompati tembok gedung tersebut, di bagian tengah gedung tersebut, tiba- tiba ia bersampokan dengan seorang pemuda berbaju putih yang sedang keluar dari salah satu kamar.

Tanpa suara pemuda tersebut menerjang ke arahnya, gerakannya sangat cepat, tahu-tahu pukulan yang dilancarkannya telah tiba di depan mata. Li kun liong menghindar dengan gerakan lee-hie-tha-teng (ikan gabus melentik) sambil membalas dengan serangan hwe-hong-sau-liu (angin puyuh menyambar pohon). masing- masing merasa kaget melihat kelihaian lawan, tanpa membuang banyak waktu pemuda berbaju putih tersebut melancarkan gerakan pek-ho-ciong-cian (burung ho putih menembus awan). selagi li kun liong menghindari jurus tersebut, pemuda berbaju putih mundur menghilang dengan gerakan teng-peng-touw-sui (menginjak rumput menyebrang sungai).

Li kun liong hendak mengejar pemuda tersebut namun berhenti ketika mendengar rintihan kesakitan seorang wanita di dalam ruangan di mana pemuda berbaju putih tadi keluar. memasuki kamar tersebut, ia melihat seorang gadis muda tanpa pakaian sama sekali berbaring lemah di lantai. wajahnya sangat cantik, tapi pucat pasi dengan nafas yang tinggal satu-satunya. tubuhnya yang telanjang putih mulus dengan sepasang buah dada bulat naik turun membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona.

Dengan mengeraskan hati li kun liong menutupi tubuh gadis tersebut dengan selimut, ia mencoba menyadarkan gadis tersebut. gadis tersebut membuka matanya yang sayu, terlihat kesedihan dan perasaan terhina di wajahnya, ia berusaha bicara tapi tak sepatah kata pun berhasil ia keluarkan, luka di pelipis wajahnya sangat parah, beruntung ia masih bisa bertahan selama ini. gadis tersebut mengangkat tangan kirinya dengan lemah, memperlihatkan sebuah bunga bwe sebelum akhirnya ia mati dengan mata terbuka.

Li kun liong mengambil bunga bwe tersebut dari tangan si gadis, namun sebelum ia tahu apa yang harus diperbuatnya, tiba-tiba belakang punggungnya di ancam serangan sebilah pedang yang tajam. secepat kilat ia menghindari bokongan tersebut dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah si penyerang. ternyata yang menyerang dirinya adalah pemuda yang tadi pagi ia temui di rumah makan, lu ***. lu *** pun tampak terkejut begitu mengenali orang yang ia serang barusan adalah pemuda yang bernama li kun liong.

“bagus, akhirnya ketahuan siapa sesungguhnya bwe-hoa-cat, ternyata rupanya engkau” teriak lu *** sambil kembali melancarkan serangan. ia tidak sungkan-sungkan mengeluarkan jurus-jurus terlihai dari ilmu pedangnya menghadapi li kun liong. Ia sadar bwe-hoa-cat ini memiliki ilmu silat yang sangat lihai bahkan susioknya pun mati di tangan penjahat ini.

sambil menghindari serangan lawan, li kun liong berteriak “lu-heng engkau salah sasaran, aku pun baru tiba di sini”
tapi lu *** tidak memperdulikan perkataan li kun liong, ia merasa yakin seratus persen li kun liong adalah bwe-hoa-cat yang selama ini mereka buru, terbukti ilmu silatnya sangat lihai, berusia dua puluhan tahun, dan berbaju putih seperti yang biasa dikenakan jai-hoa-cat tersebut.

Selagi mereka bertempur dengan seru, berdatangan kaum persilatan yang selama in memburu bwe-hoa-cat diantaranya terdapat sie han li, tiauw ki , kedua tojin dari bu-tong-pai yaitu tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin. ke dua tojin tersebut sebenarnya mengenali li kun liong namun mereka berpura-pura tidak mengenalnya karena mereka curiga orang yang mencuri dengar rahasia mereka di peternakan kuda dan mereka keroyok tiga tahun yang lalu adalah pemuda ini. melihat kedatangan beberapa orang ini, hati li kun liong semakin cemas akan kesalahpahaman ini terutama ketika ia melihat dua musuh besarnya ikut hadir dan berpura-pura tidak mengenalnya. ia melompat keluar dari jendela kamar dengan gerakan tu-it-chung-bonggoat (mendorong jendela melihat bulan).

“jangan biarkan ia lolos, dia adalah bwe-hoa-cat yang kita cari selama ini” teriak lu *** yang mengira li kun liong hendak melarikan diri. tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin bergerak paling dahulu menghadang jalan pergi li kun liong. dengan hati panas membara dan tidak memperdulikan segala akibatnya li kun liong menyerang ke dua tojin tersebut dengan jurus-jurus yang selama ini ia pelajari dari sucouwnya. kalau tiga tahun yang lalu ia keteteran menghadapi keroyokan mereka, sekarang ia dapat membuat kedua tojin ini kelabakan menghadapi
setiap serangan yang ia lancarkan. sie han li, tiauw ki dan lu *** yang melihat dikerubuti dua jago lihai dari bu-tong-pai, penjahat ini masih dapat melayani gabungan serangan pedang dari kedua tojin tersebut, diam-diam sangat kagum.

Sejak ia kembali berkelana, baru kali ini li kun liong mempraktekkan semua pelajaran ilmu silat yang selama tiga tahun belakangan ini ia pelajari. Kalau dahulu ia merasa bingung dan kepayahan menghadapi serangan mereka, sekarang ia dapat melihat titik lemah dari ilmu pedang mereka. cukup dengan jurus-jurus sederhana ia mampu membuat kedua tojin ini berkeringat dingin belum pernah mereka melihat jurus yang nampak sederhana tapi dapat menahan serangan terlihai dari ilmu pedang bu-tong-pai bahkan sewaktu-waktu dengan gerakan yang tiba-tiba berbalik menyerang mereka. pundak kiri tiong-jin-tojin sudah terluka oleh tusukan pedang li kun liong, darah segar nampak bercucuran keluar dari pundak tiong-jin-tojin dan membuat gerakan tubuhnya melemah.

kesempatan ini tidak disia-siakan li kun liong, ia terus mencecar tiong-jin-tojin dengan serangan-serangan yang paling lihai. tiong-cin-tojin berusaha melindungi sutenya sekuatnya namun kurang berhasil bahkan kini pun lengan kirinya sudah terluka tergores pedang li kun liong, walaupun tidak separah luka tiong-jin-tojin namun sudah membuat nyalinya kuncup.

“menghadapi penjahat seperti ini, tidak perlu kita memperhatikan aturan kangouw, mari kita maju membantu kedua totiang dari bu-tong” kata lu ***. sebenarnya sie han li dan tiauw ki merasa kurang layak mengeroyok satu orang berlima, namun apa yang dikatakan lu *** memang beralasan, bila penjahat ini bisa lolos, entah berapa banyak gadis yang akan menjadi korban-korban berikutnya. apalagi ketika melihat ke dua tojin tersebut telah terluka dan sewaktu-waktu dapat di kalahkan li kun liong. akhirnya mereka maju mengeroyok li kun liong.

Sie han li adalah jago muda terlihai dari kun-lun-pai, begitu pula dengan tiauw ki dari kay-pang dan lu-*** dari go-bi-pai, dengan masuknya mereka bertiga dalam pertempuran mengubah jalannya pertandingan. sekarang li kun liong di kurung selapis sinar-sinar pedang yang berkelabat di sekitar tubuhnya, diselingi tongkat pemukul ****** dari tiauw ki yang tak kalah lihai.

Namun beruntung bagi li kun liong, ia telah memahami intisari dari ilmu silat sehingga sejauh ini ia masih dapat melayani kerubutan mereka. puluhan jurus berlalu dengan cepat, suasana pertempuran semakin mencekam, masing-masing pihak mengerahkan semua kepandaian yang mereka miliki. li kun liong mulai merasa tanaga dalamnya mulai terkuras banyak, bila diteruskan bukan tidak mungkin ia akan terjungkal.

Sayang memang, tenaga dalamnya masih belum mampu menandingi tenaga dalam ke dua tojin dari bu-tong-pai ini. walupun setiap serangan yang ia lancarkan mampu membuat lawan-lawannya kaget dan bersusah payah menghindarinya, tanpa di dukung tenaga dalam yang seimbang, tentu saja serangannya tidak berhasil sepenuhnya. apabila satu lawan satu, ia yakin mampu mengalahkan mereka semua.

Tiba-tiba ia melancarkan serangan hong-jiu-siu-liu (angin menghembus pohon liu) ke arah tiong-jin-tojin yang sedari tadi sudah tampak pucat kehabisan darah, tiong- jin-tojin berusaha menangkis serangan li kun liong dengan pedangnya tapi mendadak serangan li kun liong berubah arah mengincar perutnya yang tak terjaga. Alangkah terkejutnya tiong-jin-tojin menghadapi perubahan yang sangat mendadak ini, ia berusaha mengelat namun terlambat sedetik, ujung pedang li kun liong berhasil menembus perut tiong-jin-tojin.

Tapi keberhasilannya membinasakan tiong-jin-tojin harus dibayarnya cukup mahal, serangan tongkat pemukul ****** tiauw ki berhasil ia hindarkan, dengan sedikit mengegos ia pun berhasil menghindari tusukan pedang lu *** yang mengincar dadanya, tapi sabetan pedang dari tiong-cin-tojin yang mengarah ke punggung belakang tidak dapat ia hindarkan sepenuhnya. luka sepanjang dua dim di punggungnya mengeluarkan darah, membuat bagian belakang baju putih yang dikenakannya berubah menjadi merah. melihat sutenya binasa, tiong-cin-tojin semakin kalap menyerang tanpa memperdulikan pertahanan tubuhnya.

Menghadapi serangan kalap tiong-cin-tojin, li kun liong agak kepayahan, apalagi gerakannya sedikit terganggu akibat luka di punggung, sedangkan serangan dari yang lainnya tidak dapat di anggap enteng. suatu ketika ujung pedang sie han li berhasil menghujam setengah dim dada li kun liong dan tongkat pemukul ****** tiauw ki menghantam betis dan membuat kakinya berdenyut kesakitan. li kun liong mulai mencari ketika untuk meloloskan diri dari kepungan mereka berempat, kesalahpahaman yang terjadi bisa ia jelaskan di kemudian hari, yang terpenting adalah menyudahi pertempuran sebelum terlambat.

Sambil melompat menghindari serangan pedang sie han li, ia melontarkan pedangnya ke arah tiong-cin-tojin sepenuh tenaga, dengan gerakan yang manis bersalto keluar dari kurungan mereka dan menghilang di kegelapan malam. li kun liong tidak tahu serangan pedang terbang yang barusan ia lancarkan berhasil menembus dan memutuskan tulang pundak tiong-cin-tojin, untuk selanjutnya ilmu silat tiong-cin-tojin mengalami penurunan yang berarti. melihat kedashyatan serangan terakhir li kun liong, lu *** bertiga terkesima, membuat nyali mereka pecah untuk melakukan
pengejaran.

Keesokan harinya kembali kota wu-han gempar dengan berita matinya puteri satu-satunya kepala kota wu-han akibat diperkosa bwe-hoa-cat. namun kali ini aksi si jai-hoa-cat tidak berlangsung mulus, ia kesampok oleh jago-jago silat dunia persilatan dan mengalami luka yang cukup serius. dunia persilatan pun gempar dengan terbukanya rahasia siapa sesungguhnya bwe-hoa-cat yang misterius tersebut.

nama li kun liong mendadak terkenal seantero dunia kangouw sebagai bwe-hoa-cat, buruan nomer satu kaum persilatan.
14. Satu-persatu binasa

Matahari menghiasi pagi dengan sinar keemasannya, menggantikan malam-malam yangpenuh dengan bintang bintang keperakan. pagi yang segar menyapa kota hui-changtermasukgedung megah di ujung jalan yang paling ramai. li kun liong memasukigerbang gedung tersebut di sambut tatapan curiga penjaga pintu gerbang.

“siapa engkau, mau bertemu dengan siapa ?” tanya si penjaga.
“suruh bok-wangwe keluar, malaikat elmaut sudah menjemputnya” sahut li kun liong.
“kurang ajar, pemuda gila dari mana pagi-pagi begini sudah berkeliaran membuat onar” kata si penjaga sambil mendorong li kun liong pergi. tapi yang terdorong jatuh bukan li kun liong melainkan dia sendiri, dengan mengereng murka ia mencabut golok di pinggangnya dan menyabetkan ke badan li kun liong. dengan tenang li kun liong menyentil jatuh golok dari tangan si penjaga. mendengar bunyi gaduh di depan, para penjaga yang lain berdatangan dan ikut mengeroyok li kun liong.

Tanpa membuang tempo, dalam waktu singkat li kun liong menjatuhkan semua pengeroyoknya, ada yang patah tulang, gigi rontok, pingsan, tangan keseleo. sambil menginjak dada salah satu penjaga, ia bertanya di mana bok-wangwe. Penjaga tersebut memberitahu bok-wangwe pagi-pagi sekali sudah pergi ke peternakan kudanyadi pinggir kota menginspeksi kuda-kudanya.li kun liong tahu letak peternakan kuda tersebut, dengan santai berjalan keluar dari gedung kediaman bok-wangwe menuju pinggiran kota.

Selama beberapa bulan ini sudah beberapa kali ia bentrok dengan jago-jago persilatan yang menganggapnya sebagai bwe-hoa-cat, namun ia berhasil menghindari pertempuran yang bisa memperdalam kesalah pahaman tersebut. sebisa mungkin ia tidak ingin melukai lawan-lawannya. ia bertekad menangkap penjahat jai-hoa-cat yang aseli karena itu adalah satu-satunya cara untuk membersihkan nama baiknya. Yang mengherankan, bwe-hoa-cat yang aseli selama beberapa bulan ini juga tidak melakukan aksiapa pun sehingga menyulitkan li kun liong dalam mencari jejaknya.

Peternakan kuda bok-wangwe di pinggiran kota hui-changmasih tampak seperti tiga tahun yang lalu, tak berubah dengan gedung besar di tengah peternakan kuda tersebut. Dari kejauhan nampak mendatangi dengan cepat seekor kuda putih ditunggangi bok- wangwe, debu-debu berterbangan di sekitarnya. melihat kehadiran li kun liong menghadang jalan, kaget tak kepalang bok-wangwe, serta merta ia menarik tali kekang mencoba berbalik arah. bagaikan tersambar petir, kuda tersebut tiba-tiba terlonjak!. seraya mencoba mengendalikan kuda dengan semua kemahiran yang dimilikinya, bok wangwe melemparkan senjata rahasia berbentuk bintang segi lima ke arah li kun liong.

Dengan tenang li kun liong menghindarkan diri, bunyi desing senjata rahasia tersebut sangat nyaring tanda si pelempar memiliki tenaga dalam yang sempurna, melayang ke samping tanpa mampu menyentuh tubuh li kun liong. Ia menjulurkan tangan meraih salah satu senjata rahasia dan dengan sebat menimpuk balik mengincar kaki depan kuda. sambil meringkik kesakitan, tiba-tiba kuda tersebut mengangkat kedua kaki depannya ke atas, bergerak liar melemparkan bok- wangwe dari punggungnya, lalu berlari menjauh. bok-wangwe hinggap dengan sempurna di tanah tanpa kekurangan sesuatu pun. dengan wajah pucat ia bersiap sedia menghadapi li kun liong.

“sekarang engkau tidak akan bisa lagi mengandalkan teman-temanmu, sudah saatnya engkau melunasi hutang darahmu” kata li kun liong dengan geram. tanpa berkata sepatah kata pun dengan nekad ia melancarkan serangan hidup mati terhadap li kun liong. matanya bergerak liar mencoba mencari jalan lolos tapi li kun liong tidak memberikan kesempatan sedikit pun baginya untuk melarikan diri. dengan hati-hati ia melayani setiap serangan bok-wangwe, serangan dari seseorang yang putus asa tanpa memperdulikan apapun tidak boleh di anggap ringan apalagi ilmu silat bok-wangwe boleh dibilang termasuk jago kosen.

Li kun liong merasa ilmu silat yang dilatihnya selama ini tidak sia-sia, sekarang dengan mudah ia mampu melihat kelemahan dari ilmu silat bok-wangwe. cukup dengan gerakan yang sederhana, ia menghalau setiap serangan bok-wangwe.diam-diam bok-wangwe merasa kaget sekali melihat kemajuan ilmu silat li kun liong, hanya berselang tiga tahun saja li kun liong sudah memiliki ilmu silat yang susah di ukur tingginya. hatinya semakin mendelu, harapan untuk menang semakin kecil. dengan susah payah ia berusaha menghindarkan diri dari setiap serangan li kun
liong.

“plakk! tranggg… aduhhh…!” hanya dalam sekejap mata saja terjadinya. Entah bagaimana bok-wangwe itu sendiri tidak tahu, pergelangan tangannya sudah terpukul patah, dan tiba-tiba ia merasa amat sakit pada telinga dan mata kanannya. ia roboh menggulingkan diri sampai beberapa meter lalu meloncat lagi berdiri. telinga kanan dan mata kanannya mencucurkan darah! ternyata daun telinga kanannya pecah bagian atasnya, sedangkan pelupuk mata kanannya pun robek! begitu cepat gerakan kedua lengan li kun liong hingga tak dapat di hindarinya.

Belum sempat ia memperbaiki kedudukan, serangan li kun liong datang menerpa kembali. Sambil berputar menggerakkan tubuhnya, bok-wangwe memperhebat pertahanan dirinya. Hatinya terguncang keras mendapat serangan bertubi-tubi. li kun liong segera berseru keras dan menggerakan tangannya, yang kiri mengirim pukulan ke arah lambung, pukulan pancingan karena yang benar-benar menyerang adalah tangan kanannya yang cepat mencengkram ke arah pundak kiri bok-wangwe.

kelihatannya gerakan ini sederhana namun tak dapat dihindarkan bok-wangwe.
“krak..aduh!” dalam sekejap pundak kiri bok-wangwe patah terkena cengkraman jaribesi li kun liong. tanpa membuang kesempatan, li kun liong melancarkan serangansusulan yang mengarah ke dada bok-wangwe.

“duk..!” dengan telak tangan kanan li kun liong yang berisi tenaga sakti delapan bagian menghantam dada bok-wangwe. sambil mengeluarkan darah segar dari mulutnya, bok-wangwe yang sudah terluka parah berusaha melancarkan serangan terakhir, mengajak mati bersama. li kun liong tidak sudi menghadapi serangan nekad tersebut, dengan manis ia mengelak dan mundur menjauh.

Diiringi dengan rintihan kesakitan, bok-wangwe tewas mengenaskan dengan mata melotot. sambil menghela nafas lega, li kun liong meninggalkan peternakan kuda. sejauh ini ia telah berhasil membinasakan tiga dari lima orang yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya yaitu lu seng hok, tiong-jin-tojin dan bok-wangwe.

Sedangkan untuk sim-***, ia memutuskan untuk tidak membalas dendam, penyesalan yang menghinggapinya selama bertahun-tahun sudah cukup sebagai balasannya. Ia merasa ayahnya tidak akan menyesali keputusan ini.satu-satunya musuh keluarganya tinggal tiong-cin-tojin, biang keladi dari semua ini.

— 000 —

Bu-tong-pai gempar dan berduka, dua orang tokoh mereka mengalami kekalahan mengenaskan dari bwe-hoa-cat. bahkan tiong-jin-tojin binasa di ujung pedang jai- hoa-cat, sedangkan tiong-cin-tojin terluka cukup parah dan harus beristirahat cukup lama serta ilmu silatnya dipastikan tidak akan selihai dahulu. Sebelumnya jago muda mereka, bu-tong-kiam-sam-hiap (tiga pendekar pedang bu-tong) telah binasa oleh bwe-hoa-cat.

Berdasarkan penuturan tiong-cin-tojin, bwe-hoa-cat yang selama ini di cari-cari ternyata adalah li kun liong yang pernah datang dan tinggal selama beberapa hari di bu-tong bersama rombongan dari thai-san-pai tiga tahun yang lalu.dengan rasa tak percaya tan sin liong mendengar berita tersebut, ia tidak yakin li kun liong adalah bwe-hoa-cat namun bukti-bukti sudah terpampang di depan mati hingga ia hanaya dapat berdiam diri.

ketua bu-tong-pai, tiong pek tojin segera memerintahkan murid-murid bu-tong memburu dan menangkap bwe-hoa-cat li kun liong hidup atau mati. ia segera mengabarkan berita duka ini kepada supeknya kiang-siang-tojin yang saatini sudah berusia lebih dari delapan puluh tahunan, sedangkan gurunya bekas ketuabu-tong-pai terdahulu – kiang-ti-tojin sudah lama tidak mencampuri urusan partaidan lebih sering bersamadhi, jarang keluar dari tempat pertapaannya.

“siancai..siancai, dunia kangouw sekarang memang semakin kacau oleh para penjahat,mereka sudah semakin berani dan kelewatan. tiong-pek, engkau harus bertindak tega sdalam masalah ini, segera utus beberapa tianglo dan tan sin liong turun gunung dan menangkap penjahat ini” kata kiang-siang-tojin muram.
“baik supek” jawab tiong-pek-tojin dengan hormat.
“bagaimana keadaan tiong-cin apakah lukanya parah?” kiang-siang-tojin menanyakan kesehatan murid kesayangannya.

“cukup parah supek, perlu istirahat beberapa bulan dan ilmu silatnya mengalami kemunduran.”
“baiklah, nanti lohu akan menjenguknya sendiri. ilmu silat penjahat ini sangat mencengangkan, ia sanggup menghadapi gabungan ilmu silat tiong-jin dan tiong-cin, entah berasal dari mana kepandaian yang dimilikinya” renung kiang-siang-tojin.

Beberapa bulan berlalu tanpa kejadian apa-apa di bu-tong-san. luka yang di derita tiong-cin-tojin sudah pulih namun ilmu silatnya tidak bisa pulih seratus persen.ia sangat mendendam terhadap li kun liong karenanya.

Suatu pagi yang bening di kaki gunung bu-tong nampak seorang pemuda berwajah tampan berjalan santai mendaki gunung bu-tong. pemuda ini adalah li kun liong, alangkah beraninya ia mengunjungi bu-tong-pai. ia telah memikirkan hal ini berulang kali. ia akan menghadap ketua partai bu-tong tiong-pek-tojin dan berusaha menjelaskan semua alasan yang sampai membuatnya bertindak kejam membunuh tiong- jin-tojin dan melukai tiong-cin-tojin.

Ia berharap tiong-pek-tojin cukup bijaksana dan mengerti akan tindakannya ini bukan untuk memusuhi bu-tong-pai namun semata-mata masalah pribadi dengan tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin. ia tahu perjalanannya kali ini sangat beresiko ibaratnya mendatangi sarang harimau tapi ia telah membulatkan tekad untuk menghadapinya, apa pun yang terjadi.

Sesampainya di pintu gerbang partai bu-tong, ia di hadang murid-murid bu-tong yang sedang berjaga. ia memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya untukmenghadap tiong-pek-tojin. begitu tahu yang datang ternyata adalah bwe-hoa-cat likun liong, serempak mereka menghunus pedang dan mengurung li kun liong, sedangkan murid yang lain membunyikan genta tanda bahaya.

Li kun liong mengelak ke sana kemari dari serangan murid-murid bu-tong, ia hanyaberkelit saja tanpa membalas. ia berharap segera bertemu tiong-pek-tojin sebelum masalah ini berlarut-larut. bunyi genta tanda bahaya berkumandang ke seluruh bu-tong-pai menggagetkan segenap murid-murid bu-tong yang sedang berlatih barisanpedang. sudah puluhan tahun genta tanda bahaya tidak pernah berbunyi, tidak heranberbunyinya genta tanda bahaya tersebut membuat murid-murid bu-tong termasuk para tokok-tokohnya kaget dan ingin tahu siapa yang berani mati menyerbu bu-tong-pai.

Berduyun-duyun murid-murid bu-tong-pai keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. tampak oleh mereka, saudara-saudara seperguruan mereka berusaha mengurung seorang pemuda dalam kiam-tin (barisan pedang) bu-tong-pai yang terkenal keampuhannya.

“semua murid berhenti dahulu!” terdengar suara mengalun memasuki telinga para murid bu-tong yang sedang bertempur. para murid bu-tong serentak menarik mundur pedang mereka dan secara teratur mundur menjauhi gelanggang pertempuran meninggalkan li kun liong sendirian di tengah lingkaran murid-murid bu-tong-pai.

Li kun liong tahu yang barusan berteriak menyuruh mundur lawan-lawanya adalah tokoh puncak bu-tong-pai. tampak beberapa depa di depan mendatangi lima orang tojin berusia sekitar lima puluh tahunan dengan wajah angker menghadapi dirinya. ia tahu mereka adalah angkatan tiong yang merupakan angkatan ketua bu-tong-pai
saat ini.

Sambil menjura li kun liong berkata “maafkan cayhe kalau sudah menganggu ketenangan bu-tong-pai tapi sebenarnya cayhe datang ke sini untuk bertemu tiong-pek-tojin dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi.”

Salah seorang tojin yang menjadi pimpinan adalah tiong-jit-tojin yang menjabat sebagai pelaksana harian bu-tong, ia mempunyai sifat yang keras dan teguh sama pendirian, tidak heran tiong-pek-tojin menunjuknya menjadi pelaksan harian bu-tong. ia sudah lama merasa marah terhadap bwe-hoa-cat karena salah seorang murid utamanya yang tergabung dalam bu-tong-kiam-sam-hiap binasa di tangan penjahat ini sehingga kejadian hari ini merupakan kesempatan yang sangat baik baginya untuk menuntut balas kematian murid kesayangannya.

“hmm…engkau masih semuda ini sudah melakukan kejahatan yang sangat kejam, bahkan berani membunuh murid-murid bu-tong-pai dan menyerbu kesini, tidak ada yang perlu ibicarakan lagi, hutang darah harus di bayar dengan darah” kata tiong-jit-tojin sambil melambaikan tangan sebaagi tanda bagi ke empat saudara seperguruannya untuk maju bersama mengepung li kun liong. walaupun sangat marah namun tiong-jit-tojin tidak mau gegabah, ia tahu penjahat ini memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, terbukti suheng dan sutenya tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin sampai terluka dan terbunuh.

Mereka berlima adalah tulang punggung bu-tong-pai saat ini, ilmu silat mereka sudah mencapai tahap tertinggi. selama ini jarang sekali para murid-murid bu-tong melihat mereka berlima maju bersama menghadapi lawannya, dengan penuh perhatian dan hati-berdebar-debar mereka memperhatikan jalan pertempuran yang sangat jarang terjadi dengan seksama.

Pedang yang digunakan para murid bu-tong-pai di kenal dengan nama jian, pedang lurus panjang yang masing-masing mempunyai dua sisi tajam dan pegangan berbentuk sayap yang menghadap ujung pedang. terbuat dari campuran perak, besi dan logam pilihan dengan tahap-tahap pembuatan yang sangat rumit, pedang tersebut sangat efektif menjalankan jurus-jurus pedang bu-tong.

Diperlukan latihan yang panjang untuk menguasai penggunaan pedang jian tersebut, hanya mereka yang berbakat dapat menjalankan pedang jian ini dengan baik.li kun liong tidak di beri kesempatan untuk mengeluarkan sepatah kata pun lagi, ia sibuk menghinari serangan dari kelima tokoh bu-tong ini. bergulung-gulung sinar putih berkilauan dari pedang-pedang lawannya mengurung tubuh li kun liong, terasa olehnya perbawa barisan pedang ini jauh berkali-lipat lihainya dari barisan pedang yang dimainkan para murid bu-tong tadi. menghadapi barisan pedang ini, li kun liong menjaga kedudukannya tetap di tengah-tengah, diam tak bergerak, yang berputaran hanya sinar pedangnya.

Barisan pedang dari bu-tong-pai memiliki kemampuan utama untuk menahan serbuan lawan yang lebih banyak tapi juga mampu mengurung tokoh persilatan yang bagaimana pun lihainya. dengan di pimpin tiong-jit-tojin sebagai kepala barisan, barisan pedang ini mengurung rapat li kun liong, tidak menyisakan setitik lubang pun untuk meloloskan diri, ibarat nyamuk pun tidak dapat lolos dari barisan pedang ini.

Tahap kepandaian ilmu silat li kun liong sekarang bila satu lawan satu, sudah melebihi para pengeroyoknya namun dengan bergabung ke lima tokoh bu-tong ini dalam satu kesatuan menyulitkan lu kun liong. puluhan jurus pertama ia mencoba bertahan dengan sesekali melancarkan serangan. seperti yang kita ketahui li kun liong memiliki ingatan yang sangat langka, sekali melihat tidak akan terlupakan. Setelah mengamati dengan seksama ia bisa melihat barisan pedang ini mengikuti semua petunjuk dari kepalanya yaitu tiong-jit-tojin, hingga ia memutuskan untuk mencoba menghancurkan barisan ini dengan menyerang kepalanya terlebih dahulu. tapi tidak semudah yang ia pikirkan, begitu ia mulai mencecar tiong-jit-tojin, para tojin yang lain secara otomatis melindungi tiong-jit-tojin dari serangan li kun liong.

Ini semakin menyakinkan li kun liong, satu-satunya cara untuk membongkar barisan pedang ini adalah dengan terlebih dahulu menyerang kepalanya, ibarat ular, ketok dulu kepala ular baru yang lainnya.

Tiong-jit-tojin mengeluarkan seruan keras, pedang mereka berkelebat dan tahu-tahu telah menjadi satu gulungan sinar tebal dan panjang, mengeluarkan suara bercuitandan bayangan tubuh mereka lenyap tergulung sinar pedang yang menjadi satu. tiba-tiba terdengar suara mencicit keras ketika sinar pedang itu menyambar ke arah likun liong, li kun liong menggerakkan pedangnya menusuk ke arah sinar pedang yang menyambarnya seperti kilat itu.

“cing..cing..trang……!” gulungan sinar pedang yang berkelebat itu menjadi buyar, berkali-kali mengitari tubuh li kun liong, berusaha membabat tubuh kakek itu namun selalu dapat di halangi li kun liong. ratusan jurus telah berlalu, peluh nampak di masing-masing dahi mereka terutama di dahi li kun liong, ia mulai kehabisan tenaga.

Dalam hal tenaga dalam jelas li kun liong kalah latihan, ia baru memiliki belasan tahun latihan sedangkan lawan-lawannya memiliki latihan tenaga dalam puluhan tahun. namun dari segi keuletan dan keanehan jurusnya, ia jauh lebih unggul dari para tokoh bu-tong ini yang rata-rata sudah tua hingga sejauh ini masing-masing pihak masih dapat bertahan seimbang.

Murid-murid bu-tong-pai lainnya terngangga kagum melihat barisan pedang yang biasa mereka latih bisa memiliki kedashyatan sedemikian rupa dimainkan guru-guru mereka. Tapi mereka juga sangat kagum melihat kesaktian li kun liong yang sebaya umurnya dengan mereka mampu melayani barisan pedang bu-tong selama ratusan jurus. tiong-
jit-tojin dan sute-sutenya pun tidak kalah kagum melihaT kegigihan li kun liong, dalam hati masing-masing mengakui bila menghadapi li kun liong sendirian, mereka pasti kalah. bahkan ketua mereka pun belum tentu sanggup menghadapi barisan pedang mereka, mungkin hanya kiang-ti-tojin atau kiang-siang-tojin yang mampu melakukannya.

Tidak sedikit pelajaran yang berhasil di petik li kun liong dari pertempuran ini, sebagian besar jurus-jurus terlihai dari barisan ini sudah masuk dalam ingatannya bukan tidak mungkin apabila terjadi pertempuran yang kedua kalinya, li kun liong telah memiliki kunci-kunci untuk memecahkan barisan ini – namun itu urusan di belakang hari. sekarang yang terpenting adalah bagaimana agar tidak mati konyol dalam barisan ini, sekuatnya ia memeras semua kepandaian yang selama ini ia pelajari.

Semakin lama semakin memahami ia hakekat ilmu silat. ibarat teori saja masih kurang lengkap tanpa adanya latihan, maka kesempatan yang langka ini tidak disia-siakan li kun liong untuk memperdalam ilmu silatnya.
puluhan jurus kembali lewat dengan cepat, nafas li kun liong sudah memburu tanda tenaganya mulai habis, begitu pula lawan-lawannya. gerakan barisan pedang mulai sedikit melambat, tahap yang paling menentukan dari pertempuran telah menjelang tiba.

Namun sebelum masing-masing pihak-pihak terluka, tampak mendatangi ketua bu-tong-pai diikuti beberapa orang diantaranya kiang-siang-tojin, tiong-cin-tojin dan…sim ***. rupanya beberapa saat sebelum kedatangan li kun liong, sim *** telah datang terlebih dahulu untuk menemui tiong-pek-tojin. ia di terima dengan tangan terbuka karena sebelumnya ia telah beberapa kali berkunjung ke bu-tong menemui sahabatnya tiong-cin-tojin.

Sim *** yang diliputi rasa bersalah, mendengar kabar yang tersiar di dunia kangouw bahwa sutitnya (keponakan murid) li kun liong di tuduh sebagai bwe-hoa-cat dan di buru murid-murid bu-tong-pai karena melukai dan membunuh tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin serta bu-tong-kiam-sam-hiap.ia tidak mempercayai berita bahwa li kun liong adalah bwe-hoa-cat, tidak mungkin keturunan suhengnya menjadi penjahat.

Maka dengan penuh tekad untuk menebus dosa-dosanya, ia mendatangi bu-tong-pai,menemui tiong-pek-tojin dan menceritakan semua perbuatan mereka yang mengeroyok mati li hong kiat suami istri, orang tua li kun liong. dengan kaget tiong-pek-tojin mendengarkan penuturan sim-***, segera ia memerintahkan salah seorang murid bu-tong untuk mengundang supeknya kiang-siang- tojin dan sutenya tiong-cin-tojin.

Selagi mereka menunggu kedatangan kedua tojin ini, terdengar genta tanda bahaya berbunyi. tiong-pek-tojin kaget, segera ia memerintahkan tiong-jit-tojin sekalian menghadapi kejadian di luar sedangkan ia mengurus masalah sim-*** terlebih dahulu. itulah sebabnya mengapa ia terlambat keluar. dengan muka pucat pasi, tiong-cin-tojin mengakui semua kesalahannya. kiang-siang- tojin merasa sangat kecewa mendengar pengakuan murid kesayangannya, ia merasa telah gagal mendidik murid. umurnya seolah-olah bertambah menua, memang berat kekecewaan yang ia pikul setelah sebelumnya ia kecewa tiong-cin-tojin tidak terpilih sebagai ketua bu-tong-pai menggantikan kiang-ti-tojin.

Dari muridnya, tiong-pek-tojin tahu yang datang adalah li kun liong, maka dengan buru-buru ia keluar bersama-sama kiang-siang-tojin, sim *** dan tiong-cin-tojinyang mengikuti mereka dengan hati lesu. mereka menyaksikan pertempuran sudah mencapai tahap mengkhawatirkan, tiong-pek-tojin segera mengerahkan lweekang dan berseru “berhenti semua, lohu ada yang mau dibicarakan.’

Mendengar ketua mereka sudah datang, dengan lega tiong-jit-tojin sekalian mundur teratur, mereka bersyukur tiong-pek-tojin keluar pada saat yang tepat hingga pertempuran berdarah dapat mereka hindari.

Li kun liong melihat yang datang adalah tiong-pek-tojin dan musuh besarnya tiong- cin-tojin serta yang tidak ia duga sama sekali, susioknya sim-***. sambil menjura ke arah li kun liong, tiong-pek-tojin berkata “apa kabar kun liong,sekarang ilmu silatmu mengalami kemajuan yang sangat pesat, bagaimana kabar master the-kok-liang?”

Dengan tersipu-sipu li kun liong membalas salam tiong-pek-tojin,”cayhe baik-baik saja selama ini cianpwe, sedangkan kabar master the-kok-liang, cayhe belum berkesempatan bertemu kemabli dengan beliau tiga tahun belakangan ini”
“apakah benar kabar yang tersiar di dunia persilatan bahwa engkau adalah bwe-hoa-cat ?” tanya tiong-pek-tojin.

“bukan cianpwe, cayhe berani bersumpah, ini adalah kesalahpahaman. li kun liong lalu menceritakan semua pengalamannya hingga ia di tuduh sebagai jai-hoa-cat termasuk pertempurannya dengan tiong-jin-tojin dan tiong-cin-tojin”
“lalu bagaimana dengan bu-tong-kiam-sam-hiap, apakah engkau yang membunuh mereka”
“tentu saja tidak, cayhe belum pernah berjumpa dengan mereka apalagi sampai bertempur. ini pasti perbuatan bwe-hoa-cat yang aseli, cayhe berjanji pasti akan membereskan persoalan ini” jawab li kun liong penasaran.

Sambil memangut-mangutkan kepalanya, tiong-pek-tojin menatap supeknya kiang-siang- tojin meminta pendapat. semua penuturan li kun liong sama persis dengan yang diceritakan sim ***.

Sambil menghela nafas panjang, kiang-siang-tojin berkata “tiong-pek, lohu serahkan semua masalah ini kepadamu sebagai ciangbujin untuk memutuskan”
“kun liong, untuk sementara lohu mempercayai semua ceritamu terutama mengenai persoalan pribadimu dengan murid murtad tiong-cin-tojin dan tong-jin-tojin, untuk masalah tersebut bu-tong-pai lepas tangan dan tidak ikut campur. tapi mengenai kematian bu-tong-kiam-sam-hiap, engkau harus dapat membuktikan bukan dirimu yang melakukannya. lohu beri waktu setahun untuk membersihkan nama baikmu, apakah cukup ? ” tanya tiong-pek-tojin.

“terima kasih cianpwe, cayhe pasti berusaha sekuat tenaga menangkap bwe-hoa-cat yang aseli.”
“sekarang tiong-cin sute, apa yang hendak engkau katakan, semua perbuatan jahatmu sudah terbongkar”

Dengan muka pucat dan putus asa, ia merasa malu kejahatannya telah diketahui, tiba-tiba tiong-cin-tojin menghunus pedang dan mengorok lehernya sendiri, darah muncrat kemana-mana. tiong-cin-tojin roboh binasa membunuh diri.

Murid-murid bu-tong-pai yang hadir terkesima, bingung dengan semua kejadian barusan, mereka tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. namun setelah di beri penjelasan oleh tiong-pek-tojin, mereka baru mengerti. mereka kembali ke tempat masing-masing, meninggalkan sim *** dan li kun liong berdua saja. dengan wajah sedih dan menyesal, sim *** berkata pasrah, “sutit, lohu tahu kesalahan lohu tidak dapat diampuni, silakan engkau membalas kematian kedua orang tuamu.”

“tidak perlu susiok, memang semua ini kesalahan susiok, tapi susiok telah menyesali dan menebusnya. biarlah semua kejadian ini berlalu, ayah di alam baka pasti merestui semua ini” jawab li kun liong.

Dengan wajah bersyukur dan berterima kasih sim *** mengajak li kun liong mampir kekediamannya namun dengan halus li kun liong menolak, ia masih harus menangkap bwe-hoa-cat untuk memulihkan nama baiknya. tapi ia berjanji apabila ada waktu akan mengunjungi susioknya. mereka pun berpisah dengan hati gembira melanjutkan perjalanan masing-masing.

Jilid 15. Bwe-hoa-cat yang asli

Dedaunan layu berguguran
ditiup sang angin melayang resah
tiada kemudi tiada arah nan pasti
hilangnya seri membawa diri
mengapa ini terjadi dikala nan indah
saat percintaan bertakhta di puncak
mengapakah pengorbanan ini tidak terbalas
hanya kerna perpisahan yang silam

seorang wanita muda berusia dua puluh tahunan berjalan dengan lesu di jalanan kota gui-yang, wajahnya sangat cantik membuat siapa pun yang melihatnya pasti terpesona. namun sayang raut muka sedih yang nampak di wajahnya yang jelita sedikit mengurangi kecantikannya. selama tiga tahun ini ia telah berkelana demi mencari pujaan hatinya, namun hampir putus asa belum juga ia berhasil mendapat berita apa pun. di depan sebuah warung makan yang besar, ia berhenti untuk menangsal perutnya yang kosong. saat itu waktunya makan siang hingga hampir semua meja terisi penuh oleh pelanggan rumah makan tersebut.

Bau harum masakan menerpa penciumannya, membuat perutnya berkeruyukan. di bantu salah satu pelayan rumah makan tersebut, ia mengisi meja terakhir yang tersedia, segera ia memesan dua tiga macam sayur. sejak pertama kali ia memasuki rumah makan ini, setiap mata pria menatapnya dengan kagum. sambil tersenyum tipis, ia tidak memperdulikan tatapan-tatapan tersebut, sudah sering kali dimana pun ia mampir mengalami kejadian seperti ini.

Di salah satu pojok ruang makan, duduk seorang pria berusia dua puluh lima tahunan sedanng menikmati makanannya. kemunculan wanita muda tadi telah menarik perhatiannya, dengan mata bersinar-sinar, ia terus menatap wanita tersebut. Matanya yang tajam seolah-olah hendak menelanjangi tubuh si gadis, sudah beberapa bulan ini ia tidak menemukan gadis yang sesuai dengan seleranya namun gadis ini
sangat mencocoki dirinya.

Di sebelah meja gadis tersebut, duduk sepasang pria berusia empat puluh tahunan,mengenakan pakaian ringkas dengan pedang tersoreng di punggung masing-masing, dandanan mereka seperti piauw-su. mereka sedang memperbincangkan berita kangouw terkini dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar oleh telinga si gadis yang tajam.

Menurut salah seorang piauw-su yang berbaju abu-abu, beberapa hari yang lalu tersiar kabar bahwa bwe-hoa-cat li kun liong telah mengunjungi bu-tong-pai dan menghadapi kerubutan tokoh-tokoh terkenal dari bu-tong-pai dengan hasil seri. Namun beritanya masih simpang siur, ada yang mengatakan bwe-hoa-cat terluka dan melarikan diri, sedangkan berita lain mengatakan bwe-hoa-cat berhasil membunuh salah satu tokoh bu-tong-pai sebelum meloloskan diri.

Tidak heran bila peristiwa yang terjadi di bu-tong-pai simpang siur, murid-murid bu-tong-pai enggan menceritakan aib yang menimpa tokoh mereka tiong-cin-tojin. mendengar nama li kun liong di sebut-sebut, wajah gadis ini bersinar cerah, akhirnya ia mendapatkan berita tentang li kun liong. cuma yang membuat dirinya sangat kaget adalah tuduhan bahwa li kun liong adalah bwe-hoa-cat, namun setidaknya ia mendapat jejak untuk ditelusuri.

Semua gerak-gerik gadis ini tidak luput dari perhatian si pemuda, ia menduga si gadis mempunyai dendam dengan bwe-hoa-cat.
ia bangkit dan berjalan menuju ke arah si gadis tersebut, sambil menjura ia menyapa “maafkan cayhe kalau sudah menganggu ketenangan nona, dari tadi cayhe memperhatikan nona sangat tertarik mendengar berita tentang bwe-hoa-cat, mungkin cayhe bisa membantu karena kebetulan cayhe sedikit mengetahui keberadaan bwe-hoa- cat.”

Gadis tersebut menatap pemuda yang mengajaknya bicara, wajahnya cukup tampan dengan senyumannya yang mengoda. ia bukan gadis kemarin sore yang masih awam dengan hubungan pria dan wanita, sekilas ia sudah tahu pemuda ini sudah berpengalaman namun mendengar si pemuda tahu keberadaan li kun liong, ia tertarik hatinya.

“siangkong ini…?”
“nama cayhe yap fei, dengan memberanikan diri menyapa nona sekaligus mungkin dapat membantu nona menghadapi bwe-hoa-cat” kata si pemuda sambil duduk di hadapan gadis tersebut.

“terima kasih, memang saya ingin mencari bwe-hoa-cat” katanya singkat.
“kalau boleh tahu, siapa nama nona yang mulia?”

“panggil saja siau-erl, tadi saudara bilang mengetahui keberadaan bwe-hoa-cat, apakah benar?”

“cayhe menduga bwe-hoa-cat sudah berada di kota ini, jadi sebaiknya nona mencari penginapan terlebih dahulu, nanti kita bisa bersama-sama mencari bwe-hoa-cat.”

Siau-erl mengangguk setuju. dengan gembira pemuda yang bernama yap fei ini lalu memanggil pelayan dan memesan sebuah kamar untuk siau-erl yang bersebelahan dengan kamarnya.sore harinya ia mengajak siau-erl berpesiar ke telaga di pingiran kota sambil menyerapi kabar bwe-hoa-cat. mereka menyewa sebuah perahu , yap fei mengarahkan perahu ke tengah telaga. Langit nampak sangat cerah tak berawan, tampak dikejauhan perahu berseliweran membawa pelancong-pelancong menikmati suasana sore hari di telaga.

Tengah telaga tersebut sangat ramai, sesekali telinga mereka mendengar suara kecapi dan tiupan seruling yang sangat merdu di iringi lantunan merdu tembang cinta berasal dari sebuah perahu yang megah, penuh kegembiraan dan keriangan. nampak oleh mereka seorang gadis penghibur sedang memetik kecapi sambil menyanyikan sebuah tembang cinta…

mengalun indah suara kecapi
mengalun indah dengan irama simfoni
dawai-dawainya merunduk malu saat disentuh
dipetik jari sang pujangga hati
pujangga yang merindukan seorang kekasih tambatan hati
yang selalu terbawa mimpi namun tak dapat diraih
ketika kecapi cinta mulai terdengar
sudut hati mulai bermain perasaan
perasaan cinta yang terbentuk secara alami
inti sari cinta menemukan rasa yang sebenarnya
rasa manis yang menghidangkan kenikmatan
kemanisannya takkan pudar ‘tuk selamanya
engkaulah sang kecapi cinta berdawai asmara
membawa angan-angan merajut indahnya kasih
jemarinya mendenyut dan merona tersipu-sipu
melodi kecapi memang melodi hati
takkan lenyap alunan nadanya
nada-nada kalbu yang menggetarkan jiwa….

Para pemuda-pemuda berpakaian perlente di perahu megah tersebut bertepuk tangan memuji keindahan suara si penyanyi. mereka sepertinya berasal dari keluarga- keluarga hartawan atau pejabat-pejabat kota yang terpandang.

Perahu mereka melaju perlahan-lahan membelah telaga, mengelilingi telaga, sesekali mereka berpapasan dengan perahu lain. tanpa mereka sadari, dari kejauhan nampak sebuah perahu mengikuti dari belakang. yap fei mendayung perahu menjauhi keramaian ke arah seberang telaga yang sepi. tak terasa sore hari sudah menjelang malam, perlahan-lahan matahari mulai tenggelam kembali keperaduannya, permukaaan air
telaga terlihat gelap, namun suasana telaga semakin indah, di kejauhan terlihat kerlap-kerlip lampu dari perahu-perahu di tengah telaga seperti bintang menambah gemerlapnya malam.

Perahu yang mengikuti yap fei berdua masih terlihat dikejauhan, di dalam perahu tersebut tampak empat orang pria yang terdiri dari dua orang pemuda berusia dua puluh tahunan dan dua orang pria pertengahan empat puluh tahunan. salah satu pemuda tersebut adalah bai mu an si pedang kilat, seorang yang lain adalah lu ***.

Sedangkan pria pertengahan umur yang berbaju hijau adalah tong-leng (pemimpin gie-lim-kun) – sun kai shek yang berjuluk kip-hong-kiam (si pedang angin lesus), wajahnya berwibawa dengan kumis dan jengot yang dipelihara rapi menambah keangkerannya. sorot matanya sangat tajam berkilau di kegelapan malam menandakan lweekang yang tinggi. pria pertengahan yang satu lagi yang menyertainya adalah salah seorang wie-su gie-lim-kun yang sedang menyamar dalam usaha menangkap bwe-
hoa-cat.

Yang mengherankan mereka ini bisa berjalan bersama-sama. ternyata secara kebetulan lu *** dan bai mu an bertemu sun kai shek di tepi telaga tadi. lu *** mengenal pemimpin gie-lim-kun ini karena susioknya merupakan kenalan baik sun kai shek.

Selagi bercakap-cakap, tanpa sengaja lu *** melihat ke arah perahu yang sedang lewat dari kejauhan, nampak olehnya seorang pemuda berbaju putih dengan seorang gadis sedang mengarahkan perahu mereka ke tengah telaga. ia tidak dapat memastikan karena pemuda berbaju putih tersebut membelakanginya tapi lapat-lapat mengenali postur tubuh pemuda tersebut sebagai bwe-hoa-cat li kun liong yang pernah mereka
keroyok. buru-buru ia memberitahu kawan-kawannya apa yang barusan ia lihat hingga akhirnya mereka mengikuti perahu tersebut.

Sambil mengikuti perahu tersebut semakin lu *** yakin bahwa ia tidak salah apalagi kemudian perahu tersebut menjauhi keramaian. mereka tidak mau mengikuti terlalu dekat, takut ketahuan.

Bai mu an yang pernah bertemu dan berjalan bersama li kun liong ragu-ragu dengan postur tubuh si pemuda berbaju putih, namun ia diam saja. ia mengikuti saja ajakan teman lamanya lu *** menguntit perahu pemuda tersebut.
Mereka kehilangan jejak perahu buruan mereka yang menghilang di balik pepohonan ditepi telaga. sambil berputar-putar di sekelilingnya sambil mengerahkan ketajamananmata mereka mencari perahu tersebut.

sementara itu, di perahunya yap fei sedang berusaha merayu siau-erl namun ditanggapi dengan dingin oleh siau-erl. suasana telaga yang sepi semakin membuatnya semakin berani untuk bertindak. ia berusaha memegang tangan siau-erl tapi dengan manis siau-erl menarik tangannya pada saat yang tepat.

“mau apa kau” tanyanya sambil berkerut kening.
“he..he..he, bukannya engkau sedang mencari bwe-hoa-cat” kata yap fei sambil tertawa licik.
“ja..di engkau adalah bwe-hoa-cat yang sebenarnya bukan li kun liong” sahut siau- erl kaget.

“hm.. engkau tahu yang sebenarnya sekarang juga percuma, tidak ada yang akan tahu. sebaiknya engkau secara sukarela bersedia melayaniku atau kalau tidak…”belum sempat yap fei menyelesaikan perkataannya, siau-Siau Erl sudah melancarkan serangan ke arah pundaknya. tangannya yang ramping menyambar dengan kecepatan kilat menghantam pundak yap fei namun dapat dihindarkan dengan manis oleh yap fei.

Ia merasa kaget melihat kecepatan yang dimiliki siau-erl, ternyata korbannya kali ini memiliki ilmu silat yang tinggi. dalam perahu yang sempit mereka bergebrak belasan jurus, perahu bergoyang-goyang dengan keras namun masing-masing memiliki ilmu meringankan tubuh yang sama-sama nomer wahid sehingga masih bisa bertempur tanpa tercebur ke telaga bahkan perlahan-lahan perahu mereka mengarah ke pinggiran telaga.

Gerakannya yang demikian ringan dan cepatnya cukup merepotkan yap fei atau mungkin lebih tepat kita sebut bwe-hoa-cat.
“dukkkkk!” kedua tangan mereka beradu, siau-Siau Erl terhuyung dua langkah ke belakang sedangkan bwe-hoa-cat tak bergeming. ternyata dalam adu tenaga dalam siau-erl masih kalah setingkat dari pemuda ini. bwe-hoa-cat dengan cerdik melancarkan pukulan-pukulan yang disertai tenaga yang kuat mengarah ke bagian-bagian tubuh yang berbahaya. cukup kewalahan siau-erl melayani strategi bwe-hoa- cat, ia menyadari kalah tenaga dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut kalau tidak mau tertawan. kebetulan perahu mereka sudah mendekati tepian, tiba-tiba ia
melompat menghindar dengan gerakan lee-hie-tha-teng (ikan gabus melentik) ke arah tepian dan mendarat dengan mulus di tanah.

Begitu tiba di tanah ia segera mengembangkan ginkangnya melarikan diri ke dalam hutan, di ikuti dengan ketat oleh bwe-hoa-cat yang tidak mau kehilangan korbannya yang sudah di depan mata.
ilmu meringankan tubuh mereka sama-sama lihai namun karena hatinya gugup dan keadaan yang gelap serta keadaan hutan yang penuh akar di bawah membuat gerakannya sedikit lambat dan dapat di susul bwe-hoa-cat.mereka terus bertempur dengan seru, sekarang jelas kelihatan keunggulan bwe-hoa-cat atas siau-erl.

Makin gelap cuaca tanda malam tiba, makin indah di situ. bulan muncul dengan cahayanya yang gilang gemilang, langit bersih tak tampak sedikitpun awan, permukaan air telaga bermandikan cahaya bulan, seakan-akan terbakar menjadi emas, berkilauan. angin bersilir membuat air emas itu berombak sedikit dan bunga-bunga teratai yang berkelompok disana-sini mulailah menari-nari menggoyang-goyangkan pinggang ke kanan kiri.

Bagaikan kucing yang mempermainkan tikus buruannya, bwe-hoa-cat sesekali berhasil mencolek buah dada siau-erl yang membusung di balik pakaiannya bahkan dengan gerakan yang indah ia mampu mengusap bokong siau-erl. sambil menggigit bibirnya dengan gemas siau-erl memperhebat serangannya namun tetap tak berhasil menyentuh tubuh bwe-hoa-cat. suatu ketika dengan gerakan yang tak terduga-duga, bwe-hoa-cat berhasil menutuk jalan darah siau-erl hingga roboh ke tanah.

Sambil cengar-cengir ia menghampiri tubuh siau-erl yang roboh terbaring di tanah. perlahan-lahan ia mengusap-usap pipi merah siau-erl lalu menciumnya dengan mesra. siau-erl memejamkan matanya berusaha mematikan rasa, ia sadar apa yang akan menimpanya namun dengan tabah menghadapinya sambil mengerahkan tenaga dalam berusaha membuyarkan tutukan bwe-hoa-cat.

Direngutnya seluruh baju yang dipakai siau-erl memperlihatkan tubuh mulus seorang gadis yang sedang mekar-mekarnya. bwe-hoa-cat mencium tanpa henti di dahi, bibir, pipi dan leher siau-erl yang jenjang, tangannya mengusap-ngusap buah dada siau-erl yang bulat itu perlahan- lahan. jejarinya mencari-cari puting siau-erl. puting siau-erl yang kecil itu
dipicit-picitnya perlahan hingga kedua-duanya tegak, seolah-olah bunga yang kembang mekar. gairahnya makin menyala. kedua buah dada siau-erl yang menegang itu kelihatan indah dalam cahaya yang samar-samar.

Ia pun terus meremas-remasnya,… ia pun tak tahan…. terus ia melekapkan bibirnya di puting kanan siau-erl…aduhhh sedapppnyaaaa…. ditarik-tariknya puting siau-erl perlahan-lahan dengan bibirnya. kemudian dijilat-jilatnya sekeliling puting siau-erl. Seterusnya ia isap dan gigit. kanan dan kiri puting siau-erl, ia isap, sedut sepuas-puas hatinya. siau-erl mengerang kesakitan…kejantanannya tegangg dan kerass… perlahan-lahan ia meletakkan senjatanya di hadapan gerbang kewanitaan siau-erl, siap untuk menerobosnya…namun….

Tiba-tiba terdengar kesiur angin pukulan mengarah punggungnya, walau pun saat itu ia sedang asyik-asyiknya namun reaksinya masih berjalan. dengan cepat ia berguling-guling menghindari serangan tersebut lalu melompat berdiri menghadapi penyerangnya.

Tampak olehnya si penyerang adalah seorang pemuda dengan wajah jijik sedang menatapnya dengan mata melotot. di belakang pemuda itu tampak tiga orang menyertainya. mereka adalah bai mu an, sun kai shek dan bawahannya. setelah berputar-putar sekian lama akhirnya mereka melihat sebuah perahu kosong terombang-ambing di tepi danau. dengan cepat mereka mengarahkan perahu ke tepian dan memeriksa perahu tersebut.
Bawahan sun kai shek adalah seorang ahli pemburu penjahat yang memiliki penciumanyang sangat tajam, sering kali berkat penciumannya ia berhasil memecahkan kasus-kasus kejahatan yag membingungkan pihak pemerintah. sambil mengendus-endus perahutersebut ia memberitahu atasannya bau harum bunga bwe yang berhasil ia cium dari tempat duduk di perahu tersebut.

“tidak salah lagi, berarti pemuda tersebut pastilah bwe-hoa-cat li kun liong,mungkin tidak jauh dari ini ia sedang memperkosa korbannya” kata lu *** dengangeram sambil mendahului masuk ke dalam hutan untuk mencari jejak bwe-hoa-cat. demikianlah mereka datang pada waktu yang tepat sebelum siau-erl ternoda lebih jauh. sambil melenggos menghindari pemandangan yang mengiurkan, bai mu an membebaskan tutukan siau-Siau Erl. dengan cepat siau-Siau Erl meraih pakaiannya yang berserakan dan menutupi tubuhnya yang telanjang.

“di..a adalah bwe-hoa-cat yang asli” katanya dengan gagap, lega terbebas dari hinaan si bwe-hoa-cat.
“ap..a, berarti li kun liong bukanlah bwe-hoa-cat” kata lu *** sambil mengerutkan keningnya.

“benar, ia sendiri yang mengaku tadi bahkan aku berhasil mengambil senjata rahasia bunga bwenya” kata siau-erl sambil memperlihatkan beberapa senjata rahasia berbentuk bunga bwe. rupanya saat mereka bertanding, siau-erl memperlihatkan kelihaiannya dalam mencopet dengan mengambil senjata rahasia bunga bwe yang berada di saku baju bwe-hoa-cat. dengan wajah kaget mereka memeriksa senjata rahasia tersebut.

“memang benar ini adalah senjata rahasia yang biasa digunakan bwe-hoa-cat” katabawahan sun kai shek. mereka berempat lalu mengurung bwe-hoa-cat sedangkan siau-erl berlindung di balik pohon mengenakan pakaiannya kembali.ketika ia kembali, pertempuran telah di mulai. dikerubuti empat jago kosen dunia persilatan, bwe-hoa-cat memperlihatkan kelihaiannya, ia mengelak ke sana kemari sambil sesekali melancarkan serangan balasan. namun yang mengeroyoknya kali ini adalah jago-jago persilatan kelas satu, masing-masing tidak kalah hebatnya bila bertanding satu persatu.

Setelah beberapa puluh jurus berlalu, bwe-hoa-cat mulai keteteran. beberapa kali ia harus berjibaku menghindarkan serangan-serangan ke empat pengeroyoknya, bahkan pundak kirinya sudah terserempet pedang bai mu an, juga paha kirinya tertusuk pedang sun kai shek. ia makin memperhebat pertahanannya sambil seolah-olah hendak melancarkan serangan mati-matian namun dengan gerakan yang tak terduga-dua, tangan kirinya melemparkan sesuatu ke tanah dan mengeluarkan suara keras disertai asap tebal mengepul ke udara, menghalangi penglihatan.

Mereka berempat serempak mundur menghindari kabut asap tersebut, takut asap itu megandung racun. Begitu asap tebal mulai menghilang tersapu angin malam, bwe-hoa-cat telah menghilang di kegelapan hutan.
“sayang ia berhasil lolos!” kata siau-erl gemas.
“jangan khawatir nona, kali ini kami sudah mengetahui wajahnya yang sebenarnya. begitu kembali ke kota, akan saya suruh peluki suntuk membuat sketsa wajah bwe-hoa-cat dan menyebarkannya ke seluruh kota-kota kerajaan, tanggung ia tidak akan berani melakukan aksinya lagi. lohu rasa tidak berapa lama lagi ia pasti tertangkap” kata tong-leng (pemimpin gie-lim-kun) – sun kai shek yakin. mereka lalu kembali ke perahu dan kembali ke kota gui-yang.

Dengan cepat berita bahwa bwe-hoa-cat yang asli adalah bernama yap fei, bukan li kun liong, menguncangkan sungai telaga sekali lagi. namun bwe-hoa-cat asli ini tidak kalah lihai dengan li kun liong, ia mampu lolos dari kerubutan jago-jago kelas wahid seperti kepala gie-lim-kun, si pedang kilat bai mu an dan lu ***.

Siau-erl melanjutkan perjalanannya mencari pujaan hatinya li kun liong.

Kicauan burung memecah hening..
mencari rezeki di pagi hari..
berterbangan ke sana kemari..
berkicau riang suka hati..
mengapa aku merintih begini..
bagai tak upaya mencari diri..
berkurung dalam lingkungan..
mengharap yang pipih datang melayang..
yang bulat datang menggolek..
kudrat yang ada di sia sia kan..

Dengan wajah tertunduk lesu ia melangkahkan kakinya perlahan-lahan meninggalkan kota gui-yang…
16. Epilog

Saat itu musim gugur tengah berlangsung, membawa nuansa tersendiri. udara mulaiterasa sejuk, tetapi belum terlalu dingin untuk mengenakan pakaian tebal di alam bebas. daun-daun yang mulai berubah warnanya menawarkan keindahan yang tidak bisa dinikmati di musim-musim lain.

Nun jauh di sana, di kaki gunung thai-san nampak berjalan seorang diri seorang dara muda berusia delapan belas tahun, wajahnya nan cantik jelita, kulitnya cerah, yang bila berjalan bagai mentari berkelana di jalanan pelosok bumi. alisnya hanya seluas sisa gerhana bulan. sinar matanya selalu menjinakkan keresahan atau kemarahan setiap orang yang bertatapan langsung dengannya.

Bibir indahnya tersapu merah muda tanpa polesan gincu buatan manusia. hidungnya yang ramping dan ramah, segera menyapa terlebih dulu pada siapa saja. pipinya halus melebihi sutera termahal, membuat siapapun tidak tega menyentuhnya. Dagunya cembung mulus, menggantungkan pesona melelapkan. rambutnya bak sutera hitam alami yang indah
menjalari punggungnya. jemarinya lentik namun gerakannya tak pernah genit.

Gerakan langkahnya begitu tenang, setenang samudera luas yang menyenangkan para nelayan. suara ketukan langkahnya seakan mengatakan bahwa jangan tergesa-gesa atau juga jangan berlambat-lambat menjemput setiap harapan yang telah direnda di atas peraduan.

Bagaimana tuhan merancang, menyusun bagian-bagiannya, mengukir,
menjelmakan dan memoles kecantikannya menjadi sedemikian jelita merupakan misteri tuhan. sebuah adikarya yang tiada banding-tiada tanding! gadis itu memang cantik jelita bahkan setara dengan puteri-puteri kerajaan.

Dia adalah cin-cin, beberapa hari yang lalu diam-diam ia meninggalkan thai-san-pai sendirian. alasan apa yang membuatnya pergi dari thai-san-pai ? meninggalkan kedua orang tua yang menyayanginya, bahkan tanpa memberitahu siapa pun termasuk toa suhengnya tang bun an.
dia adalah seorang gadis cantik. ia pikir cinta adalah jalannya menuju kebebasan. bebas memilih atau tidak memilih pria mana saja yang ia mau. bebas menuntut apa pun yang ia inginkan. bebas melakukan apa saja yang ia impikan.

dia nun jauh disana
di batas waktu dan jarak
di batas nyata dan angan
benarkah kau ada untuk ku?
dia nun jauh disana
di batas dunia lain tuk bersatu
di batas masa yg tak tentu
benarkah kau ada untuk ku?

Tamat

Bagaimana kisah petualangan li kun liong selanjutnya ?

Juga kisah-kisah asmaranya dengan siau-erl, cin-cin, liok in hong ? dan gadis-gadis baru lainnya ?

Li kun liong sekali lagi menjadi buruan nomer satu dunia persilatan karena difitnah secara keji oleh angkatan tua bu-lim yang dihormati seluruh dunia kangouw. fitnah apakah itu ?

Rahasia apa yang terkandung dalam lukisan kuno bergambar pemandangan yang saat ini berada di tangan li kun liong ?

nantikan dalam seri ke dua pendekar cinta yang berjudul “rahasia lukisan kuno”

ucapan terima kasih :
para pembaca sekalian yang telah sudi meluangkan waktu membaca cersil ini.
Rahasia lukisan kuno

Jilid 1 : Bangkitnya partai mo-kauw

Dunia persilatan gempar dengan tersiarnya kabar meluruknya kembali partai mo-kauw dari persia ke tiong-goan. Lima puluh tahun yang lalu partai ini berhasil di usir oleh gabungan pendekar-pendekar top dunia persilatan yang di motori tujuh partai utama dunia kangouw yaitu shao-lin-pai, bu-tong-pai, thai-san-pai, hoa-san-pai, go-bi-pai, kun-lun-pai, dan kay-pang.namun dalam bentrokan lima puluh tahun yang lampau, walaupun berhasil membinasakan mo-kauw-kauwcu (ketua mo-kauw), thian-te-lojin (kakek langit bumi) dan mengusir mundur partai mo-kauw, ke tujuh partai utama juga mengalami kerugian yang tidak sedikit. ciangbujin (ketua partai) hoa-san-pai, go-bi-pai dan bu-tong-pai binasa di tangan ketua mo-kauw. sedangkan ketua partai shao-lin-pai, thai-san-pai, kun-lun-pai dan kay-pang mengalami luka-luka yang serius hingga memaksa mereka mengundurkan diri dari dunia persilatan.

Jago-jago lihai masing-masing partai saat itu banyak yang binasa hingga praktis memaksa mereka menyerahkan kedudukan ciangbujin kepada angkatan mudamereka seperti tiang-pek-hosiang dari shao-lin-pai, kiang-ti-tojin dari bu-tong-pai, master the-kok-liang dari thai-san-pai, master yu kang dari hoa-san-pai, ong-sun-tojin dari go-bi-pai, sie-han-cinjin dari kun-lun-pai, sun lo-kai dari kay-pang.

saat diserahkan kedudukan ciangbujin oleh guru mereka masing-masing, mereka baruberusia rata-rata tiga puluh tahunan bahkan master the-kok-liang baru belasan tahun hingga thai-san-pai saat itu mengalami kekosongan pimpinan. beruntung angkatan muda ke tujuh partai tersebut memiliki bakat yang sangat bagus hingga mampu melanjutkan kejayaan partai masing-masing hingga saat ini.

Tidak ada yang tahu alasan apa yang membuat partai mo-kauw kembali ke tiong-goan. berdasarkan kabar burung yang tersiar, partai mo-kauw masih berambisi menguasai dunia persilatan seperti lima puluh tahun yang lalu, ada juga yang mengatakanbergeraknya kembali partai mo-kauw karena mereka mendengar kabar munculnya sebuah lukisan kuno yang mengandung rahasia ilmu silat peninggalan jago lihai ratusantahun yang lalu, pedang pusaka, harta karun dan obat-obat mestika yang mempunyai khasiat seperti meningkatkan tenaga dalam seseorang, membuat orang awet muda,dan lain-lain.

Entah siapa yang menyebarkan berita tentang lukisan kuno tersebuthingga beritanya sampai ke partai mo-kauw yang berada nun jauh di persia.seperti kita ketahui di seri dendam kesumat, lukisan kuno bergambar pemandanganyang asli berada di tangan li kun liong, pemberian dari siau-erl. sedangkan lukisan kuno yang palsu, jatuh ke tangan tiong-cin-tojin. tidak ada yang tahu bahwa lukisan tersebut dititipkan tiong-cin-tojin kepada anaknya di luar nikah.

Tiong-cin-tojin sering melakukan perjalanan di dunia kangouw sejak muda, berkelana dan memiliki hubungan yang luas. di masa mudanya, ia memiliki hubungan khusus dengan seorang gadis yang akhirnya meninggal akibat melahirkan anaknya. tak ada seorang pun yang mengetahui affairnya tersebut. sejak itu diam-diam ia menitipkan anak hasil hubungan gelapnya pada sebuah keluarga petani tidak jauh dari bu-tong-san dan sering menjenguknya dengan mengakui anaknya sebagai murid. baru setelah cukup dewasa ia memberitahu muridnya hal yang sesungguhnya.

Anak tiong-cin-tojin ini bernama hok seng, ilmu silatnya cukup tinggi tapi karena kurang berbakat, banyak ilmu silat bu-tong-pai hasil pengajaran ayahnya tidak dapat ia kuasai sepenuhnya. ketika tahu ayahnya mati membunuh diri, ia segera kabur membawa lukisan kuno tersebut ke persia menemui salah satu tetua partai mo-kauw sesuai pesan ayahnya.

Ia menyerahkan lukisan tersebut dan menceritakan semua kejadian yang menimpa ayahnya.ternyata tiong-cin-tojin merupakan mata-mata partai mo-kauw, ibu dari anaknya adalah putri dari tetua partai mo-kauw tersebut. sejak itu hok-seng berdiam di persia tinggal bersama kakek luarnya.tetua mo-kauw tersebut lalu melaporkan dan menyerahkan lukisan tersebut kepada ketuanya.

Saat ini ketua mo-kauw dijabat oleh murid pertama ketua mo-kauw terdahulu, thian-te-lojin, dia berjuluk sin-kun-bu-tek (kepalan dewa tanpa tanding) dan sudah berusia tujuh puluh tahunan. ilmu silatnya sangat lihai, kabarnya ia telah mewarisi semua ilmu tertinggi mo-kauw, bahkan tersiar kabar ia telah menguasai tingkat terakhir atau tingkat ke sembilan dari ilmu langit bumi.

Selama ratusan tahun belum pernah ada yang bisa menguasai ilmu ini sampai tingkat terakhir. mungkin ini salah satu sebab yang membuat partai mo-kauw kembali dengan terang-terangan ke tiong-goan. suhunya thian-te-lojin yang menguasai tingkat ke delapan ilmu langit bumi ini, waktu itu sudahdi angggap jago nomer satu dan malang melintang tanpa tandingan.walaupun ia sudah menerima lukisan kuno tersebut, ketua mo-kauw tetap memerintahkan orang-orangnya yang sudah berada di tiong-goan untuk mencari dan merampas lukisan kuno yang kedua.

Tidak ada seorang pun yang tahu mengapa ketua mo-kaw begitu bernafsu menginginkan lukisan tersebut, rahasia ini mungkin hanya ketua mo-kauw yang tahu.sejak beberapa tahun yang lalu, diam-diam ia sudah menyusupkan anggota-anggota partai mo-kauw ke tiong-goan untuk mengetahui situasi dunia persilatan saat itu.ia mengutus salah satu tetuanya untuk menjalin kontak dengan tiong-cin-tojin untuk membiayai pergerakan, mereka menyamar sebagai perampok yang merampas barang-barang kawalan piauw-kiok paling terkenal di daratan tiong-goan, harimau kemala yang di pimpin oleh liu siu ciang, sute ketua go-bi-pai. tidak heran bila perusahaan piauw-kiok harimau kemala tidak mampu melindungi barang kawalannya.

Beberapa tahun belakangan ini, piauw-kiok harimau kemala semakin mundur, kantor cabang mereka sekarang hanya tinggal lima saja. harta liu siu ciang menyusut drastis untuk mengganti barang-barang kawalan yang di begal perampok. selain itu para pelanggan piauw-kiok harimau kemala berangsur-angsur pindah ke perusahaan piauw-kiok lainnya.
Ketua mo-kauw hanya memiliki dua orang murid saja. murid pertama bernama ciang gu sik, berusia empat puluh tahunan, saat ini menjabat sebagai hu-kauwcu (wakil ketua) mo-kauw. dia sudah menguasai hampir semua ilmu silat gurunya termasuk ilmulangit bumi yang sudah dikuasainya sampai tingkat ke tujuh.

Semua anggota mo-kauw memprediksi dialah orang yang paling tepat sebagai calon pengganti ketua mo-kauw. selain memiliki ilmu silat yang lihai, ia juga menguasai seluk-beluk partai. tidak ada seorang pun selain ciang gu sik, yang paling mengetahui semua rahasia partai mo-kauw murid penutup dari ketua partai mo-kauw ini bernama ceng han tiong yang baru berumur dua puluh tahunan. ia memiliki wajahnya tampan dengan alis yang tebal menambah kegagahannya. dia memiliki bakat yang baik sekali bahkan melebihi bakat yangdimiliki toa-suhengnya, terbukti ia mampu menguasai ilmu andalan partai mo-kauw, ilmu langit bumi sampai tingkat ke lima. suhengnya baru menguasai tingkat ke lima ini pada usia tiga puluh lima tahun.

Sejak kecil toa suheng-nyalah yang mewakili suhu mereka mengajarinya ilmu silat mo-kauw.selain mengandalkan kedua muridnya ini, partai mo-kauw memiliki dua orang tetuayang memiliki ilmu silat yang sangat lihai, mereka berdua merupakan tulang punggung mo-kauw dan sangat misterius. tetua-tetua ini hanya menerima perintah langsung dari ketua mo-kauw dan jarang tampil di muka umum hingga para anggota mo-kauw yang tidak memiliki kedudukan yang cukup tinggi di partai, tidak akan mengetahui raut wajah mereka.

Mereka hanya di kenal sebagai pelindung kiri dan pelindung kanan, ketua mo-kauw hanya memiliki seorang putri yang baru berusia delapan belas tahunan bernama kim bi cu. setelah hampir putus asa untuk mempunyai keturunan, baru di usia lima puluh tahunan ia berhasil mendapatkan keturunan dari salah seorang selirnya hingga ketua mo-kauw sangat memanjakan putrinya ini.

Kim bi cu sendiri merupakan kembang partai mo-kauw, kecantikannya sangat terkenal dengan paras yang elok, dibalut kulit tubuh kecoklatan khas bangsa persia, dengan pakaian persia yang sedikit eksotis mampu menaklukan semua pria, sayang karena terlalu di manja, ia memiliki sifat yang angkuh dan mau menang sendiri.

Kegalakannya sudah terkenal seantero partai mo-kauw, tidak sedikit pemuda yang dihajarnya hanya karena mereka terlalu berani menatapnya. bahkan ciang gu sik yang terkenal sangat disiplin dan kaku pun sedikit mengalah apabila berhadapan dengan kim bi cu, namun kim bi cu sendiri merasa segan dengan toa-suhengnya yang kaku ini. hanya ceng han tiong seorang yang berani melawan atau berdebat dengannya, mungkin karena sejak kecil mereka merupakan teman sepermainan hingga mereka terasa lebih akrab di bandingkan dengan anggota partai lainnya.

Diam-diam ceng han tiong menaruh hati terhadap sumoinya ini, ia mengagumi kecantikannya. namun sifat kim bi cu yang jinak-jinak merpati cukup memusingkan kepala ceng han tiong, sudah dekat terbanglah dia, tampaknya mudah didekati ternyata sukar.

Beberapa bulan terakhir ini, ketua mo-kauw mengutus murid pertamanya, ciang gu sik ke tiong-goan disertai anggota-anggota partai mo-kauw lainnya dengan tugas membantu gerakan partai mereka kali ini di tiong-goan.kim bi cu yang sudah lama ingin mengunjungi daerah tiong-goan merengek-rengek keayahnya untuk diijinkan ikut rombongan toa-suhengnya namun di tolak dengan alasan pergerakan mereka ini sangat berbahaya.dia merajuk berhari-hari, baru kali ini ayahnya menolak keinginannya sehingga membuat dirinya sedih merasa tak di sayang lagi.

Melihat tingkah polah putrinya yang sangat manja, sin-kun-bu tek sangat pusing,ia meminta ceng han tiong untuk membujuk putrinya agar tidak ngambek lagi. dia tahu hubungan putrinya dengan muridnya ini sangat akrab bahkan diam-diam ia memutuskan untuk menjodohkan kim bi cu dengan ceng han tiong.tapi ketika di cari ceng han tiong, kim bi cu telah pergi tanpa pamit pagi-pagi sekali, gelagatnya ia pergi menyusul rombongan toa-suhengnya. Bagaikan kebakaran jenggot, sin-kun-bu-tek memerintahkan ceng han tiong menyusul kepergian putrinya.
Jilid 2 : Pertemuan yang mengharukan

Negeri tiongkok dikenal terdapat 4 musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. tahun baru imlek datang bersamaan dengan musim semi, dikenal dengan festival musim semi (kuo chun ciek). festival ini berlangsung sangat meriah dan dilangsungkan setiap tahun secara rutin.

Bunga mei hwa adalah pertanda datangnya musim semi. para penduduk menggunakan bunga ini sebagai hiasan di rumah ketika imlek tiba, sehingga terkesan suasana yang sejuk, nyaman dan indah.

Dalam festival musim semi ini berlangsung sangat semarak, dimeriahkan mercon, kembang api, dan lampion merah. menurut legenda, pada zaman dahulu setiap akhir tahun muncul sejenis binatang buas nian show yang memangsa apa saja yang dijumpainya. binatang ini muncul tepat pada saat menjelang tahun baru imlek.

Nian show berarti tahun (nian) binatang (show) dan di dalam penanggalan imlek lampiondilambangkan dengan 12 jenis binatang yang dikenal dengan shio-shio naga, ular, kuda, kambing, ******, ayam, ******, ****, tikus, kerbau, macan dan kelinci. untuk menjaga diri dari serangan nian show, menjelang tahun baru, semua pintu dan jendeladi pemukiman penduduk ditutup rapat hingga hari maut itu berlalu.

Masing-masing keluarga berkumpul di rumah.setelah beberapa tahun ternyata nian show tidak lagi muncul pada tahun baru imlek. hal ini membuat kecemasan masyarakat hilang dan tahun baru dirayakan dengan leluasa. sampai akhirnya pada suatu tahun makhluk ini kembali muncul dan membuat kekacauan. beberapa rumah penduduk ternyata terhindar dari serangan. konon hal ini dikarenakan nian show takut pada benda-benda yang berwarna merah, juga pada mercon.

Sejak itu setiap akhir tahun masyarakat tionghoa menggantung kain, lampion dan kertas merah di rumah-rumah dengan dilengkapi puisi-puisi indah dalam tulisan, serta memasang mercon dan kembang api untuk mengusir makhluk nian show yangberupa hawa jahat.

Tahun baru juga dimeriahkan oleh atraksi-atraksi barongsai berbentuk naga. Konon naga adalah binatang lambang kesuburan atau pembawa berkah. binatang mitologi ini selalu digambarkan memiliki kepala singa, bertaring serigala dan bertanduk menjangan. tubuhnya panjang seperti ular dengan sisik ikan, tetapi memiliki cakar mirip elang.

sedangkan singa dalam masyarakat cina merupakan simbol penolak bala. maka tarian barongsai dianggap mendatangkan kebaikan, kesejahteraan, kedamaiandan kebahagiaan. tarian barongsai dilengkapi replika naga (liong), singa dan qilin (binatang bertanduk). gerakannya berciri akrobatik seperti salto, meloncat atau berguling. tarian barongsai biasanya diiringi musik tambur, gong, dan cymbal.salah satu kue khas perayaan tahun baru adalah kue keranjang. para penduduk percaya bahwa anglo dalam dapur di setiap rumah didiami oleh dewa tungku, dewa yang dikirim oleh yik huang shang ti (raja surga) untuk mengawasi setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.

Kue keranjang setiap tanggal 24 bulan 12 imlek(enam hari sebelum pergantian tahun), dewa tungku akan pulang ke surga untuk melaporkan tugasnya. maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk menyediakan hidangan yang menyenangkan dewa tungku. seluruh warga kemudian menyediakan dodol manis yang disajikan dalam keranjang, disebut kue keranjang. kue keranjang berbentuk bulat, mengandung makna agar keluarga yang merayakan tahun baru tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulattekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. kue keranjang disajikan di depanaltar atau di dekat tempat sembahyang di rumah.

Di salah satu sudut kota gui-yang, di malam tahun baru imlek, seorang diri li kun liong duduk di sebuah loteng warung makan yang sekaligus berfungsi sebagai rumah penginapan, menyaksikan semua keramaian yang terjadi. ia sejak kecil paling senang dengan perayaan festival musim semi, di mana pada malam tahun baru, ia bersama teman-teman sepermainannya berkeliling kota dan baru pulang pada menjelang pagi.

Pada hari itu orang tua masing-masing membebaskan anak-anak mereka untuk tidur sampai jauh malam. kenangan yang manis selalu bermukim di hatinya, tak pernah hilang di telan waktu.selagi asyik memandang jalanan yang ramai dengan atraksi barongsai dari atas loteng, tiba-tiba matanya menangkap wajah sendu seorang gadis di antara kerumunan orang yang sedang menonton pertunjukan barongsai. ia tidak akan pernah melupakan wajah gadis ini walaupun sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.

“siau-erl, siau-erl “ teriak li kun liong dari atas loteng sambil mengerahkan lweekang untuk mengatasi suara bising tambur yang di pukul-pukul rombongan barongsai tersebut.

Siau-erl celingukan mencari suara yang memangil-manggil namanya, sambil menenggok ke atas ia melihat seraut wajah yang tidak pernah pergi dari sanubarinya selama ini, wajah li kun liong!. sepasang matanya yang indah terbelalak kaget, wajahnya yang tadi sendu perlahan-lahan mulai memerah tanda hatinya sangat gembira berhasil bertemu kembali dengan li kun liong.

Dengan tergesa-gesa ia menerobos kerumunan penduduk menuju ke warung makan di mana li kun liong berada.sambil melelehkan air mata kegembiraan, tangannya di pegang erat-erat oleh li kun liong yang dibalasnya dengan hati yang rindu. tiada suatu kata pun yang keluar dari masing-masing mulut mereka untuk mengungkapkan luapan hati mereka. tiada rasa lain yang mencurah-curah dari kalbu kecuali cinta.

Buat li kun liong, siau-erl adalah gadis pertama yang pernah ia kenal seakrab ini sedangkan bagi siau-erl, li kun liong adalah lelaki pertama yang menambat hatinya yang paling dalam.tiada seorangpun yang dapat mengerti dan memahami kesedihan hatinya ketika terpaksa berpisah , belahan jiwanyapun menjalani nasib yang sama, seorang diri ia mengelana ditengah hutan dan lautan perasaan.

Tatapan mata siau-erl yang syahdu sudah menceritakan semuanya.
li kun liong melihat pancaran cahaya keindahan itu, jiwanya langsung bergetar…ia merasakan keharuman cinta telah menghancurkan ketenangan jiwanya…tiada yang melintas dalam angannya selain keindahan mata cinta dan tiada suara yang lebih merdu daripada suara cinta…saat menatap wajah li kun liong , seolah ribuan kata ingin keluar dari bibirnya,namun apalah daya bibir tak mampu mampu bergerak untuk melukiskan keagungan cinta. nyala api asmara dalam hatinya semakin lama semakin berkobar.

duhai kekasih….
disaat cinta telah mengakar didalam jiwa,
serta dari waktu ke waktu cinta itu telah tumbuh subur
di kedalaman hati, kuingin rasa itu hanya kita yang tahu…
tahukah engkau kekasih, tidak ada obat yang mujarab mengobati luka bila tertusuk duri asmara…
maka hargailah dia yang mengasihimu …
dan diriku yang mencintaimu ….

duhai kekasih hati, dirimu telah kuikat sebagai tawanan cinta diseberang lautan, dimana tiada suatu wujud pun yang dapat menyembunyikan dirimu dari jiwaku…
melalui pancaran mata, jiwa kita seolah menyatakan tidak ingin berpisah , engkaulah pasangan bagi jiwaku,
ruh yang kekal dan abadi…

bila panah cinta telah menghujam hati dan jantung…
disana engkau akan mendengar suara bathin kita melantunkan bait-bait cinta yang dihiasi oleh senyum dan tangis rindu….
disaat jiwa kita merasa malu-malu menggapai cinta, lidah terasa kelu,dan tiada kata yang terucap dari bibir, disitulah cinta memandang dari kedalaman jiwa, ….

disaat kita saling menatap, maka sabda jiwa kita -tak mampu menyembunyikan cinta dari hati.dalam cinta keindahan menyimpan kepahitan, dan dalam setiap kegetiran terdapat selubung kebahagiaan. rasa dimana kita tak dapat membedakan lagi antara siang dan malam, seolah kita berada dalam taman surgawi yang terbebas dari ruang dan waktu…bagi dirinya- diriku adalah pantulan jiwanya.

Adakah yang dapat diperbuat dari seorang gadis yang telah ditawan api cinta yang hatinya telah tercuri,selain ingin bertemu dengan si-pencuri hati. yang syair-syairnya bernyanyi laksana kidung surgawi dan berbisik kedalam telinganya bagai hembusan angin nan lembut , yang membuatnya terhanyut dalam simponi kerinduan atau laksana gelombang laut yang menghanyutkan bahtera jiwanya didalam lautan perasaannya yang tak bertepi dan berdasar..tak terasa mereka sudah berjam-jam mengobrol ke sana kemari saling menceritakan pengalaman masing-masing selama ini.

Ketika mendengar penuturan siau-erl yang hampir diperkosa bwe-hoa-cat, li kun liong mengepalkan kedua tangannya dan berjanji akan membalas perbuatan bwe-hoa-cat terhadap siau-erl berikut rentenya.
Malam semakin larut, keramaian di jalanan mulai mereda, tanpa sepatah kata pun mereka menuju ke kamar li kun liong. siau-erl mengikutinya dengan hati berdebar-debar, belum pernah ia merasakan hal sepertiini sebelumnya.bagaikan sepasang pengantin di malam pertama, keduanya membisu dan merasa kikuk.tak enak dengan keadaan ini, li kun liong menggenggam tangan siau-erl dan melingkarkan tangannya dipinggang siau-erl. siau-erl menundukkan kepalanya dan masih membisu.

ia seakan hanyut dalam suara-suara lembut li kun liong sebentar tadi bermain di telinganya, ia membalasnya dengan memeluk erat li kun liong.kehangatan tubuh siau-erl membangkitkan gairah kelakian li kun liong, tanpa membuang waktu secara perlahan ia mulai mencumbu siau-erl sambil sebelah tangannya memegang bahu siau-erl dan sebelah lagi merayap-rayap dibagian dadanya.

Siau-erl cuma membiarkan saja kelakuan li kun liong terhadap tubuhnya. li kun liong terus mengecup bibir panas siau-erl dan dia membalas dengan menghisap lidahnya dan memainkan lidahnya kedalam mulutnya sambil tangannya tak henti henti meremas kedua dua belah buah dada yang ranum dan segar itu.

Degupan jantung li kun liong masih kuat, masih terkejut dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang ini.. mulai terasa tangan siau-erl meraba raba kearah pangkal pahanya mencari cari sesuatu. li kun liong terus membiarkannya mengeluarkan senjatanya yang keras menegang,
seperti yang ia duga siau-erl terus mengenggam dan meremas-remas dengan penuh sensasi, agak lama mulut li kun liong bertaut di bibir siau-erl, hingga rontaannya makin lemah, suaranya tidak lagi berbunyi, sehingga tiada lagi rontaan, sebaliknya tangan siau-erl memeluk erat leher li kun liong dan dapat merasakan bibir siau-erl mulai membalas ciumannya.

Apalagi ketika ia pun mulai menciumnya dengan mesra dan penuh kelembutan, siau-erl membalas sambil mengeratkan pelukannya. terasa akan lidahnya dijulurkan, li kun liong menyambut lalu menghisap lidahnya lalu berselang-seling ia dan siau-erl berhisap lidah. agak lama mereka berkecupan, bertautan bibir dan lidah sambi berpelukan mesra.

kemudian siau-erl meleraikan tautan itu diikuti dengusan yang memberahikan. mereka bertentang mata, tangan masih lagi dilingkarkan, badan masih lagi rapat, nafas makin kencang.. semakin berahi, senjata li kun liong makin menegang.

Tatapan mata siau-erl yang redup itu bagaikan meminta sesuatu, lantas li kun liong mendaratkan sekali lagi bibirnya ke bibir merah merekah siau-erl. mereka saling berkecupan mesra, sesekali ciuman diarahkan ke arah leher yang putih itu, dicium, di gigit dan dijilatnya batang leher yang puith berjenjang itu. siau-erl hanya menggeliat kegelian ketika diperlakukan sedemikian.

Suara rengekkan manjanya menerjang ke dalam lubang telinga li kun liong. baju bagian atas yang dipakai siau-erl telah terbuka menampakkan pakaian dalam warna merah muda yang dipakainya. kepala dan rambut siau-erl di belainya perlahan dan siau-erl memeluk li kun liong dengan erat ketika buah dadanya yang putih di cium dan di remas. ia terus merintih penuh kenikmatan yang cukup membangkitkan birahi.

Li kun liong semakin berani membuka baju yang dipakai siau-erl sambil terus mencium dan mengecup wajah cantik siau-erl. mulut mereka terus bertautan akhirnya siaur-erl meluruskan tangan agar bajunya dapat dilucutkan dari tubuhnya.kini, bagian atas tubuh mulus siau erl hanya berbalut pakaian dalam yang tipis saja, lapat-lapat terbayang buah dada yang bulat dan dihiasi puting kecil kemerahan ditengahnya.

Li kun liong melepaskan ciuman mulut lalu mencium bagian atas buah dada diatas pakaian dalam siau-erl. dia mencium, menjilat seluruh bagian buah dada siau-erl sambil meremas-remas. suara rintihan siau-erl semakin kuat ketika li kun liong memijit puting buah dadanya dari luar pakaian dalam yang tipis.

Siau-erl merangkul erat dan membelai perlahan rambut li kun liong. sambil mencium dan meremas buah dadanya, li kun liong melingkarkan tangan ke belakang dan mulai mencari kancing untuk melepaskan pakaian dalam siau-erl pakai. perlahan-lahan ia menarik pakaian dalam ke depan dan terus mencampakkan ke lantai.

Terpukau mata li kun liong ketika menatap dihadapan mata buah dada yang putih dengan puting kemerahan yang tadi hanya mampu ia lihat dari jauh saja. ia pegang dan pijit-pijit puting siau-erl sambil mulut mencium dan mengemut yang sebelah lagi. suara rengekkan siau-erl makin manja, makin gairah li kun liong.

Setelah kedua belah buah dada siau-erl ia emut.. ia hisap semaunya..di gigit-gigitnya manja puting susu siau-erl dan diikuti rangkulan yang erat siau-erl kepala li kun liong kedadanya.buah dada siau-erl terasa hangat bergeser dengan dadanya. perasaan yang sukar digambar, buah dadanya yang kenyal menekan-nekan dada li kun liong ke kiri dan kekanan mengikuti alunan gairah.

Setelah agak lama berpelukan li kun liong menatap sekujur tubuh siau-erl yang putih bak pualam di depan matanya. dia bangun berdiri.. siau-erl hanya memandang sayu melihat li kun liong melorotkankan pakaian yang dipakainya dan bertelanjang bulat dihadapannya. senjatanya yang sudah keras menegang dari tadi itu memerlukan sesuatu untuk dijinakkan.

Li kun liong kembali berbaring disisi siau-erl lalu mulai melepaskan celana panjang siau-erl dan dengan lembut aku menariknya ke bawah, lalu terus melucutkan terus dari tubuhnya. li kun liong mengusap-usap gerbang kewanitaan siau-erl, terasa basah. pahanya yang putih mulus ia raba dan usap sambil lidahnya menjilat dan mencium pusat siau-erl. tergeliat-geliat tubuh siau-erl diperlakukan begitu.

Li kun liong tak lepaskan pandangannya menatap sekujur tubuh lemah yang tidak dibaluti seurat benang pun yang berada di depan mata minta dijamah. dia terus membelai buah dada siau-erl yang menegang itu.dia kembali mengulum puting buah dada siau-erl sambil tangan kanannya merayap kearah lembah lalu mengusap sekitar lembah itu. segitiga emas milik siau-erl yang akan diterobosnya sekejap lagi.. li kun liong mulai mengusap dan menggosok di rekahan bawah lembah itu.

Terangkat-angkat punggung siau-erl menahan kenikmatan yang sukar digambarkan oleh kata kata. yang kedengaran hanyalah rintihan dan desisan manja lagi mempesona. kelihatan gerbang kewanitaannya berair dikelilingi bulu-bulu tipis berjaga rapi. disentuhnya gerbang kewanitaan siau-erl, terangkat tubuh siau-erl menahan keenakan. disentuhnya lagi dan menggeserkan jari-jarinya melewati lembah itu, suara mengerang mengiringi geliat tubuh siau-erl.

Sesuatu sebesar kacang kecil dimainkan li kun liong, digeserkan hingga suara yang dilepaskan siau-erl kali ini agak kuat dengan badan terangkat kekejangan. terasa basah jarinya waktu itu, sekarang li kun liong tahu siau-erl sudah sampai ke puncaknya.li kun liong terus menindih tubuh siau erl dengan lembut sambil mencium wajahnya. digeser-geserkan senjatanya dengan gerbang kewanitaan siau-erl. terasa ngilu ujung senjatanya ketika bergeser dengan bulu beludru sudah membasahi bagian keramat itu.

Setelah mendapatkan kedudukan yang tepat, ia hujamkan senjatanya ke gerbang kewanitaan siau-erl. sebagai seorang yang sudah berpengalaman siau-erl tahu apa yang akan li kun liong lakukan lalu dia membuka dan meluaskan kangkang pahanya sedikit. dengan perlahan-lahan diikuti dengan rintihan mereka berdua bersilih ganti. li kun liong terus menujam masuk perlahan lahan hingga sampai ke dasar dan biarkan sekejap ketika melihat siau-erl mengerutkan wajahnya yang sayu sambil mengatupkan bibirnya..

Li kun liong terus mencium leher dan mulutnya berulang kali. ketika dilihatnya keadaan siau-erl agak tenang, ia mulai mendayung.. menyorong masuk dan keluar perlahan lahan sambil siau-erl terus mendekap pinggul li kun liong dengan kedua belah kakinya sambil memeluk erat tubuhnya. kenikmatan pada waktu itu tidak terkata..
begitu nikmat ketika peluk dicumbu rayu oleh siau-erl.

Memang terasa nikmat ketika berada diatas tubuh siau-erl sambil li kun liong tak henti hentinya mengerang keenakan bersetubuh bersamanya. pengalaman siau-erl yang lumayan digunakan sepenuhnya untuk melayani li kun liong yang masih agak kaku ketika mulai menyentuh tubuhnya. li kun liong terus melakukan ayunan demi ayunan ke gerbang kewanitaan siau-erl dengan di iringi suara mengerang yang agak kuat sambil menyaksikan panorama di bawah yang cukup indah ketika melihat senjatanya keluar masuk dari gerbang kewanitaan siau-erl disamping bunyi irama yang menggairahkan.

Siau-erl memeluk erat tubuh li kun liong semasa berdayung, punggungnya bergerak atas bawah mengikuti hentak dayungan. sesekali dia menggoyang-goyangkan punggungnya membantu dayungan li kun liong, terasa kenikmatan yang tiada tara bandingnya.

Pengalaman siau-erl dalam hubungan ini begitu mengasyikkan li kun liong dan ia terus melajukan dayungan diiringi dengan suara rintihan siau-erl yang makin kuat sementara li kun liong melihat ayunan dan goyangan buah dada siau-erl yang berayun mengikuti irama.

Siau-erl memejam rapat matanya dan sesekali mengatupkan bibir menahan kepedihan.siau-erl mulai mengerang dan li kun liong dapat merasakan seolah-olah kejantanannya hendak terpancur keluar, dia lajukan lagi hayunan menujam masuk jauh kedasar gerbang kewanitaan siau-erl sedalam mungkin yang boleh diikuti dengan jeritan siau-erl yang agak nyaring lalu terpancur air jauh ke dasar lembah.

Tubuh li kun liong terkulai di atas tubuh siau-erl yang matanya masih terpejam rapat dengan mulut yang sedikit terbuka sambil mengeluh penuh kenikmatan disamping dadanya berombak laju, tetesan peluhnya membasahi kedua belah buah dada siau-erl, dikecupnya dahi siau-erl, siau-erl membuka matanya sambil tersenyum memandang li kun liong.
li kun liong membalasnya dengan mengecup mesra bibir siau-erl..

Dia masih terbaring di atas tubuh siau-erl di atas pembaringan empuk yang dibasahi dengan peluh. terasa degupan jantung yang kencang didada siau-erl.

Setelah berbaring beberapa lama, siau-erl bangun duduk disisi li kun liong dan mulai mengusap-usap senjata li kun liong dengan kedua belah tangannya. siau-erl bermain-main dengan senjata li kun liong sehingga keras kembali sambil tangan kiri li kun liong memainkan puting kiri siau-erl. ketika senjata li kun liong sudah cukup keras dan kembali menegang, siau-erl lekas bangun lalu naik ke atas tubuh li kun liong sambil perlahan lahan membenamkan senjata li kun liong ke dalam lembahnya. siau-erl terus menghenjut, kedua belah tangan li kun liong memegang dan meremas buah dadanya. sesekali siau-erl merapatkan buah dadanya ke dada li kun liong yang lalu dikecup penuh gairah.
Li kun liong dan siau-erl bertarung lagi, dalam tempo beberapa jam mereka menikmati bulan madu yang indah…..

keesokan paginya, selagi mereka makan pagi di warung makan, mereka mendengar kabar bangkitnya kembali partai mo-kauw. li kun liong dan siau-erl saling berpandangan ketika mereka tahu partai mo-kauw pun ingin merampas lukisan kuno. lukisan tersebut masih berada di saku baju li kun liong, tapi walaupun ia sudah berulangkali memeriksa lukisan pemandangan tersebut, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh.

siau-erl yang lebih mengetahui perihal sepak terjang partai mo-kauw di masa lampau, menceritakan dengan terperinci segala sesuatu yang ia ketahui tentang partaimo-kauw kepada li kun liong.

“aku rasa partai mo-kauw pasti mengetahui rahasia yang tersembunyi di dalam lukisan tersebut” kata li kun liong menarik kesimpulan.

“kalau begitu untuk mengetahui rahasia lukisan ini, kita perlu mencari tahu dariorang dalam partai mo-kauw” kata siau-erl

“benar, aku rasa cara itu adalah cara terbaik. cuma masalahnya, kita tidak mengenal satu pun anggota partai mo-kauw”
“di kota ini, ayahku dulu mempunyai seorang sahabat baik. waktu kecil aku sering di ajak ke sana, mungkin thio pek-pek (paman thio) masih berdiam di sini. thiopek-pek memiliki pergaulan yang sangat luas hingga ia mungkin dapat membantu kita.”
“kalau begitu sebaiknya kita segera ke tempat thio pek-pekmu tersebut”

singkat cerita mereka berhasil menemui sahabat baik ayah siau-erl yang berdiam di kota ini.sambil menghela nafas sedih thio pek-pek berkata kepada siau-erl “ayahmu merupakan sahabat karibku satu-satunya, sejak ia binasa pek-pek sudah berupaya mencaritahu siapa pembunuhnya tapi hingga sekarang belum berhasil.”

“thio pek-pek apakah sudah mendengar berita kembalinya partai mo-kauw di tiong-goan?”
“pek-pek memang mendengarnya, rimba persilatan sejak ini akan mengalami guncangan yang dahsyat seperti lima puluh tahun yang lalu.”
“apakah thio-pek-pek mengenal salah satu anggota partai mo-kauw?”
“siau-erl, mengapa engkau menanyakan hal tersebut?” tanya thio-pek-pek sambil mengerutkan dahinya.
“sebenarnya temanku ini yang memiliki urusan dengan partai mo-kauw” kata siau-erl mengelakkan pertanyaan tersebut.
“oh begitu.., sebenarnya pek-pek tidak mengenal satu pun anggota partai mo-kauw.hanya dari seorang kenalan yang dapat dpercaya, pek-pek mendengar kabar bahwa salah satu gembong top liok-lim yaitu tok-tang-lang (si belalang berbisa) merupakan salah tetua dari partai mo-kauw yang misterius, cuma benar atau tidaknya berita itu susah dipastikan.”

Diam-diam dalam hati li kun liong merasa kaget mendengar kabar susioknya si belalang berbisa ternyata adalah salah satu tetua dari partai mo-kauw, tidak heran sejak ia terjun ke dunia kangouw ia tidak berhasil menemukan jejak susioknya ini.
“apakah loo-enghiong tahu keberadaan tok-tang-lang?” tanya li kun liong.
“tidak, tapi sahabat lohu dari kay-pang kemarin mampir ke sini, ia mengatakan tok-tang-lang pernah terlihat di kota peking baru-baru ini”

Setelah berhasil mendapatkan informasi yang mereka inginkan, mereka berpamitan pada thio-pek-pek. li kun liong memberitahu siau-erl hubungannya dengan tok-tang-lang dan memutuskan pergi ke kota peking untuk mencari kabar keberadaan susioknya tersebut.
jilid 3 : Geger di markas besar kay-pang

“Sesuatu yang baik, belum tentu benar…
Sesuatu yang benar, belum tentu baik…
Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga ….
Sesuatu yang berharga/ berguna, belum tentu bagus…”

Peribahasa tersebut tergantung di warung makan terbesar di kota peking (Beijing sekarang) tulisan tangan seorang pangeran kepada pemilik warung makan sebagai tanda terima kasih telah menyediakan hidangan masakan yang paling lezat bagi rombongan tamu dari negeri seberang.

Dengan bangga, pemilik warung makan tersebut memajangnya di tengah-tengah ruangan makan hingga setiap pelanggan yang datang dapat melihat bahwa seorang pangeran pun memuji kelezatan masakan dari warung makan ini. memang sejak peribahasa tulisan tangan si pangeran di pajang, warung makannya menjadi sangat laris dan dalam waktu lima tahun berubah dari warung makan menengah menjadi warung makan terbesar dan terlaris di kota peking. Para pejabat pemerintah selalu menjamu tamu-tamu mereka di warung makan ini, membuat warung makan ini makin terkenal.

Siang hari itu cukup terik, sudah beberapa lama hujan tidak turun mendinginkan bumi. seorang dara muda dengan dandanan sederhana memasuki warung makan tersebut,langkah kakinya sangat anggun dan tenang. wajahnya cantik sekali hingga membuatpara pelanggan warung makan tersebut menghentikan kegiatan makan mereka.

Hampirsemuanya memandang ke arah gadis tersebut, mereka sangat kagum melihat kerupawanan wajah si gadis. ada yang memandang dengan terang-terangan, mengerling, atau melirik secara diam-diam. berbagai macam pikiran timbul di kepala mereka, ada yang memiliki pikiran tak senonoh seolah-olah hendak menelanjangi si gadis dengan tatapan mata mereka, ada yang hanya mengagumi saja namun ada juga yang mengkhwatirkan si gadis.

Dengan tenang cin-cin , nama gadis muda itu berjalan menuju ke sebuah meja kosong yang terletak di sisi jalan dan memesan beberapa macam sayur dan sepoci teh hangat. Ia sudah terbiasa melihat pandangan pria-pria tadi, sejak turun gunung sudah ratusan kali ia menghadapi tatapan seperti ini.

Pada awalnya ia merasa risih dan malu,namun lama kelamaan terbiasa bahkan ia merasa bangga akan kecantikannya. Entah sudah beberapa kali ia menghajar pemuda-pemuda iseng yang berusaha merayu dan menghinanya.sambil menunggu pesanannya datang, cin-cin memandang ke arah jalanan. suasana jalanan itu sangat ramai dengan lalu lalang orang, di sepanjang jalan nampak pedagang-pedagang kecil berjualan di sisi jalan menawarkan bermacam-macam barang dagangan, mulai dari bakmi, buah-buahan, permen, dan lain-lain.

Dimana ada keramaianbiasanya pengemis pun hadir mengais rezeki. beberapa pengemis muda tampak berlalu-lalang, mereka mengenakan pakaian pengemis pada umumnya, tapi bagi kaum kangouw mereka mengetahui para pengemis tersebut merupakan anggota perkumpulan pengemis terbesar kay-pang. pada jaman itu kay-pang sedang dalam masa puncak keemasannya, anggota kay-pang sudah mencapai jutaan orang dan tersebar kemana-mana.

Tak pelak lagi kay-pang adalah perkumpulan terbesar di dunia persilatan.saat itu kay-pang di pimpin oleh sun-lokai yang merupakan ketua kay-pang terlama dalam sejarah perkumpulan kay-pang. dalam masa kepemimpinannya pamor kay-pang meningkat pesat dari perkumpulan yang miskin menjadi perkumpulan yang makmur. dialah orang yang berhasil menyatukan kay-pang menjadi satu kesatuan perkumpulan pengemis, tiada yang lain. kalau dahulu penghasilan utama kay-pang berasal dari hasil setoran para pengemis yang menjadi anggotanya namun sekarang penghasilan utama kay-pang berasal dari pungutan-pungutan terhadap toko-toko, warung-warung, penginapan, pedagang-pedagang, hartawan, perusahan piauw-kiok.

Pungutan-pungutan tersebut diberikan secara sukarela sebagai imbalan dalam menjaga keamanan usaha mereka. sejak turut sertanya kay-pang menjaga keamanan, dunia bawah tanah menjadi teratur, tidak semrawut seperti dahulu, dimana masing-masing pihak menjadi raja kecil dan menguasai sepetak wilayah sebagai sumber rejeki mereka.

Tidak jarang timbul bentrokan-bentrokan berdarah memperebutkan wilayah-wilayah makmur dan memusingkan pihak kerajaan. tapi sejak kay-pang menguasai dan mengatur dunia bawahtanah, keributan-keributan mereda. pengaturan pembagian rejeki dilakukan secara terbuka, masing-masing pihak merasa berterima kasih akan kehadiran kay-pang dan sebagai wujud terima kasih, mereka memberikan setoran rutin kepada kay-pang.di samping itu bila kaum kangouw mempunyai sengketa atau membutuhkan informasi tertentu, mereka terlebih dahulu mencari kay-pang karena mereka tahu anggota kay-pang memiliki pengetahuan yang luas dan dapat di percaya.

Berita apapun yang hendak di cari, kay-pang dapat menyediakannya, tidak heran banyak kaum kangouw yang berlomba-lomba mendekati kay-pang dan membuat kay-pang makin makmur. Sedangkan bagi partai-partai besar lainnya, kalau tidak terpaksa mereka enggan bermusuhan dengan kay-pang. semua perselisihan yang timbul yang melibatkan anggota mereka,mereka selesaikan secara damai.

Saat ini pucuk pimpinan kay-pang dipegang oleh wakil pangcu kay-pang yaitu kam-lokai berusia enam puluh tahunan, sejak dua puluh tahun terakhir pangcu kay-pang sun-lokai menghilang tak ketentuan rimbanya. sudah belasan tahun semua anggota kay-pang tidak melihat kehadiran sun-lokai hingga praktis pimpinan tertinggi kay-pang saat ini di pegang oleh kam-lokai sebagai wakil pangcu, dibantu oleh beberapa orang tiang-lo dan murid-murid utama mereka.

Seperti yang kita ketahui kam-lokai hanya memiliki seorang murid saja yaitu tiauw-ki, dia adalah angkatan muda kay-pang yang paling lihai. dalam usia semuda ini tiauw-ki telah di beri kepercayaan memimpin divisi intelijen kay-pang, suatu divisi yang memiliki tugas menyerapi kabar-kabar terbaru dunia kangouw dan dampaknya terhadap dunia persilatan pada umumnya dan kay-pang pada khususnya. dari divisi inilah kabar bangkitnya kembali mo-kauw berhasil mereka bongkar dan menyiarkannya ke dunia kangouw.

Setiap tahun kay-pang selalu melakukan pertemuan tahunan di markas besar kay-pang di peking yang dihadiri oleh pucuk pimpinan kay-pang dan para kepala cabang kay-pang di seluruh tiong-goan. selain melaporkan situasi dan perkembangan masing-masing wilayah yang mereka pimpin, para kepala cabang kay-pang ini juga memanfaatkan pertemuan ini untuk saling silaturahmi dengan anggota lainnya hingga pertemuan tingkat tinggi ini biasanya diakhiri dengan mabuk-mabukan sampai pagi.

namun pertemuan kali bukan pertemuan tahunan, dilakukan lebih cepat dan mendadak, semua kepala cabang mendapat perintah untuk segera berkumpul ke markas besar secepatnya tanpa menjelaskan agenda yang hendak di bahas.demikianlah sekelumit mengenai perkumpulan kay-pang dan kebetulan hari ini cin-cin tiba di peking bertepatan dengan jadwal pertemuan tingkat tinggi kay-pang. dia tahu ayahnya memiliki hubungan yang akrab dengan ketua kay-pang sun-lokai, hingga ia hendak memakai kesempatan ini mengunjungi markas besar kay-pang untuk memohon bantuan informasi keberadaan li kun liong sekaligus menyampaikan kabar dirinya kepada orang tuanya melalui kay-pang.
Dia berencana mengunjungi markas kay-pang setelah selesai bersantap.

Cin-cin tidak menyadari dirinya sedang diamati oleh sepasang mata yang tajam mencorong dariseorang pemuda yang duduk agak jauh duduk di sebelah kirinya. pemuda ini wajahnya biasa-biasa saja, potongan tubuhnya cukup kekar dengan pakaian yang sangat sederhana tapi bersih. yang istimewa adalah sorot matanya, mereka yang bertatapan mata dengannya akan merasakan kewibawaan yang terpancar dari sorot matanya dan menimbulkan rasa segan.

usianya sekitar akhir dua puluh tahunan mendekati tiga puluh tahunan. pemuda ini duduk bersama seorang tua berusia sekitar tujuh puluh tahunan, tubuhnya kelihatan sangat lemah dan kurus kering, sesekali ia terbatuk-batuk. kalau sipemuda sorot matanya sangat tajam, orang tua ini sinar matanya sangat redup seperti lampu yang kehabisan minyak. pakaian yang dikenakannya juga sederhana bahkan boleh di bilang seperti gembel, bila tidak ditemani si pemuda, ia pasti di tolak masuk ke warung makan ini. tangannya terlihat gemetaran sewaktu mengambil makanan. mereka berdua memang tidak menarik perhatian siapa pun.

Si pemuda yang terus menatap cin-cin selain mengagumi kecantikannya juga karena bisikan si orang tua yang menyatakan mengenal pedang yang dipegang cin-cin. pedang itu adalah pedang pusaka yang diberikan ayahnya sewaktu ia berulang tahun ketujuh belas. pedang ini adalah pedang yang digunakan master the-kok-liang sewaktu malang melintang di dunia kangouw.tiba-tiba si pemuda bangkit berdiri menuju ke arah meja cin-cin, sambil menjurai berkata “maafkan saya nona, kalau tidak salah nona berasal dari thian-san-paibukan?”

melihat seorang pemuda berjalan ke arahnya dan menyapa dirinya, cin-cin dengan waspada berkata :
“siapakah anda dan mengapa tahu aku berasal dari thian-san-pai ?”
“kalau nona tidak keberatan, mari silahkan duduk bersama dengan guru cayhe, diaorang tua yang mengetahui asal-usul nona” kata si pemuda sambil menunjuk ke arahsi orang tua.

cin-cin melihat seorang tua yang lemah dan terbatuk-batuk ke arah sebelah kirinya, tertarik hatinya ia mengikuti si pemuda kembali ke mejanya dan duduk berhadapan dengan si orang tua.
sambil terbatuk-batuk si orang tua bertanya “apa hubungan nona dengan the-kok-liang?”
dengan terkejut cin-cin menjawab “dia adalah ayahku, apakah cianpwe mengenal ayahku”
“sudah kuduga, engkau pasti memiliki hubungan erat dengan the-kok-liang kalau tidak, tidak mungkin pedang pusaka kesayangannya sekarang berada di tanganmu. engkau benar, lohu memang mengenal ayahmu cukup baik, cuma tidak leluasa kalau bicara di sini, bagaimana kalau nona berjalan bersama-sama kami ?”

cin-cin semakin penasaran apalagi ketika si orang tua mengatakan mengenal ayahnya, serta merta ia mengangguk setuju. mereka bertiga lalu pergi meninggalkan warung makan tersebut dan berjalan menuju keluar kota. di pinggiran kota mereka beristirahat di sebuah kelenteng yang sudah tak berpenghuni. di tempat inilah baru si orang tua mengenalkan dirinya, ternyata dia orang tua adalah ketua kay-pang yang telah lama menghilang sedangkan si pemuda yang bernama kok-bun-liong adalah murid satu-satunya. sambil memberi hormat cin-cin berkata ” rupanya cianpwe adalah sun-lokai sahabat baik ayah, memang sudah lama ayah mencari-cari keberadaan cianpwe namun entah kemana saja cianpwe selama ini”

sambil menghela nafas panjang sun-lokai berkata “memang sudah hampir dua puluh tahun ini lohu menyembunyikan diri, selain untuk mendidik muridku ini juga untukmenghindari sesuatu hal”

cin-cin tidak berani bertanya hal apa yang sampai menyebabkan ketua kay-pang yang sangat termashur ini sampai menyembunyikan diri selama dua puluh tahun. di samping itu ia juga sangat heran melihat keadaan sun-lokai sekarang, hakekatnya ia seolah-olah tidak mempunyai tenaga lagi bagaikan orang yang tidak memiliki ilmu silat apa pun. sangat bertentangan dengan apa yang diceritakan oleh ayahnya mengenai sun-lokai, seorang yang gagah perkasa dan berwibawa serta memiliki ilmu silat yang sangat lihai.

“kalau boleh tahu cianpwe hendak menuju kemana?”
“kami hendak ke markas besar kay-pang” jawab kok-bun-liong.”
kebetulan sekali, aku pun hendak menuju ke sana untuk meminta bantuan mereka mengabarkan keadaanku kepada ayah di thai-san” kata cin-cin gembira.
“kalau begitu sebaiknya kita pergi bersama-sama” kata kok-bun-liong.sun-lokai menganguk-angguk tanda setuju.

— 000 —

Di bagian lain dari kota peking nampak sepasang muda-mudi berjalan menuju pusat kota. ketampanan dan kecantikan mereka mengundang decak kagum para pejalan kaki lainnya, mereka tampak sangat serasi di pandang, yang satu cantik yang lain tampan benar-benar pasangan yang sangat serasi.mereka adalah li kun liong dan siau-erl yang baru saja tiba di kota peking ini, bagaikan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta mereka tidak menghiraukan tatapan mata oarang-orang yang lewat.

Sorot mata siau-erl bercahaya berkilauan bagaikan mutiara, ia sangat berbahagia setelah bertahun-tahun mencari li kun liong akhirnya dapat berkumpul kembali, belum pernah ia merasa sebahagia ini dalam hidupnya. dia tidak mau memikirkan masa depannya dengan li kun liong, yang terpenting saat ini ia sudah merasa puas bertemu kembali li kun liong dan berjalan bersama-sama.

mereka berlalu masuk ke dalam warung makan, hari ini mereka bagaikan sepasang kekasih yang sangat bahagia. pancaran senyum yang ikhlas bersama gurau senda menghiburkan hati. bagi li kun liong sejak bergaul dengan siau-erl, perlahan tapi pasti benih-benih cinta mulai tumbuh bersemi bagaikan burung-burung menghampiri, menari dan bernyanyi merdu serta kupu-kupu berwarna-warni mengepakkan sayap, menghisap madu.awalnya ia memandang rendah siau-erl dengan latar belakang yang gelap namun kekuatan cinta siau-erl mampu membuatnya terharu dan merasa bersalah atas cara pandangnya selama ini.ia telah memikirkan hal ini berhari-hari lamanya, memang dulu ia seperti orang-orang lain pada umumnya yang menganggap keperawanan sebagai hal yang mutlak.

Namun sejak bergaul dengan siau-erl yang notabene bukan gadis lagi dan bukan berasaldari lingkungan baik-baik, pikirannya terbuka bahwa yang terpenting adalah bukan masalah keperawanan ataupun lingkungan asal si gadis melainkan hatinya. memang keperawanan dianggap sebagai mitos dalam kaca mata orang timur, virginitas lebih merupakan persoalan kultural. hanya saja ada ketimpangan atau ketidakadilan gender disitu, dimana perempuan cenderung dipojokkan dan dituntut untuk menjaga keperawanannya, sementara laki-laki tidak pernah dipermasalahkan ke-jantanan-nya.

Virginitas kemudian menjadi sebuah mitos yang sangat sakral, sehingga seolah-olah jika perempuan tidak virgin (perawan) lagi, habislah seluruh harapan hidupnya. oleh sebab itu, soal selaput dara tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran moral untuk menentukan baik-buruknya seorang perempuan, sebab bisa jadi ia tidakvirgin karena mungkin diperkosa, padahal di situ perempuan cenderung dalam posisi lemah, atau mungkin sebab berolah raga dan lain sebagainya. sehingga sangatlah naif dan tidak adil, jika mengukur moralitas hanya semata-mata kerena ia tidak perawan, yang biasanya ditandai oleh robeknya selaput darah. kalau virginitas itu disebabkan oleh karena ia melakukan seks bebas sebelum pra nikah, barangkaliumumnya orang sepakat, dan khususnya kultur orang timur akan mengatakan bahwa hal itu merupakan aib.

Namun mestinya stigmatsiasi seperti itu juga harus diberikan kepada kaum laki-laki, sehingga lebih adil. oleh sebab itu, harus ada pergeseran paradigma yang lebih berkeadilan gender.artinya bahwa tuntutan untuk menjaga kesucian sebelum pra nikah harus secara adil diberikan baik kepada kaum laki-laki, tidak hanya perempuan. memang untuk merubah pola pikir seperti ini tidak mudah, sebab mitos mengenai keperawanan itu sudah sangat berakar dalam pikiran, budaya dan kultur masyarakat kita. tidak berlebihan kiranya jika dikaitkan bahwa masalah keperawanan nampaknya lebih merupakanpersoalan kultur, dimana aroma patriarkhinya sangat kental. ia kemudian menjadi mitos yang cenderung merugikan perempuan. seolah perempuan kalau sudah tidak perawan lagi dengan serta merta diklaim sebagai perempuan yang tidak baik dan tidakbisa jadi harapan menjadi istri yang baik.

Akibatnya perempuan akan selalu merasa bersalah dan rendah diri dihadapan laki-laki jika kehilangan selaput daranya.anehnya tuntutan seperti itu hampir tidak pernah diberikan kepada laki-laki. mungkin karena alat kelamin laki-laki yang sulit dideteksi secara medis. namun bukankah yang menyebabkan tidak virgin karena hubungan seks juga laki-laki? jadi, kultur patriarkhi itulah sebenarnya yang sangat mendominasi mempermasalahkan soalkeperawanan perempuan. sebagai akibatnya soal keperjakaan seolah diabaikan sama sekali. sampai-sampai kadang jika lelaki menikahi perempuan yang tidak perawan lagi, ia merasa tidak puas, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. pandangan seperti ini jelas tidak adil dan sudah selayaknya di tinjau ulang. untuk itu diperlukan wawasan pikiran yang terbuka yang bisa di raih hanya melalaui pendidikan. di sini perlu ditegaskan bahwa masalah keperawanan perempuan bukan satu-satunya ukuran moral.

Masih banyak ukuran moral lain yang bisa dijadikan tolok ukur untuk mengukur moralitas seorang perempuan, misalnya dari segi tanggung jawabnya, kepribadian, dan keluhuran akhlaknya. mempermasalahkan keperawanan sebenarnya lebih kental dengan bungkus kultur patriarkhi, kemudian hal itu menjadi mitos, oleh karenanya perlu dibongkar dengan wacana yang lebih berkeadilan gender, sehingga seandainya laki-laki mau menikah dengan perempuan, mestinya tidak perlu hanya terjebak kepada persoalan keperwanan, apakah selaput darahnya masih utuh atau tidak, sebab boleh jadi calon istrinya seorang janda. memangnya laki-laki mau menikah dengan selaput darah? oleh sebab itu, bagi kaum laki-kali, hendaklah bisa memandang kaum perempuan secara lebih utuh dan tidak parsial. karena cara pandang seperti itu merupakan cara pandang yang lebih manusiawi dan merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada kaum perempuan.

Dalam hal ini li kun liong dan pendekar besar jaman dahulu yo-ko selangkah lebih maju terhadap pandangan kuno di atas, ia telah melewati tahap di mana kita harus dapat melihat segala sesuatu dengan hati terbuka dan melihatnya dari kedua sisi bukan hanya satu sisi saja.

kita tidak perlu takut cara pandang kita berbeda dengan kalangan umum sepanjang itu kita yakini kebenarannya. masalah moral merupakan masalah abu-abu, di suatu masyarakat saling berciuman di tempat terbuka dianggap tabu dan kotor sedangkan di masyarakat lainnya di anggap biasa dan merupakan ungkapan cinta kasih.

Mana yang benar dari kedua pandangan ini ? atau mengenai mati demi membela kepercayaan masing-masing dengan saling membunuhs esama manusia ciptaan tuhan, apakah dibenarkan?kembalilah ke diri anda masing-masing, tanya hati nurani anda sendiri jangan terpengaruh indoktrinasi nilai-nilai yang salah yang sejak kecil sudah ditanamkan ke kepala kita. sebagai manusia kita memiliki penasehat yang nomer wahid yaitu hati nurani, cuma kadang kali kita manusia sering mengabaikan penasehat utama ini,dikalahkan oleh nilai-nilai yang dibentuk dari hasil indoktrinasi sejak kecil tersebut.

Mereka masuk ke sebuah warung makan yang sangat ramai namun mereka berhasil mendapatkan sebuah meja kosong yang tersedia. li kun liong memandang sekelilingnya,ia merasa heran melihat cukup banyak kaum kangouw yang ada di warung makan ini,biasanya cuma satu-dua orang saja namun kali ini hampir semua tempat duduk di warung makan ini ditempati kaum dunia persilatan. sambil makan mereka menyerapi kabar terbaru dunia kangouw dari pembicaraan yang mereka dengar di rumah makan tersebut.

Kabar terbaru yang berhasil mereka dengar adalah pertemuan di perkumpulankay-pang yang berlangsung hari ini di markas besar kay-pang. kabarnya pihak kay-pang mengundang tokoh-tokoh puncak tujuh partai utama serta jago-jago persilatan kenamaan lainnya untuk membahas masalah bangkitnya partai mo-kauw. li kun liong merasa tertarik, ia ingin sekali dapat hadir di pertemuan tersebut, sayangnya
dia tidak mendapat undangan apa pun. di sini kembali siau-erl sangat membantu, tangannya yang mungil dan langsing secepat kilat beraksi merogoh saku baju seorang pria pertengahan yang melewati meja mereka. dengan tersenyum ia menyerahkan undangan dari kay-pang tersebut kepada li kun liong yang terkesima melihat kelihaian tangan siau-erl. namun otaknya yang cerdik sudah dapat meraba rahasia ilmu copet siau-erl yaitu kejelian memanfaatkan situasi dan kecepatan yang mengagumkan adalah kunci pokok mempelajari ilmu tersebut, hampir sama dengan ilmu silat dan ilmu lainnya. dalam hati ia berniat mencoba gerakan siau-erl yang berhasil ia tangkap tadi.

Keluar dari warung makan mereka langsung menuju markas besar kay-pang yang terletak di pinggiran sebelah barat kota peking. sepanjang jalan mereka melihat kaum persilatan mulai dari kaum tosu, *******, pengemis, pria pertengahan, muda-mudi,dan lainnya berbondong-bondong menuju markas kay-pang. gelagatnya pertemuan kali ini tidak kalah besarnya dengan perayaan ulang tahun ketua bu-tong-pai beberapa tahun yang lalu walau pun undangan yang dibagikan sangat mendadak, bahkan partai-partai yang letaknya sangat jauh tidak sempat di undang seperti partai thai-san-pai.markas besar kay-pang adalah sebuah gedung yang besar dengan kubah di tengah-tengahnya sebagai tempat berkumpulnya anggota kay-pang.

Ruangan tersebut mampu menampung ribuan orang anggota kay-pang sehingga sangat cocok buat pertemuan kali ini. walaupun bukan merupakan bangunan baru namun untuk sebuah markas pusat kay-pang jelas lebih dari cukup, nampak di pintu gerbang partai tersebut para pengemis menyambut kedatangan paratamu yang berdatangan dan mengarahkan mereka ke ruangan di tengah gedung. para tamu mereka layani dengan ramah dan disuguhi makanan-minuman yang berlimpah, jauh dari kesan serba kekurangan seperti yang dibayangkan sebagian dari mereka mengenai pengemis kay-pang.

Walaupun hidangan yang mereka pesan bukan dari rumah makan kelas satu namun rasanya tidak terlalu jauh berbeda, cukup lezat dan cukup untuk memberi makan ribuan orang.suasana sangat ramai, mereka yang saling mengenal saling bertukar sapa dan mengobrol dengan suara keras sambil menikmati makanan dan minuman yang disuguhkan dengan berdiri. kay-pang tidak menyediakan sebuah meja dan kursi apa pun bagi tamu-tamu mereka dan tidak ada perlakukan yang istimewa bagi tokoh-tokoh penting, semua dilayani seragam. begitu pula dengan makanan yang dihidangkan, yang datang pertama dilayani pertama, yang datang belakangan di layani belakangan. demikian budaya di kay-pang dan sudah diketahui khalayak umum.

Nampak para tamu yang hadir adalah tokoh-tokoh kenamaan dunia persilatan seperti ketua partai hoa-san-pai master yu-kang, ketua go-bi-pai ong-sun-tojin, ketua bu-tong-pai tiong-pek-tojin serta ketua biara shao-lin yang baru siang-jik-hwesio menggtikan ketua lama mereka tiang-pek-hwesio yang sudah berusia delapan puluh tahun lebih.

Juga hadir kepala keluarga Tong, Tong kang lam, keluarga tong ini sudah ratusan tahun terkenal dengan amgi (senjata rahasia)nya. dunia persilatan sudah mengenal kelihaian amgi bikinan keluarga tong, sangat dahsyat dan beracun, entah sudah berapa ribu orang binasa di tangan mereka sejak keluarga ini berdiri. tong kang lam berusia lima puluh tahunan, ilmu silatnya sangat lihai terutama tentu saja amgi yang ia miliki. apabila bertempur dengannya, lawan-lawannya menaruh beberapa bagian perhatian terhadap serangan senjata rahasianya.
tidak ada yang tahu kapan ia melepaskan amgi, tahu-tahu lawannya sudah binasa. kecepatan dan ketepatannya dalam melepaskan amgi diakui dunia persilatan sebagai nomer satu.

Sedangkan di kalangan yang lebih muda tampak hadir lu-***, jago muda terlihai dari go-bi-pai yang menyertai suhunya, ketua go-bi-pai ong-sun-tojin. juga terlihat tan sin liong dari bu-tong-pai dan bai mu an si pedang kilat melihat kehadiran li kun liong, lu ***, tan sin liong dan bai mu an ramai-ramai menghampiri.

“wah tidak di sangka li-heng yang namanya sekarang sudah mengetarkan sungai telaga ikut datang di pertemuan ini, benar-benar merupakan berkah bagi kita semua” kata bai mu an

“ah.. bai-heng bisa saja, cayhe hanya kebetulan lewat saja”
“li-heng, cayhe belum mengucapkan kata maaf telah salah prasangka mengenai kejadian bwe-hoa-cat dulu” kata lu *** sambil menjura minta maaf.

“tidak apa-apa lu-heng, memang situasinya waktu itu cukup sulit untuk membedakan siapa bwe-hoa-cat sebenarnya, yang sudah berlalu biarlah disudahi saja”

“cayhe setuju, sebenarnya sudah sejak awal cayhe ragu-ragu dan tak percaya li-heng adalah bwe-hoa-cat” kata tan sin liong.

Mereka lalu memperkenalkan li kun liong pada angkatan tua yang hadir.”omitohud, pendekar yang namanya sekarang sangat tenar ternyata masih sangat muda, benar-benar mengagumkan. kita-kita ini sebagai angkatan lama memang sudah waktunya memberikan tempat bagi yang muda-muda” kata ketua shao-lin-pai siang-jik-hwesio.

“taysu benar, gelombang baru tiangkang memang sudah datang, masa depan dunia persilatan sudah waktunya dibebankan kepada angkatan yang lebih muda” kata tiong-pek-tojin.

“yaah, situasi sekarang tambah sulit dengan kembalinya partai mo-kauw, lohu masih ingat tragedi lima puluh tahun yang lalu, benar-benar cobaan yang berat bagi dunia kangouw sekarang untuk mengatasi partai mo-kauw” kata ong-sun-tojin, ketua go-bi-pai sambil menghela nafas panjang.

“tapi kita tidak perlu patah semangat, angkatan muda kita sekarang jauh lebih lihai daripada kita-kita dahulu, apalagi li kun liong, menurut lohu sudah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu silat” kata master yu-kang, ketua hoa-san-pai dengan semangat. rupanya sutenya tong-leng (pemimpin gie-lim-kun) sun kai shek telah memberitahu semua kiprah li kun liong sejak terjun ke dunia kangouw.

“tidak berani, boanpwe masih harus banyak minta bimbingan dari para cianpwe” kata li kun liong tersipu-sipu.

Mereka lalu mengobrol sambil menyantap hidangan yang tersedia, dari pintu gerbang, agak jauh di sebelah kiri li kun liong nampak cin-cin beserta si kakek tua sun lokai dan muridnya kok bun liong baru tiba dan di terima murid-murid kay-pang.anggota kay-pang yang bertugas menyambut tamu kebanyakan adalah anggota muda sehingga tentu saja mereka tidak mengenal ketua mereka yang sudah menghilang selama dua puluh tahun.

Mengetahui rombangan cin-cin tidak membawa kartu undangan, murid kay-pang tersebut tidak memperbolehkan mereka masuk.selagi mereka berdebat, ketua panitia penyambutan tamu dari kay-pang yaitu tiang-lo han-lokai mendatangi. han-lokai merupakan salah satu tiang-lo kay-pang, usianya sudah enam puluh tahun lebih, wajahnya kurus pucat dengan sinar mata yang tajam.melihat keributan yang terjadi di pintu gerbang, segera ia menghampiri. Matanya tertumbuk sesosok tubuh tua sun-lokai, awalnya ia tidak mengenali ketuanya yang sudah jauh berubah dari pada dua puluh tahun yang lalu, namun lapat-lapat ia masih mengenali paras muka sun-lokai.

Dengan wajah sangat kaget, ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan terbata-bata “ti..dak di sangka akhirnya pangcu datang kembali ke markas kita yang tua ini, entah dari mana gerangan pangcu berada selama ini. sudah sekian lama kami mencari-cari pangcu tapi tidak menemukan jejak pangcu sedikit pun” dengan wajah terharu,
sun-lokai mengulurkan tangannya yang gemetaran menepuk pundak han-lokai dan berkata dengan nada sedih “baik-baikkah engkau han-lokai selama ini, bagaimana kabar yang lain, aku lihat kay-pang sekarang bertambah maju” sambil mengusap air mata yang meleleh di kedua matanya han-lokai berkata “syukur kami masih ingat petunjuk pangcu hingga selama dua puluh tahun ini kam-lokai dan para tiang-lo lainnya dapat mempertahankan kejayaan kay-pang yang sudah dirintis pangcu selama ini”

Kabar kembalinya pangcu kay-pang sun-lokai yang sudah menghilang selama dua puluh tahun dengan cepat dikabarkan ke dalam oleh anggota kay-pang yang menyaksikan kejadian ini. tak lama kemudian nampak muncul wakil pangcu kam-lokai diiringi beberapa tiang-lo dengan terburu-buru menuju ke pintu masuk, tidak mengindahkan sapaan para tamu yang hadir.melihat kejadian yang luar biasa ini, para tamu yang hadir tertarik hatinya mengikuti rombongan tokoh-tokoh kay-pang ini menuju pintu masuk.

Mereka melihat kam-lokai dan para tiang-lo berlutut di hadapan seorang kakek tua yang terlihat lemah, ringkih dan sesekali batuk-batuk tanpa henti. kabar kembalinya pangcu kay-pang dengan cepat tersebar di kalangan para tamu undangan.melihat para tokoh kay-pang yang rata-rata usianya sudah lanjut tersebut bertangisan, sungguh merupakan pemandangan yang sangat jarang terjadi sekaligus sangat mengharukan.

Para tokoh tua seperti ong-sun-tojin, tiong-pek-tojin, master yu-kang, siang-jik-hwesio tentu saja mengenal sun-lokai, dengan wajah kaget mereka mendatangi kerumunan anggota kay-pang yang mengelilingi sun-lokai. rata-rata mereka sangat kaget melihat perubahan sun-lokai selama dua puluh tahun ini, entah apa gerangan yang terjadi menimpa diri sun-lokai selama ini hingga keadaannya sekarang sangat mengharukan.

Mereka tentu saja dapat melihat sun-lokai sudah tidak memiliki kepandaian ilmu silat apa pun alias ilmu silatnya sudah punah bahkan mengalami penderitaan batin yang cukup parah, terbukti dengan batuknya yang tiada henti. beramai-ramai rombongan kay-pang mengajak sun-lokai memasuki ruangan pertemuan sambil dipapah oleh kam-lokai. para tamu undangan mengikuti, mereka sangat ingin tahu musibah apa yang menimpa diri sun-lokai selama ini.dengan wajah sangat terharu dan suara yang gemetaran sambil sesekali batuk-batuk, sun-lokai menuturkan kejadian yang menimpanya.

Dengan mata sayu ia bertanya kepada kam-lokai “dimana seng-lokai, lokai kok dari tadi tidak melihatnya?”
kam-lokai memandang sekelilingnya mencari keberadaan seng-lokai, dengan heran ia baru menyadari sedari tadi seng-lokai tidak kelihatan batang hidungnya padahalsebelumnya ia melihat seng-lokai di ruangan dalam. ia menanyakan keberadaan seng-lokai kepada para tiang-lo namun mereka pun tidak tahu di mana adanya seng-lokai.
“mungkin seng-lokai ada urusan mendadak hingga sampai sekarang belum menampakkan diri” kata kam-lokai menduga-duga.

Mata sun-lokai yang sayu menampilkan kilatan cahaya, ia berkata “tidak usah dicari, lokai yakin sekarang ini ia pasti sudah kabur jauh-jauh. agar kalian tahu yang membuat lokai seperti sekarang ini, biang keladinya adalah seng-lokai” perkataan sun-lokai di sambut dengan geger dan rasa kaget dari para anggota kay-pang serta para tamu sekalian, mereka tdak bisa mengucapkan sepatah kata pun, lebih-lebih para anggota kay-pang.

Selama dua puluh tahun ini seng-lokai di anggap orang nomer dua setelah kam-lokai, tindak tanduknya sangat dihormati seluruh anggota kay-pang bahkan setahu mereka selama ini justeru seng-lokai lah yang paling getol berusaha mencari keberadaan sun-lokai. namun apa yang mereka dengar dari sun-lokai mau tidak mau harus mereka percayai. melihat kekagetan mereka, dengan tersenyum sedih sun-lokai berkata “lokai tahu pasti kalian kaget dan tak percaya bahwa yang menjebak diriku adalah seng-lokai. lokai tidak menyalahkan kalian, dulu pun lokai sangat percaya pada seng-lokai hingga akhirnya masuk dalam perangkapnya.

Waktu itu di markas ini, seng lokai menemuiku, ia memberitahukan sebuah berita yang mengejutkan kepada lokai bahwa han-lokai yang waktu itu masih menjabat sebagai salah satu ketua cabang kay-pang di kota gui-yang, adalah seorang penghianat,seorang mata-mata partai mo-kauw.

Mendengar berita tersebut tentu saja lokai sangat kaget dan tak percaya, namun dengan kata-katanya yang berbisa seng-lokai berhasil mengajakku untuk membuktikannya. untuk menghindarkan kebocoran, seng-lokai memintaku untuk tidak memberitahu tiang-lo yang lain, karena katanya dia belumyakin bahwa mata-mata mo-kauw cuma han-lokai seorang, mungkin masih ada yang lain hingga akhirnya lokai menyetujui usulnya tersebut. begitulah, berdua dengan seng-lokai, kami pergi ke kota gui-yang untuk membuktikan perkataannya.

Rupanya seng-lokai sudah mengatur siasat, di tengah jalan lokai di hadang beberapa tetua mo-kauw dan mengalami pengeroyokan. waktu itu lokai masih belum tahu bahwa justeru seng-lokai lah sebenarnya mata-mata mo-kauw. kami berdua dengan mati-matian bertempur dengan anggota mo-kauw tersebut, ilmu silat mereka sangat lihai, lokai duga mereka ini adalah tetua-tetua mo-kauw. selama ratusan jurus lokai berhasil melukai dua orang pengeroyok, namun karena dikeroyok, kami mulai kehabisan tenaga.

Saat itulah selagi lokai sibuk mempertahankan diri dari serangan lawan, sekonyong-konyong seng-lokai berbalik arah, tahu-tahu lokai merasakan gebukan tongkatnya mengancam punggungku. kaget dengan perubahan yang sangat mendadak ini, lokai tidak berhasil mengelakkan diri dari bokongan seng-lokai ini hingga bagian pundak belakang lokai terhajar telak tongkat pemukul anjingnya dan menghancurkan tulang pundakku. bokongan tersebut membuat lokai terluka parah hingga beberapa kali tusukan pedang mereka berhasil mampir di tubuhku. tapi untungnya dengan susah payah akhirnya lokai berhasil melarikan diri dari kerubutan mereka.

Saat itu keadaan lokai ibarat lampu yang kehabisan minyak, lukaku sangat parah dan mengeluarkan darah yang banyak dan membuat lokai pingsan. untungnya saat itu muridku ini kok-bun-liong yang berusia sepuluh tahun, menemukan tubuh lokai dan membawanya ke dusun mereka. di sana dengan bantuan tabib desa, lokai berusaha memulihkan diri. tapi sayangnya luka-lukaku berada di bagian-bagian tubuh yang penting hingga selama beberapa bulan pertama praktis tidak ada kemajuan yang berarti.

Luka yang paling parah adalah bokongan seng-lokai yang berhasil menghancurkan tulang pundakku dan tusukan pedang tetua mo-kauw di pundak kanan yang memutuskan beberapa otot-otot penting serta tusukan pedang di kakiku, dada sebelah kiri dekat jantung, hingga walaupun sembuh membuat lokai tidak bisa bermain silat lagi. selama sepuluh tahun pertama lokai berangsur-angsur sembuh, selama itu lokai untuk berjalan pun lokai tidak dapat, namun setelah itu perlahan-lahan lokai bisa berjalan walaupun tidak bisa jauh-jauh.sekarang walaupun keadaan lokai sudah jauh lebih baik, namun kadang-kadang masih menahan sakit, susah bernafas dan batuk-batuk. syukur ada kok-bun-liong yang akhirnya lokai angkat sebagai murid satu-satunya yang menemani dengan setia hingga sampai sekarang lokai mampu bertahan hidup dan menceritakan semua ini.”

Dengan berlinang air mata, para anggota kay-pang mendengarkan penuturan sun-lokai, mereka mengutuk habis-habisan penghianatan seng-lokai. kam-lokai segera meminta ijin sun-lokai untuk memburu dan menangkap seng-lokai hidup atau mati.

Dengan terbatuk-batuk sun-lokai berkata “selama ini boleh di bilang engkaulah yang memimpin kay-pang, dari dulu lokai memang sudah berniat mengangkatmu menjadi penggantiku karena lokai lihat engkaulah anggota kay-pang yang paling mengetahui seluk beluk partai selain diriku. mulai sekarang engkau adalah pangcu kay-pang menggantikan diriku yang sudah tak berdaya ini”

Melihat gelagat kam-lokai hendak menolak, sun lokai mengangkat tangan kanannya yang lemah dan berkata “kam-lokai harap mendengarkan perintah!” dengan tergesa-gesa kam-lokai berdiri tegak dan berkata “siap melaksanakan setiap perintah pangcu”

“mulai detik ini engkau adalah pangcu generasi ke-18 kay-pang menggantikan diri lokai dan harus berusaha sekuat tenaga mengembangkan kejayaan kay-pang”

sambil berlutut menyembah sun-lokai, kam-lokai berkata “siap terima perintah pangcu, lokai pasti akan berusaha sekuat tenaga memajukan partai kita dan menangkap penghianat partai seng-lokai hidup atau pun mati!”

Perkataan kam-lokai disambut dengan tepuk tangan gemuruh oleh para anggota kay-pang, mereka menyambut gembira pengangkatan kam-lokai sebagai pangcu baru kay-pang. para tamu undangan pun bertepuk tangan menyambut ketua kay-pang yang baru. atas desakan sun-lokai, upacara pengangkatan pangcu baru dilakukan saat itu juga. para murid kay-pang buru-buru mempersiapkan segala sesuatu seadanya.

Sambil menerima tongkat pusaka pemukul ****** berwarna hijau dari muridnya kok-bun-liong, sun-lokai menyerahkan tongkat komando tersebut kepada kam-lokai yang berlutut di hadapannya, lalu meludahi kam-lokai. kemudian ritual pengangkatan pangcu baru kay-pang dilanjutkan dengan masing-masing anggota kay-pang meludahi pangcu baru mereka. upacara ini sudah merupakan tradisi sejak kay-pang berdiri, setiap pangcu baru harus menerima tongkat pusaka pemukul ****** dari pangcu terdahulu dan ludah dari para anggota kay-pang sehingga pengangkatannya menjadi resmi.

Beberapa hari kemudian, sun-lokai mulai mengajarkan rahasia tang-kaw-pang-hoat (ilmu tongkat pemukul ******) yang khusus diwariskan secara lisan oleh pangcu sebelumnya kepada pangcu baru. ilmu ini hanya diajarkan kepada pangcu kay-pang, bahkan muridnya kok-bun-liong tidak ia ajarkan ilmu ini.

kok-bun-liong sendiri di terima dengan tangan terbuka oleh para murid kay-pang bahkan sekarang ia mengenakan pakaian tambal-tambalan yang merupakan ciri khas anggota kay-pang. para tiang-lo kay-pang yang menguji ilmu silat kok-bun-liong sangat gembira angkatan muda kay-pang memiliki jago baru selain tauw-ki.

Memang kok-bun-liong sudah menguasai semua ilmu yang diajarkan sun-lokai, bahkan beberapa jurus ilmu hang-liong-si-pat-ciang (ilmu 18 tapak penakluk naga) yang sudah lama punah berhasil ia pelajari dari suhunya hingga ilmu silatnya sekarang susah diukur. dia dan tiauw-ki segera menjadi akrab, mereka saling merasa cocok satu sama lain.
jilid 4 : lika-liku asmara

Sementara itu, sewaktu para tamu mengerumuni sun-lokai, li kun liong melihat kehadiran cin-cin di sebelah kok-bun-liong.dengan gembira, ia menghampiri dan mengamit lengan cin-cin, merasa seseorang menjawil lengannya cin-cin menoleh, dilihatnya wajah pria pujaan hatinya yang tersenyum-senyum menatapnya. sambil terbelialak kaget, cin-cin berseru kegirangan “liong-ko, akhirnya aku berhasil menemukanmu, kemana saja selama beberapa tahun ini, kok tidak pernah mengunjungi thai-san lagi, tahu tidak mengapa aku sendirian tidak ada yang menemani” berondong cin-cin.

Sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, li kun liong mengajak cin-cin sedikit menjauh dari kerumunan tersebut, dalam hatinya ia tertawa melihat cin-cin yang masih tetap ceplas-ceplos, tidak berubah sedikitpun.sambil menatap cin-cin dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, li kun liong berseru “wah cin-cin sekarang engkau sudah menjadi gadis dewasa dan semakin cantik saja.”

Dengan wajah berubah kemerahan menambah kecantikannya cin-cin memukul pundak likun liong dan berkata dengan nada manja,

“liong-ko, engkau tidak berubah juga, semakin gede semakin kurang ajar.” sambil tertawa lepas,

li kun liong berkata “cin-cin, memangnya kenapa engkau berkelana sendirian, kemana tang-heng dan kedua orang tuamu ?”

dengan wajah berubah bagaikan langit cerah menjadi mendung, cin-cin berkata singkat “aku minggat dari rumah”
“mengapa, apa yang terjadi ? ”
sambil mengelengkan kepalanya, cin-cin mencoba mengganti topik pembicaran, “liong-ko, aku mau memberitahumu berita sedih”
“berita apa, cin-cin, apakah suhu baik-baik saja?”
“***-locianpwe sudah meninggal satu tahun yang lalu karena sakit tua” kata cin-cin hati-hati.

Berita kematian suhunya diterima li kun liong bagaikan gelegar guntur di siang hari, dengan mata nanar tak percaya, ia menatap cin-cin , “ja..ddi suhu telah berpulang?”cin-cin mengangguk lemah dan berkata, “sebelum meninggal ***-locianpwe berpesan pada ayah untuk tolong menyampaikan kata-kata perpisahannya kepadamu, ***-locianpwe berharap engkau dapat menjaga diri dengan baik”sambil menutupi wajahnya dengan kedua tanggannya, li kun liong menjatuhkan dirinya berlutut, mendoakan arwah gurunya, ia menyesal tidak dapat bertemu kembali dengan suhunya. butir-butir airmata kesedihan meleleh dari balik wajahnya mengalirdi sela-sela kedua belah tangannya.

“liong-ko, jangan sedih, ***-locianpwe pergi dengan hati tenang. sesuai pesannya, kami membakar jenasahnya, sementara abunya di simpan di thai-san-pai menunggu kepulanganmu”

Perlahan-lahan kesedihan li kun liong mereda, tiba-tiba ia menyadari ketidakhadiran siau-erl, saking gembiranya bertemu dengan cin-cin, sesaat ia lupa keberadaan siau-erl. matanya mencari-cari siau-erl, tapi tak ditemukannya, entah kemana siau-erl.

Melihat li kun liong kebingungan, seolah-olah mencari sesuatu, cin-cin bertanya “liong-ko, apakah engkau mencari seorang gadis berbaju merah muda, siapakah dia?”
“dia adalah teman seperjalananku, engkau tadi lihat dia dimana cin-cin?”
“tadi dia sedang berjalan ke arah pintu keluar markas kay-pang ini menuju arah timur” kata cin-cin perlahan. seolah pisau yang sangat tajam perlahan-lahan menusuk jantungnya, wajah cin-cin sedikit berubah kepucatan. sang pujaan hati yang ia harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan … berlabuh dihati yang lain, kekecewaan merebak dihatinya.”mari kita kejar” kata li kun liong sambil menarik tangan cin-cin tiba-tiba.

Terpaksa cin-cin mengikuti langkah li kun liong mencari siau-erl. li kun liong tidak tahu bahwa cin-cin berbohong mengatakan siau-erl berjalan keluar ke arah timur yang benar adalah arah barat. jadi setelah sekian lama berlari-lari mengejar, mereka tidak berhasil menangkap secuil bayangan siau-erl sedikit pun.

Seorang wanita yang sedang jatuh cinta mampu melakukan apa pun untuk mempertahankan kehendaknya, tak terkecuali cin-cin.
“liong-ko, ilmumu sekarang maju sangat pesat, susah payah aku mencoba mengikutimu barusan” kata cin-cin sambil menyeka keringat di keningnya. dia berusaha terlihat ceria dan menghibur li kun liong. dengan termangu-mangu, li kun liong menatap di kejauhan, pandangannya tak lepas dari arah timur yang bergaris lurus dengan tempatnya sekarang.

Kelopak matanya hampir tak berkedip sama sekali, di sana ia seperti baru menemukan sesuatu yang hilang darinya.setelah berdiam membisu beberapa lama, li kun liong kembali membumi. dia mengajak cin-cin kembali ke kota peking, ia berharap dapt menemukan siau-erl di sana.sepanjang jalan mereka membisu, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-se ndiri. tiba-tiba li kun liong memecahkan keheningan dengan bertanya “cin-cin tadi engkau belum menjawab kenapa sampai minggat dari rumah?”

dengan wajah sedikit berubah, cin-cin menjawab “ayah dan ibu mau menjodohkanku dengan toa-suheng, aku bingung sebab aku masih ingin bebas, tidak mau terikat.”
“lalu bagaimana dengan tang-heng, apakah dia mencintaimu?”
“aku tidak tahu, selama ini toa-suheng sudah aku anggap sebagai kakak sendiri” kata cin-cin dengan wajah memerah.
“sebenarnya aku merasa tang-heng pasti sangat menyukaimu sebab dari dulu sikapnya terhadapmu sangat baik sekali, engkau beruntung mempunyai pasangan seperti tang-heng.”
“sudahlah, jangan mendorong-dorong seperti ayah dan ibu” kata cin-cin merajuk.
sambil tertawa li kun liong berkata “baiklah, semuanya memang terserah engkau. sekarang engkau hendak kemana?”
“aku ikut liong-ko kemana saja” katanya manja.
“sebaiknya kita menginap dahulu selama beberapa hari di kota ini, aku sedang mencari susiokku “.

Li kun liong menceritakan segala tentang susioknya tersebut kepada cin-cin.”selama beberapa hari ke depan mereka berdua tinggal di kota peking untuk mencari kabar berita susiok li kun liong namun tetap tiada kabar apa pun. selama di peking tentu saja mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan menikmati masakan-masakan khas kota peking seperti bebek panggang peking yang sangat terkenal kelezatannya.

Tidak ketinggalan, mereka juga berkeliling kota peking dan mengunjungi tempat-tempat pelancongan yang sangat terkenal seperti melihat-lihat taman yihe, tamanbeihai, gunung xiangshan, pemandangan indah dan bangunan yang mengagumkan meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi mereka. mereka juga menikmati opera peking, opera ini merupakan opera kebanggaan kota peking.

Bentuk persembahan opera peking bermacam-macam, yang meliputi nyanyian, dialog dan aksi. Make up muka opera peking juga beraneka-ragam dan peranannya jelas. Make up muka opera peking ialah mengecap muka pelakon opera peking dengan pelbagai warna untuk melambangkan perangai dan nasib watak itu.

Merah menandakan taat setia, hitam menandakan berani, biru dan hijau menandakan pahlawan, kuning dan putih menandakan licik.seusai menyaksikan pertunjukan opera, malam semakin tua dan rembulan bulat penuh menggantung di langit yang sunyi. purnama, dan indah. hawa dingin malam semakin menusuk tubuh, li kun liong dan cin-cin berjalan santai melewati jalanan yang sepi menuju rumah penginapan.

Tiba-tiba sesosok bayangan berpakaian ya-heng-ie (pakaian berjalan malam berwarna hitam) kepergok mata li kun liong yang tajam, berkelabat di atas wuwungan bangunan dan dengan cepat menghilang di balik bangunan tersebut. segera ia mengamit cin-cin utuk mengikuti bayangan tersebut. dengan bingung cin-cin mengikuti li kun liong melayang ke atas wuwungan, dia tidak melihat bayangan yang barusan berkelabat.

Gerakan bayangan tersebut sangat cepat, samar-samar terlihat bayangan tersebut berlari menuju keluar kota. cin-cin merupakan salah satu anggota partai thai-san-pai yang terlihai, tentu saja ilmu meringankan tubuhnya termasuk nomer wahid sehingga dengan mudah ia mampu mengikuti li kun liong memburu bayangan tersebut.

Segera keluar dari kota peking, bayangan itu berlari ke arah selatan menuju sebuah hutan dengan pepohonan yang lebat.dengan hati-hati dan menjaga jarak, mereka terus mengikuti bayangan tersebut masuk ke dalam hutan. kira-kira sepertanakan nasi, bayangan tersebut tiba-tiba berhenti di suatu bidang datar dan menoleh ke sekelilingnya dengan waspada.

Untung li kun liong telah menduganya hingga sewaktu bayangan tersebut menoleh ke belakang, mereka telah bersembunyi di balik semak-semak lebat yang tumbuh di sekitarnya.merasa aman, bayangan tersebut membuka kain hitam yang dikenakannya lalu mengumpulkan ranting-ranting yang berserakan dan menyalakan api unggun. ia duduk di dekat api unggun tersebut sambil sesekali melemparkan ranting-ranting kecil menjagaagar api unggun tetap menyala. sinar api unggun menerangi wajah bayangan tersebut, nampak oleh mereka sesosok wajah pria berusia lima puluh tahunan yang bersih dengan sedikit kerut di mukannya. wajahnya terkesan baik dan gagah, menyisakan ketampanan di masa muda.

Li kun liong memberi isyarat cin-cin utuk tidak sembarangan bergerak, dari ilmu meringgankan tubuh yang dimiliki pria tersebut, ia dapat menduga ilmu silatnya sangat lihai. sedikit bunyi saja dapat membuat mereka konangan, dia ingin tahu siapa yang sedang di tunggu bayangan tersebut, ia seolah-olah mempunyai firasat kejadian ini berkaitan dengan dirinya.

Beruntung mereka tidak gegabah bergerak, telinga li kun liong yang tajam tiba-tba mendengar suara keresekan lirih dari ranting yang patah di injak dari kejauhandi sebelah kiri mereka. cin-cin yang masih belum mengetahui hal tersebut, berusaha memperbaiki kedudukannya namun sebelum sempat ia bergerak, tubuhnya sudah ditarik li kun liong merapat ketat. dengan berbisik lirih di telinga cin-cin, li kun liong memberitahu mereka.

Benarlah, tak lama kemudian muncul dua sosok bayangan hitam muncul dekat sekalidari tempat persembunyian mereka, berkelabat menuju pria di dekat api unggun tersebut.dengan penuh perhatian li kun liong mengamati kejadian yang sedang berlangsung. di lain pihak, hati cin-cin berdebar-debar, saking dekatnya mereka ia dapat membaui aroma kelakian li kun liong, membuatnya mabuk kepayang.

Dia dapat melihat semua garis muka li kun liong yang halus dan tampan. alis matanya yang lebat berbentuk golok melengkung menambah daya tariknya. baru kali ini ia berdekatan denganseorang pria sedekat ini, seketika gairah kewanitaannya bangkit, tanpa sadar tubuhnya semakin merapat ke tubuh li kun liong. li kun liong yang sedang memusatkan perhatiannya ke depan merasakan kedekatan ini, ia mengira cin-cin merasa takut hingga ia pun semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh ramping cin-cin untuk menenangkan. tapi hal tersebut malah membuat cin-cin salah paham, ia mengira li kun liong menaruh perhatian terhadapnya hingga hatinya berbunga-bunga.

Nampak di depan, mereka yang berada di dekat api unggun tersebut mulai melakukan pembicaraan serius. malam itu sangat sunyi hingga sangat membantu pendengaran li kun liong dalam menangkap pembicaraan mereka. jarak mereka dengan api unggun cukup jauh namun dengan pendengaran yang tajam di bantu oleh sunyinya malam tersebut pembicaraan mereka dapat didengarnya dengan jelas.

Mereka yang datang belakangan terdiri dua orang pria, seorang pria berusia tigapuluh lima tahunan berbaju hijau, wajahnya kaku tanpa senyum. orang yang lain adalah seorang pemuda dua puluh tahunan berbaju biru, berwajah cukup tampan.setelah memberi salam hormat, pria berbaju hijau tadi berkata kepada pria yang datang pertama

“tetua pelindung kiri, kauwcu memerintahkanku untuk mengambil alih pimpinan di tiong-goan ini dan menyuruh tetua untuk kembali ke persia melaporkan hasil pengamatan terhadap partai-partai utama selama ini”

“baiklah gu sik, lohu segera terima perintah kauwcu, kebetulan rahasiaku di kay-pang sudah terbongkar hingga untuk sementara kurang leluasa untuk bergerak.”
“apa yang terjadi tetua” tanya pemuda berbaju biru.
“sun-lokai yang waktu itu berhasil lohu jebak dan bersama-sama tetua pelindung kanan serta kawan-kawan yang lain ternyata masih hidup. lalu ia menceritakan semua kejadian di pertemuan kay-pang beberapa hari yang lalu.”

Li kun liong menatap pria yang pertama kali datang tadi dengan lebih teliti, ternyata pria inilah yang di kenal sebagai seng-lokai
penghianat kay-pang sekaligus sebagai tetua pelindung kiri dari partai mo-kauw. tanpa disangka-sangka ia berhasil mencuri dengar rahasia percakapan tokoh-tokoh puncak mo-kauw.

“oh ya tetua, sebelum pergi apakah pernah berjumpa dengan putri kauwcu ?” tanya pemuda berbaju biru.
“tidak pernah, apa yang terjadi han tiong?” tanya seng-lokai.
“cu-moi pergi tanpa pamit ke tiong-goan, aku di perintah suhu untuk mencari dan membawanya pulang, namun sampai sekarang tidak berhasil mendengar kabar beritanya” kata pemuda yang di panggil han tiong tersebut.
“memang bi cu sangat manja, sebaiknya engkau segera menemukannya, lohu takut ia membuat onar dan membahayakan operasi kita di sini” kata seng-lokai.

Seng-lokai lalu memberitahu pria yang dipanggilnya gu sik segala sesuatu yang diperlukan dalam peralihan komando. semakin lama mendengarnya semakin kaget li kunliong, ternyata gerakan mo-kauw memang tidak main-main, terbukti mereka sudah berhail menyusupkan mata-mata di tubuh ke tujuh partai utama bahkan mata-mata tersebut memiliki kedudukan yang cukup tinggi hingga akibatnya susah dibayangkan bagi ke tujuh partai utama apabila mata-mata mo-kauw mulai digerakkan untuk mengacaukan keadaan.

Seng-lokai menyerahkan selembar kertas yang memuat nama-nama dan kedudukan mata-mata mo-kauw di tujuh partai utama tiong-goan. di samping itu, seng-lokai juga memberitahu kematian tiong-cin-tojin dan tiong-jin-tojin, mata-mata yang berhasil mereka susupkan di bu-tong-pai. dengan kematian kedua mata-mata tersebut berarti hanya bu-tong-pai dan kay-pang yang bersih dari kegiatan intelijen partai mo-kauw.

Selagi mendengarkan dengan serius pembicaraan tokoh-tokoh mo-kauw, cin-cin yangperhatiannya terpecah akibat berdekatan dengan li kun liong tanpa sengaja bergerak dan menginjak sepotong ranting kering. suara patahan ranting tersebut memecahkan keheningan malam, bagaikan copot jantung cin-cin mendengarnya.

Rombongan mo-kauw ini semuanya memilki ilmu silat yang sangat lihai, tentu saja mereka tahu ada yang sedang menguping pembicaraan mereka, dengan sebat mereka bertiga berpencar mengepung dari jurusan yang berbeda-beda, menghadang jalan perginya si penguping.

Li kun liong mengeluh dalam hati melihat kecerobohan cin-cin, tapi apa boleh buat nasi telah menjadi bubur. mereka keluar dari persembunyian dengan tenang dan bersiap siaga. rombongan mo-kauw yang mengepung mereka berdua kaget melihat yang menguping pembicaraan mereka adalah sepasang muda-mudi yang masih keroco.

“he..he.he, kalian mencari kematian buat diri sendiri, terlalu lancang mendengarpembicaraan kami” kata ciang-gu-sik dengan menyeringai seram.
“siapa kalian, mengapa menguping pembicaraan kami” tanya seng-lokai.
“hm, rupanya kalian dari mo-kauw sudah berani mati meluruk kembali ke tiong-goansini” kata li kun liong geram.
“han tiong coba engkau hadapi pemuda kurang ajar ini” kata seng-lokai memandang enteng.

Sebelum han tiong bergerak, li kun liong dan cin-cin telah bertindak duluan menyerang rombongan mo-kauw.cin-cin menghadang di depan han tiong, sinar pedangnya berkelabat mengincar bagian tubuh han-tiong. ceng han tiong tergopoh-gopoh menghindari serangan tersebut. dia merasa kaget gadis cantik ini memiliki ilmu pedang yang sangat lihai, hampir ia terjungkal karena terlalu memandang enteng.

Sambil mengelak ke sana kemari,ia berusaha mengenali aliran pedang cin-cin, beberapa jurus kemudian barulah ia mengetahui ilmu pedang cin-cin berasal dari aliran thai-san-pai. ilmu pedang cin-cin cukup hebat, jago kelas satu belum tentu dapat dengan mudah menghindari serangan pedangnya. sayang kali ini ia berhadapan dengan murid aliran mo-kauw yang terkenal sebagai jagoan tanpa tanding sejak lima puluh tahun yang lampau, lebih-lebih berhadapan dengn murid penutup ketua mo-kauw sekarang. tapi tentu saja tidak begitu mudah bagi ceng-han-tiong untuk mengalahkan cin-cin, apalagi ia tidak tega bertindak terlalu keras karena berhadapan dengan seorang gadis yang sangat cantik.

Kecantikan gadis ini membuatnya terpesona, walaupun ia bukan seorang buaya darat namun memang kecantikan cin-cin sangat khas, bahkan sumoinya kim bi cu masih kalah cantik dengan gadis ini. demikianlah untuk sementara cin-cin mampu bertahan.

Di lain pihak, pertempuran antara li kun liong degan seng-lokai berlangsung seru. masing-masing pihak mencoba mengambil inisiatif menyerang dan berusaha menjatuhkan lawan masing-masing secepat mungkin. dalam gebrakan pertama masing-masing sudah merasa kaget karena mengenali gaya yang mereka gunakan hampir sama, terutama seng-lokai yang mengenali jurus-jurus serangan li kun liong yang sangat dikenalnya. begitu pula li kun liong, walaupun jurus serangan seng-lokai campur baur dengan aliran lain seperti kay-pang namun gaya aselinya tidak dapat dipungkiri berasal dari aliran yang sama dengannya. “berhenti..” seru seng-lokai sambil menyurut mundur.

“apa hubunganmu dengan *** khi coan yang berjuluk sin-kiam-bu-tek (dewa pedang tanpa tanding) tanya seng-lokai menyelidik.
“apakah engkau adalah tan kin hong yang berjuluk tok-tang-lang (si belalang berbisa)?” tanya li kun liong terbelialak kaget.
“benar, jadi engkau adalah murid suheng *** khi coan” kata seng-lokai atau tan kin-hong.
“benar susiok” kata li kun liong memberi hormat.
“hm, tidak berani lohu mengaku sebagai susiokmu, sudah puluhan tahun aku sudah memutuskan diri dengan suheng. apakah suhumu sudah mati atau belum? kata seng-lokai dengan ketus.
“suhu sudah berpulang setahun yang lalu” kata li kun liong sedih.
“ha..ha..ha, akhirnya engkau mampus juga suheng” kata tan kin hong tertawa terbahak-bahak.sambil memendam rasa marah suhunya di lecehkan, dengan dingin li kun liong berkata “suhu juga berpesan untuk disampaikan kepada susiok untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar”
“kurang ajar, orang sudah mampus masih berani menasehati orang” kata tan kin hong sinis.
“sebaiknya susiok bersikap sopan terhadap mendiang suhu, kalau tidak” “kalau tidak kenapa? apakah engkau berani menghadapi lohu? sebaiknya engkau belajar dua puluh tahun lagi sebelum mampu mengalahkan lohu!” kata tan kin hong memandang enteng sejak ia tahu li kun liong cuma sutitnya saja.

“kalau tidak, menuruti perintah suhu agar membasmi yang sesat, siapa pun orangnya” kata li kun liong tegas.
“benar-benar anak naga yang tidak tahu tingginya langit. gu sik, coba engkau hadapi sutitku ini”perlahan-lahan, ciang gu sik mennghampiri li kun liong. dalam hatinya ia mengerutu mendengar perintah tetua kiri, ia merasa sebagai hu-kauwcu mo-kauw, kedudukannya sejajar dengan para tetua mo-kauw walaupun kalah senior. tapi ia sadar sebaiknya li kun liong segera dibekuk sebelum dapat melarikan diri dan menyebarkan rahasi yang berhasi didengarnya.

“sebaiknya engkau menyerah saja, paling tidak kematian yang akan engkau terima adalah kematian yang cepat dibandingkan jika engkau melawan” kata ciang-gu-sik jumawa.

“jangan banyak omong, jaga serangan” kata li kun liong sambil melancarkan serangan pedang ke arah pundak kanan ciang-gu-sik. ciang-gu-sik berkelit menghindar dengan gerakan tui-po-lian-hoan (gerakan mundur berantai), diikuti gerakan balasancia-mie-sip-pat-tiat (merubuhkan musuh dengan kebasan pakaian).li kun liong maju memapak sambil menghindari serangan lawan, dengan luwes ia melayani serangan ciang-gu-sik.

Semenjak mematangkan semua jurus yang pernah ia pelajari dari suhunya dan sucouwnya serta hasil pengamatan dari pertempurannya selama ini, kepandaian silat li kun liong sudah mencapai taraf susah diukur. sekarang dia mampu menyesuaikan setiap serangan dengan gaya yang dimiliki lawan dan membuat lawan seolah-olah bertemu tandingan yang setimpal. cukup dengan gerakan-gerakan yang dibuatnya sesuai dengan keadaan mampu membuat ciang gu sik terkesima. belum pernah ia berhadapan dengan lawan setangguh li kun liong, perasaan memandang enteng sudah sirna bagaikan asap di langit.

Puluhan jurus berlalu tak terasa, tan kin hong yang menyaksikan jalannya pertempuran juga merasa kaget.beberapa jurus serangan li kun liong ia kenal dengan baik, namun yang membuatnya terkejut adalah jurus-jurus tersebut sudah dimodifikasi menjadi lebih sederhana tapi efeknya jauh lebih lihai. diam-diam ia kagum terhadap suhengnya yang mampu memperbaiki jurus pedang aliran mereka menjadi lebih hebat. mimpi pun ia tak akan percaya bila jurus-jurus tersebut sebenarnya diperbaiki oleh sutitnya ini. disamping itu juga ia melihat beberapa jurus yang tidak ia kenal sama sekali, dengan heran ia mengira-ngira darimana li kun liong mempelajari jurus-jurus tersebut yang tak kalah lihainya.

Keadaan masih berimbang, ciang gu sik yang merasa sangat penasaran mulai mengembangkan ilmu andalan yaitu ilmu langit bumi. perlahan-lahan daun-daun kering berterbangan ke atas, berputar mengikuti arus tenaga dalamnya dan membentuk semacamlingkaran mengeliling sekitar pertempuran. li kun liong merasa terkejut melihat kehebatan ilmu yang dimainkan ciang gu sik, terasa olehnya segulung hawa hangat mengitari tubuhnya, lama kelamaan makin mendekat membuat dirinya susah bernafas.sebisa mungkin ia bertahan tehadap serangan ini, dengan memejamkan mata, ia mengfokuskan pikirannya. dikerahkannya tenaga dalamnya sampai sembilan bagian melawan serangan hawa panas tersebut. pertarungan semakin mendekati puncak, ilmu langit bumi ciang gu sik sudah dikerahkannya sampai tingkat ke enam namun belum berhasil juga menjatuhkan li kun liong.

Dia ragu-ragu untuk melancarkan tingkat ke tujuh dari ilmu langit bumi ini karena kalau tetap tak berhasil menghancurkan li kun liong, dirinyalah yang berada dalam bahaya besar.tan kin hong yang menyaksikan li kun liong masih mampu menahan serangan ilmu langit bumi tingkat ke enam dari ciang gu sik merasa sangat kagum, tapi dia juga menyadari bahaya yang akan menimpa ciang gu sik jika gagal dengan tingkat ke tujuh. segera ia melancarkan serangan untuk membantu ciang gu sik. dikeroyok oleh kedua tokoh puncak mo-kauw membuat li kun liong kewalahan, sebisa mungkin ia melawan sekuat tenaga. dikerahkannya semua ilmu yang selama ini dipelajarinya, ia tidak berani melonggarkan perhatian sedikit pun. dalam pertarungan antara ahli silat kelas tinggi, memang diperlukan perhatian yang tak terpecah belah karena akibatnya sangat fatal bila sampai pikiran tak terfokus.

Sementara itu, pertarungan antara ceng han tiong dengan cin-cin juga telah mencapai puncaknya. setelah sekian lama bertarung, kelihatan ceng han tiong lebih unggul dari cin-cin baik dari segi tenaga dalam maupun dari segi ilmu silat. Peluh mulai nampak di kening cin-cin menambah kecantikannya, sambil mengigit bibirnya yang mungil, cin-cin melancarkan serangan berantai yang dapat dielakkan ceng hantiong dengan manis. dia sebenarnya tidak ingin melukai cin-cin, tapi hal tersebut tidak semudah yang dibayangkan, jika mau sejak dari tadi ia dapat melukai parah cin-cin. akhirnya ia memutuskan menggunakan ilmu langit bumi untuk menekan cin-cin, dikerahkannya ilmu tersebut sampai ke tingkat ke tiga. sama dengan yang terjadi dengan li kun liong, cin-cin merasakan hawa panas menekan dirinya, semakin lama semakin menghimpit dan membuatnya susah bergerak leluasa. gerakan yang mulai melambat dari cin-cin dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh ceng han tiong, dengan kecepatan dan ketepatan yang mengagumkan, ujung jarinya berhasil menutuk jalan darah di pundak kanan cin-cin, membuat lengan kanan cin-cin tiba-tiba menjadi kaku dan tidak mampu lagi memegang pedang sehingga pedangnya jatuh ke tanah. tutukan berikutnya membuat cin-cin tak mampu bergerak lagi. cin-cin menjerit lirih tanda terkejut namun sudah terlambat baginya untuk bereaksi, tubuhnya sudah tidak mendengarkan perintahnya lagi.

Pekikan lirih cin-cin terdengar oleh li kun liong yang sedang memusatkan perhatian melawan serangan lawan-lawannya, hampir saja pundaknya terhajar hawa panas dari ilmu langit bumi. walaupun tidak kena namun pundak li kun liong terasa sangat perih terkena serempetan hawa panas tersebut. dia berusaha memusatkan pikirannya kembali, pertempuran kali ini benar-benar merupakan terdahsyatnya.

ceng han tiong yang sudah berhasil menutuk lumpuh cin-cin mengalihkan perhatiannya ke arah pertempuran li kun liong dan rekan-rekannya. dia terkesima melihat serunya pertarungan tersebut, belum pernah ia melihat suheng dan tetua pelindung kiri sampai harus mengeroyok seorang pemuda secara mati-matian. di saat ia sedang terkesima melihat pertarungan tersebut, terdengar sambaran senjata rahasia di balik punggungnya, kelengahan ini harus dibayarnya mahal.

Jalan darah di punggungnya dengan telak terhantam senjata rahasia tersebut dan membuatnya tak dapat bergerak sama sekali. dia tidak dapat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah menyerangnya dengan amgi. dari ujung sudut matanya, ceng han tiong hanya melihat sesosok bayangan menyambar tubuh cin-cin yang tertutuk dan menghilang di balik kegelapan malam.

kejadian tadi hanya berlangsung dalam waktu sekian detik saja, mereka yang sedang bertempur tidak mengetahui peristiwa barusan. ilmu silat ceng hantiong sudah termasuk nomer wahid, bisa dihitung sebelah tangan mereka yang dapat menutuknya secara telak, walaupun saat itu ia sedang lengah. pertarungan terus berlangsung dengan seru, masing-masing pihak tidak berani memecahkan perhatiannya. gerakan li kun liong mulai melambat, pundaknya mulai terasa susah digerakkan.

Diam-diam li kun liong tercekat, hanya terserempet hawa lawan saja ia sudah terluka apalagi jika terkena langsung hawa sakti tersebut. akhirnya ia memutuskan menggunakan strategi terbaik dari 36 strategi yang ada yaitu melarikan diri. memang sial buat li kun liong, sejak terjun ke dunia persilatan, sudah beberapa kali ia mengalami pertempuran yang semakin lama semakin hebat dan membuatnya beberapa kali harus melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya.

Ia sangat gegetun dengan nasibnya ini. fokus yang mulai hilang karena memikirkan hilangnya cin-cin dan rasa gegetunnya membuat semangat bertanding li kun liong menjadi melemah. akibatnya segera terasa olehnya, serangan ke dua tokoh mo-kauw tersebut semakin terasa berat baginya.memang dalam pertempuran tingkat tinggi, kadang kala kelihaian ilmu silat yang hampir berendeng membuat menang kalah sering kali ditentukan oleh faktor x seperti keuletan dan semangat bertanding. begitu pula kali ini, hampir pada saat yang bersamaan pukulan tan kin hong dan ciang gu sik berhasil mendarat dengan telak di tubuh li kun liong.

Li kun liong hanya merasakan muncratnya darah bergumpal-gumpal dari mulutnya, praktis tubuhnya sudah tidak terasa lagi nyambung dengan pikirannya. rasa sakit yang dialaminya telah membuat dirinya semakin menjauh, perlahan-lahan kegelapan menyelimuti dirinya, sepekat jiwanya yang meronta lepas ini.
Jilid 5 : bangkit dari kematian

Raungan ****** hutan dan serigala yang kelaparan bergema di kegelapan malam menembus sela-sela pepohonan lebat di hutan tersebut. suara raungan itu makin lama makin mendekat ke arah sesosok tubuh berdarah yang terbaring telungkup di bawah, entah sudah berapa lama tubuh tersebut mengeletak begitu saja di tengah hutan yang gelap gulita. binatang mempunyai penciuman yang tajam, bau anyir darah merupakan tanda bagi serigala-serigala ini bahwa ada daging segar atau bangkai yang bisa di makan.

Dari balik kegelapan terlihat beberapa kelap-kelip cahaya kecil berkilauan liar muncul mendekati tubuh yang tergeletak tersebut.ternyata cahaya kecil berkedip-kedip tersebut berasal dari mata serombongan serigala hutan, tampak di paling depan seekor serigala yang paling besar mendekati tubuh tersebut dan menjilat-jilati darah di tubuh tersebut. jelas serigala yang paling depan adalah pemimpin rombangan tersebut. serigala-serigala yang lain tidak mau ketinggalan, berebutan mereka menghampiri korban mereka tersebut tapi geraman buas pemimpinnya membuat langkah mereka terhenti.

Pesta-pora gelagatnya segera akan berlangsung, namun di saat-saat kritis tersebut, tiba-tiba tubuh itu bergerak lemah. dengan waspada serigala pemimpin mundur selangkah, menunggu gerakan selanjutnya tapi setelah gerakan tadi tidak ada gerakan lagi. serigala pemimpin mulai mendekati kembali tubuh tersebut dan mengarahkan moncongnya ke arah daging di kaki tebuh tersebut. gigi-giginya yang tajam menancap dalam-dalam membuat darah di kaki tersebut keluar dengan derasnya.

Perasaan li kun liong begitu damai, cahaya yang sangat terang, dan kehangatan sinar yang menerpa membuatnya seperti di surga. cahaya tersebut terpancar di kejauhan, keindahannya sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata, mungkin kata tiada tara sedikit mendekati pengalaman tersebut. perlahan-lahan ia berjalan mendekati sumber cahaya tersebut, badannya terasa sangat ringan seolah-olah melayang-layang di atas tanah. nalurinya berkata dengan mendekati sumber cahaya tersebut, dia akan merasakan kebahagiaan yang abadi.

Dengan wajah yang berbinar-binar ia mulai mendekati sumber cahaya tersebut, makin lama makin terang namun tidak menyilaukan mata bahkan terasa teduh dan nyaman. sekonyong-konyong cahaya itu menghilang dengan cepat di gantikan rasa sakit yang mendalam, membuat seluruh tubuhnya gemetar kesakitan. dengan mata terbuka lebar tiba-tiba, li kun liong sadar dari alam bawah sadarnya.

Matanya tertumbuk dengan seekor serigala yang sedang mengigit dengan buas kaki kirinya. walaupun keadaannya saat itu sangat lemah namun entahdari mana semacam kekuatan hadir melalui tangannya yang melayang ke kepala serigala tersebut.
“praak.. kepala serigala itu pecah berantakan dan membuat serigala-serigala yang lain kabur serabutan kembali ke dalam hutan. agaknya mereka sadar korban yang sedang mereka incar bukan korban yang lemah, naluri mereka mengatakan untuk kabur secepatnya sebelum terlambat.

Kita manusia sebenarnya memiliki naluri yang sama tajamnya dengan binatang, tapi akibat sering tak diindahkan naluri tersebut perlahan-lahan menghilang digantikan dengan logika. kehidupan akan jauh lebih baik bila manusia mendengarkan naluri mereka, bukan tidak mungkin peperangan, kemiskinan, kelaparan akan hilang di muka bumi ini jika kita masih mendengarkan naluri kemanusiaan kita.

Li kun liong berusaha duduk dengan susah payah, seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. bagaikan bangkit dari kematian, orang lain yang mendapat luka separah ini sudah pasti tidak akan dapat bertahan lama. beruntung li kun liong memiliki tubuh yang ulet dan daya tahan yang tinggi, selama mengikuti sucouwnya si tabib sakti, dia sering meminum berbagai macam ramuan-ramuan ajaib buatan si tabib sakti hingga khasiatnya terlihat sekarang, daya tahannya sudah melebihi manusia biasa.

Namun tentunya obat-obatan hanya merupakan pelengkap saja, yang terpenting adalah kemauan atau semangat hidup yang kita miliki. seseorang yang telah di vonis tidak akan sembuh dari penyakit kanker yang diidapnya bisa secara ajaib sembuh total. bagi orang beragama ini disebut mujijat dari tuhan, karena keyakinannya yang tinggi, dia menyerahkan seluruh nasibnya kepada yang di atas sehingga kesembuhan yang ajaib ini tentu saja dia panjatkan puji syukur kepada yang di atas.

Tapi bagaimana dengan orang yang atheis (tidak percaya tuhan) yang juga bisa sembuh total dari penyakit kroniknya ?penjelasan yang paling masuk akal adalah karena semangat hidup yang tinggi mampu membuat mujijat-mujijat yang sukar ditelaah dengan logika ilmu pertabiban menjadi kenyataan. sekarang ini ilmu kedokteran yang berasal dari barat lebih berorientasi pada penyakit fisik, mereka tidak menganggap penting efek psikologis si pasien, hanya baru belakangan disadari efek psikologi si pasien juga sangat menentukan sembuh tidaknya suatu penyakit. jadi sebenarnya ilmu kedokteran barat yang usianya baru sekitar seratus-dua ratus tahun masih mempunyai kelemahan-kelemahan fundamental yang sebenarnya telah diketahui oleh ilmu pertabibaban dari timur beratus-ratus tahun yang lalu.

Masalahnya, kelemahan ilmu pertabiban timur adalah kurangnya pengarsipan atau dokumentasi ilmu tersebut bahkan tidak jarang hanya diturunkan secara lisan sehingga lama-kelamaan kevalidannya berkurang karena interprestasi masing-masing berbeda.tapi sekarang sudah banyak kita temui penggunaan ilmu kedokteran barat dengan ilmu pertabiban timur bersama-sama dan menghasilkan tingkat kesembuhan yang tinggi.

Kembali ke jago kita li kun liong, kalau jago silat lainnya menderita luka separah dirinya, tentu sudah binasa. namun karena li kun liong disamping tubuhnya ulet, semangat hidupnya sangat tinggi, mungkin ini disebabkan karena ia masih memiliki persoalan-persoalan yang masih banyak perlu ia selesaikan. li kun liong menarik nafasnya perlahan-lahan sambil meringis menahan sakit di dadanya. setiap kali menarik nafas dadanya selalu sakit, ini disebabkan oleh pukulan yang diterimanya dari tokoh-tokoh mo-kauw.

Dia tahu dirinya terluka sangat parah, tanpa pertolongan secepatnya dirinya tak akan tertolong. mukanya sangat pucat karena darah yang dikeluarkannya sudah melebihi batas. dengan menguatkan diri li kun liong berdiri sempoyongan dan berjalan tertatih-tatih menjauhi tempat pertempuran tadi. instingnya mengatakan untuk menjauhi tempat pertempuran ini secepatnya. li kun liong tidak tahu bahwa dirinya sudah dikira mati oleh lawan-lawannya karena saat itu ia sudah tidak bernafas lagi dan detak jantungnya tidak kedengaran lagi.

Ibarat mati suri, li kun liong sangat beruntung masih bisa sadar kembali, kebanyakan mereka yang mati suri benar-benar mati akhirnya.dia tidak tahu arah yang ditujunya makin masuk ke dalam hutan yang lebat, pikirannya entah kemana, dibiarkannya langkah kakinya yang sempoyongan yang menentukan arah.entah sudah berapa lama li kun liong menyusuri jalanan setapak, tahu-tahu hari menjelang pagi. hawa dingin masih terasa pekat menyelimuti. mulai samar-samar terdengar alunan kicau burung dari sela-sela rimbunnya pepohonan terasa begitu romantis. aroma kehidupan hutan yang alami terasa begitu kental.di jalan sempit berliku yang menbelah perbukitan, di antara semak belukar, tak surut langkah jua langkah li kun liong.

Sang surya dengan semburat jingga sinarnya segera bangkit dari pelaminan.fenomena alam yang luar biasa. dari kegelapan yang begitu hening, penuh misteridengan ilustrasi musik alam, muncul perlahan garis-garis langit dari kisi-kisi dibalik bukit yang terlihat kokoh dan seram. kilauan warna-warni berkejaran, menerpa hamparan pepohonan lebat bagaikan gelaran permadani sutera.akhirnya li kun liong berhenti melangkah, ia tiba di sebuah puncak bukit yang menjadi awal pegunungan yang lebih luas. suasana alam yang hijau dari pantulan dedaunan di lereng gunung tersebut.

Bukit ini menawarkan keindahan yang cocok bagipelancong yang senang berpesiar dan bersantai. dari puncak bukit ini mereka bisamenikmati panorama yang mengagumkan. berada di sebelah selatan dari puncak bukit ini terlihat hamparan air. dari tempat ini bisa dilihat sangat bebas dan indah memandang hamparan air danau yang biru dikelilingi untaian bukit dan gunung. panorama yang khas ini diperindah lagi dengan puncak-puncak gunung yang lebih tinggi dan selain itu, masih terdapat airterjun yang terpancar dari sebuah gua di lereng bukit yang curam, berarus sangat deras. ketinggian air terjun sekitar ratusan depa, air sungai yang mengalir dengan deras dari lereng bukit yang curam, jatuh mencurah-curah ke dalam danau di kaki bukit, mengeluarkan bunyi deruan yang bergemuruh lalu membentuk kabut.

Li kun liong merasa sangat haus, mulutnya terasa kering ditandai kerut-kerut dibibirnya. dia meneruskan langkah kakinya menuju air terjun tersebut. segera sesampainya di sana, diraupnya air yang sangat menyegarkan tersebut, terasa sangat dingin namun cukup untuk melepaskan dahaganya. lalu ia berbaring di pinggiran danau tersebut, beristirahat melepaskan lelah.

Entah sudah beberapa lama ia tertidur, tiba-tiba li kun liong sadar dari tidurnya. sinar matahari yang terik menghujani wajahnya yang pucat hingga kering kerontang. dengan tertatih-tatih sambil menahan sakit, ia bangkit menuju pepohonan yang rindang menghindari terik matahari. ia berusaha memulihkan tenaga dengan samadi memusatkan pikiran tapi tidak mudah. rasa sakit dan perut yang keroncongan sangat menyiksa dirinya. ia memandang sekelilingnya, deru air terjun memenuhi angkasa. tempat ini sangat cocok untuk memulihkan diri.

Untuk bermalam mungkin ia bisa menggunakan gua yang terlihat tak jauh di didepannya, di balik air terjun tersebut. namun urusan pertama yang perlu ia lakukan adalah menangsal perutnya yangkeroncongan. dia berjalan agak masuk ke dalam hutan, tampak beberapa pohon sedang berbuah lebat. di timpuknya beberapa buah tersebut dengan batu kerikil dan dimakannya dengan lahap. rasanya sangat manis dan sari airnya sangat menyejukkan.li kun liong kembali ke tepi danau lalu membersihkan darah kering di sekitar lukanya. sepintas melihat-lihat tanaman yang berada di dalam hutan tadi, dia menemukan beberapa macam daun-daunan obat untuk mengobati luka luar yang dideritanya.

Dipetiknya beberapa pucuk daun-daunan tersebut, dikunyahnya, lalu ditempelkannyadi sekitar luka-lukanya dan dibebatnya dengan sepotong kain. untuk luka dalam kebetulan ia sudah membekal beberapa macam ramuan obat pemberian sucouwnya si tabib sakti. di minumnya beberapa butir ramuan tersebut lalu berusaha bersemadi ditengah riuhnya air terjun. awalnya terasa sukar namun lama-kelamaan akhirnya dia menjadi terbiasa dan tenggelam dalam keheningan di dalam. terasa olehnya ketenangan dan kedamaian menyebar di seluruh tubuhnya, sakit yang dirasakan mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Sore sudah menjelang tiba, tak ada mendung yang mengelayut di langit, tak terasasudah beberapa jam berlalu li kun liong bersamadi, wajahnya mulai sedikit kemerahaan, tidak pucat seperti pagi tadi. sedari tadi li kun liong hanya berusaha mengumpulkan keping-keping semangat yang bertebaran. kelelahan yang sangat baik fisik maupun rohani mengayutinya sejak pertempuran tersebut, perlahan-lahan dapat dikumpulkannya kembali. dalam keadaan yang parah dan dengan penuh ketabahan ia berupaya sedikit demi sedikit memulihkan diri.

Dia lalu berusaha memasuki gua yang berada di belakang air terjun tersebut, letaknya cukup tinggi dari permukaan danau. dalam keadaan biasa tentu bukan merupakan kesulitan yang berarti untuk memasuki gua dengan ilmu pek-houw-yu-ciang (cecak merayap di dinding) namun keadaannya sekarang jauh dari sehat, jangankan mengerahkan ilmu, mengerahkan tenaga sedikit saja sudah membuatnya meringis kesakitan. sadar akan kemampuan dirinya saat ini, li kun liong membatalkan niatnya berdiam di dalam gua tersebut. dia akhirnya bermalam di langit terbuka di balik semak-semak pepohonan.

Hampir satu bulan li kun liong menetap di hutan tersebut dan selama ini belum pernah ia bertemu sesama manusia lainnya, mungkin karena letaknya yang jauh ke dalam membuat tempat ini terasing dari dunia luar. luka-luka luar sudah sebagian besar sembuh namun luka dalamnya belum sembuh secepat luka luarnya, dibutuhkan waktu sekitar enam bulan lagi untuk pulih sedia kala. obat-obatan yang dibawanya sangat membantu pemulihan dirinya.

sementara itu, dia sudah mampu memanjat gua di balik air terjun tersebut. Pintu masuk gua tersebut tidak begitu lebar, ia harus sedikit membungkukkan badan untuk memasukinya.pintu masuk gua tak seberapa besar keadaannya, hanya setinggi tubuhnya. ia menemukan beberapa tumbuhan gua di sini. salah satunya adalah tumbuhan jenis umbi yang tumbuh tiga batang di atas satu batang lainnya. tak seberapa jauh berjalan dari pintu masuk, keadaan gua tiba-tiba membesar. membentuk sebuah ruangan berbentuk kubah. terlihat lorong gua kemudian memecah di ruangan besar tersebut. ada yang ke kanan, yang keadaannya terlihat sedikit naik ke atas dan yang ke kiri yang terlihat menurun menuju bagian bawah gua. di ruangan berkubah ini terdapat banyak ornamen gua yang menghiasi. ada stalagmit yang menggantung-gantung dan stalagtit. di antara stalagtit tersebut terdapat banyak kelelawar yang kelihatannya sedang beristirahat sampai malam nanti.

Tinggi langit-langit ruangan ini sampai sepuluh meter di atas kepalanya, dan bagian dasarnya dipenuhi dengan pecahan-pecahan batuan jenis kapur yang teronggok berserakan begitu saja. udara terasa segar di ruangan ini, tanda gua ini memiliki sistem ventilasi yang baik dan sangat cocok untuk tempat tinggal sementara. li kun liong belum berniat untuk menjelajahi gua ini, perhatiannya saat ini adalah untuk memulihkan diri terlebih dahulu.

Hari-hari berikutnya li kun liong berdiam diri di dalam gua tersebut. bulan ketiga ia tinggal di hutan tersebut, li kun liong luka luarnya sudah sembuh total dan sebagian besar luka dalamnya mulai sembuh, ternyata kesembuhan yang dialaminya lebih cepat dari perkiraannya, mungkin disebabkan suasana lingkunganyang tenang serta makanan yang dimakannya. selama tiga bulan ini, ia hanya makan buah-buahan, jamur serta umbi-umbian yang ditemukannya tumbuh di sekitar gua tersebut.hari itu masih pagi, sehabis samadi li kun liong membersihkan diri dengan mandi di bawah air terjun. airnya sangat dingin tapi menyegarkan, membuat semangatnyamenyala-nyala.

Sekembalinya ke gua, li kun liong membereskan baju-bajunya. baju yang dikenakannya saat pertempuran sudah tidak dapat dipakai lagi karena noda-noda darah yang tidak bisa hilang serta robekan-robekan yang cukup besar. di samping baju tersebut, ia melihat gulungan lukisan kuno tergeletak begitu saja. gulungan lukisan tersebut juga penuh noda darah yang mengering, perlahan-lahan ia berusaha membuka gulungan tersebut. noda darah yang mengering telah membuat gulungan lukisan tersebut menempel satu sama lain. dengan hati-hati li kun liong membuka gulungan takut merusak lukisan tersebut.

Setelah terbuka semua, nampak olehnya lukisan pemandangan tersebut sudah rusak hingga tidak terlihat lagi gambar pemandangan yang indah seperti sebelumnya. namun anehnya, noda-noda darah yang menimpa dan merusak sebagian besar gambar pemandangan tersebut menimbulkan huruf-huruf kecil dan aneh serta gambar-gambar tubuh manusia sedang samadi dengan bermacam-macam posisi. ada yang bersila dengan gaya biasa, ada yang jungkir balik dengan kepala di bawah, ada juga yang seperti mendekam di tanah. di samping masing-masing postur tubuh tersebut terdapat tulisan-tulisan kecil yang bahasanya tidak dimengerti oleh li kun liong.

Dengan perasaan tertarik, li kun liong mengamati gambar-gambar tersebut, kelihatannya lukisan kuno ini memang menyimpan rahasia ilmu silat tingkat tinggi, terbukti gambar-gambar tubuh manusia dengan berbagai macam gaya tersebut seperti mengungkapkan rahasia cara melatih tenaga dalam yang dashyat. gelagatnya untuk menampilkan postur-postur tubuh tersebut, lukisan itu harus dibasahi dahulu dengan air dan menghilangkan lukisan pemandangan di atasnya. buru-buru li kun liong keluar dari gua menuju tepi danau dan merendam seluruh gulungan lukisan tersebut ke dalam air danau yang bening. dari atas permukaan air, dilihatnya perlahan-lahan sisa-sisa gambar pemandangan tersebut mulai meluntur dan menampilkan postur tubuh manusia sebagai gantinya.

Akhirnya seluruh gambar pemandangan tersebut menghilang, tampak gulungan lukisan tersebut penuh dengan gambar-gambar manusia dengan tulisan-tulisan kecil di masing-masing posisi tubuh tersebut. total posisi tubuh manusia di lukisan tersebut berjumlah enam puluh empat posisi. li kun liong mengeluarkan gulungan lukisan tersebut dari dalam air, lalu menghamparkannya di atas sebuah batu besar di tepi danau untuk mengeringkannya. tidak berapa lama kemudian gulungan lukisan tersebut mengering.

Dibawanya gulungan tersebut kembali ke dalam gua lalu diamatinya sekali lagi dengan penuh perhatian. sayang ia tidak bisa membaca tulisan-tulisan yang terdapat di lukisan tersebut, sepertinya tulisan tersebut berasal dari bahasa persia (parsi). li kun liong merasa yakin ia telah berhasil menemukan rahasia lukisan kuno ini yang menurut dugaannya ternyata mengandung rahasia ilmu cara melatih tenaga dalam tingkat tinggi.

Yang menarik perhatiannya dari ke enam puluh empat posisi tubuh tersebut adalah bagian mata, semuanya terbuka lebar!. sangat berlainan dengan latihan samadi pada umumnya yang bersila sambil menutup kedua belah mata, di lukisan tersebut memperlihatkan latihan tenaga dalam dengan mata terbuka!. salah satu posisi tubuh yang menarik perhatian li kun liong adalah posisi tubuh bersila dengan kedua tangan saling menumpu pada kaki yang bersilangan, telapak tangan terbuka ke atas. di bagian atas, tampak air terjun mengalir menimpa kepala postur tubuh tersebut terus menerus. kedua matanya terbuka lebar.

Rasanya posisi tersebut sangat cocok untuk dicoba karena sesuai dengan keadaan sekelilingnya saat ini. li kun liong segera bangkit dan berjalan keluar menuju ke bawah air terjun. dibagian bawah air terjun tersebut, tampak air terjun menimpa sepotong batu besar dengan permukaan rata melandai. namun karena terus menerus di timpa air dari ketinggian yang cukup tinggi, permukaan batu tersebut sedikit cekung ke bawah.

li kun liong berusaha duduk di permukaan batu tersebut dan mencoba meniru posisitubuh seperti yang ia lihat barusan di gulungan lukisan tersebut. ia merasakan tekanan air yang kuat menimpa tubuh dan kepalanya, sangat kuat dan deras. Sambil mengerahkan tenaga dalam menahan kucuran air terjun yang menimpanya, li kun liong menatap ke depan dengan mata terbuka. air masuk ke dalam mata, membuatnya berkedip dan menutup mata menghindari air tersebut, terasa perih kelopak matanya. dicobanya sekali lagi, dan lagi, dan seterusnya sampai matanya bisa terbuka cukup lama terbuka.

Namun yang membuatnya tidak tahan adalah kucuran air terjun yang sangat kuat menimpa kepalanya. awalnya dengan tenaga dalam dipusatkan di kepala, ia masih mampu menahan timpaan air terjun tersebut, tapi lama kelamaan ia tidak sanggup. bagian atas kepalanya bagaikan dipukul-pukul terus menerus, ia hanya sanggup bertahan sekitar beberapa menit saja sebelum akhirnya menyerah keluar dari air terjun tersebut.

Li kun liong lalu mencoba salah satu posisi lain yang mensyaratkan kepala di bawah, kaki di atas, tegak lurus.sambil berpegangan pada dinding gua, ia mencoba menaruh kepalanya di permukaan gua dan mengangkat kakinya tegak lurus ke atas dan mata tetap terbuka lebar.

Awalnya cukup sukses, ia merasakan aliran darahnya mengalir dari kaki dan tubuhnya menuju ke arah kepala hingga membuat wajahnya merah. ia merasa aneh tapi terasacukup meyenangkan dalam posisi tersebut. tapi berselang sekitar setengah jam, iamulai merasa jantungnya berdebar-debar, kepalanya pusing dan matanya perih akibat darah memenuhi seluruh pembuluh darah di mata dan wajahnya.

Dicobanya bertahan sekuatnya namun tidak bisa lama hingga akhirnya kembali ia menyerah.li kun liong sangat penasaran, baru dua posisi tubuh dari enam puluh empat posisi tubuh yang terdapat di gulungan lukisan tersebut ia coba tapi sudah tidak berhasil. diam-diam ia sangat kagum akan rahasia melatih tenaga dalam ini. ia yakin bila sanggup menjalankan ke enam puluh empat posisi tersebut, tenaga dalam yang dimilikinya akan meningkat sangat pesat.

Hari-hari berikutnya dihabiskannya dengan mempelajari dan melihat-lihat posisi-posisi tubuh tersebut. satu persatu posisi dicobanya sekitar sepertanakan nasi, ada yang berhasil namun ada juga yang tidak. karena berlatih tanpa bimbingan, kadang kala di posisi tertentu ia jatuh pingsan karena tidak tahan tapi tetap ia paksakan. setelah itu ia merasakan tubuhnya sakit-sakit hingga sejak itu ia tidak berani lagi sampai jatuh pingsan. dia hanya bertahan sekuatnya saja. cara ini ternyata lebih bermanfaat, terbukti setelah menerapkan strategi tersebut, lama-kelamaan timbul segulung arus hangat di perutnya. dicobanya menyatukan arus hangat tersebut dengan tenaga dalamnya dan berhasil menyatu tanpa kesulitan yang berarti.

Gelagatnya ilmu tenaga dalam yang ia coba latih sekarang dapat menyesuaikan diri dengan aliran tenaga dalam seseorang sebelumnya. jadi tidak perlu memusnahkan tenaga dalam yang dimiliki, baru memulai lagi dari awal seperti ilmu tenaga dalam pada umumnya.hasil dari coba-coba selama kurang lebih dua bulan menirukan posisi-posisi tubuhdari lukisan tersebut mulai menampakan sedikit hasil. li kun liong merasakan luka dalam yang dideritanya mulai pulih seluruhnya, bahkan tenaga dalamnya bertambah kuat dari sebelumnya. Ia merasa sangat girang, selama ini memang kelemahannyaterletak dalam hal tenaga dalam, dari segi ilmu silat ia sudah mencapai kesempurnaan. penemuan ini bagaikan pucuk di cinta ulam tiba.
Jilid 6 : Dedengkot silat

Setelah merasa pulih seutuhnya, li kun liong memutuskan keesokan harinya meninggalkan tempat ini namun sebelum meninggalkan gua, ia baru merasa tertarik untuk menjelajahi bagain dalam gua tersebut. dari ruangan berbentuk kubah dimana ia tinggal selama ini terdapat dua lorong menuju ke bagian dalam gua, yang satu ke kanan sedangkan yang satunya lagi ke kiri. dia memutuskan menuju ke kanan, menuju ke arah atas gua.perjalanan menuju ke arah lorong di sebelah kanan ruangan tadi ternyata mengantar dirinya menuju ruangan kedua.

Hampir tak ada beda kondisi kedua ruangan tersebut. terdengar beberapa tetesan air yang jatuh. lorong makin menyempit dan membuat gerah tubuh. tapi kelihatannya sistem gua mulai mengantarkannya ke arah yang lebih tinggi. tiba di beberapa kelokan akhirnya dia menemukan sebuah ruangan ketiga, lebih kecil dari kedua ruangan terdahulu. di dalam ruangan ini keadaan adalah sejuk dan nyaman, dan mempunyai pemandangan yang menakjubkan. tampak olehnya bunga-bunga persik berwarna merah mudasedang bermekaran semarak menghiasi seluruhruangan gua tersebut.tinggi ruangan ini cukup tinggi, ditengah-tengahnya tampak lubang selebar rentangan tangan dimana sinar matahari menerobos menyinari bunga-bunga persik.

Rupanya ruangan gua ini tidak jauh dari permukaan tanah, mungkin permukaan tanah di atas berbentuk seperti lubang sumur. untuk melalui lubang tersebut cukup sulit dan licin, mustahil bagi orang dengan kepandaian silat sekedarnya untuk keluar melalui lubang tersebut.di salah satu sudut ruangan nampak sesosok tengkorak manusia dalam posisi duduk.pakaian yang dikenakan sudah hancur dimakan usia, tampaknya tengkorak ini sudah cukup lama berada di sini. dari sisa-sisa pakaian yang ada, tengkorak ini dulunya adalah seorang pria. sepasang mata li kun liong yang tajam melihat goresan tangan di dinding belakang tengkorak tersebut. tulisan tersebut digores oleh jari-jari yang sangat kuat, setiap lekukannya nyaris sama rata, menandakan si pemilikjari tersebut memiliki ilmu jari yang maha hebat.

Tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut, lebih-lebih di sebuah dinding gua yang tebal dan keras melebihi dinding-dinding buatan manusia. li kun liong sangat kagum melihat demonstrasi kekuatan jari-jari tersebut, ia sendiri ragu dapat menggores tulisan seperti ini dengan tenaga dalam yang dimilikinya saat ini. tulisan tersebut hanya terdiri atas tiga baris kalimat saja.

kalimat pertama berbunyi “tidak berubah adalah berubah, dengan tidak berubah menghadapi semua perubahan alias gerakan dihadapi tanpa gerakan”

Membaca kalimat tersebut li kun liong seperti diingatkan waktu pertama kali ia mendengarnya dari kakek gurunya (sucouw) si tabib sakti. sejak memahami kalimat di atas ilmu silatnya maju berkali lipat dari sebelumnya. kalimat ini bagi jago silat biasa yang belum mencapai taraf yang sempurna tidak memiliki arti apa pun dan sangat sulit untuk dipahami, namun bagi mereka yang ilmu silatnya sudah sempurna seperti li kun liong waktu mendengarnya dulu, merupakan kunci pembuka ke arah yang lebih tinggi. tapi tentu saja berapa lama untuk memahami seluruhnya tergantung bakat masing-masing. ada yang membutuhkan puluhan, belasan tahun, atau sedetik saja.

kalimat kedua berbunyi “semakin hebat seseorang mempelajari ilmu meringankan tubuh, semakin enteng perilakunya”

Mmembaca kalimat kedua ini, li kun liong mengerutkan dahi, tidak mudah baginya untuk memahami kalimat ini namun lapat-lapat nalurinya mengatakan kalimat ini merupakan kunci untuk mempelajari ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat.

kalimat yang ketiga juga aneh dan susah di pahami, berbunyi “untuk mencapai tingkat tiada tara, seseorang tidak membutuhkan atau mengandalkan senjata apa pun karena senjata yang diperlukan sudah tersedia di manapun bahkan di dalam hati pun ada.”

Kedua kalimat terakhir belum dapat dimengertinya, namun li kun liong sadar kalimat-kalimat tersebut merupakan teori ilmu silat tingkat tinggi. di ingat-ingatnya kalimat ini baik-baik untuk dipahami lebih lanjut.
li kun liong menghela nafas panjang, dia merasa simpati sekaligus kagum terhadap tengkorak ini. simpati karena tengkorak ini meninggal sendirian, kesepian tanpa ada yang mengurus. kagum karena pemahamannya yang sangat luar biasa akan ilmu silat, dia yakin tengkorak ini dulunya pastilah dedengkot silat yang sangat terkenal dimasanya.

Dia lalu mengali lubang dan mengubur tengkorak tersebut di dalam ruangan gua tersebut.li kun liong kembali ke ruangan pertama lalu mengambil arah ke lorong sebelah kiri yang menuju ke arah bawah gua. lorong tersebut berliku-liku dan gelap, udara juga tidak sesegar seperti di atas, terasa pengap dan suasananya juga sedikit menakutkan. dibelokan terakhir, ia sampai di sebuah ruangan yang cukup lebar.

Gua ini ternyata memiliki ronga-ronga lebar berbentuk kubah di dalamnya, sejauh iniia sudah menemukan empat rongga buatan alam. samar-samar ia melihat obor yang tergantung di dinding gua, dicoba menyalakannya, ternyata masih bisa hidup. Sinar obor menerangi gua tersebut, keadaan rongga atau ruangan tersebut kosong melompong.

Li kun liong merasa kegerahan akibat sirkulasi udara yang sedikit.di tengah-tengah ruangan gua tersebut terdapat permukaan tanah yang keras dan tidak rata. tampak tapak-tapak kaki tak beraturan melesak beberapa dim ke dalam tanah, meninggalkan lekukan kaki yang cukup dalam. tanah di ruangan ini sangat kering hingga setelah sekian lama, tapak kaki tersebut tidak menghilang. jumlah jejak kaki tersebut cukup banyak dan bentuknya sama menandakan orang yang meninggalkan tapak kaki tersebut hanyalah seorang saja. bentuk jejak kaki ini jelas jejakkaki seorang pria yang cukup besar dan lebar.

Di lihat dari urutan terdekat dari pintu masuk ruangan ini, jejak-jejak kaki tersebut seolah-olah sengaja ditinggalkan oleh si empunya dengan tujuan tertentu. sekilas melihatnya, li kun liong tahu jejak-jejak kaki ini merupakan ilmu yang mengajarkan langkah-langkah untuk menghindari serangan lawan. kadang-kadang jejak kaki yang ditinggalkan tidak utuh, hanya meninggalkan jajak kaki depan saja, menandakan jejak itu sedang berjinjit bertumpu bagian dengan kaki. ada juga jejak kaki yang hanya menampakkan bagian tumit saja.

Li kun liong mengamati jejak-jejak kaki tersebut dengan cermat, otaknya yang cerdik sudah dapat menangkap sebagian besar alur tapak kaki. jejak kaki tersebut merupakan pelajaran ilmu langkah kaki yang ajaib, baru kali ini li kun liong melihat ilmu langkah kaki sehebat ini. namun ada beberapa jejak kaki yang cukup membingungkan urutannya.

Kalau melihat pola jejak kaki tersebut seharusnya di langkah ke sembilan, ia harus melangkah mundur tiga tindak tapi jejak kaki berikutnya mustahil untuk diikuti karena posisinya di langkah ke sembilan bertolak belakang dengan langkah ke sepuluh. ada sekitar empat sampai lima kasus serupa dialaminya dari puluhan jejak langkah kaki tersebut, bahkan di beberapa jejak kaki terakhir terputus hingga ilmu ini menjadi tidak lengkap.

Hal ini mungkin disebabkan orang yang meninggalkan rahasia ilmu ini hanya menguasai sebagian saja ilmu ini atau lekukan jejak kaki terakhir tersebut entah bagaimana terhapus. ketidakserasian alur kaki yang sudah berhasil ditebaknya sangat memusingkan kepala li kun liong.

Berjam-jam lamanya ia berkutat berusaha memecahkan rahasia langkah ajaib ini namun belum juga berhasil sampai ia jatuh tertidur kelelahan. begitu mendusin, li kun liong kembali ke ruangan pertama untuk mengisi perut lalu bergegas kembali ke ruangan di bawah untuk mencoba sekali lagi mengungkapkan rahasia jejak tersebut.memang sudah menjadi tabiat li kun liong, begitu menemukan sesuatu yang sulit semakin membuatnya penasaran untuk mempelajarinya.

Pernah ia sampai lupa waktu sewaktu mempelajari ilmu pedang terbang hingga akhirnya gurunya menyadarkannya untuk beristirahat terlebih dahulu.butuh waktu sekitar belasan hari bagi li kun liong untuk memecahkan ketidakserasian beberapa langkah kaki tersebut. ternyata pemecahannya sangat sederhana, dia cukup mengikuti alur yang telah ada, walaupun kelihatannya mustahil atau tidak masuk akal tapi untuk menjalankan rangkaian langkah-langkah tersebut memang menghendaki demikian. seperti pada langkah ke sembilan, apabila ia ikuti, di langkah ke sepuluh kelihatannya tidak serasi dengan alur rangkaian yang ada namun sebenarnya sesuai dengan polanya.

Di langkah ke sembilan ia cukup menginjakkan kaki kiri bagian depan saja setelah itu ia harus memusatkan tenaga dalam ke bagian depan kaki tersebut untuk mengerakkannya berputar arah lalu menekan kebawah mengambil ancang-ancang melambung terbalik ke arah langkah ke sepuluh. memang gerakan ini sangat sulit untuk dilakukan namun tidak mustahil. demikian juga dengan kasus-kasus jejak langkah kaki yang lain, pemecahannya sederhana tapi untuk melakukannya tidak sembarang orang mampu melaksanakannya. diperlukan pengetahuan dan penguasaan tenaga dalam yang mahir serta ketepatan dan kecepatan yang akurat dalam melangkahkan kaki ke langkah-langkah berikutnya.semakin lama semakin lancar li kun liong menjalankan rangkaian ilmu langkah ajaib tersebut.

Awalnya terasa kaku tapi setelah diulang-ulang puluhan kali, gerakannya semakin cepat dan lancar. bahkan di hari-hari selanjutnya, secara otomatis kakinya dapat melangkah ke urutan berikut sebelum pikirannya sampai ke langkah berikut. rahasia keajaiban langkah kaki ini terletak pada kecepatan dan ketepatan melakukan langkah tersebut. untuk itu diperlukan penguasaan ilmu meringankan tubuh yang sempurna. semakin sempurna ilmu mengentengkan tubuh seseorang semakin ajaib ilmu langkah kaki ini menunjukkan perbawanya.

Semakin lama mempelajari rangkaian jejak kaki tersebut membuat li kun liong semakin menyelami arti kalimat ke dua, tubuhnya berkelabat ke sana kemari dengan ringan dan lembut bagaikan kupu-kupu berterbangaan tanpa arah namun sebenarnya memiliki arah yag pasti. arah sebenarnya dari gerakan langkah ini tersembunyi di balik ketidakteraturan langkah-langkah tersebut. disinilah letak kehebatan ilmu langkah ajaib ini, menerapkan aplikasi teori ilmu alam yang pada jaman modern ini di sebut dengan teori chaos atau efek kupu-kupu atau teori kekacauan.

Teori ini berkenaan dengan sistem yang tidak teratur seperti fenomena alam (ombak, angin, pohon dll) bersifat random, acak, tidak teratur bahkan anarkis. Namun bila dilakukan pembagian dari pengamatan yang kecil, maka sistem besar yang juga tidak teratur ini sesungguhnya bisa diprediksi sebagai pengulangan dari bagian-bagian kecil yg teratur dan masih bisa diamati. ‘efek kupu-kupu’ yang menimbulkan kekacauan , bukan lagi sistem analisa yang memperhitungkan ketergantungan peka terhadap kondisi awal semata. juga bukan hanya dengan sedikit perubahan pada kondisi awal akan dapat mengubah secara drastis sebuah sistem besar pada jangka panjang (selanjutnya).

Setengah bulan berlalu, li kun liong berhasil menguasai sepenuhnya langkah-langkah ajaib yang ditinggalkan dedengkot silat ratusan tahun yang lalu tersebut. bakat dan kecerdikan yang dimilikinya sekali lagi menunjukkan bahwa manusia semacam li kun liong sungguh jarang ada selama ratusan tahun di dunia kangouw ini. Bagi jago silat yang berbakat sekalipun, butuh waktu tahunan untuk menguasai secara sempurna gerakan langkah ajaib ini. bahkan jika masih hidup, si pencipta ilmu ini tidak akan menyangka ada orang yang mampu mempelajarinya dalam waktu belasan hari saja.

Merasa dirinya telah pulih seperti semula bahkan memperoleh kemajuan tenaga dalam yang berarti dan tambahan ilmu langkah ajaib, membuat li kun liong bertambah lihai saja. dia memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. li kun liong merasa betah tinggal di tempat ini hingga ia memutuskan suatu hari akan kembali ke tempatini. hal pertama ang akan ia lakukan setelah meninggalkan tempat ini adalah berusaha mencari tahu jejak cin-cin. dia merasa khawatir dan ikut bertanggung jawab atas keselamatan cin-cin.
Jilid 7 : kwi-eng-cu camp

Bu-eng-cutiong-goan adalah salah satu tempat yang paling banyak melintasi daerah iklim. di utara, mulai dari daerah beriklim dingin dan sedang di bagian utara keresidenan heilongjiang, ke arah selatan berturut-turut adalah daerah beriklim sedang medium, daerah beriklim sedang hangat, daerah beriklim subtropis, daerah beriklim tropis serta daerah beriklim khatulistiwa. dengan perkataan lain, kecuali daerah tundra dan daerah beku yang dekat dengan daerah kutub , daerah-daerah iklim lainya di dunia terdapat di tiong-goan. khususnya daerah beriklim sedang, daerah beriklim sedang hangat dan daerah beriklim subtropis menempati sebagian terbesar wilayah tiong-goan.

Cuaca yang hangat dan empat musim yang jelas, menjadikan tiong-goan tempat ideal untuk menetap.wilayah tiong-goan yang luas juga menyebabkan perbedaan sangat besar kondisi airantara daerah yang satu dengan daerah yang lain. selama bertahun-tahun ini, curah hujan sangat lebat. akan tetapi, berhubung perbedaan waktu masuk dan keluarnya angin musim panas serta derajat dampaknya terhadap daerah yang berlainan, sehingga mengakibatkan tidak ratanya distribusi waktu dan ruang kondisi air serta kecenderungan semakin berkurangnya curah hujan dari tenggara ke arah baratlaut. daerah di bagian selatan tiong-goan sangat terpengaruh angin topan, curah hujan banyak, khususnya daerah pesisir di tenggara. daerah barat laut tiong-goan terletak di jantung benua erasia, kecil terpengaruh angin topan, curah hujan sedikit, kecuali di sejumlah daerah pegunungan tinggi, curah hujan di daerah umumnya di bawah rata-rata, kebanyakan daerah itu merupakan tanah tandus dan setengah tandus.

Di ruoqiang yang terletak di pedalaman tanah cekung tarim, daerah uighur xinjiang, curah hujan sangat kecil selama bertahun-tahun, merupakan daerah yang paling kering di tiong-goan. angin musiman asia timur sangat besar pengaruhnya terhadap iklim di tiong-goan.
pada musim panas banyak bertiup angin dari arah tenggara, udara panas dan banyak turun hujan, temperatur lebih tinggi daripada daerah lain di dunia yang beradadi garis lintang sama; pada musim dingin sering bertiup angin condong ke utara,udara dingin dan kering, temperatur lebih rendah daripada daerah lain yang berada di garis lintang sama. suhu tinggi di musim panas memungkinkan daerah bagian selatan yang luas di tiong-goan dapat ditanami tumbuhan padi dan kapas yang cocokdengan udara hangat, sedang munculnya udara panas dan hujan dalam waktu bersamaan dapat memenuhi kebutuhan tumbuhan akan kondisi air dan suhu panas.

Topografi tiong-goan beraneka ragam, pegunungan, dataran tinggi, tanah cekung, dataran rendah dan perbukitan terdapat dalam areal luas dan menunjukkan panoramaalam yang berbeda-beda. daerah pegunungan, dataran tinggi dan perbukitan menempati 65% luas total wilayah seluruh negeri. banyak pegunungan yang tinggi dan panjang membentuk kerangka topografi daratan tiong-goan. pegunungan-pegunungan itu malang melintang seperti jaring dengan dataran tinggi yang bentuknya berlainan dan berbeda besar kecilnya, membentuk daerah topografi yang memiliki ciri khasnya sendiri. dibagi menurut tingginya dari permukaan laut, topografi tiong-goan tinggi di barat dan rendah di timur, melandai dari arah barat ke timur seperti anaktangga.

Berdasarkan itu, topografi tiong-goan dapat dibagi menjadi tiga anak tangga dari yang rendah sampai yang tinggi. anak tangga pertama dari pegunungan xingan di utara sampai daerah sebelah timur pegunungan taihang-wushan-xiefeng, topografinya datar, kebanyakan adalah dataran rendah dan perbukitan tidak sampai 500 meter di atas permukaan laut.

Tiga dataran rendah terbesar di tiongkok yakni dataran rendah timur laut, dataran rendah tiongkok utara dan dataran rendah bagiantengah dan hilir sungai yangtze serta daerah perbukitan yang paling luas di tiong-goan yakni perbukitan tenggara berada di anak tangga ini. anak tangga kedua berada di sebelah barat garis tersebut, berupa dataran tinggi dan tanah cekung yang tingginya sekitar 1.000 sampai 2.000 meter di atas permukaan laut. dataran tinggi mongol, dataran tinggi tanah kuning dan dataran tinggi yunnan-guizhou, tiga dari empat dataran paling luas di tiong-goan, serta empat tanah cekung yang terluas di tiong-goan yakni tanah cekung sichuan, tarim, zunggar dan caidam terletak di anak tangga ini. anak tangga ketiga adalah dataran qinghai-tibet, topografi tinggi dan terjal, terdiri atas dataran tinggi yang luas dan datar 4.000 meter lebih di atas permukaan laut dan sederet pegunungan panjang setinggi 5.000-6.000 meter di atas permukaan laut. di antaranya terdapat belasan puncak gunung yangtingginya 8.000 meter lebih di atas permukaan laut.

Puncak zomolungma atau everst , puncak utama pegunungan himalaya yang terletak di perbatasan tiong-goan-nepal setinggi 8848,9 meter di atas permukaan laut adalah puncak tertinggi di dunia. dataran tinggi qinghai-tibet dijuluki pula sebagai “atap dunia”. topografi landai yang terjadi secara alamiah itu menguntungkan mengalirnya udara lembab di atas laut ke daerah pedalaman daratan tiong-goan, sedang sungai-sungai besar yang terjadi oleh turunnya hujan ke bumi mengalir deras ke arah timur dan bermuara di laut, disamping telah menghubungkan lalu lintas daerah pedalaman dan daerah pantai, terjadi pula beda ketinggian aliran sungai sesuai dengan kelandaian topografi sehingga menghasilkan sumber daya tenaga air yang sangat besar. kota lin-an (hangzhou sekarang) saat itu sedang memasuki musim dingin.

Pemandangan pada awal memasuki musim dingin terlihat kontras jika dibandingkan dengan musim-musim lainnya. pada musim semi, keindahan utama terlihat dari mulai munculnya kuncup-kuncup muda. pada musim panas, kuncup-kuncup berkembang menghijau disertai dengan bunga-bunga yang berwarna-warni. memasuki musim gugur, bunga menjadi layu, dan dedaunan berubah memerah atau menguning sebelum akhirnya menjadi kecoklatan dan gugur. pada musim dingin, tanpa adanya salju, pohon-pohon hanya menyisakan warna hitam kulitnya dengan tangkai-tangkai yang menyerupai jejari panjang.jika tiba saatnya salju turun, warna putih yang indah akan mendominasi, menghamburkan cahaya ke segala arah, menciptakan suasana yang benderang dan menyilaukan.memasuki musim dingin, pohon-pohon sudah mulai mempersiapkan dirinya untuk tidur panjang dengan cara merontokkan daunnya. ada beberapa pohon yang masih menyisakan daun-daunnya yang menguning.kalau musim semi terkenal dengan keindahan bunga-bunga bermekaran; di musim salju kita dapat menyaksikan salju putih yang melayang-layang laksana kapuk randu ditiup angin.

Kota lin-an kota yang indah; dengan telaga yang ditumbuhi teratai beraneka warna, dengan gadis-gadis yang tersohor cantiknya.
yiheyuan – istana musim panas, yang terkenal indahnya; tian tan – kelenteng nirwana yang dibangun sangat unik tanpa sepotong paku pun. di musim salju juga ada bunga ume mekar saat musim dingin, meskipun turun salju bunganya tidak gugur. suasananya terasa sangat anggun.

Di tiongkok pohon pinus, bambu dan ume di kenal sebagai “tiga teman pada musim dingin”, dan sering menjadi menjadi tema lukisan karena ketiga tumbuhan ini, tidak gugur daunnya atau bunganya pada musim dingin, menjadi simbol kesetiaan yang tidak berubah.

Penduduk kota di musim dingin ini sebagian besar jarang bepergian, mereka lebih mengurung diri di dalam rumah sambil menghangatkan badan. kalaupun ada yang keluar rumah, mereka lebih suka mampir ke warung arak, mengobrol dengan teman atau kerabat sambil minum arak untuk menghangatkan badan.bangunan kota terhampar putih semua tertutup salju tanpa terkecuali termasuk danau-danau pun turut membeku.

Pagi dengan sinar matahari yang membuat suasana musim dingin agak menghangat ternyata berubah menjadi langit kelabu berangin saat li kun liong tiba di kota ini di sambut rintikan salju. berjalan di suasana dingin memang tidak mudah, terutama bagi kaum kangouw biasa yang ilmu tenaga dalamnya belum sempurna.li kun liong memasuki warung makan pertama yang ia temui, dari tadi malam ia belum mengisi perut.

Suasana warung makan tersebut cukup sepi dari pengunjung, hanya terlihat dua tiga orang pelanggan saja. memilih meja yang berada di sudut, likun liong memesan nasi putih hangat beserta beberapa macam sayur dan lauk pauk,juga tidak ketinggalan dua poci arak utuk menghangatkan tubuh. tidak lupa ia menanyakan kepada pelayan tempat penginapan terdekat, yang ternyata letak rumah penginapan tersebut bersebelahan dengan warung ini. bahkan si pelayan menawarkan jasa untuk mengurus pemesanan kamar kepada li kun liong.

Li kun liong memberikan beberapa tael perak kepada pelayan untuk ongkos menginap satu-dua hari serta tipyang cukup besar. sudah dua bulan berselang ia berkelana mencari kabar berita cin-cin namun sampai saat ini belum jua terdengar kabarnya. selagi menikmati pesanannya, masuk seorang gadis muda dengan wajah yang cantik memukau. kecantikannya sangat khas dan asing, nyata gadis muda ini bukan gadis han. melihat dandanannya li kun liong menduga gadis ini berasal dari suku bangsa miao atau persia. raut wajah yang sesempura gadis ini merupakan impian setiap gadis muda. tubuhnya yang ramping di balut baju berwarna hijau muda menambah daya tariknya. gadis tersebut berjalan masuk menuju meja di sebelah li kun liong dan memanggil pelayan dengan suaranya yang merdu.

Dari nada panggilan, bisa dilihat gadis inisudah terbiasa berurusan dengan pelayan, menandakan dia berasal dari keluarga terpandang atau keluarga kelas atas yang memiliki banyak pelayan. dia memesan dua iga macam sayur, ikan mas di tumis dan sepoci teh hangat.

Sjak kedatangannya, pngunjung warung makan ini mengikuti semua gerak-geriknya, mereka terpukau melihat kecantikan yang jarang mereka lihat sebelumnya bahkan si pelayan pun terkesima dan melayani gadis ini dengan luar biasa manisnya. memang dari tubuh gadis ini selain teruar keharuman seorang dara muda, juga terpancar kewibawaan yang membuat siapa pun yang melihatnya tidak akan berani coba-coba mengusiknya.

Gdis inimemiliki mata yang indah dengan kerlingan bulu mata yang lentik dan tajam, memang menjadi daya tarik tersendiri bagi yang melihatnya. adis ini adalah kim bi cu, putri ketua mo-kauw yang minggat menyusul rombonganmo-kauw ke tiong-goan. selama beberapa bulan ini, ia tidak berhasil menyandak rombongan toa-suhengnya ciang-gu-sik, mungkin arah yang ditempuhnya berbeda.

Meang kim bi cu baru pertama kali ke daerah tiong-goan dan belum mengenal situasi hingga arah yang diambilnya tergantung dari penuturan para pelayan warung makan atau warung penginapan. selama beberapa bulan ini ia sudah cukup mengenal budaya dan adat istiadat penduduk tiong-goan, juga mengenai bahasa ia tidak mengalami kesulitan yang berarti karena sejak kecil ia sudah mempelajari bahasa han ini dariguru yang khusus di undang ayahnya dari tiong-goan untuk mengajarinya bahasa han.

Dam-diam ia mengagumi ketampanan li kun liong, selama berkelana di daerah tiong-goan sudah sering ia melihat pemuda-pemuda tampan bangsa han namun baru kali ini kim bi cu merasa tertarik hatinya. entah apa yang membuatnya merasa tertarik,mungkin ini yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama. dalam adat istiadat bangsa persia, gadis-gadisnya lebih terbuka terhadap pergaulan muda-mudi dibandingkan gadis han yang lebih tertutup dan malu-malu.

Bgitu pula kim bi cu, dengan terang-terangan ia menatap li kun liong dengan kekaguman yang kentara dan membuat li kun liong likat sendiri. sejak tadi li kun liong sudah menyadari tatapan ata si gadis muda ini namun ia pura-pura tidak tahu. dia sendiri mengakui kecantikan gadis ini cukup menarik hati.tak lama kemudian, nampak dua orang pria memasuki warung makan. pria yang disebelah kiri adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahunan dengan raut wajah yang undar, berbaju hijau tua, matanya agak sipit, postur tubuhnya kurus. Sedangkan pia yang satu lagi adalah seorang pria berusia enam puluh tahunan, wajahnya agak kekuning-kuningan, sinar matanya tajam mencorong dengan urat dahi yang menonjol menandakan kesempurnaan ilmu silat yang dimilikinya.

Grak-gerik keduanya kelihatannya lambat namun terbayang kegesitan yang sempurna dari langkah kaki mereka.mereka duduk di meja yang berada di depan pintu masuk. si pemuda memandang sekeliling warung makan dengan acuh tak acuh dan matanya yang sipit berhenti di wajah im bi cu. mata sipit tersebut sedikit terbuka tanda ia dapat melihat kecantikan kim bi cu dan mengaguminya.

Walaupun pemuda tersebut bukan seorang yang suka dengan wanita namun kecantikan kim bi cu telah membuatnya tertarik. sambil nyengir kuda, dia terus-menerus menatap untuk menarik perhatian kim bi cu. Pria tua tersebut diam saja dengan kelakuan si pemuda, dengan tenang ia memesan bermacam-macam sayur dan beberapa poci arak. dari semua pengunjung rumah makan ini, pria tua ini paling menaruh perhatian pada li kun liong.

Sama seperti kim bicu, pada bentrokan mata antara ia dan li kun liong secara sekilas tadi, telah membangkitkan kewaspadaannya. sinar mata li kun liong yang tajam bagaikan mata naga telah membuatnya terkesiap. diam-diam ia kagum terhadap li kun liong yang usianya hampir sama dengan muridnya ini memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna. ingin sekali hatinya mencoba ketangguhan ilmu silat li kun liong. bagi li kun liong, kehadiran kedua pria ini juga telah membangkitkan kewaspadaannya, terutama terhadap pria tua di samping pemuda tersebut. nalurinya mengatakanilmu silat keduanya sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak boleh dianggap enteng.

kim bi cu merasa jengkel di tatap terus menerus oleh pemuda tersebut. walau pun ia sudah terbiasa di tatap demikian sepanjang pengembaraannya namun melihat cengiran si pemuda tersebut menyalakan api di hatinya. memang sejak dulu ia paling tidak suka dilirik oleh para pemuda yang kurang ajar, seolah-olah mata mereka menjelajahi seluruh tubuhnya yang ramping.

Tapi kim bi cu tidak mau sembarangan, ia pun dapat melihat kedua pria ini memiliki ilmu silat yang tinggi. namun tatapan mata si pemuda tersebut membuatnya naik darah. “braak, dibantingnya cangkir tehnya ke meja. uhh.. seekor lalat hijau kok bisa keliaran di sini, menganggu selera makan orang saja” kata kim bi cu dengan jengkel. senyuman di wajah pemuda tersebut menghilang dengan cepat, matanya kembali sipit seperti semula dan mengeluarkan sinar yang berkilauan.

Ia merasa sangat tersinggung di sindir sedemikian rupa oleh kim bi cu. pemuda tersebut memiliki penilaian yang sangat tinggi terhadap diri sendiri hingga penghinaan yang diterimanya barusan telah membuat emosinya naik. coba kalau yang menghinanya bukan seorang gadis cantik, sudah diterjangnya dari tadi.dengan gesit ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke arah si gadis sambil membawa secawan arak.

Sesampai di dekat kim bi cu, ia menjura dan berkata “nona manis hendak kemana sendirian saja, kalau tidak keberatan mari minum bersama cayhe” dengan marah kim bi cu melemparkan sumpit yang dipegangnya ke arah pemuda tersebut. sumpit tersebut meluncur cepat ke arah wajah si pemuda, kecepatannya sungguh mengagumkan. sepasang sumpit yang demikian ringan mampu melucur secepat itu menandakan si pelempar memiliki ilmu silat yang tinggi.s

Sedikit terkejut di serang sedemikian rupa, pemuda tersebut berkelit dengan manis, membiarkan sumpit tersebut meluncur di sampingnya dan menancap di dinding dibelakang. pemuda tersebut meleletkan mulutnya melihat sepasang sumpit tersebut menancap seluruhnya di dinding meninggalkan dua titik kecil saja. diam-diam ia mengagumi kelihaian gadis tersebut, dilihat dari cara melempar sumpit yang sedemikian hebat, pemuda ini tahu ia menghadapi seorang jago wanita yang lihai.

Sehabis melempar sumpit, kim bi cu langsung melancarkan pukulan pek-khong-ciang(pukulan tangan kosong) menyambar ke arah pundak pemuda tersebut. gerakan itu tampaknya tanpa tenaga dan tak terdengar angin pukulan sehalus apa pun, tahu-tahu sudah tiba di depan mata. pemuda tersebut mengangkat tangannya menangkis serangan lawan dengan tiga bagian tenaga dalam. kesudahannya membuat si pemuda terhuyung mundur tiga langkah, ternyata pukulan yang nampaknya tak bertenaga tersebut, begitu ia tangkis baru terasa kekuatan pukulan tersebut. ibarat air sungai yang mengalir dengan tenang dipermukaan namun dibawah permukaan arusnya sangat deras, mampu menengelamkan siapa pun yang tidak berhati-hati.

Dengan muka merah tanda malu, pemuda tersebut lalu melancarkan pukulan balasan, kali ini ia menyertakan tujuh bagian tenaga dalamnya. tangan pemuda tersebut mencengkram cepat ke arah buah dada kim bi cu, bila tidak berhasil dihindari, dapat dipastikan buah dada kimbi cu akan teremas oleh tangan kurang ajar si pemuda tersebut.

Mata kim bi cu mengeluarkan sinar berapi-api, belum pernah ia merasa semarah ini, kalau bisa ingin ia memotong putus tangan pemuda tersebut. dengan lincah dan luwes, kim bi cu mengelakkan serangan tersebut sambil melancarkan tendangan mautke arah dada pemuda tersebut. dalam gebrakan berikutnya masing-masing pihak waspada, mereka tahu kali ini mereka menjumpai lawan yang tangguh.

li kun liong dengan berkerut kening menyaksikan jalannya pertempuran. dia tahu si gadis muda dan si pemuda tersebut memiliki ilmu silat yang setara alias seimbang hingga apabila diteruskan masing-masing pihak tidak akan memperoleh keuntungan apa pun. namun sebagai pihak yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan kedua pihak yang berseteru tersebut, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa, takut dituduh mencampuri urusan orang lain, walaupun sebenarnya ia lebih condong ke arah si gadis muda tersebut.

Diam-diam ia memutuskan untuk melihat keadaan terlebih dahulu, apabila pria tua yang datang bersama si pemuda diam saja, maka ia pun akan diam juga. dia tahu jika sampai pria tua ini turun tangan, dapat dastikan gadis ini akan menderita kekalahan. beberapa puluh jurus telah berlalu, kursi dan meja di warung makan tersebut sudah jatuh berantakan dan pelanggan warung makan ini sejak siang-siang sudah lari meninggalkan warung makan kecuali li kun liong yang masih duduk dengan tenang sambil minum arak.

Pemuda berbaju hijau tua ini merasa geregetan dan malu, sudah sekian lama bertarung belum juga dapat menjatuhkan gadis ini. mau ditaruh kemana mukanya, dia kwi-eng-cu (si bayangan iblis) yang sudah terkenal harus berkelahi mati-matian dengan seorang gadis muda yang tidak dikenal. dia lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuh kebanggaannya, tiba-tiba tubuhnya lenyap dan berubah jadi bayangan yang berkelabatan kesana kemari mengitari kim bi cu bagaikan bayangan iblis yang hendak menerkam korbannya.

kim bi cu merasa terkesiap melihat lawan mampu menunjukan ilmu meringankan tubuh sehebat ini, berkelabat mengitari dirinya, membungkus seluruh ruang geraknya.dia tahu sangat berbahaya situasi ini, dengan cepat ia melancarkan pukulan berantai ke arah bayangan pemuda tersebut untuk membebaskan diri dari tekanan si pemuda.

“plakk!..plakk, tangan mereka saling beradu. dengan gerakan yang indah kim bi cu meloloskan diri dari tekanan pemuda tersebut. untuk menghindari tekanan pemuda tersebut, kim bi cu langsung mengembangkan serangan-serangan maut ke arah pemuda tersebut.

Dalam serangan kali ini, ia melancarkan serangan yang ganas mengarah ke bagian-bagian berbahaya tubuh pemuda tersebut. pertarungan sudah mulai mengarah ke pertempuran mati-hidup.pria tua yang dari tadi hanya melihat saja pertempuran tersebut, tiba-tiba bangkit dan berjalan mengarah ke arah pertempuran.tahu-tahu tubuhnya berkelabat menyelak ke tengah-tengah pertempuran untuk mengakhiri pertarungan tersebut.

Kim bi cu hanya merasakan segulungan bayangan menghampirinya dibarengi angin pukulan yang sangat kuat, jauh lebih kuat dari pukulan si pemuda, mampir di pundaknya tanpa dapat ia elakkan. dia hanya merasa pundaknya sedikit sakit dan tubuhnya tanpa dapat di cegah terdorong mundur oleh sebuah kekuatan yang maha dasyhat.

Beruntung ada sepasang tangan yang menahan punggungnya dari belakang, kalau tidakia pasti sudah terjengkang jatuh ke lantai. sepasang tangan tersebut berasal dari tangan pemuda yang ditaksirnya, tangan li kun liong.jarak li kun liong dengan pertempuran sedikit lebih jauh dari pria tua tersebut hingga sewaktu pria tua tersebut tiba-tiba bergerak maju ke arah pertempuran, ia sedikit terlambat. di samping itu juga, gerakan pria tua ini sangat cepat bagaikan kilat, belum pernah li kun liong menyaksikan gerakan secepat ini selama terjun ke dunia kangouw.

Diam-diam li kun liong sangat kagum melihat pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna ini.
“nona apakah engkau terluka?” tanya li kun liong, kim bi cu tidak menjawab, dia meringis kesakitan, tulang pundaknya sedikit bergeser akibat pukulan si orang tua.
“silahkan istirahat dahulu, nona. biar cayhe menghadapi mereka” kata li kun liong sambil berjalan meghampiri pemuda dan si orang tua tersebut. dengan wajah khawatir, kim bi cu menatap punggung belakang li kun liong.

Dia cukup tahu kelihaian pemuda berbaju hijau tadi, lebih-lebih si orang tua, ia sendiri merasa bukan tandingan si orang tua tersebut. maka tidak heran ia sangsi dan khawatir akan diri pemuda yang ditaksirnya tersebut.dengan tenang li kun liong menghampiri kedua orang tersebut dan menjura sambil berkata “ilmu meringankan tubuh cianpwe sangat hebat, boanpwe li kun liong sangat mengaguminya namun menyerang seorang angkatan muda bukanlah tindakan yang terpuji”

Dengan wajah tak berubah mendengar sindiran li kun liong, si orang tua mendengus dan berkata “jadi engkau inilah pemuda yang akhir-akhir ini meroket namanya didunia persilatan, mungkin kabar tersebut terlalu berlebihan.” sambil tersenyum tawar, li kun liong menjawab “memang kabar di sungai telaga banyak yang simpang siur dan tidak dapat dipercaya sepenuhnya sebelum kita menyaksikannya sendiri. boanpwe sendiri tidak berani mengaku-ngaku angkatan muda yang paling jago. mungkin nama-nama besar yang ada sekarang pun hanya nama kosong belaka”

Li kun liong tidak senang dengan kejumawaan yang ditunjukkan si orang tua hingga ia membalasnya dengan sindiran pula. sifat li kun liong sebenarnya tidak mau ribut-ribut tapi ia paling tidak tahan terhadap orang-orang yang jumawa dan merasa dirinya angkatan yang harus dihormati serta memandang enteng angkatan muda. mungkin ini disebabkan sejak terjun di dunia kangouw, telah berkali-kali ia mengalami pengeroyokan-pengeroyokan yang dilakukan angkatan-angkatan sebelumnya. Dia tahu orang tua ini pasti memiliki asal-usul yang tidak sembarangan.

“hmm, engkau memang pandai bersilat lidah, entah bagaimana dengan kemampuan ilmu silatmu, apakah sebanding dengan lidahmu itu” kata si orang tua sambil mengebaskan tangannya ke arah li kun liong.

li kun liong merasakan serangkum kekuatan yang maha dashyat menerpa dirinya. untung sejak tadi ia sudah bersiap sedia, seolah-olah tidak terjadi apa pun ia menjura dan berkata “kalau boleh tahu, siapakah nama besar cianpwe?” si orang tua merasa kaget kebasan tangannya yang mengandung lima bagian tenaga dalamnya tidak mendapat reaksi seperti yang ia harapkan. Pakaian li kun liong hanya berkibar sedikit, sedangkan orangnya sendiri tidak apa-apa. benar dugaannya, pemuda ini memiliki ilmu silat yang susah diukur.

Dia tidak mau mengambil resiko hanya karena persoalan kecil, ia harus bertempur dengan li kun liong yang ia dengar memiliki ilmu silat yang menghebohkan. syukur apabila ia menang tapi kalau kalah, pamornya selama puluhan tahun ini akan hancur.”baiklah, dengan memandang mukamu, lohu sudahi saja masalah ini. mengenai siapa diri lohu dan muridku ini, seperti yang engkau bilang barusan, nama besar di dunia ini kebanyakan adalah nama kosong belaka, jadi buat apa repot-repot untuk mengetahuinya.” jawab si orang tua sambil mengulapkan tangan ke arah muridnya dan melayang menghilang dari warung makan tersebut bersama muridnya.

Menyaksikan sekali lagi demonstrasi ilmu meringankan tubuh nomer wahid tersebut, li kun liong sudah dapat menerka siapa gerangan pemuda dan si orang tua tersebut. kalau tidak salah dugaannya, si orang tua adalah salah satu dari empat tokoh terbesar dunia liok-lim yaitu bu-eng-cu (si tanpa bayangan ) sedangkan si pemuda tentu adalah muridnya yang juga dikenal sebagai salah satu angkatan muda liok-lim yang paling cemerlang yaitu kwi-eng-cu (si bayangan iblis).

Li kun liong merasa bersyukur tidak jadi bentrok dengan mereka, ia sendiri belum memiliki keyakinan penuh dapt mengalahkan mereka berdua. sejak dirinya beberapakali dikeroyok bahkan keroyokan yang terakhir kali hampir membuatnya meninggalkan dunia ini, telah membuat li kun liong berkurang kepercayaan atas kemampuan dirinya. dia tidak tahu, sebenarnya ilmu silatnya sudah mencapai taraf yang susah di ukur. hanya nasibnya saja yang kurang beruntung, selalu bentrok atau dikeroyok oleh dedengkot-dedengkot silat masa kini.

Dia lalu menengok ke arah gadis muda tadi, dilihatnya muka gadis tersebut pucat menahan sakit. memang bagian pundak adalah bagian yang penting, apabila terkilir harus segera diperbaiki posisi tulangnya, jika sedikit terlambat akan mempengaruhi kemampuan ilmu silat yang sudah di latih selama ini. menyaksikan hal tersebut, li kun liong buru-buru mengajak si nona ke penginapandi sebelah warung makan agar dapat diobati lebih leluasa.

kim bi cu mengikuti saran li kun liong, memang sejak awal ia sudah menaruh kesanyang baik terhadap li kun liong, terlebih ketika pemuda ini membelanya tadi.sekarang berada di dalam kamar penginapan, justeru li kun liong yang menjadi bingung. untuk mengobati tulang pundak yang terkilir tersebut, gadis ini harus membuka baju bagian atas supaya lebih dapat memperbaiki posisi tulang yang terkilir tersebut dengan benar. kim bi cu sadar apa yang hendak dilakukan li kun liong, dia juga menyadari ini adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki tulang pundaknya, tidak mungkin ia sendiri yang melakukannya.

Sambil mengigit bibirnya yang merah, ia berkata “silakan siangkong membantuku memperbaiki tulang pundakku ini”. lalu secara perlahan-lahan ia membuka baju luar bagian atasnya sebelah pundaknya,nampak pundak yang mulus tersebut sedikit lebam kebiruan akibat pukulan si orang tua. li kun liong berusaha mengfokuskan pikirannya untuk memperbaiki tulang pundak gadis tersebut namun tidak dapat dihindari oleh matanya sebagian baju dalam ketat warna merah muda dengan tonjolan bukit yang membusung dibaliknya tersebut.

Dengan hati-hati li kun liong memperbaiki tulang pundak tersebut. syukur tulang yang bergeser tidak begitu parah, cukup beristirahat beberapa hari akan sembuh.ketika jari tangan li kun liong menyentuh pundaknya, hati kim bi cu berdebar-debar. selama hidupnya belum pernah ada pria yang menyentuh pundaknya sedekat ini.
perasaan yang dialaminya sekarang pun belum pernah ia alami, jantung yang berdebar-debar, aliran darah yang bergolak, nafas yang memburu, semuanya campur aduk. hati li kun liong pun terguncang hebat terutama ketika gadis tersebut bernafas dengan kuat membuat tonjolan bukit dibalik pakaian dalam tersebut naik turun dan lekukan bagian atas buah dada si nona semakin menyembul.

Pemandangan yang mampu membuat setiap lelaki bangkit gairahnya.
“sudah selesai, selanjutnya nona cukup beristirahat beberapa hari maka akan sembuh” kata li kun liong memecahkan keheningan yang terjadi sewaktu ia memperbaiki tulang pundak si nona.

Dengan tersipu malu dan wajah yang kemerahan, kim bi cu mengucapkan terima kasihkepada li kun liong.setelah saling berbasa-basi saling memperkenalkan diri masing-masing, li kun liong pamit kembali ke kamarnya untuk beristirahat. hari itu berlalu tanpa kejadian apa pun.

keesokan harinya, li kun liong menghampiri kamar kim bi cu dan mengajaknya sarapan pagi bersama-sama di warung makan kemarin. pundak kim bi cu sudah baikan walaupun masih sedikit kaku namun sembuh dengan cepat.selama berbincang-bincang dengan li kun liong, kim bi cu tidak memberitahu dia adalah putri ketua mo-kauw. dia hanya memberitahu, keluarganya berasal dari persia dan sekarang ini ia sedang berkelana mencari pengalaman di dunia persilatan ditiong-goan ini.

Li kun liong sendiri sebenarnya girang bisa berkenalan dengan kim bi cu yang berasal dari persia dan tentunya bisa membaca bahasa persia (parsi). seperti yang pembaca ketahui, rahasia lukisan kuno telah dapat dipecahkan likun liong tanpa sengaja yang mengandung pelajaran ilmu tenaga dalam tingkat tinggi. tapi tulisan yang berada di lukisan tersebut adalah tulisan dalam bahasa persia sehingga li kun liong tidak mampu membacanya. li kun liong ragu-ragu untuk menunjukkan lukisan kuno tersebut karena ia baru mengenal kim bi cu. dalam pembicaraan mereka selanjutnya, li kun liong menyinggung ketertarikannya mempelajari bahasa persia. kim bi cu dengan senang hati mengajarinya li kun liongtulisan persia.

Begitulah, selanjutnya mereka berdua melanjutkan perjalanan bersama-sama sambil mempelajari bahasa persia. semakin lama bergaul mereka semakin akrab satu sama lain, terlebih memang gadis persia lebih terbuka dari gadis han sehingga sangat membantu mempererat keakraban di antara mereka berdua.
Jilid 8 : Binasanya tokoh kenamaan kangouw

Suatu hari mereka tiba di kota gui-lin dan mendengar kabar yang sangat mengejutkan. ketua partai hoa-san-pai, master yu-kang ditemukan binasa secara misterius dua hari yang lalu di kaki bukit hoa-san. tidak ada yang tahu siapa pembunuhnya,saat itu master yu-kang baru saja turun gunung untuk mengunjungi sahabatnya ong-sun-tojin, ketua parta go-bi-pai. kabar yang beredar d dunia persilatan simpang siur.
ada yang mengatakan master yu-kang binasa di keroyok musuh bebuyutannya sejak muda, pian-mo (setan cambuk),salah satu dari empat tokoh besar angkatan tua kalangan liok-lim dibantu oleh kim-mo-siankouw (dewi berambut emas) yang menjadi istri tidak resmi pian-mo. Dulu di masa mudanya, master yu-kang yang terkenal ketampanannya, dicintai oleh kim-mo-siankouw (dewi berambut emas) namun ditolak oleh master yu-kang karena ia sudah lama mendengar kebejatan kim-mo-siankouw (dewi berambut emas) terhadap pemuda-pemuda tampan.

ini membuat kim-mo-siankouw patah hati dan melanjutkan perbuatan bejatnya itu bahkan makin menggila. sebaliknya pian-mo sudah dari dulu mencintai kim-mo-siankouw tapi bertolak sebelah tangan karena di lihat dari wajahnya, jelas pian-mo tidak dapat bersaing dengan master yu-kang. pian-mo sendiri di masa muda bukan merupakan pemuda yang menjadi impian gadis-gadis. wajahnya biasa saja bahkan cenderung di bawah rata-rata hingga tentu saja kim-mo-siankouw yang di masa mudanya sangat cantik tidak memandang sebelah mata pian-mo.

Hanya gara-gara kim-mo-siankouw, pian-mo rela bermusuhan dengan master yu-kang yang waktu itu terkenal sebagai salah satu angkatan muda yang cemerlang. mereka bertempur ratusan jurus sebelum akhirnya master yu-kang berhasil mengores wajah pian-mo dengan pedangnya dan memutuskan senjata andalan pian-mo, sebuah cambuk sakti yang sudah banyak memakan korban. kekalahan yang diderita pian-mo makin memperhebat permusuhan mereka, terlebih goresan pedang master yu-kang membuat wajah pian-mo bertambah jelek dan menyeramkan hingga harapan untuk mempersunting kim-mo-siankouw pupus sama sekali. namun setelah puluhan tahun berlalu, akhirnya kim-mo-siankouw luluh hatinya melihat kecintaan pian-mo yang tak surut dilekang waktu hingga rela menjadi istri tidak resmi pian-mo.

Versi lainnya mengatakan, ketua hoa-san-pai ini mati di tangan pentolan partai mo-kauw. berita ini pun simpang siur, ada yang mengatakan master yu-kang mati ditangan murid utama mo-kauw-kauwcu, ciang gu sik. kabar yang lain mengatakan master yu-kang mati dikeroyok oleh ciang gu sik dan tetua pelindung kanan partai mo-kauw.

kejadian sesungguhnya tidak ada yang mengetahui, yang jelas master yu-kang ditemukan sudah tidak bernyawa lagi oleh murid-murid hoa-san-pai. berita duka tersebut dengan cepat tersiar di dunia kangouw. berduyun-duyun kaumpersilatan mendatangi partai hoa-san untuk menyampaikan bela sungkawa sekaligusingin mendengar versi sebenarnya apa yang sesungguhnya menimpa diri master yu-kang.

— 000 —

Pegunungan hoa-san sangat terkenal di daerah tiong-goan, pegunungan ini termasuksalah satu pegunungan utama di tiong-goan. ketenaran gunung hoa-san di sampingkeindahan panorama pemandangannya juga karena di salah satu puncak gunung hoa-san ini berdiri markas besar partai hoa-san-pai, salah satu partai terbesar di tiong-goan.saat itu pegunungan hoa-san diselubungi salju itu laksana anak panah yang tajamdan berwarna putih. di kejauhan mulai nampak hamparan salju mempesona, yang tampak seperti permadani itu, menyelimuti pegunungan hoa-san, ditimpa sinar mataharipagi dengan sinar keemasan.

Pagi itu nampak banyak kaum persilatan mendaki gunung hoa-san. sejak kemarin berdatangan kaum persilatan menyambangi partai hoa-san-pai. jalanan dan pepohonan menuju markas besar hoa-san-pai di selimuti salju yang dingin sedingin suasana dipartai hoa-san-pai saat ini.

Dalam kurun waktu enam puluh tahun terakhir, hoa-san-pai mengalami bencana yang hebat yaitu kehilangan ciangbujin dua kali, mereka binasa di tangan musuh hoa-san-pai. tampak di antara murid-murid hoa-san-pai yang sedang berduka, nampak hadir sute master yu-kang yang menjabat sebagai tong-leng gie-lim-kun sun-kai-shek. begitu mendengar suhengnya binasa, sun kai shek yang saat itu sedang berada di kota raja, segera mengajukan cuti dan berangkat ke hoa-san-pai secepatnya.

Master yu-kang hanya memiliki dua orang sute saja yaitu sun-kai-shek dan yo-lung yang saat ini merupakan anggota partai yang paling senior. tidak ada tersisa angkatan sebelum master yu-kang, mereka semua sudah menutup mata atau binasa pada pertempuran lima puluh tahun yang lalu. sedangkan jago muda terlihai dari hoa-san-pai yaitu cia sun yang berjuluk kun-cu-kiam telah binasa di tangan bwe-hoa-cat setahun yang lalu, hingga praktis saat ini hoa-san-pai mengalami kerugian yang sangat besar dan menyebabkan di masa depan pamor partai ini mulai luntur.

Para tamu yang hadir terdiri dari tokoh-tokoh kenamaan seperti ketua biara shao-lin-pai, siang-jik-hwesio yang datang bersama beberapa sutenya. dari pihak kay-pang terlihat datang ketua baru mereka yaitu kam-lokai yang datang bersama muridnya tiauw-ki serta sutitnya kok bun liong. juga datang ketua go-bi-pai, ong-sun-tojin bersama muridnya lu-***. mereka berdua dan pihak kay-pang segera terlibat pembicaran yang kelihatan sangat serius. nampak pula tiong-pek-tojin, ketua bu-tong-pai bersama sute termudanya sie-han-li.

Dari partai-partai selain tujuh partai utama, nampak hadir tokoh-tokoh perwakilan dari ceng-sia-pai, eng-jiauw-bun, khong-tong-pai, keluarga tong, dan tokoh-tokoh kenamaan tak berpartai lainnya.sedangkan perwakilan dari partai thai-san-pai dan kun-lun-pai tidak nampak, dikarenakan letaknya yang nun jauh di sana, berita kematian master yu-kang belum sampai di tempat mereka.suasana haru dan hening terlihat di ruangan utama markas besar hoa-san-pai.

Layon (peti mati) ketua hoa-san-pai master yu-kang berada di pojokan ruangan. para tamu yang memberi penghormatan terakhir di sambut lututan para murid hoa-san-pai sebagai tanda terim kasih. kemudian para tamu dipersilahkan duduk sambil menikmati minuman dan makanan kecil yang disediakan. kesempatan yang langka ini juga dimanfaatkan para tamu untuk saling menyapa kenalan masing-masing.
suasana pun berubah menjadi cukup ramai namun tetap hikmat. seliweran para tamu dan murid-murid hoa-san-pai menambah ramai keadaan ruangan.

Li kun liong dan kim bi cu terlihat berbaur dengan para tamu yang datang. setelah menyapa para tamu yang dikenalnya seperti tiong-pek-tojin, siang-jik-hwesio, dan lain-lain, li kun liong mengajak kim bi cu duduk di barisan belakang. Banyak yang hadir terutama pemuda-pemuda menolehkan kepalanya ke arah kim bi cu, kecantikan yang khas gadis persia telah menarik kekaguman mereka. tanpa sepengetahuan li kun liong, sepasang mata yang indah dan lentik yang berasal dari seorang gadis muda berbaju kuning muda menatap ke arah mereka berdua.

Sepasang mata tersebut awalnya bersinar gembira namun ketika melihat li kun liong di temani seorang gadis yang cantik jelita, sinar matanya berubah menjadi sinar kecemburuan. wajah gadis tersebut tidak kalah rupawan dengan kim bi cu, wajahnya oval bermata bulat jernih, alis tebal dan dagunya yang runcing serta bibir merah delima, di balut kulit yang putih bak pualam sungguh kesempurnaan yang jarang dimiliki oleh seorang gadis. tidak heran sejak kedatangannya bersama bai-mu-an, sipedang kilat, banyak mata yang menatap dan meliriknya dengan kagum.

Diiringi bai-mu-an yang berjalan dengan membusungkan dada, tanda dirinya merasa sangat bangga dapat berjalan dengan seorang gadis yang menarik perhatian banyak orang, bai mu an menyapa kenalan-kenalannya sekaligus memperkenalkan gadis tersebut. li kun ling memandang keliling ruangan, agak jauh di sebelah kirinya, matanya bentrok dengan sepasang mata gadis yang bersama dengan bai-mu-an.

Li kun liong baru pertama kali bertemu gadis ini walaupun lapat-lapat dirinya seperti familiar dengan mata gadis tersebut. dia merasa kagum melihat kecantikan gadis tersebut namun diam-diam dirinya kaget melihat sinar mata si gadis yang seolah-olah hendak membakar dirinya. sambil mengerutkan keningnya, li kun liong mengalihkan pandangannya ke arah bai mu an yang saat itu sedang berbicara dengan lu-*** yang dudukdi sebelahnya.

Li kun liong tidak berani menatap kembali mata si gadis yang datang bersama bai mu an, pikirannya sibuk menerka-nerka kesalahan apa yang telah iaperbuat hingga sinar mata gadis tersebut sangat tajam ke arahnya. setelah sekian lama berpikir, li kun liong merasa sangat yakin ia belum pernah bertemu gadis tersebut sekalipun hingga ia tidak habis pikir mengenainya.

Li kun liong melihat ke arah ketua go-bi-pai ong sun tojin yang saat itu masih terlibat pembicaraan dengan pihak kay-pang. dirinya merasa heran ketika melihat kelompok tersebut sesekali menoleh ke arahnya. apabila satu dua kali masih tidak apa, mungkin mereka mengagumi kim bi cu. namun sudah berkali-kali sudut matanya melihat tengokan mereka ke arah tempatnya duduk, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres tapi entah apa gerangan.

Tiba-tiba ketua go-bi-pai, ong-sun-tojin berjalan ke tengah ruangan dan mengerahkan lweekangnya yang hebat untuk mengatasi dengung pembicaraan para tamu.

“mohon perhatian para tamu sekalian, lohu ada perkataan yang hendak disampaikan” seru ong-sun-tojin.

Lweekang yang dilatih ong-sun-tojin sudah mencapai taraf yang sangat tinggi, hasil latihan selama puluhan tahun. kesempurnaan lweekang ong-sun-tojin terlihat dari suara yang ia keluarkan, walaupun perlahan tapi terdengar sangat jelas ke seluruh ruangan. para tamu yang hadir dengan heran menghentikan pembicaraan mereka dan menatap ketengah-tengah ruangan menantikan perkataan yang hendak disampaikan ketua go-bi-pai, ong-sun-tojin.

Ong-sun-tojin di masa mudanya bernama ong-sun-tiong, seorang anak petani yang diambil murid oleh ketua go-bi-pai terdahulu, in-cinjin. in-cinjin memiliki tigaorang murid yaitu pek-kong-tojin, him-jiu-tojin dan yang terakhir ong-sun-tojin. selisih umur antara ketiga saudara seperguruan tersebut tidak banyak hanya berselang dua-tiga tahun saja. lima puluh tahun yang lalu mereka sudah terkenal dengan julukan go-bi-sam-kiam-hiap (tiga pendekar pedang dari go-bi). mereka bertiga merupakan tunas muda harapan partai go-bi-pai, tidak ada murid-murid go-bi-pai yang melebihi kelihaian ilmu silat mereka.

Bila tidak ada aral melintang dapat waktu dua puluh tahun mendatang dapat dipastikan pek-kong-tojin merupakan calon terkuat untuk menggantikan suhu mereka sebagai ketua go-bi-pai. dari segi ilmu silat, memang pek-kong-tojinmelebihi kedua sutenya tersebut, diantara mereka bertiga ong-sun-tojinlah yang paling lemah kepandaiannya.
ini bukan dikarenakan bakatnya yang kurang namun dikarenakan ong-sun-tojin di waktu muda lebih suka berkelana dan bergaul dengan kaum muda persilatan yang gemar pelesir seperti tiong-cin-tojin, dll.

Memang di masa mudanya, ong-sun-tojin cukup tampan dan terkenal suka pelesir bahkan gurunya pun sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan murid termudanya tersebut. Sangat berlainan dengan ke dua suhengnya, yang sejak muda memang sudah bercita-cita menjadi tojin.

Sifatnya halus tapi angkuh, merasa ilmu silatnya paling tinggi, selain gurunya tidak ada lagi orang yang ia takuti. in cinjin sendiri memiliki hati yang lemah, sering ia tidak dapat berlaku tegas menghadapi kelakuan muridnya tersebut sehingga tabiat ong-sun-tojin semakin merajalela. namun sifatnya yang kurang bagus tersebut tidak banyak orang yang mengetahuinya selain suhunya dan Para suhengnya. dikarenakan hal tersebut, hubungannya dengan suheng-suhengnya tidak begitu akrab, bahkan terhadap para susioknya pun ia tidak memiliki rasa hormat walaupun hal tersebut ia sembunyikan dengan baik sekali.

Maka merupakan suatu kejutan bagi dunia persilatan ketika ia diangkat menjadi ciangbujin go-bi-pai menggantikan in-cinjin yang tewas ditangan ketua mo-kauw. tidak ada yang menyangka, ong-sun-tojin lah yang bakal menggantikan in-cinjin sebagai ketua bahkan para murid go-bi-pai pun sebagian besar terkejut sewaktu mendengar berita tersebut, terkecuali konco-konco ong-sun-tojin. memang dibalik pengangkatan tersebut terselip tipu muslihat yang keji dari ong-sun-tojin.

Diam-diam sejak kecil ong-sun-tojin memiliki ambisi yang sangat besar yaitu menjadi ciangbujin go-bi-pai. tidak ada yang tahu tipu muslihat apa yang dijalankannya, yang jelas tidak beberapa lama setelah in-cinjin binasa, pek-kong-tojin sebagai calon kuat pengganti in-cinjin tiba-tiba mendadak sakit keras dan dalam beberapa hari meninggal dunia. sakit yang dideritanya sangat misterius, semua tabib yang diundang tidak dapat menyatakan pek-kong-tojin terkena penyakit apa.

Desas-desus yang kemudian beredar, pek-kong-tojin di racuni oleh ong-sun-tojin namun karena tidak ada bukti, desas-desus tersebut menghilang di telan waktu. selayaknya setelah pek-kong-tojin meninggal, calon kuat berikutnya adalah him-jiu-tojin sebagai murid kedua tapi entah kenapa him-jiu-tojin menolak menjadi calon ketua hingga akhirnya atas dukungan satu-satunya susiok mereka yang lolos dari pertempuran dengan partai mo-kauw, cin-cinjin maka ong-sun-tiong di angkat menjadi ketua baru dan selanjutnya bergelar ong-sun-tojin.

Dua tahun setelah menjabat sebagai ciangbujin, kembali go-bi-pai kehilangan murid utama mereka, him-jiu-tojin yang seperti toa-suhengnya meninggal akibat sakit yang misterius. demikianlah secara perlahan namun pasti, ong-sun-tojin menyingkirkan semua murid-murid go-bi-pai yang menentangnya. namun berkat kecerdikannya tidak ada satu pun bukti yang mengarah kepadanya, desas-desus hanya tinggal desas-desus dan perlahan-lahan menghilang dengan sendirinya di telan sang waktu.

Di rimba persilatan sendiri nama besar ong-sun-tojin tidak tercela sedikitpun bahkan ia dikenal sebagai salah satu guru besar yang santun dan bijaksana, dan bergaul erat dengan sesama ciangbujin ke tujuh partai utama seperti master yu-kang dan lain-lain hingga setiap patah katanya memiliki bobot yang tinggi.

Kembali ke perkabungan di partai hoa-san-pai, setelah suasana cukup tenang, ong-sun-tojin melanjutkan perkataannya “lohu hendak menyampaikan kabar berita yang sangat penting. berita ini berasal dari sumber yang sangat terpercaya. kabar tersebut meyatakan partai mo-kauw telah menyusupkan mata-mata di setiap partai di rimba persilatan, selain itu kabarnya tokoh-tokoh utama mo-kauw juga telah datang ke tiong-goan, bahkan kabarnya putri ketua mo-kauw sekarang ada di antara kita saat ini. untuk itu lohu harap mulai sekarang kita meningkatkan kewaspdaan kita semua”

Perkataan ong-sun-tojin di sambut dengan wajah kaget oleh para tamu sekalian. berita ini sungguh mengejutkan, mereka yang hadir memang sudah mendengar pergerakan partai mo-kauw namun tidak ada yang menyangka sudah sejauh itu. ruangan kembali ramai dengan pembicaraan seputar partai mo-kauw.

kemudian terlihat seorang pria berusia lima puluh tahunan bangkit, hadirin mengenalnya sebagai ketua ceng-sia-pai, bernama hong gun dengan julukan thi-ciang-siau-pa-ong (si raja tombak). ilmu silatnya terutama ilmu tombaknya diakui sebagai nomer satu dalam rimba persilatan saat ini.

Ia berkata dengan nyaring “berita ini memang sangat penting, bahkan partai mo-kauw berani hadir di perkabungan ini. ini menandakan mereka sangat memandang rendah kaum persilatan tiong-goan. Kalau boleh tahu, apakah ong-sun-tojin sudah mengetahui siapa putri ketua mo-kauw yang telah hadir di sini?” sambil berdehem dan memandang lurus ke arah li kun liong dan kim bi cu berdua, ong-sun-tojin berkata “mungkin sicu li kun liong dapat menjelaskannya kepada kita semua” para tetamu gempar, mereka menggerakkan kepala untuk melihat wajah li kun liong yang terkenal tersebut.

Mereka yang belum pernah melihat pendekar muda yang menguncangkan rimba persilatan belakangan ini sangat penasaran untuk melihat roman muka li kun liong. tampak oleh mereka seorang pemuda berwajah tampan dan halus dengan potongan tubuh seperti seorang siucai (pelajar) berdiri dengan wajah kaget. rata-rata tidak menyangka pemuda yang begitu mengemparkan dunia persilatan dan kabarnya ilmu silatnya susah di ukur bahkan mampu membinasakan salah satu tokoh teratas bu-tong-pai serta menghadapi kerubutan jago-jago kosen kelas atas tersebut adalah pemuda yang tampak lemah ini.

Dengan wajah kebingungan li kun liong berdiri dan berkata kepada ong-sun-tojin “boanpwe tidak mengerti apa maksud perkataan cianpwe. cayhe sama sekali tidak mengetahui keberadaan putri ketua mo-kauw seperti yang cianpwe katakan”
dengan wajah sinis, ong-sun-tojin menjawab sambil menuding ke arah kim bi cu “kalau begitu, mungkin sicu bisa menjelaskan kenapa bisa jalan bareng dengan putri mo-kauw tersebut”

Dengan wajah pucat, kim bi cu berdiri dan berkata “memang benar aku adalah putri ketua mo-kauw tapi li kun liong tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.” li kun liong menatap wajah kim bi cu dengan mulut mengangga, dia tersentak kaget dan tidak meyangka sama sekali bahwa kim bi cu adalah putri ketua mo-kauw.

Bagaikan orang bisu dia tak mampu berkata-kata.”hm, lohu tidak percaya sicu li kun liong tidak mengetahui asal-usul gadis ini. berdasarkan berita yang lohu dengar, mereka berdua melakukan perjalanan bersama dalam waktu yang cukup lama. bukan tidak mungkin kematian master yu-kang berkaitan erat dengan mereka berdua. sebaiknya kita tangkap mereka berdua, pasangan yang tak genah ini terlebih dulu, urusan selanjutnya serahkan saja pada lohu.”

Sinar mata li kun liong mengeluarkan percikan-percikan api, dia merasa marah dan tersinggung dengan perkataan ong-sun-tojin yang sangat menghina dan memandang enteng tersebut. selain itu ia juga gegetan dengan tuduhan gila semacam ini.

“boanpwe menolak tegas tuduhan cianpwe ong-sun-tojin, mereka yang mengenal cayhe cukup tahu tidak mungkin cayhe bersekutu dengan mo-kauw, bahkan beberapa bulan yang lalu hampir saja cayhe mati dikeroyok tokoh-tokoh mo-kauw. sebaiknya sebelum ada bukti yang jelas, tidak sembarangan menuduh seseorang, ini menandakan kepicikan berpikir seseorang!”

Dengan wajah memerah mendengar sindiran li kun liong terhadapnya, ong-sun-tojin mengebrakkan kakinya ke lantai dan berkata “bukti apa lagi, engkau dengan kekasih gelapmu ini sudah merupakan fakta yang tak terbantahkan lagi!”
“harap jaga kalimat cianpwe!, boanpwe tidak bisa menerima perkataan tersebut dari seorang tokoh bu-lim yang dihormati, seharusnya cianpwe malu dengan tuduhan yang sewenang-wenang dan penghinaan terhadap seorang gadis semacam ini. ini tidak mencerminkan sikap seorang angkatan tua yang patut dihormati” jawab li kun liong menahan emosi.
“apa ..!, anak bawang yang baru kenal dunia kangouw semacam dirimu ini, mau coba-coba menasehati lohu yang sudah puluhan tahun berkecimpung di rimba persilatan, benar-benar tidak mengenal tiong dan gie lagi angkatan muda sekarang ini.” kata ong-sun-tojin dengan nada sinis guna memancing kemarahan li kun liong.

ong-sun-tojin memang cerdik, pengalamannya memang tak bisa ditandingi li kun liong yang baru beberapa tahun saja berkelana di sungai telaga. “untuk apa menghormati seorang cianpwe yang justeru tidak tahu bagaimana harus bersikap yang sesuai dengan ke-cianpwe-annya. memangnya hanya karena dia seorang cianpwe, kita-kita yang muda ini harus menelan begitu saja penghinaan ini. Perlu cianpwe ketahui, untuk saling hormat-menghormati baru bisa terjadi bila dilakukan kedua belah pihak bukan satu pihak saja !. tidak ada itu larangan angkatan yang lebih tua boleh memaki atau menyindir seenaknya sedangkan angkatan yang lebih mudah tidak boleh.”
jawab li kun liong setengah berteriak. emosinya tak terbendungkan lagi, bagaikan tanggul yang jebol, mengalir sederas-derasnya.

Kata-kata li kun liong mengemparkan hadirin yang hadir. perlu diketahui di jaman itu, menghormati yang lebih tua seperti guru, saudara seperguruan yang lebih tua, orang tua, ketau partai besar, paman guru, dan lain-lain adalah hal yang mutlak. mereka yang melanggar aturan tersebut akan dikucilkan dan dianggap kurang ajar.

Walaupun yang lebih tua bersikap kasar sekalipun, itu dianggap sebagai ajaran untuk yang lebih muda. memang tidak adil tapi begitulah keadaan di masyarakat imba persilatan saat itu. legenda pendekar besar yo ko yang berani menentang pendapat umum dengan mengawini gurunya sendiri siau liong li atau pun tingkah nyentrik pendekar jaman dulu oey yok soe sampai sekarang pun di jamannya li kun liong masih dianggap menyimpang kebiasaan umum dan dikutuk segenap kaum kangouw.

“sudah…!” lohu paling malas pasang omong dengan orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak mau mengalah seperti ini. bukti sudah terpampang di depan mata, kata-kata sicu ini yang kasar memaki-maki lohu sudah didengarkan semua hadirin. tidak ada jalan lain kecuali lohu harus turun tangan sendiri memberi pelajaran kepada pemuda yang tidak tahu tingginya langit ini” kata ong-sun-tojin sambil melancarkan cengkraman eng-jiauw-kang (ilmu cakar elang) ke arah pundak li kunliong.dengan sedikit mengegoskan badan, li kun liong mengelakkan serangan tersebut namun belum sempat memperbaiki kedudukan dirinya, serangan berikutnya telah melanda.

Gerakan ong-sun-tojin begitu cepat, tahu-tahu pukulannya telah tiba dibagian dada li kun liong. dengan tercekat, li kun liong mengerahkan ilmu langkah ajaib yang telah berhasil dilatihnya dengan sempurna untuk meloloskan diri. hasilnya sungguh tidak mengecewakan, semua serangan berantai ong-sun-tojin dapat dielakkannya dengan manis, tak satu pun pukulan yang berhasil menyentuh ujung bajunya sekalipun.

Para tokoh kosen yang hadir dapat menyaksikan gerak langkah li kun liong yang sedemikian aneh, mampu menghindar dari serangan lawan, merasa sangat kagum dan baru pertama kalinya mereka melihat ilmu ini. tidak heran apabila para tokoh kosen yang hadir tidak mengenal ilmu ini karena ilmu langkah ajaib ini sudah ratusan tahun menghilang dari permukaan bumi. gebrakan pertama tersebut memperlihatkan masing-masing pihak memiliki ilmu silat yang sangat lihai.

kelihaian ilmu silat go-bi-pai sudah dikenal seantero jagat tapi kelihaian dan keanehan ilmu silat li kun liong tak terbayangkan oleh para tamu yang hadir, bisa dimiliki oleh pemuda yang masih semuda ini namun mampu menandingi ilmu silat dari ketua go-bi-pai yang tersohor.ong-sun-tojin merasa malu dan semakin marah, dia seorang ciangbujin partai besar tidak dapat segera menaklukkan seorang angkatan muda yang seusia dengan murid-muridnya. diam-diam ia mengerahkan tujuh bagian tenaga dalam dan melancarkan pukulan jarak jauh ke arah li kun liong. suara gemuruh menyertai pukulan tersebut.

Entah sudah berapa banyak orang yang binasa oleh pukulan sakti ketua go-bi-pai ini tanpa mengenai langsung tubuh korbannya,maka dapat dibayangkan betapa ampuhnya. diam-diam para hadirin menahan nafas dan menyayangkan diri li kun liong yang segera akan binasa akibat pukulan tersebut.li kun liong kaget, tapi ia tidak mau sembrono, dengan cepat ia menggeser mundur kakinya. namun pukulan tersebut selalu mengikuti kemana saja dirinya menghindar hingga mau tidak mau ia harus menangkis pukulan tersebut. bukan main arus tenaga dalam ong-sun-tojin menerpa dirinya. untung saja li kun liong telah memperoleh
kemajuan yang luar biasa berkat latihan coba-coba dari posisi-posisi samadi yang ia tiru dari lukisan kuno hingga tanpa ia sadari ilmu tenaga dalamnya sudah meningkat pesat. dengan sukses ia mampu menangkis pukulan sakti ong-sun-tojin tanpa menderita luka dalam apa pun.

Selagi ong-sun-tojin melancarkan pukulan ke arahli kun liong, tiba-tiba dari arah samping, ia mendengar desir senjata rahasia yang menyambar datang dengan cepatnya ke arah bahu kirinya. saat itu kedua tangannya sedang beradu dengan tangan li kun liong hingga tanpa dapat dielakkan lagi senjata rahasia berbentuk jarum tersebut menancap setengah dibahunya. ong-sun-tojin melompat mundur sambil mencabut jarum tersebut, bahunya terasa kesemutan dan tak dapat digerakkan leluasa, hatinya terkesiap kaget, buru-buru ia menelan obat anti racun buatan go-bi-pai. lalu ia menenggok ke arah mana datangnya bokongan
tersebut.

Tk ada para hadirin yang menyadari tahu-tahu tiga sosok tubuh muncul di dalam ruangan tersebut. mereka terlalu terpesona melihat pertempuran antara ong-sun-tojin dan li kun liong hingga sewaktu salah seorang dari ketiga tamu misterius tersebut melancarkan bokongan ke arah ong-sun-tojin, tak ada yang menghalangi. mereka baru mendusin ketika melihat ong-sun-tojin mundur sambil memegangi bahunya yang terkena senjata rahasia.terlihat di dalam ruangan tersebut kedatangan tiga orang yang luar biasa. keluarbiasaan tersebut terpancar dari tubuh dan wajah mereka. wajah ke tiga orang tersebut sangat tenang namun lapat-lapat kelihatan hawa permusuhan yang terlihat tidak begitu kentara kecuali oleh jago silat kelas satu.

Tentu saja hawa permusuhan yang nampak di sebuah perkabungan terlihat sangat kentara bagi yang hadir, dalam waktu singkat ruangan utama partai hoa-san-pai yang lebar menjadi hening ibarat dengung nyamuk pun akan terdengar jelas.ketiga orang tersebut adalah para tokoh puncak mo-kauw, yang berada di tengah adalah tok-tang-lang, disebelah kirinya nampak murid utama mo-kauw ciang gu sik dan di sebelah kanan tok-tang-lang berdiri seorang pemuda yaitu ceng han tiong. mereka datang bertepatan dengan pertempuran antara li kun liong dan ong-sun-tojin,kehadiran mereka memang sudah direncanakan terlebih dahulu.

Ciang gu sik dan tok-tang-lang melongo melihat li kun liong masih hidup, padahal mereka yakin sekali li kun liong binasa waktu pertempuran terakhir bahkan mereka sudah memeriksa dengan seksama tubuh li kun liong hingga diam-diam hati mereka mengkirik melihat kejadian ini. namun sebagai tokoh yang sudah mempunyai pengalaman yang luas, tok-tang-lang sadar bahwa saat itu agaknya li kun liong belum benar-benar mati. memang benar peristiwa tersebut sangat jarang terjadi namun bukan hal yang mustahil.

Tok-tang-lang merasa sedikit menyesal, kalau tahu begitu, bisa saja ia menusuk dada li kun liong untuk memastikan kematiannya, namun nasi telah menjadi bubur, menyesal pun tiada guna. yang penting adalah bagaimana menghadapi li kun liong saat ini sebab dia tahu ilmu silat li kun liong sangat lihai,lebih-lebih setelah melihat pertarungannya dengan ong-sun-tojin, ia lihat ilmusilat li kun liong semakin lihai dari setahun yang lalu. ia tidak habis pikir bagaimana bisa ilmu silat li kun liong bisa maju sepesat ini dalam waktu setahun saja, li kun liong akan menjadi batu sandungan bagi rencana mereka.
Namun otaknya yang cerdik segera menemukan pemecahan terhadap masalah tersebut,dia segera membisikkan rencana tersebut kepada kawan-kawannya. demikianlah mengapa begitu datang tok-tang-lang segera melepaskan senjata rahasia ke arah ong-sun-tojin, ini merupakan langkah pertama dari taktiknya.

Para tamu yang hadir kebanyakan tidak mengenal mereka bertiga yang barusan datang namun lain dengan pihak kay-pang, mereka tentu saja mengenal tok-tang-lang atau seng-lokai, penghianat partai kay-pang. ternyata mereka bertiga adalah tokoh-tokoh puncak mo-kauw hingga dengan cepat berita tersebut menyebar. sedangkan para ketua partai yang hadir umumnya mengenal siapa adanya tok-tang-lang namun mereka tidak menyangka bahwa tok-tang-lang merupakan tetua pelindung kanan dari mo-kauw. rupanya dua puluh tahun yang lalu ketika ia dikalahkan oleh kiang-ti-tojin,ia pergi menghilang ke persia dan menjadi sekutu partai mo-kauw.

Li kun liong melihat kehadiran susioknya dan ciang gu sik, tokoh yang telah mengeroyoknya hingga ia hampir binasa, sinar matanya mengeluarkan sinar bagaikan api yang membara. namun belum sempat ia bereaksi, tok-tang-lang telah berkata terlebih dahulu,”he..he..he, rupanya tokoh bu-lim yang begitu dihormati cuma berani melawan angkatan muda saja, sutit jangan khawatir susiok akan membalas semua hinaan mereka.apakah engkau tidak apa-apa, sebaiknya engkau istirahat dahulu, biar paman gurumu ini yang akan membereskan semua ini” kata-kata tok-tang-lang di sambut dengan rasa kaget oleh para tamu sekalian, rupanya li kun liong adalah sutit dari tetua mo-kauw hingga tuduhan ong-sun-tojin sangat beralasan. mereka yang awalnya kurang begitu yakin sekarang keyakinan mereka goyah.

Belum sempat li kun liong bereaksi, tok-tang-lang sudah langsung menyerang ong-sun-tojin diikuti ciang gu sik yang menerjang ke arah ketua kay-pang kam-lokai, sedangkan ceng han tiong mengeluarkan tanda siulan khas mo-kauw berkumandang ke seluruh puncak gunung hoa-san. tidak beberapa lama kemudian, tampak puluhan anggota mo-kauw menyerbu masuk. keadaan segera menjadi kacau balau, pertempuran mati-matian pun segera terjadi. jeritan kematian terdengar di sana-sini, anggota-anggota partai mo-kauw yang di bawa ciang gu sik kali merupakan anggota-anggota pilihan, ilmu silat mereka boleh dibilang setaraf dengan jago kelas satu sungai telaga sehingga tidak heran banyak tetamu dan murid-murid hoa-san-pai yang ilmu silatnya kurang lihai menjadi korban mereka.

Melihat keadaan tersebut, di pimpin sun-khai-sek dan yu-long para murid hoa-san-pai bahu membahu bersama tetamu yang lain menghadapi serbuan kawanan mo-kauw. pertarungan antara ciang-gu-sik dan kam-lokai berlangsung seru namun beberapa puluh jurus kemudian, segera kelihatan kam-lokai kalah unggul. kalau pada awalnya ia masih sanggup membalas setiap serangan lawan dengan tang-kaw-pang-hoat (ilmutongkat pemukul ******) yang baru dipelajarinya dari ketua kay-pang terdahulu sun-lokai, setelah lewat puluhan jurus kelihatan ilmu tongkat pemukul anjingnya tersebut masih kurang matang hingga kehebatannya berkurang banyak.

Bagi ahli silat tingkat tinggi, kematangan ilmu yang dimainkan adalah hal yang mutlak diperlukan dalam menghadapi lawan yang setimpal atau lebih tinggi. lain halnya bila menghadapi lawan yang lebih rendah tingkatnya, kematangan ilmu silat yang dimainkan tidak mempengaruhi banyak karena lawan kalah tinggi ilmu silatnya. tetapi menghadapi lawan yang ilmu silatnya sederajat atau lebih tinggi, tentu saja ketidak
matangan ilmu yang dimainkan merupakan malapetaka.

Melihat suhunya kewalahan menghadapi ciang gu sik, tiauw ki segera meninggalkan lawannya dan maju membantu mengerubuti murid utama mo-kauw tersebut. dengan adanya bantuan tiauw-ki yang sudah mewarisi sebagian besar ilmu kay-pang, keadaan menjadi seimbang kembali. bersama muridnya, kam-lokai menjalankan barisan pemukul
****** kebanggaan kay-pang. sebenarnya barisan pemukul ****** ini memerlukan sekitar delapan orang agar supaya barisan ini efektif dalam menghadapi musuh yang lebih tinggi tingkatnya. namun keadaan memaksa hingga dengan berdua saja mereka berusaha menahan serangan ciang gu sik dan hasilnya lumayan, bisa menghalau serangan-serangan lawan untuk sementara.

Situasi pertempuran secara keseluruhan masih berlangsung seimbang, terlihat tiong-pek-tojin dan ong-sun-tojin sedang bertanding dengan seru melawan tetua mo-kauw tok-tang-lang. tok-tang-lang yang bernama asli tan kin hong dua puluh tahun yang lalu pernah dikalahkan guru tiong-pek-tojin yaitu kiang-ti-tojin melalui pertarungan ratusan jurus hingga pertarungan kali ini boleh dibilang pertarungan balas dendam tok-tang-lang terhadap bu-tong-pai.

Sebenarnya apabila ong-sun-tojin tidak terluka terkena bokongan tok-tang-lang sewaktu dirinya bertempur dengan likun liong, pertempuran bisa berlangsung seimbang, namun karena bahu kirinya tidak leluasa digerakkan, otomatis ilmu silat yang dimainkannya tidak bisa seratus persen. kesempatan tersebut tidak disia-siakan tok-tang-lang, sambil mengelakkan diri dari tusukan pedang tiong-pek-tojin, ia melancarkan ilmu thian-te-hoat (ilmu langit bumi) tingkat ke lima ke arah ong-sun-tojin. ong-sun-tojin hanya merasakan hawa disekelilingnya panas dan membuat hidungnya tak lancar menghirup udara,tahu-tahu pundak kanannya terhajar pukulan lawan. dengan sempoyongan ong-sun-tojin mundur menghindari pukulan selanjutnya.

Menampak hal tersebut, ketua shao-lin-pai, siang-jik-hwesio mau tidak mau tanpa mengindahkan aturan kangouw lagi, maju membantu menghadapi tok-tang-lang dan menyuruh ong-sun-tojin mundur untuk merawat luka-lukanya. keadaan sekarang cukup berimbang, seperti yang diketahui umum,ilmu silat shao-lin merupakan sumber dari segala ilmu silat di tiong-goan, siang-jik-hwesio sebagai ketua shao-lin-pai yang memimpin ribuan murid shao-lin tentu saja memiliki ilmu silat yang sangat tinggi hingga pertempuran berjalan seimbang.

Di lain pihak ceng han tiong yang melihat kehadiran kim bi cu merasa sangat gembira, sudah sekian lama ia mencari sumoinya ini tapi tak ketemu juga.”sumoi, suhu marah engkau minggat dan menyuruhku mencari dirimu serta mengajakmu pulang ke persia” kata ceng han tiong.

Dengan wajah pucat tanda hatinya merasa pedih, kim bi cu berkata “tidak mau hantiong, aku masih betah di sini, engkau saja pulang memberitahu ayah” lalu kim bi cu berlari keluar meninggalkan markas hoa-san-pai. hatinya merasa sedih dan menyesal telah membohongi li kun liong tentang jati dirinya yang sebenarnya. ia telah membuat li kun liong di tuduh macam-macam oleh kaum persilatan.

kim bi cu merasa tidak ada muka lagi menghadapi li kun liong, ia tahu li kun liong pasti merasa sangat marah. tanpa menenggok lagi ke arah belakang ia berlari tak tentu arah, ia tidak peduli apa-apa lagi, yang penting segera meninggalkan tempat ini sejauh-jauhnya.

ceng han tiong berusaha mengejar kim bi cu tapi dihalangi oleh sie han li dan lu ***. mereka menyerang ceng han tiong dengan serangan-serangan ganas, terutama lu *** yang merasa sangat marah melihat gurunya ong-sun-tojin terluka parah oleh kawanan mo-kauw ini. mereka tidak memberikan kesempatan buat ceng han tiong untuk meloloskan diri, dengan demikian maksud ceng han tiong terhalang dan membuatnya sangat marah. dia membalas balik serangan-serangan kedua lawannya ini dengan serangan yang tak kalah ganasnya. sie han li dan lu *** merupakan salah satu angkatan muda dari ketujuh partai utama yang sudah mewarisi sebagian besar ilmu partai masing-masing hingga kelihaian ilmu silat mereka tidak diragukan lagi.

Sedangkan ceng han tiong adalah murid termuda dari ketua mo-kauw yang memiliki bakat yang baik sekali bahkan melebihi toa-suhengnya cian gu sik. walau pun saat ini ilmu silatnya masih kalah setingkat dari toa-suhengnya tapi dapat dipastikan dengan bakat yang dimilikinya dalam waktu sepuluh tahun ke depan dapat menyusul ilmu silat suhengnya.menghadapi serangan kedua pemuda tersebut, ceng han tiong dapat melayani mereka dengan imbang bahkan sedikit lebih unggul. terjadilah pertempuran yang seru antara tunas-tunas muda paling cemerlang di dunia persilatan saat ini.

Pertempuran ini tidak kalah serunya dengan pertempuran angkatan yang lebih tua bahkan terlihat lebih seru karena semangat dan darah muda mereka lebih tinggi serta berani mati dengan mengeluarkan ilmu silat andalan masing-masing. puluhan jurus berlalu namun masih berimbang, belum kelihatan siapa pemenangnya. walaupun sedikit lebih unggul namun tidak mudah bagi ceng han tiong untuk merubuhkan sie han li dan lu *** dalam waktu singkat. dibutuhkan ratusan jurus lagi untuk mencapai kemenangan dan tentu saja kelihaian ilmu silat bukan satu-satunya faktor yang menentukan menang-kalah tapi juga konsentrasi pikiran, kebugaran fisik dan ketepatan dalam melancarkan jurus-jurus serangan.

Di lain pihak, li kun liong merasa serba salah untuk membantu kaum persilatan tiong-goan, hatinya masih merasa tersinggung dengan tuduhan ong-sun-tojin dan melihat sebagian besar tatapan menuduh dari mata para tamu yang hadir, terlebih setelah mereka mendengar perkataan susioknya tok-tang-lang.ketika dilihatnya kim bi cu lari meninggalkan tempat ini, segera ia mengejarnya.li kun liong ingin meminta penjelasan selengkapnya kepada kim bi cu. namun ketika ia tiba di luar markas hoa-san-pai, kim bi cu sudah tidak kelihatan lagi, entah arah mana yang diambilnya.

Li kun liong ragu-ragu sejenak, akhirnya ia memutuskan mengejar ke arah timur. setelah sekian lama berlari dengan mengerahkan ilmu
mengentengkan tubuh belum juga kecandak, ia meneruskan pnegejaran ke arah timur. dua jam sudah ia berlari namun kelihatan arah yang ia ambil salah, sekarang ia tengah berada di bagian tengah salah satu puncak pegunungan hoa-san. di tengah hamparan salju dengan cahaya yang menyilaukan dengan pepohonan yang diselimuti butir-butir salju yang turun dari langit dengan derasnya.

Dari ketinggian, eloknya alam pegunungan hoa-san membuat orang terpana karena tak ada bandingannya. terkadang awan tebal menutupi pemandangan di bawah. namun dibalik keindahan dan kesan damai dari pemandangan salju itu, suasana hati li kunliong malah sebaliknya. tiba-tiba, di depan matanya terbentang pemandangan danau yang dikelilingi pegunungan diselimuti salju dan kabut, yang berusaha menelan
matahari. sinar oranye matahari meninggalkan jejak keemasan, dan permukaan air danau pun seakan menjadi lautan emas. sinar keemasan yang terlihat di sela-sela ranting telanjang pepohonan, sungguh indah.

Sekonyong-konyong matanya melihat setitik bayangan kecil bergerak di sekitar danau tersebut. sambil memicingkan mata, li kun liong berusaha menebak titik bayangan tersebut apakah seorang pria atau seorang gadis namun karena jauh ia tidak dapat memastikan. segera ia melayang ke arah titik bayangan tersebut, menuruni lereng salju pegunungan ini dengan cepat.ketika ia tiba di tepi danau yang mengeras tersebut, tak terasa hari sudah menjelang sore, matahari sedang bersiap-siap pulang sehabis menyelesaikan tugas hariannya.

Li kun liong meneruskan langkah kakinya masuk ke dalam hutan di sekitar danau tersebut. kira-kira berjalan sekitar sepertanakan nasi, ia melihat sebuah pondok yang cukup besar di balik pepohonan. kondisi pondok tersebut sudah tidak terlihat bagus lagi namun lumayan untuk melepaskan lelah dan menghabiskan malam dari pada di luaran.

Dari depan pondok tersebut kelihatan seperti pondokan sementara para pemburu binatang sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke bawah bukit.li kun liong berjalan menghampiri pondokan tersebut, dibukanya pintu pondokan yang tak terkunci dan melangkah masuk ke dalam.

Ruangan di dalam pondokan tersebut cukup besar, di tengah ruangan terletak sebuah meja kayu sederhana dengan beberapa buah kursi yang terbuat dari kayu. di atasmeja itu hanya terlihat sebuah mangkok kayu berisi salju yang mulai mencair.di sebelah kiri ruangan ini, terlihat sebuah ruangan lain yang ditutupi sehelaikain seukuran pintu. tidak ada ruangan lain, kelihatannya ruangan di sebelah kiri berfungsi sebagai kamar tidur.

Selagi li kun liong menatap sekeliling ruangan, dari balik ruangan di sebelah kiri muncul sesosok tubuh seorang gadis muda, gadis tersebut ternyata adalah kim bi cu. rupanya arah yang di tempuh li kun liong dalam mengejar kim bi cu benar dan ttik bayangan yang ia lihat tadi memang kim bi cu adanya. ketika berlari meninggalkan markas hoa-san-pai, kim bi cu tidak memperdulikan arah hingga akhirnya ia tersesat dan memutuskan untuk bermalam di pondokan yang ia temukan.

Saat itu ketika li kun liong memasuki pondokan, sebenarnya ia sedang membereskan ruangan tidur. masing-masing pihak terkejut melihat kehadiran masing-masing, tidak ada sepatah katapun yang mereka ungkapkan.

Dengan sorot mata menyesal, kim bi cu menghampiri li kun liong dan berkata “maafkan aku kun liong, aku telah membohongimu dan menyebabkan dirimu dituduh macam-macam tapi sebenarnya aku tidak bermaksud demikian. engkau tahu partai kami mo-kauw dipandang sesat oleh kaum kangouw di tong-goan sehingga sewaktu kita bertemu tentu saja aku tidak berani menceritakan asal-usulku sejujurnya kepadamu, aku takut begitu mendengar diriku berasal dari mo-kauw engkau tidak akan mau jalan bersama.”

Dengan nada pahit li kun liong menjawab “engkau tidak tahu, aku hampir binasa ditangan partaimu, dua dari tiga orang yang datang tadi adalah mereka yang mengeroyokku secara pengecut setahun yang lalu, masih untung aku bisa hidup sampai sekarang. engkau benar kalau aku tahu sejak dahulu bahwa engkau adalah putri ketuamo-kauw, aku pasti tidak akan mengajakmu jalan bersama. dendamku terhadap mereka yang mengeroyokku pasti akan kubalas suatu saat.”

“apakah mereka yang mengeroyokmu adalah pria yang berusia lima puluh tahun dan pria berusia tiga puluh lima tahunan?”
“benar, pria yang tertua aku sudah mengenalnya, dia sebenarnya adalah susiokku yang sudah diusir dari perguruan.”
“pria yang satu lagi tersebut adalah toa-suhengku, murid pertama ayahku, namanya ciang gu sik, ilmu silatnya sangat lihai” kata kim bi cu.
“hmm, suatu hari nanti mereka pasti akan merasakan pembalasanku” kata li kun liong geram.

Dengan mata sayu, kim bi cu bergeser mendekat ke arah li kun liong dan bertanya “kun liong, apakah engkau mau memaafkanku?” li kun liong menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya dengan lemah. “sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi, sudah cukup kesalahpahaman yang terjadi, antara aku dan pihak mo-kauw sudah tidak bisa didamaikan lagi. jadi untuk menghindari ha-hal yang tidak diinginkan memenag sebaiknya kita tidak jalan bareng lagi.”

Dengan wajah kecewa kim bi cu menganggukkan kepala tanda setuju, dia memahami maksud hati li kun liong. namun diam-diam hatinya merasa sedih tidak bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya. selama melakukan perjalanan bersama li kun liong, hatinya sudah diserahkan kepada li kun liong sepenuhnya. diam-diam ia memutuskan untuk menyerahkan hati dan tubuhnya kepada li kun liong malam ini sebelum kembali ke persia. memang partai mo-kauw terkenal sedikit sesat sehingga dibesarkan di dalam lingkungan demikian, sedikit banyak sifat kim bicu terpengaruh dengan lingkungannya yang bisa menghalalkan segala cara ntuk mencapai tujuan.

Namun kim bi cu takut li kun liong menolak maksud hatinya hingga dengan diam-diam tanpa sepengetahuan li kun liong, ia menaruh sejenis obat penambah gairah ke dalam mangkuk air yang di minum li kun liong. efeknya segera kelihatan tak lama kemudian, li kun liong merasa sedikit gerah dan aliran darahnya berjalan cepat. harum tubuh kim bi cu yang duduk disebelahnya mulai menganggunya.

kim bi cu berlagak tak tahu apa dan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah li kun liong, hati likun liong makin berdebar-debar kencang. dicobanya untuk menguasai diri namun obat penambah gairah yang diberikan kim bi cu merupakan ramuan kuno dari negeri persia dan dibuat oleh tabib nomer satu persia dengan bahan-bahan yang berkualitas t inggi hingga kemujarabannya tidak diragukan lagi.

Obat ini berguna bagi raja atau pria yang mengalami kesulitan untuk berhubungan intim dengan wanita, apabila diberikan kepada pria yang masih muda, apalagi yang memiliki gairah yang tinggi,obat ini bagaikan menambah nyala api unggun dengan kayu bakar yang banyak. demikian juga dengan li kun liong yang masih muda dan memiliki gairah yang cukup tinggi tak terkecuali terpengaruh dengan ramuan ini hingga dalam waktu yang tidak berapa lama efeknya sudah mempengaruhi kesadarannya dan tidak dapat berpikir jernih kembali, apalagi memang li kun liong pada dasarnya memiliki kelemahan terhadap seorang wanita.

Dahi li kun liong mulai mengeluarkan keringat tanda gairahnya makin memuncak.”engkau kenapa kun liong” kata kim bi cu sambil berusaha menyentuh dahi li lun liong.

li kun liong berusaha sekuat tenaga menahan gairahnya yang semakin memuncak, namun ketika tangan kim bi cu menyentuh keningnya seolah-olah bagaikan aliran listrik, ia memegang tangan kim bi cu dan menarik tubuh kim bi cu yang ramping ke dalam pelukannya. kehalusan jari-jari tangan kim bi cu terasa benar di dalam genggaman. kim bi cu tak menolak bahkan membalas dekapan li kun liong dengan erat.

kim bi cu memiliki bentuk tubuh yang tinggi semampai dengan mata dan hidung yangmancung, kulitnya yang putih kecoklatan cukup merangsang gairah lelaki. wajahnya manis dengan bibir tipis yang merekah sedikit terbuka memperlihatkan giginya yang putih dan kecil-kecil. rambutnya yang lurus dan panjangnya sampai punggung.

li kun liong mengulum bibir kim bi cu yang merekah tersebut, rasanya manis sekali bagaikan buah apel segar. kuluman bibir li kun liong disambut kim bi cu dengan ciuman yang lembut tapi hebat. lidah li kun liong menjulur dalam-dalam ke langit-langit mulut ki bi cu, yang dibalas dengan penuh hasrat oleh kim bi cu. kim bicu merangkul pundak li kun liong , buah dadanya menekan dada li kun liong dengan hangatnya.

Kim bi cu mempererat rangkulannya pada bahu li kun liong.
hasrat li kun liong makin terbakar, ternyata hasratnya tidak bertepuk sebelah tangan. ternyata ki bi cu juga menyimpan hasrat untuk bercinta dengannya.

“bi cu…,” desah li kun liong penuh nafsu. bibirnya pun kembali menggeluti bibir kim bi cu. bibir sensual yang menantang itu dilumat-lumat dengan ganasnya. kedua tangan li kun liong menyusup diantara lengan tangan kim bi cu, tubuhnya yang seksi dan kenyal itu sekarang berada dalam dekapannya. li kun liong mempererat dekapannya, kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badannya, walau lembaran kain baju masih menghalangi mereka.

Payudaranya yang membusung terasa semakin menekan dada li kun liong. jari-jari tangan kim bi cu mulai mengusap-usap punggung likun liong.sambil tangan kiri terus mendekap tubuh ki bi cu, tangan kanan li kun liong bergerak ke samping pinggang kim bi cu dan melepaskan ikatan bajunya.

Begitu terbuka disingkapkannya bukaan pakaian yang dikenakan kim bi cu. kemudian kedua tangannya menyusup ke dalam baju dan langsung mendekap erat punggung kim bi cu yang berkulit halus. kim bi cu kemudian melepaskan rangkulannya ke tubuh li kun liong dan mengayunkan kedua tangannya satu per satu ke belakang agar bajunya terlepas dari tubuhnya. dan terjatuhlah bajunya ke lantai.mereka kami kembali berpelukan erat dan saling melumat bibir. sementara tangan mereka saling mengusap-usap punggung.

Kehangatan menyertai tubuh bagian li kun liong yang saling menempel. kini dirasakannya payudara kim bi cu yang montok menekan nakal ke dadanya. dan ketika saling sedikit bergeseran, putingnya seolah-olah
menggelitiki dada li kun liong. senjatanya terasa hangat dan mengeras.
tangan kiri li kun liong pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul kim bi cu, kemudian menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutnya. sementara bibirnya melepaskan diri dari bibir kim bi cu, dan bergerak ke arah lehernya. leher jenjang yang putih mulus dan berbau harum segar itu pun diciuminya, dihisap-hisap dengan hidungnya, dan dijilati dengan lidahnya.

“ah… uh…, ” desah kim bi cu sambil menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai dagunya terbuka dengan luasnya.kim bi cu pun membusungkan dadanya dan melenturkan pinggangnya ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajah li kun liong dalam keadaan menggeluti lehernya, tubuh mereka dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya. tangan kanan li kun liong lalu bergerak ke buah dada kim bi cu yang ranum segar, dan meremas-remas payudara tersebut dengan penuh perasaan.

kim bi cu mendiamkan saja perbuatan li kun liong tersebut bahkan mengigit bibirnya erat menahan gairahyang muncul akibat remasan tersebut.setelah puas menggeluti lehernya, wajah li kun liong turun ke arah belahan dada kim bi cu. dia berdiri dengan agak merunduk. tangan kirinya pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi payudara kim bi cu. wajahnya kemudian menggeluti belahan payudara kim bi cu, sementara kedua tangannya meremas-remas kedua belah
payudaranya sambil menekan-nekankannya ke arah wajahnya.

Segala kemulusan dan kehalusan belahan dada itu dikecupi dengan bibirnya. segala keharuman yang terpancar dari belahan payudara itu dihirup kuat-kuat dengan hidungnya, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang tersisa sedikitpun. digesek-gesekkan memutar wajahnya di belahan payudara itu.

kemudian bibirnya bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. diciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. dan dimasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutnya. kini ia menyedot-sedot puting payudara kiri kim bi cu. dimainkan puting di dalam mulut dengan lidahnya. sedotan kadang diperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna
kecoklatan.

“ah… uh…kun liong… geli… geli…,” mulut indah kim bi cu mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan, bagaikan desisan ular yang kelaparan mencari mangsa.li kun liong memperkuat sedotannya.

sementara tangannya meremas kuat payudara montok yang kenyal kim bi cu sebelah kanan. kadang remasan diperkuat dan diperkecilnya menuju puncak bukitnya, dan diakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jarinya pada puting di atas puncak bukit payudara kanan itu.

“kun liong… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”
li kun liong semakin gemas. payudara aduhai kim bi cu itu dimainkannya secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. bukit payudara kadang disedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang disedot hanya putingnya dan dicepitnya dengan gigi atas dan lidah. belahan lain kadang diremasnya dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan halus, kadang hanya dipijit-pijit dan dipelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.

Kim bi cu mendesis-desis penuh kenikmatan, matanya kadang terbeliak-beliak, geliatan tubuhnya ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya,
dari belakang bentuk tubuh kim bi cu sungguh terlihat aduhai. rambut belakang yang diikatnya ke atas itu menyebabkan lehernya yang jenjang terlihat jelas bagian belakangnya. beberapa helai rambut bagian bawahnya yang pendek terlepas dari ikatan tersebut dan terjatuh menghiasi lehernya yang jenjang. kulit punggungnya kelihatan licin. tubuh tersebut meramping di bagian pinggangnya. di bawah pinggang, tampak pinggulnya yang melebar dengan indahnya.

Kemudian bentuk paha dan betisnya amatlah bagus, berkulit putih mulus tanpa terlihat goresan sedikitpun,buah dadanya yang ranum dan montok itupun tampak menggantung kenyal dengan indahnya di dadanya. di bawah sinar lilin, gundukan payudara itu tampak amat mulus dan putih mengkilat. sementara ujungnya berwarna merah muda, dengan putingnya yang menyembul indah di tengah-tengahnya berwarna pink kemerahan. buah dadanya kelihatan begitu membusung dengan bagusnya, di mana ujung serta putingnya kelihatan meruncing tajam dengan aduhainya.

Li kun liong tidak dapat berlama-lama memandang tubuh kim bi cu yang sungguh aduhai tersebut. segera direngkuhnya tubuh kim bi cu dan
dikecup daerah antara telinga dan lehernya. bau harum dan segar yang terpancar dari kulit kim bi cu dihisapnya dalam-dalam. kadang daun telinga sebelah bawahnya yang kebetulan sedang tidak memakai anting-anting dikulum dalam mulutnya dan dimainkan dengan lidahnya.

Kadang ciumannya berpindah ke punggung lehernya yang jenjang. dijilati pangkal helaian rambutnya yang terjatuh di kulit lehernya. sementara tangan li kun liong mendekap dadanya dengan eratnya. telapak dan jari-jari tangannya meremas-remas kedua belah payudara kim bi cu. remasan tersebut kadang cukup kuat, kadang melemah.

Sementara di bagian bawah, senjatanya ditekankan ke gundukan pinggul kim bi cuyang amat mulus. senjatanya merasa hangat dan nikmat berada di himpitan pinggul kenyal kim bi cu. sambil telunjuk dan ibu jari tangan kanannya menggencet dan memelintir perlahan puting payudara kiri kim bi cu, sementara tangan kirinya meremas kuat bukit payudara kanannya dan bibirnya menyedot kulit mulus pangkal leher
kim bi cu yang bebau harum, senjatanya digesek-gesekkan dan ditekan-tekankan kepinggulnya.

kim bi cu pun menggelinjang ke kiri-kanan bagaikan ikan yang hampir
kehabisan air. kim bi cu merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tangan li kun liong di buah dadanya. Akibatnya pinggulnya menggoyang
ke kanan-kiri. goyang pinggul itu membuat senjata likun liong yang sedang menggesek-gesek dan menekan-nekan pada kenyalnya bukit pinggulnya serasa diremas-remas dan dipelintir-pelintir oleh pinggul mulus kim bicu.

Seiring dengan itu li kun liong semakin meningkatkan permainan tangannya di payudara yang ranum tersebut dan kecupan-kecupan bibir di leher dan daun telinga kimbi cu.tubuh telanjang kim bi cu yang mulus tersebut langsung dibopongnya ke atas pembaringan sederhana.

Di dalam bopongannya, kim bi cu merangkulkan tangannya ke leher li kun liong sambil bibirnya mengecupi lengan tangannya,untuk ukuran gadis muda, tubuh kim bi cu sebenarnya termasuk istimewa. payudaranya padat, ranum dan montok. pinggangnya ramping, dan pinggulnya luar biasa. kecuali melebar dengan bagusnya, gumpalan pinggulnyanya pun membusung ke luar dengan amat indahnya.

Walaupun kulitnya putih kecoklatan dan mulus, namun tubuhnya tidak lunak dan empuk.seluruh bagian tubuh yang terasa padat dan kenyal. makanya kalau dipandang dari kejauhan kulit tubuhnya mengesankan licin dan mulus sekali.

Tubuh kim bi cu dibaringkannya di atas pembaringan. kim bi cu tidak mau melepaskan tangannya dari leher li kun liong. bahkan, begitu tubuhnya menyentuh pembaringan, tangannya menarik wajah li kun liong mendekat ke wajahnya. tak ayal lagi, bibirnya yang merah merekah itu melumat bibir li kun liong dengan ganasnya. li kun liong pun tidak mau mengalah. dilumat bibir kim bi cu dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tangannya mendekap tubuh kim bi cu dengan kuatnya.

Kemudian li kun liong menindihi tubuh kim bi cu, senjatanya terjepit di antara kemulusan pangkal paha kim bi cu, rasa hangat mengalir ke senjatanya yang tegang dan keras. bibir li kun liong kemudian melepaskan bibir sensual kim bi cu, kecupan bibirnya pun turun. dikecupnya dagu kim bi cu yang bagus. dikecup leher jenjang kim bi cu yang memancarkan bau wangi dan segar. diciumi dan digeluti leher indah tersebut dengan wajahnya, sementara pinggulnya mulai bergerak aktif sehingga senjatanya menekan dan menggesek-gesek paha kim bi cu.

Puas menggeluti leher indah tersebut, wajah li kun liong pun turun ke buah dada ranum kim bi cu. akhirnya li kun liong tidak sabar lagi. bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan leher kim bi cu, sementara tangannya membimbing senjatanya untuk mencari gerbang kewanitaan kim bi cu,sesaat kemudian senjatanya menyentuh sebuah lembah yang dipenuhi rerumputan basah.

Kemudian dengan perlahan-lahan senjatanya memasuki lembah tersebut. Sementara bibir dan hidungnya dengan ganasnya menggeluti leher kim bi cu yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus. kim bi cu menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.senjata li kun liong semakin dalam masuk ke lembah tersebut.
“auwww!” pekik kim bi cu. setitik warna kemerahan muncul dari balik lembah tersebut merembes di kain pembaringan tanda robeknya selaput dara seorang gadis perawan.

Li kun liong terdiam sesaat, membiarkan senjatanya tertanam seluruhnya di lembah kim bi cu tanpa bergerak sedikit pun lalu mulai menggerakkan senjatanya keluar-masuk. li kun liong terus bergerak maju mundur perlahan-lahan, payudara kim bi cu yang kenyal menempel di dada li kun liong ikut terpilin-pilin oleh dadanya akibat gerakan tadi. kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadanya yang bidang.

kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadanya. senjatanya serasa diremas-remas dengan berirama sejalan dengan genjotan tersebut. terasa hangat dan enak sekali. sementara setiap kali menusuk masuk ujung senjatanya menyentuh sesuatu yang hangat di dalam lembah tersebut. sentuhan tersebut serasa menggelitiki ujung senjatanya sehingga terasa sedikit kegelian.

kemudian li kun liong mengambil kedua kaki kim bi cu yang putih mulus dan mengangkatnya. betis kanan kim bi cu ditumpangkan di atas bahunya, sementara betis kirinya didekatkan ke wajahnya. sambil terus maju mundur perlahan, betis kiri kim bi cu yang amat indah tersebut diciumi dan dikecupinya dengan penuh gairah.

Setelah puas dengan cara tersebut, li kun liong meletakkan kedua betis kim bicu di bahunya, sementara kedua telapak tangannya meraup kedua belah payudara kim bi cu yang kemerahan akibat remasan tangannya. masih dengan gerakan maju mundur, tangannya meremas-remas payudara kim bi cu yang ranum tersebut.

kedua gumpalan daging kenyal tersebut diremasnya secara berirama. kadang kedua puting tersebut digencet dan dipelintir-pelintirnya secara perlahan. puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tangannya. kim bi cupun merintih-rintih penuh kenikmatan. matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.

Li kun liong mulai mempercepat gerakan maju mundurnya di lembah kim bi cu, bagaikan diberi semangat oleh rintihan-rintihan kim bi cu, tenaganya menjadi berlipat ganda. ditingkatkannya kecepatan keluar-masuk tersebut. terus dan terus. seluruh bagian senjatanya serasa diremas-remas dengan cepatnya oleh jepitan hangat didalam lembah tersbut. mata kim bi cu menjadi merem-melek dengan cepat dan dan indahnya.

Li kun liong mengayuh terus, dia belum merasa selesai, ibarat sedang mengerahkan ilmu meringankan tubuh, li kun liong mengayuh dengan semakin cepatnya. tiba-tiba dirasakan senjatanya dijepit oleh sesuatu dengan sangat kuatnya. terasa senjatanya disemprot semacam cairan dari dalam lembah cukup derasnya. dan telapak tangan kim bi cu meremas lengan tangannya dengan sangat kuatnya.

Dari mulut sensual kim bi cu keluar keluhan lirih tak terkendali :”…aaahh…!” mata kim bi cu membeliak-beliak. sekejap tubuh kim bi cu dirasakannya mengejang.li kun liong pun menghentikan gerakannya. dilihatnya mata indah kim bi cu kemudian memejam beberapa saat menikmati puncak tersebut.setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lengan li kun liong perlahan-lahan mengendur,
kelopak matanya pun membuka, memandangi wajah li kun liong. sementara jepitan pada senjata li kun liong berangsur-angsur melemah, walaupun senjatanya masih tegang dan keras.

Kedua kaki kim bi cu lalu diletakkannya kembali di atas pembaringann dengan posisi agak membuka. li kun liong kembali menindih tubuh telanjang kim bi cu dengan mempertahankan agar senjatanya tidak
keluar dari lembah tersebut,li kun liong kembali mendekap tubuh mulus kim bi cu, senjatanya mulai bergerak keluar-masuk lagi di dalam lembah, namun masih dengan gerakan perlahan. terasa hangat dan enak. namun sekarang gerakannya lebih lancar dibandingkan dengan tadi.

Kim bi cu mulai merintih-rintih lagi,bibir li kun liong mulai memagut bibir merekah kim bi cu yang amat sensual tersebut dan melumat-lumatnya dengan penuh gairah. sementara tangan kirinya ikut menyangga berat badan, tangan kanannya meremas-remas kembali payudara montok kim bicu serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan irama gerak maju-mundur.

Li kun liong mempercepat gerakan maju mundurnya dan senjatanya semakin tegang. dilepaskan tangan kanannya dari payudara kim bi cu. kedua tangannya kini dari ketiak kim bi cu menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. tangan kim bi cu pun memeluk punggung li kun liong dan mengusap-usapnya.

Li kun liong pun memulai serangan dahsyatnya, keluar-masuk senjatanya ke dalam lembah tersebut sekarang berlangsung dengan cepat dan bertenaga. setiap kali masuk, senjatanya dihunjamkannya keras-keras agar menusuk masuk sedalam-dalamnya, dalam perjalanannya, senjatanya bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat, sampai di langkah terdalam, mata kim bicu membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “ah…..ahh…ohh Kun ko…teruskan..
enak sekali…”

Li kun liong terus mendayung dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak, remasan yang luar biasa kuat, hangat terasa di senjatanya, tangan kim bi cu mengusap punggung li kunliong kuat-kuat di saat senjata li kun liong menghunjam masuk sejauh-jauhnya kedalam lembah diiringi pekikan-pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir kim bi cu.

Li kun liong terus mengerakkan senjatanya semakin cepat dan kerasnya, tiba-tiba senjatanya mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. dia tidak mampu lagi menahan dan pada saat yang bersamaan lembah tersebut menyempit dan mencekik kuat sekali. dengan cekikan yang kuat tersebut, li kun liong tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan.

“bi cu…ahhhhh….” dia melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh kim bi cu sekuat-kuatnya, wajahnya dibenamkan kuat-kuat di leher kimbi cu yang jenjang, senjatanya yang terbenam di kehangatan lembah tersebut terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya li kun liong dan kim bi cu terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali, perlahan-lahan baik tubuh kim bi cu maupun li kun liong tidak mengejang lagi. li kun liong kemudian menciumi leher mulus kim bi cu dengan lembutnya, sementara tangan kim bi cu mengusap-usap punggung dan mengelus-elus rambut li kun liong.
“bi cu… terima kasih,” kata li kun liong lirih.

Otaknya yang cerdik sudah dapat menerka apa yang sesungguhnya terjadi,kim bi cu tidak memberi kata jawaban, setetes air mata jatuh dari sudut matanya.kim bi cu meletakkan kepalanya di atas dada li kun liong yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badan li kun liong. dia merasa puas telah mempersembahkan kehormatannya kepada lelaki yang dicintainya.
Jilid 9 : Mendung kelabu dunia persilatan

untuk kesekian kalinya, sungai telaga kembali bergoncang dengan berita serbuan partai mo-kauw di perkabungan ketua hoa-san-pai, master yu-kang di markas besar hoa-san-pai, pada pertempuran tersebut masing-masing pihak terluka baik di pihak kaum persilatan tiong-goan maupun di pihak mo-kauw namun dengan demikian genderang perang telah berbunyi, untuk selanjutnya dunia persilatan akan mengalami pertempuran berdarah.

Dalam pertempuran tersebut partai hoa-san-pai mengalami kerusakan yang paling parah, murid-muird hoa-san-pai banyak yang binasa di tangan anggota mo-kauw. memang sejak awal, partai mo-kauw sudah merencanakan untuk menghancurkan partai hoa-san-pai terlebih dahulu, baru berikutnya partai-partai lainnya,berita yang tak kalah menghebohkan lainnya adalah tentang jago muda yang disebut-sebut tunas muda paling berbakat selama ratusan tahun terakhir yaitu li kun liong, diberitakan merupakan anggota partai mo-kauw bahkan paman gurunya adalah salah satu tetua mo-kauw.

Kaum persilatan rata-rata sangat menyayangkan hal ini sebab harapan untuk kembali berhasil mengusir partai mo-kauw dari tiong-goan semakin tipis dengan bergabungnya jago paling lihai di angkatan muda saat ini dengan partai mo-kauw.angkatan muda yang menonjol lainnya seperti tiauw-ki, kok bun liong dari kay-pang, lu-*** dari go-bi-pai, sie-han-li dari bu-tong-pai, masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan li kun liong.

Berita tersebut menyebar dengan cepat dengan kecepatan kilat, namun sangat disayangkan seperti umumnya terjadi, berita yang sampai sudah berubah versinya, ada yang dilebih-lebihkan sehingga efeknya jauh lebih dramatis.mendung mulai menyelimuti rimba persilatan, dalam beberapa bulan ke depan partai mo-kauw mulai mengerakkan semua kekuatannya. setelah partai hoa-sa-pai dihancurkan, giliran go-bi-pai di serbu partai mo-kauw. tanpa perlawanan berarti, markas besar go-bi-pai dapat dihancurkan, banyak murid-murid go-bi-pai yang mati dan tertawan pihak mo-kauw.

keberhasilan pihak mo-kauw dalam penyerbuan di go-bi-pai uga tidak terlepas dari belum sembuhnya ketua go-bi-pai, ong-sun-tojin yang telah terluka parah pada pertempuran di hoa-san-pai oleh bokongan tetua mo-kauw, tok-tang-lang, dalam penyerbuan kali ini, ong-sun-tojin tewas mengenaskan di tangan murid utama mo-kauw ciang-gu-sik sedangkan murid utamanya lu-*** berhasil melarikan diri dengan luka-luka berat dan menghilang tak ketentuan rimba.

Setelah go-bi-pai berhasil dihancurkan, pergerakan pihak mo-kauw berhenti sementara untuk mengumpulkan tenaga sebelum menyerbu partai-partai lainnya. namun partai-partai kecil seperti ceng-sia-pai, khong-tong-pai, ciong-lam-pai, dan lain-lain telah ditaklukan partai mo-kauw dengan mudah.

Melihat keadaan tersebut, ketua biara shao-lin, siang-jik-hwesio berinisiatif mengundang para ciangbujin tujuh partai utama untuk melakukan pertemuan puncak di shao-lin-pai guna membahas langkah-langkah yang diperlukan untuk menghalangi rencana pihak mo-kauw menguasai rimba persilatan tiong-goan.

— 000 —

kuil shao-lin berdiri di lereng barat gunung song-shan, tidak jauh dari keresidenan henan. kuil shao-lin terkenal sebagai pemimpin dunia persilatan dengan ilmu silat para bhiksunya yang melegenda di seluruh rimba persilatan, di samping dikenal sebagai pusat kelahiran dan pengembangan agama Buddha aliran di tiong-goan.

Kuil shao-lin pada awalnya dibangun tahun 495 atas perintah kaisar xiaowen sebagai tempat beribadah seorang rahib buddha asal india bernama bartuo. baru kemudian tahun 527 rahib asal india lainnya bernama dharma (yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan tatmo cauwsu) datang dan mengajar di kuil ini. dharma merupakan generasi ke-28 dari buddha kasgapa atau buddha sakyamuni.

kuil shao-lin telah mengalami beberapa kali musibah yang menghancurkan kuil dan dibangun kembali pada jaman kerajaan ming dan kerajaan ching.sekalipun mengalami beberapa kali musibah, kuil shao-lin masih tetap berdiri megah.

Sebelum memasuki kuil shao-lin, para pengunjung akan masuk melewati gerbang utama yang disebut gerbang gunung. ini gerbang terdepan. di atas gerbang masuk ini adalah papan nama dengan tulisan kaligrafi yang berbunyi shao-lin-she ( kuil shao-lin). tulisan kaligrafi ini dibuat oleh kaisar kangxi dari kerajaan qing.

Begitu memasuki gerbang ini, para pengunjung akan memasuki bangunan utama kuil,sebelum memasuki bangunan utama kuil, mereka harus melewati satu bangunan gerbang yang berpintu kokoh terbuat dari kayu. bangunan ini disebut bangunan para dewa penjaga dan merupakan gerbang masuk lapis kedua ke bangunan utama. di kanan-kiri pintu gerbang lapis kedua ini berdiri gagah sepasang patung vajra setinggi sekitar dua meter, yang disebut jenderal heng dan jenderal ha.

Di balik pintu masuk lapis kedua ini berdiri empat patung yang disebut sebagai patung dewa penjaga pintu masuk,bangunan utama merupakan bangunan terbesar di antara bangunan-bangunan dalam lingkungan kuil shao-lin. bangunan yang dibangun pada zaman kerajaan jin ini memiliki tiga patung buddha dipuja di dalam bangunan utama ini. bangunan ini merupakan tempat utama kegiatan para bhiku shao-lin.

Selain bangunan utama ini, masih ada beberapa bangunan lainnya diantaranya, dua bangunan yang paling menarik adalah bangunan aula seribu buddha yang dibangun pada zaman kerjaan ming dan bangunan aula jubah putih yang dibangun pada zaman kerajaan qing. pada dinding aula seribu buddha ada lukisan yang menggambarkan “lima ratus arhat sedang menyembah buddha”.

Hal yang menarik dari aula ini adalah lantainya. pada lantai aula ini beberapa bagian tampak amblas akibat bertahun-tahun kena jejak kaki para bhiksu yang berlatih kungfu di ruangan tersebut,di dalam aula jubah putih terdapat lukisan ilmu silat shao-lin pada dindingnya.

Lukisan ini menggambarkan beberapa pola gerakan kungfu shao-lin sebagai petunjukbagi para bhiksu shao-lin dalam melatih ilmu silatnya.di belakang kuil shao-lin merupakan tempat keramat, tidak sembarang bhiksu diijinkan memasuki daerah tersebut. konon kabarnya di daerah terlarang tersebut terdapat sebuah bongkah batu gunung yang disebut batu bayangan karena pada batu tersebut secara samar-samar tampak guratan-guratan yang menyerupai orang sedang duduk
meditasi.

Konon gambar tersebut dihasilkan dari pantulan bayangan rahib dharma(tatmo cauwsu) yang duduk meditasi menghadap dinding sebuah goa di gunung song-shan selama 9 tahun (527-536). sekarang ini goa tersebut menjadi tempat samadhi para tiang-lo shao-lin.

Di lingkungan kuil shao-lin banyak terdapat puluhan pohon tua, batang pepohonan tersebut terdapat lubang-lubang bekas tusukan kedua jari telunjuk dan jari tengah. rupanya pohon-pohon tersebut menjadi sasaran para bhiksu shao-lin berlatih ilmu totok atau ilmu jari besi.

Pada awalnya para bhiksu kuil shao-lin tidak mempelajari ilmu silat, mereka hanya mempelajari ajaran buddha, namun hal tersebut berubah sejak p’u-t’i tamo (bodhi dharma), seorang ******* budha bangsa india yang datang ke tiongkok sekitar tahun 505 – 556 ad. p’u-t’i tamo menetap di kuil shao-lin, mengembangkan ajaran buddha ch’an (zen).

Suatu hari beliau tampak terkejut karena hampir sebagian besar para bhiksu terlihat terkantuk-kantuk saat mengikuti pelajaran agama. sejak itu para bhiksu shao-lin diwajibkan berlatih 18 jurus kungfu penyehat tubuh yang dibawa dari india. kungfu tersebut ditujukan untuk menyehatkan tubuh para bhiksu, karena mereka harus duduk berjam-jam mendengarkan pelajaran agama.

kungfu tersebut ternyata di kemudian hari memberikan warna khusus pada ilmu silat shao-lin-pai.dengan berjalannya waktu, apalagi sepeninggal p’u-t’i tamo, kedelapanbelas jurus kungfu penyehat tubuh tersebut hampir saja hilang, dilalaikan oleh para bhiksu.

untunglah, seorang muda ahli kung fu tangan kosong dan pedang masuk menjadi bhiksu di kuil siauw liem. beliau, yang kelak kemudian berjuluk ciok yen shang ren,dengan tekun dan sungguh-sungguh mulai membenahi ke-18 jurus tersebut dan mencampurnya dengan ilmu kung fu-nya. terciptalah ilmu yang baru, 72 jurus, yang dinamakan shao-lin kung fu, karena tercipta di kuil shao-lin.

Untuk mencari pendekar ahli kung fu yang bisa menyempurnakan ilmunya, beliau mengembara. ketika berada di kota lancow, beliau melihat seorang tua dihadang oleh seorang penjahat yang bertubuh kekar. anehnya, ketika penjahat itu melancarkan serangan, hanya dengan ketukan jari tangan yang tampaknya dilakukan dengan ringan
membuat penjahat itu jatuh pingsan.

Beliau memperkenalkan diri dan secara jujur menceritakan tujuan pengembaraannya. ternyata orang tua itu adalah pendekar kimna jiu (jujitsu versi kung fu). orang tua itu cuma menyebut nama marganya, lie,dengan perantaraan orang tua itu, beliau dapat berkenalan dengan pendekar pai ie fung, pendekar tanpa tanding dari keresidenan shansi, henan dan hopei.

Ketulusan hati ciok yen shang ren dapat mengetuk hati kedua pendekar tersebut, sehingga mereka mau tinggal di kuil shao-lin untuk menyusun suatu ilmu baru berdasar ke-18 jurus kungfu penyehat tubuh warisan tatmo cou su, ditambah ke-72 jurus kung fu ciok yen shang ren, dan digabungkan dengan ilmu kedua pendekar itu sendiri, demikian akhirnya tercipta 182 jurus shaolin kung fu yang dapat dibagi dalam lima macam permainan kung fu: liong-kun (jurus naga), houw-kun (jurus harimau), pa-kun (jurus macan tutul), coa-kun (jurus ular) dan ho-kun (jurus bangau).

Suatu pagi yang cerah tanpa kabut di puncak gunung song-shan dimana kuil shao-lin berdiri dengan megah tampak lima orang orang tua sedang bercakap-cakap dengan serius di dekat hutan yang rimbun di bagian sebelah kiri kuil shao-lin,mereka adalah ketua biara shao-lin-pai siang-jik-hwesio, ketua bu-tong-pai tiong-pek-tojin, ketua thai-san-pai master the-kok-liang, ketua kay-pang kam-lokai, dan ketua kun-lun-pai sie-han-cinjin.

Ketujuh partai utama sekarang hanya tertinggal lima partai saja, partai hoa-san-pai dan go-bi-pai telah tercerai berai dihancurkan pihak mo-kauw,dalam pembicaraan tersebut mereka sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan masing-masing dan saling memberi khabar secepatnya bila partai mereka di serbu pihak mo-kauw hingga partai lainnya dapat segera memberi bantuan.

Mereka juga meyinggung tentang li kun liong yang dituduh sebagai antek pihak mo-kauw, master the-kok-liang dengan tegas tidak percaya li kun liong adalah anggota mo-kauw, dia lalu menceritakan sepak terjang susiok li kun liong, tok-tang-lang yang telah di usir dari perguruan bahkan hampir membunuh suhengnya sendiri ***-khi-coan yang berjuluk sin-kiam-bu-tek (dewa pedang tanpa tanding) yang adalah guru li kun liong, hingga tidak mungkin li kun liong bekerjasama dengan susioknya yang murtad tersebut.

“omitohud, memang masalah ini kita tidak boleh terburu-buru menuduh seseorang sembarangan sebelum adanya bukti-bukti kuat” kata siang-jik-hwesio bijaksana.
“mudah-mudahan kun liong dapat membersihkan nama baiknya dan dapat membantu dunia persilatan yang saat ini dalam keadaan genting” sahut master the-kok-liang.
“shao-lin saat ini sudah mengutus murid penutup tiang-pek-hosiang (ketua biara shao-lin terdahulu) yaitu bhiksu muda hun-lam-hwesio untuk menyerapi keadaan dunia persilatan saat ini sekaligus mencari tahu rencana berikutnya pihak mo-kauw.”kata siang-jik-hwesio.

“taysu, kabarnya hun-lam-hwesio ini merupakan tunas muda paling berbakat dari shao-lin dan sudah menguasai ilmu silat shao-lin yang hebat-hebat, bahkan penjahat-penjahat muda terlihai liok-lim yaitu cap-sah-thian-mo (13 iblis besar) berhasil di basmi hun-lam-hwesio, apakah berita tersebut benar?” tanya tiong-pek-tojin.

Sambil tersenyum siang-jik-hwesio mengangguk dan menjawab “memang saat ini sute hun-lam merupakan murid shao-lin yang paling berbakat selama seratusan tahun ini di kalangan murid-murid shao-lin, namun ilmu silat sangat luas, masih banyak tunas-tunas muda lainnya yang mungkin belum kita kenal atau tidak mau menonjolkan diri seperti sute tiong-pek-tojin, sie-han-li atau murid utama sie-han-cinjin, tio sun atau murid master the-kok-liang, tang bun an serta murid-murid kay-pang seperti tiauw-ki dan kok bun liong.”

“wah, rupanya diam-diam taysu yang jarang berkelana di sungai telaga memiliki kuping yang tajam juga” kata kam-lokai tertawa terbahak-bahak.
“yaah, kita yang sudah tua ini patut bersyukur partai kita memiliki tunas muda yang dapat mengangkat nama harum partai masing-masing” kata sei-han-cinjin sambil mengelus jenggotnya.

Selagi para tokoh utama bu-lim ini bercakap-cakap, nampak seorang bhiksu muda berjalan mendekat dengan terburu-buru. bhiksu tersebut menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada siang-jik-hwesio. segera setelah membaca pesan yang tertera di tulisan tersebut, siang-jik-hwesio berkata dengan wajah serius “lohu mendapatkan berita penting dari sute hun-lam yang mengawasi gerak-gerik pihak mo-kauw. menurutnya pihak mo-kauw sekarang sedang bersiap-siap menyerbu shao-lin dalam waktu dekat ini, menunggu kedatangan kauwcu mereka, sin-kun-bu-tek yang akan terjun langsung memimpin penyerangan kali ini.berita tersebut diterima dengan rasa kaget oleh para ketua partai utama, serta merta mereka berunding cara terbaik menghadapinya.

“sebaiknya kita menjadikan shao-lin sebagai pusat pertahanan dalam pertempuran dengan pihak mo-kauw” saran sie-han-cinjin.
“lohu setuju, daripada melawan mereka sendiri-sendiri, lebih baik kita bersatu,hasilnya mungkin dapat menahan serbuan mereka” sambung tiong-pek-tojin.
“menurut kabar yang tersiar, sin-kun-bu-tek telah berhasil menembus tingkat tertinggi ilmu thian-te-hoat (ilmu langit bumi), melebihi gurunya terdahulu. sebaiknya kita mempersiapkan siapa yang akan menandingi kauwcu tersebut?”
“dulu dalam pertempuran lima puluh tahun yang lalu, suhu tiang-pek-hosiang pernah bergebrak dengan sin-kun-bu-tek dan hasilnya berimbang, tapi waktu itu sin-kun-bu-tek baru menguasai tingkat ke lima ilmu tersebut, entah bagaimana sekarang.sedangkan suhu sekarang setelah mengundurkan diri dari kedudukan ketua biara, bertapa di belakang kuil ini bersama para tiang-lo, tidak pernah keluar lagi.” kata siang-jik-hwesio

“mungkin lohu juga perlu memberitahu insu untuk meminta pendapatnya” kata tiong-pek-tojin.

“kita juga perlu berhati-hati dengan murid utama sin-kun-bu-tek, ciang-gu-sik. dengan jujur harus lokai akui ilmu silatnya lebih tinggi, waktu pertempuran di hoa-san-pai kalau tidak dibantu sutit kok-bun-liong, mungkin lokai sudah menelan kekalahan yang memalukan” kata kam-lokai serius.

Akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan shao-lin-pai sebagai pusat pertahanan untuk menahan serbuan pihak mo-kauw.tiong-pek-tojin segera kembali ke bu-tong-pai yang letaknya tidak jauh dari shao-lin-pai bersama-sama master the-kok-liang. untuk sementara karena letak partainya jauh sekali, master the-kok-liang berdiam di tempat sahabat karibnya tiong-pek-tojin sedangkan sie-han-cinjin yang letak partainya juga cukup jauh sementara menginap di shao-lin-pai. kam-lokai menetap di markas cabang terdekat kay-pang dan memerintahkan anggota-anggota kay-pang segera datang ke shao-lin-pai untuk membantu shao-lin-pai.
Jilid 10 (a) : Pertempuran besar

Berita akan diserbunya shao-lin-pai oleh pihak mo-kauw menyebar dengan cepat dan menjadi pembicaraan di mana-mana. banyak kaum persilatan yang mendengar berita tersebut segera berbondong-bondong menuju kuil shao-lin. diantara mereka ada yang ingin membantu, namun banyak juga yang sekedar ingin melihat keadaan, belum pernah dalam sejarah puluhan tahun ini, umat persilatan bersatu padu melawan pihak mo-kauw. rasa persatuan yang ditunjukkan antara sesama kaum kangouw ini telah membuat kaum bu-lim merasa optimis dapat membendung gerakan mo-kauw.

Kuil shao-lin mendadak kebanjiran tamu-tamu yang berdatangan dari segala penjuru, mereka yang datang terdiri atas bermacam-macam orang, ada pengemis, *******, wanita, ada yang berpotongan seperti siucai bahkan dengan lagak orang gila pun ada. semua diterima dengan tangan terbuka oleh para bhiksu shao-lin, mereka semua menginap di sekitar gunung song-shan di tempat yang telah disediakan oleh pihak
shao-lin-pai.

Namun saking banyaknya tamu yang datang, tempat yang disediakan tidak mencukupi sehingga dengan inisatif sendiri, kaum kangouw banyak yang tidur beratapkan langit atau di atas pepohonan besar yang banyak terdapat di sekitar gunung.banyak pula kaum kangouw yang tidak mau menyusahkan pihak tuan rumah, mereka membawa makanan sendiri dan mendirikan semacam tenda untuk menginap.

Diperkirakan ribuan orang telah berdatangan dan semakin bertambah setiap harinya.penjagaan kuil shao-lin makin diperketat, berjaga-jaga terhadap mata-mata mo-kauw yang menyusup di antara para tamu.suasana gunung song-shan yang biasanya tenang dan sepi mendadak berubah menjadiramai. di waktu malam cahaya rembulan dan kelap-kelip bintang menyebar ke seluruh angkasa, bersinar sangat indah sekali. suasana malam yang gemerlap tampak sangat menakjubkan dilihat dari kaki bukit dengan kelap-kelip cahaya lilin menerangi sekitar puncak gunung song-shan.untuk mengisi waktu, kaum kangouw yang terpelajar mendendangkan syair yang berjudul

“ketika kembali ke gunung song-shan” buah tangan penyair terkenal wang-wei.

“kedua tepi sungai bening
terbayang hamparan rumput digenangi air
kereta yang kutumpangi melaju
dengan tenang, santai dan nyaman.
oh, aliran air, seakan membersitkan rasa cinta yang dalam.
burung-burung senja berbondong-bondong,
satu per satu pulang ke sarang.
benteng tandus dan sunyi
tepat di depan dermaga purba
sisa cahaya mentari senja
penuh sinari gugusan gunung di musim gugur,
perjalanan panjang tak kunjung henti.
akhirnya aku kembali ke kaki gunung song san,
sekali kembali takkan kuterima tamu
sering pula kututup pintu ini….

di timpali oleh siucai lainnya…

kunang-kunang, hendak ke mana ..
kelap-kelip indah sekali gemerlap,
bersinar seperti bintang di malam hari.”

Semakin malam suasana semakin ramai, di lamping gunung agak jauh ke dalam nampak kaum kangouw yang menyendiri menjauhi keramaian, mereka lebih suka menunggu dikeheningan malam yang sunyi. mereka umumnya adalah pengelana-pengelana tanpa partai hingga sudah terbiasa hidup di alam terbuka tanpa perlu merepotkan siapa pun
dan tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.

Ilmu silat mereka rata-rata kelas satu, tidak kalah dengan murid-murid partai utama.nampak di antara mereka, seorang pemuda berjalan menyendiri menyusuri lereng gunung sebelah dalam. pemuda tersebut adalah li kun liong, yang baru saja tiba di puncak gunung song-shan ini.

Setelah berpisah dengan kim bi cu yang kembali ke persia, li kun liong melanjutkan perjalanannya seorang diri, tiap kali berpapasan dengan kaum kangouw yang mengenal dirinya, mereka segera membuang muka atau segera menyingkir dengan pandangan menghina. rupanya berita mengenai dirinya telah menyebar dengan cepat, namun li kun liong tidak peduli sepanjang mereka tidak menganggunya.

Namun diperlakukan demikian terus menerus membuatnya sedikit terganggu, diam-diam ia mengutuk ong-sun-tojin yang telah membuatnya menjadicemoohan kaum sungai telaga. di salah satu kota, ia mendapat kabar tentang akan diserangnya shao-lin oleh pihak mo-kauw. awalnya ia tidak mempunyai minat untukikut campur, dia tidak ingin salah paham semakin tajam dengan kehadirannya di shao-lin namun akhirnya hati nuraninya yang menang.

di samping itu li kun liong tahu susioknya pasti berada di sana sedangkan pesan gurunya sampai sekarang belum dapat dilaksanakan hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke shao-lin. Begitu tiba di kaki gunung song-shan, li kun liong menggambil jalan setapak menghindari pertemuan dengan kaum kangouw. dia memasuki hutan pegunungan tersebut semakin jauh ke dalam dan memutuskan untuk tinggal sementara di situ sambil menunggu kedatangan pihak mo-kauw.

Dalam beberapa hari ke depan, para tokoh dan murid-murid utama ke tujuh partai utama telah tiba di kuil shao-lin. dalam gerakan kali ini mereka mengerahkan semua kekuatan partai, mereka sadar nasib partai mereka sekarang tergantung dari hasil pertempuran kali ini.

Dari pihak thai-san-pai, tampak tang bun an berjalan bersama gurunya master the-kok-liang. tang bun an yang ditugaskan gurunya untuk mencari jejak cin-cin, mendengar berita tersebut di kota gui-yin. ia menduga cin-cin pun pasti telah mendengar juga kabar tersebut dan pasti datang ke shao-lin hingga ia memutuskan untuk langsung menuju shao-lin. tetapi di sana bukan cin-cin yang ia jumpai melainkan suhunya sendiri.

Dari pihak kay-pang, mereka telah mengerahkan anggota-anggota terlihai untuk membantu mengusir pihak mo-kauw. mereka di pimpin langsung oleh kam-lokai beserta tiauw-ki dan kok-bun-liong. juga terlihat murid-murid bu-tong-pai di pimpin oleh tiong-pek-tojin diiringi sutenya sie han li.

Dari pihak kun-lun-pai juga telah datang bersama sie-han-cinjin, murid utamanya tio sun yang berusia sekitar dua puluh lima tahunan. wajah tio sun cukup tampan dengan bentuk rahang yang kokoh dan dahi yang menonjol menandakan ilmu silat yang dikuasainya tidak dapat di anggap remeh.

Di samping itu juga nampak hadir sisa-sisa murid-murid hao-san-pai dan go-bi-pai yang telah dihancurkan pihak mo-kauw sebelumnya. kedatangan mereka di sambut dengan rasa simpati oleh kaum persilatan yang hadir, mereka umumnya hendakmembalas dendam terhadap mo-kauw atas kebinasaan suhu dan saudara-saudara seperguruan mereka. diantara mereka tidak tampak murid terlihai go-bi-pai, lu-***. sampai sekarang tidak ada kabar beritanya sejak menghilang dalam serbuan mo-kauw di markas besar go-bi-pai. tidak ada yang tahu apakah lu-*** masih hidup atau telah binasa akibat luka-lukanya yang parah.

— 000 —

” waktu menyingsing fajar pagi …sunyi senyap matahari bersinar mengganti malam gelap nampak sekuntum bunga persik di dalam hutan bermekaran dengan indahnya”

Suasana puncak gunung song-shan masih sepi di pagi yang cerah ini, belum nampakkegiatan dari kaum kangouw, hanya beberapa di antara mereka yang sudah bangun, kecuali di kuil shao-lin. pagi-pagi sekali para bhiksu sudah bangun dan melakukandoa bersama sebelum melakukan kegiatan masing-masing. ada yang menyapu halaman, mengotong air, membersihkan lantai dan bagian-bagian gedung.

Di ruangan berlatih silat nampak puluhan bhiksu sedang berlatih bersama di pimpin seorang bhiksu senior dengan aba-aba yang keras untuk menambah semangat berlatih. kegiatan hari itu baru saja di mulai namun di kaki bukit song-san sudah kelihatan kesibukan yang luar biasa, nampak dua barisan yang panjang berkelok-kelok bagaikan tubuh naga mendaki menuju puncak gunung.

Barisan tersebut terdiri atas ribuan orang dengan memakai seragam tempur berwarna kuning d an merah, masing-masingdi pimpin oleh seorang komandan di bagian depan. mereka adalah barisan mo-kauw yang telah tiba di kaki gunung sejak tengah malam tanpa diketahui pihak kaum persilatan tiong-goan. gerakan meraka kali ini memang dilakukan secara diam-diam, kedatangan mereka memang disengaja tiba pada tengah malam hingga memiliki tempo beberapa jam untuk beristirahat.

Dipagi harinya baru mereka bergerak kembali menuju kuil shao-lin di puncak gunung song-shan. kedatangan pihak mo-kauw ini segera di ketahui oleh para murid shao-lin yang sedang berjaga-jaga, dengan cepat mereka mengabarkan berita tersebut ke atas gunung. bunyi lonceng kuil shao-lin yang bertalu-talu menandakan sesuatu yang penting terjadi membangunkan kaum persilatan yang sebagian besar masih tidur nyenyak. dengan mata kemerahan dan wajah yang kaget, mereka mendengar kabar tibanya pasukan mo-kauw.

Situasi segera menjadi kalang kabut, mereka yang berjiwa pengecut dan datang hanya datang untuk gagah-gagahan saja supaya dapat menceritakan kepada khalayak ramai bahwa mereka ikut serta dalam pertempuran ini menjadi pucat wajahnya dan diam-diam segera mengeloyor pergi ke arah berlawanan, sedangkan murid-murid partai utama sedikit lebih tenang dan tertib, mereka segera berkumpul menjadi satu menuju ruangan utama untuk menerima petunjuk dari guru masing-masing.

Kedatangan pasukan mo-kauw pagi-pagi sekali memang mengagetkan dan diluar perkiraan sehingga dari segi strategi pihak mo-kauw selangkah lebih maju. namun untuk mencapai kuil shao-lin sebenarnya masih dibutuhkan waktu yang cukup lama sehingga sebenarnya kaum persilatan tiong-goan tidak perlu panik, justeru kepanikan yang ditunjukkan menandakan persiapan mereka yang kurang.

Para tokoh partai utama semuanya nampak hadir di ruangan utama kuil shao-lin, wajah mereka tenang dan siap sedia menghadapi segala sesuatu. ketenangan ini membantu meredakan kepanikan sesaat yang barusan terjadi bahkan mereka yang tadi ikut-ikutan panik sekarang merasa sedikit malu hati, mereka mengambil posisi masing-masing, dengan tegang mereka menanti munculnya pasukan mo-kauw, tak berapa lama kemudian, sayup-sayup terdengar derap langkah barisan mo-kauw menaiki puncak gunung song-shan.

Mula-mula kelihatan ke dua pimpinan barisan mo-kauw tersebut. pemimpin barisan berpakaian kuning adalah seorang pria berusia empat puluh tahunan, dengan tubuh yang besar dan sedikit kumis, berjalan dengan tegap memimpin barisannya. dia sudah belasan tahun mengabdi di pihak mo-kauw, dulunya ia seorang bandit besar yang malang melintang di tiong-goan barat sebelum ditaklukan ciang gu sik dan bersedia menjadi anggota mo-kauw. julukannya adalah thi-kah-kim-kong (si raksasa berbadan baja). ilmu silatnya terutama mengandalkan kekuatan badannya yang tak mempan senjata hasil latihan ilmu weduk yang luar biasa,ciang-gu-sik sendiri butuh waktu ratusan jurus untuk menaklukannya sehingga tidak heran ia dipercaya memimpin barisan pasukan kuning dari mo-kauw.

Sedangkan pemimpin pasukan merah adalah seorang pria kurus berusia lima puluh tahunan, wajahnya terdapat goresan melintang menambah keangkeran wajahnya. dia berjuluk hek-houw (harimau hitam), dulunya ia adalah pemimpin seluruh bajak laut diperairan po-hai. sejak dikalahkan tok-tang-lang ia masuk menjadi anggota mo-kauw dan memimpin pasukan merah ini. di masa mudanya pun ia pernah kebentur dengan kiang-ti-tojin.

Di bagian tengah barisan tersebut nampak beberapa buah tandu tempat pemimpin utama partai mo-kauw. begitu memasuki puncak gunung barisan tersebut mengeluarkan pekikan bergemuruh ke seluruh puncak gunung song-shan. tujuan mereka adalah untukmelunturkan semangat lawan, lalu dengan tertib mereka mengurung kuil shao-lin, dari tandu-tandu tersebut nampak keluar ciang gu sik, ceng han tiong, tok-tang-lang dan kauwcu mo-kauw, sin-kun-bu-tek wajahnya segar kemerahan, dalam usia tujuh puluh tahunan ini, semangatnya masih kelihatan bagus.

Mereka berjalan memasuki ruangan utama kuil shao-lin dan berhenti di tengah-tengah ruangan. ruangan utama ini penuh sesak oleh kaum rimba persilatan tiong-goan yang ingin melihat dari dekat tokoh-tokoh puncak mo-kauw. rombongan mo-kauw di sambut ketua biara shao-lin, siang-jik-hwesio.
“omitohud, selamat datang di kuil kami ini, kauwcu” sapa siang-jik-hwesio.
“ha..haa..ha..selamat, selamat bertemu. rupanya taysu yang menjabat sebagai ciangbujin shao-lin-pai saat ini. entah bagaimana kabarnya tiang-pek-hosiang?” Tanya sin-kun-bu-tek.
“insu sekarang sudah tidak mencampuri urusan sehari-hari dan lebih banyak bersamadi di belakang kuil ini untuk memahami lebih mendalam ajaran sang buddha.”
Sambil memandang para ciangbujin partai utama yang berdiri dihadapannya, sin-kun-bu-tek berkata “bagaimana dengan kiang-ti-tojin dari bu-tong-pai, apakah turutdatang ke sini?”
“suhu juga telah cuci tangan dari urusan kangouw dan menyerahkan jabatan ketua pada lohu” sahut tiong-pek-tojin.
“hmm rupanya begitu, kelihatannya teman-teman lama lohu sudah pada mengundurkan diri, tidak ada lagi yang berani keluar menyambut kedatangan lohu” sahut sin-kun-bu-tek memandang rendah para ketua partai utama ini.

sambil tersenyum, siang-jik-hwesio berkata “entah apa maksud kedatangan kauwcu kali ini yang datang jauh-jauh dari negeri persia?”
“lohu ingin mewujudkan cita-cita suhu sebelumnya yang sampai akhir hayatnya belum kesampaian. kelihatannya saatnya memang tepat sekali bagi mo-kauw untuk memimpin dunia persilatan tiong-goan yang semakin lama semakin mundur. lohu rasa diperlukan bengcu (pemimpin) yang dipatuhi semua kaum sungai telaga.”

Pernyataan ketua mo-kauw yang sangat takebur dan terang-terangan untuk menguasai dunia persilatan di sambut dengan rasa marah oleh para tetamu yang hadir. bahkan ketua ceng-sia-pai, hong-gun yang berjuluk thi-ciang-siau-pa-ong (si raja tombak) tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan berkata “selama ini dunia persilatan tiong-goan justeru tentram-tentram saja bahkan sejak partai mo-kauw di usir lima puluh tahun lalu, keadaan kaum sungai telaga damai sama sekali.”
“hmm..siapa engkau berani bicara begitu terhadap lohu” kata sin-kun-bu-tek sambil mengebaskan tangannya ke arah ketua ceng-sia-pai.

Ketua ceng-sia-pai tahu sin-kun-bu-tek telah melancarkan serangan dibalik kebasan tangannya tersebut namun ia tidak takut. diam-diam sejak tadi ia telah bersiap siaga sepenuhnya. dirasakannya serangkum hawa panas mendatangi dirinya, dengan hati tercekat ia menyambutnya dengan mengerahkan seluruh bagian tenaga dalamnya. kesudahannya membuat kaget seluruh hadirin, tubuh ketua ceng-sia-pai bergoyang-goyang keras menahan hawa tenaga dalam ketua mo-kauw ini.

Di wajahnya tersembul rasa kejut yang luar biasa,hawa panas yang diterima dirasakanya membakar bagian dalam tubuh. tenaga dalam yang telah ia kerahkan sepenuhnya tidak dapat menandingi hawa panas tersebut dan menembus jauh ke dalam badannya. dia ingin mengeluarkan teriakan kesakitan tapi tak sepatah kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya, jiwanya telah melayang sebelum tubuhnya perlahan-lahan terkulai jatuh ke lantai.

Tubuh ketua ceng-sia-pai ini yang tadinya gagah perkasa, walaupun dari luar kelihatan tidak apa-apa, sebenarnya bagian dalamnya sudah hancur termasuk seluruh tulang tubuhnya.sebagai seorang ciangbujin tentu saja ilmu silat ketua ceng-sia-pai ini termasuk kelas wahid namun hanya dalam kebasan tangan ketua mo-kauw dapat dibinasakan dengan mudah, kehebatan ilmu silat yang dipertunjukan benar-benar mencengangkan para hadirin. belum pernah selama hidup, mereka menyaksikan kedashyatan seperti ini.

Master the-kok-liang yang memeriksa tubuh ketua ceng-sia-pai ini merasa sangat kaget melihat keadaan ketua ceng-sia-pai ini, dia tahu ia bukan tandingan ketua mo-kauw tersebut, perlahan ia bangkit dan berkata kepada sin-kun-bu-tek, “ilmu silat kauwcu sungguh lihai, lohu merasa sangat kagum melihatnya” .

Ciang gu sik berbisik ke telinga gurunya memberitahu siapa adanya master the-kok-liang. diantara para ketua partai utama, usia master the-kok-liang bukanlah yang paling tua tapi dia termasuk empat tokoh besar yang dianggap memiliki ilmu silat paling tinggi di dunia persilatan saat ini selain tiang-pek-hosiang,kiang-ti-tojin, dan sun-lokai. ketiga nama yang disebut belakangan telah mengundurkan diri dari dunia persilatan sehingga diantara ketua partai utama, ilmu silatnya adalah yang paling lihai dan hal tersebut diketahui dengan baik oleh sin-kun-bu-tek, nada suaranya sedikit melunak ketika berkata kepada master the-kok-liang, “rupanya anda adalah ketua thai-san-pai yang termashur tersebut.”
“tidak berani..tidak berani. lohu hanya ingin memberikan usul untuk menyelesaikan masalah ini sekaligus menghindari pertumpahan darah yang banyak hingga masing-masing pihak bisa mengalami kerugian yang tidak sedikit.”
“apa usulmu ?” tanya sin-kun-bu-tek sedikit tertarik.
Dia cukup tahu pertempuran ini akan memakan korban yang tidak sedikit di pihaknya sehingga ia pun sebenarnya merasa sayang terhadap kerugian yang akan terjadi bila ia memaksakan pertempuran besar-besaran.

Selama puluhan tahun ini dengan bersusah payah ia mampu mengembalikan kejayaan partai mo-kauw yang sebelumnya hancur lebur dalam pertempuran lima puluh tahun yang lalu. sekarang dengan anggota ribuan orang walaupun ia memiliki keyakinan yang tinggi untuk menang namun ia tidak bisa menjamin kerugian yang ditimbulkan akan minimal. Sebelumnya pihak partai utama telah membicarakan cara-cara pertempuran dan sepakat untuk mengajukan pertempuran hanya antara para tokoh puncak saja dari masing-masing pihak sehingga kerugian yang lebih besar dapat dihindari oleh kedua belah pihak.

“bagaimana kalau menang kalah ditentukan dalam pertempuran lima babak saja antara tokoh-tokoh tertinggi masing-masing pihak, dengan demikian pertumpahan darah dapat kita hindari. pihak yang kalah harus tunduk pada keputusan pihak yang menang.”
“usul yang bagus, lohu sangat setuju. apabila pihak kami yang kalah, lohu sebagai ketua mo-kauw bersumpah tidak akan kembali lagi ke tiong-goan seumur hidup” kata sin-kun-bu-tek dengan gembira.

Sebenarnya dibalik perkataan sin-kun-bu-tek ini terselip tipu muslihat, bila benar pihak mereka kalah dalam pertempuran ini tentu saja ia akan mematuhi sumpahnya untuk tidak kembali ke tiong-goan namun sumpah tersebut tidak berlaku bagi ketua mo-kauw berikutnya. namun pihak bu-lim sebenarnya juga telah memperhitungkan cara ini dengan seksama, mereka tahu tidak ada seorang pun yang dapat menandingi ketua mo-kauw ini yang telah mencapai tingkat tertinggi ilmu yang dilatihnya sehingga dalam pertempuran tiga babak, mereka mengharapkan dapat menang di dua babak berikutnya.
“baiklah, kalau begitu masing-masing pihak telah setuju. sekarang sebaiknya masing-masing pihak merundingkan terlebih dahulu siapa-siapa saja yang akan maju” kata master the-kok-liang.

Para kaum kangouw yang hadir mulai bersuara ramai membicarakan siapa-siapa saja yang akan diajukan pihak partai utama dan pihak mo-kauw. mereka terutama penasaran siapa yang akan melawan ketua mo-kauw. ada yang berpendapat siang-jik-hwesio paling tepat untuk menghadapi sin-kun-bu-tek, tapi juga ada yang lebih memilih master the-kok-liang sebgai lawan yang paling tepat untuk ketua mo-kauw ini.

Akhirnya setelah ke dua pihak berunding cukup lama untuk mengajukan jago-jagonya masing-masing, keputusan telah di ambil masing-masing pihak.pada babak pertama dari pihak mo-kauw mengajukan pemimpin barisan kuning, thi-kah-kim-kong yang dihadapi sie-han-cinjin.

Mereka berdua belum pernah bertarung sehingga pada jurus-jurus awal, masing-masing pihak baru mencoba mengenal jurus-jurus lawan. sie-han-cinjin memainkan ilmu kun-lun-kiam-hoat (ilmu pedang kun lun)yang terdiri atas enam puluh empat jurus. kun-lun-kiam-hoat merupakan ilmu andalan partai kun-lun-pai hasil penyempurnaan selama ratusan tahun oleh para cendikiawan kun-lun-pai sehingga kehebatannya tidak kalah dengan bu-tong-kiam-hoat dan thai-san-kiam-hoat. sie-han-cinjin menggerakkan pedangnya dengan cepat hingga pedang pusakanya berubah menjadi segulung sinar putih yang mengurung tubuh thi-kah-kim-kong dengan ketat.

Namun thi-kah-kim-kong bukanlah jago silat sembarangan, ciang gu sik sendiri mengakui kelihaian ilmu silatnya terutama ilmu weduk (ilmu kebal) yang dimilikinya. memang thi-kah-kim-kong memiliki tubuh sekuat baja hasil latihan keras selama berpuluh tahun sehingga tubuhnya tidak mempan senjata atau totokan jari yang dilancarkan lawan. ia memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, pukulan lawan yang biasanya dapat menghancurkan batu besar diterimanya dengan biasa saja tanpa terluka sedikitpun.

Tapi menghadapi sie-han-cinjin, salah satu ketua partai utama tentu saja berbeda, selain pedang pusaka, sie-han-cinjin juga telah mengetahui keistimewaan thi-kak-kim-kong sehingga pedangnya selalu mengincar bagian-bagian tubuh yang lemah dari thi-kak-kim-kong seperti mata dan tenggorakan. pertandingan kelas satu ini semakin hebat, pedang sie-han-cinjin dengan kecepatan kilat telah dua kali berhasil menyontek pundak thi-kah-kim-kong namun hanya bajunya saja yang robek sedangkan pundak thi-kah-kim-kong tidak apa-apa. Kelemahan thi-kak-kim-kong adalah ilmu meringankan tubuhnya tidak sehebat sie-han-cinjin sehingga beberapa kali ia kelabakan menghadapi serangan pedang lawan yang menyambar-nyambar cepat sekali.

Diam-diam sie-han-cinjin mengagumi kehebatan ilmu weduk lawannya, walaupun pedang yang digunkanannya adalah pedang pusaka tapi belum mampu melukakan thi-kak-kim-kong. dia lalu mencoba merubah gaya serangan pedangnnya, kini pedangnya tidak mengandalkan kecepatan semata-mata, melainkan lebih mendasarkan serangan pada penggunaan tenaga lweekang di ujung pedang. setiap tusukan dan tebasan pedangnya sekarang mengandung hawa sakti hasil latihan puluhan tahun sehingga kali ini bila pedangnya terkena tubuh thi-kah-kim-kong yang kebal tersebut, pasti menghasilkan luka yang cukup serius bagi lawannya, thi-kah-kim-kong sendiri telah menyadari hal tersebut sehingga ia sangat berhati-hati mengembangkan pertahanan tubuhnya sambil melancarkan serangan balasan.

Pertandingan telah berjalan ratusan jurus, masing-masing pihak telah mengeluarkan tenaga yang banyak hingga gerakan mereka sedikit lambat. seperti yang diketahui usia sie-han-cinjin lebih tua dari thi-kah-kim-kong sehingga dari segi keuletan kalah dari thi-kah-kim-kong yang lebih muda tapi dari segi ilmu silat sie-han-cinjin menang setingkat dari lawannya ini. suatu ketika pedang sie-han-cinjin berkelabat menusuk ke arah dada thi-kah-kim-kong dengan kecepatan yang menakjubkan, dan terus berubah-ubah arah sehingga mata thi-kah-kim-kong berkunang-kunang mengikuti gerakan pedang lawan.

Betapapun ia mencoba menghindari serangan tersebut tetap saja ujung pedang sie-han-cinjin yang penuh hawa sakti berhasil mampir di pundak kanannya dan mencoblos sekitar tigadim, darah muncrat berhamburan dari lobang luka yang cukup lebar tersebut dengna derasnya dan membuat muka thi-kah-kim-kong pucat pasi tanda kehabisan darah. kepala thi-kah-kim-kong terasa semakin pusing dan konsentrasinya buyar sehingga lagi-lagi pedang sie-han-cinjin berhasil melukai kaki kanan thi-kah-kim-kong dan membuatnya sempoyongan. hanya tinggal menunggu waktu sebelum akhirnya thi-kah-kim-kong akan roboh di tangan sie-han-cinjin.

Menyadari hal tersebut, kepala barisan merah, hek-houw pada saat yang tepat meloncat ke dalam pertempuran dan segera memapah tubuh sahabatnya tersebut kembali ke dalam barisan. satu kosong untuk pihak tujuh partai utama. dengan wajah masam, sin-kun-bu-tek melirik ke arah tok-tang-lang. tok-tang-lang mengerti arti lirikan tersebut, perlahan ia maju ke depan untuk menghadapi lawan berikutnya. memang sin-kun-bu-tek cukup cerdik, kekalahan thi-kah-kim-kong pasti mempengaruhi mental pasukannya sehingga dengan memerintahkan salah satu tetua mo-kauw, ia ingin mengembalikan semangat barisannya.

Kam-lokai yang melihat penghianat kay-pang tersebut maju, segera memapakinya. dengan mata merah tanda kemarahan hatinya ia segera berkata, “penghianat” sambil melancarkan melancarkan serangan-serangan ganas. dengan tersenyum sinis, tok-tang-lang menghindari setiap serangan kam-lokai dengan mudah. tentu saja ia mengenal dengan baik ilmu silat kam-lokai, selama dua puluh tahun ini ia bahkan telah menguasai sebagian besar ilmu perkumpulan kay-pang. dua jago silat kelas wahid ini segera terlibat pertarungan mati-matian.

Selama berada di kay-pang, tok-tang-lang atau biasa dikenal sebagai seng-lokai sangat pintar menyembunyikan ilmu silatnya yang asli sehingga selama dua puluh tahun ini, kam-lokai mengira ilmu silat tok-tang-lang masih berada dibawahnya. namun dalam pertarungan ini, segera ia sadar perkiraannya tersebut salah besar. ilmu silat tok-tang-lang sangat mengejutkannya, setiap serangannya dapat dengan mudah dielakkan tok-tang-lang bahkan ia harus bersusah payah menghindari serangan balasan lawan. untung bagi kam-lokai, ia sudah mempelajari rahasia ilmu tang-kaw-pang-hoat (ilmu tongkat pengebuk ******) yang khusus diwarisi oleh ketua kay-pang, jika tidak sudah dari tadi ia kena dikalahkan mantan tiang-loo kay-pang ini.

Ilmu tongkat pemukul ****** ini memang sangat ajaib dan mampu membuat tok-tang-lang terkejut dan kewalahan pada mulanya, sayang ilmu tersebut baru saja dipahami oleh kam-lokai sehingga belum mendarah daging. tok-tang-lang mengetahui kelemahan tersebut, perlahan tapi pasti ia mampu menekan balik lawan dengan ilmu tong-tang-lang-hoat (ilmu kelabang berbisa) andalannya. seperti yang diketahui tong-tang-lang adalah sute ***-khi-coan, suhu li kun liong, yang murtad.

Selama berkelana di sungai telaga, tong-tang-lang bertemu seorang jago tua kalangan liok-lim yang memiliki ilmu racun sangat tinggi. dari jago tua ini, tong-tang-lang mempelajari ilmu racun terutama racun kelabang yang dikumpulkan dari ratusan kelabang hidup lalu merendam tangannya dengan ramuan racun tersebut sehingga kedua tangannya sangat beracun. setiap lawan yang terkena pukulan beracunnya, dalam waktu setengah jam pasti melayang jiwanya bila tidak segera mendapat pertolongan. cukup dengan hawa pukulan saja, lawan dapat di buat mual dan pusing-pusing sehingga konsentrasi lawan hancur, dan dengan mudah dapat dikalahkannya, entah sudah berapa banyak tokoh kangouw yang binasa di tangannya tanpa dapat di tolong.
Jilid 10 (b) : Pertempuran besar

Kesiuran pukulan beracun tong-tang-lang membuat kam-lokai sangat berhati-hati namun karena tidak mengetahui lawan memiliki ilmu beracun, kam-lokai tidak bersiap sedia minum obat pelawan racun sehingga sedikit hawa beracun dari pukulan tong-tang-lang terhirup dan membuat kam-lokai sedikit kepeningan. kesempatan baik tersebut tidak disia-siakan oleh tong-tang-lang, ia melancarkan jurus terlihai dari tong-tang-lang-hoat ke arah dada kam-lokai tapi tiba-tiba arah pukulan tersebut berubah arah mengincar pundak kanan kam-lokai.

Kam-lokai yang sedikit kepeningan, sudah menaruh perhatian penuh ke arah dadanya hingga sewaktu arah pukulan tong-tang-lang berubah mendadak, ia tidak menduga sama sekali hingga dengan telak pukulan tong-tang-lang hinggap di pundak kanannya.”bukk..krek” terdengar bunyi yang cukup keras, pundak kanan kam-lokai patah akibat pukulan yang disertai tenaga dalam yang penuh dari tong-tang-lang. kam-lokai mundur sempoyongan, mukanya terlihat sangat pucat. segera ia duduk bersamadi guna menahan menjalarnya racun berbisa di pundaknya.

Buru-buru master the-kok-liang membuka mulut kam-lokai dan memasukkan soatlian (teratai salju) pegunugan thai-san yang berkhasiat mengobati luka beracun dan luka dalam bagaimana beratnya sekalipun. satu-satu untuk kedua belah pihak.diiringi sorak sorai pasukan mo-kauw menyambut kemenangan tetua mereka, tong-tang-lang, ciang gu sik murid utama sin-kun-bu-tek maju ke depan dalam babak berikutnya.sesuai kesepakatan semula para ketua partai utama, kali ini yang maju adalah ketua biara shao-lin-pai, siang-jik-hwesio.

Yang maju kali ini adalah murid utama dari partai pemimpin di daerah masing-masing. siang-jik-hwesio adalah murid utama tiang-pek-hosiang yang diakui sebagai salah satu dari empat tokoh besar di daerah tiong-goan sedangkan ciang gu sik adalah murid utama ketua partai mo-kauw, sin-kun-bu-tek yang kabarnya telah menguasai tingkat sembilan dari ilmu andalan partai mereka, thian-te-hoat (ilmu langit bumi).

Pertarungan ini sangat menarik sehingga tidak heran semua yang hadir baik para kaum kangouw ting-goan dan para anggota partai mo-kauw tidak berkedip matanya untuk menyaksikan pertarungan ini. bagi kalangan bu-lim sangat jarang mereka melihat ilmu silat ketua shao-lin yang sangat jarang berkelana sehingga sampai di mana taraf ilmu silatnya tidak diketahui dengan jelas. demikian juga dengan ciang gu sik yang baru datang dari persia, banyak kaum persilatan tiong-goan yang tidak mengenalnya sehingga diam-diam mereka menaruh harapan tinggi di pundak siang-jik-hwesio.

Ciang gu sik yang biasanya sangat jumawa, kali ini tidak berani memandang enteng. setelah mengeluarkan beberapa jurus serangan untuk menjajaki lawannya, ciang gu sik segera mengerahkan ilmu andalannya thian-te-hoat tingkat pertama, dia tidak mau membuang tempo, sebisa mungkin mengakhiri pertandingan secepatnya.

Pikiran siang-jik-hwesio sama dengan pikiran ciang gu sik, dia juga mengerahkan ilmu tenaga dalam ih-kin-keng andalan shao-lin-pai yang sudah dilatihnya puluhan tahun sejak kecil. kehebatannya bukan alang kepalang, baru kali ini kaum sungai telaga melihat kehebatan ilmu silat ketua shao-lin ini, rata-rata sangat mengaguminya dan mengakui ilmu silat shao-lin memang benar-benar sumber dari segala ilmu silat di daerah tiong-goan. memang selama ini murid-murid shao-lin jarang yang berkelana, kalaupun ada mungkin hanya beberapa orang saja dan mereka tidak menonjolkan ilmu silat mereka sehingga banyak kaum kangouw mulai meragukan kehebatan ilmu silat shao-lin-pai yang digembar-gemborkan selama ini.

Namun kali ini mata mereka terbuka lebar bahkan para ketua partai utama pun diam-diam mengakui kehebatan siang-jik-hwesio.tapi lawan siang-jik-hwesio juga tidak kalah hebatnya, walaupun berusia jauh lebih muda dibandingkan siang-jik-hwesio yang berumur enam puluh tahunan namun dalam belum empat puluh tahunan, ciang gu sik telah menguasai tingkat ke tujuh dari ilmu thian-te-hoat.

Kalau dalam pertandingan di babak-babak sebelumnya terlihat sangat seru maka dalam pertandingan babak ketiga ini justeru kurang seru dan terlihat lamban. namun jangan dikira pertarungan ini biasa saja, justeru sebenarnya lebih hebat dan berbahaya dari pertarungan sebelumnya. dalam pertandingan ini masing-masing pihak mengandalkan tenaga sakti mereka untuk menjatuhkan lawan.

Ciang gu sik sudah mengerahkan ilmunya sampai tingkat ke enam, hawa panas tak berwujud mengurung seluruh ruang gerak siang-jik-hwesio. hawa panas tersebut membuatsiang-jik-hwesio susah menarik nafas, diam-diam ia tercekat melihat kehebatan ilmu thian-te-hoat ini. ilmu silat siang-jik-hwesio dewasa ini adalah nomer satu di angkatannya, ia sudah mewarisi seluruh ilmu silat gurunya, tiang-pek-hosiang. untuk melawan hawa panas tersebut, siang-jik-hwesio mengerahkan seantero tenaga dalamnya.

Melihat lawannya masih sanggup bertahan terhadap serangan tingkat ke enam ilmu thian-te-hoatnya, ciang gu sik sangat penasaran dan memutuskan untuk mengeluarkan tingkat ke tujuh. selama berkelana di sungai telaga, belum pernah ia sampai harus mengeluarkan ilmu tingkat ke tujuh ini karena bila tingkat ke tujuh ini telah dikerahkan dan masih gagal juga untuk menjatuhkan lawan, ia dalam bahaya besar.

Tenaga dalam yang dikerahkannya akan berbalik menghantam dirinya.dengan mengeluarkan lengkingan tinggi, ciang gu sik mengerakkan kedua lengannyadengan cepat mengarah siang-jik-hwesio. “dukkkk!” dua tangan mengandung tenaga sakti tersebut berbenturan dan saling menempel dengan kedua tangan siang-jik-hwesio yang juga berisi hawa sakti. pertarungan telah mencapai puncaknya dan makin berbahaya.

Adu tenaga dalam pun berlangsung dengan sengit, masing-masing pihak mengerahkan seantero tenaga dalam yang dimilikinya. sepertanakan nasi telah berlalu, kedua pihak masih berimbang dan diam tak bergerak. di atas ubun-ubun kepala masing-masing nampak keluar uap putih keatas. dahi ciang gu sik mulai mengeluarkan keringat, begitu pula dahi siang-jik-hwesio. dari segi kematangan tenaga dalam, siang-jik-hwesio lebih lama latihannya dibandingkan ciang gu sik. tapi aliran tenaga dalam mo-kauw memang sangat aneh dan luar biasa sehingga tidak heran ciang gu sik mampu mengimbangi tenaga dalam siang-jik-hwesio.melihat pertarungan tersebut yang kalau dilanjutkan akan merugikan kedua belah pihak, sin-kun-bu-tek berkata “bagaimana kalau untuk babak ketiga ini dianggap seri, tiada yang menang atau kalah?”

Master the-kok-liang mengangguk setuju, lalu bersama-sama sin-kun-bu-tek melayang ke arah pertempuran guna memisahkan kedua pihak yang sedang bertarung. tetap satu-satu untuk kedua pihak. di babak keempat, maju pemimpin barisan merah mo-kauw, hek-houw. sedangkan dari pihak partai utama, keluar ketua bu-tong-pai, tiong-pek-tojin. sewaktu masih menjadi pemimpin bajak laut di perairan po-hai, hek-houw pernah bertempur melawan guru tiong-pek-tojin, kiang-ti-tojin dan dikalahkan sehingga selama puluhan tahun ini ia masih menyimpan dendam terhadap kiang-ti-tojin.

Mengetahui lawannya adalah murid kiang-ti-tojin, hek-houw melihat peluang yang baik untuk membalas sakit hatinya.tiong-pek-tojin sendiri tidak mengetahui kalau suhunya pernah memberi ajaran kepada hek-houw sehingga ia sedikit heran mengapa begitu berhadapan dengannya, dengan mata berapi-api hek-houw melancarkan serangan ganas dan bertubi-tubi ke arahnya. sambil mengegoskan tubuh, tiong-pek-tojin membalas serangan lawan dengan ilmu bu-tong-kiam-hoat (ilmu pedang bu-tong) yang sangat terkenal tersebut. gerakannya yang demikian ringan dan cepatnya menandakan tiong-pek-tojin telah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu pedang bu-tong.

Tapi lawannya kali ini memiliki ilmu golok yang luar biasa, saat itu golok di tangan hek-houw sudah menyambar, membacok, ke arah kepala tiong-pek-tojin. tiong-pek-tojin menundukkan kepalanya sambil pedangnya menyontek ke arah perut lawan. dengan cepat hek-houw menarik pulang goloknya dan melompat mundur menghindari sontekan pedang tiong-pek-tojin.tapi pedang tiong-pek-tojin bagaikan memiliki mata, terus mengejar hek-houw, menikam bertubi-tubi hingga hek-houw dengan terpaksa harus menggulingkan dirinya dan menjauhi lawan.sambil melompat bangun, dengan wajah yang semakin merah, golok hek-houw meluncurmenusuk tengkuk tiong-pek-tojin.”traang!..” pedang pusaka tiong-pek-tojin menangkis serangan golok hek-houw. ramai bukan main pertarungan tingkat tinggi ini. bayangan mereka berkelabat di bungkus sinar pedang dan golok, keadaan masih berimbang.

Bagaikan seekor naga menyambar, tiong-pek-tojin meloncat dan bagaikan kilat melancarkan jurus-jurus terlihai bu-tong-kiam-hoat. jurus-jurus ini sangat jarang ia keluarkan karena sangat menguras tenaga sakti namun hasilnya memang setimpal, hek-houw keteteran, dengan susah payah ia menghindari serangan-serangan tersebut.laksana naga mengamuk, pedang tiong-pek-tojin berkelabatan dengan gerakan-gerakan yang susah ditebak dan tak terduga sama sekali, tahu-tahu pundak kanan hek-houw bolong tertusuk ujung pedang tiong-pek-tojin.”aduuh!..” hek-houw mengeluarkan jeritan kesakitan, golok yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai. belum lagi ia sempat beraksi lebih lanjut, ujung pedang tiong-pek-tojin telah berada di depan tenggorokannya.

Kalau mau sebenarnya cukup dengan mengerakkan maju pedang satu dim saja, tenggorokan hek-houw pasti tertembus pedangnya. dengan hati terkesiap hek-houw tidak berani bergerak sama sekali, untuk kedua kalinya ia mengalami kekalahan yang mengenaskan dari murid-murid bu-tong-pai.sambil tersenyum lelah, tong-pek-tojin menarik pedangnya dari tenggorokan hek-houw dan kembali ke tempatnya diikuti sorak-sorai murid-murid ke tujuh partai utama dan kaum kangouw yang hadir. dua-satu untuk pihak partai utama.

Dengan dahi berkerut tanda hatinya yang kesal, sin-kun-bu-tek bangkit dari duduknya dan berjalan ke tengah ruangan. dibabak terakhir ini, dia sendiri yang maju.para hadirin menengok ke arah para ketua partai utama untuk mencari tahu siapa yang akan menghadapi ketua mo-kauw ini. ternyata adalah ketua thai-san-pai, master the-kok-liang. lima puluh tahun yang lalu, ayah master the-kok-liang, the-ciu-kang, binasa di tangan ketua mo-kauw terdahulu, thian-te-lojin (si kakek langitbumi).

Waktu itu usianya masih belasan tahun sehingga saat itu ia sangat berduka dan bersumpah untuk mempelajari ilmu silat thai-san-pai sampai puncaknya agar menjadi jago terkemuka kangouw. dia sendiri menyadari ayahnya mati dalam pertempuran dan lawannyapun turut binasa sehingga masalah dendam sudah terbalaskan dengan sendirinya. ilmu silat thai-san-pai sendiri ia pelajari bersama sumoinya, yang sekarang menjadi istrinya melalui suhengnya, murid pertama ayahnya, phang ji hok yang saat itu sudah berumur dua puluh lima tahunan dan sudah mewarisi semua ilmu silat partai thai-san-pai, di samping ibunya sendiri. tapi boleh di bilang, phang ji hok lah yang menjadi guru sekaligus suhengnya. berkat bakat dan ketekunannya yang luar biasa, master the-kok-liang akhirnya menjadi salah satu empat tokoh besar dunia persilatan.

Para hadirin yang hadir berdebar-debar menanti pertandingan puncak ini. kedua tokoh ini sudah sangat terkenal selama puluhan tahun, mati-hidup dunia persilatantergantung hasil pertandingan tersebut. dengan tajam sin-kun-bu-tek menatap master the-kok-liang yang berjalan dengan tenang menghampirinya. ketenangan master the-kok-liang sedikit menganggu diri sin-kun-bu-tek, hanya mereka yang telah mencapai tingkat kesempurnaan ilmu silat yang dapat memiliki ketenangan seperti ini.

Sebenarnya peristiwa pertempuran antara ke tujuh partai utama dan pihak mo-kauw lima puluh tahun yang lalu, disamping menghancurkan kedua belah pihak tapi juga memiliki segi positif. keterpurukan masing-masing pihak telah membuat semangat angkatan yang lebih muda untuk mencapai ilmu silat tertinggi, berlipat-lipat. terbukti dari pihak partai utama, murid-murid ketua terdahulu telah dapat menyamai bahkan melebihi kemasyhuran guru-guru mereka.

Ibarat pepatah gelombang belakang sungai tiang-kang mendorong gelombang depan, begitu pula dengan pihak mo-kauw,sin-kun-bu-tek bahkan berhasil mencapai tingkat tertinggi yaitu tingkat ke sembilan dari ilmu thian-te-hoat yang selama ratusan tahun belum pernah ada yang berhasil menguasainya sehingga secara umum ilmu silat mengalami kemajuan dari sebelumnya.

Kedua tokoh puncak ini saling menjura memberi salam sebelum mereka melancarkan gebrakan pertama. dalam pertarungan kelas atas, masing-masing pihak langsung mengeluarkan ilmu simpanan masing-masing. mereka tahu tidak perlu membuang-buang tenaga melancarkan ilmu-ilmu yang dapat dengan mudah dielakkan lawan. sambil mengelak dari serangan ilmu thian-te-hoat (ilmu langit bumi) tingkat pertama, master the-kok-liang mencabut pedang pusaka dan menjalankan ilmu thian-san-kiam-hoat (ilmu pedang thian-san) yang termasyhur. ilmu pedang partai thai-san-pai berandeng dengan ilmu pedang bu-tong, masing-masing partai memiliki sendiri-sendiri.

Bu-tong-kiam-hoat memiliki keunggulan dari segi penyerangan sedangkan thai-san-kiam-hoat sangat kokoh pertahanannya bagaikan gunung thai-san. tidak mudah bagi sin-kun-bu-tek untuk menerobos pertahanan thian-san-kiam-hoat yang dimainkan master the-kok-liang yang sudah mencapai kemahiran yang sempurna dan mendarah daging.
Perlahan-lahan sin-kun-bu-tek mengerahkan ilmu thian-te-hoat setahap demi setahap untuk memperkecil ruang gerak master the-kok-liang. gerakan sin-kun-bu-tek terlihat jauh lebih matang dari gerakan ciang gu sik, walaupun ilmu yang dimainkan sama.begitu pula dengan hawa panas yang dihasilkan dari tenaga saktinya, dan membuat master the-kok-liang mulai prihatin menghadapinya, terbukti kelincahannya tidak segesit pada puluhan jurus pertama, dimanapun ia bergerak hawa panas tersebut menyelubunginya. ilmu thian-te-hoat sudah mencapai tingkat ke tujuh dikerahkan oleh sin-kun-bu-tek namun master the-kok-liang masih dapat bertahan walaupun dahinya mulai mengeluarkan keringat dan punggung bajunya sudah basah terkena keringatnya. ini diakibatkan efek hawa panas tersebut juga yang membuat para hadirin juga merasakan panasnya udara di sekitarnya bahkan mereka yang kemampuan ilmu silatnya biasa-biasa saja merasa tidak tahan dan menjauhi pertempuran belasan tombak.

Diam-diam sin-kun-bu-tek kagum melihat kegigihan master the-kok-liang, dia mulai menjalankan tingkat ke delapan ilmu thian-te-hoat. master the-kok-liang sendiridiam-diam sudah tidak tahan tehadap hawa panas tersebut, tenaga dalam yang dikerahkannya mengalami kemacetan akibat hawa tersebut, ibarat seekor katak dalam tempurung (panci) tertutup dan dibawah panci terdapat api yang makin lama makin membesar tapi tidak bisa lari kemana-mana, memanaskan keadaan di dalam tempurung tersebut, begitulah kira-kira situasi master the-kok-liang saat itu.

Begitu tingkat ke delapan di jalankan sin-kun-bu-tek, dari ujung hidung master the-kok-liang keluar darah, pada mulanya kaum sungai telaga tidak memperhatikannya tapi ketika darh tersebut semakin banyak mengucur dari hidung master the-kok-liang, beberapa kaum bu-lim menjerit khawatir, demikian juga para ketua partai utama. mata mereka yang tajam telah dapat melihat sesuatu yang belum dilihat kaum persilatan yang hadir yaitu kedua mata dari master the-kok-liang pun turut berubah menjadi kemerahan, kondisinya sekarang ini sangat kritis.

kita tinggalkan dahulu pertempuran yang telah mencapai tahap kritis ini. mari kita lihat keadaan li kun liong. di bagian dalam hutan di gunung song-shan, selama beberapa hari ini, li kun liong dengan tekun mempelajari gambar-gambar di lukisan kuno. seperti yang kita ketahui selama melakukan perjalanan bersama kim bi cu, li kun liong berusaha mempelajari tulisan persia. walaupun waktu untuk mempelajari tulisan persia cukup singkat namun dengan kepintarannya yang berbeda dengan orang biasa pada umumnya, li kun liong sudah mampu mengenal huruf-huruf dasar persia.

Bahasa ini tergolong bahasa tertua bahkan lebih tua dari bahasa sansekerta. cukup banyak jenis uruf yang berhasil diingatnya dari pengajaran kim bi cu. betapa girang hatinya ketika ia dapat mengerti beberapa kalimat yang tertera di dalam lukisan tersebut, walaupun tidak semua arti dalam suatu kalimat ia mengerti tapi dengan menebak-nebak arti keseluruhan kalimat tersebut ditambah pengertiannya yang sudah mendalam akan ilmu silat, akhirnya li kun liong mampu memahami sebagian besar kalimat-kalimat tersebut. tanpa mengenal lelah, li kun liong mengikuti petunjuk-petunjuk yang berhasil dipahaminya.

Mula-mula ia mencoba gambar-gambar postur pertama dan hasilnya menakjubkan, kali ini ia tidak merasa pusing-pusing atau pingsan seperti sebelumnya bahkan semangatnya semakin segar tanda petunjuk yang diikutinya telah benar. tenagadalam di sekitar perutnya pun dirasakan berputar-putar tanpa henti dan semakin lama semakin dasyhat. rupanya pada sepuluh gambar pertama, memberikan cara-cara untuk memupuk tenaga sakti.

Dia lalu mencoba posisi-posisi berikutnya yaitu dengan kepala di bawah kaki di atas. apabila dulu tidak sampai setengah jam dirinya sudah jatuh pingsan, kali ini dengan mengikuti petunjuk tulisan yang dipahaminya, li kun liong mampu bertahan sekitar dua jam. di posisi berikutnya berdasarkan uraian dalam lukisan tersebut, hawa sakti yang berputar di perutnya harus dikumpulkan dan perlahan-lahan mengitari semua urat nadi di seluruh tubuhnya termasukyang ada urat syaraf yang ada di kepala. li kun liong berhasil membawa hawa sakti diperutnya tersebut mengeliling hampir semua urat nadi di tubuhnya hanya dua urat nadi yang berada di syarafnya yang belum mampu ditembusnya. begitu sampai dikedua urat syaraf tersebut, hawa sakti yang dikumpulkannya dengan susah payah buyar secara misterius. begitu terjadi berulang kali dan membuat li kun liong sangat penasaran.

Bolak-balik selama beberapa hari ini ia mencoba menjebol urat syaraf tersebut namun tetap tak berhasil juga. tanpa putus asa li kun liong mencoba terus hingga tanpa disadarinya suara gemuruh kedatangan pasukan mo-kauw terlewatkan dari perhatiannya karena saat itu ia dalam keadaan yang genting. salah satu urat syaraf yang selama beberapa hari ini gagal ia tembus akhirnya jebol juga. jebolnya urat salah satu urat syaraf tersebut membuat li kun liong semakin bersemangat hingga lupa waktu. sekarang dicobanya untuk menembus urat syaraf terakhir, dengan mengkonsentrasikan seluruh semangat dan pikiran, dia mengumpulkan hawasakti di perut dan membawanya mengitari seluruh urat nadi di tubuhnya dan perlahan-lahan naik ke atas menuju urat nadi yang terletak di syaraf.

Kali ini diluar dugaannya, urat syaraf terakhir dapat dijebolnya dengan mudah. ibarat sedang bisul yang belum mau pecah juga atau sakit gigi yang dirasakan berminggu-minggu lamanya, begitu dicabut gigi yang sakit tersebut, rasanya plong, sakitnya langsung hilang. begitu juga dengan keadaan li kun liong saat itu, jebolnya urat nadi terakhir yang berada di syarafnya membuat hawa sakti yang dikumpulkannya menjadi berlipat-lipat kekuatannya, seolah-olah tidak dihalangi tembok bendungan, mengalir dengan derasnya ke seluruh tubuhnya.

Badannya terasa nyaman luar biasa, belum pernah iamengalami kenyamanan seperti ini. seluruh urat nadinya berdenyut denyut begitudilewati hawa sakti tersebut. perlahan-lahan li kun liong mampu mengendalikan arus hawa saktinya, setelah beberapa kali berputar mengelilingi seluruh urat nadi tanpa halangan, hawa sakti tersebut dapat dengan sesuka hati diaturnya. li kun liong mencoba memukul sebatang pohon dengan lingkaran sepelukan orang dewasa dengan tenaga saktinya, hasilnya jauh dari dugaannya. batang pohon tersebut hanya bergoyang sekali akibat hantamannya tersebut. sebelum tenaga dalamnya berhasil menembus urat nadi di kedua syarafnya, li kun liong mampu mematahkan batang pohon tersebut tanpa susah payah namun sekarang justeru begitu urat nadinya tembus, ia tidak bisa merubuhkan batang pohon. dengan bingung li kun liong memeriksa pohon yang dihantamnya barusan, tampak tidak ada sesuatu yang aneh. pohon tersebut masih berdiri tegak, li kun liong mengaruk-garuk kepalanya dengan bingung.

Di tendangnya pohon tersebut saking kesalnya, hasilnya dengan suara gedubrakan pohon besar tersebut roboh ke tanah. dengan kaget li kun liong memeriksa batang pohon tersebut, ternyata bagian dalam batang pohon tersebut sudah hancur menjadi abu. rupanya akibat hantaman tanaga dalam li kun liong, seluruh bagian dalam pohon tersebut pecah berantakan namun dari luar tidak kelihatan sama sekali. kehebatan tenaga dalam sehebat ini tidak dapat dibayangkan oleh li kun liong bisa ia kuasai bahkan mendengarnya pun ia tidak pernah.

Diam-diam ia menarik nafas dalam-dalam, hatinya bergidik ngeri, entah bagaimana akibatnya bila yang terkena hantamannya tadi adalah manusia. memang tanpa disadari li kun liong, ia telah mempelajari ilmu aliran tenaga dalam yang sangat ajaib dan tiada duanya. dengan kemampuannya saat ini, ia dapat malang melintang di sungai telaga tanpa tandingan lagi. bahkan dengan sedikit kecerdikan yang dimilikinya, di masa mendatang li kun liong mampu menyerang lawan dengan tenaga dalam tak berwujud ke arah musuhnya tanpa disadari lawan, tahu-tahu lawannya tergeletak binasa dengan bagian dalam hancur semuanya. tapi tentu saja masih dibutuhkan waktu yang cukup lama sebelum li kun liong mencapai tingkat tersebut dan hal tersebut terjadi di lain cerita.

Setelah kembali membumi, li kun liong sadar hari telah menjelang sore. entah apakah partai mo-kauw sudah datang atau belum. li kun liong mengerahkan ilmu menringankan tubuh berlari ke arah shao-lin untuk mencari berita.kali ini pun ia merasa kaget, cukup dengan mengerahkan sedikit tenaga, tubuhnya meluncur dengan kecepatan kilat. kecepatan ini berkali lipat dari sebelumnya, bagaikan terbang kedua kakinya melayang seolah-olah tak menyentuh tanah.

Dalam waktu singkat ia sampai di depan kuil shao-lin, dari kejauhan ia telah melihat kepungan pasukan mo-kauw, rupanya mereka benar-benar sudah datang ke kuil shao-lin, tanpa membuang tempo li kun liong melayang melewati tembok kuil shao-lin, ia tidak mau repot dihadang pasukan mo-kauw. bagi pasukan mo-kauw sendiri, mereka hanya melihat segulungan bayangan putih berkelabat di depan mata mereka. kecepatan bayangan tersebut tidak dapat diikuti oleh mata mereka yang cukup terlatih sebenarnya. terjadi kehebohan dalam barisan mo-kauw, mereka tahu yang datang adalah seorang jago kosen yang maha lihai.

Kedatangan li kun liong sangat tepat waktunya, begitu memasuki ruangan utama kuil shao-lin, ia melihat master the-kok-liang dengan tubuh gemetaran sedang dalam tahap yang sangat kritis di serang oleh seorang tua yang berusia sekitar hampir delapan puluh tahunan. juga dirasakannya hawa panas di sekitar ruangan tersebut,wajah master the-kok-liang sekarang sudah berubah menjadi merah darah akibat darah yang keluar dari kedua lubang hidung, mata dan telinganya.

Li kun liong sadar bahaya yang mengancam, sambil mengeluarkan pekikan dasyhat ia melompat ke arah pertempuran untuk menolong ayah cin-cin. saat itu pikiran master the-kok-liang sudah tidak stabil lagi, tenaga dalamnya sudah terkuras habis, ia hanya menanti detik-detik terakhir sebelum kematian menghampirinya. sin-kun-bu-tek sendiri cukup terkuras tenaganya menjalankan tahap kedelapan ini namun diam-diam hatinya lega melihat keadaan master the-kok-liang yang sebentar lagi akan roboh sehingga ia tidak perlu menjalankan tingkat terakhir ilmu thian-te-hoat yang akan menguras tenaga dalamnya lebih banyak lagi. sekarang pun setelah pertandingan ini selesai, ia membutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan tenaga.mendadak dirinya mendengar pekikan dashyat diiringi serangkum tenaga dalam yang sangat hebat menerpa ke arahnya.

Hati sin-kun-bu-tek tercekat mengetahui masih ada tokoh nomer wahid di kalangan dunia persilatan kangouw, terbukti serangkuman tenaga dalam tersebut dapat menembus hawa saktinya yang sedang mengurung master the-kok-liang. namun ia tidak sempat banyak berpikir, gelombang tenaga dalam tersebut telah membuyarkan hawa panas yang melingkupi master the-kok-liang, sekaligus membuatnya mundur sempoyongan akibat desakan hawa panas yang membalik ke arahnya. dengan wajah sedikit pucat tanda hatinya tergoncang, ia melihat seorang pemuda seumuran muridnya ceng han tiong sedang memapah master the-kok-liang mejauhi gelanggang.

Master the-kok-liang segera dikerumuni oleh para ketua partai utama, dengan wajah khawatir li kun liong bertanya “master, apakah tidak apa-apa?”. disekanya darah yang membasahi wajah master the-kok-liang. diam-diam dikerahkannya tenaga dalam untuk membantu master the-kok-liang. dengan wajah pucat pasi, master the-kok-liang mengambil sebutir pek-leng-tan yang terbuat dari thain-san-soat-lian (teratai salju dari thian-san) dan segera meminumnya.

Pek-leng-tan sangat berkhasiat untuk menyembuhkan luka dalam. dengan wajah sedikit membaik, master the-kok-liang berkata lemah “terima kasih atas pertolonganmu kun liong”
“sebaiknya suhu jangan banyak bicara dahulu agar tenaga dalamnya tidak tergetar” kata tang bun an sambil memeriksa nadi di tangan master the-kok-liang. melihat keadaan master the-kok-liang mendingan, baru li kun liong lega hatinya,ditepuknya bahu tang bun an dan berkata “bun an, tolong jaga suhumu baik-baik”
“terima kasih kun liong, untung engkau datang, kalau tidak” tang bun an tidak dapat menyelesaikan perkataannya, hatinya masih berdebar-debar menyaksikan pertempuran gurunya dengan sin-kun-bu-tek tadi.
“ha..ha..ha.. siang-jik-hwesio menurutmu bagaimana hasil pertempuran lohu dengan master the-kok-liang” kata sin-kun-bu-tek tiba-tiba.
“omitohud, ilmu thian-te-hoat sin-kun-bu-tek memang sangat lihai, pertandingan ini jelas dimenangkan pihak mo-kauw” jawab siang-jik-hwesio. keadaan sekarang menjadi susah, masing-masing pihak sudah memenangkan dua babak dan satu seri sehingga keadaan berimbang.

Kaum kangouw tiong-goan yang menyaksikan kedatangan li kun liong, awalnya mengira li kun liong datang untuk membantu pihak mo-kauw namun kesudahannya membuat mereka tercengang, tidak menyangka sama sekali justeru li kun liong membantu master the-kok-liang.ciang gu sik segera berbisik kepada gurunya, memberitahu siapa diri li kun liong. juga diceritakannya kerubutannya bersama tong-tang-lang namun ia tidak menyangka ilmu silat li kun liong sekarang sudah maju sangat pesat dari sebelumnya. bahkan tong-tang-lang diam-diam tergetar hatinya melihat tenaga dalam sutitnya ini,dia heran dari mana li kun liong memperoleh kemajuan tenaga dalam sepesat ini.

“hm.. rupanya dikalangan kaum muda kangouw tiong-goan masih mempunyai jago muda yang lihai” kata sin-kun-bu-tek dengan mata berkilat menatap li kun liong. diam-diam ia memutuskan untuk mencoba ilmu silat li kun liong. tiba-tiba ia mengebaskan tangan dengan gerakan tjiamie sippattiat (merubuhkan musuh dengan kebasan tangan) ke arah li kun liong. melihat gerakan tersebut kaum kangouw yang hadir berteriak khawatir bagi keselamatan li kun liong.

Tadi ketua ceng-sia-pai juga ia serang dengan gerakan ini dan hasilnya ketua ceng-sia-pai tersebut binasa. li kun liong kaget ketika tahu orang tua dihadapannya ini adalah sin-kun-bu-tek,ayah dari kim bi cu. li kun liong tahu sin-kun-bu-tek telah melancarkan serangan ke arahnya namun sejak tadi seluruh urat tubuhnya telah siap siaga. dirasakannya datang serangkum tenaga dashyat yang berwujud menghampirinya, dengan tenang seolah-olah hendak membersihkan baju dari debu, dikebas-kebaskannya kedua tangannya ke baju.

Diam-diam ia bersyukur telah memperoleh kemajuan tenaga dalam yang berarti dari lukisan kuno tersebut hingga mampu menyambut serangan sin-kun-bu-tek. melihat kebasan tangannya tidak berarti apa-apa terhadap li kun liong, sin-kun-bu-tek segera sadar ia menghadapi lawan yang tangguh. otaknya memikirkan langkah selanjutnya yang harus ia lakukan, dengan hasil seimbang tentu saja ia masih memiliki kesempatan untuk mencapai cita-citanya. namun kedatangan pemuda ini membuatnya sedikit ragu, tenaga dalam pemuda ini sangat tinggi, belum pernah ia melihat seorang pemuda memiliki tenaga dalam sesempurna ini, kalau tidak menyaksikannya sendiri, ia pasti tidak akan percaya. belum lagi sin-kun-bu-tek memutuskan langkah selanjutnya, tiba-tiba terdengar suara mengalun memasuki gendang telinganya.

“kim-heng, lohu menyampaikan selamat bertemu kembali setelah puluhan tahun ini “tahu-tahu di dalam ruangan tersebut hadir seorang padri tua dengan wajah welas asih dan rambut yang sudah putih semua. padri tersebut adalah ketua biara shao-lin terdahulu, tiang-pek-hosiang. ketika li kun liong mengeluarkan pekikan dashyat tadi, pekikan tersebut mengetarkan seluruh kuil shao-lin dan menyadarkan tiang-pek-hwesio dari samadhinya. dia merasa heran tokoh lihai dari mana yang telah mendatangi kuil shao-lin, diam-diam ia khawatir muridnya siang-jik-hwesio mampu menandingi tamu tersebut.

Makanya segera ia menampilkan diri dan menyangka orang yang mengeluarkan pekikan tersebut adalah sin-kun-bu-tek yang sudah dikenalnya puluhan tahun yang lalu. lapat-lapat, sin-kun-bu-tek masih mengenali tiang-pek-hosiang, lima puluh tahun yang lalu mereka pernah bertempur puluhan jurus. tak nyana gelagatnya ilmu silat tiang-pek-hosiang ini sudah mencapai kesempurnaan, terbukti dari suara yang didengarnya barusan, walaupun lirih namun terdengar dengan jelas sekali. diam-diam ia mengeluh dalam hati melihat kemunculan seorang tokoh lihai lagi, belum lagi apabila kiang-ti-tojin ikut muncul, cukup berat baginya.

Namun di luaran ia tidakmenampakkan kekhawatiran sama sekali bahkan sambil tertwa tergelak-gelak ia menjawab “selamat..selamat bertemu kembali tiang-pek-hosiang, lohu bersyukur bisa bertemu kembali teman lama. kedatangan lohu kali ini memang untuk bernostalgia dengan teman-teman lama. entah apakah kiang-ti-tojin juga berkenan hadir ?”sambil tersenyum, tiang-pek-hosiang menjawab “ilmu silat sicu semakin lama semakin hebat, pinceng sangat mengaguminya.”

Melihat kedatangan tiang-pek-hosiang, siang-jik-hwesio dan para ketua partai utama sangat gembira, diam-diam hati mereka lega. begitu juga kaum kangouw tiong-goan yang hadir, kehebatan ilmu silat sin-kun-bu-tek mengiriskan hati mereka.
“baiklah, sesuai kesepakatan semula, keadaan bagi kedua pihak berimbang. lohu memutuskan pertandingan ini seri, sementara partai kami akan tetap berdiam di tiong-goan. bagaimana keputusan kalian?” tanya sin-kun-bu-tek.
“omitohud, kami tidak masalah sama sekali dengan kehadiran partai mo-kauw sepanjang tdak menganggu ketentraman dunia persilatan kang-gouw” sahut siang-jik-hwesio.sambil tertawa dingin, sin-kun-bu-tek mengulapkan tangannya ke arah anggota mo-kauw dan meninggalkan ruangan. gemuruh pasukan mo-kauw kembali terdengar menuruni gunung song-shan.

Kaum persilatan yang hadir diam-diam menarik nafas lega menyaksikan kepergian pasukan mo-kauw tersebut, untuk sementara dunia kangouw bisa tenang. satu-persatu ikut meninggalkan gunung song-shan hingga akhirnya tinggal para tokoh partai utama saja. mereka menghampiri tiang-pek-hosiang untuk memberi salam sedangkan li kun liong menghampiri tang bun an dan master the-kok-liang. li kun liong memegang urat nadi di tangan master the-kok-liang, dirasakannya denyut nadi masih lemah namun berkat pek-leng-tan untuk sementara luka-luka dalamnya dapat dicegah tidak menjadi lebih parah. diam-diam dari hasil pemeriksaan tersebut li kun liong menyadari hidup master the-kok-liang tidak dapat bertahan lama, li kun liong bingung untuk mengungkapkannya.

Seperti yang kita ketahui, ilmu pertabiban li kun liong dipelajarinya dari sucouwnya, seng-ih (si tabib sakti) yang dikenal sebagai tabib nomer satu sungai telaga, sehingga diagnosa li kun liong bukan sembarangan. sambil tersenyum lemah, seolah juga menyadari keadaannya,master the-kok-liang berkata “kun liong, umur manusia ada batasnya dan setiap manusia cepat atau lambat memang harus mati, engkau tidak perlu bingung, lohu sendiri sudah menyadari luka-lukaku ini terlalu parah.”
Mendengar perkataan suhunya, tang bun an sangat kaget dan berkata “suhu mengapa berkata seperti itu, murid yakin suhu pasti akan sembuh, betulkan kun liong?”
Li kun liong tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya, namun master the-kok-liang sudah menjawab “bun an, engkau harus tahu, sebenarnya kalau tadi li kun liong tidak mengerahkan tenaga dalam untuk membantuku, mungkin sejak tadi suhumu ini sudah binasa. cuma satu yang masih membuatku belum tentram, keberadaan cin-cin sampai sekarang tidak jelas. kun liong lohu mau minta bantuanmu untuk ikut membantu bun an mencari cin-cin, kalau engkau tidak keberatan.”
“jangan khawatir master, cin-cin sudah aku anggap adik sendiri, aku pasti membantu bun an mencari jejak cin-cin” kata li kun liong sedih.

Selagi mereka prihatin melihat keadaan master the-kok-liang, terlihat tiang-pek-hosiang bersama para ketua partai utama menghampiri master the-kok-liang.”the-sicu, bagaimana keadaanmu, pinceng punya obat luka dalam buatan shao-lin, mungkin bisa membantu” kata tiang-pek-hosiang sambil berlutut dan memeriksa keadaan master the-kok-liang. namun hasil pemeriksaan tiang-pek-hosiang juga sama dengan li kun liong.
“omitohud.., luka-luka dalam the-sicu sangat serius, lohu tidak sanggup untuk mengobatinya”
“terima kasih taysu, lohu tahu luka-lukaku sudah tidak dapat tertolong lagi hingga merepotkan taysu dan para ketua lainnya.”
“jangan berkata begitu master the-kok-liang, engaku sudah menyumbangkan tenaga yang sangat berarti bagi dunia persilatan. sekarang sebaiknya kita berusaha merawat master secepatnya” kata kam-lokai.

Mereka lalu membawa master the-kok-liang ke dalam shao-lin dan membaringkannya di sebuah kamar besar. tang bun an dan li kun liong menjaga master the-kok-liang bergantian, selama beberapa hari ini beberapa tabib terkenal yang di undang datang ke shao-lin tetap tidak dapat menyembuhkan master the-kok-liang sehingga keadaan ketua thai-san-pai ini semakin lemah dan parah hingga akhirnya setelah memberi pesan-pesan terakhir kepada muridnya, tang bun an, ia meninggalkan dunia ini dengan tenang. dunia persilatan berkabung, kehilangan salah satu tokoh paling terkemuka selama puluhan tahun ini.
Jilid 11 : epilog

Di depan sebuah gubuk di atas tebing sungai yangtze dengan kehijauan rimbunan pepohonan hutan yang masih asli diselingi gemericik derasnya air sungai nan jernihdengan hawa sejuk berlatar pegunungan lu-shan, menambah indahnya alam. saat iturintik-rintik gerimis membasahi bumi. pemandangan itu sangat indah. keindahannya terutama perpaduan sungai, pemandangan bebatuan di sungai, yang bagaikan batu-apung yang membentuk hiasan alam secara alamiah. kalau berkabutpun tetap indah,karena kabut itu seakan menjadi tabir-alam yang tampaknya sangat halus bagaikan sutera kekelabuan. kalau ada matahari lain lagi keindahannya, sinar yang memancarkan cahaya keemasan, memantul di air sungai, dan dari jauh tampak lengkungan pelangi yang berwarna-warni.

Di pinggir sungai yangtze tersebut berdiri seorang gadis dengan kecantikan wajahyang sempurna bak bidadari turun dari langit. seluruh pakaiannya basah kuyup menampilkan bayangan tubuh yang sintal dan menggiurkan dari seorang dara muda. lekak-lekuk tubuh gadis itu sangat indah, menguncangkan hati setiap pria yang melihatnya. cahaya pelangi menerpa wajahnya yang basah, menampilkan garis-garis wajahyang terukir halus, memberikan kesan yang agung. pakaian yang dikenakannya tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuh yang ramping dengan sepasang buah dada membusung ketat dibalik baju basah tersebut.kerinduan memang selalu datang begitu saja.

Seperti pagi hari ini, cin-cin sedang berlatih silat dengan tekun mempelajari jurus-jurus baru ilmu pedang, hujan rintik-rintik tak dihiraukannya.jurus-jurus tersebut sangat hebat dan mengiriskan hati, kelabatan pedang kesana kemari seolah menapaki setiap titik hujan yang berjatuhan.sekonyong-konyong ingatannya kembali ke masa kecilnya, ketika ia berdua li kun liong bermain air hujan di halaman belakang gedung thai-san-pai. dengan termangu ia menatap gerimis yang yang berkejaran di permukaan sungai, teringat betapa gembira mereka saat itu. entah mengapa ia begitu kangen pada li kun liong (saat itu li kun liong sedang merawat dirinya dan merasa sengsara, kesepian seorang diri), ia mengira-ngira apa yang sedang dilakukan li kun liong saat ini.

Hujan akhir musim turun semakin deras membasahi ingatannya pada li kun liong, sepasang mata bulat bening itu sedikit meredup sinarnya.

kau seperti hujan yang datang membasahi,
membuat pepohonan dan rerumputan meruap segar di hatiku,
dan ketika pergi meninggalkan aroma tanah yang gembur.
barangkali sejak itulah,
aku mulai menyukai hujan dan betah menikmatinya berlama-lama.
sebab aku merasa menemukan dirimu…

” rindu berpadu sunyi paduan sempurna di kala sendiri kutata indah sibuknya hati nikmati rindu tiada bertepi”

…ban rou bo lou mi…..
hati yang mendambakan ketenangan,
dunia fana menari di tengah kelam malam,
kemanakah harus pergi mencari rumput harum
dalam mimpiku sepanjang jalan cinta sesukanya menakutkan dan meresahkan
suara bo ye po luo yang menjerat, siapa yang dapat memahami?
sudah mengetahui asyiknya kebebasan…
berharap dapat melupakan namun..
tak kuasa berapa banyak mengetahui bunga merekah dan luluh,
sudah mengetahui betap indahnya memiliki namun tak kuasa memenuhinya, siapa yang hrs menyelesaikannya?

Mengetahui bahagianya perjumpaan namun,
tak kuasa melupakan budi dan dendam.
berapa banyak mengetahui datangnya angin badai..
malam tersebut sudikah kau adalah kegalauan yang paling aku banggakan sepanjang jalan hatiku terbakar dalam lubuk hatiku melihat bunga tak sperti bunga, rumput tak sperti rumput, siapa yg dapat memahami? orang tak sperti orang, rumput tak sperti rumput, apakah ini baik atau tidak? mabuk kepayang dalam impian, jerih payah yang menerjang dan awan tersapu hilangdalam asap berjumpa denganmu memerlukan keberuntungan, bahkan mencintaimu memerlukan berapa banyak keberanian?diriku yang kecil hanya bertekad, manusia di dunia tak mampu mengisi sebuah kisah.

Ada orang mengatakan harus melupakanmu, aku rela melupakan ketidaktauan ku kehilanganmu, apa hebatnya jika menarik perhatian seluruh dunia? aku tak memperdulikan segalanya biarkan waktu berhenti jangan mau menukarkan kau sebuah keteguhan akhir dari kehidupan manusia, bukan pertemuan maka perpisahanjangan meninggalkan jejak sebuah percintaan ada orang mengatakan seharusnya aku menyerah, masih lebih mudah terjebak dalam pesona daripada hendak menyesal yang tersulit adalah kehilangan daya cinta, mabuk dan mati dalam kesepian seluruh dunia tengah menungguku dan melihatmu biarkan aku mengecupmu dan jatuh cinta padamu
(chinese ghost story)

Ta m a t

* bagaimana kisah petualangan li kun liong selanjutnya ?
* siapakah orang yang mengajari cin-cin jurus-jurus pedang mandraguna tersebut ?
* bagaimana akhir cinta segitiga antara tang bun an, cin-cin dan li kun liong.
* partai mo-kauw hancur ditangan siapa ?
* li kun liong mendapat seorang lawan tangguh, siapakah dia ?

nantikan dalam seri ke ketiga pendekar cinta yang berjudul “bidadari dari thian-san (thian-san-thian-lie)”
co_casanova
05-12-2012, 12:57 PM
Ampun deh Ko panjang banget ceritanya nyampe 10 jilid blm kelar juga :-o:-o

Bisa nyampe sebulan bacanya baru selesai Ko😉;)
Ampun deh Ko panjang banget ceritanya nyampe 10 jilid blm kelar juga :-o:-o

Bisa nyampe sebulan bacanya baru selesai Ko😉;)

lha… bacanya nyatai aja bro…hehe…
epilognya udah koko tambahin…
selesai untuk episode II …
btw…
koko nyari versi uncencored cersil ini sampe berminggu-minggu..
trus ketemu di scribb….
filenya berantakan …tanpa jeda tanpa spasi…
terus berhari-hari ngerapiin file cerita sebelum kemudian ngetrit di ds…..:d
garuda_big
07-12-2012, 08:50 AM
Wah seru nih ceritanya si ko2😀
ko lanjut dong ane udah baca 2 hari nih asik banget sampai kebawa mimpi wkkkkkkkk
menunggu kelanjutannya sambil tengak tengok kiri kanan😀
Pendekar Cinta III : Bidadari dari Thian-San (Thian-San Thian-Li)

Jilid 1. Duka Nestapa

Puncak pegunungan Thai-San masih tetap seperti dulu, berdiri dengan angkuhnya seolah-olah menantang setiap orang untuk menaklukannya. Musim gugur membawa nuansa tersendiri, udara mulai terasa sejuk, tetapi belum terlalu dingin untuk berjalan-jalan santai di alam bebas. Daun-daun yang mulai berubah warnanya menawarkan keindahan yang tidak bisa dinikmati di musim-musim lain. Jalan setapak yang berliku-liku dengan aroma musim gugur, daun-daun kuning menemani turunnya senja. Syair buah tangan penyair terkenal Wang Wei, mungkin sedikit dapat menggambarkan keindahan pegunugan Thai-San ini…

Di lembah luas membentang
sesaat setelah terguyur hujan
udara sejuk segar
terasa akhir musim gugur ‘kan tiba
senja nanti rembulan
menyinari hutan pohon pinus
oh, air kali jernih
gemericik mengalir di antara bebatuan.
Di tengah rumpun bambu, terdengar risik suara
perempuan-perempuan yang pulang
sehabis mencuci pakaian
daun teratai bergoyang
muncul perahu-perahu kecil penangkap ikan
Oh walau musim semi yang merbak
telah berlalu namun pemandangan di gunung
masih juga menambatku untuk tinggal di sini.

Di bawah sorotan sinar matahari senja yang lembut, terlihat seorang dara manis sedang menangis sedih di hibur oleh sang ibu dengan wajah yang pucat pasi, ikut larut dalam kesedihan. Dengan wajah pucat namun masih terlihat jelas raut wajah yang mempesona, si gadis meneruskan tangisnya yang semakin lama semakin menghebat. Berita kematian ayahnya mencengkram palung kesedihan hati terdalamnya.

Gadis tersebut adalah Cin-Cin, dia baru saja tiba di puncak gunung ini bersama susioknya namun bukan kegembiraan yang menantinya tapi berita duka tentang ayahnya, Master The-Kok-Liang yang binasa di tangan ketua partai Mo-Kauw, Sin-Kun-Bu-Tek (kepalan sakti tanpa tanding). Penyesalan yang mendalam menerpa diri Cin-Cin, keminggatannya berbuah pahit, ia tidak dapat bertemu ayahnya untuk terakhir kalinya.

Dalam cerita sebelumnya, pada pertempurannya dengan tokoh-tokoh Mo-Kauw bersama-sama Li Kun Liong, ia dikalahkan murid terakhir ketua Mo-Kauw, Ceng Han Tiong dan ditutuk urat nadi bergeraknya sehingga tubuhnya menjadi kaku. Tapi untungnya ia segera di tolong oleh susioknya, Ji-Yan-Cinjin, suheng dari ayahnya yang sudah berumur delapan puluh lima tahunan. Sejak itu Cin-Cin di bawa susioknya yang lihai ini ke kediamannya di puncak gunung Lu-Shan dan mendapat ajaran ilmu pedang kebanggaan susioknya.

Selama beberapa bulan ini, ia terus berlatih dengan tekun untuk menguasai ilmu pedang tersebut. Beruntung Cin-Cin telah mempunyai dasar-dasar yang baik, juga aliran ilmu pedang yang diciptakan susioknya ini sealiran dengan ilmu pedang Thai-San-Pai mereka sehingga mampu dikuasainya dalam waktu beberapa bulan saja. Tapi untuk menguasai dengan sempurna, masih diperlukan beberapa tahun latihan. Ilmu pedang ini dinamakan Lu-Shan-Kiu-Kiam (sembilan jurus ilmu pedang Lu-Shan), terdiri atas sembilan jurus saja tapi dalam setiap jurus terdapat beberapa variasi kembangan sehingga total jurus pedang tersebut mencapai puluhan jurus.

Untuk menguasai ilmu pedang ini harus mempunyai dasar-dasar ilmu pedang yang murni seperti ilmu pedang partai-partai utama dunia persilatan. Tanpa memiliki dasar yang kokoh, kelihaian ilmu pedang Lu-Shan-Kiu-Kiam tak nampak dan akan terlihat seperti jurus ilmu pedang biasa saja. Di sinilah letak kehebatan ilmu pedang ciptaan Ji-Yan-Cinjin ini, intisari semua ilmu silat yang dipelajarinya selama puluhan tahun. Memang kelihaian ilmu pedang bukan terletak dari keindahan gerakannya atau jurus-jurusnya.

Sepanjang sejarah dunia persilatan, ilmu pedang yang tersohor kelihaiannya seperti Bu-Tong-Kiam-Hoat, Thai-San-Kiam-Hoat, Kun-Lun-Kiam-Hoat, Hoa-San-Kiam-Hoat mengandung jurus-jurus pedang yang kelihatannya mudah untuk dipahami setiap insan persilatan tapi bisa di hitung sebelah jari tangan, tokoh silat yang mampu menguasai ilmu pedang yang disebutkan di atas tadi dengan sempurna dalam sungai telaga saat ini. Diperlukan bakat dan ketekunan yang luar biasa untuk memahami intisari ilmu pedang tersebut. Demikian juga dengan Lu-Shan-Kiu-Kiam, walaupun hanya sembilan jurus namun setiap jurus merupakan jurus-jurus sakti mandraguna. Kalau dimainkan oleh orang yang betul-betul memahaminya, jago silat kelas satu belum tentu dapat menghindari satu jurus saja ilmu pedang ini.

Sewaktu mencoba kelihaian ilmu pedang ini, Cin-Cin yang boleh di bilang telah cukup menguasai Thai-San-Kiam-Hoat, hanya mampu menahan serangan dua jurus ilmu pedang ini yang dimainkan susioknya. Ji-Yan-Cinjin sangat menekankan pemahaman akan teori ilmu pedang sebelum mempraktekannya. Menurutnya teori ilmu pedang semua perguruan intinya sama saja. Semakin sederhana jurus pedang yang dimainkan semakin lihai serangan pedang tersebut. Cin-Cin sangat beruntung di bimbing oleh ahli pedang kelas wahid ini sehingga dalam waktu singkat dapat memahaminya.

Masih dengan tersungguk-sungguk, nyonya Cen-Hui-Lan, ibu Cin-Cin, membimbing putri kesayangannya ke dalam markas Thai-San-Pai diikuti, Ji-Yan-Cinjin dan Tang-Bun-An. Sesuai pesan terakhir suhunya, Tang-Bun-An dan Li Kun Liong membakar tubuh Master The-Kok-Liang di gunung Song-Shan dan membawa abunya kembali ke Thai-San-Pai. Mereka tiba di Thai-San-Pai beberapa hari lebih dahulu dari Cin-Cin dan menyampaikan berita duka ini kepada sunionya. Walaupun hatinya teriris-iris mengetahui suaminya telah meninggal dunia, namun dengan tabah nyonya Cen-Hui-Lan menerima abu yang diserahkan muridnya ini.

Beberapa hari kemudian, barulah Tang-Bun-An menyampaikan pesan-pesan terakhir Master The-Kok-Liang kepada ibu gurunya. Dalam pesannya, Master The-Kok-Liang mengangkat Tang-Bun-An sebagai ciangbujin Thai-San-Pai yang baru, menggantikan dirinya. Di samping itu dengan terbata-bata, Tang Bun An juga menyampaikan keinginan terakhir Master The-Kok-Liang untuk merangkap perjodohan Cin-Cin dengan dirinya.

Sambil menganggukkan kepalanya, nyonya Cen Hui Lan merestui keinginan suaminya tersebut. Memang sejak lama, suaminya telah menginginkan perjodohan muridnya ini dengan putri kesayangannya.

“Siancai.., Bun An mulai sekarang engkau harus berlatih lebih keras lagi sehingga sebagai ketua perguruan besar tidak memalukan Kok-Liang yang telah mengangkatmu sebagai pejabat ketua” kata Ji-Yan-Cinjin yang ikut mendengarkan pesan-pesan terakhir sutenya. Wajahnya semakin terlihat tua setelah mendengar kematian sute satu-satunya, Master The-Kok-Liang. Walaupun hubungan mereka suheng-sute, namun pada prakteknya boleh di bilang Ji-Yan-Cinjin adalah suhu, orang tua bagi Master The-Kok-Liang. Begitu pula sebaliknya, bagi Ji-Yan-Cinjin, Master The-Kok-Liang sudah ia anggap sebagai anak/adik sendiri sehingga walaupun ia sudah mencapai tingkat peribadatan yang tinggi, masih terpengaruh atas kematian sutenya ini.

“Teecu mohon bantuan susiok untuk membantu mengembalikan kejayaan Thai-San-Pai” kata Tang-Bun-An.

“Benar Ji-Yan suheng, sebaiknya Ji-Yan suheng menetap di sini saja sambil memberi pelajaran kepada Bun-An dan Cin-Cin” kata nyonya Cen Hui Lan.

Ji-Yan-Cinjin menganggukkan kepalanya, sedikit banyak ia merasa ikut bertanggung jawab untuk mempertahankan kejayaan Thai-San-Pai. Demikianlah sejak hari itu, Ji-Yan-Cinjin menetap di Thai-San-Pai menghabiskan hari tuanya sambil menurunkan ilmu-ilmu silat andalannya kepada Tang-Bun-An dan Cin-Cin.

— 000 —

Sementara itu dengan membawa abu gurunya, *** Khi Coan, yang diserahkan nyonya Cen-Hui-Lan, Li Kun Liong menuju kediamannya bersama gurunya di puncak sebelah kiri Thai-San-Pai. Dengan hati pilu, setibanya di pondok kediamannya selama ini, Li Kun Liong melihat pondok mereka masih tetap terpelihara kebersihannya. Rupanya nyonya Cen-Hui-Lan masih menyuruh murid Thai-San-Pai membersihkan pondok ini. Dengan perasaan berterima kasih, Li Kun Liong memasuki pondokan tersebut. Suasana di dalam pondok tersebut masih sama seperti terakhir kali ia diami, letak perabotan masih tetap sama, tidak ada yang berubah. Yang berubah hanyalah suasananya, terasa sekali kesunyian di dalam pondok ini. Keceriaan alam musim semi dengan suara burung berkicau saling sahut menyahut, tidak mampu memecahkan kesunyian di dalam hati Li Kun Liong.

Selama beberapa hari ke depan, Li Kun Liong mengenang kembali kehidupannya di puncak gunung Thai-San ini bersama gurunya. Dijelajahinya seluruh puncak kediamannya selama ini, tiada apa pun yang ditemui selain hutan belantara, semak belukar dan binatang-binatang hutan tapi Li Kun Liong justeru merasa puas dan kesedihannya sedikit demi sedikit berkurang.

Ia juga tidak lupa berlatih ilmu silat, diulanginya semua pelajaran yang pernah dipelajarinya mulai dari ilmu pedang ajaran gurunya sampai ilmu langkah ajaib yang ia pelajari di gua dahulu serta posisi-posisi di gulungan lukisan kuno. Tubuhnya berkelabat ke sana kemari dengan sebatnya, kecepatannya sangat menakjubkan. Sambil melayang ke atas, Li Kun Liong mampu menangkap burung yang terbang melintas di atas lapangan tempatnya berlatih. Ilmu meringankan tubuhnya maju sangat pesat, begitu pula dengan tenaga dalamnya. Kesiuran angin pukulannya membuat daun-daun kering di tanah beterbangaan ke atas membentuk gulungan lingkaran ke atas mengelilingi tubuhnya. Semakin lama semua daun yang rontok tersebut, tersapu masuk ke dalam gulungan tersebut. Sungguh pemandangan yang mengiriskan hati, apabila guru Li Kun Liong masih hidup, tentu ia akan sangat terkejut melihat kemajuan ilmu silat Li Kun Liong saat ini.

Dengan hati gembira, Li Kun Liong melanjutkan latihannya, ia merasa sangat puas melihat kemajuannya selama ini. Kalau dibandingkan dengan sewaktu ia turun gunung, ilmu silatnya saat ini entah sudah berapa kali lipat majunya.

Demikianlah selama satu bulan ini, Li Kun Liong melatih ulang semua ilmu yang dipelajarinya, bagian-bagian yang selama ini kurang ia pahami, di telaahnya dengan penuh perhatian. Begitu pula dengan ilmu langkah ajaib. Seperti yang diketahui, ada di bagian akhir ilmu langkah ajaib ini, jejaknya terhapus karena satu dan lain sebab sehingga ilmu ini tidak dapat dipelajarinya dengan sempurna. Namun berkat kecerdikan dan ketekunannya, Li Kun Liong mampu memperkirakan gerak-gerak langkah selanjutnya hingga ilmu ini menjadi lengkap. Tidak semua orang memiliki bakat demikian, diperlukan pemahaman yang mendalam serta kecerdikan yang luar biasa sehingga mampu menciptakan ulang ilmu langkah ajaib ini. Di kemudian hari, Li Kun Liong akan menjadi tokoh silat yang melegenda selama ratusan tahun.

Hanya satu yang masih membuatnya penasaran yaitu posisi-posisi di lukisan kuno tersebut, walaupun dengan kecerdikannya, ia sudah dapat memahami sebagian besar arti gambar-gambar tersebut namun karena keterbatasan pengetahuan bahasa Persi (Parsi), ada bagian-bagian tertentu tidak dapat ia pahami. Ia harus memeras otak untuk memecahkan bagian yang membingungkan tersebut. Sehingga saking asyiknya berlatih, Li Kun Liong tidak sempat mengunjungi Thai-San-Pai kembali dan kedatangan Cin-Cin bersama susioknya tidak diketahuinya.
Jilid 2. Rumitnya Cinta Segi Tiga

Suatu hari tengah dirinya asyik berlatih silat, kupingnya yang tajam mendengar langkah-langkah kaki di kejauhan. Dengan kemampuan ilmu silatnya saat ini, Li Kun Liong dapat mendengar suara sampai puluhan langkah, bahkan ia mampu memperkirakan jumlah orang yang sedang mendatangi serta kelihaian ilmu meringankan tubuh mereka. Yang datang kali ini, menurut pengamatannya adalah dua orang dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Li Kun Liong menghentikan gerakannya dan menanti kedatangan orang tersebut. Tidak lama kemudia terlihat muncul dari balik pepohonan yang rimbun, dua orang seperti dugaannya.

Mereka adalah Cin-Cin dan Tang Bun An. Selama satu bulan ini mereka pun sibuk, selain mempersiapkan sembayangan bagi Master The-Kok-Liang, Tang Bun An juga disibukkan dengan hal-hal yang harus diurusnya sebagai ketua baru Thai-San-Pai. Dengan bimbingan ibu gurunya, ia mempelajari seluk-beluk partai. Syukur sebagai murid pertama, ia telah lama dipersiapkan sebagai calon pengganti hingga tidak terlau banyak urusan partai yang belum diketahuinya. Sebagai ciangbujin, Tang Bun An merasakan beban yang disandangkan cukup berat, selain harus membalas dendam kematian gurunya, ia juga diharapkan dapat mengembalikan kejayaan Thai-San-Pai. Untung dia dibantu ibu guru dan susioknya hingga beban tersebut sedikit berkurang.

Di samping itu, dia dan Cin-Cin juga berlatih keras mempelajari ilmu-ilmu yang diturunkan Ji-Yan-Cinjin kepada mereka berdua. Dengan semangat menyala-nyala Cin-Cin dan Tang Bun An menerima pelajaran susioknya dan melatihnya terus menerus. Tiada waktu luang yang mereka sia-siakan selama sebulan ini untuk berlatih.

Dengan kesibukan tersebut, perlahan-lahan kesedihan Cin-Cin atas kematian ayahnya mulai berkurang sedikit demi sedikit dan keceriaan dulu di wajahnya mulai nampak. Selama ini baik nyonya Cen-Hui-Lan dan Tang Bun An tidak berani menyinggung masalah perjodohan sesuai pesan terakhir Master The-Kok-Liang. Selain masih dalam masa berkabung, nyonya Cen Hui Lan tidak mau Cin-Cin kembali minggat begitu perjodohannya di singgung waktu itu. Sekarang Cin-Cin adalah satu-satunya belahan hatinya dan ia tidak mau kehilangan putri kesayangannya ini. Sebagai seorang ibu yang mempuyai naluri keibuan yang tinggi, nyonya Cen Hui Lan dapat menduga hati Cin-Cin telah diberikan ke lain orang, bukan kepada Tang Bun An. Dia lapat-lapat dapat menduga siapa pemuda tersebut, walaupun pada dasarnya ia tidak keberatan sama sekali namun pesan terakhir suaminya tidak boleh diabaikan begitu saja.

Memang di jaman tersebut, pesan orang yang sudah meninggal dunia merupakan pesan yang harus dilaksanakan. Kalau tidak bisa di anggap kualat dan tidak berbakti. Juga dalam melangsungkan perkawinan, harus menunggu masa perkabungan selesai yaitu tiga tahun lamanya. Entah bagaimana reaksi Cin-Cin bila mendengar pesan terakhir ayahnya tersebut.

“Hei, Cin-Cin, engkau sudah kembali” seru Li Kun Liong gembira. Memang sejak Cin-Cin menghilang, ia selalu memikirkan Cin-Cin, takut terjadi sesuatu apa-apa hingga kemunculan Cin-Cin di sambutnya dengan hati lega.

“Liong-ko, engkau enak-enak di sini ya, rupanya sudah lupa sama Thai-San-Pai kita” jawab Cin-Cin sambil merajuk.

Tang Bun An dan Li Kun Liong tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Cin-Cin. Diam-diam Tang Bun An gembira melihat keceriaan Cin-Cin telah kembali seperti semula. Cuma dalam hatinya terselip sedikit ganjalan melihat keakraban Li Kun Liong dan Cin-Cin. Dia sendiri diam-diam sudah lama mencintai Cin-Cin, apalagi setelah tahu ia bakal menjadi calon suami Cin-Cin. Sebagai seorang lelaki, walaupun tipenya bukan seorang pecemburuan namun melihat keakraban pujaan hatinya dengan lelaki lain, mau tidak mau menganggu hatinya.

Tapi Tang Bun An memiliki kebesaran hati yang tinggi, ganjalan tersebut tidak membuatnya kecewa. Ia pasrah, karena dia pun tahu sebenarnya Cin-Cin lebih akrab dengan Li Kun Liong di bandingkan dengan dirinya. Sedangkan bagi Li Kun Liong, ia menganggap Cin-Cin sebagai adik sendiri, jauh dari prasangka yang tidak-tidak sehingga ia meladeni segala celoteh atau gurauan Cin-Cin dengan sewajarnya. Mimpi pun ia tidak menyangka sama sekali bahwa hati dara manis ini sudah diserahkan bulat-bulat terhadapnya. Li Kun Liong juga telah mengetahui perjodohan Cin-Cin dan Tang Bun An, dan diam-diam sangat setuju dengan keinginan Master The-Kok-Liang tersebut. Mereka berdua merupakan pasangan yang sangat setimpal.

Begitulah mereka bertiga bersenda gurau dengan akrabnya sama seperti dahulu sebelum turun gunung. Namun dibalik itu, masing-masing hati memiliki kegundahan sendiri-sendiri. Tang Bun An dengan kecemburuannya kepada Li Kun Liong, Cin-Cin dengan kerinduananya kepada Li Kun Liong, Li Kun Liong dengan kerinduannya kepada siau-Erl.

Selama beberapa hari ke depan, mereka selalu berkumpul bersama. Kadang-kadang berlatih bersama seperti dulu. Dengan ilmu silatnya yang sudah mencapai kesempurnaan, Li Kun Liong mampu memberikan petunjuk-petunjuk dan kelemahan-kelemahan gerakan Tang-Bun-An dan Cin-Cin dalam berlatih ilmu pedang yang diturunkan Ji-Yan-Cinjin. Berkat bantuan Li Kun Liong, Tang Bun An dan Cin-Cin dapat mempelajari ilmu-ilmu Ji-Yan-Cinjin dengan sempurna. Mereka sangat berterima kasih atas petunjuk-petunjuk Li Kun Liong. Mereka tidak malu meminta petunjuk teman sepantaran karena sejak kecil memang mereka mengakui kecerdikan Li Kun Liong dan sering meminta bantuannya apabila mengalami kesulitan dalam mempelajari ilmu yang diturunkan Master The-Kok-Liang.

Bagi Li Kun Liong sendiri, tanpa disadarinya pemahamannya akan ilmu silat Thai-San-pai yang murni membuat kemajuan tersendiri bagi ilmu silatnya. Lebih-lebih dengan ilmu ajaran Ji-Yan-Cinjin yang sangat hebat ini, berkat bakatnya yang tinggi, manfaat yang ia peroleh justeru lebih besar dari Tang Bun An dan Cin-Cin.

— 000 —

Pagi yang cerah, Li Kun Liong sedang menaiki puncak gunung Thai-San untuk mengunjungi Cin-Cin dan Tang Bun An di Thai-San-Pai. Ia mendaki puncak gunung dari arah samping melalui hutan yang dipenuhi pepohanan yang rimbun, dan tembus ke lapangan di mana Tang Bun An dan Cin-Cin biasa berlatih silat. Tidak sampai belasan langkah lagi, ia akan keluar dari hutan ini dan sampai di lapangan berlatih silat murid-murid Thai-San-Pai.

Sayup-sayup telinganya mendengar suara isak tangis seorang wanita di bagian kiri hutan tersebut. Diliputi rasa heran, Li Kun Liong menyusuri hutan tersebut mencari siapa gerangan yang menangis sedih di pagi yang ceria ini. Bentuk tanah bagian kiri hutan ini agak menurun ke bawah, dengan hati-hati Li Kun Liong berjalan menurun. Suara isak tangis tersebut semakin jelas terdengar di telinganya, tak berapa lama kemudian dari balik rimbunnya semak belukar yang menghadang di depan, terdengar suara seorang wanita sedang menghibur seseorang. Li Kun Liong tidak dapat melihat siapa ke dua wanita tersebut karena terhalang rerimbunan semak belukar dan daun-daun bambu liar namun ia mengenali suara tersebut. Suara itu adalah suara nyonya Cen-Hui-Lan yang sedang menghibur Cin-Cin.

Pada mulanya Li Kun Liong menyangka Cin-Cin menangis karena teringat kembali akan ayahnya hingga ia memutuskan untuk tidak menganggu mereka dan kembali ke balik hutan. Namun sebelum kakinya melangkah, terdengar nyonya Cen-hui-Lan menyebut-nyebut namanya hingga tanpa disadarinya, ia ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
“Cin-Cin, aku tahu engkau diam-diam lebih menyukai Kun Liong dari pada toa-suheng, Bun An. Tapi pesan terakhir ayahmu tidak boleh kita abaikan. Walaupun Bun An tidak setampan dan selihai Kun Liong tapi aku tahu dia sangat mencintaimu. Boleh di bilang pemuda seperti Bun An jarang ditemui sehingga dia merupakan pasangan yang setimpal denganmu. Sedangkan Kun Liong, apakah engkau yakin dia menyukai dirimu seperti engkau menyukainya?”

Sambil mengusap butir-butir air mata yang mengalir di wajahnya yang cantik jelita tersebut, Cin-Cin berkata “Aku tahu ma, sebagai anak yang berbakti aku harus melaksanakan pesan terakhir ayah tapi Liong-ko….” Cin-Cin tidak dapat menyelesaikan kata-katanya, ia kembali menangis sedih.
Li Kun Liong mendengarkan pembicaran ibu dan anak tersebut dengan wajah melongo saking kagetnya. Tidak disangkanya sama sekali, Cin-Cin yang selama ini dia anggap adik sendiri menaruh hati kepadanya, bukan sebagai kakak tapi sebagai seorang gadis terhadap seorang pria. Hatinya terguncang hebat mendengar pengakuan Cin-Cin tersebut. Pikirannya berputar-putar dengan kacau, tak didengarnya langkah Cin-Cin dan nyonya Cen-Hui-Lan yang menjauh. Dia terpaku diam dalam kesunyian, entah sudah beberapa lama sebelum ia kembali membumi.

Perlahan-lahan ditinggalkannya hutan tersebut dan kembali ke kediamannya, tidak jadi mengunjungi Thai-San-Pai. Selama perjalanan pulang, otaknya berkecamuk. Dia merasa terharu mendengar pengakuan Cin-Cin tersebut sekaligus menaruh simpati yang besar kepada Tang Bun An. Dia sudah menganggap Tang Bun An sebagai kakak sendiri, hingga dia tidak mau membuat hatinya kecewa. Begitu pula dengan Cin-Cin, Li Kun Liong tidak mau hanya dikarenakan dirinya, hubungan dirinya dengan Tang Bun An menjadi retak.

Hari itu seharian dia termenung memikirkan jalan keluar terhadap masalah ini, tapi semakin dipikirkan semakin bingung ia jadinya. Baru kali ini dengan kecerdikan yang dimilikinya, Li Kun Liong tidak dapat memecahkan suatu masalah. Setelah bolak-balik, menimbang di sana-sini, akhirnya Li Kun Liong memutuskan untuk turun gunung sendirian sekaligus mencari jejak kekasih hatinya, siau-Erl. Dia berharap kepergiannya dapat mempererat hubungan Cin-Cin dan Bun An. Dalam hatinya ia berharap mereka berdua terangkap jodohnya dan berbahagia selamanya. Ia berencana tidak akan bertemu mereka lagi sebelum ia mendengar berita bahagia tersebut.

Beberapa hari Li Kun Liong tidak muncul mengunjungi Thai-San-Pai membuat hati Cin-Cin kembali kangen namun ia tidak berani mengajak suhengnya menengok keadaan Li Kun Liong. Sejak pembicaraannya dengan ibunya di dalam hutan, Cin-Cin menjadi sedikit pendiam dan agak menjaga jarak dengan Tang Bun An. Tang Bun An yang berhati halus seolah mengerti bahwa menjauhnya Cin-Cin tersebut dikarenakan pesan-pesan terakhir Master The-Kok-Liang. Entah kapan, rupanya sunionya telah memberitahukan tentang perjodohan tersebut. Hal ini juga membuatnya sedikit malu sehingga otomatis juga menjaga jarak dan tidak seakrab sebelumnya. Tang Bun An heran mengapa selama beberapa hari Li Kun Liong tidak muncul-muncul, apakah keasyikan berlatih jadi lupa waktu seperti yang dulu-dulu, duganya.

Seminggu telah berlalu namun bayangan tubuh Li Kun Liong belum terlihat juga sehingga akhirnya tanpa memikirkan apa pun Cin-Cin mengajak Tang Bun An mengunjungi kediaman Li Kun Liong. Sepanjang perjalanan menuju pondokan Li Kun Liong, Cin-Cin dan Tang Bun An berdiam diri, tidak seperti biasanya mereka agak kaku untuk memulai pembicaraan, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Akhirnya sambil melirik diam-diam ke arah sumoinya dari samping, dengan memberanikan diri Tang Bun An berkata lirih “Suu..moi, apakah engkau sudah tahu mengenai pesan terakhir suhu?”

Dengan wajah berubah kemerahan menambah kerupawanannya, Cin-Cin menganggukkan kepalanya dengan lemah.

“Aku tahu suheng, tapi sebaiknya setelah masa berkabung selesai baru kita bahas lagi” sahut Cin-Cin hati-hati.

“Baiklah” kata Tang Bun An. Walaupun permasalahan ini masih mengambang tapi melihat jawaban Cin-Cin tadi, hati Tang Bun An sedikit gembira, paling tidak Cin-Cin tidak menolaknya hingga ia masih ada harapan.

Begitu sampai di puncak kediaman Li Kun Liong, mereka segera berteriak memanggil-manggil Li Kun Liong tapi tak ada balasan. Dengan heran mereka berdua mengelilingi sekitar pondok di mana biasa Li Kun Liong berlatih silat. Lalu mereka memasuki pondokan, keadaan dalam pondokan tersebut kosong, tidak ada yang aneh. Namun ketika mereka memasuki kamar Li Kun Liong, tidak terlihat buntalan pakaian yang biasa digunakan Li Kun Liong untuk berkelana. Gelagatnya Li Kun Liong telah turun gunung selama beberapa hari sebelumnya tanpa berpamitan kepada mereka.

Dengan wajah kosong, Cin-Cin diam membisu sedangkan Tang Bun An segera keluar dan mengerahkan ilmu lweekang berteriak memanggil Li Kun Liong. Ia berharap Li Kun Liong masih berada di sekitar, tidak turun gunung namun tentu saja teriakannya tidak ada hasilnya. Cin-Cin mendiamkan saja teriakan suhengnya tersebut, bahkan ia seolah tidak mendengar sama sekali. Pikiran nya melayang entah kemana, dari sudut matanya tampak mengembang air mata yang tak bisa disembunyikan. Sambil menahan air mata yang mulai mengenang, Cin-Cin berjalan keluar dari pondokan tersebut dan berkata perlahan kepada toa-suhengnya

“Tidak usah di panggil-panggil lagi suheng, Liong-ko pasti sudah jauh meninggalkan tempat ini. Sebaiknya kita pulang saja.”
Tang Bun An menatap wajah Cin-Cin sedikit kepucatan tersebut, hatinya tiba-tiba merasa perih melihat kesedihan yang nampak di wajah Cin-Cin. Dia tahu kesedihan dan air mata yang tampak mengenang di matanya yang indah tersebut untuk siapa. Hati Tang Bun An bagaikan tenggelam jauh di bawah dasar samudera. Dia tahu diri, diam-diam ia memutuskan untuk mundur dan membiarkan kecintaannya ini mencari pujaan hatinya sendiri.

Kebesaran jiwa seorang Tang Bun An memang sungguh jarang kita temui, umumnya bila kita mencintai seorang gadis, kita pasti ingin memilikinya dan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya, terlepas apakah si gadis tersubut menyukai diri kita atau tidak, atau bahkan telah menyukai orang lain. Si lelaki tersebut sebenarnya lebih memikirkan kebahagiaannya sendiri ketimbang kebahagian si gadis. Ini bukan cinta yang sejati, cinta Tang Bun An adalah cinta sejati. Walaupun dengan hati yang berdarah-darah melihat kekasih pujaannya mencintai orang lain, tapi dengan jiwa besar ia rela melepaskan sang kekasih kepada orang lain demi kebahagiaan pujaan hatinya.

Keesokan harinya, nyonya Cen Hui Lan histeris begitu mengetahui Cin-Cin kembali minggat. Dalam surat yang ia tinggalkan, Cin-Cin meminta maaf atas segala perbuatan ibunya dan terutama kepada Tang Bun An serta memohon agar suhengnya dapat turut menjaga ibunya baik-baik. Dalam suratnya memang Cin-cin tidak menyebutkan alasannya minggat namun baik Tang Bun An dan nyonya Cen Hui Lan tahu bahwa Cin-Cin hendak mencari keberadaan Li Kun Liong.

Dengan tabah, Tang Bun An menghibur sunionya dengan kata-kata hiburan. Walaupun hatinya perih, tidak ditunjukkannya, namun nyonya Cen Hui Lan tahu, hati Tang Bun An pasti tercabik-cabik.
Dengan hati iba, nyonya Cen Hui Lan melimpahkan kasih sayangnya kepada muridnya yang setia ini, diam-diam ia sudah menganggap Tang Bun An sebagai anaknya sendiri.

Sebagai ketua baru Thai-San-Pai tentu saja tidak leluasa bagi Tang Bun An untuk pergi turun gunung mencari Cin-Cin. Selain itu masih banyak pekerjaan yang harus ia tangani sebagai ciangbujin.
Hari-hari selanjutnya ia habiskan dengan bekerja keras melatih murid-murid Thai-San-pai dan melatih semua ilmu ajaran Ji-Yan- Cinjin dengan sungguh-sungguh sehingga ilmu silatnya maju pesat.
3. Seorang Lawan Tangguh
Satria Zhao(1) berpeci asing bertali,
Berpedang Wukou(2) sebening salju beku,
Pelana perak kilapi kuda putih,
Gegas berkelabat ‘bak bintang melintas.
Sepuluh langkah bunuh satu orang,
Ribuan li belum juga terhentikan(3),
Habis tugas kebaskan baju berdebu,
Bertapa membenamkan nama dan diri.
Pangeran Xin Ling(4) mengajaknya minum,
Pedangpun dicopot lintangkan di lutut.
Menikmati dendeng bersama Zhu Hai(5),
Menyuguhi minuman membujuk Hou Ying.
Tiga cawan terus ikrarkan sumpah,
Merontokkan Wuyue(6) pun terasa ringan,
Kala arak panasi mata telinga,
semangat bergolak ‘bak sinar pelangi.
Ayunkan palu slamatkan negeri Zhao,
Baru namanya sudah getarkan Handan(7)
Abadilah nama dua satria perkasa,
Dalam lubuk hati penduduk Daliang(8)
Tulang satria gugur harum semerbak,
Tak malu dianugrahi gelar pahlawan,
Timbang jadi penunggu lemari buku,
Sampai ubanan tekuni kitab mistik(9).


(1) Zhao adalah salah satu dari ketujuh kerajaan di zaman Warring Kingdoms.
(2) Wukou, sejenis pedang melengkung berbentuk sabit dari negeri Wu.
(3) Ungkapan ini dikutip dari percakapan Zhuang Zi dengan Raja Wen mengenai urusan pedang.
(4) Wei Wuji yang lebih dikenal sebagai Xinling Jun atau Pangeran Xin Ling. Nama Wuji atau Boe Kie ini kemudian dipakai Jin Yong untuk tokoh ceritera To Liong To.
(5)Zhu Hai dan Hou Ying adalah dua pendekar yang dipakai oleh pangeran Xinling dan akhirnya bisa menyelamatkan negeri Zhao dengan mengusir pasukan Qin.
(6) Wuyue, lima gunung yang dianggap suci di Tiongkok termasuk Taishan.
(7)Handan, ibu kota negeri Zhao.
(8) Daliang, ibu kota negeri Wei.
(9) Maksudnya Taixuan Jing , karya Yang Xiong di zaman Xihan (Han Barat). Bertumpu pada Xuan atau mysticism, dan dalam berbagai syairnya, Li Bai sering mengejek kitab ini.

Syair di atas berjudul “Balada Satria Pendekar” karya penyair legendaris Li Bai, menceritakan kepahlawanan seorang pendekar.

Hasil dari peristiwa penyerbuan di Shao-Lin membuat nama besar Li Kun Liong makin terkenal, kemampuannya menandingi ketua Mo-Kauw menjadi buah bibir umat persilatan di mana-mana. Banyak yang ingin berkenalan dengan tokoh paling populer saat ini tapi mereka kecewa karena keberadaan Li Kun Liong sukar dijajaki. Selama beberapa bulan setelah pertempuran besar di Shao-Lin antara pihak Bu-lim Tiong-goan dengan partai Mo-Kauw, dunia persilatan mengalami masa tenang sementara, pihak Mo-Kauw tidak melakukan pergerakan apa pun.

Saat itu Li Kun Liong sedang berada di daerah Kanglam yang sedang memasuki musim panas. Musim panas di Kanglam, keadaan udara senantiasa cenderung naik, sementara kadang angin tidak sedikit pun berhembus untuk sekedar memberi kesegaran di siang dan malam hari. Banyak penduduk Kanglam yang merasa kegerahan baik berada di dalam maupun di luar rumah. Di mana jika mereka membuka jendela, bukan hawa segar nan sejuk yang akan berhembus masuk ke dalam rumah, melainkan hawa panas yang semakin membuat kegerahan.

Di musim seperti ini biasanya selera makan pun menurun, orang lebih banyak minum air dingin atau es untuk penawar dahaga. Bagi warga Tiongkok yang sangat gemar mengkonsumsi mie, namun sejak gelombang musim panas tiba di kota ini, maka banyak warga yang tidak berselera untuk menyantap makanan tersebut. Begitu pula dengan beberapa restoran mie lokal di Kanglam merasa sia-sia saja untuk menawarkan mie kepada para pelanggan, karena saat ini para penduduk lebih tertarik untuk menikmati minuman dingin yang segar.

Boleh jadi dikatakan, saat ini penduduk Kanglam cenderung memilih makanan yang ringan, cepat dalam penyajian, dan sesuai dengan keadaan musim saat ini. Sementara masakan mie tradisional ini sedikit kompleks atau rumit dalam pengolahan, walaupun makanan tersebut hanya berupa mie yang sudah menjadi dingin, namun proses awal yang harus mereka lakukan ialah terlebih dahulu mengukus mie tersebut sebelum dimasukkan ke dalam air rebusan agar menjamin tekstur mie yang benar. Setelah dikira-kira rebusan tadi telah cukup, maka mie kemudian dikeluarkan dari air, ditaruh ke dalam sebuah mangkuk untuk didinginkan baik dengan kipas atau air dingin. Semua proses yang dilakukan ini tak lain tak bukan untuk menjadikan mie tadi dapat dikunyah dengan enak. Makan mie dingin hanyalah sebagai salah satu dari beberapa tradisi kuno rakyat Tiongkok sebagai makanan yang patut disajikan pada musim panas.

Pada musim panas saat itu, umumnya Kaisar Tiongkok memilih untuk pergi ke rumah peristirahatan musim panas, yang biasanya dibangun di daerah pegunungan atau di samping telaga, seperti di daerah Kanglam, salah satu tempat peristirahatan musim panas terkenal di keresidenan Hebei, Tiongkok utara, dan Istana Musim Panas di Peiking. Sayangnya, hanya beberapa penduduk saja yang dapat menikmati tempat-tempat seperti itu, dan tidak bagi penduduk yang kurang mampu, karena biayanya yang mahal.

Sementara itu ada cara yang diperkenalkan oleh Bai Juyi, seorang penyair terkenal pada masa Dinasti Tang (618-907) yaitu, “dengan membuat kamar selapang mungkin”, karena dengan memiliki kamar yang lapang, maka angin dapat bergerak dengan leluasa di dalam ruangan kamar. Pada zaman kuno dahulu, banyak tempat di Tiongkok yang mempunyai kebiasaan tidur beralaskan tikar yang terbuat dari bulu atau sejenis tikar pandan yang ditaruh di atas tilam atau kasur untuk mengurangi efek dari sengatan sinar matahari. Duduk dalam keadaan tenang dengan sebuah kipas di tangan dan semangkuk sup plum (suatu jenis minuman tradisional musim panas di Tiongkok) di atas meja mereka.

Jika dibandingkan dengan para Kaisar dan beberapa tempat peristirahatan musim panas mereka, banyak rakyat biasa yang tinggal di beberapa kuil di atas gunung untuk menghindari hawa panas. Mei Yaochen, seorang penyair pada masa Dinasti Song (420-479), merasa bahwa candi yang hening dan berada pada tempat yang terpencil dan dikelilingi oleh pepohonan merupakan tempat terbaik untuk melewatkan musim panas.

Dalam puisi kuno mengatakan, “bahwa para cendikiawan dan penyair kebanyakan lebih menyukai kolam seroja yang dilindungi oleh pohon willow. Aroma dari tanaman-tanaman tersebut telah mampu menghalau kejengkelan yang datang pada musim panas.”

Cara lain yang lebih mudah untuk mengantisipasi hawa panas pada musim ini ialah, membangun atap rumah lebih tinggi, terasa lebih dingin.Banyak penduduk memindahkan tempat tidurnya ke luar rumah dan tidur di bawah atap langit selama hari-hari terpanas ini. Baik tidur di luar, juga para penduduk, banyak yang pergi makan keluar, dan berbincang-bincang sampai larut malam. Tradisi ini banyak dilakukan di beberapa tempat di Tiongkok termasuk di daerah Kanglam.

Selain itu, penduduk Kanglam juga memiliki kebiasaan makan-makanan yang terbuat dari es alami, yang mana es-es tersebut dikumpulkan pada musim dingin dan disimpan untuk digunakan pada musim panas. Orang menggunakan es untuk menyimpan makanan dan juga untuk membuat minuman dingin. Namun umumnya hal tersebut memungkinkan hanya bagi orang-orang yang mampu saja. Kemudian, dengan melihat tingginya akan permintaan, penduduk Kanglam mulai melakukan usaha pengangkutan dan pejualan es, yang mana membantu memperpanjang penggunaan es bagi para keluarga yang tidak memiliki peti es.

Namun, pendekatan yang lebih terkenal bagi para penduduk Kanglam untuk dapat tinggal dengan keadaan tenang ialah, memiliki hati yang lapang dan hidup secara damai. “Karena dengan hati yang lapang, maka secara lahiriah, hidup pun akan terasa tenang.” Ini merupakan bunyi dari salah satu pepatah kuno Tiongkok yang sangat cocok untuk menenangkan para penduduk dalam menghadapi musim panas. Sambil meminum semangkuk sup slum, dengan tenang Li Kun Liong menatap jalanan kota tersebut yang cukup lenggang di salah satu meja warung makan terbesar di kota ini. Suasana tidak begitu ramai, mungkin para penduduk malas keluar rumah di siang hari yang terik ini. Umumnya mereka menunda urusan keluar rumah hingga sore hari sehingga tenaga mereka tidak terkuras akibat panasnya musim panas ini.

Selagi menikmati supnya, terlihat olehnya tiga orang pria memasuki warung makan tersebut. Li Kun Liong mengenali dua dari tiga pria tersebut, mereka adalah Kwi-eng-cu (si bayangan iblis) dan gurunya, Bu-eng-cu (si tanpa bayangan). Sedangkan pria ke tiga yaitu seorang pemuda asing berusia sekitar dua puluh lima tahunan tidak di kenalnya. Pemuda ini kelihatan berasal dari negeri Thian-Tok (India), wajahnya cukup menarik dengan kulit yang kecoklatan, tubuhnya yang cukup tinggi dan matanya yang kebiruan membuat siapa pun yang kebentrok dengan sinar mata ini, bergidik serta bulu roma pada berdiri. Sorot mata pemuda ini seolah-olah menembus ke dalam jiwa orang yang ditatapnya.

Sikap Bu-eng-cu terhadap pemuda ini terlihat sangat hormat, mungkin pemuda ini berasal dari kalangan tinggi di negeri asalnya. Dalam seri sebelumnya, Li Kun Liong pernah bentrok sebentar dengan Bu-eng-cu di warung makan di kota Lin-An, tempat di mana dia bertemu Kim Bi Cu untuk pertama kalinya. Mula-mula yang menyadari kehadiran Li Kun Liong di warung makan ini adalah Kwi-eng-cu, dengan terperanjat ia segera membisiki gurunya. Bu-eng –cu menenggok ke arah Li Kun Liong, sambil menyeringai seram, dia kembali berbicara kepada pemuda aneh tersebut seakan hendak memberitahu siapa gerangan diri Li Kun Liong.

Mata Li Kun Liong bentrok dengan sorot mata pemuda tersebut, Li Kun Liong merasa bagaikan disetrum oleh suatu kekuatan yang maha dashyat melalui sorot mata tajam si pemuda. Sorot mata ini bukan sorot mata biasa, di dalamnya mengandung kekuatan aneh yang tak mampu di tolaknya, menerawang jauh menyelusup ke dalam jiwa terdalamnya.

Hanya karena memiliki ketangguhan yang melebihi manusia biasa dan ilmu yang dilancarkan pemuda aneh tersebut hanya bersifat menguji saja sehingga Li Kun Liong akhirnya mampu mengalihkan matanya dari sorot mata si pemuda tersebut. Diam-diam hatinya sangat tercekat, ia pernah mendengar dari sucouwnya yang sering mengembara jauh dari Tiong-goan, bahwa di negeri Thain-Tok ada sejenis ilmu yang dapat menyerang seseorang melalui sorot mata dan mempengaruhi orang tanpa disadari yang bersangkutan. Ilmu ini sangat aneh dan sudah jarang ada yang menguasainya bahkan di negeri Thian-Tok sendiri, ilmu ini diberitakan sudah menghilang ratusan tahun. Tak disangkanya sama sekali, ia bisa melihat kemunculan ilmu ini di daerah Kanglam melalui pemuda aneh tersebut.

Menurut sucouwnya, ilmu ini adalah sejenis ilmu sihir dan mampu menguasai seseorang untuk mengikuti segala kehendak orang yang memiliki ilmu ini, diluar kemauan. Ilmu ini sangat sukar dikuasai, hanya orang yang memiliki kebatinan yang tinggi saja dapat menguasai ilmu ini. Kalau jenis ilmu sihir biasa, cukup dengan darah ****** mampu menghancurkan kekuatan ilmu sihir tersebut, namun tidak dengan ilmu ini. Ilmu ini di sebut Ya-hwe-siau-thian (api liar membakar langit), mereka yang telah menguasai ilmu ini dengan sempurna, dapat menguasai seluruh semangat atau ingatan orang selama berbulan-bulan lamanya tanpa disadari yang bersangkutan dan mampu menguasai banyak orang secara massal pada saat bersamaan. Biasanya yang menguasai ilmu ini adalah pertapa-pertapa di pegunungan Himalaya, bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu aneh ini apabila yang orang yang menguasai juga memiliki ilmu silat yang sakti, ibarat seekor harimau tumbuh sayapnya.

Kalau Li Kun Liong kaget demikian pula lawannya, dia baru saja datang ke daerah Tiong-goan namun sudah bertemu lawan yang mampu menghindari sorot matanya. Di negerinya sendiri, bisa dihitung dengan sebelah jari, mereka yang mampu melawan ilmunya ini. Pemuda ini bernama Rameshwara, merupakan murid kesayangan jago nomor satu dari negeri Thian-Tok, pertapa Rakhee.

Pertapa Rakhee berdiam di gunung Singh dan dihormati seluruh pertapa, baik yang berdiam di pegnungan Himalaya maupun di pegunungan lainnya. Usianya saat ini sudah mendekati delapan puluh tahun tapi masih segar bugar berkat ilmu silatnya yang nomer wahid. Nama besarnya sudah terkenal selama puluhan tahun namun kaum persilatan Tiong-goan jarang yang mengenalnya, disamping tidak pernah mengunjungi Tiong-goan, pertapa Rakhee ini memang sudah lama sekali tidak berkelana. Dia hanya memiliki dua orang murid, yang pertama bernama Gurdwara, berusia sekitar akhir empat puluh tahunan.

Sedangakan murid terakhir adalah pemuda aneh ini, Rameshwara, seorang pemuda berasal dari keluarga paling kaya di Gujarat. Sejak kecil sudah terlihat bakatnya dalam mempelajari ilmu Ya-hwe-siau-thian (api liar membakar langit) ini bahkan dalam hal ilmu ini, Rameshwara melebihi suhengnya sendiri, Gurdwara yang usianya jauh lebih tua darinya. Karena berasal dari keluarga kaya, Rameshwara memiliki keangkuhan dan sikap memandang rendah seseorang, seolah-olah hanya dirinyalah yang paling tampan dan lihai ilmunya di negeri Thian-Tok. Tidak jarang ia bentrok dengan jago-jago muda Thian-Tok lainnya hanya karena sifatnya ini. Memang sifat Rameshwara ini sangat bertolak belakang dengan pra-syarat mempelajari ilmu Ya-hwe-siau-thian yang menuntut penguasaan emosi, ketenangan diri yang sempurna, baru bisa menguasai ilmu ini dengan sempurna. Tapi ini tidak berlaku buat Rameshwara, berkat bakatnya ia mampu menguasai ilmu ini dengan sempurna, entah bagaimana dashyatnya apabila ia memiliki sifat yang lebih lunak.

Rameshwara bisa datang ke Tiong-goan berkat hubungan Bu-eng-cu dengan suhengnya, Gurdwara. Sewaktu mengembara ke negeri Thian-Tok, Bu-eng-cu berkenalan dengan Gurdwara dan menjadi sahabat akrab dan pernah mendapat petunjuk langsung dari pertapa Rakhee untuk menyempurnakan ilmu silatnya. Ketika Bu-eng-cu mengunjungi Thian-Tok, Rameshwara yang mendengar Tiong-goan memiliki banyak jago-jago silat yang lihai, menjadi tertarik hatinya untuk mengunjungi Tiong-goan. Demikianlah sekelumit hubungan Bu-eng-cu dengan jago silat dari Thian-Tok ini.

Li Kun Liong tidak ingin mencari keributan, sambil menunduk ia melanjutkan makan dan tidak menoleh lagi ke arah rombongan Bu-eng-cu. Beberapa saat kemudian, warung makan tersebut kembali kedatangan tamu, terlihat memasuki warung makan tersebut Ciang-Gu-Sik dan Tong-tang-lang. Dunia memang selebar daun kelor, pepatah tersebut sangat cocok menggambarkan situasi ini. Di dalam sebuah warung makan secara kebetulan sekali, bisa berkumpul tokoh-tokoh puncak dunia persilatan. Yang satu, jago muda paling kosen dunia persilatan Tiong-goan, yang lain jago-jago nomer satu dari negeri Persia serta jago muda paling lihai dari negeri Thian-Tok.

Kedatangan dua musuh yang hampir membuat dirinya binasa, membuat emosi Li Kun Liong memuncak. Semua penderitaan yang dialaminya kembali terbayang, rasa sakit, rasa putus asa bercampur baur waktu itu. Namun di luaran, wajah Li Kun Liong tidak menampakkan perubahan apa pun, dengan tenang ia menatap tokoh-tokoh Mo-Kauw tersebut menuju meja kosong di sebelah kirinya. Begitu memasuki pintu warung makan tadi, Ciang Gu Sik dan Tong-tang-lang tentu saja segera menyadari kehadiran Li Kun Liong tapi mereka juga tak bereaksi apa pun.

Masing-masing pihak menahan diri namun seluruh urat syaraf mereka siap sedia menghadapi segala kemungkinan. Suasana tegang yang meliputi warung makan tersebut dapat dirasakan para pegunjung. Hawa pembunuhan sangat terasa sekali terutama di meja Li Kun Liong dan rombongan Mo-Kauw. Diam-diam, mereka yang tidak ingin terlibat urusan, segera menghabiskan makanan cepat-cepat dan meninggalkan warung makan tersebut, hanya tersisa tiga meja yang masih terisi yaitu meja Li Kun Liong, meja rombongan tokoh Mo-Kauw dan meja rombongan Bu-eng-cu.

Bu-eng-cu dan rombongan tentu saja juga dapat merasakan hawa permusuhan tersebut namun karena bukan urusannya, mereka dengan tenang meneruskan makan mereka sambil menanti perkembangan selanjutnya. Bu-eng-cu bertiga sendiri tidak mengenal Ciang Gu Sik dan Tong-tang-lang, hanya dia dapat menduga, kawanan ini pasti memiliki ilmu silat yang tinggi.

Bahkan diam-diam Rasmeshwara ingin sekali menyaksikan terjadinya pertempuran antara Li Kun Liong dengan pria-pria yang barusan datang. Dia ingin menyaksikan seberapa hebat ilmu silat jago-jago dunia persilatan Tiong-goan.

Mendadak, Tong-tang-lang mendengarkan suara ketawa yang nyaring, memecahkan keheningan yang terjadi.
“Ha..ha..ha.., sutit, bagaimana kabarmu selama ini, susiokmu ini cukup bangga memiliki sutit seperti dirimu, yang terkenal seantero sungai telaga. Susiokmu jamin kalau engkau sudi bergabung dengan partai Mo-kauw, nama besarmu pasti akan jauh lebih cemerlang.”
“Hmm.., manusia tidak punya budi, masih berani-beraninya mengaku sebagai susiok” sahut Li Kun Liong dingin.
“He..he..he, rupanya jaman sudah terbalik, seorang sutit sudah tidak punya rasa hormat terhadap susiok sendiri” kata Ciang Gu Sik memancing keadaan.

Mendengar perkataan Ciang Gu Sik, Tong-tang-lang merasa malu. Walaupun dia tahu ilmu silat Li Kun Liong sekarang sudah maju pesat tapi karena egonya di singgung, membuatnya gelap mata. Sambil mendengus, dia melemparkan poci arak yang sedang di minumnya ke arah Li Kun Liong. Luncuran poci tersebut menyambar cepat ke arah muka Li Kun Liong, namun Li Kun Liong tetap duduk dengan tenang. Begitu sambaran poci semakin mendekat, kira-kira dua senti dari mukanya, dengan kecepatan kilat tangan kirinya mengebas menyambut poci arak tersebut. Kecepatan dan ketepatan li Kun Liong menyambut poci arak tersebut sungguh mengagumkan hati Rameshwara. Diam-diam ia mengakui, tidak mudah baginya untuk mengalahkan Li Kun Liong.

Begitu berhasil menyambut poci arak tersebut, Li Kun Liong segera melempar balik poci tersebut ke arah Tong-tang-lang. Dalam lemparan tersebut Li Kun Liong menyertakan lima bagian tenaga dalamnya. Daya luncur poci tersebut jauh lebih cepat dan bertenaga sehingga Tong-tang-lang tidak berani menangkapnya. Dengan sedikit mengegoskan diri ke samping, poci tersebut mendesing lewat beberapa senti dari wajahnya, sekarang menuju ke arah Rameshwara. Begitu tiba di depan wajahnya, wajah Rameshwara menyerong ke kiri sedikit, lalu dengan kecepatan yang mengagumkan, jari tengah tangan kanannya menyentil sedikit bagian bawah poci tersebut. Sungguh menakjubkan, akibat sentuhan tersebut, poci arak berbalik arah kembali menuju ke arah Li Kun Liong.

Jangan di kira untuk melakukan sentilan tersebut mudah dilakukan sembarang jago silat, di dalam sentilan tersebut terkandung gerakan yang hanya dapat dilakukan seorang ahli silat yang telah mencapai pemahaman tertinggi ilmu silat. Kapan saat yang tepat melakukannya serta seberapa besar tenaga yang harus dikeluarkan, harus benar-benar diperhitungkan. Kalau tidak, begitu di sentil poci arak tersebut bisa pecah dan araknya akan berhamburan membasahi wajah orang yang melakukan sentilan tersebut. Gerakan sentilan jari tersebut tidak kalah lihainya dengan ilmu It Sin Ci (Sentilan Satu Jari Sakti) dari Shao-Lin-Pai yang sangat terkenal tersebut.

Daya luncur poci yang melayang ke arah Li Kun Liong semakin besar akibat sentilan Rameshwara. Kali ini, Li Kun Liong tidak bergerak sedikit pun, begitu poci arak sudah dekat ke wajahnya, tiba-tiba ia mengeluarkan hembusan dari mulutnya. Hembusan yang disertai tenaga sakti tersebut mengakibatkan poci kembali terbang ke arah Tong-tang-lang dengan daya luncur yang semakin besar. Tong-tang-lang tidak berani menangkap poci tersebut, dengan menggerakkan tubuh agak sedikit ke kanan, poci tersebut meleset beberapa senti dari tubuh Tong-tang-lang, terus meluncur menghantam tiang kayu.
Braak.. pyaar…, poci arak tersebut hancur berantakan, cipratan air arak berhamburan sejauh dua depa.

Demonstrasi ilmu tingkat tinggi melalui perantaraan poci arak sangat menakjubkan, segala gerakan yang dilakukan para tokoh kosen ini merupakan intisari dari seluruh ilmu silat mereka sehingga cukup dengan melihat demonstrasi ini, ahli silat yang bermata tajam dapat mengetahui ilmu silat Tong-tang-lang masih kalah setingkat dari ilmu silat Li Kun Liong dan Rameshwara.

Hal ini disadari oleh Rameshwara, dia tidak berani memandang enteng Li Kun Liong, hanya yang membuatnya heran adalah hubungan Li Kun Liong dengan Tong-tang-lang. Kalau di lihat dari pembicaraan tadi, mereka adalah sutit dan susiok. Tapi kelihatannya hubungan mereka tidak harmonis, juga yang mengejutkan ilmu silat si sutit lebih lihai dari si susiok.

Melihat hasil lemparannya kurang berhasil, Tong-tang-lang segera melancarkan serangan baru. Tanpa memberi kesempatan kepada Li Kun Liong, dengan gerakan luar biasa diserangnya Li Kun Liong dengan gerakan Hwe-hong-sau-liu (angin puyuh menyambar pohon) diikuti gerakan Ciong-siu-kiap-bok (Ciong Siu mencolok mata). Agak repot juga Li Kun Liong. Namun ia cerdik, hanya sebentar saja ia kerepotan. Segera ia menjalankan langkah-langkah ajaibnya dan hasilnya sangat mengagumkan. Dengan mudah semua serangan Tong-tang-lang dapat ia hindarkan bahkan dengan sekelabatan mata dia langsung dapat melihat kelemahan lawan.

Sambil mengerahkan langkah ajaibnya, tubuhnya melayang melewati bagian atas kepala Tong-tang-lang. Begitu di atas, tangannya dengan kecepatan kilat menepuk perlahan ubun-ubun Tong-tang-lang. Apabila ubun-ubun tersebut kena, dapat dipastikan Tong-tang-lang akan binasa. Untung di saat yang sangat genting, Rameshwara melemparkan sebatang sumpit ke arah li Kun Liong yang sedang bersalto di atas. Sebenarnya Li Kun Liong mengira pukulannya kali ini akan dapat menebus pengeroyokan yang di lakukan Tong-tang-lang. Tapi, tiba-tiba kupingnya yang tajam mendengar kesiuran lembut senjata rahasia menyambar ke arahnya.

Bila ia meneruskan tepukannya, walaupun berhasil namun dirinya tak luput dari bahaya. Mau tak mau ia membatalkan tepukannya, dengan sedikit menggeliat tubuhnya berhasil lolos dari serangan senjata rahasia tersebut dan kedua kakinya mendarat mulus di lantai. Rupanya senjata rahasia tersebut berupa sebatang sumpit yang dilemparkan Rameshwara.

Sebenarnya Rameshwara tidak ingin ikut campur dengan pertempuran tersebut namun Bu-eng-cu yang telah mengenali siapa adanya Tong-tang-lang dan Ciang-Gu-Sik segera memberi kisikan kepada Rameshwara untuk menolong Tong-tang-lang.
Bu-eng-cu punya tujuan tertentu dengan menolong Tong-tang-lang. Dia mengetahui saat ini partai Mo-kauw sedang dalam masa keemasannya, dengan memberi pertolongan kepada salah satu tetua Mo-kauw, ia berharap dapat menjalin hubungan dengan ketua Mo-kauw, Sin-Kun-Bu-Tek. Kedua, Tong-tang-lang pasti akan merasa berhutang budi terhadapnya. Dengan memiliki seorang sahabat dengan kedudukan setinggi Tong-tang-lang, dapat dipastikan manfaat yang ia terima pasti besar.

Memang sejak tadi Rameshwara ingin sekali menguji kelihaian ilmu silat Li Kun Liong. Kesempatan ini tidak ia sia-siakan. Dengan gerakan elang menyambar korbannya, diterjangnya Li Kun Liong dengan kecepatan kilat. Segera pertempuran antara dua jago silat ini berkecamuk dengan serunya. Pertempuran ini hebat bukan main. Setiap gerakan tubuh, baik tangan dan kaki, membawa kesiuran angin dan menimbulkan getaran, bahkan lantai warung makan tersebut berderak-derak menahan tenaga dalam yang tinggi tingkatnya. Meja dan kursi roboh terguling berserakan.

Dalam serang menyerang ini, kedua pihak sama-sama mengakui kelihaian lawan masing-masing. Beruntung bagi Li Kun Liong sudah menguasai gerakan langkah ajaib yang ia temukan di dalam gua, apabila tidak dia pasti kewalahan melayani jago dari negeri Thian-Tok ini. Aliran ilmu silat Rameshwara berbeda dengan aliran Tiong-goan, banyak gerakan-gerakan yang aneh dan tak terduga hingga Li Kun Liong harus ekstra hati-hati. Ilmu tenaga dalam Rameshwara berasal dari ilmu Yoga, mereka yang telah menguasai ilmu yoga ini dengan sempurna akan memiliki kelenturan tubuh yang hebat, tenaga dalam yang tinggi serta panca indera yang sangat tajam.

Ilmu yoga ini memiliki bermacam-macam gerakan tergantung aliran masing-masing, ada yang mudah, ada juga yang sangat sulit dilakukan. Umumnya hanya pertapa-pertapa tingkat tinggi yang dapat mencapai kesempurnaan dalam ilmu yoga ini. Di negeri Thian-Tok sendiri, yoga di pandang sebagai ilmu mandarguna sehingga tidak jarang kesaktian ilmu ini menjadi legenda. Penduduk negeri Thian-tok sangat mempercayai yoga bahkan kabarnya dengan ilmu ini, seseorang dapat melayang di atas permukaan air tanpa peralatan apa pun atau menembus api yang berkobar-kobar tanpa terluka.

Dilain pihak, Rameshwara pertempuran ini benar-benar menguras ilmunya. Ia mencoba mainkan segala macam ilmu silat yang pernah ia pelajari, namun tetap saja tidak dapat mendesak lawan. Hingga akhirnya terpaksa ia mengeluarkan ilmu simpanannya yaitu ilmu Ya-hwe-siau-thian (api liar membakar langit). Perlahan-lahan sorot matanya mengeluarkan sinar yang aneh, berusaha memaksa Li Kun Liong saling bertatapan mata.

Pada bentrokan mata tadi, Li Kun Liong sudah mengetahui kelihaian sorot mata Rameshwara hingga dia tentu saja tidak berani bertatapan langsung. Sebisa mungkin matanya tidak bentrok dengan sorot mata Rameshwara, kalaupun terpaksa segera ia mengalihkannya ke lain jurusan. Dengan demikian konsentrasinya jadi terganggu, di satu pihak dia harus melayani serangan-serangan lihai lawan, di lain pihak harus berjaga-jaga terhadap sorot mata lawan. Li Kun Liong semakin kerepotan bahakan suatu saat tanpa disadarinya matanya bertatapan cukup lama dengan mata Rameshwara. Pikirannya langsung seolah-olah berhenti, tidak mau mengikuti lagi bahkan tenaganya pun mandek. Walaupun hanya sedetik saja, tapi dalam pertarungan tingkat tinggi, kelengahan semacam ini dapat berakibat fatal.

Diiringi lengkingan panjang Li Kun Liong yang berusaha melepaskan diri dari sorot mata Rameshwara, tahu-tahu merasakan berderaknya tulang pundaknya. Pukulan Rameshwara berhasil mampir dan menghantam pundak kirinya. Syukur tenaga pukulan tersebut telah berkurang banyak, terpengaruh lengkingan Li Kun Liong, kalau tidak tulang pundak Li Kun Liong pasti patah. Rameshwara sendiri bukannya tidak apa-apa, lengkingan yang dikeluarkan Li Kun Liong merupakan serangan melalui suara, mirip dengan pekikan singa namun jauh lebih dahsyat. Lengkingan tersebut telah menggetar jantung Rameshwara dan membuat kacau pergerakan aliran darahnya. Bagi seorang ahli silat, aliran darah yang kacau dapat membuat dirinya terluka parah apabila tetap melanjutkan pertarungan, apalagi bila lawan yang dihadapi seimbang atau lebih tinggi tenaga dalamnya. Dia harus segera merawat diri dengan melakukan siulan yoga untuk melancarkan aliran darah agar kembali normal.

Menyadari lawan-lawannya kali ini tidak dapat di pandang enteng, sambil memegang pundak kirinya yang sakit dan tidak dapat digerakkannya dengan leluasa, Li Kun Liong untuk ke sekian kalinya harus segera mengambil langkah mundur. Dengan ginkang yang dimilikinya saat ini, tidak susah baginya untuk melarikan diri dari musuh-musuhnya.

Seperti orang yang sial berturut-turut, demikian juga nasib Li Kun Liong. Semaju apa pun ilmu silatnya, tetap saja ia harus mengalami kesialan di keroyok tokoh-tokoh kosen dunia persilatan. Sejak terjun ke sungai telaga, entah sudah berapa kali lipat kemajuan ilmu silatnya bila dibandingkan dengan pertama kali turun gunung. Namun kesialan terus mengikutinya, ia harus mengalami beberapa kali musibah, pengeroyokan, fitnahan dan lain-lain.
jilid 4. Kehormatan Seorang Dara
Dia bidadari di kesunyian
di gelapnya malam isi sepi
ungkapkan kesunyian hati

Dia masih saja tampakkan senyumnya
Meski bumi yang dia pijak lelahkan langkahnya
Menuju kodrat-Nya yang kini tercipta
baru saja dia di sini wanginya masih tertinggal

Tema yang diangkat syair di atas adalah cinta. Cinta memang merupakan inspirasi yang tiada habis-habisnya digali dan diungkap manusia. Ia telah melahirkan jutaan puisi, lirik lagu, cerita fiksi, dll. Ia telah melahirkan sastrawan-sastrawan yang dikenang sepanjang sejarah. Ia pun telah melahirkan banyak karya yang menjadi besar dan abadi. Cinta, dengan kekuatan dan kemisteriannya memang ajaib sehingga tampaknya, tak ada seorang pun penyair di dunia ini yang tidak pernah menulis sajak cinta. Jutaan sajak cinta telah ditulis penyair di berbagai belahan dunia dalam berbagai nada dan pandangan. Begitu pula yang tampak pada syair ini. Ia menyuarakan cinta dengan nada dan pandangan tertentu.

Setelah meninggalkan Thian-San, Cin-Cin berkelana mencari jejak Li Kun Liong, dia bertekad untuk memberitahu perasaannya terhadap Li Kun Liong. Dia tidak sanggup menahannya sendiri, apapun yang terjadi akan ia terima, yang penting ia sudah mengungkapkan seluruh perasaannya.

Suatu hari Cin-Cin tiba di suatu perkebunan teh di pinggir kota Yi-Xing di keresidenan Jiangsu yang dikenal sebagai penghasil poci teh terkenal. Berlatar panorama perbukitan yang asri dan udara yang sejuk, sejauh mata memandang terhampar luas perkebunan teh yang menghijau segar dan indah, sangat cocok untuk beristirahat. Di sebelah kiri terdapat sebuah paviliun yang cukup besar dan berfungsi sebagai warung teh kecil, khusus bagi pengelana yang ingin menikmati kehangatan dan keharuman the hasil petikan perkebunan teh ini.

Menurut catatan sejarah, TEH (Camelia sinensis) dikenal sejak sekitar 2.737 tahun Sebelum Masehi (SM) pada masa kekaisaran Shen Nong di Tiongkok. Dari negeri Tiongkok, teh kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, dan sampai kini tradisi minum teh masih lestari di berbagai negara. Teh Tiongkok merupakan salah satu kebudayaan terbaik dari sekian kebudayaan Tiongkok. Upacara teh adalah hal yang sangat dalam dan kompleks Orang Tiongkok sangat memperhatikan rasa dan aroma teh. Mereka juga senang membanding-bandingkan satu jenis teh dengan teh lainnya. Di Tiongkok, penyajian minum teh tidak disertai dengan hidangan makanan.

Dalam tradisi minum teh di Tiongkok, ada dua wadah yang digunakan. Sebuah gelas dan sebuah mangkuk. Gelas berfungsi untuk menghirup aroma teh, sedangkan mangkuk berfungsi untuk meminum air teh. Orang Tiongkok membuat teh secara bersama-sama. Daun teh dimasukkan hingga menutupi lingkaran dasar poci. Poci terbuat dari tanah liat merah yang berpori rapat sehingga ketika dituangi air, lambat laun poci akan menjadi kering kembali. Poci ditaruh di atas mangkuk yang lebih besar, lalu dituangi air mendidih hingga luber. Air yang luber akan tertampung di mangkuk besar itu. Kemudian poci ditutup sekitar dua menit. Air teh dituang ke dalam poci lalu dipindahkan ke mangkuk. Seusai memindahkan air teh, tamu menghirup aroma teh dari gelas sebagai tanda penghormatan pada tuan rumah yang telah menyajikan teh. Setelah itu, barulah teh bisa diminum. Proses ini dilakukan berulang-ulang dengan jenis teh yang berbeda-beda. Cara penyajian the memiliki tata cara penyeduhan dan penyajian teh tersendiri. Perangkat minum teh yang biasa disebut poci, teko, atau cawan, dengan cangkir-cangkirnya yang bentuknya menjadi beragam. Terdiri dari sebuah teko dan dua atau empat buah cangkir.

Cin-Cin memasuki paviliun teh di sambut tatapan kagum pelanggan warung teh tersebut. Hanya terlihat dua tiga meja saja yang terisi. Dengan tenang Cin-Cin menuju meja di sudut ruangan paviliun tersebut. Di salah satu meja, duduk seorang pemuda berbaju putih dengan sinar mata gemerdap mengikuti setiap gerak-gerik Cin-Cin. Sinar mata pemuda ini mencorong tajam seolah-olah hendak melucuti pakaian yang dikenakan Cin-Cin dan menjelajahinya inci demi inci. Tapi begitu sinar mata Cin-Cin mengarah ke arahnya, dengan acuh tak acuh pemuda tersebut balas menatap Cin-Cin, tak terlihat sinar mata yang mencorong barusan. Rupanya pemuda ini memiliki pengalaman yang tidak sedikit dengan wanita. Dia tahu seorang wanita pasti tidak senang di tatap sedemikian rupa bahkan justeru dengan tatapan acuh tak acuh si wanita akan lebih menaruh perhatian kepadanya. Namun kali ini pemuda ini kecele, tak nampak sedikit pun perhatian dari gadis ini terhadapnya. Tatapan Cin-Cin hanya mampir sekilas saja, terus berpaling ke arah luar, menikmati hamparan luas perkebunan teh di kejauhan.

Pemuda berbaju putih tersebut adalah Bwe-hoa-cat Yap Fei. Semenjak dirinya hampir tertangkap sewaktu hendak memperkosa siau-Erl dan dikeroyok oleh Lu-***, Bai Mu An si pedang kilat dan tong-leng Gie-Lim-Kun Sun Khai Sek dan bawahannya, Bwe-hoa-cat lebih berhati-hati dalam tindakannya. Dia tidak berani menganggu gadis dari kaum persilatan atau puteri hartawan yang terkenal. Yang kasihan adalah gadis-gadis desa yang lugu, menjadi korban-korban berikutnya. Namun karena korbannya bukan berasal dari kaum terpandang, kehebohan yang ditimbulkan tidak begitu dashyat dan luput dari perhatian kaum dunia persilatan.

Bagi Bwe-hoa-cat sendiri, memperkosa gadis-gadis dusun jauh dari cukup untuk memenuhi hasratnya sehingga ketika melihat kerupawan Cin-Cin, air liurnya segera meleleh. Hasratnya yang mengebu-gebu kembali berkobar dengan hebat. Diam-diam dia mencari cara untuk menaklukkan gadis ini. Dia tidak mau sembrono, seorang gadis kangouw yang cantik jelita, berani berkelana seorang diri pasti memiliki ilmu silat yang tidak dapat di anggap enteng. Akhirnya dia memutuskan untuk menaklukan Cin-Cin secara halus dahulu, mengandalkan ketampanannya. Apabila tak berhasil baru dia gunakan kekerasan.

Beberapa saat kemudian, datang serombongan orang mengiringi seorang pemuda yang cukup tampan. Lagak lagu pemuda ini sangat angkuh, dengan kipas dibentangkan di depan dada, dia melangkah masuk ke dalam paviliun diiringi begundal-begundalnya. Kelihatan pemuda ini berasal dari keluarga hartawan, suasana yang tadinya hening, berubah menjadi ramai oleh celotehan para pengiring pemuda ini. Pelayan warung teh rupanya sudah mengenal siapa adanya pemuda tersebut. Dengan senyuman lebar dan badan yang terbungkuk-bungkuk, dia menghampiri rombongan tersebut.

“Tan kongcu, selamat datang kembali di warung kami. Sudah lama tidak kelihatan, rupanya Tan kongcu sangat sibuk sekali” sapa si pelayan dengan cengar cengir.

“Sudah, jangan banyak mulut. Sediakan teh kesukaanku seperti biasanya” jawab pemuda yang di panggil Tan kongcu tersebut dengan nada angkuh.

“Baik-baik, mohon Tan kongcu sabar sebentar” jawab si pelayan dengan cepat.

Melihat seorang gadis cantik duduk seorang diri, para pengawal Tan kongcu ini berbisik-bisik sambil mata mereka jelalatan ke arah Cin-Cin. Melihat kelakuan anak buahnya tersebut, Tan kongcu ingin menjaga image-nya. Dari tadi dia sudah melihat kehadiran Cin-Cin dan hatinya langsung berdebaran melihat kecantikan yang maha sempurna ini.

“Kalian diam semua!, nanti menganggu para tamu yang hadir di sini” bentaknya kepada begundal-begundalnya sambil mengedipkan mata ke salah satu pengawalnya.

Pengawalnya ini bernama Kim Hok San dan sudah lama mengikuti Tan kongcu sehingga dia mengerti arti kedipan mata tersebut.

Sambil cengar cengir, dia berjalan ke arah meja Cin-Cin.

“Nona, perkenalkan cayhe Kim Hok San adalah pengawal tuan muda Tan yang terkenal dari kota Yixing, keluarga beliau merupakan hartawan terkaya di kota ini. Cayhe hendak menyampaikan salam tuan mudaku untuk mengundang nona minum teh bersama” kta Kim Hok San sambil menjurakan badan.

Dari tadi sebenarnya Cin-Cin sudah sebal dengan lagak lagu rombongan Tan kongcu tersebut, Cuma karean tidak ingin mencari keributan, dia diam saja. Tak terduga justeru masalahlah yang datang kepadanya.

“Terima kasih, sampaikan kepada tuan mudamu, nonamu lebih suka minum sendiri” sahut Cin-Cin pendek. Dia tidak memperdulikan lagi pengawal Kim Hok San.

Dengan wajah berubah merah tanda hatinya merasa malu karena gagal memenuhi kehendak tuannya, Kim Hok San menjadi marah.

“Sebaiknya nona memenuhi undangan Tan-kongcu. Mari silakan nona” katanya sambil berusaha memegang bahu Cin-Cin dengan gerakan Jing-hong-san-song (angin meniup semilir).

Sambil mengeryitkan keningnya, Cin-Cin mengebaskan tangannya menolak gerakan Kim Hok San tersebut, dia hanya menggunakan dua bagian tenaga dalam saja. Namun lebih dari cukup untuk membuat Kim Hok San mundur terhuyung-huyung beberapa langkah. Kim Hok San semakin merasa malu, masak dia pengawal senior dari keluarga Tan-wangwe yang terkenal dengan julukan Pek-ciu-sian-wan (lutung sakti tangan delapan) bisa kalah sama gadis muda yang tidak terkenal, mau di taruh kemana mukanya.

Sambil menggereng, di serangnya Cin-Cin dengan gerakan lutung berjingkrakan, pukulan ini cukup kuat tanda pemiliknya memiliki tenaga gwakang yang cukup tinggi. Cin-Cin pun mulai marah, tadi dia masih berbelas kasihan hanya mendorong mundur lawan. Tapi rupanya sang lawan tidak tahu diri, malah menyerang balik dengan ganas. Dukk… di tangkisnya pukulan Kim Hok San dengan tangannya yang mungil, dibarengi pukulan ke arah pundak lawan dengan kecepatan yang mengagumkan.

Kraak.. dengan telak pundak Kim Hok San di hantam tangan Cin-Cin yang mengandung tenaga sakti. Tentu saja pengawal ini bukan tandingan Cin-Cin sehingga cukup dalam segebrakan saja Kim Hok San dirobohkan. Melihat Kim Hok San roboh pingsan dengan tulang pundak patah, para pengawal Tan kongcu lainnya merasa kaget dan marah. Beramai-ramai mereka menghampiri Cin-Cin untuk menuntut balas namun belum tiba di meja Cin-Cin, dari samping berkelabat sesosok bayangan putih ke arah rombongan mereka.

“Plakk! Traang..aduh..!” Hanya dalam sekejap mata para pengawal tersebut roboh bergelimpangan di lantai. Ada yang matanya biru, telinganya berdarah. Entah bagaimana mereka tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu sudah roboh dengan mata lebam dan hidung bocor.

Tampak oleh Cin-Cin pemuda berbaju putih tersebut yang merobohkan para pengawal tersebut. Diam-diam ia mengakui kelihaian ilmu silat pemuda ini. Sebaliknya melihat anak buahnya roboh bergelimpangan, dengan wajah pucat Tan kongcu melarikan diri dari warung teh tersebut di ikuti dengan tertatih-tatih oleh para pengawalnya.

“Terima kasih atas pertolongan siangkong” kata Cin-Cin memberi hormat.

“Ah… bukan apa-apa, nona. Cayhe yakin nona sendiri sanggup mengatasi gangguan tadi, cuma cayhe paling tidak suka melihat perlakuan mereka terhadap seorang gadis.”

Kesan Cin-Cin terhadap pemuda ini cukup baik.Dia yang masih hijau dan belum berpengalaman, tak mempunyai prasangka sama sekali dirinya saat ini mulai terjerat perangkap. Ibarat seekor laba-laba yang mementangkan jaring-jaringnya melibat korbannya sedikit demi sedikit tanpa di sadari mangsanya. Demikianlah, melalui pertolongan tadi, dengan lihai Bwe-hoa-cat dapat berkenalan dan mengakrabkan diri dengan Cin-Cin. Bahkan dengan alasan sehaluan jalan, dia dapat membuat Cin-Cin bersedia melakukan perjalanan bersama. Tentu saja pada beberapa hari pertama, Bwe-hoa-cat tidak berani bertindak gegabah. Melihat gerakan Cin-Cin sewaktu mendorong mundur Kim Hok San, dia tahu ilmu silat Cin-Cin tidak berada di bawahnya alias seimbang hingga otomatis dia semakin waspada dalam bertindak.

— 000 —

Matahari kian menghilang, perlahan-lahan senja mulai menampakkan dirinya malu-malu. Jingga senja terlihat sangat indah, seolah senja adalah masa yang demikian agung dan bisa menimbulkan rasa cinta dan bahagia. Kota terdekat masih jauh, Cin-Cin dan Bwe-hoa-cat terlihat berjalan menyusuri ladang-ladang terlantar tak terurus. Daerah ini kering kerontang di terpa musim panas yang ganas. Sepanjang perjalanan, Bwe-hoa-c at mendapat tahu siapa diri Cin-Cin, hendak kemana ia pergi. Begitu tahu Cin-Cin mengenal Li Kun Liong, diam-diam dirinya kaget. Tentu saja ia mengenal nama Li Kun Liong yang akhir-akhir ini menjulang tinggi bahkan dia tahu dulu kaum persilatan menyangka Bwe-hoa-cat adalah Li Kun Liong. Walaupun belum pernah bertemu langsung dengan Li Kun Liong, kelihaian ilmu silat Li Kun Liong sudah di dengarnya di mana-mana. Dia tidak ingin mencari masalah dengan tokoh sekosen Li Kun Liong tapi hasratnya terhadap Cin-Cin semakin mengebu-gebu. Selama perjalanan dia masih mampu menahan hasratnya, tapi tentu saja tidak bisa berlangsung lama.

Seseorang yang sudah diperbudak hawa nafsunya sendiri ibarat kecanduan opium, tidak bisa mengontrol diri sendiri. Begitu pula dengan Bwe-hoa-cat, walaupun tahu Cin-Cin adalah teman atau kekasih Li Kun Liong yang lihai, namun akhirnya akal sehatnya dikalahkan oleh nafsu birahinya. Dia sudah memutuskan untuk menjalankan aksi secepatnya sebelum korbannya sadar. Tak lama berjalan, mereka menjumpai kedai kecil yang hanya terdiri dari beberapa meja saja. Pemilik kedai tersebut adalah kakek tua yang hidup sendirian, selama puluhan tahun dia hidup sebatang kara di kedai tersebut. Hidangan yang tersedia hanya bakpau, bakmi dan arak buatan si kakek yang rasanya sedikit getir.

Tidak ada pelanggan lain selain mereka berdua, situasi demikian sangat cocok untuk bertindak. Dengan hati berdebar-debar tanda hatinya mulai bergairah, seolah-olah akan menyantap masakan yang sangat lezat. Dengan keahliannya yang tinggi, Bwe-hoa-cat menuangkan teh ke dalam cawan Cin-Cin dan menyorongkannya ke hadapan Cin-Cin. Pada saat yang menuang teh tersebut, dia menjentikkan semacam obat bius ke dalam cawan tersebut. Obat tersebut tersimpan dalam lekukan ibu jari, dengan sedikit jentikan tanpa diketahui Cin-Cin, obat tersebut tercampur dalam cawan teh yang di minum Cin-Cin.

“Mari di minum Cin-Cin” kata Bwe-hoa-cat
“Terima kasih”

Tanpa perasaan curiga sama sekali, Cin-Cin minum teh tersebut, lalu menggambil sepotong bakpau isi daging dan makan perlahan-lahan. Bwe-hoa-cat mulai ikut makan, namun diam-diam mengamati Cin-Cin untuk melihat efek yang ditimbulkan. Tak lama kemudian, Cin-Cin menguap kecil. Sesekali ditutupnya mulutnya yang mungil dengan tangannya. Makin lama makin terasa mengantuk dirinya, kelopak matanya yang indah mulai terasa berat dan susah sekali untuk tetap terbuka.

“Aduh… rasanya mengantuk sekali” kata Cin-Cin sedikit pusing.

“Engkau kenapa Cin-Cin” kata Bwe-hoa-cat hati-hati

“Rasanya berat sekali..aku..” Cin-Cin tidak dapat meneruskan kalimatnya, dengan lemas ia meletakkan kepalanya di meja dan terkulai lemah. Begitu kepalanya menyentuh meja, Cin-Cin langsung ter tidur pulas di meja.

Walaupun diam-diam hatinya girang, Bwe-hoa-cat berpura-pura bingung. Dipanggil dan di guncang-guncangnya bahu Cin-Cin namun Cin-Cin tetap tertidur pulas. Menyadari siasatnya berhasil dengan baik, sinar mata Bwe-hoa-cat kembali mencorong menatap tubuh Cin-Cin yang terbaring lemas di atas meja. Dia bangkit berdiri menuju ke dalam kedai, di ruangan belakang di jumpainya si kakek sedang merebus air. Tanpa sepatah kata pun, dikebaskan tanggannya ke arah tengkuk si kakek. Si kakek tua tersebut roboh terkulai jatuh ke lantai. Binasa.

Bwe-hoa-cat kembali ke meja dan memondong tubuh Cin-Cin masuk ke dalam kamar di sebelah dalam kedai tersebut. Dibaringkannya tubuh Cin-Cin yang ramping di atas pembaringan kayu. Ditatapnya wajah Cin-Cin yang sangat rupawan tersebut, belum pernah selama hidupnya melihat gadis secantik ini. Wajahnya nan cantik jelita, kulitnya putih cerah. Alisnya hanya seluas sisa gerhana bulan. Bibir indahnya tersapu merah muda tanpa polesan gincu buatan manusia. Hidungnya yang ramping dan pipinya halus sedikit kemerah-merahan menambah sempurna kecantikannya. Dagunya cembung mulus, menggantungkan pesona melelapkan. Rambutnya bak sutera hitam alami yang indah menjalari punggungnya. Jemarinya lentik dan halus.

Dengan tangan gemetar tanda hasratnya mulai menggelora, Bwe-hoa-cat mengusap-usap rambut Cin-Cin yang hitam. Dirabanya wajah Cin-Cin yang halus bak pualam tersebut. Sambil menundukkan wajahnya, di kecupnya bibir merah semu yang ranum merekah tersebut. Rasanya manis bagaikan buah pir segar, lembut dan melegakan. Lama kelamaan kecupan bibir tersebut berubah menjadi kuluman dan pagutan yang membara, tangannya dengan liar meraba-raba ke seluruh tubuh Cin-Cin. Bau harum segar tubuh seorang gadis perawan menggugah gairah kelakiannya.

==================================
Area tersensor …
mohon maaf bukannya ga mo sharing…
sampe sekarang koko masih berupaya mencari bagian kitab yang hilang ini….
sancai…sancai…sancai…..
==================================

Selagi hendak melanjutkan aksinya, sekonyong-konyong terdengar suara sapaan dari ruangan luar kedai tersebut. Sambil berjingkrak kaget, Bwe-hoa-cat bangkit dari pembaringan tersebut, dirinya tidak menyangka masih ada pelanggan yang datang di kedai yang sepi ini. Dia diam tak bergerak sambil memasang kuping tajam-tajam, kelihatannya yang datang hanya satu orang saja, dia berharap orang tersebut lekas berlalu, namun harapannya tak terkabul. Melihat tidak ada reaksi atas sapaannya tadi, orang tersebut menyapa sekali lagi dengan suara nyaring.

“Omitohud…, apakah ada orangnya”sapa orang tersebut.

Di lihat dari suara dan sapaan tersebut, gelagatnya yang datang adalah seorang bhiksu muda. Diam-diam Bwe-hoa-cat semakin meningkatkan kewaspadaannya, dia tahu yang datang adalah seorang kaum kangouw. Dia sendiri merasa serba salah, apakah diam di tempat atau segera keluar menyambut orang tersebut. Akhirnya diputuskannya keluar. Cin-Cin masih tertidur dengan pulas, tak menyadari bahaya yang hampir merenggut kehormatannya.

Bwe-hoa-cat segera keluar ke ruangan depan kedai tersebut, tampak olehnya seorang bhiksu muda Shao-Lin sedang berdiri di pintu masuk kedai tersebut. Wajahnya cukup tampan, dengan kepala yang botak kelimis dan alis yang tebal menambah keagungannya. Sinar matanya lembut seperti bhiksu pada umumnya yang sudah mendalami inti ajaran sang Buddha.
Bhiksu muda tersebut sedikit heran ketika tahu yang keluar menyambut adalah seorang pemuda seumurannya.

Tanpa basa-basi, Bwe-hoa-cat segera berkata “Bhiksu rupanya sama seperti cayhe, mencari pemilik kedai ini. Cayhe barusan dari dalam mencarinya tapi kelihatannya kedai ini sudah ditinggalkan pemiliknya.”

“Omitohud, rupanya sicu juga tamu kedai ini. Memang mengherankan, entah kemana gerangan pemilik kedai ini. Mungkin sedang mencari kayu bakar, sebaiknya kita menanti sebentar, siapa tahu segera muncul” kata bhiksu muda tersebut sambil mengambil kursi dan duduk di meja dekat pintu keluar.

Melihat bhiksu tersebut bukannya segera pergi, malahan duduk menanti kedatangan pemilik kedai tersebut, wajah Bwe-hoa-cat berubah menjadi masam. Perubahan wajah tersebut tidak terlepas dari pandangan bhiksu tersebut, bahkan sebenarnya dia sudah curiga melihat tingkah laku Bwe-hoa-cat yang tidak wajar. Walaupun kelihatan wajah bhiksu ini lugu namun sebenarnya otaknya sangat cerdik.

Bhiksu muda ini biasa dipanggil bhiksu Hun-Lam dan merupakan murid terakhir ketua biara Shao-lin terdahulu, Tiang-Pek-Hosiang. Nama bhiksu Hun-lam ini pernah di singgung dalam pertemuan di puncak gunung Song-Shan. Dia ditugaskan berkelana untuk menyerapi kabar berita partai Mo-Kauw. Dalam pengembaraannya, sudah beberapa kali ia terlibat bentrokan-bentrokan dengan para penjahat, baik yang memiliki ilmu silat biasa saja sampai dengan perampok yang berkepandaian kelas satu, semuanya dapat ditaklukkannya hingga nama bhiksu Hun-Lam mulai di kenal di kalangan sungai telaga sebagai bhiksu muda dari Shao-Lin yang sangat lihai. Namanya mulai di sebut-sebut berendeng dengan jago-jago muda yang telah terkenal sebelumnya seperti Bai Mu An, Lu-***, Tiauw-Ki, Kok-Bun-Liong, Sie-Han-Li, dan lain-lain.

Bhiksu Hun-Lam dalam merobohkan kaum Liok-lim tidak pernah turun tangan kejam, apalagi sampai membunuh. Dengan ilmu silat Shao-Lin yang sudah dikuasainya dengan sempurna, tidak susah baginya merubuhkan lawan-lawanya tanpa menderita luka yang parah. Dalam pengembaraannya tersebut, akhirnya dia tiba di kedai ini dan menjumpai suatu keanehan. Nalurinya yang tajam memberitahu, pemuda yang berhadapan dengannya saat ini bukan seorang baik-baik, entah apa yang dilakukannya di dalam kedai ini. Dia mengkhawatirkan pemilik kedai, itulah sebabnya dia memutuskan untuk menunggu di kedai ini.

“Sebaiknya bhiksu segera meninggalkan kedai ini dan melanjutkan perjalanan, cayhe sudah memesan tempat ini untuk rombongan tamu-tamuku” kata Bwe-hoa-cat ketus.

“Masak sicu mengundang tamu di tempat terpencil seperti ini, kalaupun begitu, cuma bertambah seorang bhiksu, pinceng rasa tidak apa-apa” sahut bhiksu Hun-lam berlagak tak tahu apa-apa.

“Urusanku bukan urusan bhiksu. Segera pergi atau perlu kupaksa” kata Bwe-hoa-cat mengancam
“Omitohud.. rupanya sicu biasa berbuat sewenang-wenang, apakah tempat ini milik sicu”

“Jangan banyak omong, bhiksu keparat, menganggu orang saja” kata Bwe-hoa-cat sambil melancarkan pukulan ke arah pundak bhiksu Hun-lam. Habis kesabarannya, hendak diusirnya bhiksu ini dan melanjutkan aksinya yang terganggu tadi.

Melihat datangnya serangan yang tidak dapat di anggap enteng ini, dengan gesit bhiksu Hun-lam mengegoskan badannya ke samping. Baju bhiksu yang dikenakannya berkibar-kibar terkena hembusan pukulan tersebut, Dengan wajah kaget, bhiksu Hun-lam menatap Bwe-hoa-cat, sejak turun gunung baru kali ini dia menghadapi seorang lawan setangguh Bwe-hoa-cat. Belum lagi bereaksi, serangan kedua, ketiga dan seterusnya melanda bhiksu Hun-lam. Bhiksu Hun-lam keteteran, dia sibuk mengelak ke sana kemari, tidak dapat membalas sekalipun. Namun setelah belasan jurus dengan hanya mengelak, mulailah bhiksu Hun-lam mengembangkan gerakannya untuk balas menyerang.

Dengan gerakan-gerakan Liong-kun (ilmu silat naga) dicampur gerakan Ho-kun (ilmu silat bangau) serta diselingi gerakan Pa-kun (ilmu silat macan tutul), bhiksu Hun-lam sedikit demi sedikit dapat merebut kembali posisi. Pertempuran sekarang berlangsung seru, balas membalas, elak mengelak mengandalkan ilmu meringankan tubuh dan tenaga lweekang membuat pertarungan semakin mendebarkan hati. Sedikit saja lengah, pihak lawan dapat menekan balik, akibatnya perlu usaha keras untuk mebalik keadaan. Masing-masing pihak kelihatannya seimbang, Bwe-hoa-cat unggul dalam ilmu meringankan tubuh sedangkan bhiksu Hun-lam unggul dalam tenaga lweekang. Ini bisa dimaklumi, bhiksu Hun-lam adalah seorang pemuda jejaka asli, tidak mengenal wanita sedangkan Bwe-hoa-cat banyak menghamburkan tenaga untuk bersenang-senang, di samping itu, lweekang yang dipelajari bhiksu Hun-lam adalah lweekang murni dari Shao-Lin.

Seperti perkataan ketua Shao-Lin mengenai sute termudanya ini, bakat bhiksu Hun-lam sangat bagus bahkan melebihi bakatnya sendiri, selama seratusan tahun belakangan, bakat bhiksu Hun-lam lah yang paling tinggi di antara kalangan bhiksu-bhiksu Shao-Lin. Sejak kecil bhiksu Hun-lam telah belajar di Shao-lin, dia sudah menguasai kungfu-kunfu khas Shao-Lin seperti I-Chin-Ching (ilmu perubahan otot-otot), Dim-Mak (Tapak Maut), Tiet-Sin- Kuen (Otot Kawat Tulang Besi), It-Sin-Ci (1 (satu) Jari Sakti), Tanglang (Belalang Sembah), 18 senjata klasik (Pedang, Trisula, Pedang Berkait, Pisau, Golok Besar, Guan Dao, Toya, Tongkat, Tombak, Pena Yin Yang, Cambuk), dan lain-lain.

Cukup menguasai satu-dua macam ilmu-ilmu di atas sudah bisa di anggap jago kelas satu, apalagi bhiksu Hun-lam yang dengan bakatnya yang tinggi mampu menguasai ilmu-ilmu tersebut dengan sempurna. Seratusan jurus telah berlalu, kelihatan sekarang bhiksu Hun-lam sedikit lebih unggul, Bwe-hoa-cat sekarang lebih banyak bertahan saja. Diam-diam Bwe-hoa-cat gelisah, tak disangkanya bhiksu muda ini memiliki ilmu silat selihai ini,. Kalau diteruskan, bisa-bisa dia menelan kekalahan tapi dia merasa sayang meninggalkan Cin-Cin. Ibarat mangsa yang dengan susah payah ditangkapnya, sudah di depan mata tinggal di caplok saja, tapi apa daya lawannya ini memiliki ketangguhan yang luar biasa.

Akhirnya dia lebih mementingkan keselamatannya sendiri, Bwe-hoa-cat mulai berniat mengundurkan diri. Sambil melompat mundur menghindari serangan lawan, Bwe-hoa-cat melayang ke luar kedai dan menghilang di balik kegelapan malam.
Bhiksu Hun-lam menyusut keringat di keningnya, pertarungan tadi cukup menguras tenaganya. Baginya, ini adalah pertempuran terhebat yang pernah di alaminya. Dia heran, siapa gerangan pemuda berbaju putih tersebut, ilmu silat yang dimilikinya sungguh lihai. Setelah agak mendingan, bhiksu Hun-lam memasuki ruangan dalam kedai tersebut. Dia memasuki ruangan di mana Cin-Cin berada. Saat itu hari sudah gelap, keadaan ruangan yang gelap membuat bhiksu Hun-lam tidak dapat melihat dengan jelas. Dia lalu kembali keluar dan mencari lilin untuk penerangan dan kembali ke ruangan dalam. Sinar lilin yang berkelap-kelip menerangi ruangan yang dimasukinya.

“Omitohud….” serunya begitu matanya melihat ke arah pembaringan dimana terlihat Cin-Cin terbaring pulas dengan tubuh bagain atas polos dan memperlihatkan sepasang buah dada yang sangat indah dan sedang ranum-ranumnya dari seorang gadis muda. Sambil menutup matanya erat-erat, bhiksu Hun-lam mundur menjauhi ruangan tersebut. Dengan kaki gemetar dan hati yang berdebar-debar, dia kembali ke ruangan luar kedai tersebut. Seumur hidupnya belum pernah dia melihat tubuh seorang gadis, apalagi gadis secantik Cin-Cin. Keimanannya terguncang hebat, menyaksikan pemandangan yang mengiurkan tersebut

Memang, setiap manusia memiliki kelemahan-kelemahan, tidak ada yang sempurna. Di setiap jaman, manusia bertempur, berkelahi, berperang demi seorang wanita, harta, dan kekuasaan. Hanya sedikit manusia yang bisa luput dari ketiga godaan tersebut, bahkan tidak jarang banyak yang memiliki ketiga kelemahan tersebut di dalam dirinya. Tapi ada juga yang hanya memiliki salah satu atau dua dari kelemahan tesebut.

Bhiksu Hun-lam adalah seorang yang sejak kecil menjadi bhiksu, setiap hari di kuil Shao-lin dia mendengarkan ajaran-ajaran sang Buddha sehingga hatinya bersih dari segala godaan. Tapi bukan berarti bebas sama sekali, segala wejangan atau ajaran yang diterimanya, baru terbukti telah diresapi sampai ke akar-akarnya ketika menghadapi cobaan atau godaan. Banyak orang-orang suci yang akhirnya jatuh terjerumus di lembah dosa hanya karena tidak tahan terhadap godaan atau cobaan. Bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari kita, banyak pas-tor, pen-deta, ulama yang menyeleweng perbuatannya.

Demikian pula kali ini, keimanan bhiksu Hun-Lam sedang di uji. Beruntung pada dasarnya hati bhiksu Hun-lam memang suci bersih, walaupun sesaat hatinya terguncang melihat pemandangan tersebut namun dengan cepat dia menyadari segala sesuatu. Dia justeru merasa kasihan melihat keadaan gadis muda tersebut dan bersyukur datang tepat waktu untuk menolong gadis ini. Tapi bhiksu Hun-lam tidak berani masuk kembali ke dalam ruangan tersebut. Sambil bersamadhi, dia menunggu di luar, berjaga-jaga kalau pemuda berbaju putih tadi datang kembali. Dia berharap gadis tersebut cepat sadar, dengan sabar dia menanti dan menghabiskan malam itu bersama nyamuk-nyamuk malam. Sungguh jarang ditemui orang seperti bhiksu Hun-lam ini.

— 000 —

Pagi itu, matahari sudah beranjak dari peraduan untuk memberi kecerahan bagi mereka yang senantiasa membutuhkan pencerahan. Tak peduli apa pun yang terjadi, matahari selalu dengan setia menjalankan tugasnya menerangi bumi. Cahayanya yang semburat kemerahaan perlahan-lahan berubah menjadi kekuning-kuningan dan terus bergeser naik dari peraduan ke atas langit biru yang cerah.

Di dalam ruangan dalam kedai tersebut, perlahan-lahan Cin-Cin membuka kelopak matanya. Dengan kepala masih sedikit pusing dan mengantuk, dia berusaha bangun. Tiba-tiba matanya menangkap tubuh bagian atasnya yang polos tak berbaju.
Dengan mata terbelalak kaget, dia menjerit lirih. Sebisa mungkin kedua tangannya menutupi sepasang buah dadanya yang menjulang. Dilihatnya baju yang dikenakannya kemarin, teronggok di lantai. Cepat-cepat diraihnya dan dikenakannya dengan terburu-buru. Matanya mulai mengeluarkan api kemarahan. Dia tidak tahu apa yang terjadi, diperiksanya seluruh bagian tubuhnya. Tidak terasa apa pun, dia menarik nafas lega.

Seingatnya, semalam sehabis minum teh yang disodorkan Yap Fei kepadanya, tahu-tahu matanya terasa berat dan tiba-tiba terbangun dalam keadaan begini. Hatinya mulai merasa curiga, entah di mana gerangan keberadaan Yap Fei. Dia segera berlari keluar ruangan untuk mencari jejak Yap Fei. Di ruangan luar kedai tersebut tampak olehnya seorang bhiksu muda baru selesai dari samadhinya. Dilihatnya seorang gadis muda yang sangat cantik, keluar dari ruangan dalam dengan tatapan mata yang curiga ke arahnya.

“Omitohud.., syukur nona sudah sadar kembali. Pinceng sangat khawatir dengan keadaan nona.”

“Siapa adanya bhiksu, kenapa bisa berada di sini dan mengapa tahu keadaanku?” tanya Cin-Cin ketus dan masih bercuriga.
Sambil tersenyum maklum, bhiksu Hun-lam menjawab,
“Semalam kebetulan pinceng memasuki kedai ini, tapi setelah berteriak beberapa lama, tidak ada seorang pun sehingga hampir pinceng pergi meninggalka kedai ini. Tapi kemudian, dari ruangan di mana nona tadi keluar, muncul soerang pemuda berbaju putih yang mengaku sebagai tamu kedai ini serta mengusir pinceng. Akhirnya pinceng dan pemuda tersebut terlibat bentrokan kecil, syukur akhirnya pemuda tersebut mengalah dan pergi dari sini. Pinceng lalu memeriksa kedai ini dan mendapati nona yang rupanya di bius, pinceng tidak berani bertindak lancang, makanya pinceng berjaga-jaga saja di kedai ini menungu nonan sadar dengan sendirinya.”

Mendengar keterangan bhiksu tersebut, kecurigaan Cin-Cin perlahan-lahan meluntur, rupanya bhiksu ini yang justeru telah menolongnya dari ancaman bahaya yang mengerikan bagi seorang gadis.

Dengan perasaan berterima kasih, Cin-Cin berkata “Maafkan aku bhiksu kalau telah berlaku kasar, mohon dimaklumi karena aku sangat kaget begitu sadar melihat keadaanku ini. Rupanya ini semua perbuatan si keparat Yap Fei. Untung bhiksu datang tepat pada waktunya”

“Tidak apa-apa nona, sudah menjadi kewajiban pinceng untuk menolong sesama. Apakah pemuda berbaju putih tersebut nona kenal?”

“Ya bhiksu, dia bernama Yap Fei, teman seperjalananku. Aku berkenalan dengannya belum lama, tidak di sangka tutur katanya yang sopan dan halus, memiliki hati sekejam iblis” kata Cin-Cin geram.

“Syukur nona tidak apa-apa, dunia ini memang penuh dengan manusia yang tersesat, kita harus selalu waspada”

Cin-Cin mengangguk setuju, dia lalu menanyakan nama dan berasal dari perguruan mana bhiksu Hun-lam.

Ketika tahu bhiksu Hun-lam berasal dari Shao-Lin dengan gembira Cin-Cin memberitahu siapa dirinya. Keceriaannya telah kembali. Bhiksu Hun-lam pun gembira dapat menolong Cin-Cin yang ternyata berasal dari Thai-San-Pai, bahkan putri ketua Thai-San-Pai. Mereka berdua lalu memeriksa ruangan lain kedai tersebut, di dalam dapur, mereka menemukan mayat pemilikkedai tersebut dan menguburkannya diiringi doa bhiksu Hun-lam.
jilid 5. Sian-Li-Kiam (Dewi Pedang)

Sementara kita tinggalkan dulu Cin-Cin yang lolos dari jeratan Bwe-hoa-cat dan di tolong bhiksu Hun-lam, mari kita kembali ke jago kita Li Kun Liong. Dalam cerita sebelumnya, Li Kun Liong harus melarikan diri dari kepungan Rameshwara dan tokoh-tokoh Mo-Kauw. Dengan hati kesal, begitu sudah berada di luar kota Li Kun Liong mengembangkan ilmu meringankan tubuh sekuatnya. Tubuhnya berkelabat dengan cepat bagaikan anak panah, melesat dengan kecepatan tinggi. Entah sudah berapa lama dia berlari, begitu menghentikan langkahnya, Li Kun Liong tiba di sebuah telaga yang sunyi di kaki bukit suatu pegunungan. Entah apa nama pegunungan ini, Li Kun Liong tidak tahu berada di mana dirinya saat ini. Telaga tersebut tidak begitu besar dan dikelilingi hutan dengan pepohonan yang rimbun, meliputi hampir duapertiga telaga tersebut. Airnya jernih sehingga pantulan sinar matahari senja menerangi bagian dalam telaga tersebut. Layaknya cermin, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.

Kesunyian telaga ini mengugah kenangannya terhadap diri siau-Erl, entah di mana keberadaan siau-Erl kini. Rasa rindu yang mendalam mencengkram hati Li Kun Liong yang kesepian.

Hatinya telah terbagi tak utuh lagi, dimana serpihan hati telah berserakan dibawah kakinya, ada sebagian yang terjerat kuat, sehingga begitu kuatnya, Li Kun Liong menahan kepedihan dan rindu ini….seorang diri…! Airmata yang membawa rasa rindu yang terungkapkan, dinginnya udara di tepi telaga ini tak dapat mengusik hati seorang pemuda yang sedang merindu. Hari itu dihabiskan Li Kun Liong di sekeliling telaga tersebut.

Keesokan harinya, Li Kun Liong terjaga dari tidurnya. Dia turun dari atas pohon besar dan menuju tepi telaga. Dia terjun ke dalam telaga, airnya sangat dingin tapi menyegarkan. Semangatnya bangkit, dia berenang mengelilingi telaga tersebut. Dengan kelihaian ilmu silatnya saat ini, dengan mudah dia dapat mengapung di atas air tanpa menggerakkan kaki seperti seharusnya. Selama berenang Li Kun Liong menginggat kembali pertarungannya dengan Rameshwara. Setiap gerakan lawan diingatnya kembali dan di analisanya, bagaimana cara menghadapi gerakan tersebut, kelemahan gerakan lawan, satu persatu diulanginya kembali. Berkat kecerdikannya, pemahamannya akan ilmu silat Rameshwara bertambah.

Tidak sedikit manfaat yang diperolehnya dari pertarungan tersebut. Memang bagi seorang ahli silat, kemajuan ilmu silat bukanlah ditentukan semata-mata oleh kelihaian ilmu silat yang bersangkutan tapi tak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk melihat kesalahan dan kelemahan gerakan lawan. Apabila mampu menganalisa hal tersebut, dalam pertarungan kembali dengan lawan yang sama, kemungkinan untuk menang menjadi lebih besar. Li Kun Liong memiliki kebiasaan yang sangat baik dengan selalu mengulangi, menginggat, menganalisa setiap pertempuran yang dialaminya sehingga tanpa disadarinya pemahamannya terhadap ilmu silat lawan memberi peluang yang besar baginya untuk mengalahkan lawan-lawannya di kemudian hari.

Selagi Li Kun Liong berenang sambil menginggat kembali semua gerakan ilmu silat lawan, dari tengah telaga tampak mendatangi sebuah sampan kecil. Sampan tersebut melaju perlahan ke arah tepian, mendekati tempat Li Kun Liong. Tampak di atas sampan tersebut seorang pria, semakin mendekat semakin jelas wajahnya. Dari kejauhan terlihat pemuda di atas sampan tersebut sedang meniup seruling bambu, nada iramanya bernafaskan cinta. Lapat-lapat Li Kun Liong seperti pernah mendengar irama seruling ini, entah di mana dia pernah mendengar irama ini.

Sampan tersebut semakin mendekat ke arah Li Kun Liong. Pemuda yang berada di sampan tersebut menghentikan tiupan serulingnya, begitu melihat ada seseorang yang sedang berenang di tepian telaga. Begitu dekat, keduanya mengeluarkan teriakan kaget.

“Kun Liong”
“Liok-heng”

Ternyata pemuda yang berada di atas sampan tersebut adalah Liok Han Ki atau Liok In Hong. Pada seri dendam kesumat, Li Kun Liong dan Liok In Hong pernah melakukan perjalananan bersama, di mana Liok In Hong yang terkenal dengan julukan Sian-Li-Kiam (Dewi Pedang) waktu itu menyamar sebagai seorang pemuda bernama Liok Han Ki. Namun akhirnya samarannya terbongkar dan saking malunya dia lari meninggalkan Li Kun Liong. Sebenarnya dalam perkabungan ketua Hoa-San-Pai di pegunungan Hoa-San, Liok In Hong juga datang dengan wajah asli sehingga Li Kun Liong tidak mengenalinya. Sekarang tanpa di duga-duga mereka kembali bertemu dan Liok In Hong kembali menyamar sebagai seorang siucai (pelajar).

Dengan girang Liok In Hong mendayung sampannya semakin mendekat ke arah Li Kun Liong. Mulanya Li Kun Liong hendak keluar dari dalam air namun tiba-tiba ia teringat Liok In Hong ini adalah seorang gadis yang menyamar sehingga dia batal keluar dari dalam air. Saat ini dia tidak berpkaian sama sekali. Hal ini rupanya disadari juga oleh Liok In hong yang sudah mendekat sehingga dengan wajah kemerahan, dia mendayung perahunya menjauh dan berkata
“Kun Liong, segera engkau berpakaian, baru berbincang-bincang.”

Sambil menganggukkan kepalanya, Li Kun Liong cepat-cepat keluar dari dalam air dan berpakaian. Tak lama kemudian, sampan Liok In Hong kembali datang dan berlabuh di tepian.

“Liok-heng, eh..nona Liok, engkau masih tetap seperti dulu, tidak berubah sedikitpun” sapa Li Kun Liong ragu-ragu menyebut nama Liok In Hong.
Wajah Liok In Hong kembali kemerahan, dia teringat kejadian di mana sewaktu dirinya pingsan, tanpa sengaja Li Kun Liong telah melihat tubuh bagian atasnya.

“Hmm.. sekarang justeru engkau yang sudah berubah Kun Liong, namamu semakin terkenal saja, pasti engkau sudah lupa kepadaku, apalagi banyak gadis yang menemanimu” kata Liok In Hong sambil mencibirkan mulutnya. Dia teringat di markas Hoa-San-Pai, waktu itu dia melihat Li Kun Liong bersama seorang gadis yang sangat cantik yaitu Kim Bi Cu.

“Engkau bisa saja, Liok-heng, ehh..lupa nona Liok”

“Apa panggil-panggil nona segala, namaku Liok In Hong, panggil saja In Hong atau Hong…” Liok In Hong tidak menyelesaikan perkataannya, wajahnya kembali kemerahan.

“Baiklah Hong-moi” kata Li Kun Liong sedikit menggoda.

“Oh ya, Liong-ko (wah, ikutan berubah panggilannya nih), selama ini kemana saja engkau, sejak meninggalkan pegunungan Hoa-San, tidak terdengar lagi kabar beritamu”

“Aku kembali ke pegunungan Thai-San untuk menyembayangi abu guruku, Hong-moi”
“Oh begitu”

“Hong-moi, engkau sendiri sekarang hendak menuju kemana? Bagaimana kabar Bai-heng, apakah engkau sudah bertemu dengannya?”

Dengan wajah sedikit berubah, Liok In Hong menjawab “Waktu di markas Hoa-San-Pai bukannya engkau sudah melihatku bersama-sama dengan Bai Mu An?”

“Oh, rupanya gadis cantik yang duduk di sebelah Bai-heng waktu itu adalah engkau, Hong-moi. Aku jadi pangling, rupanya engkau lebih cocok berdandan sebagai seorang gadis daripada seorang siucai” kata Li Kun Liong menggoda.

“Huh.. dasar laki-laki, tidak boleh melihat gadis lain” sunggut Liok In Hong.
“Baiklah…baiklah, terserah padamu mau berdandan sebagai apa pun, yang penting sekarang adalah mengisi perut dulu, dari semalam aku belum makan” kata Li Kun Liong sambil mengusap-usap perutnya.

“Wah, dari sini ke kota tedekat masih cukup jauh, bagaimana kalau engkau memburu kelinci, nanti aku yang memasaknya, kebetulan aku membawa bumbu masak” saran Liok In Hong.
“Ide yang bagus, Hong-moi, engkau tunggu di sini, aku pergi memburu kelinci dulu, tidak akan lama” kata Li Kun Liong sambil berkelabat ke dalam hutan.

Sambil menunggu kedatangan Li Kun Liong, Liok In Hong menyiapkan segala sesuatu dan berganti pakaian di balik semak-semak, dia ingin memberi kejutan buat Li Kun Liong

“Sepertanakan nasi kemudian, Li Kun Liong muncul membawa dua ekor kelinci hasil buruannya. Dilihatnya Liok In Hong berganti baju dan berdandan sebagai seorang gadis muda yang sangat cantik. Dengan mulut terbuka sedikit, Li Kun Liong terpaku mengagumi kecantikan wajah Liok In Hong. Dengan wajah agak lonjong dan bibir yang tipis, dagu yang simetris dan sedikit lesung pipit di pipi sebelah kirinya, kecantikan Liok In Hong sungguh sempurna. Alis matanya tipis dengan sepasang mata yang bening membuat siapa pun yang menatapnya pasti akan terpesona. Sungguh ciptaan yang maha sempurna.

Melihat Li Kun Liong terbengong-bengong menatapnya, hati Liok In Hong berdebar-debar gembira namun diluaran, sambil emnutupi mulutnya, dia ketawa cekikikan dan berkata “Kenapa bengong begitu, nanti kemasukan lalat baru tahu rasa. Mari kesinikan kelincinya”

Li Kun Liong tersadar, sambil tersenyum malu dia mengangsurkan kelinci tersebut ke Liok In Hong. Tak lama kemudian, tercium bau harum daging panggang, membuat perut Li Kun Liong berbunyi keruyukan tanda kelaparan. Bekal yang di bawa Liok In Hong cukup lengkap, di samping bumbu masak, dia juga membawa sekantong beras yang direbusnya sebagai teman makan daging kelinci.

Begitu daging kelinci sudah matang, Li Kun Liong segera makan dengan lahap, tak henti-hentinya dia memuji kelezatan masakan Liok In Hong. Sambil tersenyum bangga, Liok In Hong melayani Li Kun Liong, disodorkannya sebagian besar daging kelinci hasil panggangannya, dia sendiri hanya mengambil sedikit saja. Dia senang melihat masakannya sangat dinikmati Li Kun Liong.

Dengan perut kekenyangan Li Kun Liong bersandar di pohon, semilir angin pagi yang bertiup dari tengah telaga menerpa wajahnya, menyejukkan jiwa. Daun-daunan meliuk mengangguk diantara semilir angin. Li Kun Liong jatuh tertidur kekenyangan, teanganya masih belum pulih seluruhnya sejak pertempuran dengan Rameshwara dan berlari sekian jam.
Sambil tersenyum melihat Li Kun Liong ketiduran, Liok In Hong membereskan sisa-sisa makanan dan memasukkan kembali bumbu masakan ke dalam buntalan pakaian. Lalu duduk termenung di samping Li Kun Liong sambil menatap wajah pemuda ini. Dalam keadaan tidur, wajah Li Kun Liong terlihat semakin tampan dengan garis-garis halus di wajahnya serta alis yang tebal menambah kejantanannya.

Liok In Hong menghela nafas panjang, diam-diam dia menaruh hati kepada pemuda ini namun dia sadar dirinya sudah dijodohkan sejak kecil dengan Bai Mu An. Hubungan keluarganya dengan keluarga Bai Mu An sangat erat, dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila dia menolak perjodohan ini hanya gara-gara Li Kun Liong. Sejak kecil dia sudah mengenal Bai Mu An, bila tidak ada Li Kun Liong, sudah pasati dia akan menerima Bai Mu An sebagai jodohnya. Bai Mu An sendiri cukup tampan, tidak kalah bila dibandingkan dengan Li Kun Liong, sama-sama pemuda idaman, lihai ilmu silatnya. Namun hati seorang dara muda memang susah di tebak.

Baik Liok In Hong dan Li Kun Liong tidak menyadari, sejak tadi ada sepasang mata yang mencorong ganjil memperhatikan gerak-gerik mereka dari balik pepohonan yang rimbun, agak jauh di sebelah kanan telaga tersebut. Sepasang mata ini berasal dari mata seorang pemuda yaitu Bwe-hoa-cat. Dia kebetulan lewat di daerah ini dan mencium bau harum daging yang sedang di panggang Liok In Hong. Kebetulan dirinya merasa lapar sehingga dengan mengendus-endus bau harum tersebut dia sampai di tepi telaga tersebut dan melihat seorang pemuda dan gadis yang sangat cantik sedang makan daging kelinci. Dia tahu mereka adalah kaum kangouw sehingga tidak berani mengambil resiko, diam-diam ia menyelinap di balik pepohonan. Hatinya langsung tertarik begitu melihat diri Liok In Hong. Sejak hampir merenggut kehormatan Cin-Cin tapi digagalkan seorang bhiksu busuk, dia tdak pernah menyentuh seorang wanita pun sehingga selama beberapa hari ini dia belingsatan. Sungguh kebetulan, di daerah yang sepi ini ditemuinya seorang gadis yang sangat cantik. Diam-diam dia menelan ludah melihat kerupawanan Liok In Hong. Walupun kecantikannya masih kalah sedikit dengan Cin-Cin namun lebih dari cukup buatnya. Hanya saja, masalahnya gadis ini sedang bersama seorang pemuda yang ketiduran di bawah pohon. Dia tidak tahu seberapa lihai mereka berdua sehingga tidak mau mengambil tindakan yang gegabah. Dia berencana memancing gadis ini menjauh dari tempat ini sehingga lebih mudah baginya untuk menghadapinya.

Tiba-tiba, Liok In Hong yang sedang termenung menatap wajah Li Kun Liong mendengar suara keresekan di sebelah kanan hutan. Pasti kelinci pikirnya, dia bangkit dan berjalan ke arah suara tadi. Dia berencana menangkap kelinci tersebut dan membuatnya menjadi dendeng kering buat bekal Li Kun Liong. Tetapi begitu sampai di tempat suara keresekan tadi, kelinci tersebut telah menghilang. Merasa penasaran, Liok In Hong semakin memasuki hutan dan semakin menjauhi telaga tersebut. Semakin masuk ke dalam hutan, kelinci yang diburunya tak kelihatan batang hidungnya. Selagi dia ragu-ragu untuk meneruskan perburuan, di sebelah depan terlihat sebuah gubuk kecil. Dihampirinya gubuk tersebut, kelihatannya gubuk ini tidak berpenghuni. Baru saja Liok In hong hendak memasuki gubuk tersebut, dari belakang punggungnya terdengar kesiuran angin. Reaksinya cukup gesit tapi tidak cukup cepat, tahu-tahu jalan darah Gi-kok-hiat di pundak belakang tertutuk jari seseorang. Dengan rasa kaget, Liok In Hong berusaha membebaskan diri dari tutukan tersebut namun tutukan berikutnya membuatnya tak dapat bergerak sama sekali. Sebenarnya ilmu silat Liok In Hong cukup lihai, hanya saja dia terlalu lengah hingga tak berjaga-jaga terhadap bokongan. Tahu-tahu dirinya dihampiri seorang pemuda berbaju putih dengan wajah cengar-cengir dan mata yang jelatalatan, membuat dirinya bergidik ngeri. Sesampai di depannya, pemuda tersebut mencolek pipinya yang mulus.
“Sungguh cantik, beruntung sekali aku mendapatkanmu manis. Kita akan bersenang-senang, engkau tidak akan melupakannya” kata pemuda tersebut sambil memondong Liok In Hong.

Dengan wajah pucat, Liok In Hong merasa dirinya di pondong ke dalam gubuk tersebut dan dibaringkan di sebuah dipan kayu.

Pemuda tersebut lalu mengambil sesuatu dari balik kantong bajunya dan berkata sambil tersenyum “Biar sama-sama enak, mari hirup obat ini manis, aku jamin engkau akan merasakan seperti di surga.”

Liok In Hong berusaha menahan nafas agar tidak mencium bubuk yang disodorkan pemuda tersebut di hidungnya tapi tentu saja tidak selamanya dia menahan nafas, Tak berapa lama kemudian, mau tidak mau bubuk tersebut tercium juga dan masuk ke dalam pau-parunya dengan cepat. Liok In hong merasa sedikit nyaman begitu bubuk tersebut masuk ke dalam tubuhnya, aliran darahnya berdenyut cepat.

Perasaannya ringan, tubuhnya mulai terasa panas. Entah sejak kapan, tutukan pemuda tersebut telah lepas sehingga tubuhnya yang ramping bisa bergerak kembali. Dengan mata yang sayu, Liok In Hong berseru “Ah..panas sekali” Tanpa disadarinya, tangannya melepaskan kancing baju bagian atas sehingga bajunya tersingkap memperlihatkan sebagian baju dalam yang dikenakannya. Semua ini disaksikan oleh Bwe-hoa-cat dengan mata bersinar-sinar, gairahnya sedikit demi sedikit bangkit begitu melihat gerakan tubuh Liok In Hong yang erotis, apalagi ketika pakaian Liok In Hong terbuka, memperlihatkan pundaknya yang putih bak pualam itu. Liok In Hong sendiri terus mengeluh kepanasan dan semakin mengerakkan tubuhnya kesana kemari sambil tangannya berusaha melepaskan pakaian yang dikenakannya. Sekarang baju luarnya sudah terbuka semua, tampak baju dalamnya yang ketat memperlihatkan kemolekan tubuhnya dan menampakkan lekuk buah dada seorang dara muda. Buah dadanya yang membusung ketat dibalik baju dalam bergerak-gerak maju mundur akibat gerakan tubuhnya. Tangan Liok In Hong mulai beralih melepaskan pakaian dalamnya tersebut. Mula-mula tali sebelah kiri yang melilit di pundak kirinya dilepasnya hingga tersembul buah dada sebelah kiri yang putih dan ranum dengan setitik puting kecil kecoklatan di tengahnya. Sungguh pemandangan yang mengairahkan. Liok In Hong sendiri samar-samar menyadari apa yang dilakukannya ini tidak sepatutnya tapi dorongan garah yang meledak-ledak di dalam dirinya, membuatnya tak kuasa berbuat apa-apa.

Tangannya mulai melepaskan tali sebelah kanan dan akhirnya terlepas dan menampakkan sepasang buah dada yang sangat indah dan kenyal, membusung tegak di hadapan Bwe-hoa-cat. Ujung puting kebulatan di tengah sepasang buah dada tersebut mengeras tanda pemiliknya di landa birahi yang tinggi. Ukuran dan bentuk buah dada Liok In Hong sungguh serasi dengan bentu tubuhnya. Sepasang buah dada yang bulat seukuran tangkupan tangan, seolah menantang siapa saja untuk menyentuh dan meremasnya.

Bwe-hoa-cat tidak tahan lagi menyaksikan pemandangan yang menggiurkan ini, bagian bawah tubuhnya sudah menegang sejak tadi. Dengan mata melotot seolah-olah hendak keluar dari kelopak mata, dia melompat ke atas pembaringan dan menindih tubuh ramping Liok In Hong. Namun belum lagi sempat berbuat apa pun, tiba-tiba pintu gubuk tersebut gedubrakan ditendang seseorang.

Sambil berjingkrak kaget seolah cacing kepananasan, Bwe-hoa-cat melihat yang datang adalah pemuda yang tadi ketiduran di bawah pohon. Hatinya sangat gemas sekali, dua kali dirinya terganggu ketika hendak mengagahi korbanya. Dengan mata gelap diserangnya Li Kun Liong dengan spenuh tenaga seolah-olah hendak menghantam lawanya dalam segebrakan saja. Tapi kali ini dia ketemu batunya, cukup sedikit mengegoskan badannya, serangan Bwe-hoa-cat tersebut kandas.

Li Kun Liong sendiri tiba di gubuk ini tepat pada waktunya, begitu mendusin, tidak tampak bayangan Liok In Hong. Dipanggil-panggilnya namun tetap tak nampak bayangan tubuh Liok In Hong. Dengan khawatir, Li Kun Liong memasuki hutan tersebut hingga akhirnya tiba di gubuk ini dan menyaksikan kelakuan Bwe-hoa-cat yang hendak memperkosa Liok In Hong.

Kembali dalam pertempuran ini, puluhan jurus telah dimainkan namun semua serangan lawan dapat dihindari dengan baik oleh Li Kun Liong yang menggunakan ilmu langkah-langkah ajaib. Tingkat kepandaian Li Kun Liong saat ini boleh di bilang sudah susah mencari tandingan lagi namun ilmu silat Bwe-hoa-cat juga tidak sembarangan. Terbukti bhiksu Hun-Lam pun memerlukan ratusan jurus untuk mendesak Bwe-hoa-cat. Sungguh sayang, seorang jago silat yang memiliki kepandaian setinggi ini, berada di jalur yang sesat. Dalam hal ilmu meringankan tubuh, Bwe-hoa-cat boleh bangga dapat menandingi ilmu mengentengkan tubuh yang dimiliki Li Kun Liong tapi dalam hal tenaga dalam harus diakui ia masih kalah setingkat. Sama seperti pertarungannya dengan bhiksu Hun-lam, akhir pertarungan ini dapat dipastikan dimenangkan Li Kun Liong. Li Kun Liong tidak memberi hati, semua serangan dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Hatinya sangat panas melihat perbuatan Bwe-hoa-cat terhadap Liok In Hong.

Akibatnya, Bwe-hoa-cat hanya mampu bertahan sekuatnya. Keringat dingin mulai tampak di keningnya, gairahnya entah sudah lari kemana. Diam-diam hatinya tercekat melihat kelihaian ilmu silat Li Kun Liong. Dia menduga-duga siapa gerangan pemuda yang lihai ini, selama hidupnya belum pernah dia mengalami pertempuran sepayah ini.

Hatinya mulai takut dan kalut. Akibatnya gerakannya mulai terpengaruh dan kesempatan ini tidak disia-siakan Li Kun Liong. Dengan gerakan Pay-san-to-hay (menolak gunung menguruk lautan), diikuti tutukan It-Sin-Ci ke arah jalan darah Sie-hong-hiat di bagian dada yang mematikan, Bwe-hoa-cat hanya merasakan dadanya sangat nyeri sekali hingga semua gerakannya seolah-olah terhenti dan kegelapan yang pekat mulai melingkupi jiwanya. Masih dengan posisi berdiri, penjahat jai-hoa-cat yang sangat terkenal ini binasa di tangan pendekar muda Li Kun Liong dengan mata melotot terbuka, seolah-olah tidak rela meninggalkan dunia yang fana ini.
Sehabis membinasakan lawan, Li Kun Liong menuju ke arah Liok In Hong yang masih mengeliat-geliat di pembaringan. Keadaannya sekarang tambah mengiurkan, seluruh tubuh Liok In hong sudah tak ada sehelai benang pun, memperlihatkan semua bagain-bagian tubuh yang paling rahasia dari seorang gadis. Semuanya terpampang dengan jelas di depan mata Li Kun Liong.

Dengan gerakan-gerakan yang erotis, Liok In Hong mengangkat pinggulnya ke atas hingga nampak sebuah lembah yang dikelilingi beludru-beludru halus disekitarnya, di tengah-tengah lembah tersebut nampak segaris belahan merah semu yang nampak basah seolah-olah baru saja di guyur hujan.
Melihat pemandangan tersebut, dengan hati berdeburan Li Kun Liong mengeraskan hati, di tutuknya Liok in Hong untuk menghentikan gerakan-gerakan liar tersebut.

“Oh..Liong-ko, tolong peluk aku” kata Liok In Hong dengan suara mendesah parau.

“Hong-moi, sadar..sadar” kata Li Kun Liong sambil menepuk-nepuk pipi Liok In Hong yang kemerahan.

Di ambilnya pakaian Liok In Hong yang berserakan di lantai dan ditutupinya tubuh Liok In Hong yang mulus tersebut sebisa mungkin terutama bagian-bagian terahasia tersebut.

Tidak mudah bagi Li Kun Liong melakukan hal tersebut, lebih-lebih melihat sepasang buah dada yang putih dan segar dengan puting yang kencang tersebut membusung dengan kerasnya. Tangannya yang memegang baju sedikit gemetaran ketika menutupi sepasang payudara tersebut. Sebenarnya mudah sekali baginya untuk memanfaatkan situasi ini, apalagi Liok In Hong sendiri dalam keadaan yang terbakar oleh gairahnya sendiri. Ibarat ikan asin di depan seekor kucing, tinggal dicaplok saja.

Begitu pula ketika dia hendak menutupi lembah yang berada di antara sepasang paha puith mulus tersebut. Pemandangan yang sangat indah dan menggoda iman ini, sungguh mengguras habis seluruh pertahanan diri Li Kun Liong. Lebih-lebih diiringi erangan dan lenguhan kecil dari mulut Liok In hong yang merekah bak buah delima tersebut. Li Kun Liong adalah seorang pemuda biasa yang memiliki gairah yang tinggi. Dia juga tidak menganggap dirinya seorang kuncu, dia bahkan memiliki kelemahan terhadap gadis cantik. Setiap perbuatan yang dilakukannya, bukan berdasarkan pendapat orang atau menurut kepantasan yang berlaku di masyarakat. Dia adalah tipe orang yang berbuat menurut kata hatinya, setiap tindakannya murni berasal dari keputusan dalam dirinya bukan keputusan orang lain. Terlepas perbuatan atau tindakan-tindakan yang diambilnya benar atau salah menurut ukuran jaman tersebut, dia bertanggung jawab penuh terhadap semua tindakannya. Namun perbuatan yang memancing di air keruh atau mengambil kesempatan dalam kesempitan bukanlah perbuatan atau tindakan yang akan ia ambil.

Li Kun Liong keluar dari gubuk tersebut sambil membawa mayat Bwe-hoa-cat dan menguburnya di belakang gubuk tersebut. Lalu dia berjaga di depan pintu masuk, menanti Liok In Hong pulih kesadarannya. Dihapusnya keringat di dahinya yang entah sejak kapan muncul. Dia berusaha mengenyahkan semua pikiran dan berkonsentrasi untuk mengheningkan diri. Tidak mudah melakukannya, lebih-lebih dari dalam gubuk tersebut terdengar rintihan birahi seorang gadis perawan. Akhirnya dengan usaha yang lebih dari biasanya, Li Kun Liong mampu menutup diri dan bersamadhi.

Entah berapa lama Li Kun Liong bersamadhi, tahu-tahu pagi sudah menjelang, hawa pagi yang sejuk dan kicau burung bersahutan menyadarkannya dari samadhi.

Buru-buru dia bangkit dan masuk ke dalam gubuk. Di dalam gubuk tersebut nampak Liok In Hong duduk di atas kursi yang berada di tengah ruangan dengan pandangan menerawang jauh. Tubuhnya sudah dibalut pakaian lengkap, rupanya sudah beberapa saat dia sadar. Mula-mula Liok In Hong sedikit bingung namun setelah kesadarannya pulih seluruhnya, dia teringat kembali kejadian semalam. Bahkan ketika Li Kun Liong membinasakan Bwe-hoa-cat dapat diingatnya dengan baik. Hanya saja dirinya merasa sangat malu untuk menemui Li Kun Liong. Sudah dua kali Li Kun Liong melihat bagian tubuhnya yang paling rahasia.

“Engkau sudah sadar, Hong-moi” kata Li Kun Liong lembut.

Liok In Hong mengangguk lemah, dari balik sepasang matanya yang bening meleleh setitik air mata, jatuh perlahan-lahan di pipinya. Li Kun Liong menyusuti air mata tersebut dengan tangannya dan berkata

“Syukur engkau tidak apa-apa, jai-hoa-cat tersebut sudah kubinasakan”
Liok In Hong menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Li Kun Liong dan menangis di dalam dekapan dada Li Kun Liong. Airmatanya jatuh berderai membasahi dada Li Kun Liong. Li Kun Liong membiarkan Liok In Hong menangis, diusap-usapnya rambut Liok In Hong yang hitam dan panjang tersebut. Lapat-lapat hidungnya mencium bau harum tubuh Liok In Hong. Hatinya berdebaran kembali, terbayang semua pemandangan yang ia saksikan semalam. Tanpa dapat dicegahnya, gairahnya bangkit dengan cepat namun ditahan sekuatnya. Dia tidak ingin Liok In Hong tahu, hatinya terguncang mendekap tubuh ramping seorang dara seperti Liok In Hong ini. Li Kun Liong tidak tahu bahwa Liok In Hong tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Li Kun Liong. Naluri seorang wanita dan debaran jantung Li Kun Liong yang didengarnya sudah cukup buat dirinya untuk mengetahui apa dipikirkan Li Kun Liong. Apalagi ketika dirasakannya bagian bawah Li Kun Liong yang mulai menggeras tersebut menekan tubuhnya. Diam-diam walaupun merasa malu, Liok In Hong gembira bahwa Li Kun Liong memiliki gairah terhadapnya. Tadinya ia pikir Li Kun Liong hanya menganggapnya sebagai adik atau teman saja. Pengaruh obat perangsang yang dihirupnya sebagian besar sudah menghilang namun karena hasratnya tak tersalurkan, pengaruhnya sedikitnya masih ada. Liok In hong menengadahkan kepalanya ke arah Li Kun Liong, dengan pandangan yang mengundang, matanya yang sayu dengan sisa air mata tersebut menatap Li Kun Liong. Ditatap sedemikian rupa, sebodoh-bodohnya Li Kun Liong juga mengerti arti tatapan ini. Li Kun Liong tidak dapat bertahan lagi, semua pertahanannya gugur, ditundukan kepalanya dan dikecupnya bibir yang merekah merona tersebut. Liok In Hong mengeluh kecil sambil membalas kecupan Li Kun Liong dengan gairah. Li Kun Liong mengulum dan memagut bibir mungil tersebut, rasanya bagaikan di awang-awang.

Tangan Liok In Hong melingkari leher Li Kun Liong, dibalas Li Kun Liong dengan mendekap tubuh yang mungil tersebut dengan erat.

Entah siap yang memulai duluan, tahu-tahu keduanya sudah berbaring di pembaringan. Liok In Hong membiarkan tangan Li Kun Liong melucuti bajunya kembali hingga pundak dan lengannya yang putih mulus tersebut dapat dilihat dan dinikmati Li Kun Liong. Li Kun Liong mengamat-amati kesempurnaan tubuh yang langsing bak dawai tersebut. Tatapan mata Li Kun Liong bak mengagumi pemandangan yang indah, membuat Liok In Hong tertunduk malu, kedua tangannya disilangkan di depan buah dadanya yang ranum. Tak dapat menahan gairahnya, Li Kun Liong mendekap tubuh Liok In Hong sambil tangannya mengelus elus…..

==================================
Area tersensor …
mohon maaf bukannya ga mo sharing…
sampe sekarang koko masih berupaya mencari bagian kitab yang hilang ini….
sancai…sancai…sancai…..
==================================

“Jangan Kun Liong….ah..ahh” katanya sambil mendesah, hatinya berdebar-debar, belum pernah dia disentuh pria semacam ini.

Li Kun Liong membisikkan kata-kata mesra di telinga Liok In Hong. Sambil tersenyum lelah, Liok In Hong menyandarkan kepalanya di dada Li Kun Liong.

Seberkas perasaan bersalah menghinggapi keduanya.

Memang dalam situasi yang memberi peluang terjadi peristiwa barusan, jarang yang mampu menolaknya. Bahkan ada yang berpendapat, urusan seperti ini tidak ada kaitannya dengan masalah moral, agama, nilai-nilai luhur lainnya. Semua nilai-nilai ini tidak mempan terhadap naluri alamiah untuk memenuhi kebutuhan mendasar ini. Segala perdebatan yang timbul, tinggallah perdebatan. Hanya pengalaman langsung yang dapat membuktikan pendapat masing-masing. Bisa saja awalnya dia menolak anggapan tersebut namun ketika menghadapinya langsung, segala penolakan yang ada di kepalanya langsung buyar entah kemana, tergantikan naluri alamiah tersebut.
garuda_big
Wah ane menunggu halaman kitab yang hilang nih :))
kok jd kena sensor ko?😀
makin seru nih, menunggu dengan sabar aja deh ane🙂
jilid 6. Hancurnya Partai Mo-Kauw

Dunia persilatan kembali berguncang dengan berita bergeraknya kembali partai Mo-kauw. Setelah sebelumnya menyerbu Hoa-San-Pai dan Go-Bi-Pai, kali ini partai Mo-kauw menyerbu markas besar Kay-Pang. Kalau dalam penyerbuan di Hoa-San-Pai dan Go-Bi-Pai pihak Mo-kauw tidak mendapat perlawanan yang berarti, lain dengan penyerbuan di markas Kay-pang. Mereka mendapat perlawanan yang gigih, anggota-anggota Kay-Pang umumnya memiliki kemampuan silat yang merata. Ini disebabkan pengajaran ilmu silat kepada murid-murid Kay-Pang dilakukan secara sistematis dan adanya pembedaan tingkat kesenioran seseorang. Tingkat kesenioran ini bukan ditentukan usia namun tinggi rendahnya ilmu silat masing-masing. Tidak jarang pengemis berkantung lima, umurnya baru dua puluh tahunan dibandingkan rata-rata pengemis berkantung lima yang berkisar empat puluh sampai lima puluh tahunan. Setiap beberapa bulan sekali, semua anggota Kay-Pang di uji ilmu silatnya oleh para tiang-lo. Mereka yang ilmu silatnya meningkat, otomatis berhak mendapat kantung yang lebih tinggi sedangkan mereka yang malas, diturunkan tingkatnya. Dengan demikian terjadi perlombaan yang sehat di antara anggota-anggota Kay-Pang dalam memperdalam ilmu silat mereka. Itulah salah satu sebab yang membuat murid-murid Kay-Pang terkenal akan kelihaian ilmu silatnya. Rata-rata anggota Kay-Pang boleh di bilang bisa dianggap jago kelas satu, terutama pengemis berkantung lima ke atas.

Di samping itu juga, anggota-anggota Kay-Pang memiliki displin dan semangat kesetiakawanan yang tinggi serta anggota yang tersebar di seluruh penjuru Tiong-goan.

Pengeroyokan terhadap ketua Kay-Pang terdahulu, Sun-Lokai oleh para tetua Mo-kauw dan penyusupan Tong-tang-lang di Kay-Pang, tidak terlepas dari siasat melemahkan dari dalam. Ketua partai Mo-kauw, Sin-Kun-Bu-Tek menyadari sejak awal bahwa selain Shao-Lin-Pai, Kay-Pang meruapakan partai terkuat saat ini di dunia persilatan. Bila tidak segera dihancurkan akan menjadi batu sandungan bagi ambisinya menguasai dunia persilatan Tiong-goan.

Dalam penyerbuan tersebut, partai Mo-Kauw mengerahkan semua kekuatannya termasuk Tong-tang-lang, Ciang-Gu-Sik, Ceng Han Tiong serta kepala barisan putih dan merah. Mereka dihadapi dengan gigih oleh para tiang-lo, Kam-Lokai dan muridnya Tiauw-Ki, sutitnya Kok-Bun-Liong dan anggota-anggota Kay-Pang lainnya. Secara keseluruhan anggota-anggota Kay-Pang lebih unggul dari barisan Mo-kauw. Namun dalam pertarungan tingkat atas antara tokoh-tokoh mereka, partai Mo-kauw lebih unggul.

Pertempuran ini memakan korban di kedua belah pihak dan berlangsung selama belasan hari. Kaum persilatan yang mendengar berita pertempuran ini berbondong-bondong datang membantu, begitu pula anggota-anggota Kay-Pang yang tersebar di seluruh penjuru Tiong-goan beramai-ramai datang ke markas besar Kay-Pang.

Saat berita tersebut sampai di telinga Li Kun Liong, buru-buru dia bersama Liok In Hong menuju markas besar Kay-Pang. Sepanjang perjalanan menuju markas Kay-Pang, mereka melihat banyak kaum persilatan yang juga datang untuk membantu memerangi pihak Mo-Kauw. Semakin dekat ke markas Kay-Pang, mereka menjumpai beberapa mayat baik dari pihak Kay-Pang dan pihak Mo-Kauw bergelimpangan begitu saja di jalanan. Situasinya benar-benar mengiriskan hati.

Setiba di maraks besar Kay-Pang, Li Kun Liong dan Liok In Hong melihat pertempuran sudah semakin memuncak dan mendekati tahap akhir. Tampak Tong-tang-lang dikerubuti Kok-Bun-Liong dan beberapa tiang-lo Kay-Pang. Walaupun dikeroyok beberapa orang sekaligus, Tong-tang-lang mampu melayani mereka bahkan dapat membalas setiap serangan dengan ganas. Di lain pihak ketua Kay-Pang, Kam-Lokai bersama muridnya Tiauw-Ki sedang mengerubuti Ciang-Gu-Sik. Kedudukan mereka cukup gawat, walaupun Kam-Lokai sudah mengerahkan ilmu pengebuk ******nya namun kepandaian Ciang-Gu-Sik memang sungguh menakjubkan. Tampak bahu Tiawu-Ki sudah terluka sehingga gerakannya semakin lemah. Melihat keadaan yang genting tersebut, Li Kun Liong melompat ke arah pertempuran sambil bersuit nyaring. Suitannya berkumandang ke seluruh penjuru, mereka melihat seorang pemuda melayang ke dalam pertempuran antara Kam-Lokai, Tiauw Ki dan Ciang Gu Sik.

Ciang Gu Sik yang girang sebentar lagi dapat merobohkan Tiauw-Ki merasakan telinga berdengung mendengar suitan Li Kun Liong. Belum sempat dia bereaksi, hawa pukulan Li Kun Liong yang mengandung tenaga sakti telah melanda datang. Dengan hati tercekat, buru-buru Ciang-Gu-Sik mundur dengan gerakan Tui-Po-lian-hoan (gerakan mundur berantai). Dilihatnya orang yang menyerangnya adalah Li Kun Liong, diam-diam hatinya mengeluh melihat kedatangan seorang musuh tangguh.

“Cianpwe sebaiknya segera membantu kawan-kawan Kay-Pang yang lain, biar cayhe yang menghadapi orang ini” kata Li Kun Liong.

Kam-Lokai menganggukkan kepalanya, hatinya girang mendapat bala bantuan setangguh Li Kun Liong. Buru-buru ia menerjang ke arah Ceng Han Tiong yang dari tadi tiada lawan berarti. Cukup banyak anggota Kay-Pang yang menjadi korbannya. Dengan murka Kam-Lokai menyerang Ceng Han Tiong. Mereka segera terlibat dalam pertempuran yang seru. Sebagai ketua Kay-Pang, tentu saja Kam-lokai memiliki ilmu silat yang tinggi namun lawannya kali ini adalah murid terakhir Sin-Kun-Bu-Tek yang bakatnya bahkan melebihi toa-suhengnya, Ciang Gu Sik. Pertempuran tersebut sangat seru dan untuk sementara belum kelihatan siapa yang lebih unggul. Sedangkan Tiauw-Ki mundur untuk merawat luka-lukanya.

Liok In Hong sendiri segera terjun membantu anggota Kay-Pang, bantuannya ini sangat berguna. Dengan ringan ia berkelabat ke sana kemari. Di mana bayangan muncul, di situ pasti jatuh korban di pihak Mo-Kauw. Melihat banyak anak buahnya menjadi korban Liok In Hong, sambil menggereng murka kepala barisan kuning Thi-kah-kim-kong (si raksasa berbadan baja) segera menghadang di depan Liok In Hong. Mereka segera terlibat pertarungan seru. Liok In Hong memiliki keunggulan dalam kelincahan tubuh sedangkan Thi-kah-kim-kong memiliki ilmu weduk yang tak mempan pukulan dan senjata. Beberapa kali pukulan Liok In Hong mampir di pundak Thi-kah-kim-kong tapi tak menghasilkan apa pun. Dengan gemas Liok In Hong mencabut pedang pusakanya dan langsung menyerang dengan jurus-jurus ganas. Kali ini Thi-kah-kim-kong tidak berani membiarkan pedang Liok In Hong mampir di tubuhnya. Tak ayal lagi dia melayani dengan sungguh-sungguh.

Kembali ke Li Kun Liong yang menghadapi jago nomer dua partai Mo-kauw, Ciang Gu Sik. Dengan mata membara, Li Kun Liong menyerang terlebih dahulu. Ini saat yang tepat baginya untuk membalas keroyokan mereka dahulu, yang membuatnya hampir binasa. Kalau dulu Li Kun Liong tidak mempunyai celah untuk membalas keroyokan Ciang Gu Sik dan Tong-tang-lang, maka kali ini satu lawan satu, dengan leluasa dia memainkan jurus-jurus yang selama ini dilatihnya. Ciang Gu Sik segera keteteran menghadapi serangan Li Kun Liong. Buru-buru dikerahkannya ilmu andalannya Thian-Te-Hoat (ilmu langit bumi). Tidak main-main, langsung ia keluarkan sampai tingkat ke enam dari tujuh tingkat yang dikuasainya. Hasilnya tidak mengecewakan, serangan Li Kun Liong dapat dibendungnya. Kemajuan ilmu silat Li Kun Liong memang pesat namun dalam waktu singkat belum dapat diresapinya secara sempurna. Namun itu pun sudah lebih dari cukup untuk menghadapi Ciang Gu Sik. Ilmu langkah-langkah ajaibnya sangat berguna dalam pertempuran ini dan membingungkan Ciang Gu Sik. Hanya hawa panas yang dihasilkan ilmu Thian-Te-Hoat tingkat ke enam tersebut sedikit menyukarkan Li Kun Liong. Tenaga saktinya seolah-olah tersumbat sesuatu sehingga sulit untuk mengalir dengan lancar di kedua tangannya. Diam-diam Li Kun Liong memuji ilmu silat Ciang Gu Sik ini. Dalam pertempuran terdahulu, Ciang Gu Sik tidak menggunakan ilmu ini sehingga baru kali Li Kun Liong mengalami serangan tersebut. Untuk mengurangi hawa panas pukulan Ciang Gu Sik, Li Kun Liong mengerahkan ilmu langkah-langkah ajaib seantero tenaga. Tubuhnya berkelabat ke sana kemari mengurung Ciang Gu Sik bagaikan burung bangau yang mengincar ular santapannya.

Taktik ini berhasil dengan baik, hawa panas tersebut berkurang hingga otomatis tenaga saktinya kembali lancar dan membuat Ciang Gu Sik kewalahan. Menyadari hal tersebut dengan nekad Ciang Gu Sik melancarkan serangan tingkat ke tujuh. Dia tidak memperdulikan lagi bahaya yang bakal menimpanya jika serangan ini gagal.

“Blaar…Dukk..Dukk!” Hanya sekejap mata saja terjadinya. Entah bagaimana Ciang Gu Sik sendiri tidak tahu, pergelangan tangannya tertangkis tangan Li Kun Liong, membuat dirinya terhuyung mundur lima langkah dan tiba-tiba ia merasa amat sakit pada kedua tangannya dan dadanya. Dia roboh ke tanah dengan mata melotot. Binasa. Dari sela-sela kelopak matanya keluar darah segar, begitu pula kedua telinganya dan lubang hidungnya. Kematiannya sangat mengenaskan.

Li Kun Liong sendiri hanya merasakan dadanya sedikit sesak, segumpal darah yang hendak keluar dari mulutnya sebisa mungkin ditahannya. Dia tahu apabila gumpalan darah tersebut keluar, ia akan terluka dalam dan harus segera berisitrahat penuh selama beberapa hari. Diam-diam ia bersyukur telah mempelajari ilmu tenaga dalam yang terdapat di dalam lukisan kuno tersebut. Jika tidak, ia sendiri ragu apakah dapat menandingi ilmu Thian-Te-Hoat tingkat ke tujuh tersebut. Li Kun Liong sendiri tidak menyadari dengan menahan gumpalan darah tersebut, umurnya jadi berkurang beberapa tahun dari seharusnya.

Kematian Ciang Gu Sik di sambut dengan teriakan gembira para anggota Kay-Pang yang menyaksikan pertempuran dahsyat tersebut. Semangat mereka bangkit kembali sedangkan di pihak Mo-Kauw semangat tempur mereka justeru meluntur.

Tong-tang-lang yang masih bertempur dikeroyok Kok-Bun-Liong dan para tiang-lo Kay-Pang merasa sangat kaget mendengar teriakan anggota Kay-Pang tersebut. Ketika melirik ke arah Ciang Gu Sik, hatinya terguncang melihat Ciang Gu Sik binasa. Segera dia melancarkan serangkaian serangan ke arah Kok-Bun-Liong dan para tiang-lo, lalu dengan sebat mundur sambil mengeluarkan lengkingan tanda memerintahkan pasukan Mo-Kauw untuk mundur. Pada saat yang bersamaan, di lemparnya beberapa bom asap berisi asap beracun khas partai Mo-Kauw. Gerkannya tersebut diikuti Ceng-Han-Tiong dan kepala barisan merah kuning. Tong-tang-lang sadar jika tidak segera mundur, pihaknya dapat mengalami bencana yang lebih hebat. Diam-diam ia mengutuk habis kedatangan Li Kun Liong. Kemenangan yang sudah di tangan terlepas lagi. Entah bagaimana memberitahukan kegagalan ini pada kauwcunya, terlebih dengan kematian Ciang Gu Sik, murid utama Sin-Kun-Bu-Tek.

“Daar..darr…darr…!” segulungan asap berwarna biru segera memenuhi sekitarnya.

“Semua mundur, jauhi asap-asap tersebut” teriak Kam-Lokai dan para tiang-lo. Mereka yang terlambat mundur, segera rubuh bergelimpangan di tanah.

Kesempatan ini tidak disia-siakan pasukan Mo-Kauw, mereka diam-diam menghilang di balik kabut asap tersebut.

Dalam waktu singkat, tak terlihat sesosok bayangan pasukan Mo-Kauw, yang tertinggal hanyalah mereka yang telah binasa.

Perlahan-lahan kabut asap tersebut buyar dan menghilang ke angkasa. Tampak pemandangan yang mengiriskan, di mana-mana bergelimpangan ratusan mayat, baik dari pihak Kay-Pang maupun pihak Mo-Kauw. Hasil pertempuran ini sungguh di luar dugaan. Dengan bersorak-sorai, para anggota Kay-Pang saling berteriak dan berpelukan. Walaupun wajah mereka tampak kelelahan setelah bertempur belasan hari namun kemenangan yang tak di sangka-sangka ini membuat mereka tak memperdulikan kelelahan tersebut.

Kam-lokai, Tiauw-Ki, Kok-Bun-Liong serta para tiang-lo yang masih hidup beramai-ramai menghampiri Li Kun Liong

“Li sicu, terimalah hormat lokai atas bantuanmu yang sungguh besar ini. Kaum Kay-Pang sangat berterima kasih atas bantuanmu” kata Kam-Lokai sambil menjura dalam-dalam.

Li Kun Liong sendiri dengan tersipu-sipu menjura balik dan berkata

“Cayhe tidak bisa membantu banyak cianpwe, semua ini hasil jerih payah kawan-kawan kangouw dan para anggota Kay-Pang hingga berhasil mengenyahkan pasukan lawan.”

Kam-lokai dan para tiang-lo Kay-Pang memandang kagum keluhuran budi Li Kun Liong. Walau pun berjasa besar namun tetap rendah hati. Diam-diam hati mereka tunduk terhadap kelihaian ilmu silat dan kebesaran hati Li Kun Liong

Kemudian para anggota Kay-Pang yang masih hidup segera merawat kawan-kawannya yang terluka, begitu pula kaum kangouw yang terluka. Mereka juga membersihkan mayat-mayat baik di pihak Kay-Pang maupun di pihak Mo-Kauw dengan cara membakarnya.

Li Kun Liong sendiri bersama Liok In Hong memenuhi permintaan Kam-Lokai untuk berdiam sementara di markas Kay-Pang dan membahas langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengantisipasi serangan kembali pihak Mo-kauw.

Li Kun Liong menyarankan daripada hanya sekedar menunggu serangan lawan, alangkah baiknya jika bersama-sama dengan kaum persilatan lain, melakukan serangan balik ke pihak Mo-kauw. Menurutnya cara tersebut lebih baik dari pada hanya sekedar menunggu, pasti pihak Mo-Kauw tidak akan menyangka sama sekali. Ide Li Kun Liong tersebut di terima dengan baik sekali oleh para hadirin. Kam-Lokai segera memerintahkan murid-murid Kay-Pang untuk memberi kabar kepada kaum persilatan Kangouw untuk bersama-sama menyerang markas partai Mo-Kauw di Tiong-goan. Hasil penyelidikan divisi intel Kay-Pang, diketahui markas Mo-kauw berkedudukan di atas perbukitan di sebleah tenggara kota Pe-King.

Demikianlah sambil menunggu kedatangan pihak kaum persilatan, Li Kun Liong dan Liok In Hong tinggal sementara di markas Kay-Pang. Li Kun Liong sendiri tidak dapat menolak ketika Tiauw-Ki dan Kok-Bun-Liong meminta petunjuknya. Memang walaupun usianya masih muda, Li Kun Liong telah diakui sebagian besar kaum persilatan sebagai salah satu dedengkot silat.

— 000 —-

Undangan pihak Kay-Pang untuk bersama-sama menyerbu markas partai Mo-kauw di Tiong-goan di sambut hangat kaum sungai telaga. Dalam waktu beberapa hari saja, ratusan orang datang ke markas Kay-Pang termasuk partai-partai utama dunia persilatan ikut datang. Di antaranya tampak ketua Shao-Lin-Pai, Siang-Jik-Hwesio dan bhiksu Hun-Lam.

Yang mengherankan kenapa bhiksu Hun-Lam bisa datang sendiri ke markas Kay-Pang. Seperti yang diketahui, Cin-Cin lolos dari tangan jahat Bwe-hoa-cat berkat pertolongan bhiksu Hun-Lam. Sejak itu Cin-Cin mengembari bersama bhiksu Hun-Lam. Setibanya mereka di kota Pei-King, mereka mendengar kabar tentang penyerbuan pihak Mo-Kau di Kay-Pang serta undangan pihak Kay-Pang untuk melakaukan serangan bersama ke markas Partai Mo-Kauw. Tadinya Cin-Cin bersama bhiksu Hun-Lam hendak mengunjungi markas besar Kay-Pang, namun ketika mereka sedang mengisi perut di warung makan di tengah kota, Cin-Cin bertemu seorang murid Thai-San-Pai yang ditugaskan oleh toa-suhengnya, Tang Bun An untuk mengabari sakitnya ibu Cin-Cin, nyonya Teng-Hui-Lan. Berita tersebut membuat diri Cin-Cin kaget, dia segera berlalu bersama murid Thai-San-Pai. Hati Cin-Cin menyesal, dia takut ibunya kenapa-kenapa. Dia tidak mau kehilangan lagi. Itulah sebabnya kenapa bhiksu Hun_lam muncul sendirian di markas Kay-Pang.

Dari pihak Bu-Tong-Pai hadir ketua Bu-Tong-Pai, Tiong-Pek-Tojin dan Sie Han Li. Juga terdapat murid-murid partai Hoa-San-Pai dan Go-Bi-Pai. Partai-partai di luar partai utama juga turut datang diantaranya Bu-Kek-Bun, Ciong-Lam-Pai, O-Mei-Pai, Ceng-Sia-Pai, keluarga Tong, dan lain-lain. Markas besar Kay-Pang menjadi ramai dan sibuk, segenap kekuatan kaum kangouw Tiong-goan boleh di bilang telah berdatangan semua. Pertempuran hidup mati segera berlangsung.

Berdasarkan laporan divisi intel Kay-Pang, partai Mo-Kauw belum melakukan pergerakan apa pun, mungkin mereka sedang memulihkan tenaga dan memupuk kekuatan baru. Kekuatan Kay-Pang sendiri bertambah kuat dengan berdatangannya para ketua cabang dari seluruh penjuru kota di Tiong-goan dengan para anggotanya. Bertambahnya ribuan anggota Kay-Pang tersebut benar-benar membuat semangat kaum dunia persilatan bertambah.

Tidak mau berlama-lama lagi, takut pergerakan mereka di endus pihak Mo-kauw, para tokoh partai utama sepakat langsung menyerang markas partai Mo-kauw hati itu juga. Iring-iringan ribuan orang membuat suasana benar-benar mendebarkan. Nasib kaum persilatan Tiong-goan benar-benar dipertaruhkan dalam penyerangan kali ini. Sepanjang jalan, ada saja kaum persilatan yang bergabung sehingga rombongan kaum sungai telaga semakin bertambah. Li Kun Liong berjalan paling depan bersama para tokoh partai utama seperti Kam-Lokai, Siang-Jik-Hwesio dan lain-lain.

Rombongan kaum sungai telaga ini harus beberapa kali bermalam di tempat terbuka sebelum mencapai perbukitan di mana pasukan Mo-kauw berada. Kedatangan rombongan ini sudah diketahui pihak Mo-kauw, terbukti begitu tiba di kaki perbukitan, rombongan mereka sudah di hadang ribuan pasukan Mo-Kauw.

“Serbu…!!” teriak Kam-lokai memerintahkan rombongannya.

Pertempuran besar tak terelakkan lagi, di pimpin Kam-lokai dan para tetua partai utama serta Li Kun Liong menyerbu naik ke atas puncak perbukitan di mana markas partai Mo-kauw berdiri.

“Trang..tring..aduh…!”

Teriakan kesakitan dan denting beradunya senjata-senjata masing-masing pihak menambah riuhnya suasana.

Dalam waktu singkat keadaan menjadi kacau balau, pihak kaum persilatan bertempur dengan semangat penuh, setiap anggota pasukan Mo-kauw yang mereka temui segera di bantai.

Pasukan Mo-kauw di pimpin kepala barisan masing-masing bertempur dengan gigih mempertahankan markas mereka dan berusaha mencegah rombongan kaum persilatan Tiong-goan naik ke atas perbukitan.

Kepala barisan kuning Mo-kauw, Thi-kah-kim-kong (si raksasa berbadan baja) memimpin pasukan berseragam kuning menyerbu dari sisi kanan perbukitan sedangakan kepala barisan merah Mo-kauw, Hek-Houw (harimau hitam), memimpin barisannya di sisi sebelah kiri perbukitan. Dengan demikian rombongan kaum persilatan di gencet dari dua arah.

Thi-kah-kim-kong dengan ilmu weduk (kebal) yang dimilikinya, dengan leluasa menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Banyak kaum persilatan Tiong-goan yang tidak mengenal kelihaiannya menjadi korban. Mereka yang melihat keganasan dan kelihaian Thi-kak-kim-kong menjadi keder dan menghindarinya. Tapi tidak demikian dengan Kok-Bun-Liong dan Tiauw-Ki, melihat pihaknya banyak korban berjatuhan akibat keganasan Thi-kah-kim-kong, mereka segera maju menghadang.

Keistimewaan Thi-kah-kim-kong memang terletak di kekebalan tubuhnya yang tidak mempan senjata sehingga agak sulit bagi Kok-Bun-Liong dan Tiauw-Ki menghadapinya. Wlaupun dikerubuti dua jago muda paling lihai dari Kay-Pang, Thi-kah-kim-kong mampu melayani mereka bahkan dapat membalas dengan serangan yang ganas. Sambil menggereng murka, di ayun-ayunkannya senjata gadanya ke arah Kok-Bun-Liong dan Tiaaw-Ki. Tenaga gwakang Thi-kah-kim-kong sudah mencapai kesempurnaan sehingga tidak heran baik Kok-bun_liong dan Tiauw-Ki tidak berani memandang enteng ayunan gada tersebut. Dengan lincah mereka menghindar mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang lebih tinggi dari Thi-kah-kim-kong.

Walaupun beberapa kali tongkat pengebuk ****** mereka berdua dapat mampir di tubuh Thi-kah-kim-kong namun tidak berarti apa pun. Gerakan Thi-kah-kim-kong tidak berkurang malah semakin keras dan bertenaga. Diam-diam Kok-Bun-Liong dan Tiauw-Ki mengakui kehebatan ilmu weduk Thi-kah-kim-kong ini.

Mereka tidak mengetahui, walaupun mampu menerima gebukan tongkat pemukul ******, Thi-kah-kom-kong bukannya tidak apa-apa. Bagian dalamnya cukup terguncang hebat namun tidak diperlihatkannya.

Di bagian lain, Hek-houw di hadang Sie-Han-Li. Sejak kekalahan yang di deritanya dari Tiong-Pek-Tojin dalam pertempuran di Shao-Lin-Pai beberapa bulan yang lalu, dia semakin mendendam terhadap Bu-Tong-Pai. Begitu pula kali ini, mengetahui lawannya memainkan jurus-jurus dari Bu-Tong-Pai, Hek-Houw dengan bernafsu membalas setiap serangan pedang Sie-Han-Li dengan tak kalah ganasnya. Seperti kita ketahui, Sie Han Li adalah sute termuda Tiong-Pek-Tojin. Ilmu silat Bu-Tong-Pai terutama ilmu pedang Bu-Tong-Kiam-Hoat telah dikuasainya dengan sempurna. Kepandaiannya saat ini tidak kalah dengan suhengnya, Tiong-Pek-Tojin, hanya karena usianya yang masih muda dan pengalaman bertempurnya belum sebanyak Tiong-Pek-Tojin, dia kewalahan menghadapi Hek-Houw. Juga tenaga dalam yang dilatihnya masih kalah setingkat dengan tenaga dalam Hek-Houw hasil latihan puluhan tahun. Namun berkat kecerdikan dan ilmu meringankan tubuh yang lebih unggul, untuk sementara Sie-Han-Li mampu mengimbangi setiap serangan lawan. Bagi Sie-Han-Li sendiri, pertempuran ini adalah pertempuran terhebat yang dialaminya sehingga di kemudian hari dia mampu memetik manfaat yang besar dari pertempuran ini dan menjadi ciangbujin Bu-Tong-Pai, menggantikan Tiong-Pek-Tojin.

Sementara itu, tanpa perlawanan berarti para ketua partai utama dan Li Kun Liong sampai di puncak perbukitan. Di sini ternyata kedatangan mereka sudah di tunggu-tunggu.

Tampak kauwcu partai Mo-kauw, Sin-Kun-Bu-Tek duduk di atas kursi kebesaranya. Di sisi kiri dan kanannya, di dampingi oleh Tong-tang-lang dan Ceng-Han-Tiong.

“Ha..ha..ha.. selamat bertemu lagi taysu, rupanya pihak kaum persilatan Tiong-goan tidak sabar lagi untuk menaklukkan diri kepada pihak kami” kata Sin-Kun-Bu-Tek tertawa besar.

“Omitohud… kami hanya membalas kunjungan kauwcu di Shao-Lin-Pai dan Kay-Pang saja. Kalau di tidak di balas, mungkin tidak menghormati tamu” sahut Siang-Jik-Hwesio sambil tersenyum.

Dengan mata berkilat Sin-Kun-Bu-Tek menatap ke arah Li Kun Liong yang berada di samping Siang-Jik-Hewsio. Dia tahu pemuda inilah yang membinasakan murid utamanya, Ciang Gu Sik. Hatinya merasa panas, kalau bisa dengan tatapan matanya, dicabik-cabiknya tubuh Li Kun Liong.

Dengan cepat senyumnya menghilang di wajahnya,

“Rupanya engkau yang telah membunuh muridku, benar-benar mencari mati” katanya sambil menyeringai seram ke arah Li Kun Liong.

“Dalam pertempuran, terluka atau binasa adalah hal yang jamak bagi kita kaum persilatan. Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun kecuali terhadap ilmu silat kita sendiri yang rendah” jawab Li Kun Liong tidak mau kalah. Diam-diam dia penasaran dengan sikap Sin-Kun-Bu-Tek yang angkuh tersebut. Walaupun tahu, kauwcu ini adalah ayah dari Kim Bi Cu tapi situasi sekarang ini benar-benar genting bagi keselamatan dunia persilatan Tiong-goan hingga dia tidak berani memikirkan urusan pribadi.

“Hmm, beranikah engkau melawanku sekarang ini?’

“Kenapa tidak berani, sudah menjadi kewajiban seluruh insan persilatan Tiong-goan untuk mengusir kaum sesat dari muka bumi ini”

“Benar-benar lancang, entah bagaimana dengan kemampuan ilmu silatmu, apakah selancang mulutmu itu” kata Sin-Kun-Bu-Tek geram.

“Nanti dulu kauwcu, bagaimana dengan pertempuran kali ini, apakah menang kalah ditentukan seperti pertempuran di Shao-Lin” tanya Kam-lokai.

“Tidak ada aturan semacam itu lagi” kata Sin-Kun-Bu-Tek sambil menyerang Kam-lokai yang berdiri paling dekat dengannya.

Rupanya Sin-Kun-Bu-Tek telah hilang kesabarannya, dia tidak mau banyak omong lagi.

Dalam serangannya, Sin-Kun-Bu-Tek langsung mengerahkan ilmu andalannya, ilmu Thian-Te-Hoat tingkat ke enam.

Dengan terkejut karena tidak menyangka sama sekali, Kam-lokai agak sedikit lambat reaksinya. Siang-Jik-Hwesio melihat bahaya yang mengancam Kam-Lokai segera bertindak sebat, sambil mengebaskan tangannya yang mengandung pukulan sakti delapan bagian ke arah Sin-Kun-Bu-Tek, dia berseru “Awaas..hati-hati..lokai”

“Daar….” kedua tenaga sakti tak berwujud itu beradu keras.

Hawa sakti Siang-Jik-Hwesio berhasil menyelamatkan Kam-lokai dari serangan mendadak Sin-Kun-Bu-Tek.

Sin-Kun-Bu-Tek sendiri dengan mata merah, langsung menghantam Siang-Jik-Hwesio yang telah mengagalkan serangannya. Sadar dari kagetnya, Kam-lokai segera maju membantu Siang-Jik-Hwesio, dia tahu kauwcu partai Mo-kauw ini sangat lihai, kalau tidak dibantu Siang-Jik-Hwesio pasti kewalahan menghadapinya.

Di lain pihak, serangan Sin-Kun-Bu-Tek menjadi tanda bagi Tong-tang-lang dan Ceng-Han-Tiong untuk memulai pertempuran. Sambil bersuit keras, Tong-tang-lang menyerbu Tiong-Pek-Tojin sedangkan Ceng-Han-Tiong menyerang Li Kun Liong.

Suitan Tong-tang-lang merupakan sinyal bagi pasukan pilihan Mo-kauw yang berada di dalam untuk keluar membantu. Pasukan pilihan ini hanya terdiri dari delapan orang saja dan dilatih khusus oleh Ciang-Gu-Sik untuk menghadapi lawan yang lebih tangguh. Secara perorangan ilmu silat mereka masih setingkat di bawah kepala barisan Mo-Kauw, namun bila beberpa orang ini bergabung dan mengembangkan barisan pertahanan khas partai Mo-kauw yang bersumber dari barisan pat-kwa, maka kelihaian barisan ini mampu menghadapi lawan yang bagaimanapun lihainya.

Barisan ini segera membantu Ceng-Han-Tiong dalam mengerubuti Li Kun Liong. Ilmu silat Ceng-Han-Tiong sendiri walaupun masih kalah setingkat dari suhengnya, Ciang Gu Sik, namun untuk ukuran seorang angkatan muda, termasuk kelas wahid, jarang yang mampu menghadapinya, terlebih dia baru beberapa hari ini telah menguasai tingkat ke enam ilmu Thian-Te-Hoat. Ini tidak terlepas dari bantuan tenaga dalam suhunya sehingga dalam usia semuda ini dia telah berhasil mencapai tingkat ke enam. Sin-Kun-Bu-Tek sendiri semenjak kematian murid utamanya, segera mengantungkan seluruh harapannya di pundak murid terakhirnya ini, sehingga tidak segan-segan mengorbankan beberapa tahun tenaga dalam hasil latihannya untuk menyempurnakan ilmu silat Ceng-Han-Tiong. Sebenarnya jika dia beristirahat beberapa hari saja, tenaga dalamnya pasti pulih kembali, sayang sekali baru satu hari beristirahat, markasnya di serang kaum persilatan Tiong-goan.

Mau tidak mau, walaupun dengan tenaga dalam yang belum pulih seratus persen, dia menampakkan diri dan bertempur melawan Siang-Jik-Hwesio dan Kam-lokai. Itulah sebabnya kenapa sampai dengan sekarang Siang-Jik-Hwesio dan Kam-lokai masih dapat bertahan dari serangan-serangan Sin-Kun-Bu-Tek.

Kembali ke pertempuran antara Li Kun Liong dan Ceng Han Tiong dibantu oleh barisan pertahanan Mo-kauw, Li Kun Liong sedikit kesulitan untuk menghancurkan barisan ini, belum lagi serangan Ceng-Han-Tiong yang tidak boleh di anggap enteng. Diam-diam dia mengagumi kelihaian barisan pertahanan ini dan memperhatikan pergerakan masing-masing anggota barisan. Tak lama kemudia, otaknya yang cerdas mampu meraba arah pergerakan lawan. Rupanya barisan ini pergerakannya berdasarkan pat-wa (segi delapan), masing-masing orang bertugas menjaga posisinya masing-masing. Ibarat sepotong kayu bundar di bagi delapan dan masing-masing menjaga bagian kecil tersebut. Demikian juga dengan barisan ini, dengan terdesentralisasinya pertahanan, kekuatan barisan ini susah untuk di tembus. Satu-satunya cara untuk menembusnya adalah dengan menghancurkan salah satu bagian pertahanan barisan tersebut. Demikianlah kesimpulan Li Kun Liong dan langsung dilaksanakannya, di cecarnya salah seorang anggota barisan yang menjaga posisi depan. Dengan ilmu langkah-langkah ajaib, tubuhnya kadang-kadang berkelabat ke belakang, tapi tiba-tiba bisa berbalik seratus delapan puluh derajat sehingga pergerakannya susah di tebak lawan. Memang ilmu langkah ajaib yang dimainkan Li Kun Liong ini, menyandarkan keajaibannya dari pergerakan yang terkesan kacau balau tersebut, padahal sejak tadi lawan yang di serangnya selalu lawan yang berada di depan kirinya. Namun karena pergerakan yang simpang siur tersebut, anggota-anggota yang lain dan Ceng Han Tiong tidak menyadari strategi tersebut, kecuali anggota yang dicecar Li Kun Liong.

Suatu ketika, saking tidak tahan di serang sedemikian rupa, anggota barisan tersebut tidak mampu menahan tutukan jari sakti Li Kun Liong di pundaknya. Tanpa dapat di cegah, tulang pundaknya hancur terkena jari sakti Li Kun Liong yang mengandung delapan bagian tenaga dalam. Sambil sempoyongan menahan sakit, anggota barisan tersebut berusaha kembali ke posisinya, sedangkan anggota yang disebelahnya berusaha mengisi possisi lowong tersebut. Namun dengan kesebatan yang luar biasa, Li Kun Liong mendahului lolos jaringan kepungan barisan pertahanan tersebut.

Ibarat macan yang lolos dari kandang, Li Kun Liong dengan mudah menyerang balik kawanan tersebut. Satu demi satu dirubuhkannya. Ceng Han Tiong sendiri tidak dapat berbuat apa pun, selain pergerakan Li Kun Liong yang sangat lincah, dia terhalang oleh barisan kawan-kawannya sendiri yang menjadi kacau karena kehilangan beberapa orang.

Li Kun Liong sendiri tidak menurunkan tangan jahat, dia hanya merubuhkan lawannya tanpa mengambil jiwa mereka. Di samping tidak tega, dia merasa sayang dengan kelihaian barisan ini. Dia tahu tidak mudah membentuk barisan sekompak ini, diperlukan ketekunan dan latihan yang bertahun-tahun untuk menyempurnakan barisan pertahanan tersebut.

Di lain pihak, pertempuran antara Tong-tang-lang dan Tiong-Pek-Tojin berlangsung seru. Selain mengandalkan ilmu andalannya yang beracun, Tang-lang-kun (ilmu silat belalang), Tong-tang-lang juga menguasai ilmu pedang seperguruan dengan Li Kun Liong dan ilmu silat aliran Kay-Pang yang berhasil dikuasainya selama menjadi salah satu tiang-lo Kay-Pang. Di waktu muda, Tong-tang-lang pernah dikalahkan guru Tiong-Pek-Tojin, Kiang-Ti-Tojin. Namun Tiong-Pek-Tojin sebagai salah satu ketua tujuh partai utama, sudah mewarisi seluruh ilmu silat Bu-Tong-Pai. Dalam partai Bu-Tong-Pai sendiri, ilmu silatnya paling tinggi bahkan sudah menyamai Kiang-Ti-Tojin.

Selama puluhan jurus, masing-masing pihak berimbang, serang menyerang berlangsung seru. Ilmu pedang Bu-Tong-Kiam-Hoat di lawan Tong-tang-lang dengan ilmu pedang perguruannya. Walaupun belum menguasai tingkat tertinggi ilmu pedang tebang perguruannya, Tong-tang-lang mampu melayani Bu-Tong-Kiam-Hoat yang termashyur tersebut. Di lain pihak, Tiong-Pek-Tojin juga berhati-hati dengan ilmu Tang-lang-kun yang dimainkan Tong-tang-lang. Di samping gerakannya aneh, hawa pukulan tersebut juga mengandung racun belalang yang sangat berbisa. Cukup tergores sedikit saja, lawannya dalam waktu singkat dapat binasa keracunan.

Sementara itu, pertempuran antara Sin-Kun-Bu-Tek dengan Siang-Jik-Hwesio dan Kam-Lokai sudah mencapai tahap akhir. Dikerubuti dua orang tokoh utama persilatan Tiong-goan, Sin-Kun-Bu-Tek harus mengerahkan ilmu Thian-Te-Hoatnya sampai tingkat ke delapan untuk menekan lawan-lawannya. Dalam pertempuran di Shao-Lin, sewaktu melawan Master The-Kok-Liang, dia juga harus mengeluarkan tingkat ke delapan ilmu Thian-Te-Hoat dan menyebabkan Master The-Kok-Liang binasa.

Namun kali ini, dia menghadapi dua jago silat yang sekelas dengan Master The-Kok-Liang serta tenaga dalamnya belum begitu pulih seratus persen sehingga walaupun keringat sudah bercucuran di dahi Siang-Jik-Hwesio dan Kam-Lokai, dengan wajah prihatin mereka bertahan sekuatnya.

Melihat keadaan kedua tokoh ini yang gelagatnya terdesak hebat oleh Sin-Kun-Bu-Tek, Li Kun Liong memperhebat serangannya terhadap Ceng-Han-Tiong yang sekarang hanya sendirian saja.

Ceng-Han-Tiong sendiri dengan nekat melawan serangan Li Kun Liong sekuatnya. Ilmu Thian-Te-Hoat tingkat ke enam yang baru dikuasainyapun telah dikeluarkannya, namun tidak menghasilkan apa pun. Bahkan sebaliknya, tenaga dalamnya menghantam balik akibat mengeluarakan tenaga yang berlebihan dalam menjalankan tingkat ke enam ilmu Thian-Te-Hoat tersebut. Dari lubang hidungnya keluar setetes darah yang makin lama makin banyak. Bila dia tetap memaksakan diri, nasibnya akan sama dengan suhengnya. Li Kun Liong sendiri terganggu konsentrasinya ketika melihat keadaan Siang-Jik-Hwesio dan Kam-Lokai sehingga akhirnya dia meninggalkan lawannya dan bergerak ke arah pertempuran tersebut. Begitu Li Kun liong meninggalkannya, Ceng-Han-Tiong segera jatuh terduduk kelelahan. Diam-diam dia bersyukur masih dapat lolos dari tanggan Li Kun Liong. Segera dia memejamkan mata bersamadhi untuk mengatur aliran darah yang bergolak hebat.

Begitu melayang ke arah pertempuran Sin-Kun-Bu-Tek dengan Siang-Jik-Hwesio dan Kam-Lokai, menang kalah telah ditentukan.

Diiringi lengkingan Sin-Kun-Bu-Tek yang melancarkan tingkat ke sembilan atau tingkat terakhir ilmu Thian-Te-Hoat, hawa panas pukulan sakti tersebut merobohkan Siang-Jik-Hwesio dan Kam-lokai. Kedatangan Li Kun Liong sendiri tepat pada waktunya, sambil melayang, di sambutnya pukulan tingkat ke sembilan tersebut dengan seantero tenaga dalamnya.

“Dukk…Daar!” benturan dahsyat menguncang pertempuran di sekitarnya dan membuat mereka yang sedang bertempur segera menghentikan pertempuran. Hawa yang sangat panas menerpa puluhan langkah jauhnya.

Dengan terkesima mereka menyaksikan ke empat tokoh tersebut rubuh. Siang-Jik-Hwesio dan Kam-Lokai, jatuh gedubrakan di tanah. Walaupun sebagian besar hawa panas tingkat sembilan yang menerpa mereka sudah jauh berkurang di papaki Li Kun Liong namun tetap saja beberapa bagian tenaga sakti Sin-Kun-Bu-Tek menerpa mereka berdua. Dengan wajah pucat pasi dan nafas yang tersenggal-senggal tanda menderita luka dalam yang parah, mereka berusaha bangkit dan bersamadhi mengatur aliran darah yang bergolak keras.

Keadaan Li Kun Liong sendiri sama saja, sebagian hawa panas tingkat sembilam ilmu Thian-Te-Hoat yang dilancarkan Sin-Kun-Bu-Tek menghantamnya. Dengan tenaga dalam hasil latihannya meniru posisi postur tubuh yang ada di dalam lukisan kuno, Li Kun Liong mampu menghadapi tingkat ke sembilan ilmu Thian-Te-Hoat. Namun karena belum terlalu lama berlatih, teanga dalam hasil latihannya tersebut belum dapat sepenuhnya menghadapi tingkat ke sembilan ini. Syukur tenaga dalam Sin-Kun-Bu-Tek belum pulih seluruhnya dan telah terkuras menghadapi Siang-Jik-Hwesio dan Kam-Lokai sehingga perbawa tingkat ke sembilan ilmu Thian-Te-Hoat tersebut berkurang banyak, kalau tidak Siang-Jik-Hwesio, Kam-Lokai dan Li Kun Liong pasti langsung binasa. Tenaga dalam Li Kun Liong tergempur hebat dan membuat seluruh aliran darah di dalam tubuh Li Kun Liong bergejolak keras dan membuat bagian dalam tubuh Li Kun Liong terluka hebat. Li Kun Liong memuntahkan bergumpal-gumpal darah segar, tubuhnya terasa sangat lemas tak bertenaga. Dia berusaha duduk namun tak berhasil, tenaganya benar-benar habis. Diam-diam hatinya seolah di tusuk pedang setajam sembilu, dia menyadari tenaga dalamnya telah musnah seluruhnya, begitu juga dengan ilmu silatnya. Apabila kali ini dirinya selamat, selanjutnya dia akan menjadi orang biasa., jago silat kelas kambing pun dapat dengan mudah membunuhnya.

Sin-Kun-Bu-Tek sendiri bukannya tidak apa-apa, diluaran dia masih berdiri tegak, wajahnya tak menampilkan perubahan apa pun. Tapi tidak ada yang mengetahui, keadaanya sebenarnya tidak kalah parah dengan lawan-lawannya. Kekuatan tenaga dalam tiga orang tokoh kosen dunia persilatan kangouw mampu menghancurkan pertahanan tingkat ke sembilan ilmu Thian-Te-Hoatnya. Sewaktu hawa panasnya di tangkis Li Kun Liong, serangkuman tenaga gabungan Siang-Jik-Hwesio dan Kam-lokai menerobos hawa pertahanan dan menghantam tubuhnya dengan telak. Seperti Li Kun Liong, tubuh bagian dalam ikut terguncang hebat dan membuyarkan sebagian besar tenaga dalam yang dilatihnya berpuluh tahun. Kalaupun dia masih bisa berdiri tegak, semata-mata karena keteguhan hatinya. Sebisa mungkin Sin-Kun-Bu-Tek menahan gumpalan darah yang hendak keluar. Hal ini menyebabkan dirinya langsung meninggal dunia sekembalinya ke Persia.

Tong-tang-lang menghampiri Sin-Kun-Bu-Tek dan menopang tubuh Sin-Kun-Bu-Tek dari samping, hanya dia yang tahu keadaan sebenarnya Sin-Kun-Bu-Tek.

“Segera perintahkan pasukan kita mundur” bisik Sin-Kun-Bu-Tek lirih.

Tong-tang-lang menganggukkan kepalanya perlahan. Dia tahu ini adalah strategi terbaik untuk saat ini sebelum kaum persilatan kangouw menyadari kelemahan mereka.

Keadaan Tong-tang-lang sendiri cukup runyam. Pertempurannya dengan Tiong-Pek-Tojin berlangsung seimbang dan berjalan ratusan jurus hingga membuat keduanya sangat kelelahan. Masing-masing pihak mendapat luka di pundak akibat pukulan lawan., walaupun tidak parah namun mengurangi kecepatan gerakan ilmu silat masing-masing. Begitu pula keadaan Ceng-Han-Tiong, Thi-kah-kim-kong dan Hek-houw tidak lebih baik dengan keadaannya.

Demikianlah pertempuran ini berakhir dengan mundurnya pihak partai Mo-Kauw dari Tiong-goan, kembali ke markas mereka di Persia. Hasil pertempuran ini hampir sama dengan kejadian lima puluh tahun yang lalu. Sejarah kembali berulang. Dalam beberapa bulan ke depan, dunia kangouw akan kehilangan Siang-Jik-Hwesio, Kam-Lokai. Jago muda yang paling cemerlang sepanjang ratusam tahun sejarah dunia persilatan, Li Kun Liong, musnah ilmu silatnya dan menjadi orang biasa. Pihak kaum dunia persilatan sendiri tidak menghalangi kepergian pasukan Mo-kauw. Mereka juga berpendapat ini adalah jalan terbaik untuk menghindari kerusakan yang lebih parah.

Liok In Hong sendiri segera memburu ke arah Li Kun Liong dan membantunya bangun. Hatinya sangat khawatir melihat keadaan Li Kun Liong yang pucat pasi. Dibersihkannya ceceran darah di sekitar wajah dan sekujur badan Li Kun Liong. Dirinya semakin cemas ketika melihat sinar mata Li Kun Liong yang biasanya tajam mencorong, sekarang buram seperti lentera yang kehabisan minyak. Butir-butir air mata berjatuhan di wajahnya yang cantik rupawan. Penderitaan Li Kun Liong dirasakannya sebagai penderitaan sendiri. Dia memahami bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Li Kun Liong sendiri sudah tidak fokus lagi dengan keadaan sekililingnya, sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya, dirinya termenung sendiri tanpa memperdulikan siapa pun. Rasa sakit di tubuhnya tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya. Kepunahan ilmu silat mengusik rasa putus asanya dan menorehkan luka dihatinya. Entah bagaimana dia melanjutkan hidupnya tanpa ilmu silat.

Li Kun Liong bangkit perlahan-lahan, dia ingin meninggalkan termpat ini sejauh-jauhnya. Untuk sementara ia ingin menyendiri, jauh dari semua orang. Liok In Hong sendiri sedikit tertegun melihat raut wajah Li Kun Liong. Tanpa sepatah kata pun, raut wajah tersebut sudah mengungkapkan semua. Liok In Hong tidak berani menghalangi kepergian Li Kun Liong. Walaupun bibirnya bergerak-gerak ingin memanggil, tapi dia cukup sadar untuk tidak mengejar Li Kun Liong. Ditatapnya kepergian pemuda itu hingga hilang di kelokan jalan, pecik hangat segera mengembang kembali di kelopak matanya. Dilepaskannya kepergian pujaan hati tercinta dengan ikhlas, tak ada lagi tangis, apalagi sedu sedan dari sudut matanya. Hanya tatapan cinta kasih dan senyum keharuan.
Sang pemuda melangkah dengan penuh keputusasaan, menghilang dikegelapan malam. Malam itu, hanya sepenggal bulan bergelayut di awan. Angin berhembus lirih, burung malam pun enggan bersenda gurau. Senyap dan kelam membalut kesunyian. Sekelam suasana di puncak bukit ini.
Liok In Hong terdiam, sepasang matanya mengiringi kepergian Li Kun Liong dengan kehampaan yang tiba-tiba menyergapnya. Kepergian Li Kun Liong yang mendadak membuat hatinya berasa hampa. Perlahan-lahan Liok In Hong juga pergi meninggalkan tempat ini, dia mengambil arah yang berlawanan. Tubuhnya yang ramping segera hilang di telan kegelapan malam. Ia masih menyimpan sedikit harapan bertemu kembali Li Kun Liong di kemudian hari.
7. Epilog

Gedung markas Thian-San-Pai nampak remang-remang di sinari cahaya rembulan dan bintang-bintang yang kelam, sekelam suasana hati sang gadis di dalam salah satu kamar gedung tersebut. Tangisan lirih gadis itu menyibak kesunyian sang malam yang hampir sirna, ditemani angin malam sesosok tubuh ramping milik seorang gadis muda yang cantik manis bagaikan bidadari, berdiri di pinggir jendela, tengah memandang cahaya rembulan yang redup.
Gadis itu tak lain tak bukan adalah Cin-Cin. Tangan lembut berjemari lentik tersebut memegang sebuah sapu tangan yang sesekali menyeka butir-butir air mata yang meleleh di pipinya yang halus. Kesunyian malam itu menambah kerawanan hatinya. Pikirannya melayang menerawang jauh terbang melintasi awan tanpa arah dan tujuan. Dalam lamunannya, terbayang wajah seorang pemuda. Katanya dalam hati “Entah di manakah Liong-ko sekarang, tahukah dia perasaanku ini?”

Semenjak setahun yang lalu, setiba dirinya di rumah, didapatinya sang ibu tersayang berbaring lemah di pembaringan. Wajahnya pucat tak berseri, sinar matanya hampa tanpa sinar-sinar kehidupan sama sekali. Melihat kedatangan puteri kesayangan, terpercik sedikit sinar kehangatan di balik sorot mata tuanya. Kepergian mendadak sang suami tercinta dan minggatnya Cin-Cin telah menghantam seluruh pertahanan nyonya Cen Hui Lan yang berusaha ditahannya selama ini. Hanya dalam waktu singkat tubuhnya menjadi kurus dan gairah hidupnya perlahan-lahan padam. Hanya berselang beberapa hari setelah kepulangan Cin-Cin, nyonya Cen Hui Lan meninggalkan dunia yang fana ini. Di tuntun sang suheng, sambil tersungguk-sungguk hingga matanya merah, Cin-Cin memperabukan ibu tersayang di samping sang ayah.

Demikianlah seorang diri, di malam yang sunyi itu, mengawasi bayangan pepohonan, menghabiskan malam. Hatinya berkecamuk, menahan kerinduaan hati pada sang kekasih pujaan. Namun dia tahu, harapan untuk bersatu bagaikan menantikan matahari terbit dari sebelah barat. Pernikahannya dengan Tang Bun An hanya tinggal hitungan hari saja. Sebagai putri yang berbakti kepada kedua orang tua, sambil memendam kepedihan, Cin-Cin akhirnya bersedia menikah dengan sang suheng, Tang Bun An, sesuai keinginan terakhir kedua orang tuanya. Dengan berbuat demikian, Cin-Cin seolah-olah ingin menebus rasa bersalahnya kepada kedua orang tuanya. Dia menyalahkan diri sendiri yang malang dan egois, hanya mempedulikan diri sendiri tanpa peduli dengan kesedihan sang ibu yang ditinggal sang ayah.
— 000 —
Seorang pemuda berwajah tampan dengan raut muka sedikit kepucatan dan sinar mata yang buram, berdiri di atas puncak perbukitan. Puncak ini tidak begitu tinggi namun jarang didatangi manusia. Selain terjal dan licin, letaknya cukup tersembunyi dari pandangan, ditutupi puncak-puncak yang lebih tinggi. Tempat ini adalah tempat di mana dia merawat luka dan mempelajari ilmu langkah-langkah ajaib. Tak disangka, dalam waktu singkat dia kembali lagi ke tempat ini.
Selama dua bulan belakangan semenjak kedatangannya di puncak itu, berkat pengetahuan pertabibannya yang tingi, kesehatan Li Kun Liong berangsur-angsur membaik. Hanya saja, seperti dugaannya semula, ilmu silatnya punah, begitu pula tenaga dalam yang dilatihnya semenjak kecil. Boleh di bilang Li Kun Liong sekarang dengan Li Kun Liong beberapa bulan yang lalu bagaikan bumi dan langit. Gairah hidupnya telah hilang seiring kepunahan ilmu silatnya.
Sambil merawat luka yang diderita, Li Kun Liong mengelilingi lembah sekitar untuk mencari tanaman-tanaman obat. Ternyata lembah tersebut kaya dengan tanaman obat yang beraneka ragam jenis dan khasiat. Berkat pengetahuannya selama belajar dengan sang sucouw, si tabib sakti, Li Kun Liong dapat membedakan semua tanaman obat yang ditemukannya. Ada beberapa macam tanaman yang tak dikenalnya namun dengan membuka kitab warisan pertabiban warisan yang berisi penjelasan ribuan tanaman-tanaman obat yang pernah ditemui si tabib sakti, dia dapat mengetahui nama dan khasiat tanaman tersebut.
Demikianlah hari-hari ke depan dihabiskan Li Kun Liong dengan memperdalam ilmu pertabiban. Dia memutuskan untuk mengasingkan diri di lembah ini selamanya, jauh dari dunia kangouw.
Hanya satu hal yang masih mengayutinya, keberadaan sang kekasih hati, Siau-Erl. Kerinduan mulai merayapi dan mengerogoti jiwanya. Maafkan aku Siau-Erl, semoga engkau menemukan pemuda yang lebih baik, tidak seprti dirinya yang tak berdaya ini, doanya dalam hati buat sang kekasih….
Terima kasih untuk saat-saat indah yang kita nikmati bersama…
Terima kasih untuk setiap pertemuan yang kita lalui bersama…
Kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini biarlah untukku sendiri…
Maafkan telah memungkirimu, demi kebaikanmu…
Malam menggantung sepi di tiap batang-batang pohon, gelap yang menyeramkan menjaga pintu lembah dan keheningan menyeruak masuk kedalam relung hati Li Kun Liong. Diperhatikannya rembulan yang tersenyum penuh makna mengundang hasrat keinginan sang malam.
Rembulan perlahan mendekati Li Kun Liong lewat cahayanya yang indah membelah kegelapan dan duduk disebelah Li Kun Liong menjadi bayang-bayang dan ikut menemaninya menghabiskan malam. Li Kun Liong menoleh dan mendapati bayang rembulan menjelma bersanding dengannya. Perlahan dia bangkit menyentil pegal yang hinggap dan berjalan menuju gua tempat tinggalnya yang terbuka menantang malam….
Cahaya rembulan depan pagar perigi
Sudahkah embun beku, menutupi bumi
Dongakkan kepala, ternyata terang bulan
Begitu menunduk, rindu kampung halaman———
T A M A T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s