Sumber : Lupa aku

Pengarang: S.Wolf

Sinopsis:
721
Sebuah novel cerita cinta erotis. Kehidupan Jason Ramsey berubah selamanya ketika ia menyelamatkan seorang pria tua aneh dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, dan ia diberi hadiah dengan sebuah ‘amulet’ yang memberikan dia kemampuan menjadi tak terlihat.

Bisakah dia menggunakan kemampuan ini untuk mendapatkan hati Becky sang cheerleader, gadis impiannya yang bahkan tak kenal siapa Jason itu? Atau itu akan membuka matanya untuk seseorang yang sudah ada dihadapannya?

Amulet ini akan membawanya pada perjalanan erotis tentang penemuan diri, membiarkan dirinya untuk berbagi rahasia lainnya, dan akhirnya mempelajari apa yang sebenarnya paling penting. Ini berujung pada klimaks yang menarik, di mana Jason harus menghadapi tantangan untuk menyelamatkan seseorang yang ia cintai.

“Amulet adalah novel yang HARUS dibaca! Karakternya ditulis dengan baik, terutama karakter utama, Jason. Penulis melakukan pekerjaan yang sangat baik untuk menciptakan sebuah thriller erotis yang seksi dan juga merangsang. Jason, sebagai tokoh utama sangat menyenangkan dan menarik pembaca ke dunianya yang penuh intrik dan ketidak senonohan. Sepanjang cerita, pembaca dibawa dalam ketegangan ketika dia menghadapi sebuah ajimat dan cinta yang kuat.” Angeldove

“Novel ini mengejutkan aku karena ditulis dengan baik, karakter yang masuk akal, plot yang menarik. Lebih dari sekadar novel erotis, seks adalah bagian sekunder dari cerita untuk pengembangan karakter. Ceritanya sangat bagus hingga aku membacanya ulang, bukan sesuatu yang akan aku lakukan pada novel erotis lain. Menjadi orang yang romantis, aku juga menyukai akhir cerita yang umumnya bahagia, tapi aku ingin tahu tentang percakapan terakhir antara Jason dan Becky, apa yang sebenarnya mereka bicarakan.” EdwinT53

“Aku telah merekomendasikan Amulet kepada beberapa teman dan aku tak sabar untuk bertemu mendiskusikannya. Aku akan posting review-ku di Amazon dan Goodreads juga. Aku benar-benar suka novel ini.

Pelajaran hidup didalam cerita ini sangat bermakna, karakter berkembang dengan baik, adegan erotisnya cukup panas, naik turunnya ketegangan yang tertanam dalam cerita cukup untuk menahan minatmu selain adegan erotisnya” readin Chillin.

Amulet Bab 1
Amulet Bab 1

Jason menatap benda di tangannya, terpesona dengan benda berkilauan yang sedikit bercahaya di bawah permukaannya yang mengkilap dan halus berwarna hitam. Jantungnya masih berpacu atas peristiwa yang baru saja terjadi, dan napasnya akhirnya kembali teratur. Dia selalu bertanya-tanya bagaimana ia akan bereaksi dalam situasi krisis, dan sekarang ia tahu.

Beberapa menit sebelumnya, ia memutuskan untuk berhenti di perpustakaan dalam perjalanan pulang dari sekolah, membutuhkan sebuah buku untuk menyelesaikan penelitiannya untuk pelajaran sejarah yang harus dikumpulkan Senin depan. Sedikit kutu buku, dia bekerja keras untuk mendapatkan nilai A semua pada tahun terakhirnya, membutuhkan beasiswa untuk bisa kuliah.

Berdiri di pojok menunggu lampu berganti, pikirannya mengembara pada Becky Johnson. Becky telah pindah ke kota ketika mereka di kelas 10, dan sejak itu Jason naksir padanya. Cantik dan atletis, ia segera bergabung dengan kelompok elit di sekolah, menjadi seorang cheerleader dan anggota tim renang. Dan meskipun ia telah berbagi banyak kelas dengan Becky selama dua tahun terakhir, dia mungkin tak kenal sama sekali padanya. Dia selalu berjuang untuk menjaga nilai-nilainya tetap tinggi di mata pelajaran yang mereka sama-sama ambil, dan tahu alasannya adalah karena dia menghabiskan setengah waktunya di kelas mendengarkan guru, dan setengah lainnya menatapnya.

Dia begitu asyik melamun tentang Becky, ia tak melihat orang tua memakai topi shuffle melewatinya, masuk ke jalan. Tapi saat ia membayangkan bagaimana Becky tampak seksi dengan rok cheerleader-nya, sesuatu telah mengganggu otaknya, menuntut perhatian. Realitas akhirnya menang, dan ia menyadari apa yang dilihatnya: Seorang pria tua sedang menyebrangi jalan di depannya, sudah berada lebih dari setengah jalan. Dari kanan, ia bisa melihat sebuah truk pickup besar mendekat, datang dengan cepat dan tak menunjukkan tanda-tanda melambat.

Selama sepersekian detik, Jason tahu apa yang dia akan lihat; orang tua itu akan mati, dan dengan kondisi yang mengerikan. Tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, ia bergerak. Dia belum pernah beremain satu olahraga yang terorganisir, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, tubuhnya telah berubah dari seorang pendek dan kurus saat freshman, menjadi murid senior yang tinggi, bugar dan ramping berotot, tumbuh otot di mana sebelumnya ia tak memilikinya. Dan sekarang ia menggunakan semuanya, berlari menyeberang jalan lebih cepat dari yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Tapi itu rasanya lambat baginya. Rasanya seperti sedang berjalan di pasir hisap, dan truk itu terlalu dekat pada orang tua itu – dan sekarang dia juga – bisakah ia keluar dari jalan tepat waktu? Pria itu masih jauh, dan dia hampir bisa merasakan panas datang melalui bumper depan truk.

Tiba-tiba, semuanya menjadi bertambah cepat. Dia melompat ke arah orang itu, bertujuan untuk menubruk punggungnya, memeluknya dan berguling ke depan. Detik berikutnya mereka berdua tergeletak di trotoar, dan Jason bersumpah ia merasakan bumper truk menyerempet sepatu kanannya, membunyikan klakson dengan keras tapi tak pernah melambat.

Orang tua itu mengerang kesakitan, dan Jason menyadari bahwa ia berbaring diatasnya. Dia segera berlutut dan membungkuk memeriksa orang itu.

Jason bernapas keras, tapi masih mampu berkata sambil terengah, “Apakah anda baik-baik saja?” Sambil memegang bahu pria itu.

Sebuah erangan kecil adalah satu-satunya jawaban.

“Maaf jika aku menyakitimu,” lanjut Jason, “tapi truk itu … datang dengan cepat-Dan anda-”

Mata pria itu terbuka, dan ia menatap berkeliling, sedikit bingung tapi menunjukkan tanda-tanda mendapatkan kembali kesadarannya.

“Apa yang terjadi?” Katanya dengan suara lemah.

“Ada sebuah truk datang mendekat,” kata Jason, kata-kata mengalir keluar, “dan anda berada di tengah jalan, dan aku tak berpikir … dan aku benar-benar minta maaf jika aku menyakitimu…”

Pria itu mencoba bangkit, tetapi Jason menahannya dengan kuat ke bahunya.

“Tolong Pak, tetaplah di sana, dan aku akan minta bantuan seseorang untuk memanggil ambulans.” Sekelompok kecil penonton mulai berkumpul di sekitar mereka.

“Tidak,” jawab orang itu, suaranya sedikit lebih kuat sekarang, “Aku akan baik-baik. Hanya sedikit sakit saja. Dimana topiku?”

Jason hampir tertawa, berpikir itu lucu bahwa orang ini lebih khawatir tentang topinya ketika dirinya sendiri terbaring di trotoar. Jason melihat sekeliling, tapi tak bisa menemukannya. Dia akhirnya melihat di bawah orang itu, dan menariknya keluar. Topinya jadi pipih dan ia berusaha untuk mendorongnya kembali ke bentuk semula sebelum menyerahkannya kembali.

“Tolong bantu aku berdiri,” kata pria itu, setelah menempatkan kembali topi yang sudah cacat itu pada kepalanya.

“Anda yakin?” Jason jawab, kekhawatiran di wajahnya.

“Bantu aku ke bangku yang di sana. Aku hanya butuh mengatur napasku.”

Setelah sedikit upaya dari keduanya, Jason akhirnya membantu orang itu duduk di bangku, dan kerumunan kecil yang menonton mereka mulai bubar.

“Duduklah di sini di sampingku, nak,” kata pria itu, “Aku ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang kau lakukan. Siapa namamu?”

“Jason. Jason Ramsey. Dan terima kasih kembali. Tapi aku tadi benar-benar tak berpikir ketika melakukan itu, jadi…”

“Keberanian seperti itu tak memerlukan pikiran,” jawab orang itu, “mereka hanya melakukannya.” Dia menambahkan, “Aku Malchediel.”

“Senang bertemu anda Mr. Malchediel,” kata Jason, dan mengulurkan tangannya.

“Hanya Malchediel,” kata pria itu, mengambil tangan Jason dan menggenggamnya erat-erat. Mata Malchediel yang biru cerah terfokus pada remaja itu, dan menatapnya begitu intens, ia sepertinya menatap menembus dirinya.

“Ok, emm, Malchediel,” kata Jason, sedikit bingung dengan cara pria itu menatapnya. Dia masih meremas tangannya, lebih lama dari jabat tangan harus berlangsung. Dan jauh lebih keras juga, terutama dari seorang tua yang baru saja roboh.

“Berapa umurmu nak?” Tanya Malchediel.

Jason pikir ini jadi semakin aneh, tapi mejawab, “Baru delapan belas tahun.”

Tatapan orang tua itu berlangsung sedikit lebih lama, dan ia tampaknya mengambil keputusan.

“Perbuatan besar dari keberanian pantas mendapat balasan yang besar, apakah kau setuju Mr. Ramsey?”

Jason tampak merasa malu. “Aku tak ingin uang.”

“Bagus, karena aku juga tak akan menawarkan uang.”

Jason mukanya berbalik berwarna merah terang. “Maaf, aku tak bermaksud…”

“Uang bukanlah hadiah yang besar,” lanjut Malchediel, “tapi ini.” Dia merogoh sakunya dan mengambil suatu benda. Dia memegang tangan Jason dalam genggamannya, menempatkan benda itu ke telapak tangannya, dan menutup jari-jari remaja itu hingga membentuk kepalan.

“Anda benar-benar tak harus memberiku…” Jason mulai.

“Tapi ingat nak,” orang itu terus melanjutkan, seperti Jason tak sedang bicara, “kekuatan tanpa kebijaksanaan adalah kombinasi yang berbahaya.

Jason tak yakin apa yang orang tua itu sedang bicarakan, sehingga ia berkata “Terima kasih” dengan nada suara sedikit bertanya.

Orang tua itu menganggap ini lucu, dan tertawa lepas. Dia memang tampaknya telah pulih dari penderitaannya.

“Oh, kau memang akan berterima kasih padaku,” kata Malchediel, masih tersenyum, dan setelah jeda menambahkan, “nanti”. Ini membuatnya tertawa lagi.

Dengan ini, ia bangkit dari bangku, jauh lebih bugar dari seorang tua yang baru saja dijatuhkan ke trotoar beton.

“Aku harus pergi sekarang,” katanya, membetulkan topinya yang rusak, “tapi terima kasih sekali lagi atas tindakanmu yang berani.”

“Sama-sama,” jawab Jason, berdiri juga, “Dan terima kasih atas … eh … hadiahnya. “Dia melambaikan tangannya yang tertutup dan tersenyum.

“Senang bertemu denganmu Jason,” kata Malchediel, dan berbalik untuk pergi. Lalu ia berbalik dan berkata, “Oh, satu hal yang sangat penting. Pertama kali kau menggunakannya, kau harus berada dalam kamarmu, sendirian” Dia memberi Jason satu senyum misterius terakhir, dan berbalik dan berjalan menjauh, tak melihat ke belakang.

Jason melihat dia pergi, dan ketika orang itu berbelok, ia kembali duduk di bangku dan membuka tangan terkepalnya, melihat hadiah yang diterimanya. Ini adalah semacam kalung. Melekat pada rantai perak tipis adalah sebuah batu berbentuk titik air mata berwarna hitam, berukuran panjang sekitar dua inci dan satu inci lebarnya.

Dan meskipun batunya berwarna hitam, ketika ia melihat lebih dekat, sinar matahari berkilauan di sepanjang permukaan dan sepertinya mengeluarkan warna dari interiornya. Tampaknya seolah-olah lautan warna yang berputar-putar di dalamnya, perpaduan warna merah, hijau dan biru, berputar dan bergulung antara satu sama lain. Dia belum pernah melihat benda yang seperti ini.

Dia memegang di antara jari-jarinya dan mengusap, merasakan permukaan licin ketika di sentuh. Ini mengingatkannya pada batu-batu yang dipoles yang bisa dibeli di salah satu stan suvenir kaki lima. Tapi ini jauh lebih bagus, jauh lebih berwarna, dan dia bersumpah ia bisa merasakan sedikit getaran saat ia memegangnya. Ah, ini pasti hanya imajinasinya. Dia mungkin masih gelisah karena kejadian barusan yang hampir membuat dirinya terbunuh.

Dia ingin memakainya, dan menemukan pengaitnya, membukanya, dan hendak meletakkannya di lehernya ketika ia ingat peringatan orang tua itu yang mana harus sendirian ketika memakainya. Ia mempertimbangkan untuk tetap memakainya, tapi teringat sorot mata orang tua itu, dan memutuskan lebih baik ia menunggu saja. Sambil menggenggam kalung itu erat-erat di tangannya, ia pulang ke rumah, perpustakaan dan buku yang ia cari benar-benar terlupakan.

Amulet Bab 2
Amulet Bab 2

Lima belas menit kemudian Jason duduk di tempat tidur dengan pintu kamar terkunci, meskipun orang tua dan adik perempuannya keluar ke suatu tempat. Dia membolak-balik batu di tangannya berulang-ulang, saat jemarinya menyentuh permukaannya halus, mengamati pusaran warna yang ada di bagian dalamnya. Bahkan meskipun jauh dari sinar matahari, warna-warna masih ada di sana, seolah-olah batu itu diisi dengan cairan kental bercahaya.

Jari-jarinya sedikit gemetar ketika ia menemukan dua ujung dari pengaitnya, dan menaruh di lehernya. Dia tak yakin mengapa dia merasa gugup. Itu hanya hadiah konyol dari seorang pria tua konyol, yang mungkin pikun, atau paling tidak bingung akibat terhempas ke tanah. Tak ada yang terjadi ketika ia memakainya.

Kedua pengait bertemu, dan ketika ia menguncinya, ia merasakan sensasi kesemutan yang hampir tak terlihat mengalir melalui tubuhnya. Dia duduk dan menunggu, untuk menunggu sesuatu yang dia sendiri juga tak yakin. Dia tak merasa perbedaan apapun. Dia mengambil napas dalam-dalam. Tidak, tak ada apa-apa.

Dia tersenyum. Oh yah, dia juga tak menginginkan hadiah dari orang tua itu. Dan orang tua tampak menikmati memberikannya padanya, sehingga paling tidak ada sesuatu yang baik dari itu. Plus, ini adalah perhiasan yang indah, dan akan terlihat bagus di lehernya. Mungkin Becky akan memperhatikan dia sekarang.

Mengingat tugas sekolahnya, ia melihat jam. Dia masih punya waktu untuk pergi ke perpustakaan sebelum tutup. Dia ingin melihat seperti apa kalung itu di lehernya, sehingga ia bangkit dan berjalan ke cermin meja rias. Pada awalnya, apa yang dia lihat tak masuk di otaknya.

Bingung, ia tahu ia melihat sesuatu yang aneh, tapi terlalu luar biasa untuk diproses. Dia menatap tercengang pada bayangan dicerminnya, atau lebih tepatnya, ketiadaan bayangannya. Karena, meskipun pakaiannya ada di sana, bergerak seolah-olah ada efek khusus aneh seperti di film, dirinya sama sekali tak terlihat.

Itu terlalu banyak untuk dipahami. Tertegun, ia mundur dari cermin hingga bagian belakang kakinya menabrak tempat tidur, dan dia duduk. Apakah ia tadi hanya lamunan apa yang telah dilihatnya? Dia yakin begitu. Karena apa yang telah dilihatnya itu tak mungkin terjadi.

Dia mengangkat tangannya di depan wajahnya. Yang dilihatnya adalah manset kemeja yang terbuka, tampak seolah-olah sesuatu berada di dalamnya, tapi tak ada di sana. Pikirannya melayang lagi, dan dia memejamkan mata. Tapi bukannya kegelapan, ia terus melihat lengan bajunya melambai di depan wajahnya. Pada beberapa titik yang hampir tak dipahami, itu masuk akal. Jika kamu bisa melihat metembus tanganmu, kau juga pasti dapat melihat menembus kelopak matamu. Tapi itu benar-benar jauh di luar logika.

Panik, dia meraih pengaitnya, meraba-raba sejenak, dan dengan cepat melepas kalung itu, melemparkannya ke atas tempat tidur. Dia menutup matanya lagi, dan kali ini kegelapan datang. Ia menutupi wajah dengan tangannya, dan ia menahannya di sana sampai napasnya tenang, dan detak jantungnya berhenti berdebar keras di dadanya.

Pikirannya akhirnya bisa memproses apa yang telah dilihatnya. Menghilang! Kalung itu membuatnya tak terlihat. Tapi bagaimana mungkin? Itu tak mungkin. Walaupun ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri, dia juga tahu apa yang telah dilihatnya. Setelah guncangan itu mereda, ia perlahan mulai menyadari bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang buruk.

Dia mengambil kalung itu lagi, dan kali ini jari-jarinya benar-benar gemetar. Dia kembali ke cermin, dan ia senang melihat bayangannya menatap ke arahnya. Memegang kalung pada kunci penjepitnya, ia sekali lagi memakainya di sekitar lehernya, menonton dirinya secara dekat di cermin.

Pada saat penjepit terhubung, tubuhnya menghilang dari pandangan. Satu detik masih ada, dan detik berikutnya sudah menghilang. Perasaan bingung datang kembali, tapi kali ini agak berkurang. Dan setelah menatap cermin untuk beberapa saat, ia bahkan berhasil tersenyum. Lalu senyumnya berubah menjadi seringai lebar.

Dia menghabiskan satu jam berikutnya di kamarnya bereksperimen dengan kemampuan barunya. Efeknya lebih mengejutkan ketika dia melepas semua pakaiannya, dan tak ada apapun ketika ia melihat ke cermin. Ia tertawa keras ketika ia mengangkat bola bisbol dari atas meja, dan menyaksikannya mengapung di sekitar ruangan, seolah-olah itu terikat tali. Ia menemukan bungkusan setengah kosong Doritos di laci teratas, dan bereksperimen dengan makanan. Ia takut ia akan melihat makanan dikunyah meluncur ke tenggorokannya, tapi yang membuatnya lega, begitu dia meletakkan sekeping makanan itu dalam mulutnya dan menutup bibirnya, itu menghilang.

Ia bermain-main dengan memasang kalung itu dan melepasnya kembali, mendapatkan senang melihat dirinya menghilang dan muncul kembali. Dia masih sibuk memainkannya ketika ia mendengar ibunya pulang di lantai bawah rumahnya.

Dia membeku, tak yakin harus berbuat apa. Tapi dia menyadari hal ini akan menjadi ujian sempurna. Jika, untuk beberapa alasan, kalung itu hanya membuatnya berpikir bahwa ia tak terlihat, dan ternyata ibunya melihat dia, dia hanya akan melihat dia berdiri telanjang di kamarnya. Agak aneh, tapi tak terlalu buruk.

Dia bergerak sepelan mungkin, dan membuka pintu kamar tidurnya. Dia berpikir untuk duduk di tempat tidur, tapi menyadari berat badannya akan menciptakan lekukan aneh dalam kasur yang ibunya akan melihat. Jadi dia hanya berdiri di depan cermin, menunggu.

“Jason!” Teriak ibunya dari lantai bawah. “Apa kau dirumah?”

Dia tetap diam.

Dia datang naik ke lantai dua, dan tahu dia akan memeriksa kamarnya untuk melihat apakah ia berada di sini dengan headphone terpasang.

Benar saja, beberapa detik kemudian kepalanya muncul melongok ke dalam kamar.

“Ja-” ia mulai, tapi ketika dia melihat ruangan yang kosong, dia berhenti.

“Hah, aku berani bersumpah aku mendengar dia bergerak di sekitar sini. Oh yah, aku pasti sudah pikun.” Kata ibunya saat ia berjalan ke kamar tidurnya sendiri.

Jason tersenyum lebar. Berhasil! Ibunya menatap kearahnya tapi tak melihatnya.

Setelah beberapa saat, ia mendengar shower di kamar mandi orangtuanya, dan mengambil kesempatan untuk berpakaian dan pergi ke luar, terlebih dulu memastikan untuk melepas kalungnya dan mengantongi di sakunya.

Dia tak bisa menahan senyumnya saat ia berjalan melalui komplek rumahnya. Menghilang! Semua orang pasti pernah bermimpi untuk bisa melakukan ini, kan? Pikirannya berpacu dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Amulet Bab 3
Amulet Bab 3

Ia tiba kembali ke rumah setengah jam kemudian, dan sedang berjalan di trotoar ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ternyata tetangganya Samantha Scott berdiri di pagar antara halaman rumah mereka, melambai padanya.

Sedikit kesal, ia mendekat untuk bicara dengannya. Sam, adalah gadis sebelah rumah. Mereka tinggal bertetangga seumur hidup mereka, dan telah bermain bersama saat balita. Tapi ketika dia menjadi sedikit lebih besar dan telah mencapai umur tertentu dan menganggap bermain dengan anak perempuan adalah ‘menjengkelkan’, Sam ia anggap jadi menyebalkan yang terus-menerus akan mengganggu dia dan teman-temannya. Dia selalu ingin bermain dengan mereka, dan akan mengikuti mereka di mana-mana. Karena ini, mereka memperlakukannya dengan buruk, dan Jason bergabung dengan ikut menyakiti Sam juga. Tapi saat mereka bertambah besar dan masuk SMU, mereka menjadi teman lagi, meskipun ia masih menganggap dia sedikit mengganggu. Samantha selalu berusaha untuk bicara dengannya, sama seperti yang dia lakukan sekarang.

Saat ia berjalan mendekat dan mendapat pandangan yang lebih baik dari dirinya, ia mengingatkan bahwa, seperti dirinya, Sam juga telah berubah selama beberapa tahun terakhir. Beberapa tahun yang lalu dia bertubuh kurus dan canggung, dengan rambut merah tebal yang sulit diatur pada tubuh tinggi kurusnya. Dia telah mengenakan kacamata dengan lensa tebal, dan karena mereka, ia dan teman-temannya memberinya julukan ‘Botol cola’.

Tapi sekarang tubuhnya sudah berisi, pinggul muncul yang mana dulu tak ada, diikuti dengan banyak lekuk feminin lain di tempat yang pas. Ia mengintip payudaranya yang terdorong keluar dari kemeja flanel saat ia membungkuk di pagar, ia yakin sudah lebih besar dari yang terakhir kali ia lihat. tak besar sekali, tapi bulat indah.

Dan dia telah kehilangan botol kola-nya. Sekitar dua tahun lalu dia beralih ke lensa kontak, dan sekarang, ironisnya, mata cerah hijau-nya adalah fitur terbaiknya. Rambutnya tak lagi liar, dan dia membiarkannya lurus melewati bahunya.

“Hei Sam,” katanya saat sambil tiba di pagar. “Lagi ngapain?”

“Nggak banyak Jason,” katanya tersenyum, “Hanya menyelesain beberapa pekerjaan di halaman sebelum orangtuaku pulang. Sedang sibuk apa sekarang?”

“Nggak banyak juga,” jawabnya, “Mengerjaian satu tugas yang harus dikumpulin minggu depan.” Dia jelas tak bisa bilang padanya apa yang sebenarnya ia lakukan.

“Ada rencana buat akhir pekan?” Tanyanya, dan dia menekan lebih dekat pada pagar, dan dia tak bisa menahan untuk menatap ke bawah dan melihat dengan jarak dekat pada payudaranya.

“Eh … nggak juga,” katanya, sedikit malu saat ia menatap ke atas dan tahu Sam telah memergokinya memeriksa tubuhnya. Tapi dia sepertinya terlihat tak keberatan. Bahkan, dia tampak semakin senang. “Pergi ngumpul dengan beberapa teman,” lanjutnya. Dia mungkin akan melakukan sesuatu dengan sahabatnya Danny, tetapi dia belajar untuk tak menyebutkan nama Danny padanya.

“Mungkin kita bisa ngumpul bareng dan ngobrol cerita kabar masing-masing,” katanya penuh harap.

“Ngobrol?” Jawabnya.

“Kau tahu,” katanya, “bicara tentang apa yang telah kita lakukan, dan bicara tentang hal-hal yang menyenangkan yang biasa kita lakukan.”

Sebuah kenangan berkelebat dalam pikirannya. Suatu hari ia dan teman-temannya keluar naik sepeda, dan Sam mengikuti mereka ke mana-mana. Mereka mencoba agar dia ketinggalan, tapi dia sama cepatnya dengan mereka. Akhirnya, Jason berhenti, turun dari sepeda, berjalan ke arah Sam yang duduk di sepedanya, dan mendorongnya dengan kasar. Sepedanya ambruk, Sam jatuh bersama dengan sepedanya, dan ia mendarat keras di tanah. “Pulanglah Botol cola!” Dia berteriak, “Kami nggak ingin kau bersama kami.” Dia dan teman-temannya pergi, tertawa dan mengabaikan tangisnya.

“Hal menyenangkan yang biasa kita lakukan?” Katanya, merasa malu.

“Ya, seperti waktu kita pergi ke sungai di hutan, dan menangkap berudu?”

“Ya, aku ingat,” katanya, berpikir keras. Itu sebelum Sam menjadi gangguan.

“Dan aku tak bisa menangkap satupun, jadi kau yang menangkap buatku?”

Dia nyengir. “Ya, kau takut pada berudu.”

“Aku nggak takut,” katanya, pura-pura marah. “Mereka menggeliat-geliat terus untuk bisa dipegang.”

“Yah, ok,” katanya, masih nyengir. “Terserah apa katamu.”

“Lihat kan?” Katanya, “Inilah sebabnya mengapa kita harus ngobrol. Jadi aku bisa menjernihkan kesalahpahaman seperti ini yang kau punya tentangku” Mata hijaunya berkilauan saat ia tersenyum.

“Ok Sam, kita akan keluar bareng.” Terpikir olehnya ia mungkin menikmatinya lebih dari yang awalnya ia kira.

“Bagus. Sekarang aku harus menyelesaikan halaman ini dan mandi sebelum tidur.”

“Ok.” Dia tak tahan mengintip sekali lagi bagaimana payudaranya menekan kencang kancing bajunya sebelum mundur dari pagar. “Sampai nanti Sam.”

“Kau juga Jason.” Dia memberi dia gelombang selamat tinggal.

Dia berbalik kembali menuju rumahnya, dan saat ia berjalan, ia menemukan dirinya berpikir tentang kata-kata terakhir Sam. Gadis ini, yang telah jadi teman bermainnya, temannya, musuhnya, dan sekarang temannya lagi, belum pernah sekalipun menjadi subyek fantasi seksualnya. Tapi sekarang, yang bisa ia pikirkan hanyalah bagaimana tubuhnya terlihat ketika di kamar mandi, penuh sabun dan licin. Dia membayangkan tangan Sam meluncur di atas kulitnya, mencuci keringat dari tubuhnya sehabis membersihkan halaman. Dia bertanya-tanya apakah jari-jarinya akan berlama-lama di putingnya lebih lama dari yang diperlukan, mencubit mereka sedikit, membuat mereka kaku. Dalam buku yang kadang-kadang ia membaca, cewek melakukan hal-hal semacam itu.

Ia berharap dapat menonton dia melakukan itu. Mengawasinya membersihkan tubuhnya yang telanjang, sekarang semua berlekuk dan menonjol di tempat yang tepat. Jadi sangat berbeda dengan apa yang dulu ia lihat. Dia berharap ia bisa melihatnya …

Dia ingat kemampuan barunya. Tentu saja! Dia berbalik kembali ke arah Sam, yang telah melanjutkan pekerjaannya, dan mengawasinya. Dia pikir dia mungkin melihat lebih banyak dari tubuh Sam segera.

Dia bergegas masuk ke rumahnya, mengatakan halo kepada ibunya, dan mengatakan ia akan ke kamarnya buat belajar. Ketika ia sampai di sana, ia menanggalkan semua pakaiannya, lalu memasang kalung itu di lehernya. Dia memeriksa cermin untuk memverifikasi apakah itu masih bekerja, dan senang bayangannya sudah tak ada.

Dia keluar dengan diam-diam ke lorong, menutup pintu, dan bergerak menuruni tangga. Ibunya sedang sibuk di dapur, dan ia mampu keluar dari pintu belakang tanpa diketahui.

Aneh rasanya berada di luar rumah dan telanjang, dan ia tak ingat kapan terakhir ia melakukannya. Dia pernah skinny-dipping dengan teman-temannya ketika mereka bersepeda ke Blue Lake ketika mereka masih anak-anak, tapi tak bisa memikirkan pernah melakukannya lagi setelah itu.

Saat ia berjalan menuju pagar antara halaman belakang, ia bisa melihat bekas kakinya yang telanjang sedang membuat cekungan di rumput. Dia yakin jika seseorang ada sekitar situ, mereka akan mengetahuinya. Melompati pagar dengan mudah, ia berjalan ke pintu belakang rumah Sam. Saat ia sampai di sana, Sam muncul di sudut rumahnya, membawa sapu dan tempat sampah, dan menuju halaman belakang gudang rumahnya.

Ketika dia menghilang ke gudang, ia mengambil kesempatan untuk membuka pintu belakang dan menyelinap ke dalam, menutup dengan pelan-pelan di belakangnya. Ia sudah berada di rumah ini sering sekali ketika ia masih anak-anak, dan tahu semua ruangan di rumah itu. Kamarnya ada di lantai atas di ujung lorong, dan ia berlari ke tangga dengan mengambil dua langkah sekaligus.

Dia baru saja mencapai kamarnya ketika ia mendengar Sam datang di lantai bawah. Dia segera mencari-cari tempat yang aman untuk berdiri – tempat di mana Sam tak akan bertubrukan dengannya secara tak sengaja. Di kaki tempat tidurnya ada meja rias dengan cermin, dan di samping itu adalah lampu lantai yang tinggi. Di antara kedua benda itu ada cukup ruang baginya untuk berdiri. Dia pindah ke tempat itu, dan mendengarkan suara yang datang dari bawah, hampir tenggelam oleh suara detak jantungnya berdentum keras di telinganya.

Dia mencoba menenangkan napasnya, berharap Sam jangan keburu masuk, karena ia yakin ia akan mendengar dia. Lega, ia mendengarnya bergerak di dalam dapur, dan ia mampu mengambil napas panjang dan menyesuaikan dirinya sendiri sebelum ia mendengar langkah kakinya menaiki tangga.

Ketika dia muncul di ambang pintu, jantungnya mulai berpacu lagi. Dia masih seperti ketika dia ada di halaman, kecuali sekarang dia sedang memegang segelas jus jeruk. Dia meminumnya, dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidurnya.

Dia tak yakin apa yang akan terjadi berikutnya, tapi Sam tak membuang-buang waktu sebelum mulai membuka pakaiannya. Menginjak bagian belakang sepatu dengan kaki yang lain, dia menarik tumit keluar dan menendang sepatunya ke pojok, kemudian mengulangi tindakan serupa pada kaki yang lain. Dia senang dia tak memilih sudut itu buat berdiri.

Tangannya turun ke kancing celana jeans-nya, membuka kancing itu, menarik ritsleting, dan mendorongnya ke bawah pahanya, membungkuk ketika jeans-nya sampai di lutut. Dia berdiri berdampingan dengannya, dan dia bisa melihat celana dalam putih muncul mengintip di bagian bawah bajunya saat dia membungkuk. Dia melangkah keluar satu kaki dari jeans-nya dan kemudian yang lain, dan melemparkan celana jeans itu ke sudut di atas sepatu. Jason tersenyum. Setidaknya Sam bukan orang yang terlalu rapi.

Kaus kaki adalah berikutnya, dan ia melihat sekilas sesuatu yang putih saat dia membungkuk. Dia mulai mengeras.

Langkah selanjutnya mengejutkannya. Dia berjalan mendekat sampai ia berada tepat di depannya, dan menyalakan lampu dimana ia berdiri di sampingnya. Ketika tangannya menggapai saklar, hanya beberapa inci dari bahunya. Lebih dekat lagi dan dia akan menyentuhnya. Ketegangannya sebagian besar langsung menghilang kekakuannya, saat jantungnya memukul-mukul dadanya lagi.

Dia pindah ke bagian depan meja riasnya, dan melihat dirinya di cermin saat jari-jarinya melepas kancing bajunya, membukanya satu per satu. Dia berdiri kurang dari empat meter dari dia, dan Jason menyaksikan dengan saksama. Ketika kancing terakhir dibuka, kemejanya sebagian terbuka dan dia bisa melihat bagian tengah bra-nya, juga putih, dan terisi penuh oleh payudaranya. Matanya terfokus pada kulit halus di bagian atas tali bra-nya, dan bagaimana lengkungan lembut membengkak ke atas dari kekangan ketat di bawahnya.

Matanya menatap ke bawah, di atas hamparan datar perutnya, dan berhenti pada segitiga putih halus dari nilon, membentang di atas gundukan itu ada sedikit tonjolan. Dia bisa mendeteksi lekukan vertikal pada gundukan itu, dan mencoba membayangkan seperti apa bibir vaginanya tampak di bawahnya. Kemaluannya mengeras lagi.

Sam melihat dirinya di cermin, seperti kebanyakan orang lakukan ketika mereka sendirian. Akan melakukan berbagai bentuk ekspresi wajah, dia menoleh bolak-balik untuk setiap sisi. Tangannya keatas dan dia menyisir rambut dengan jari-jarinya, menjauhkan dari wajahnya.

Selanjutnya, blusnya lepas, dengan cepat melonggarkan dari bahunya dan melemparkannya ke sudut tempat pakaian kotor. Dia berbalik ke arah cermin dan menangkup payudaranya melalui bra-nya, mengangkat dan meremasnya bersama-sama. Dia menahan seperti itu untuk beberapa saat, menilai bagaimana payudaranya terlihat, dan membiarkanny turun lagi.

Jason menyukai bentuk payudaranya. Ini bukan gadis yang dulu pernah menangkap berudu bersama, dan tentu saja bukan lagi ‘gangguan’ yang pernah ia perlakukan dengan kejam. Ini adalah seorang wanita, dan ia terpesona dengan bagaimana dia telah berubah ketika Jason lama tak melihatnya.

Dengan sentuhan cepat dari pengait di antara payudaranya, bra itu terbuka dan terlihat didepannya. Sam dengan cekatan melepas bra dan melemparkannya pergi, dan payudaranya bergoyang lembut oleh gerak itu, seolah-olah merayakan kebebasannya. Berdiri kokoh dan tegak, dengan areola berwarna merah muda menghadapi sedikit ke atas, dan tonjolan dari puting jelas ada ditengah-tengahnya.

Dia hampir saja mengeluarkan suara saat ia mengambil napas. Itu terlihat luar biasa. Dia telah melihat gambar wanita telanjang sebelumnya, tapi ini adalah pertama kalinya ia pernah sedekat ini dengan payudara telanjang yang asli. Penuh dan bulat, ia ingin menjangkau dan menyentuhnya. Sam berada cukup dekat sehingga akan mudah melakukannya.

Ada garis-garis samar di kulitnya karena bekas tali dari bra-nya, dan dia mengusapnya tanpa sadar dengan jarinya. Dia memegang payudaranya lagi, melakukan gerakan yang sama yang ia lakukan ketika memakai bra, menonton dirinya sendiri saat dia menekannya bersama-sama ke atas. Jason menatap dengan penuh perhatian saat putingnya mengeras sedikit, dan tumbuh memanjang. Dan kemaluannya mengejang tajam ketika ia menyelipkan tangannya ke depan, dan menemukan putingnya dengan ujung jari sambil meremas dengan lembut antara ibu jari dan telunjuk. Dia melihat Sam sedikit menggigil juga, dan ia mengangkat tangan ke rambutnya, merapikannya lagi.

Sam dengan cepat berpaling, mengaitkan ibu jarinya di sisi celana dalamnya, dan menyelinap mereka ke bawah pinggulnya, sedikit membungkuk. Jason dapat melihat sekilas ada rambut kemerahan menyembul dari bawah pantat saat ia membungkuk, dan kemudian dia meluruskan tubuhnya lagi, membiarkan celana dalamnya jatuh di kakinya. Dengan gerakan yang terlatih, celana dalamnya ditendang dan bergabung dengan teman-teman mereka di pojok kamar.

Berjalan menuju pintu, ia mengambil jubah merah muda dari gantungan di bagian belakang, dan menghilang ke lorong. Beberapa detik kemudian dia mendengar pintu lain ditutup. Itu terjadi begitu cepat, ia tak mendapatkan kesempatan yang baik untuk memeriksa pantatnya saat dia berjalan pergi.

Dia mendengar air mengalir, dan menganggap itu adalah dari shower. Dia berpikir tentang fantasinya untuk melihat tubuhnya penuh sabun, tapi tak tahu apakah itu mungkin sekarang. Dia mungkin telah mengunci pintu kamar mandi – adik perempuannya selalu melakukannya – dan bahkan jika adiknya tak menguncinya, ia tak yakin ia ingin mengambil risiko mencoba untuk membukanya sementara ia berada di sana.

Dia memutuskan dia akan menunggu di sini sampai dia kembali. Karena, dia tak membawa pakaian apapun ketika keluar, selain jubah, dan ia harus kembali ke kamarnya setelah dia selesai mandi.

Mengambil kesempatan itu, ia memutuskan untuk memeriksa kamarnya. Meninggalkan tempat persembunyiannya, satu telinganya terus mendengarkan suara di kamar mandi saat ia melihat sekeliling.

Ia berada di ruangan ini beberapa kali sebelumnya, kembali ketika mereka masih kecil. Mereka menghabiskan banyak waktu berbaring di lantai di samping tempat tidurnya bermain permainan papan dan kartu. Suatu kali mereka membangun tenda di tempat tidur menggunakan selimut dan dua sapu, dan berpura-pura mereka berkemah di hutan. Mrs. Scott membawakan sandwich dan kotak jus untuk makan siang, dan mereka memakan makanan perkemahana dalam kegelapan tenda mereka, berpura-pura ada beruang di luar dan menginginkan makanan mereka. Ketika menjadi terlalu pengap di bawah tenda, mereka menjulurkan kepala keluar untuk menghirup udara segar, berbaring berdampingan telungkup dengan tangan mereka memeluk satu sama lain.

Dia tersenyum mengingatnya. Ada banyak lagi. Sam benar dengan mengatakan mereka harus ngobrol untuk tanya kabar masing-masing. Dia membuat keputusan untuk mencoba menghabiskan waktu dengannya akhir pekan ini. Meskipun, ia tak yakin ia bisa menghadapi dia sekarang setelah melihatnya telanjang.

Sebuah bingkai foto di dinding menarik perhatiannya. Itu adalah bingkai kolase, dengan berbagai ukuran foto di dalamnya. Dia berjalan mendekat dan melihatnya dengan seksama. Mereka semua foto Sam, diambil di berbagai usia. Ada dia ketika bayi, yang digendong oleh ibunya, dan di samping itu dia pada hari pertama masuk TK, tampak culun dengan pakaian sekolah barunya. Dia sudah memakai kacamatanya saat itu, tapi belum setebal beberapa tahun terakhir.

Ada foto dirinya di pantai, dan ia menduga ia berada di kelas delapan pada saat itu. Dia mengenakan bikini mandi merah, dan bahwa tubuh kurus itu tak mungkin menjadi orang yang sama yang barusan telanjang di depannya. Di mana semua lekuk dan tonjolan berasal?

Foto berikutnya membuatnya tersenyum. Itu adalah foto mereka berdua, duduk berdampingan di ayunan yang masih ada di halaman belakang rumahnya, sekarang berkarat dan tak terpakai. Mereka sekitar umur delapan pada saat itu, keduanya berpakaian seperti bajak laut. Atau, lebih tepatnya, bagaimana mereka berpikir bajak laut akan berpakaian. Mereka memakai bandana hitam, dengan penutup mata terbuat dari karton dan tali, dan mereka telah menggunakan make-up ibu Sam untuk membuat jenggot palsu. Rambut merah Sam yang liar itu mencuat dari bagian belakang bandana, membuatnya terlihat lebih seperti ayam jago dari pada bajak laut. Ayunan mereka ditarik bersama-sama, ditahan di sana dengan tangannya meraih ke belakang punggungnya dan memegang rantai di sisi jauh. Di sisi lain, ia memegang pedang plastik kecil di atas kepalanya. Lengan Sam dengan santai melingkar di leher Jason.

Jika ia ingat benar, ayunan itu adalah kapal bajak laut mereka, dan setiap permainan bajak laut yang mereka mainkan adalah beberapa variasi dari Jason menyelamatkan dia dari bahaya. Dia telah membunuh penjahat rekaan dalam usaha menyelamatkannya, dan dia selalu menunjukkan penghargaannya dengan memeluknya erat-erat ketika ia menyelamatkannya.

Dia begitu asyik dalam kenangannya, ia tak mendengar air telah dimatikan. Dia terkejut dengan suara pintu kamar mandi terbuka, dan hampir menjadi panik. Tapi dia bergerak cepat kembali ke tempat kedudukannya semula, tepat pada waktunya saat Sam kembali memasuki kamarnya, menutup pintu di belakangnya. Sekali lagi, ia harus menenangkan napasnya sehingga dia tak bisa mendengar.

Amulet Bab 4
Amulet Bab 4

Sam sekarang mengenakan jubah merah muda, dan rambutnya dibungkus handuk biru menyerupai sorban. Itu tampak sangat cocok untuknya, dan dia pikir itu pastilah merupakan bakat bawaan seorang cewek untuk melakukannya, karena adiknya Jenny selalu tampak sama baik jika memakainya.

Duduk di atas tempat tidur, ia meminum jus jeruknya, dan melepas handuk dari kepalanya. Basah, rambutnya tampak lebih coklat daripada merah, tapi saat dia mengeringkannya dengan handuk warnanya kembali. Dia mengambil sisir dari laci dan mulai menyisir rambutnya.

Jason menyaksikan dengan tertarik. Itu tak sebagus ketika melihatnya telanjang, tapi masih tetap menarik menonton seseorang yang berpikir bahwa ia sendirian saja. Dia tampak begitu alami duduk di sana, dan ia merasa dekat dengannya.

Ketika Sam menaruh sisir itu, ia mengambil sebotol lotion kulit. Perhatian Jason langsung meningkat. Ini pasti akan menarik.

Melepaskan ikatan sabuk jubahnya, ia mendorongnya dari kedua bahunya. Jatuh kembali di tempat tidur, meninggalkan dia benar-benar telanjang. Dia duduk menyamping padanya, dan ia hanya melihat bagian sisinya, tapi tetap saja suatu profil yang indah. Payudaranya masih berdiri tegak, meskipun sekarang sedikit lebih jauh daripada tampilan close-up yang ia nikmati sebelumnya. Melihat ke bawah di antara kedua kakinya, ia bisa melihat bagian atas rambut kemaluannya, warnanya indah coklat kemerahan.

Dia mulai menyebarkan lotion pada dirinya sendiri, menuangkan ke telapak tangannya dan mengoleskan ke kulitnya. Tangannya yang pertama, dan kemudian ia pindah ke payudaranya, memegang masing-masing di satu tangan sementara tangan lainnya meratakan lotion. Dia menghabiskan waktu ekstra pada putingnya, dan ia bisa melihat putingnya mengeras lagi. Jason membayangkan dirinya menempatkan mulutnya pada salah satunya, dan merasanya mengeras pada lidahnya. Kemaluannya mengeras memikirkan itu.

Aroma strawberry dari lotion sampai ke hidung Jason, dan ia menarik napas dalam-dalam. Tangan Sam pindah ke bawah, meratakan lotion pada perutnya dan kemudian ke bagian atas kakinya. Dia harus melebarkan kakinya sedikit untuk mencapai paha bagian dalamnya, dan Jason berharap ia sedang menonton dari sisi depannya. Kaki bagian bawah berikutnya, dan dia menyandarkan pergelangan kaki masing-masing di lutut saat ia mengoleskan lotion pada kulitnya.

Dia bisa melihat Sam melakukan ini sepanjang hari, tapi ia meletakkan lotion, dan ia bertanya-tanya apa yang akan terjadi berikutnya. Apakah waktunya pakai piyama? Dia bertanya-tanya apa yang dia pakai untuk tidur.

Tapi Sam malah secara mengejutkan menata bantal, menarik penutup lampu ke bawah, dan berbaring di tempat tidur. Dia bertanya-tanya apakah dia akan tidur, meskipun sekarang baru sekitar jam sembilan. Apakah dia benar-benar tidur telanjang? Pikiran itu menggairahkannya. Tapi jika ia tidur, mengapa tak mematikan lampu?

Cara dia berbaring, Jason mempunyai sudut pandang yang bagus di antara kakinya yang sedikit terbuka. Jason hampir bisa melihat garis bibirnya di tengah rambut keritingnya. Ia berharap dapat melihat lebih dekat, tetapi memutuskan untuk tak mengambil risiko itu.

Tangannya kembali ke payudaranya, dan pada awalnya dia pikir Sam sedang menambah lotionnya lagi. Dia menangkup payudaranya dengan lembut, menelusuri jari-jarinya melingkar lembut di sekitar areola, dan untuk ketiga kalinya sejak Jason menonton, putingnya menegang menjadi keras. Dia memainkan kukunya dengan ringan di atas tonjolan kaku itu, menjentikkan dengan lembut. Napas Sam meningkat, dan Jason baru sadar apa yang sedang dilakukannya.

Dia masturbasi! Jilling off. Atau apa pun namanya ketika seorang cewek melakukannya. Penisnya, yang setengah keras, langsung jadi seperti batu. Jason sendiri telah melakukan ini sudah berkali-kali, dan dia mendengar cewek melakukannya juga, tapi ia tak pernah percaya. Tapi di sini dia sekarang, berada di barisan terdepan dalam menonton demonstrasi hal yang sangat pribadi.

Dia mencubit putingnya, memilin di antara ibu jari dan jari telunjuk. Dia mengeluarkan erangan lembut dan meremas lebih keras, pinggulnya secara refleks bergerak dalam irama lambat.

Mata Jason terbuka lebar, dan ia mencoba untuk meresapi setiap detail adegan di hadapannya. Dia ingin menyimpannya dalam memori, jadi dia bisa menariknya keluar kapan saja ia mau.

Tangan Sam meluncur ke bawah perut halus dan menyapu ikal lembut rambut kemaluannya. Dia menangkupkan gundukan itu bersamaan saat kakinya membuka sedikit lebih lebar, dan ia memegang vaginanya seolah melindunginya, tangannya bergerak dalam lingkaran kecil yang lambat.

Jari tengahnya terselip di antara bibirnya, dan dia mengeluarkan erangan tertahan. Kakinya membuka lebih lebar, dan dia menarik kakinya dan lututnya ke luar, memperlihatkan seluruh kemaluannya dihadapan Jason. Pinggulnya bergoyang dengan ritme lambat terhadap jari-jarinya, dan erangannya jadi lebih jelas.

Dia ingin lebih dekat. Sam mengeluarkan suara cukup banyak jadi suara kecil yang Jason buat tak akan ketahuan. Hati-hati ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, memastikan untuk tak membentur lampu dalam usahanya melihat lebih dekat. Mengambil langkah lambat ke depan, dia berdiri di kaki tempat tidur, menatap ke bawah antara kedua kaki Sam yang terbuka. Jarinya bergerak dalam gerakan melingkar kecil, membuat suara-suara basah yang lembut.

Dari sudut ini ia juga bisa melihat payudaranya lebih baik, mengawasi bergoyang lembut saat tubuhnya bergerak. Payudaranya sedikit jatuh kesamping, dan tangannya yang lain sibuk bergantian di kedua putingnya, mencubit dan meremas yang satu dan kemudian yang lain. Dia tak pernah tahu bahwa seorang gadis ingin payudaranya diperlakukan seperti ini, tapi yang jelas Sam menikmatinya.

Merasa lebih berani, ia memutuskan untuk lebih dekat dan diam-diam berlutut di kaki tempat tidur, membungkuk sampai dia hanya beberapa meter dari kaki Sam yang terbuka lebar. Jika dia menendang salah satu kakinya, mungkin akan tepat mengenai wajahnya, tapi itu kesempatan yang layak dicoba. Dia bisa melihat semuanya sekarang.

Jason juga mencium aromanya. Aroma seorang cewek yang terangsang bercampur dengan aroma stroberi dari lotion memenuhi penciumannya, dan ia berpikir bahwa ia belum pernah mencium bau yang begitu nikmat.

Jarinya sekarang bergerak lebih cepat, membuat suara-suara keras yang basah saat jarinya meluncur naik turun di atas tempat yang sama. Dia bisa melihat lipatan merah muda di bagian dalamnya, basah dan mengkilap dari cairannya.

Dia membungkuk lebih dekat, dan sekarang dia begitu dekat, ia bisa menyentuhnya. Dia bertanya-tanya bagaimana bereaksi Sam jika ia memindahkan jarinya pergi dan menciumnya di sana, tepat di mana jarinya berada. Rasanya terasa seperti apa?

“Ya,” kata Sam lirih, hampir tak terdengar. Itu kata pertama yang Jason dengar darinya sejak ia ada di sana.

Pinggulnya bergerak lebih cepat, menekan kembali dengan keras terhadap sentuhannya sendiri. Napasnya jadi terengah-engah, dan erangan kecil memenuhi ruangan itu. Dia mengamati jari-jarinya bertambah cepat, cairan yang basah menutupi jarinya.

“Ya, ya, ya, ya” bisiknya berulang-ulang, hampir seperti ia sedang membaca mantra.

Tiba-tiba tubuhnya menegang, otot-ototnya pengencang saat pantatnya naik dari tempat tidur. Kakinya melebar bahkan lebih luas dan vaginanya mendorong maju melawan gesekan jarinya.

“Ya ya ya oh Jason uuuhhhhhhhhhhh …” kata-katanya melemah menjadi erangan kacau saat orgasme melanda membanjiri tubuhnya.

Jason tak bisa melepaskan pandangan mata dari dia. Goncangan kenikmatan tampak jelas pada tubuhnya dan wajahnya berkerut dalam ekstasi.

Setelah beberapa saat, tubuhnya turun kembali di atas tempat tidur, kakinya meluncur ke bawah selimut. Napasnya mulai melambat, dan ia tampak seperti dalam keadaan mimpi yang menyenangkan.

Jason masih tak percaya apa yang baru saja disaksikannya. Mantan partner bajak lautnya sewaktu kecil mendapatkan orgasme yang luar biasa tepat di depannya. Dia bertanya-tanya apakah ia akhirnya akan terbangun untuk menyadari bahwa sepanjang hari ini hanyalah sebuah mimpi yang fantastis.

Napas Sam mulai teratur dan ia tahu bahwa Sam sedang dalam proses untuk tidur. Sam bergerak sekali, menggeser tubuhnya dari posisi telentang, menjadi miring dengan kaki meringkuk ke atas. Pantat Sam menghadap ke arahnya, dan ia bisa melihat seberkas rambut kemaluannya lagi. Dia tampak puas berbaring disana, napasnya memasuki irama tidur yang tenang.

Jason mengawasinya selama beberapa saat sebelum memutuskan sudah waktunya untuk pergi. Dia mengambil selimut di bagian bawah tempat tidur, dan menarik ke atas tubuhnya, menutupi sekitar bahunya. Dia bergerak sedikit, menggumam sesuatu, dan kembali tidur.

Membuka pintu dan Jason menyelinap keluar diam-diam di lorong, melihat untuk terakhir kali kearahnya sebelum menutup pintu di belakangnya.

Saat ia berjalan kembali ke rumahnya, ia mencoba mengingat apakah ia telah mendengar kata-katanya dengan benar. Apakah Sam benar-benar meneriakkan namanya ketika ia orgasme?

***

Jason merosot di kursinya, rasa bosan tampak di wajahnya mendengar suara mengoceh Mr. Crocker, guru ilmu sains-nya. Dia biasanya menikmati pelajaran ini, tapi hari ini dia punya hal lain untuk dipikirkan.

Dia tak bisa membuang kejadian tadi malam dari kepalanya. Dari kecelakaan yang hampir menimpa orang tua itu, penemuan kemampuan barunya, sampai pada apa yang telah ia saksikan di kamar Sam, itu semua berputar-putar di kepalanya. Ketika ia terbangun pagi ini, ia yakin itu hanya mimpi. Tapi ia menemukan kalung itu di tempat ia menyembunyikannya di belakang laci, dan mencobanya lagi untuk membuktikan bahwa itu semua nyata.

Dia telah berhasil kembali ke kamarnya tadi malam tanpa insiden, dan ibunya belum bangun untuk memeriksanya. Melepas kalung itu dan meletakkan di tempat tidurnya, pikirannya mengingat kembali apa yang telah dilakukan Sam dikamarnya. Penisnya menjadi keras mengingatnya, dan mulai mengesek kemaluannya. Ketika ia akhirnya keluar, dia membayangkan dirinya di antara kaki Sam yang terbuka lebar, menonton wajahnya saat dia meluncur ke dalam dirinya.

Sekarang dia ada di sini, terjebak di kelas yang membosankan, bukannya keluar bersenang-senang dengan mainan barunya. Dia menyentuh di atas tonjolan di saku celananya untuk memastikan bahwa kalung itu masih ada.

Untungnya Becky ada di sini untuk setidaknya memberikan sedikit hiburan. Dia duduk dua baris didepannya, sehingga ia memiliki sudut yang pas dari dirinya tanpa Becky sadari. Seperti biasa, ia berpakaian penuh gaya, dengan rok abu-abu pendek dan blus putih. Rambut cokelat gelap ditarik ke belakang membentuk ekor kuda yang erat, dan ia mengetukkan sepatu hak tinggi hitam tanpa sadar di lantai. Jelas Becky sama bosan dengan dirinya.

Dia mencoba membayangkan seperti apa Becky ketika telanjang, tapi setiap kali ia mencobanya, yang muncul adalah sosok Sam. Itu aneh karena mereka tak mirip secara fisik. Dimana Sam body-nya lebih berlekuk dan montok, sementara Becky ramping dan atletis. Payudara Becky tampak besar, tapi itu sebagian karena bentuk tubuh yang mungil cewek cheerleader ini.

Dia tersenyum pada dirinya sendiri ketika ia menyadari bahwa ia tak lagi harus membayangkan apapun. Dengan kalung itu, ia yakin ia bisa menemukan cara untuk melihat sendiri seperti apa Becky saat telanjang.

Dia belum melihat Sam hari ini. Mereka tak memiliki mata pelajaran yang sama semester ini, tapi kadang-kadang ia akan melihatnya di lorong-lorong. Di satu sisi ia sudah tak sabar untuk melihatnya, tetapi di sisi lain ia tak yakin ia bisa menyembunyikan rahasianya. Bagaimana ia bisa menemui Sam dan tak memberitahukan rahasianya?

Bel akhirnya berbunyi dan Jason pergi ke aula, bercampur-baur dengan orang-orang lain, dirinya tenggelam dalam suara obrolan bersemangat dan bantingan suara pintu loker.

“Jason! Hei Jason!”

Dia mendengar suara yang akrab memanggil namanya, tapi melihat sekeliling dan tak bisa menemukan orang yang memanggilnya.

“Di sini bro!!”

Dia berbalik dan melihat ke arah suara itu, dan melihat temannya Danny Mazzelli melambai kepadanya dari lokernya. Dia menuju ke sana.

Dia dan Danny berteman sudah lama, hampir sama lamanya ia dengan Sam. Mereka bergaul dengan anak lain dan tumbuh besar bersama, tapi hanya mereka berdua yang tetap berteman baik sepanjang SMA. Mereka sedikit tak cocok, tapi mungkin itu malah menambah erat persahabatan mereka. Yang mana Jason punya otak, Danny memiliki otot, dan terlibat dalam hampir setiap olahraga sekolah yang ditawarkan. Tapi di mana dia benar-benar unggul adalah football, di mana para pendukung akan meneriakkan “Double Z!” yang membuatnya mendapatkan penghargaan quarterback terbaik di negara bagian dua tahun berturut-turut, yang terakhir beberapa bulan lalu. Dia telah ditawari beasiswa, beberapa dari universitas ternama, tapi memutuskan untuk menerima tawaran universitas setempat.

Dan hal yang membedakan lainnya tentang urusan cewek. Danny akan menceritakan pada Jason tentang bagaimana cewek-cewek itu mengejar-ngejarnya, menawarkan apa pun hanya agar bisa berduaan dengan dia. Jason akan mendengarkan cerita-ceritanya dengan takjub, berharap satu gadis itu akan mengejarnya seperti itu. Danny pernah mengaku padanya bahwa itu tak terbatas pada cewek saja, dan beberapa ibu-ibu dari mahasiswi juga mendekatinya. Kaget, Jason bertanya apakah dia pernah menerima tawaran salah satu dari mereka, tapi Danny hanya menjawab dengan senyuman.

Menjadi teman Danny memiliki banyak manfaat. Pernah sekali, waktu di kelas sepuluh, beberapa pemain football senior telah mengepung Jason di kamar mandi, dan mengancam akan memasukkan kepalanya di toilet. Untungnya, seorang guru masuk, dan Jason terhindar bahwa penghinaan. Danny, yang sudah menjadi quarterback utama tim pada saat itu, mendengarnya, dan hari berikutnya tiga pengganggu itu mendekati Jason di lokernya. Dia berpikir mereka akan mempermalukan dia lagi karena gagal sehari sebelumnya, tapi terkejut ketika mereka meminta maaf padanya, dan mengatakan tak akan pernah terjadi lagi. Dia tak pernah membicarakan tentang hal itu dengan Danny, tetapi dia tahu apa yang temannya lakukan. Sejak saat itu ia tak pernah di bully lagi.

Tapi itu bukan kesepakatan satu arah. Jason menarik Danny keluar dari beberapa kesulitan juga, sebagian besar berurusan dengan membantunya lulus ujian mata pelajaran dengan nilai yang lumayan. Ketika tawaran beasiswa masuk, Danny berada dalam bahaya kehilangan semua tawaran itu jika nilainya tidak meningkat. Selama dua minggu berturut-turut, Jason mengajari Danny di rumahnya setelah sekolah, dan mereka mengerjakan PR-nya berulang-ulang sampai Danny memahaminya. Minggu berikutnya, ia melewati semua ujiannya dengan mudah, dan beasiswa itu aman ditangannya.

Tapi apa yang Jason paling hargai tentang Danny adalah sesuatu yang tak terucapkan di antara mereka. Semua cewek bisa Danny dapatkan, tapi ia tak pernah mendekati Becky Johnson. Dia tahu bagaimana perasaan Jason padanya, dan menganggap Becky terlarang. Dan sementara Danny bercerita tentang para cheerleader lainnya dan kekonyolan seksual mereka selama perjalanan bus yang panjang, dia tak pernah menyinggung apapun tentang Becky. Jason selalu menganggap bukan karena tak ada yang diceritakan tentang Becky – dia tak se naif itu – tetapi karena Danny tahu itu akan menyakiti dia mendengar tentang itu.

“Gimana kabarnya, kutu buku?” Kata Danny sambil nyengir.

“Nggak banyak, gorila,” jawab Jason, “Ada kabar baru darimu?” Mereka bertegur sapa dengan akrab, jika ada orang yang bisa dipercaya untuk memegang rahasia tentang kalungnya, itu adalah Danny. Tapi dia belum siap untuk berbagi rahasia ini.

“Hanya tentang party-ku malam ini, kau datang kan?”

“Party? Party apaan?”

“Bro!” Seru temannya, “Aku sudah bilang padamu soal itu minggu kemaren. Party besar di Blue Lake untuk merayakan beasiswa-ku. Semua orang datang lho.”

Jason berani bersumpah ini adalah yang pertama laki ia mendengar tentang party itu, tapi dia cenderung pelupa.

“Mm, ku kira aku bisa datang,” jawabnya, bertanya-tanya apakah akan ada cara untuk menggunakan kalung itu di tepi danau sana. Mungkin tidak.

“Kau harus datang,” tegas Danny, “Party itu nggak akan mungkin terjadi tanpa bantuanmu.”

Jason tampak malu. “Nggak bener.”

“Bilang aja kau datang, oke?” Tanya temannya, dan menambahkan sambil tersenyum nakal, “Dan jika kau mau, aku berjanji kau akan bercinta.”

“Apa, dan tertular semua penyakit yang kau mungkin punya?”

Danny tertawa, mengambil sebuah buku dari lokernya, dan menutupnya. Dia berjalan ke arah kelas berikutnya. “Aku tunggu di sana!” Itu adalah kata-kata perpisahannya saat ia berbalik dan bergegas menghilang dalam keramaian aula.

Amulet Bab 5
Amulet Bab 5

Akhirnya, sampai juga pada jam pelajaran ketujuh. Hanya empat puluh lima menit dari akhir pekan. Untuk Jason, jam pelajaran ketujuh adalah seperti pelajaran bebas oleh Mr. Greer. Mr. Greer adalah salah satu guru yang populer dikalangan murid-murid, tapi dia selalu menuntut siswa di kelasnya melakukan tugas mereka, dan berlaku keras pada mereka yang tak mematuhinya. Jason adalah salah satu murid favoritnya karena dia selalu melakukannya tugasnya dengan baik di kelas, menjaga nilai rata-rata tetap 4.0 sempurna.

Mr. Greer dikenal sangat toleran dengan siswa yang dia sukai, jadi dengan masih adanya tiga puluh menit tersisa sebelum bel akhir pelajaran, Jason cukup gelisah untuk segera keluar hingga ia berpikir berani mengambil risiko bertanya.

“Mr. Greer,” katanya, berdiri di depan meja guru, “Apakah boleh saya diijinkan keluar lebih awal hari ini?”

Guru itu mendongak dari kertas-kertas yang sedang ia kerjakan, mengintip dari balik kacamatanya, memberikan Jason sekilas pandangan bertanya. “Punya sesuatu yang penting untuk dikerjakan Mr. Ramsey?”

Jason mempertimbangkan untuk berbohong, tapi memutuskan untuk jujur saja. “Tidak, tidak juga. Hanya merasa perlu untuk keluar kelas.”

Mr. Greer tersenyum kepadanya, seakan menghargai kejujurannya. “Kita juga berdua sama, Jason,” katanya. “Sayangnya, ini adalah pekerjaanku untuk terjebak di sini. kau, di sisi lain, tidak menanggung kewajiban itu. Silakan, pergilah. Hanya, jangan membesar-besarkannya.”

“Terima kasih Pak,” kata Jason, dan cepat kembali ke mejanya untuk mengumpulkan barang-barangnya dan pergi.

Beberapa menit kemudian dia berjalan melintasi tempat parkir di belakang sekolah, merasa bebas dan gembira, menghadapi akhir pekan panjang untuk dihabiskan bersama kemampuan barunya. Kemungkinan itu tak ada habisnya.

Langkahnya membawanya tepat di lapangan bisbol, di mana cewek-cewek tim softball sekolah sedang berlatih. Mereka berlatih setiap hari saat ini, mendapatkan nilai pada pelajaran gym untuk semester ini, bukannya pelajaran olahraga seperti murid lainnya. Dia biasanya melihat mereka berjalan kembali ke gym saat ia pulang sekolah, menuju shower sebelum pulang kerumah.

Dia berhenti. Tentu saja! Shower! Mengapa ia tak memikirkan ini? Ini adalah kesempatan sempurna untuk menggunakan kalung itu, dan dia hampir melewatkannya. Dia berbelok menuju gym, menemukan sebuah pintu terbuka dan menuju ruang ganti laki-laki.

Ia menemukan sebuah loker yang tak terpakai di bagian belakang ruangan, di sepanjang dinding dan tersembunyi dari siapapun yang akan masuk. Dia segera melucuti pakaiannya dan menyimpannya dalam loker. Mengambil kalung dari saku celananya, ia melirik sekelilingnya untuk memastikan tak ada yang bisa melihatnya, dan memakai kalungnya. Setelah mengangkat tangannya di depan wajahnya untuk memverifikasi bahwa itu tak bisa terlihat, ia siap untuk pergi.

Dia mengira berjalan sambil telanjang di luar ruangan itu aneh, tapi itu tak seberapa dibandingkan dengan berjalan kaki telanjang di tengah gym sekolah. Ruang ganti cewek berada di ujung, dan ketika dia berjalan kesana, ia ingat bahwa hampir sepanjang waktu tempat ini dipenuhi dengan murid-murid. Dan di sini ia, telanjang dan berjalan di tempat terbuka. Meskipun ia tahu ia tak bisa terlihat, dia secara naluriah menaruh tangannya di atas kemaluannya saat ia berjalan, menutupi selangkangannya.

Ruang ganti murid perempuan disusun seperti ruang ganti murid laki-laki, tetapi berseberangan. Kantor guru ada di sisi kanan saat ia masuk, bukan sebelah kiri seperti pada murid laki-laki. Shower berada di ujung, dengan satu bagian untuk membuang hajat. Tetap ada perbedaan sedikit.

Pertama, sangat pink di sini. Dinding dan loker adalah pink, dan tampaknya seperti habis dicat baru-baru ini dibanding pada murid laki-laki. Atau bisa saja warnanya yang membuat tampak seperti itu, dengan ruang murid laki-laki dicat hijau menjemukan. Area shower juga berbeda. Bagian utama lebih kecil, dan dikelilingi oleh bilik-bilik kecil dengan pintu yang berisi shower individu. Dia menduga beberapa cewek sangat menyukai privasi mereka.

Kamar mandi sedikit berbeda juga, memiliki enam bilik bukan dua seperti pada murid laki-laki, dan tak ada urinal, itu sudah jelas. Ada juga beberapa tampon dan dispenser pembalut di dinding, dan itu mengingatkannya pada sebuah peristiwa beberapa tahun yang lalu.

Waktu itu ia kelas sembilan, dan mereka sedang bermain dodge ball di pelajaran olahraga anak laki-laki. Guru telah meninggalkan mereka sendirian, dan beberapa anak yang lebih besar yang menggoda salah satu yang lebih kecil, seorang anak aneh bernama Oscar Benton. Tapi si kecil itu berdiri mengadapi mereka. Pada satu saat ia mengklaim mereka tak memiliki separuh dari keberanian yang dimilikinya. Ketika mereka menertawakannya, dia menantang mereka untuk berjalan ke kamar ganti cewek. Mereka melirik ke arah pintu terlarang itu dengan kerutan kening di wajah mereka, dan tertawa gugup. Oscar mulai berkotek seperti ayam, yang menimbulkan tawa seluruh kelas. Tentu saja, berikutnya datang tak terelakkan, “Jika kau begitu berani, ayo kita lihat apa kau memang berani melakukannya.”

Tanpa ragu, Oscar segera beraksi, langsung menuju pintu masuk kamar mandi cewek. Jason dan seluruh anak-anak ternganga ngeri, tak pernah percaya dia akan pergi masuk ke ruang itu. Tanpa berhenti sama sekali, Oscar menyelinap masuk, dan menghilang dari pandangan.

Semuanya tertegun diam, tak percaya apa yang baru saja mereka saksikan. Mereka semua menunggu sambil menahan napas menunggu suara jeritan keluar, tapi tak ada suara. Lumayan lama juga, saat Oscar muncul kembali, meluncur keluar dari pintu itu secepat dia masuk, tapi sekarang memegang segenggam benda putih di masing-masing tangan. Ketika sampai di tengah gym, dia berteriak keras, dan melemparkan benda di genggamannya ke udara. Serempak, setiap kepala di ruang itu mengikuti gerakan benda itu ke atas, berhenti sejenak, dan kemudian kembali ke bawah sampai akhirnya mendarat di lantai gym. Barulah kemudian mereka akhirnya tahu benda apa itu, campuran dari tampon dan pembalut yang Oscar telah ambil dari dispenser, seolah-olah ia membutuhkan bukti bahwa dia telah memasuki tempat elit nan suci.

Anak-anak berkerumun di sekitar anak bertubuh kecil itu, menepuk punggung dan memberi selamat padanya. Bahkan anak laki-laki yang menggodanya ikut terkesan. Ketika seseorang menanyakan apa yang telah dilihatnya di sana, jawabnya dengan muka serius, “Ku pikir aku melihat semak.”

Oscar pindah tahun berikutnya, tapi legendanya berlanjut tanpa dia. Beberapa anak bercerita dengan mencoba membumbui dengan menambahkan bahwa Oscar mengaku ia berhenti sebentar untuk menjilat vagina seorang cewek saat berjalan keluar, tapi Jason menyaksikan sendiri jadi tahu yang sebenarnya.

Jason melihat sekeliling ruangan yang sekarang masih sepi untuk mencari tempat untuk menonton. Dengan lima belas cewek atau lebih yang akan segera masuk, kemungkinan salah satu dari mereka tanpa sengaja menubruk dia jauh lebih besar. Matanya mendarat pada baris dari blok jendela kaca pada dinding seberang, yang memungkinkan cahaya masuk ke dalam ruangan, tapi karena ketebalan dan distorsi, mencegah orang untuk bisa melihat ke dalam. Setiap bagian jendela memiliki langkan ambang yang cukup dalam, dan sekitar lima kaki dari lantai. Jika ia bisa mengangkat tubuhnya ke ambang terjauh di sebelah kiri, ia bisa duduk di sana dan memiliki sudut pandang yang sangat bagus dari kamar ganti dan kamar mandi.

Usaha pertamanya untuk naik kesana sia-sia, dengan langkan jadi sedikit terlalu tinggi dan dangkal baginya untuk mendapatkan pegangan. Dia melihat sebuah ember pel besar ada di dekat dinding kamar mandi. Membalik ember itu, ia meletakkannya di lantai di bawah jendela. Ia berdiri di ember dan membuat lompatan kecil ke atas dengan mudah, dan segera dia duduk di bertengger, menunggu cewek-cewek untuk masuk.

Dia tak perlu lama menunggu. Beberapa menit setelah dia mengambil tempat itu, pemain softball pertama masuk. Dia adalah seorang cewek pendek Italia yang pernah ia lihat sebelumnya. Maria atau Marie atau nama lain yang mirip itu. Dia pasti meninggalkan latihan lebih awal, karena dia sudah melepas pakaian sebelum seluruh tim muncul. Marie Tangetti, akhirnya dia ingat. Payudaranya lebih kecil dari Sam, tapi malah sedikit lebih merosot. Dia memutuskan bahwa milik Sam lebih baik.

Ketika ia melepas celana dalamnya, ia akan melihat semak ala Italia penuh rambut kemaluan, tapi terkejut melihat dia telah mencukur habis di bawah sana. Dia menatapnya dengan takjub. Dia ingin melihat close up, tapi tahu bahwa tak mungkin melakukannya sini. Dia bertanya-tanya berapa banyak cewek seusianya yang bercukur seperti itu.

Saat Marie berjalan menuju ke area shower, cewek-cewek itu sudah masuk semua. Melihat sekeliling ruangan, rasanya seperti melihat meja prasmanan. Segala jenis cewek, semua dalam berbagai tahap menanggalkan pakaian. Cewek berbadan besar (ini kan para pemain softball), cewek kecil, payudara besar, payudara kecil, dan payudara yang tak ada sama sekali. Terlalu berat baginya untuk menerima gambaran itu sekaligus. Otaknya sepertinya kelebihan beban.

Beberapa cewek lain juga mencukur rambut kemaluannya seperti Marie, dan beberapa memiliki rambut kemaluan alami seperti Sam. Ini kelihatan sekitar setengah dan setengah. Dia tak yakin ia lebih suka yang mana, memutuskan bahwa dia senang keduanya.

Seorang cewek menarik perhatiannya. Dia sepertnya tak tahu namanya, tapi dia mengingatkannya pada Becky, dengan tubuh yang langsing kecil dan payudara agak besar. Tapi rambutnya lurus dan pirang, di mana Becky adalah coklat tua dan tergerai kebelakang. Dia berjalan menuju kamar mandi dengan hanya membawa handuk di atas bahunya, dan dia bisa melihat payudaranya dengan lembut bergoyang saat ia melangkah. Rambut kemaluannya telah dicukur tipis menjadi strip vertikal yang sempit, dan itu mengingatkannya pada rambut Mohawk Mr. T, yang menyebabkan dia tersenyum.

Ketika dia melewati dirinya, dia bisa memeriksa tubuh bagian belakangnya, dan dia pikir dia belum pernah melihat pantat yang lebih sempurna dari ini sebelumnya. Dia bisa merasakan dirinya semakin keras saat ia melihat cewek itu menyabuni badannya, meratakan busa di atas payudara yang licin, dan ke bawah pinggul dan ke gundukan pantatnya. Dia memiliki fantasi melangkah di belakangnya dalam kamar mandi, meraih kedepan dan menangkup payudaranya dari belakang, dan membiarkan kemaluannya menggesek pada pantatnya yang penuh sabun.

Cewek-cewek lain juga di shower dengan dia, dan dia menikmati menonton mereka, tapi matanya terus kembali pada cewek dengan pantat indah itu.

Dia juga menikmati obrolan para cewek, ngobrol tentang segala hal dari seputar cowok bagaimana tim mereka sekarang. Seseorang menanyakan tentang party Danny malam ini, dan pada saat namanya disebutkan, ada kicauan kegembiraan memenuhi ruangan itu, dengan banyak cewek-cewek bicara secara bersamaan. Dua dari cewek-cewek kelas junior membanding-bandingkan tentang apa yang akan mereka lakukan padanya jika mereka mendapat kesempatan dengan dia sendirian malam ini.

Seorang cewek berdiri di dekat mereka, seorang berbadan tinggi dengan rambut cokelat pendek bernama Jean, yang Jason punya kelas yang sama dengannya, angkat bicara, “Jika kau akan pergi mendekati Danny malam ini, kau mungkin harus bicara dengan Donna dulu.”

Perhatian cewek-cewek berpaling terhadap Donna, yang kebetulan dialah si pantat indah. Dia keluar dari kamar shower mengenakan handuk membalut tubuhnya, yang menutupi payudaranya dan menjuntai hanya sedikit menutupi Mohawk-nya.

“Apa ini tentang Danny?” Tanyanya.

“Cewek-cewek ini berpikir buat kencan dengan dia malam ini,” kata Jean, “dan aku menyarankan mereka bicara dulu padamu.”

Donna melihat cewek-cewek dengan alis terangkat. “Semoga berhasil.”

Salah satu cewek, pirang dengan cincin hidung, bertanya, “Apa menurutmu dia mau denganku?”

Donna menatapnya lagi. cewek itu duduk telanjang di bangku di depan lokernya. “lebarkan kakimu.”

“Hah?” Jawab cewek itu.

“Lakukan saja,” kata Donna.

cewek itu menurut.

“Yah,” kata Donna, “Kau punya vagina. Danny akan menggaulimu.”

Semua cewek tertawa mendengar ini, tapi Jason melihat bahwa Donna tak ikut tertawa.

“Apakah kau pernah tidur dengannya?” Itu adalah cewek muda lainnya.

Jason melihat sesuatu kilat melalui mata Donna, tapi dia bilang “Ya.”

“Bagaimana rasanya?”

“Hebat,” jawab Donna, “Aku melihat bintang jatuh dan kembang api, dan aku pikir seekor kuda terbang berhenti sebentar untuk menonton kita.”

“Ayo, seriuslah Donna,” kata Jean, “Beritahu mereka ceritanya.”

Donna memberikan Jean sebuah pandangan bertanya ‘kenapa kau membuatku melakukan ini?’.

“Aku ingin mendengar ceritanya,” kata cewek dengan cincin hidung.

“Ok,” kata Donna, melepas handuk dan duduk di bangku. “Itu terjadi pada acara prom tahun lalu, dan-”

“kau pergi ke acara prom bersama Danny?” cewek muda lain tanpa pikir bertanya.

Donna memberinya sekilas pandangan pedas. “Apa aku tadi bilang aku pergi ke prom dengan dia? Diam sajalah.”

Dia melanjutkan, “Jadi, Danny berangkat ke prom dengan perek dari kelas senior tahun lalu, Sandy Meyers sang Ratu Prom, yang selalu membenciku entah karena apa.” Dia mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Aku kena masalah di sekolah beberapa minggu sebelumnya, dan hukumanku adalah untuk mengurus ruang pengecekan mantel di acara prom. Semacam hukuman pelayanan masyarakat.”

“Sebab apa kau kena masalah?” Sela cewek itu lagi.

Sebelum Donna sempat merespon, si cincin hidung menepuk temannya di lengan dan berkata, “Kamu bisa diam nggak sih? Aku mau mendengar cerita ini.”

“Jadi, seperti yang tadi ku bilang, aku bekerja di ruang pengecekan mantel, dan prom sebentar lagi akan bubar. Sang ratu perek Sandy menerima penghargaan, dan meminta Danny mengambil mantel mereka. Dia mendatangiku memegang dua tiket mantel dan memamerkan senyuman tolol yang sangat pas untuknya. Jadi aku pergi ke dinding belakang tempat mantel digantung untuk mengambilnya, dan aku nggak sengaja menjatuhkan milik Sandy di lantai. Atau mungkin sangat sengaja, aku juga nggak ingat.”

“Aku membungkuk mengambilnya, dan Danny sepertinya suka apa yang dia lihat, sebab waktu aku berbalik, seringainya bercampur dengan binar di matanya. Dia bukan tipeku, tapi aku melihat kesempatan untuk membalas pada sang putri perek itu.”

“Jadi aku berkedip ke arahnya, dan dia langsung melomati meja dengan satu lompatan atletis. Kami tahu bahwa kami tak punya banyak waktu, jadi dia mendorongku kembali ke ruangan kecil untuk menyimpan mantel ekstra, melemparkan beberapa mantel ke lantai, dan membaringkanku diatasnya.”

Jason bisa melihat beberapa cewek menggeliat di kursi mereka.

“Dia berlutut di antara kedua kakiku, membuka celananya, dan menarik keluar penisnya yang sudah keras. Aku mengenakan rok pendek, dan ia meraih pergelangan kakiku dan menarik kakiku ke atas dan mendorongnya kebelakang, jadi aku terbuka untuknya. Aku masih memakai celana dalamku, tapi aku menggesernya ke samping saat ia memasukkan penis besarnya ke dalam diriku.”

“Aku jadi temen-temen, jika kau mau bercinta dengan Danny, sebaiknya kau tak berencana untuk menggunakan kemaluanmu lagi selama beberapa hari sesudahnya. Cowok itu punya sesuatu yang terlalu besar untuk diberikan, dan aku sakit sekali keesokan harinya. Dan ingat, kita ada pertandingan besok, jadi jika aku melihat salah satu dari kalian tersandung di lapangan karena kau masih belum pulih dari Danny, aku akan menendang pantatmu.”

cewek-cewek terkikik.

“Jadi, disanalah kami, bergumul di lantai ruang mantel tepat di tengah prom. tak butuh waktu lama buatku untuk klimaks, dan ku pikir klimaksku memicu dirinya juga. Semuanya selesai hanya dalam beberapa menit. Kami bangun bersama-sama dan ia meraih mantelnya, melompati meja konter lagi, dan pergi untuk menemui sang Duchess of Cunterbury. Aku dengar mereka menghabiskan malam bercinta di sebuah hotel, jadi harapanku merusak malam mereka nggak berhasil.”

Jason melihat bahwa sebagian besar cewek di ruangan itu gelisah dan menggeliat. Ada yang tanpa sadar mengelus-elus payudara mereka sendiri.

“Jadi itu saja,” kata Donna, “Itu ceritaku dengan Danny. Sudah puas Jean?”

Jean tertawa.

Si cincin hidung angkat bicara lagi. “Tapi bagaimana jika aku ingin lebih dari sekedar bersetubuh dengan dia?”

Donna menatapnya. “Apa maksudmu?”

“Bagaimana jika aku ingin lebih dari sekedar tidur dengannya? Bagaimana jika aku ingin kita pacaran?”

Tatapan aneh sekilas muncul lagi diwajah Donna, dan dia tak menjawab, tapi Jean mulai tertawa.

“Pacaran dengan Danny Mazzelli?” Kata Jean, “Apa kau bercanda?”

cewek itu tampak terlihat malu.

“Sayang,” Jean melanjutkan, “Banyak cewek lain yang lebih baik darimu sudah berusaha mencobanya, dan satu per satu dari mereka jatuh terbakar. Danny bukanlah cowok yang suka pacaran. Kau baru saja dengar kan bahwa kencan prom-nya biarkan dia lepas dari pandangan selama sepuluh menit, dan ia menggunakan sepuluh menit untuk menyetubuhi cewek lain. Apa kau benar-benar mau selalu mengawasi gerak-geriknya?”

“Aku tak pernah berpikir sejauh itu,” kata si Cincin Hidung.

Jason mendengarkan pembicaraan mereka, tapi matanya selalu tertuju pada Donna. Saat cewek yang lain mendiskusikan kekurangsetiaan Danny yang sudah terkenal, wajah Donna menunjukkan jejak kesedihan.

Ruang ganti itu nyaris kosong, dengan hanya Jean, Donna dan cincin Hidung yang tersisa. Dan Jason, tentu saja, masih mengawasi dari tempat itu.

Jean sudah berpakaian lengkap, tapi Donna masih dengan celana dalam dan tanpa bra. Cincin hidung itu mengambil tas olahraganya bersiap-siap untuk pergi. “Doakan aku beruntung,” katanya seraya berjalan menuju pintu.

“Ayo dapatkan dia!” Kata Jean, tapi Donna hanya melambaikan tangan.

Saat mendengar suara pintu ditutup di belakang mereka, Jean berpaling kepada Donna sambil nyengir. “Yah, tadi cukup menyenangkan.”

Donna tak terlihat begitu senang. “Aku hampir tak percaya kau membuatku menceritakannya lagi.”

“Anggap saja sebagai terapi,” jawab Jean, masih tersenyum. “Tuhan tahu kau membutuhkannya. Dan kau juga melupakan bagian terbaiknya.”

“Bagian yang mana?”

“Jangan pura-pura malu denganku, kau tahu apa maksudku. Ciuman kecil Danny padamu tepat sebelum ia pergi. Di sini” Dia menyentuh pipi Donna.

Donna akhirnya tersenyum.

“Oh ya,” tambah Jean, “Kalimat ‘Dia bukanlah tipeku’? Sentuh yang bagus.”

“Benarkah?”

“Tapi serius Donna, ini sudah hampir satu tahun. Kau harus melupakan cowok ini. Kau belum berkencan dengan siapa pun sejak itu. Kau biasanya keluar setiap Jumat malam dengan cowok yang berbeda setiap minggunya.”

“Aku tahu,” kata Donna sambil menghela napas.

“Karena itu tak akan terjadi, tak peduli betapapun kau menginginkannya. Apakah kau dengar apa yang barusan aku katakan pada Karen? Berharap untuk berpacaran dengan Danny adalah seperti berharap kau akan tumbuh payudara ketiga. Keduanya tak akan terjadi.”

Donna tertawa mendengarnya. Masih topless, dia menunduk dan menangkup payudaranya, menarik mereka terpisah sedikit seolah-olah membayangkan ada yang ketiga di tengah-tengahnya. “Ku pikir aku bisa melakukannya,” katanya sambil tertawa.

“Sebaiknya jangan,” Kata Jean sambil tersenyum, pandangan nakal muncul di wajahnya. “Aku menghabiskan banyak waktu membuat kedua payudaramu senang. Jika kau punya tiga, aku tak akan bisa berpindah ke tempat lain yang lebih bagus.”

Telinga Jason langsung berdiri. Wah, bicara tentang apa ini?

Donna tersenyum. “Aku yakin kau bisa mengaturnya. Kau punya satu mulut dan dua tangan. Aku payah dalam matematika, tapi aku cukup yakin kau tak akan kesulitan dengan yang ketiga.”

“Apa? Dan meninggalkan vaginamu begitu saja? Itu akan menyedihkan.”

Jason merasa dirinya semakin keras. Dia tak percaya ini terjadi.

Saat kedua cewek ngobrol mereka telah bergerak lebih dekat bersamaan di bangku sampai mereka duduk bersebelahan.

“Apakah vaginamu basah mendengar ceritaku lagi?” Tanya Donna.

“Kau periksa sendiri,” jawab Jean, dan memegang tangan Donna, meletakkannya ke paha bagian dalamnya, dan mendorongnya ke atas, dibawah lipatan rok pendeknya. Tangan Donna bergerak ke atas, tak terlihat, tapi Jason tahu dari reaksi Jean ketika Donna menemukan apa yang ia cari.

Lengan Donna bergerak perlahan keluar masuk, dan Jason menyadari bahwa ia sedang memasturbasi Jean dengan jari, mungkin lebih dari satu.

Jean mendesah pelan, jelas menikmati sentuhan temannya. Setelah beberapa saat, Donna menarik tangannya keluar, dan bahkan dari tempat Jason dudukpun, ia bisa melihat jari dua jari Donna berkilau basah oleh cairan.

“Aku kira kau sudah basah,” kata Donna. “Aku ingin tahu apa kau masih terasa manis seperti yang aku ingat.” Dia mengambil jari telunjuk ke mulut dan mengisapnya. “Mmmm,” dia mendesah, menatap mata temannya. Mengeluarkan jari dari mulutnya, ia berkata, “Bahkan lebih manis.”

“Mau coba sedikit?” Dia memegang jari lainnya dan Jean membuka mulutnya sedikit. Donna menyentuh jarinya ke bibir cewek itu, dan menyelipkannya di dalam. Jean mengisapnya sejenak, dan membuka mulut dan menjilat itu, lidahnya menjentikkan karena mencari setiap rasa yang tersisa.

Donna memindahkan tangannya ke belakang leher Jean, dan menariknya ke bawah, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang bergairah. Jason mengawasi dengan penuh minat saat lidah mereka mengeksplorasi mulut masing-masing, berbagi ekspresi keintiman.

Tangan Jean menemukan payudara Donna, dan meremasnya dengan lembut. Ketika putingnya menjadi keras, dia menjepitnya, menyebabkan suara terkesiap dari cewek kecil itu. Tangannya bergerak lebih rendah, menelusuri atas perut Donna. Donna bereaksi dengan melebarkan kakinya, mengundang tangan Jean menuju kesana.

Dari sudut pandang Jason, ia bisa melihat celana dalam Donna lurus dihadapannya. Dia memakai celana dalam model thong merah kecil, dengan bahan yang hanya sedikit menutupi celah dan Mohawk-nya, dan itu saja. Dia bisa melihat kulit halus tercukur pada bibir luar sepanjang tepi celana dalamnya, dan terlihat sangat lembut, ia berharap bisa menyentuhnya.

Ujung jari Jean bergerak dengan lembut di atas kulit halusnya, menggoda temannya dan membuat Donnna terkesiap lagi. Jarinya bergerak di tengahnya, dari atas dekat turun ke tengah, menelusuri sepanjang gundukan bibir bawahnya. Mereka menghilang di bawah gundukannya, kemudian melangkah lebih jauh dan pinggul Donna tampak tersentak oleh kenikmatan.

Tangan Jean kembali ke bagian depan, dan dengan satu jarinya, celana Donna disibak ke satu sisi, dan seluruh celahnya terlihat jelas. Jason bisa melihat warna pink basah di antara bibirnya, dan saat jari Jean menekan ditengahnya, pintu masuk bagian dalamnya terekspos untuk Jason lihat.

Dia tak sedekat waktu dengan Sam, tapi pemandangan itu masih luar biasa buatnya. Jari Jean mulai bergerak di atas tempat tertentu, dan Jason memutuskan itu pasti klitorisnya. Ini adalah tempat yang sama saat Sam menyentuh dirinya tadi malam, dan ia pernah membaca itu rasanya seperti menyentuh ujung penis pada pria. Itu terasa cukup nikmat untuk dia saat melakukannya, jadi ia membayangkan Donna sedang menikmati apa yang Jean lakukan padanya.

Dan dari suara erangannya, dia tahu dia benar. Donna mulai memutar pinggulnya dalam gerakan berputar-putar kecil, tubuhnya bangkit oleh kenikmatan.

Jean membalas apa yang dilakukan temannya tadi, dengan mencabut jarinya dari vaginanya dan membawa ke mulut Donna. Donna mengisap dengan rakus, menjilati semuanya saat dia mengerang pelan.

Menarik jari-jarinya dari antara bibir Donna, Jean memandang jarinya dan berkata dengan pura-pura sedih, “Kau nggak menyisakan sedikitpun buatku. Aku akan mendapatkannya buat diriku sendiri.” Dia berpindah dengan berlutut diantara kedua kaki Donna yang terbuka.

Mata Jason melotot lebar. Sudut pandang pada vagina Donna sekarang terblokir, tapi ia menyaksikan Jean membungkuk, meletakkan tangannya di sekitar pinggul Donna untuk pegangan, dan menundukkan kepalanya tepat berada di antara kedua kaki temannya.

Donna langsung bereaksi, menutup matanya dan merintih, tubuhnya mengejang. Dia tak bisa melihat yang apa Jean lakukan, tapi apa pun itu, tindakannya berpengaruh hebat pada si pirang. Tangan Donna memegang kepala Jean, jari-jarinya terjalin di rambut pendek hitam cewek itu, mendorong lebih dekat.

“Oh,” kata Donna dengan napas mengerang, “Kau sangat hebat melakukannya.”

Jason menyadari bahwa dari cara Jean membungkuk, roknya telah bersingkap dan vagina yang tertutup celana dalamnya mengintip dari belakang. Dari sudut yang tinggi, ia tak bisa melihat langsung, tapi itu tetaplah pemandangan yang sangat bagus. Pantat Jean melengkung membentuk huruf V, dan di dalam V itu ia bisa melihat segitiga membentang halus dari celana dalam katun, dengan spot basah besar di tengah. Dia bertanya-tanya bagaimana reaksi mereka jika ia melompat turun dari tempat duduknya, meraih pinggulnya, mendorong celana dalamnya ke satu sisi, dan meluncur penis kerasnya ke dalam dirinya.

Dari suara yang Donna keluarkan, dia tahu itu tak akan lama sebelum dia klimaks. Matanya tertutup dan lubang hidungnya melebar, dan napasnya tersengal-sengal.

“Ya ya ya, sedikit lagi,” keluhnya keras, dan tubuhnya mengejang hebat saat ia berusaha untuk menahan suara erangannya. Jason tahu dari tekanan tangannya di kepala Jean, bahwa ia menekan wajah temannya ketat terhadap vaginanya, saat pinggulnya berputar-putar. Dia bertanya-tanya bagaimana Jean bisa bernapas dengan perlakuan seperti itu, dan mengkhawatirkan tentangnya.

Setelah beberapa saat lamanya, Donna kembali turun pelan-pelan, dan Jean mengangkat kepalanya, Jason lega melihatnya. Mereka berciuman lagi, dan sekarang Donna yang membungkuk pada Jean yang masih berlutut di antara kakinya. Dari belakang, Jason tak bisa melihat mulut mereka, tetapi dari cara Donna menggerakkan kepalanya, itu tampak seperti sedang menjilati mulut temannya daripada menciumnya.

Melanjutkan ciuman mereka, tangan Donna pindah kembali lagi antara kaki Jean, bergerak di bawah gaunnya. Jean mengerang dimulutnya, dan Jason melihat pinggulnya maju mendekati sentuhan Donna, mendesak dia untuk meneruskan tindakannya. Meskipun punggung Jason mulai pegal karena berada pada posisi yang sama begitu lama, ia sudah tak sabar untuk melihat adegan ke 2.

“Ini penjaga sekolah! Apa ada orang didalam” Suara pria yang dalam bergema masuk ke dalam ruangan, mengejutkan ketiganya. Jason begitu terkejut hingga dia hampir jatuh dari tempat duduknya. Jean dan Donna berpisah dengan gerakan cepat, dan Jean buru-buru duduk di bangku, menjaga jarak dengan temannya. Wajah mereka menunjukkan rasa bersalah.

Jean yang lebih dulu sadar, dan berseru, “Kami berdua masih di sini. Tolong beri kami waktu beberapa menit!”

“Maaf kalau begitu,” suara berat itu menjawab, “Silakan saja.” Mereka bisa mendengar suara pintu ditutup.

Jean dan Donna tersenyum satu sama lain. “Kukira kita harus menyelesaikan ini lain waktu,” kata Jean.

“Dia bilang silahkan saja,” kata Donna penuh harap, “Aku bisa menyelesaikanmu dengan cepat?”

Jean tersenyum. “Nggak, mood-ku sudah hilang. Kau bisa berutang satu padaku.”

Sialan, mood Jason tidaklah hilang. Dia benar-benar menikmati adegan ini.

“Aku akan menunggunya,” kata Donna, dan dia meluncur ke tempat Jean duduk dan mereka kembali berciuman, kali ini dengan penuh kelembutan.

Donna cepat berpakaian, sementara Jean menunggu jadi mereka bisa pergi bersama. Setelah mereka berjalan keluar, Jason bisa mendengar mereka berbicara dengan petugas kebersihan di aula, dan tahu ia harus bergegas.

Melompat turun dari langkan, dia memastikan untuk tak mendarat di ember yang ada di bawahnya, dan bergerak menuju pintu gym, yang mana posisinya berlawanan dengan pintu penjaga sekolah itu masuk. Dia berlari melintasi lantai gymnasium yang sudah kosong, merasa seperti Oscar Benton saat ia melesat ke ruang ganti laki-laki untuk mengambil pakaiannya.

Amulet Bab 6
Amulet Bab 6

Tiga jam kemudian dia santai didepan api yang berderak, menikmati aroma dan hutan pinus di sekitarnya yang mengelilingi Blue Lake. Ada beberapa api unggun di sekitar tepi danau, tapi Jason memilih satu ini karena hanya ada beberapa party-goer duduk di sekitarnya. Meskipun desakan Danny, ia tak yakin ia ingin datang ke sini malam ini, berpikir ia lebih suka menghabiskan malam mencoba kalung itu. Tapi pengalamannya di ruang ganti cewek itu telah membuatnya puas untuk saat ini, setelah mampir sebentar untuk masturbasi cepat di rumah, tentu saja.

Dia akan menggunakan lagi kalung itu besok, tapi ia membawanya malam ini, untuk berjaga-jaga saja. Namun, dia benar bahwa ia tak punya kesempatan untuk menggunakannya di sini. Danny telah menghamburkan uangnya pada beberapa tong bir, dan sebagian besar cowok-cowok yang minum mulai bertindak bodoh. Jason mencoba alkohol beberapa kali, tapi ia benar-benar tak mau jadi kebiasaan. Dan melihat semua idiot mabuk memberinya motivasi lebih untuk tak memanjakan diri.

Ketika ia tiba, ia melihat Danny sedang melakukan percakapan dengan Gary Horner, seorang teman dari masa kecil mereka. Gary dan Danny telah bermain olahraga bersama saat anak-anak, dan keduanya dilahirkan dengan tubuh dan gen atletik. Tapi ketika Danny tenggelam dengan olahraga, Gary terlibat dengan pergaulan buruk, dan keluar masuk dengan masalah hukum. Ketika ia masih di kelas sembilan, orang tuanya memutuskan untuk pindah ke kota sebelah untuk menjauhkan dia dari orang-orang yang ia biasa kumpul. Tapi itu tak berhasil, dan Jason telah mendengar rumor Gary terlibat beberapa masalah besar di sana, dan nyaris masuk penjara. Jadi dia kembali ke sini saat menjalani kelas seniornya, dan ia serta Danny jadi dekat lagi.

Meskipun mereka berkumpul bareng dalam kelompok yang sama saat anak-anak, Jason tak begitu suka Gary. Dia selalu arogan dan merendahkan orang lain, tak hanya terhadap Jason, tapi juga pada anak lain dalam kelompok mereka. Jason sebenarnya senang ketika Gary pindah, dan sekarang ia kembali, percakapan mereka hanyalah sekedar bertegur sapa satu sama lain.

Gary dan Danny sedang berbicara ketika Jason tiba, dan saat ia berjalan lewat, ia mendengar sebagian dari pembicaraan mereka.

“Kau ingin meminjam lagi?” Kata Danny.

“Ini akan jadi yang terakhir kalinya, aku janji,” Gary menjawab, “Aku pakai punyaku sendiri minggu depan.”

“Ok,” kata Danny, menyerahkan sesuatu pada Garry yang Jason tak bisa lihat. “Tapi hati-hati.”

Danny melihat Jason berjalan dan berpaling padanya. “Jason! kau akhirnya datang juga” teriak dia dan datang untuk menyapa temannya.

Jadi, akhirnya ia santai di depan api unggun, duduk di bangku dari batang pohon dan mendengarkan percakapan di sekitarnya. Danny telah mampir beberapa kali, mendorongnya untuk berbaur, tapi dia meyakinkan temannya ia senang duduk di sini dan bersantai. Satu kali, Danny membawa cewek memperkenalkan padanya, dan cewek itu duduk dan ngobrol dengannya sebentar, tapi akhirnya ia jadi tak tertarik pada pembicaraan itu dan berjalan pergi. Pada akhirnya, semua orang di sekitarnya sudah pindah ke api unggun yang lain, meninggalkan dia sendirian.

Dia bertanya-tanya apakah Becky akan datang, tapi ia belum melihatnya. Sam tak akan diundang, karena dia dan Danny tak akur sama sekali. Sementara dia entah bagaimana memaafkan Jason untuk perlakuan buruknya selama tahun-tahun padanya, Danny tidak menerima dispensasi yang sama. Tapi mengingatnya kembali, Danny mungkin yang paling nakal padanya, dan Jason cukup yakin ia adalah orang yang pertama kali menjuluki Sam Botol Cola. Dia tahu Jason berteman baik dengan Danny, tapi setiap kali ia menyebutkan nama Danny di hadapannya, mulutnya akan mengencang dan matanya akan menatap dikejauhan, dan dia akhirnya belajar untuk menghindari subjek itu.

Tapi ia dan Danny membicarakan tentang Sam. Danny juga merasa bersalah bagaimana ia dulu memperlakukannya, tapi semua usahanya untuk mendapatkan pengampunannya telah berakhir pada penolakan. Jadi dia akhirnya berhenti mencoba. Tapi dia selalu mengatakan pada Jason ia harus menikahi cewek itu, karena jika dia bisa memaafkannya atas apa yang mereka lakukan terhadapnya, dia bisa memaafkan dia untuk apapun.

Jason menyadari bahwa selama memikirkan tentang Sam, seseorang telah duduk di bangku di dekatnya, menatap api unggun. Dia berbalik untuk melihat siapa orang itu, dan terkejut melihat wajah Donna yang familiar.

Jason pasti sedang menatapnya dengan aneh, karena dia menatapnya dengan sinis, dan berkata, “Apa yang salah denganmu?”

Jason tersenyum. Beberapa jam yang lalu ia melihat sisi lebih lembut darinya, luar dan dalam, tapi di sini ia mengenakan ekspresi kerasnya untuk perlindungan.

“Sorry,” katanya, “Kau mengejutkanku, itu saja.”

“Ya, karena itu sangat aneh bagi seseorang untuk duduk di dekatmu di sebuah party?” Katanya, dengan nada sedikit sarkasme masih dalam suaranya.

“Aku sedang berpikir tentang seseorang, dan aku tak memperhatikan kedatanganmu.”

Dia tampak melembut saat ini. “Ya, dan aku yakin aku bisa menebak siapa.”

“Hah?” Katanya, bertanya-tanya apa yang dia bicarakan.

“Sudahlah,” jawabnya, “itu tak penting. Hei, kau dan Danny adalah teman baik kan?”

“Ya, Jason Ramsey adalah namaku,” katanya sambil mengulurkan tangannya, “Dan kau?”

Dia menatap kosong ke arahnya. “Apakah kau mabuk atau lagi tinggi?” Akhirnya dia bertanya.

Dia duduk tegak dan menatapnya. Dia tampak serius. “Tidak,” katanya, “Mengapa kau bertanya begitu?”

“Dan kau benar-benar tak tahu siapa aku?” Katanya, dengan nada suara agak tersinggung.

Dia menatapnya dengan penuh perhatian. Dia hanya bisa mengingatnya dari ruang ganti. Dia yakin dia belum pernah bertemu dengannya sebelum itu. Mereka ada di sebuah SMU besar dan ada banyak anak-anak di kelasnya yang dia tak pernah bertemu.

Sebuah pikiran mengerikan terlintas di benaknya. Ya tuhan, apakah dia adalah sepupunya yang tak pernah ketemu lagi sejak mereka masih kecil? Apakah ia menonton sepupunya yang telanjang? Perutnya langsung bergolak. Donna Donna Donna Donna. Ia mengulangi nama itu di pikirannya. Apakah ia memiliki sepupu bernama Donna? Dia pikir tak punya, tapi ia tak begitu yakin.

Dia menggeleng bingung. “Bantu aku. Aku benar-benar tak ingat” Dia menguatkan hati untuk sesuatu yang paling buruk.

Dia berdiri. “aku Donna Lomack. Kita satu kelas di mata pelajaran Sejarah. Pak Klemen jam ketiga. Kami sudah berada di sana bersama-sama sepanjang tahun!”

Ekspresi lega menyapu dirinya. Jadi ia tak menonton sepupunya yang telanjang.

“Oh,” katanya, malu, dan menambahkan tanpa berpikir, “Apakah kau yakin?” Dia tahu segera setelah meninggalkan bibirnya, itu adalah sebuah kesalahan.

“Apa maksudmu, aku yakin?” Katanya, “Kau duduk dua kursi di depanku setiap hari. Tentu saja aku yakin.”

“Maaf,” katanya, pikirannya bingung. Dia ingat bahwa tubuh sempurna dari kamar mandi dan tak bisa percaya ia melewatkan Donna yang duduk begitu dekat dengannya setiap hari. “Aku kira aku tak memperhatikan,” tambahnya, berharap itu terdengar seperti permintaan maaf.

“Yah, emm … itu karena …” ia mulai mengatakan sesuatu, tapi wajahnya melunak dan ia menambahkan, “Kurasa kau sibuk memikirkan sesuatu.”

“Sibuk? aku sibuk dengan apaan?”

“Sudahlah, itu nggak masalah.”

“Baik,” katanya, duduk kembali dan melipat lengannya.

Dia menatapnya untuk beberapa saat, “Kau benar-benar tak ingat aku?” Nada suaranya lebih lembut sekarang.

Donna kembali menatapnya. Tiba-tiba ia melompat ke depan. “Donna? Donna Lomack? Dari pelajaran Sejarah jam ketiga? jadi ini kamu” mencapai! Dia menggapai dan memegang tangannya dan menjabatnya dengan penuh semangat, memberinya senyuman lebar.

“Sok tahu,” katanya, tapi dia tertawa.

“Ayo duduklah, Donna,” katanya, masih tersenyum, “Kita harus mengejar semua kenangan kita bersama dalam Sejarah tahun ini.”

Dia tertawa lagi, dan yang mengejutkannya, dia duduk di sampingnya, sedikit lebih dekat daripada yang sebelumnya.

“Ok, ok,” katanya, “Aku nggak tersinggung sebab kau tak tahu siapa aku.”

Dia tertawa. “Bagus, kurasa aku tak pernah menyebabkan seorang cewek sakit hati sebelumnya. Aku lumayan tahu seperti apa rasanya.”

“Oh, aku yakin kau pernah, cowok dilahirkan dengan gen itu.”

Dia berpikir tentang Sam dan mendapat sedikit sedih. “Yah, aku mendorong seorang cewek sampai jatuh dari sepedanya sekali.”

“Nah, itu baru terdengar seperti seorang cowok. Apa yang dia lakukan sampai pantas mendapatkan perlakuan seperti itu?”

“Dia mengikutiku kemana-mana.”

“Oh dalam hal ini, cewek itu layak mendapatkannya.”

Jason tertawa keras. Ketika ia akhirnya bisa bernapas, ia berkata, “Tidak, Dia tak seperti itu. Tapi untungnya dia memaafkanku.”

“Kalau begitu kau harus menikahi cewek itu.”

Jason menatapnya. “Kau tahu, itu hal yang sama persis Danny selalu katakan padaku.”

Ia melihat sesuatu di belakang cahaya matanya saat mendengar nama Danny. Tapi dia menyembunyikannya dengan baik.

“Yah kau tahu,” katanya, “jika ada satu orang yang kau harus kau dengar nasihatnya tentang pernikahan, itulah Danny.”

Jason tertawa lagi. “Nggak pernah memikirkannya sampai ke situ. Menurut logika, aku harus berlari sejauh mungkin dari Sam.”

“Sam?”

“Samantha, cewek yang aku bicarakan.”

“Oh ya, aku pikir aku mengenalnya. Rambut merah? Sangat cantik?”

“Itu dia,” jawabnya, tapi dia tak pernah menganggap Sam sebagai ‘sangat cantik’ sebelumnya.

“Jadi, apakah kau dan dia …?” Donna membiarkan kata-kata terdiam.

Dia tampak bingung sejenak, lalu mendapatkannya. “Siapa, Sam dan aku? nggak, kita hanya teman baik.”

“Ku pikir nggak.”

“Hah? Apa artinya?”

Donna menyadari betapa menghina kedengarannya. “Nggak, aku nggak bermaksud seperti itu.”

“Apa maksudmu?”

Dia tampak ragu-ragu untuk menjawab, “Ini hanya – kelihatannya kau tertarik pada orang lain.”

“Hah?”

Donna tersenyum. “Apakah aku benar-benar harus mengatakannya?”

“Katakanlah apa?” Katanya, menunjukkan kebingungan di wajahnya. “Aku benar-benar tak paham apa yang kau bicarakan.”

“Ayolah, itu sudah jelas buat siapapun yang punya mata.”

Dia menatapnya, menggeleng kepala dan mengangkat bahu.

“Becky Johnson?” Kata Donna.

Matanya terbuka lebar dan wajahnya berubahjadi merah membara. Jason menatapnya dengan ekspresi kaget di wajahnya, dan bergumam, “Kenapa kau berpikir begitu?”

“Karena Jason, kau duduk di sana dan menatapnya sepanjang pelajaran sejarah.”

Dia bingung. “Aku nggak kok.”

Dia tersenyum lembut. “Tentu saja kau begitu, semua orang tahu.”

Dia pucat. “Setiap orang?”

Dia memberinya ekspresi lelah. “Ini jelas Jason.”

“Setiap orang?” Ulangnya.

Dia akhirnya mengerti apa yang ia bertanya, dan menjawab, “Ya, dia juga tahu.”

Kepalanya terkulai ke bawah, dan ia memegang wajahnya di tangannya, diam untuk sesaat.

Donna juga terdiam, kemudian bertanya, “Jason, boleh aku mengajukan satu pertanyaan?”

“Tentu,” katanya, tak mengangkat kepalanya.

“Apakah kau pernah bertanya pada dirimu sendiri mengapa dia tak bicara denganmu?”

Dia memutar kepalanya dan menatapnya. “Apa maksudmu?”

“Dengarkan apa yang kukatakan. Apakah kau pernah berhenti dan berpikir sejenak tentang mengapa dia mengabaikan kau?”

“Bukannya sudah jelas?”

“Katakan.”

“Lihat aku. Aku kutu buku dan dia kapten cheerleader. Mengapa dia mau bicara padaku?”

“Jason, apakah kau pikir aku cantik?”

Dia menatapnya, bertanya-tanya dari mana asal muasal pertanyaan ini.

Ketika ia tak menjawab, ia berkata, “Jason, katakan saja ya sebelum kau membuatku kesal.”

“Ya, tentu saja kau cantik. Malah kenyataannya, sebelumnya hari ini aku berpikir … “Dia berhenti, menyadari ia akan menceritakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika melihat dia di kamar mandi, dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Donna memandang dengan ekspresi bingung, tapi melanjutkan apa yang ada dalam pikirannya. “Ok, aku cantik, dan aku mau bicara denganmu. Jadi mengapa Becky enggak?”

Dia menatapnya, pikirannya bekerja. Ada beberapa logika di balik kata-katanya, tapi dia tak bisa memahami apa yang ia maksudkan.

Akhirnya, ia berkata, “Aku nggak tahu. Menurutmu, mengapa dia nggak mau bicara?”

Donna menatapnya. “Aku tahu kenapa dia nggak mau bicara denganmu, tapi aku nggak akan bilang padamu. Itu sesuatu yang kau harus cari tahu sendiri.”

“Apakah kau mencoba untuk menyiksaku?”

Lengannya mengulurkan tangan dan beristirahat di bahunya. “Aku nggak menyiksa kau Jason, aku mencoba untuk membantumu.”

Dia terdiam, mencoba mencerna apa kepadanya. Rahasianya sudah tak rahasia lagi seperti yang ia kira.

“Bisakah aku menceritakan satu rahasia yang mungkin bisa membuatmu merasa lebih baik?” Kata Donna.

“Katakanlah.”

“Aku diam-diam naksir seseorang juga.”

“Apakah itu aku?” Katanya sambil nyengir.

Donna menyikutnya. “Sok pinter. Aku serius.”

“Ok, maaf. Apakah aku kenal orang itu?” Dia harus melangkah hati-hati di sini.

“Aku pikir nggak. Dia hanya seorang pria biasa.”

“Bukannya seperti Becky dan aku, apakah kau pernah bicara dengannya?”

“Ya, kami sudah bicara sedikit. Tapi aku nggak pernah bilang padanya gimana perasaanku.”

“Kenapa?”

“Karena jelas dia nggak tertarik padaku seperti itu.”

Ia berharap dapat mengatakan padanya untuk mengikuti hatinya dan mengatakan pada orang ini bagaimana perasaannya tentang dia, dan semuanya akan beres. Tapi dia tahu Danny, mungkin lebih baik daripada siapapun, dan dia tak tertarik pada hal semacam itu. Untuk Danny, dia selalu tertarik pada cewek berikutnya, bukan yang dia saat ini bersama.

“Aku juga hanya punya satu pertanyaan untukmu,” kata Jason.

“Apa itu?”

“Apakah orang itu memakai kaca mata kuda, atau apa dia berjalan pakai tongkat? Sebab dia pasti buta nggak tertarik padamu.”

Dia tersenyum. “Oh, kata-katamu sangat manis.”

“Ok, pertanyaan serius sekarang?” Katanya.

“Tanya saja.”

“Mengapa kau suka cowok ini?”

Dia diam, dan ia bertanya-tanya apakah ia pernah memikirkan pertanyaan seperti itu sebelumnya.

“Emm,” akhirnya dia mulai, “Ia cakep, punya tubuh besar, dan menyenangkan untuk berada didekatnya, tapi denganku, ada sesuatu yang lebih dari itu. Nggak yakin gimana menjelaskannya, tapi buat tiap orang, aku yakin ada orang lain yang cocok buat mereka, seolah-olah mereka itu satu kepingan.”

“Satu kepingan?”

“Misalnya saja kau punya piring cina, dan kau pecahkan jadi dua. Jika kau mengambil dua kepingan itu dan menempelkan mereka bersama, mereka akan cocok dengan sempurna. Setiap sudut dan celah dari masing-masing akan diisi oleh yang lain. Sebuah potongan yang sempurna. Jika kau mengambil dua bagian dari dua piring yang berbeda, kau mungkin bisa menempelkan mereka bersama-sama, menaruh sedikit lem pada piring itu, dan kau bisa menyebutnya itu piring, tapi itu nggak akan sama. Aku nggak ingin jadi seperti itu – direkatkan dengan seseorang dan disebut sebagai piring. Aku ingin menemukan bagian dari kepinganku yang lain.”

“Dan kau percaya orangnya dia?”

“Dalam hatiku aku yakin. aku nggak tahu bagaimana aku tahu itu, dan aku juga nggak mengharapkan orang percaya, tapi karena kau tanya padaku, dan itulah jawaban jujurku.”

Jason diam sejenak, berpikir. Akhirnya, ia berkata, “Aku belum pernah mendengar cinta yang digambarkan seperti itu, tapi itu sempurna.” Dia sangat ingin menambahkan bahwa dia tak perlu khawatir – satu kepingan itu pada akhirnya akan menemukan dirinya – tapi dia tak ingin berbohong untuk cewek itu.

Mereka duduk tenang selama beberapa menit, menonton api unngun. Tiba-tiba Jason berkata, “Tunggu dulu! Aku tahu sekarang! Cakep? Tubuh besar? Menyenangkan untuk bersama? Itu aku kan? Aku bilang padamu Donna, aku akan memutus Becky sekarang juga jika kau mau.”

Donna tertawa. “Hanya masalah, buat mengatakan putus dengannya kau harus benar-benar bicara dengannya.”

“Ohh!” Jason tertawa dan bersandar di bangku, memegangi dadanya dan menyeringai. “Di sini aku mencoba untuk membantumu dan kau malah menusuk jantungku.”

Donna tertawa juga, dan bersandar di bahunya. “Kita jelas adalah pasangan, kan?”

“Memang,” katanya, bertanya-tanya bagaimana mungkin ia dan cewek cantik ini punya suatu kesamaan.

Mereka duduk di sana selama beberapa saat, istirahat dari percakapan dan menikmati kesunyian. Dari salah satu api unggun lainnya muncul satu teriakan yang terdengar sangat mirip Danny. Keduanya langsung tertawa.

“Sepertinya Danny sedang bersenang-senang,” katanya.

“Dia melakukan itu dengan baik, kan? Dia tetap nggak berubah sejak aku kenal dia di kelas tiga.”

Donna menatapnya skeptis. “Nggak berubah sejak kelas tiga ya?”

“Ya,” jawabnya, “yang sama. Meskipun, dia tampaknya lebih sering bercinta sekarang daripada saat itu. Nggak terlalu banyak, tapi sudah ada peningkatan.”

Donna tertawa keras pada lelucon Jason, dan harus bersandar padanya untuk sandaran.

“Jadi,” katanya setelah beberapa saat, “Danny nggak pernah punya pacar serius?”

Donna mengatakan itu sambil lalu, tapi Jason tahu betapa penting pertanyaan itu baginya. Ia berharap ia punya berita yang lebih baik untuknya.

“Nggak. Danny nggak pernah memakai kata-kata serius dan cewek dalam satu kalimat.”

Donna terdiam sejenak, lalu berkata, “Jadi, kau bilang satu-satunya hubungan Danny yang stabil hanyalah denganmu?”

Dia mundur darinya. “Apa?” Katanya tajam. “Apa katamu?”

“Tenang,” katanya, senyum muncul di tepi bibirnya, “Jangan langsung tersinggung. Aku hanya bercanda denganmu.”

Jason menggeleng sambil tersenyum kembali padanya. “Kau tahu, aku sedang menikmati malam yang sangat baik di sini sebelum kau muncul.”

“Apakah itu cara malu-malu darimu untuk memintaku pergi?”

“Nggak, kau boleh tetap tinggal sekarang. Malamku sudah hancur.”

Donna tertawa lagi. “Kau tahu Jason, kau memiliki kepribadian yang hebat di bawah rasa malumu itu. kau harus lebih sering membiarkannya keluar.”

“Yah, kau tahu apa yang mereka bilang. Ketika matahari terbenam, bulan punya kesempatan untuk bersinar.”

Donna memberinya pandangan bertanya, tapi sebelum dia bisa mengatakan apapun, Jason memotong.

“Dan lihat itu, sesuai aba-aba, mataharinya muncul.” Dia menunjuk ke arah jalan setapak, di mana Danny mendekat, menyanyikan lagu dengan keras diiringi seorang cewek di setiap lengannya. Melihat lebih dekat, ia menyadari itu adalah Cincin hidung dan temannya. Dia dan Donna berdiri, dan ia melirik sekilas ke arahnya untuk melihat bagaimana dia bereaksi, tapi dia jelas sudah banyak berlatih menyembunyikan perasaan yang sebenarnya untuk Danny, karena dia tak bisa melihat jejak rasa sakit dari matanya.

Amulet Bab 7
Amulet Bab 7

“Jason, sahabatku!” Danny berseru, “Apa kau menikmati acara ini? aku lihat kau menemukan seseorang untuk diajak bicara-“Dia berhenti sejenak ketika ia melihat itu adalah Donna. “Donna? Yah, bukankah kalian berdua pasangan yang ganjil? “Dia tersenyum pada mereka.

“Jason dan aku sudah mengenal satu sama lain – sangat baik,” desah Donna, dan melangkah mendekati Jason, meletakkan lengannya di pinggangnya.

Danny melirik bolak-balik di antara mereka, tampak bingung. “Benarkah?”

“Tidak, salahmu sendiri gampang ditipu,” Donna berkata, “Tak semua orang seperti kau dan bersetubuh dengan siapapun seperti menjatuhkan sebuah topi.”

Danny terbahak mendengarnya, dan datang dan memeluk mereka berdua. “Atau menjatuhkan mantel, ya kan Donna?” Dan ia mengedipkan mata padanya.

Jason tak bisa memastikan dalam cahaya remang dari api unggun, tapi ia cukup yakin Donna memerah.

Percakapan mereka terpotong oleh suara keras sirene, dan sebuah mobil polisi dengan lampu merah dan biru di atap mobil melaju ke tempat parkir, berhenti tanah berkerikil.

“Oh oh,” kata Danny, “Tampaknya seperti akan ada masalah. Aku lebih baik datang memeriksanya.”

Dia bergegas ke arah mobil polisi, dan yang lainnya mengikuti, Donna dan Jason berjalan berdampingan.

Sebuah suara wanita keras terdengar di seluruh lapangan. “Ok, siapa yang bertanggung jawab di sini?”

“Aku Bu,” jawab Danny sopan, saat ia sampai didekat polisi wanita itu.

Jason menyadari siapa wanita ini. Dia polisi Lobeaux, juga dikenal sebagai Mrs. Lisa Lobeaux, ibu Robin Lobeaux, sahabat baik adiknya. Chief Lobeaux adalah polisi lokal yang mempunyai sikap keras, yang suka berurusan dengan remaja tak peduli apa yang mereka lakukan. Menurut adiknya, dia sikapnya sama saja di rumah, memerintah keluarga termasuk suaminya sendiri – seperti mereka adalah bawahannya. Sungguh malang, Jenny menolak untuk bekumpul di luar sana lagi, dan Robin telah menghabiskan banyak waktu di rumah mereka belakangan ini.

“Apakah kalian memiliki ijin untuk menggunakan properti ini?” Tuntut Chief Lobeaux.

“Tidak Bu,” jawabnya, “Aku tak tahu kita membutuhkannya.”

“Anak muda,” dia membentak, “Ketidaktahuan akan hukum bukanlah suatu alasan.”

“Yah, aku …” Danny mulai.

“Apakah ada alkohol di sini?” Tanya dia, memotong kata-katanya.

“Hanya beberapa tong bir. Begini, aku ingin merayakan…”

“Diam nak,” bentaknya, “Kau tahu itu adalah kejahatan untuk menyediakan alkohol pada anak dibawah umur di negara ini?”

“Yah, secara teknis aku tak menyediakan untuk siapapun. Mereka datang dan mengambilnya minuman mereka sendiri.”

Mulutnya langsung jadi mengencang dan dia melangkah lebih dekat pada Danny, payudara besarnya hampir menyembul di dada. Dia secara tak menyenangkan melepas tongkat dari sarung di ikat pinggangnya. “Apakah kau bersikap sok pintar, Nak?”

“Tidak Bu,” jawabnya, tapi ia berjuang keras untuk menahan senyum.

Jason mencoba memberi kode pada temannya, untuk membiarkan dia tahu bahwa dia harus bersikap serius.

Chief Lobeaux memukulkan tongkatnya dengan keras ke telapak tangannya sendiri. “Ya, aku percaya kau sedang sok pintar. Dan kau tahu? Aku tak tahan pada orang yang sok pintar, terutama ketika mereka adalah atlet punk sepertimu.”

“Jujur bu, aku tidak sedang sok pintar. Aku janji. Bahkan, aku sebenarnya lebih dari keledai bodoh. Tanyakan temanku Jason di sana, dia akan memverifikasi bahwa aku benar-benar bodoh.”

Wajah Jason putih seketika. Dia menggelengkan kepalanya dengan keras untuk memberitahu temannya agar jangan melibatkan dirinya.

Tapi Chief Lobeaux mengabaikannya. Tangannya terulur dan meraih Danny pada kerah bajunya. “Kau harus ikut aku nak. Aku akan menunjukkan apa yang kita akan lakukan pada anak sok pintar sepertimu” Dia menyeret Danny ke jalan setapak yang menuju ke dalam hutan.

“Hei!” Teriak Jason, “Mau dibawa ke mana dia?”

Chief Lobeaux berbalik dan memelototinya dengan mata menusuk. “Itu bukan urusanmu nak, dan jika kau, atau salah satu temanmu di sini,” ia berbalik menatap marah pada orang banyak, “memutuskan untuk mengikuti kami, kau akan menghabiskan malam di penjara bersama dengan temanmu di sini, dan orang tuamu akan menghadapi denda besar dan berat. Kalian tetaplah tinggal di sini.”

Dengan itu, mereka masuk ke jalan setapak, dan menghilang ke dalam kegelapan.

Jason tak bisa percaya apa yang telah dilihatnya. Dia akan menyakiti temannya, dan ia tak bisa membiarkan itu terjadi. Tangannya menyentuh kalung di sakunya.

Dia beringsut tanpa ketahuan ke tepi lapangan dan menyelinap ke pepohonan pinus, memasuki kegelapan. Tanah itu ditutupi dengan lapisan tebal daun pinus yang lembut, dan ia mampu bergerak tanpa suara. Ketika ia jalan di jalan setapak dimana kedua orang itu menuju, ia memutuskan sudah waktunya untuk jadi tak terlihat. Dia menempatkan kalung itu di lehernya, dan melucuti pakaiannya dengan cepat, menyembunyikan pakaiannya dan sepatu dibelakang golondongan kayu.

Jalan itu terasa kasar pada kakinya yang telanjang, tapi daun jarum pinus membantu menahannya dan dia mampu berjalan dengan baik. Segera ia bisa mendengar suara Chief Lobeaux ada di depan sana. Dia berharap dia tak terlambat.

Dia tak yakin apa yang akan dilakukan jika ia memukul Danny dengan pentungannya. Walaupun ia memiliki keuntungan menjadi tak terlihat, dia tampak cukup kuat dan mungkin terlatih dalam pertarungan. Dia memutuskan untuk mengawatirkan urusan itu jika sudah sampai di sana.

Pada suaranya, mereka berada dalam lapangan kecil di depan. Dia bergerak lebih lambat sekarang, tak ingin menimbulkan suara. Dia bisa melihat mereka. Mereka berdiri berhadapan, dan Chief Lobeaux yang banyak berbicara. Jason mendekat sampai dia sekitar lima belas meter di sisi mereka, di balik batu besar. Dia bisa melihat keduanya jelas dalam cahaya bulan yang terang. Berjongkok dalam posisi siap siaga, Jason siap untuk melompat bertindak kalau melihat tanda dia menganiaya temannya.

Dia masih memegang pentungan, dan berbicara langsung ke wajah Danny.

“Kau mengadapi banyak masalah, nak” katanya.

“Benarkah?” Jawab Danny. Ia tersenyum lebar.

Jason tak bisa percaya dia begitu angkuh.

“Ya benar. Aku bisa menggunakan pentungan ini padamu.”

Danny tertawa. “Aneh.”

Jason ternganga.

“Atau, aku bisa menangkap dan memborgolmu.”

“Lebih aneh lagi,” kata Danny masih tersenyum, dan menambahkan, “Dengan tuduhan apa?”

“Yah, sebagai permulaan, ada kepemilikan senjata tersembunyi.” Dia menjulurkan tangannya dan meraih tepat di selangkangan Danny, meremas tonjolan yang tampak jelas.

Jason harus menahan tangannya di atas mulut untuk mencegah suara terkesiap dari mulutnya.

Danny tertawa lagi. “Kau tepat sekali bu. Bersalah seperti yang dituduhkan. Tapi mungkin kau lebih baik memeriksa senjata iu untuk memastikannya.”

“Oh Danny,” dia mengerang, “Sudah begitu lama. Aku sangat merindukanmu” Dia berlutut di depannya, dengan cekatan menarik ritsleting ke bawah dan merogoh ke dalam celananya.

Jason merasa pusing. Bagaimana mungkin ini terjadi? Dia merasa seperti sedang bermimpi.

“Kau terlambat Lisa,” kata Danny, “Aku mengharapkan kau satu jam yang lalu.” Dia melepas topi polisinya, memperlihatkan rambut pirang sebahu, dan menempatkan topi itu di kepalanya sendiri, ujungnya sedikit terangkat.

“Aku tahu Danny,” jawabnya lembut, “tapi kapten itu menyebalkan, dan aku harus menyelesaikan beberapa dokumen sebelum aku bisa pergi. Tapi aku ingin kau tahu vaginaku selalu basah untukmu sepanjang waktu. Apakah kau ingin memeriksa?”

Pengelihatan Jason semakin berputar-putar. Untuk pertama kalinya sejak ia menerima hadiah dari Malchediel, ia tak yakin ia bisa menerimanya. Mungkin itu lebih baik jika iatak tahu rahasia-rahasia tentang orang lain sama sekali.

“Nanti sayang,” kata Danny, “untuk sekarang sedot aku dulu. Aku juga sudah tak sabar ketemu denganmu.”

Dia akhirnya mengeluarkan kemaluan Danny dari celananya, dan segera memasukkannya ke dalam mulut, bibirnya melingkar berbetuk oval. Kepalanya mulai naik turun, masuk ke dalam dan kemudian kembali keluar, di mana ia berhenti untuk menjentikkan lidahnya di atas kepala bawahnya.

Ketika pertama kali menarik penisnya keluar dari celana, itu sudah setengah keras, tetapi karena mulutnya bekerja di atasnya, itu jadi lebih kaku dan lebih besar. Donna tak pernah melebih-lebihkan tentang ukurannya. Sialan itu sangat besar. Ketika mereka pergi berenang telanjang di danau ini dengan teman-teman mereka ketika mereka masih kecil, Jason tak memperhatikan sesuatu yang luar biasa – karena itu bukan yang ia cari.

“Apakah aku tadi melakukan pekerjaanku dengan baik Danny?” Katanya, beristirahat sejenak dari menyedot penisnya. “Di depan anak-anak yang lain? Kau pikir aku meyakinkan mereka?

“Kau melakukannya dengan sangat bagus sayang.”

“Kau tak keberatan dengan komentar atlet punk, kan Danny?”

Dia tersenyum. “Itu sedikit keluar batas Lisa, jadi saat kita bertemu lagi di motel, aku harus menghukummu untuk itu.”

Dia menjerit dengan gembira, dan kembali ke kemaluannya, bibirnya erat berderak atas dan ke bawah sepanjang batangnya, sehingga licin dengan air liurnya.

Mata temannya tertutup dan kepalanya ke belakang jelas menikmati saat Chief Lobeaux bekerja pada poros kerasnya. Mulutnya membuat suara mengisap basah bibirnya membentang sekitar ketebalan lebar. Meskipun shock ini pembalikan peran, Jason menemukan dirinya kian terangsang oleh apa yang menonton. Ia membayangkan apa yang akan merasa seperti memiliki bibir wanita ini di sekitar penisnya.

“Mainkan payudaraku Danny,” wanita itu tersentak, “Kau tahu bagaimana aku menyukainya.”

“Apa kata ajaibnya, Chief Lobeaux?” Kata Danny, dengan terengah-engah nikmat dalam suaranya.

“Kumohon Danny. Kumohon mainkan payudaraku.”

Dia mengulurkan tangan dan mulai membuka kancing kemeja seragam ketat abu-abunya. Jason berpikir bahwa jika dia mengambil napas dan melepaskannya dalam-dalam, kancing bajunya akan lepas. Kemeja terbuka memperlihatkan bra berwarna merah muda di bawahnya, dengan payudara besarnya seperti mencoba keluar di atas garis berenda di bagian atasnya.

Tangan Danny meluncur turun antara kulit dan bahan satin bra, dan dia menangkup buah dadanya di tangannya, memberinya remasan keras. Dia mengerang sekitar kemaluannya, saat pinggulnya membuat gerakan berputar-putar kecil.

Danny menariknya ke atas, dan kedua payudaranya keluar di atas bra-nya. Mata Jason melotot lebar. Payudaranya jauh lebih besar dari Sam, dan meskipun karena besarnya tapi payudaranya hanya melorot sedikit, dia berharap bisa menyentuhnya.

Tangan Danny kasar pada dirinya, menjepit putingnya keras dan memutarnya dengan kejam. Jason tahu itu pasti menyakitkan untuk wanita itu, tapi dengan setiap tindakan kasar Danny ia mengeluarkan erangan keras dari dalam tenggorokannya, jelas dia menikmatinya.

“Ya begitu Danny,” katanya, mengambil napas dalam-dalam, “Oh, vaginaku sudah basah kuyup.”

“Apakah kau ingin memainkannya sayang?” Tanya Danny.

“Oh ya Danny, aku sangat ingin.”

“Jadi, memohonlah padaku.”

“Kumohon Danny,” katanya, napasnya terengah-engah singkat, “bisakah aku bermain dengan vaginaku?”

“Apa kau akan mengisap penisku dengan nikmat?”

“Ya sayang. Aku akan menghisapnya sampai sperma lezatmu menyemprot ke bagian belakang tenggorokanku.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tangannya masih bekerja pada payudaranya, mencubit dan memilin.

“Aku akan menelan. Semuanya.”

“Oh, itu sangat bagus Lisa,” keluh Danny. “Ok sayang, bermainlah dengan vaginamu. Nikmatilah.”

“Terima kasih Danny,” keluh dia, dan kepala kemaluannya menghilang ke dalam mulutnya sekali lagi. Tangannya pindah ke antara kedua kakinya sendiri, menarik turun ritsleting dan merogoh ke dalam. Menarik ke samping celana dalamnya, jari-jarinya menemukan apa yang dia cari, dan erangan puas muncul dari tenggorokannya.

Tangannya bergerak begitu bersemangat di selangkangannya, saat ia berusaha memuaskan baik dirinya dan maupun penis keras yang meluncur keluar masuk dari mulutnya. Jason bisa mendengar suara basah licin karena jari-jarinya memetik lebih cepat klitorisnya, dan pinggulnya menyentak terhadap sentuhan.

Mata Danny tertutup lagi saat ia berkonsentrasi pada kenikmatan yang ia rasakan. Pinggulnya mulai bergerak dengan goyang kecil, menyesuaikan gerakan Lisa, Lisa terus meluncurkan bibirnya ke bawah batang tebalnya. Ludahnya menutupi batangnya dan membuatnya jadi mengkilap, dan ada yang mengalir turun ke bolanya, yang mana menetes dan menjadi untaian panjang.

Mata Jason terbelalak lebar sambil mengamati kebinatangan seksual dari seorang wanita. Lisa benar-benar lupa akan segala sesuatu kecuali kesenangan yang dia berikan dan yang dia dapatkan. Mata tertutup, wajahnya menunjukkan ekspresi gembira saat penis Danny bergerak keluar masuk, bibirnya ketat bergerak keatas dan ke bawah, dengan lidahnya bekerja di bawah. Irama mereka perlahan-lahan meningkat, dan erangan Danny semakin keras, dan Jason tahu mereka berdua semakin dekat.

Salah satu tangan Danny meninggalkan payudara Lisa dan naik untuk memegang belakang kepalanya. Jari-jarinya mencengkeram erat rambutnya, dan sekali lagi, Jason melihat dia bereaksi dengan nikmat bukannya kesakitan. Danny memegang kepalanya di tempat saat pinggulnya mengambil ritme lebih cepat, menyodorkan kemaluannya jauh ke dalam mulutnya, dan meluncur keluar, sampai hanya tepi kepala kemaluannya masih tetap antara bibirnya, dan kemudian kembali dalam lagi, dengan dorong cepat dan keras. Ini telah beralih dari Lisa mengisapnya, menjadi Danny yang menggunakan mulutnya. Pipinya menyempit dan melebar, bekerja untuk bersaing dengan intensitasnya yang makin meningkat.

Tangan Lisa juga bertambah cepat, dan tubuhnya tersentak dengan kejang kecil saat kenikmatan bertambah. Dia mengeluarkan suara rendah “uh uh uh”, suara dengusan yang tak disengaja, yang Jason anggap sangat menarik.

Napas Danny terengah-engah, sangat dekat, pinggulnya maju mundur di mulut Lisa dengan cepat. Sebuah erangan rendah keluar dari mulutnya, dan jadi bertambah keras saat pinggulnya terdiam, tangannya mencengkeram kepala Lisa lebih erat saat Danny menariknya, menanam kemaluannya dalam ke bagian belakang tenggorokannya, dan menyemburkan sperma hangat ke dalam dirinya.

Pada saat yang sama, Lisa mencapai titik tertinggi, jari-jarinya bergerak cepat pada klitorisnya, dan tubuhnya tampak mengejang saat orgasme melanda dirinya.

Jason mengamati wajahnya. Dipenuhi dengan kenikmatan ketika matanya tertutup dan bibirnya membentuk lingkaran di sekitar dasar penis milik Danny saat ia terus menyembur ke dalam dirinya. Tetes putih muncul di ujung mulutnya, dan mengalir turun ke dagunya, menetes jatuh ke tanah.

Amulet Bab 8
Amulet Bab 8

Jason menyukai hari Sabtu. Dia bisa tidur sesukanya, dan setelah mengerjakan beberapa tugas pagi di sekitar rumah, sisa hari itu adalah miliknya. Dengan kalung itu, akhir pekan ini menjanjikan sesuatu yang ekstra spesial.

Pagi ini ia bangun dengan kebugaran dalam langkahnya, dengan kenangan malam sebelumnya masih segar dalam pikirannya. Kemampuan barunya membuka peluang yang sangat luas yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Adegan antara Danny dan Chief Lobeaux benar-benar mengejutkannya. Meskipun ia tak yakin ia bisa melihat salah satu dari mereka dengan cara yang sama lagi.

Setelah membersihkan kamarnya, dan mengatur barang-barang yang berserakan di garasi, ia sedang memotong rumput di halaman depan ketika ia menangkap gerakan dari sudut matanya. Menenggok, ia melihat Sam dan ibunya sedang mengeluarkan mobil mereka untuk pergi ke suatu tempat. Ibunya kembali ke dalam, tapi Sam melihat Jason menatapnya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan, memberi isyarat baginya untuk mendekat.

Dia mematikan mesin pemotong rumput dan menuju seberang, kaos putih usangnya tak menyembunyikan banyak keringat yang membasahi dada dan lengannya. Efeknya tak bisa diabaikan oleh Sam, dan ia melihat mata Sam mengamati tubuhnya saat mereka bertemu di pagar.

“Kau terlihat keren hari ini Jason,” katanya dengan senyum senang.

“Aku merasa kotor,” katanya, malu karena cara Sam memandangnya.

“Kotor itu kadang-kadang bagus,” jawabnya.

Ngomong-ngomong tentang keren, Sam tampak sangat seksi hari ini, dengan celana jeans dipotong pendek, dan tank top oranye yang memeluk lekuk payudaranya dan memperlihatkan perutnya. Garis-garis bra-nya terlihat, dan pikirannya mengembara saat ia bertanya-tanya apakah itu adalah bra yang sama ia telah pakai dua malam lalu.

“Kau sendiri lumayan keren hari ini, Sam,” ia mendengar dirinya mengatakan itu, dan segera jadi memerah.

Tapi Sam berseri-seri oleh pujiannya, wajahnya berbinar sambil tersenyum.

“Kalian akan pergi keluar?” Ia bertanya, mengangguk ke arah mobil.

“Ya, ibu dan aku akan pergi ke Mall. Ini ritual kami di hari Sabtu pagi.”

Mrs. Scott keluar rumah lagi. Jason menyadari tubuhnya masih terlihat cukup bagus untuk usianya, dan jika Sam mewarisi gen darinya, berarti Sam beruntung. Ia menyadari bahwa ia sedang memikirkan Mrs. Scott sebagai seorang wanita untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dia bertanya-tanya apa yang menyebabkan itu, dan ingat Mrs. Lobeaux tadi malam. Ya Tuhan. Pikirannya mulai bergulir pada pertanyaan bagaimana Mrs. Scott terlihat saat memberikan blowjob. Tidak tidak tidak dia mengulangi dalam hati, sampai gambaran itu memudar.

“Jason Selamat pagi,” kata Mrs. Scott sopan, datang ke tempat Sam dan dia berdiri, “Apa yang telah kau lakukan?”

Jason telah jadi favoritnya ketika masih anak kecil. Dia menikmati kunjungan Jason sehari-hari untuk bermain dengan Sam, dan ia akan selalu memastikan untuk menyediakan banyak makanan ringan yang ia sukai. Tapi itu berubah selama masa nakalnya. Terlalu banyak kejadian putrinya pulang menangis dan telah mengeraskan hatinya terhadap dia. Sekarang, Mrs. Scott sopan padanya karena Sam memintanya padanya, tapi tak ada kehangatan di belakangnya. Jason mengerti alasannya kenapa.

“Tidak banyak Mrs. Scott,” jawabnya.

“Sam,” katanya, “ketika aku ke dalam rumah, aku mendapat telepon dari tante Carol. Nenek mengalami masalah dengan pipa air lagi, dan aku harus menelepon dan memanggil tukang ledeng untuknya. Ini mungkin akan memakan waktu cukup lama, jadi kau punya sekitar 45 lima menit sebelum kita pergi.”

“Nggak masalah ma. Aku akan jalan-jalan sebentar.”

Mrs. Scott berbalik dan kembali ke dalam rumah.

Sam beralih ke Jason. “Hei, kau ingin jalan-jalan denganku? Aku punya sesuatu yang aneh untuk kuberitahu padamu.”

“Aneh?”

“Ya. Mau pergi?”

Biasanya ia akan mencoba mengelak untuk jalan-jalan dengan Sam. Tapi setelah pengalamannya dua malam yang lalu, ia tampak berbeda baginya. Dia benar-benar berharap untuk ngobrol dengannya.

“Jika kau nggak masalah aku pakai baju seperti ini, ayo.”

“Sama sekali nggak,” katanya, dan ia memperhatikan Sam mengamati tubuhnya.

“Ok, beri aku satu menit untuk menyelesaikan memotong rumput dan mengembalikan pemotong rumputnya.”

Beberapa menit kemudian mereka berangkat, berencana untuk mengambil rute yang panjang di sekitar kompleks akan membawa mereka kembali tepat waktu.

“Jadi, hal aneh apa yang ingin kau beritahu padaku?” Tanya Jason.

“Beberapa malam lalu, setelah kita ngobrol di depan rumahku, aku mimpi tentang kamu.”

Matanya melebar. “Bermimpi? mimpi seperti apa?” Biasanya dia tak akan peduli kalau Sam bermimpi tentang dia, tapi, mengingat apa yang terjadi, Ia penasaran.

“Itu mimpi yang aneh. Nggak seperti mimpi normal biasa.”

“Tentang apa?”

“Yah, seperti aku bilang, aneh. aku terbaring di tempat tidurku tertidur, dan kau ada di sana, menjagaku. Melindungiku.”

Jason tak bisa bicara.

“Sulit menjelaskannya,” lanjutnya, “tapi itu membuatku merasa aman, karena tahu kau ada di sana menjagaku.”

“Wah aneh.” Dia tak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan.

“Yah, tapi aku menyukainya. Itu sangat bagus.”

Jason memutuskan untuk bercanda. “Apakah kau pakai piyama merah muda itu? Yang dulu sering aku olok-olok ketika kita masih kecil? Ingat ketika aku memanggilmu Peter Cottontail?”

Sam tertawa. “Aku ingat. Tapi nggak, aku nggak pakai itu lagi. Aku…” dan Sam berhenti dan pipinya langsung memerah.

“Apa?”

“Aku nggak pakai apa-apa,” tuntasnya, dan bertambah merah.

Dia juga memerah, tetapi mengatakan, “Jadi tunggu, dalam mimpi kau berbaring telanjang di tempat tidur, dan aku mengawasimu, dan tak terjadi apapun?”

“Kau bersikap baik malah. Bahkan menarik selimut di atas”

Jason menatapnya, tak dapat berkata-kata lagi. Apakah mungkin dia telah terbangun dan entah bagaimana caranya tahu ia ada di sana? Itu sangat tak mungkin, mengingat apa yang telah Sam lakukan di depannya.

“Jadi, mm, dimana aku menontonmu?”

“Aku tak tahu. Itu aneh juga. Rasanya seperti kau ada di sana tapi kau nggak benar-benar ada.”

Jason merasakan dorongan yang tiba-tiba untuk mengalihkan pembicaraan tentang dirinya. Dia semakin dekat dengan kebenaran. Dia berseru hal pertama yang muncul dipikirannya.

“Jadi apa kau bermimpi telanjang, atau apa kau benar-benar telan …?” Di tengah kalimat dia menyadari apa yang ia katakan, dan suaranya melemah. Dia meringis dalam hati. Dasar idiot.

Ia melirik dan melihat Sam memberinya ekspresi aneh. Tapi dia tersenyum juga, yang merupakan pertanda baik.

Dia berpikir Sam akan mengatakan sesuatu, tapi ia terus saja tersenyum padanya dan memberinya tatapan aneh itu.

Akhirnya, ia berkata, “Apa?”

“Jason Clark Ramsey, kau dalam masalah besar!”

Jason langsung tertawa. Sam sering mengatakan itu padanya sepanjang waktu ketika mereka masih kecil. Dia pernah mendengar ibu Jason mengatakan padanya sekali ketika mereka pulang belepotan lumpur dari satu petualangan mereka di hutan dengannya. Sam akan mengatakan padanya ketika mereka sedang bermain Go Fish dan Sam memegang kartu besar. Atau ketika dia akan bersendawa sangat keras setelah minum Cola, yang biasanya diikuti dengan ibunya mengatakan dengan tegas mengingatkan dia atas sikapnya.

“Aku sudah lupa tentang semua itu,” katanya, masih tersenyum. “Kau bisa meniru ibuku dengan sempurna.”

“Aku masih bisa mendengar ibumu berteriak padamu. Kita berdua tertutup lumpur, bahkan sampai ke rambut, dan kita berjalan pulang tanpa tahu sedikitpun bahwa kita akan mendapat masalah.”

“Itu salahmu.”

“Salahku?”

“Ya, kau ingat kan? Kita ada di sungai dan sangat becek karena hujan turun, dan kau bilang kau pernah mendengar ibumu bilang akan pergi ke spa untuk mandi lumpur. Jadi kita melihat ada lumpur dan memutuskan, siapa yang butuh spa?”

Sam menyeringai. “Oh ya. Aku ingat sekarang. Sepertinya ide yang bagus saat itu.”

“Selalu seperti itu, kan? Seperti saat kita memasukkan mantel bulu ibumu di mesin cuci.”

“Yah,” katanya, “atau ketika kita menelepon 911 karena kita mendengar orang tuamu di kamar tidur mengeluarkan suara aneh dan kita pikir mereka terluka.”

Jason meringis. “Butuh waktu bertahun-tahun untuk memblokir dari ingatanku, tapi terima kasih untuk mengingatkannya.”

Sam tertawa. “Maaf.”

“Kupikir itu setelah orang tua kita berkumpul dan memasang pagar pemisah. Mereka pikir akan lebih aman jika kita berpisah.”

Sam tertawa kecil. “Kupikir mereka benar.”

Mereka berjalan beberapa saat tanpa berbicara, lalu ia berkata, “Keduanya.”

“Keduanya?”

“Jawaban atas pertanyaanmu tadi,” katanya sambil nyengir.

Jason teringat pertanyaannya dan tersipu.

“Mm, jadi, kau biasanya seperti itu?”

“Nggak, aku biasanya pakai piyama merah muda dengan kaki di dalamnya.”

Dia tertawa. “Masih punya itu hah?”

“Tapi untuk menjawab pertanyaanmu, Mr. Penasaran, nggak, itu bukan kebiasaanku. Aku barusan mandi dan lelah, jadi aku berbaring istirahat sedikit dan tahu-tahu aku sudah tidur.”

Pikirannya melayang kembali tentang apa yang telah benar-benar dia lakukan sebelum tidur, dan ia memandang Sam. Jason punya perasaan dia juga berpikir tentang hal itu.

Ketika ia memandangnya, ia teringat deskripsi Donna tentang Sam. Sangat cantik. Pada saat ini, ia harus setuju dengan Donna. Dia selalu menganggap Sam sebagai cewek kecil yang jadi teman bermainnya, bahkan saat ia semakin dewasa dan mulai berubah. Tapi apa yang dilihatnya malam kemarin telah mengguncang gambar lama tentang dia, dan sekarang ia melihat hal-hal yang ia lewatkan olehnya.

Mereka tiba di sebuah persimpangan, dan saat mereka menyeberang jalan, Jason melihat sebuah mobil menuju kearah mereka. Tanpa pikir panjang, ia mengambil tangan Sam dan bergegas membimbingnya menyeberangi jalan. Ketika mereka sampai di trotoar, dia menunduk dan melihat apa yang telah dilakukannya, dan melepaskan genggaman tangannya. Apa itu tadi? Jason melirik untuk melihat reaksinya, tapi Sam hanya tampak tersenyum puas.

Mereka semakin dekat dengan jalan menuju rumah mereka, dan ketika mereka melewati sebuah bangku, ia bertanya, “Bisakah kita berhenti di sini sebentar?”

Sam tampak penasaran, tapi berkata, “Tentu.”

Mereka duduk dan Jason mulai mengumpulkan pikirannya. Dia sudah berpikir untuk menceritakan ini padanya, dan ingin melakukannya dengan benar.

“Sam,” ia memulai, “Saat kita nggak berteman dulu, aku benar-benar melakukan hal-hal jahat padamu, dan aku ingin minta maaf.”

Sam tersenyum lembut. “Jason, kau seorang anak laki-laki, dan aku adalah anak perempuan yang selalu mengikutimu. Aku pikir ada hukum alam yang menyatakan bahwa anak laki-laki harus bersikap jahat pada anak perempuan pada usia itu.”

Dia menggelengkan kepala. “Nggak, itu berbeda. Kebanyakan anak laki-laki dan perempuan nggak punya persahabatan seperti kita. Dan aku jahat padamu meskipun yang kau mau hanya persahabatan. Ketika aku berpikir tentang beberapa hal yang kita … aku … lakukan padamu, aku merasa sangat malu.”

Sam diam sejenak sebelum menjawab. “Itu memang menyakitkan. Tapi aku selalu tahu ada sesuatu yang istimewa di antara kita. Aku tahu kita akhirnya akan berteman baik lagi.”

“Dan kau benar. Disinilah kita, bersahabat lagi.”

“Ya, sahabat.” Sam tersenyum, tapi ada sesuatu di balik matanya dan ia tahu ia telah mengatakan sesuatu yang salah.

Itu adalah gilirannya untuk berhenti sejenak dan berpikir. Dia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. “Ada sebuah lukisan di perpustakaan di atas tangga – satu karya Monet kupercaya – dan aku berjalan melewatinya selama bertahun-tahun berpikir itu hanya gumpalan warna. Lalu suatu hari di kelas Seni kami membahas tentang lukisan klasik, dan lukisan itu adalah salah satunya. Guru bicara tentang apa arti lukisan itu, dan semua benda di dalamnya disimbolisasikan. Waktu berikutnya saat aku berada di perpustakaan aku melihat lukisan itu dengan sudut pandang yang benar-benar baru.”

Dia menatapnya, alisnya berkerut.

“Sama juga dengan manusia,” lanjutnya. “kau memnadang mereka dengan satu sudut pandang selama bertahun-tahun, dan kemudian sesuatu terjadi dan kau memahami sesuatu di dalamnya yang kau nggak lihat sebelumnya.”

Dia menatapnya. “Jason, apa kau ngomongin tentang kita?”

“Aku selalu melihat kau sebagai teman Sam, dan aku masih melakukannya. Tapi sesuatu terjadi baru-baru ini dimana aku mulai melihatmu secara berbeda.”

“Berbeda? Bagaimana?”

“Yah,” ia ragu-ragu, “Bagiku, kau selalu jadi temanku, yang kebetulan seorang cewek. Namun belakangan, aku lebih banyak memikirkan tentang aspek ceweknya.”

Sam tersenyum. “Aspek cewek? aku sendiri juga bertanya-tanya kapan kau akan menyadarinya.”

Jason tersipu. “Aku mungkin agak lambat menyadarinya tapi aku nggak buta.”

Sam tertawa. “Jadi Jason, apa yang kau pikirkan tentang aspek cewekku?”

Jason menyeringai. “aku akan menolak menjawab pertanyaan itu.”

Sam akan meresponnya ketika terdengar suara klakson mobil. Mereka mendongak dan melihat ibunya berhenti di tepi jalan.

“Sam,” katanya, “aku selesai lebih cepat dari yang kukira. kau siap pergi?”

“Tunggu sebentar, Ma,” jawab Sam, dan berbalik kembali ke arah Jason. “Kita akan melanjutkan ini nanti mister. kau nggak akan lepas dari pembicaraan ini dengan mudah.”

Jason tertawa. “Aku menunggunya.” Dan dia serius.

“Mau melakukan sesuatu nanti?” Tanyanya.

“Tentu. Gimana kalau kita pergi ke suatu tempat dan ngobrol lagi?”

“Tempat Angelo?” Katanya. “Kita bisa ketemu di tempatku sekitar jam delapan, dan jalan kaki?”

“Ini kencan.”

Sam berseri-seri menatapnya. Jason pikir matanya tampak menakjubkan.

“Nanti,” katanya, dan melompat dari bangku dan pergi ke mobil. Sam tampak senang.

Dia melihat mobil menghilang di jalan, dan kata-kata terakhirnya kembali terngiang. Hah, pikirnya, kukira itu benar-benar kencan.

Amulet Bab 9
Amulet Bab 9

Jason memutuskan untuk menghabiskan sisa paginya dengan mencari petualangan lain dengan kalung itu. Tapi setelah pengalamannya dengan Danny dan Chief Lobeaux malam kemarin, ia dalam suasana hati untuk sesuatu yang sedikit lebih normal. Mungkin jalan-jalan di sekitar blok, untuk melihat apa yang bisa ia temukan? Ia menilai apakah ia harus pergi dengan berpakaian dan membawa itu kalung di sakunya, atau pergi telanjang mengenakan kalung itu. Menyimpulkan bahwa mungkin sulit untuk menemukan tempat untuk melepas pakaian, ia memilih yang terakhir. Pagi itu bagus, tetapi tidak terlalu panas, dan ia akan nyaman tanpa pakaian. Dia mulai terbiasa dengan ini.

Dia berjalan mengelilingi blok sekitar rumahnya, tapi tidak melihat sesuatu yang menarik. Kebanyakan adalah orang di halaman rumah mereka membersihkan rumput, atau keluar menuju ke dalam mobil mereka. Saat ia kembali ada didekat rumahnya, ia pikir pencariannya akan jadi sia-sia.

Tapi dua pintu sebelum rumahnya dan di seberang jalan, dia ingan itu adalah rumah keluarga Raders, di mana Tom dan Beth Rader tinggal. Mereka pasangan muda, hampir belum setahun menikah, dan pindah ke lingkungan itu musim semi lalu, tepat setelah mereka menikah. Jason bertemu mereka musim panas lalu ketika Tom meminta bantuannya untuk memotong rumput mereka beberapa kali ketika ia keluar kota untuk perjalanan bisnis panjang. Mereka berdua sekitar pertengahan dua puluhan, lebih dekat dengan usia Jason daripada orang tuanya. Athletik dan sehat, mereka sering turun di taman bermain tenis satu sama lain.

Dia kadang-kadang mendengar orang tuanya membicarakan tentang mereka ketika mereka pikir Jason tidak bisa dengar, dan rang tuanya memberi nama panggilan untuk pasangan Raders dengan sebutan ‘Kelinci’. Jason tak yakin apa yang mereka maksud, sampai suatu hari di musim panas lalu dia berdiri di dalam pintu depan, sementara orang tuanya sedang duduk bersama di ayunan di luar rumah. Pasangan Raders itu berada di luar di halaman mereka, di mana Tom pemangkasan pagar dan Beth penyiangan bunga-bunga. Kemudian Tom berjalan ke arah di mana Beth berlutut di bedeng bunga, membungkuk, dan mencium bagian belakang lehernya. Beth berdiri, berbalik, dan mereka berpelukan. Tom memegang tangan Beth dan membawanya ke dalam rumah.

Orang tuanya jelas tak tahu bahwa Jason berdiri dalam jarak pendengaran, karena ibunya berkata, “Lihat mereka seperti kelinci lagi.”

Ayahnya tertawa kecil. “Aku ingat saat-saat seperti itu.”

“Kupikir kita tak pernah berhubungan seks sesering mereka berdua,” kata ibunya, “Mereka lengket satu sama lain setiap menit dalam sehari.”

Jason pikir telinganya salah dengar. Apakah dia benar-benar barusan mendengar ibunya berkata begitu? Dia mundur dengan cepat dan tenang menjauh dari pintu, bersumpah untuk tak pernah menguping orang tuanya lagi.

Saat mendekati rumah Rader, keberuntungan bersamanya. Mobil mereka baru saja masuk ke halaman rumah mereka, dan dari cara mereka berpakaian sepertinya mereka baru saja tenis di taman. Ia tahu ia harus bergerak cepat, jadi ia berbalik dan mengikuti mobil mereka di jalan masuk. Pintu garasi terbuka, dan mobil meluncur kedalamnya. Jason datang setelah mereka, dengan pintu bergulir di belakangnya.

Dia berdiri di pojok mengamati mereka keluar dari mobil dan ia memasuki rumah mereka melalui pintu samping.

Dia mendengar Beth berkata, “Kau simpan dulu raketnya dan aku akan menyiapkan shower.”

Mereka menutup pintu di belakang mereka, dan Jason menunggu beberapa menit sebelum ia mencoba untuk membukanya. Menyelinap kedalam, ia mencoba untuk mengorientasikan dirinya di dalam rumah. Dia melihat tangga ada di dekat pintu depan dan mengarah naik ke lantai dua. Di bagian atas tangga ke samping adalah kamar mandi, dan ia bisa mendengar suara shower mengalir. Pintu terbuka dan ia mengintip ke dalam.

Pemandangan yang indah sudah menunggunya. Beth sudah telanjang, dan ia sedang membungkuk di bak mandi, menempatkan tikar mandi ke dalamnya. Dia memiliki sudut pandang yang sempurna tepat pada pantatnya, dan jelas bisa melihat bibir berbulu di bawahnya. Mereka terlihat begitu mengundang, ia terpesona.

Saking terpesonanya, ia hampir tak mendengar suara dari belakangnya. Bergerak cepat, ia nyaris terlambat bergeser ke samping saat Tom berjalan melewatinya. Mereka begitu dekat dia bisa merasakan udara bergerak melewati kulitnya ketika Tom lewat. Jantung Jason mulai berdegup cepat, karena dia sadar dia hampir saja ketahuan.

Tom, yang juga telanjang, pasti juga menikmati pemandangan yang sama seperti Jason, karena ia muncul di belakang Beth, meraih pinggulnya, dan menekan tubuhnya pada pantat Beth.

“Tommy,” ia tertawa, “kau hampir membuatku terjatuh.”

“Aku memegangimu sayang,” katanya, dan dia benar. Dia memegang pantatnya dengan kencang dan menempelkan pangkal pahanya, dan memang Beth jelas tak mungkin jatuh. Dia adalah seorang wanita bertubuh mungil, tetapi memiliki bentuk tubuh yang kuat dan ramping. Payudaranya kecil dan bulat, yang mana Jason hanya bisa mengira lewat baju tipis yang biasanya dipakai. Dia tidak sabar menunggu Beth untuk berdiri sehingga dia bisa melihat payudaranya secara langsung.

Tom berbadan tinggi, tetapi juga ramping dan berotot. Setiap kali mereka berdiri di samping istrinya, Beth hanya setinggi dadanya.

Ketika dulu Jason memotong rumput rumah mereka, dan Tom ada di halaman dan Beth sendirian di rumah, ia sering berfantasi tentang dia. Dia telah mendengar cerita-cerita tentang ibu rumah tangga yang merayu remaja laki-laki, dan membayangkan apa yang bisa terjadi antara Beth dan dia. sayangnya, tak ada yang pernah terjadi, dan satu-satunya interaksi yang mereka miliki adalah ketika dia kadang-kadang membawa keluar segelas jus jeruk. Atau mungkin juga bisa disebut untungnya, karena melihat otot-otot Tom, ia benar-benar tak ingin berada di posisi yang salah atau ia akan mendapat pelajaran yang keras.

Akhirnya, Tom melepaskan pegangannya, dan Beth berdiri, berbalik dan memeluk pinggangnya. Payudaranya kecil, tapi berbentuk sempurna, bagus dan bulat dengan puting kecil. Tangan Tom meluncur turun ke punggungnya, dan selanjutnya turun ke pantatnya, menangkupnya dan menarik agar mendekat. Beth memiringkan kepalanya ke belakang sambil menengadah, dan mereka mencium dalam. Jason mengawasi dan menjadi terangsang.

Setelah beberapa saat, mereka berpisah dan melangkah ke kamar mandi, mengeser pintu kaca menutupnya.

Pandangan melalui kaca agak terdistorsi karena air memercik dan membuatnya tak jelas, tapi ia masih bisa melihat sebagian besar dari apa yang sedang terjadi. Mereka mulai dengan ciuman, tapi kemudian memisahkan diri dan menyabuni badan mereka sendiri. Dia memperhatikan Beth menyebarkan busa di atas payudaranya yang mungil, dan menatap dengan penuh perhatian ketika ia berbalik dan membiarkan semprotan shower membilas mereka.

Sementara itu, Tom mulai mencuci kemaluannya. Sudah setengah keras dari ciuman penuh gairah mereka, tapi karena ia menggosokkan busa di atasnya, itu menegang lebih keras. Beth berbalik dan melihat apa yang sedang Tom lakukan. Beth perpura-pura menampar tangannya pergi, dan berkata, “Hei, itu pekerjaanku.”

Dia mengambil sebatang sabun dan mengumpulkan busa di tangannya, dan mengulurkan tangan dan menggenggam miliknya, memberikan remasan kecil. Dia mulai dengan gerakan membelai, yang dengan cepat membuatnya tegang sepenuhnya. Tangannya memutar dan membelai secara bersamaan, masing-masing dalam arah yang berlawanan, dan Tom sepertinya sangat menikmati efeknya. Tangannya menemukan payudaranya dan meremas, dan kenikmatan akan sentuhannya muncul di wajah istrinya.

Mereka akhirnya berhenti dan menyelesaikan mandinya. Mematikan shower, mereka melangkah keluar dan mulai mengeringkan diri, dan penis Tom kaku dan terayun-ayun setiap dia bergerak. Beth pura-pura akan meraihnya, Tom tertawa dan bergeser menjauh dari jangkauannya.

Sambil menyeringai, Beth mencoba strategi yang berbeda. Bergerak mendekatinya, dia meletakkan tangannya di atas bahunya dan melompat, menarik tubuhnya ke atas dan melingkarkan kakinya di pinggang Tom. Saat ia menempel erat padanya, Tom menangkup kedua pantatnya, menahan berat tubuhnya. Mereka berciuman lagi, kali ini bibir mereka pada posisi sejajar, dan Tom mulai berjalan.

Jason harus memberi jalan mereka lagi, dan mereka berjalan melewatinya, Tom membawa istrinya dengan mudah di lorong dan masuk ke pintu yang terbuka. Setelah beberapa saat, Jason mendengar suara samar dari kasur yang tertekan.

Dia mengikuti mereka dengan perlahan, tak ingin mengeluarkan suara. Ketika ia sampai di sudut kamar, ia terkejut melihat Tom sudah memasuki istrinya.

Dari sudut pandang belakang mereka, Jason memiliki pandangan yang sempurna dari aksi mereka. Mereka berada di tempat tidur, Beth berbaring telentang, dan tangan Tom mengait di belakang lututnya dan menekannya di dekat bahunya. Jason memberikan nilai tinggi untuk kelenturan tubuh Beth. Posisinya menyebabkan kemaluannya miring ke atas, yang memberikan sudut lurus pada penisnya. Tom berlutut, dan ia menggunakan gerakan pinggulnya masuk dan keluar dari dalam dirinya.

“sayang,” kata Tom, napasnya menjadi lebih cepat, “kau membuatku sangat tegang di kamar mandi. Aku nggak akan tahan lebih lama lagi.”

Beth sambil terengah menjawabannya. “Nggak papa Tommy. Lakukan saja dengan keras sampai kau keluar.”

Tommy melakukan apa yang dimintanya, meningkatkan kecepatan dan menekan pinggulnya ke dalam miliknya, berulang-ulang, tubuh mereka bertumbukan membuat suara keras.

Tom mengerang dan melengkung punggungnya oleh kenikmatan, menekan pinggulnya erat di pangkal pahanya, mengubur diri sepenuhnya di dalam dirinya. Beth mencakar kukunya dengan ringan di punggungnya dan pantat saat Tom keluar, tersenyum ke arahnya. Matanya mengamati saat kenikmatan pelan-pelan mulai memudar dari wajahnya dan berganti dengan kepuasan, dan kemudian Tom rileks ke dalam pelukannya. Dia melepaskan pegangan lututnya dan kakinya turun, masih melingkari pinggulnya. Berbaring seperti itu selama beberapa saat, mereka berbagi ciuman dan bisikan lembut, saat napasnya kembali normal.

Dia mengangkat tubuhnya, lalu berbaring di sampingnya, bersandar pada satu siku, dan berkata, “Katakan apa yang kau mau sayang.”

Beth tersenyum ke arahnya, dan tampaknya mempertimbangkan pilihannya. Akhirnya dia memutuskan. “Aku mau tanganmu padaku.”

“Posisi favorit kita?”

“Tentu saja.”

Rasa ingin tahu Jason langsung tersulut.

Tom naik tempat tidur dan duduk dengan punggung menempel kepala tempat tidur, meregangkan kakinya dengan lutut ditekuk. Beth berpindah kedepannya dan duduk di antara kedua kakinya yang terbuka, menempelkan punggung Beth ke dadanya. Kaki Beth persis seperti suaminya – meregang dengan lutut ditekuk. Tapi kakinya datar di atas kasur pangkal pahanya terbuka untuk sentuhan Tom dan juga pandangan Jason. Bibirnya sedikit terbuka dan basah dengan cairan mereka berdua.

Tom menangkup payudaranya dari belakang dan menciumi lehernya. Beth mendesah dan bersandar semakin merapat, tubuhnya rileks. Satu tangan Tom meluncur ke bawah perutnya, dan ia menggerakkan sepasang jari ke atas celah basahnya. Jason bisa tahu kapan Tom mencapai klitorisnya, karena tubuh Beth mengejang pada saat yang sama.

Jason mengira Tom akan membuat istrinya orgasme dalam waktu singkat, dengan menggerakkan jari-jarinya dengan cepat. Tapi apa yang ia lihat malah mengejutkannya. Tom mulai dengan irama lambat, membelai klitorisnya dengan jari-jarinya melingkar dengan pelan. Beth benar-benar rileks, menyerahkan tubuhnya pada sentuhannya. Menit-menit berlalu, dan Tom sengaja menjaga kecepatannya itu. Mata Beth tertutup, dan napasnya ringan, disertai sesekali erangan lembut.

Tangan Tom yang lain bergantian di antara putingnya, meremas dengan pelan. Dia mencium telinganya dengan lembut, membisikkan kata-kata lembut yang Jason tak mungkin bisa dengar.

Jason belum pernah melihat atau membayangkan hal seperti ini. Persetubuhan mereka sebelumnya seperti apa yang ia kira – keras dan cepat dan eksplosif. Tapi sekarang lembut dan lambat, dan dia benar-benar bisa melihat cinta Tom pada Beth dari cara ia memeluk dan menyentuhnya. Beth telah menyerahkan diri pada sentuhannya, tapi ia juga menyerahkan dirinya untuk kenikmatannya. Setiap gerakan yang dibuatnya dilakukan dengan maksud membuatnya merasa nikmat. Jason baru sadar bahwa apa yang dilihatnya jelas membedakan antara berhubungan seks dengan bercinta. Kedua orang ini bercinta dan mengekspresikannya dengan tubuh mereka.

Tubuh Beth sedikit lebih aktif sekarang, dengan berkedut dan mengejang kecil melanda tubuhnya, dan pernapasannya meningkat sedikit. Tom mempertahankan ritmenya, membawa dia naik sedikit demi sedikit, bersikap seakan dia memiliki waktu sepanjang hari untuk melakukan ini padanya.

“Ya sayang oh,” bisiknya lembut. “Aku hampir sampai sayang.”

Pinggul Beth mulai bergoyang sedikit, bergerak seirama dengan jarinya. Cairan Tom sekarang menetes keluar dari pangkal paha beth, cairan putih mengalir lambat di antara bibir bagian dalamnya, turun ke celah pantatnya, dan akhirnya ke seprei.

Napasnya mantap, masuk dan keluar, membangun momentum seiring menit berlalu. Bibir Beth pada awalnya hanya sedikit terbuka, tapi sekarang mengeluarkan erangan lembut setiap kali membuang napas. Tangan Beth pindah berpegang di kedua sisi kaki Tom, jari-jarinya berkedut kecil seolah-olah mencari tempat untuk berpegang. Dia menemukannya, dan mencengkeram di atas lututnya, dan pengencangkan otot-otot tangannya, menunjukkan bahwa Beth sedang memegang dengan erat.

Sekarang erangan keras keluar diiringi napas yang pendek, dan tubuhnya kejang-kejang dengan sentakan kecil, Jason tahu Beth sudah dekat, siap untuk meledak.

Dan Tom masih terus menjaga ritme lambatnya, jari-jarinya dengan sabar membelai titik kenikmatannya, jarinya berputar beringsut sedikit menuju tepi.

Tiba-tiba Beth sampai ke tempat yang dituju. Tubuhnya melengkung dalam pelukannya seperti ada seseorang yang menyerumnya dengan defibulator. Beth mungkin akan melompat darinya jika dia tidak memeganginya erat-erat. Sebuah jeritan ekstasi yang spontan datang darinya, begitu tajam dan tiba-tiba hingga mengejutkan Jason. Dia bisa melihat otot menegang di kakinya saat ia mencoba menekan pinggulnya ke atas, menekan vaginanya yang berdenyut pada tangannya.

Beth memiringkan kepalanya jauh ke belakang bahunya, dan mulut Tom ditemukan mulutnya, dan meredam sisa suara erangannya. Tom memeluknya seperti itu ketika orgasme terus menggulung melanda tubuhnya, tubuhnya mengejang setiap beberapa saat. Akhirnya, orgasmenya mulai surut, dan setelah beberapa saat Beth jatuh lemas kembali kepelukannya, diam seperti boneka kain yang dibuang kecuali hanya napasnya yang mulai lambat. Tom terus dengan ringan mencium leher dan wajah, dan jari-jarinya masih terkubur di vaginanya, tetapi tidak lagi bergerak.

Pasangan itu berbaring bersama seperti itu selama beberapa saat, dan Jason pikir Beth sudah tertidur. Tapi ketika Tom membisikkan sesuatu ke telinganya, dia tersenyum dan berkata, “Ya, aku merasakannya. Di mana kau mau memasukannya?”

Amulet Bab 10
Amulet Bab 10

Jason berbaring di tempat tidurnya, pikirannya dipenuhi dengan apa yang telah dilihatnya sebelumnya. Dia telah kembali beberapa saat yang lalu dari rumah pasangan Rader, dan sudah memuaskan diri dengan tangannya sendiri ketika kenangan dari Tom dan Beth masih segar dalam pikirannya. Ini sama sekali tidak seperti apa yang telah ia saksikan malam lalu antara Danny dan Chief Lobeaux, yang, bisa dikatakan, hanya pertukaran cairan tubuh. Dia telah menyaksikan seks antara dua orang yang saling mencintai, dan untuk beberapa alasan dia tak bisa paham, mengapa gambar Sam tetap datang ke pikiran. Dia merasa penasaran karena gambaran yang paling kuat bukanlah apa yang ada diantara kedua kakinya, tapi wajah Sam saat dia tidur dengan puas setelah itu.

Lamunannya terpotong oleh suara ibunya memanggilnya dari lantai bawah. Dia keluar di lorong ke puncak tangga, dan melihat ibunya berdiri di bagian bawah dengan telepon menempel dadanya.

“kau dapat telepon,” katanya, lalu menambahkan dengan berbisik, “Ini cewek.”

Jason bingung. Seorang cewek menelepon dia? Yang mana itu belum pernah terjadi sebelumnya. Siapa yang dia kenal yang akan meneleponnya? Sam akan datang jika ia ingin bicara, dan selain itu, ibunya akan mengenali suaranya.

“Siapa itu?” Tanyanya.

“Dia tidak bilang,” ibunya menjawab, masih berbisik.

Jason melangkah menuruni tangga masih memakai kaus kaki, dan mengambil telepon. Mengangkat ke telinga, dia dengan gugup berkata, “Halo?”

Sebuah suara merdu cewek berkata, “Jason? Apakah ini Jason?”

“Aku sendiri, mm, mm, ya, aku Jason.”

“Hai Jason, kuharap kau nggak keberatan aku meneleponmu, ini Becky Johnson.”

Otaknya langsung berhenti. Dia tak bisa berpikir. Dia tahu dia harus mengatakan sesuatu, tapi mulutnya tidak mau bekerja sama.

“Jason? kau masih di sana?”

“Hai Becky,” itu yang bisa ia katakan. Suara itu tidak terdengar seperti suaranya sendiri.

Ibunya menatapnya penuh rasa ingin tahu, tapi ia tidak menyadarinya.

“Hai Jason,” ulangnya, “Dengar, aku minta maaf mengganggumu seperti ini, dan aku tahu itu menit-menit terakhir, tapi aku bertanya-tanya apa kita bisa ketemu malam ini buat ngobrol.”

“Ngobrol? Tentang apa? “Dia tergagap. Dia memukul telapak tangannya di dahinya. Dia mengoceh seperti idiot.

“Tentang sesuatu,” katanya, “Apakah kau mau?”

“Tentu. Aku mau.”

“Bagus. Bisakah kau menjemputku sekitar jam delapan? Apakah kau tahu di mana aku tinggal?”

“Yah,” katanya, dan menyadari bahwa ia mungkin terdengar seperti penguntit.

“Sudah beres. Sampai nanti Jason. Bye.”

“Bye,” katanya, tapi ia mendengar bunyi dia menutup telepon ketika mengatakan itu.

Tertegun, ia berpaling ke ibunya yang masih berdiri mengawasinya, dan berkata, “Ma, aku perlu pinjam mobil malam ini.”

Ibunya tersenyum, mengamatinya bergegas kembali menaiki tangga menuju kamarnya.

Dia berbaring di tempat tidurnya, pikirannya berputar kencang. Ini tak masuk akal. Mengapa dia menelepon? Apa yang dia ingin bicarakan?

Dia berpikir tentang percakapan kemarin malam dengan Donna, yang bertanya apakah dia tahu kenapa Becky tak pernah berbicara dengannya. Dia tahu sesuatu yang dia tidak mengatakan kepadanya, tetapi ia tidak tahu apa itu.

Tapi sekarang Becky menelepon. Pasti Donna telah berbicara dengannya. Jadi apapun alasan Donna pasti dia salah. Dia tersenyum sendiri.

Lima jam penuh penantian kemudian dia berhenti di depan rumah Becky Johnson, rumah modern besar di salah satu komplek baru di luar kota. Ia mengenakan pakaiannya yang paling keren – jaket hitam, celana hitam, kemeja hitam, dan dasi hitam. Adik perempuannya menilainya sebelum dia pergi, dan memberinya persetujuan. Dia bahkan mengenakan satu celana dalam baru. Bukan karena dia pikir itu penting, tapi siapa tahu. Dia memutuskan untuk meninggalkan kalung itu di rumah, menyembunyikannya ke dalam laci.

Ia menimbang untuk mampir sebentar membelikannya bunga di jalan, tapi dia telah mengatakan bahwa mereka bertemu untuk bicara, jadi memberi bunga mungkin terlalu menyolok.

Dia keluar dari mobil dan berjalan ke pintu depan, mengagumi rumput yang terawat baik terbelah oleh jalan setapak. Menekan bel pintu muncul nada elegan berpadu dari dalam. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, tapi tak ada siapapun di sana.

Bingung, ia menjulurkan lehernya untuk melihat ke dalam. “Halo?”

Ia kebetulan melihat ke bawah, di mana ia melihat anak kecil berdiri di ambang pintu yang terbuka. Anak itu tak mungkin lebih dari lima tahun.

“Um, hai bung kecil,” kata Jason, berbicara dengan lambat dan keras sama seperti ketika orang berbicara dengan anak kecil dan orang asing, “Aku di sini untuk ketemu Becky. Apakah dia kakakmu?”

Anak itu menatapnya. Jason menunggu. Tapi anak itu terus menatap.

“Becky?” Dia mengulangi, “apa dia ada?”

Tak ada jawaban dari anak itu.

Jason berlutut pada satu lutut, tapi masih harus melihat ke bawah pada anak. Anak itu tidak terlihat autis. “Hei,” katanya, “Becky? Kau tahu, cewek cantik yang tinggal di rumah ini? Bisakah kau pergi memanggilnya?”

Anak itu terus menatap, satu tangan di gagang pintu, yang lain pada bingkai pintu.

Ini tidak berhasil. Dia mencoba lagi. “Namaku Jason, siapa namamu?” Dia menawarkan jabat tangan pada anak. Tak ada respon.

Dia punya ide. Ia menekan tombol bel pintu lagi. Lonceng terdengar, kali ini jauh lebih keras dan pintu terbuka.

Berhasil juga. Ia mendengar langkah kaki dan kemudian “Joshi, pergi dari situ.” Sebuah tangan dari balik pintu dan menarik Joshi pada bahunya, menariknya kembali ke dalam rumah.

Beberapa detik kemudian ia digantikan di ambang pintu oleh Becky, yang tampak sangat menakjubkan, terutama dari posisi Jason melihatnya, masih berjongkok dengan satu lutut. Dia mengenakan rok hitam pendek ketat, dengan sepatu hak tinggi hitam. Di atasnya, dia memakai atasan putih ketat yang memamerkan setiap lekuk tubuhnya, dan memiliki potongan garis leher yang rendah, yang memamerkan belahan payudaranya. Rambut hitamnya disisir ke belakang, dan dia memakai lipstik yang hanya dapat digambarkan sebagai merah darah.

Jason mencoba untuk tidak menatap terlalu lama, tapi ia tak bisa menahannya. Becky sepertinya tak keberatan, pada kenyataannya, ia sepertinya sudah biasa dikagumi seperti itu.

Becky menatap kearah bawah dimana Jason setengah berlutut. “Jika kau di sini untuk melamar, bukankah kita harus saling kenal satu sama lain dulu sebelum kita membuat suatu komitmen?”

“Hah?” Katanya, dan menyadari ia masih berlutut dan baru sadar akan leluconnya. Dia tertawa dan berdiri, lalu berkata, “Anak yang manis.”

“Maaf tadi. Itu adikku Josh. Kami telah mengajarkan padanya jangan bicara dengan orang asing, dia belajar dengan baik. Kami juga mengajarinya agar jangan membuka pintu depan ketika bel pintu berdering, tapi dia nggak begitu bagus. Seperti baru saja kau melihat, dia membuka pintu dan berdiri di sana. Suatu kali seorang salesman berdiri di sini selama lima belas menit sebelum dia melihatnya. Nggak seperti kau, dia nggak cukup tanggap untuk membunyikan bel lagi.”

“Nggak perlu minta maaf,” katanya, “aku suka ditemani dia. Kupikir kami berbagi suatu tatapan yang berarti. Dia dan aku seperti ini sekarang” Ia mengangkat tangan dengan jari-jarinya dikaitkan.

Becky tertawa, dan dia tampak sedikit terkejut. “Kau siap untuk pergi?” Tanyanya.

Ibunya mengingatkan dia dua puluh kali sebelum ia pergi agar selalu membuka pintu mobil untuknya, karena, seperti katanya, “Kesan pertama adalah kesan abadi.” Ibunya pasti akan bangga sebab ia mengingatnya.

Ketika mereka berada di dalam mobil, ia bertanya, “Ada tempat tertentu yang ingin kau tuju?”

“Aku belum makan. Ingin makan sesuatu?”

“Kedengarannya bagus,” jawab Jason, tapi dia terlalu gugup untuk makan apapun.

“Bagaimana kalau Angelo?” Tanyanya.

“Angelo boleh juga,” katanya, tapi ada sesuatu yang mengganggunya pikirannya. Sesuatu tentang Angelo. Oh yah, ia nanti juga akan ingat.

Mereka tiba di tempat nongkrong populer anak SMU, sebuah restoran Italia kecil di mana band-band lokal bermain pada Jumat malam. Ketika Jason berjalan masuk dengan Becky, ia bisa merasakan semua mata di tempat itu tertuju pada mereka. Beberapa anak menunjuk. Dia tersenyum dalam hati.

Mereka mendapat meja di belakang, dan ia menarik kursi bagi Becky saat ia akan duduk, kemudian menggantung jaketnya di bagian belakang kursi sebelum ia juga duduk. Si pelayan, seorang cewek berpenampilan eksotis dengan rambut gelap, datang dan mengambil pesanan soft drink mereka. Mereka mempelajari menu, dan memutuskan untuk berbagi sebuah pizza pepperoni. Setelah pelayan itu pergi dengan pesanan mereka, Jason menatap Becky mengharap dia mengatakan sesuatu.

“Apa?” Katanya, melihat pandangan bertanya di mata Jason.

“Aku ingin tahu apa yang ingin dibicarakan,” katanya, mencoba terdengar acuh tak acuh.

“Oh, kau ternyata orang tak sabaran,” katanya sambil tersenyum.

“Maaf,” katanya, pikirannya bekerja. “Gimana kabarnya cheerleader?”

“Bagus. Kita akan berkompetisi tingkat negara bagian bulan depan, dan kupikir kami benar-benar punya kesempatan bagus untuk menang.”

“Hebat, apakah kau pernah menang sebelumnya?”

“Tunggu sampai kau lihat kamar tidurku. Aku punya segala macam piala cheerleader dan selempang di sana. Ini seperti satu tempat pameran kecil.”

Napasnya tercekat di tenggorokan. Apakah Becky bilang apa yang dia pikir akan dia lakukan?

“Bagaimana denganmu?” tanya Becky, “Apa yang kau lakukan untuk bersenang-senang?”

‘Aku berubah jadi tak terlihat dan menonton orang di saat-saat intim mereka. Melihat satu pasangan hebat beberapa jam lalu.’

Dia bertanya-tanya seperti apa reaksinya jika benar-benar ia mengatakan itu.

“Nggak banyak. aku telah berkonsentrasi pada nilaiku belakangan ini. aku perlu dapat A semua untuk mendapat kesempatan beasiswa.”

“Yah, aku tahu kau cukup cerdas. kau selalu tahu jawaban di kelas, dan ada juga desas-desus bahwa kau membantu Danny Mazzelli memperbaiki nilainya.”

“Siapa yang bilang begitu?” Ia bertanya, tiba-tiba serius. Dia belum pernah memberitahu siapapun tentang itu, dan ia sangat yakin Danny tak akan pernah mengatakannya. Orang yang dicurigai adalah adik perempuannya, yang berada di rumah ketika mereka belajar, tapi dia bukan tipe orang yang suka mengoceh.

“Maaf,” katanya, “aku nggak tahu itu masalah sensitif buatmu. Maksudku adalah itu pujian buatmu.”

Tapi Jason masih tersinggung, marah karena orang menyebarkan rumor tentang dia.

“Hei,” kata Becky, mencoba mengalihkan pembicaraan, “Apa kau pernah berada di sini saat band sedang bermain? Apa kau punya band favorit?”

“Aku biasanya selalu datang ke sini,” katanya, dengan berseri, “Salah satu teman lama aku, Dustin Brown, biasanya bermain drum di band di sini. Dia adalah seorang drummer hebat. Sangat bagus sampai-sampai dia meninggalkan band dan pindah ke LA untuk cari peruntungan di sana. Belum dengar kabarnya dari dia dalam beberapa tahun, tapi aku masih berharap melihat dia muncul pada satu lagu hits suatu hari nanti.”

“Apa kau pernah ke sini akhir-akhir ini menonton band?”

“Nggak juga,” katanya, “kenapa?”

“Aku ingin tahu apakah kau mungkin mau datang nonton berdua kapan-kapan.”

Ia menatap kembali. “Berdua, seperti kau dan aku sekarang?”

“Ya, apa salahnya? Kau dan aku berdua sekarang, kan?”

Dia menatapnya lama. Akhirnya, ia berkata, “Ada apa sebenarnya Becky?”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, kita belum pernah bicara sepatah katapun dalam dua tahun, dan sekarang kau sedang bicara tentang kita berdua seperti kita adalah pasangan.”

“Jason,” katanya, memegang tangannya, “beberapa cewek lebih kolot daripada yang lain.”

“Aku nggak paham,” kata Jason, tapi suka sentuhan tangannya.

“Beberapa cewek pergi keluar dan mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi ada juga cewek-cewek lain yang lebih tradisional, dan menunggu untuk di telepon.”

Dia masih bingung. “Dan kau termasuk yang mana?”

“Sampai kemarin, aku adalah cewek tradisional, menunggu untuk di telepon.

Sekarang dia mulai mengerti.

“Tapi hari ini,” lanjutnya, “aku memutuskan aku nggak mau menunggu lebih lama lagi. Waktuku hampir habis.”

“Jadi … tunggu dulu, kau bilang kau menunggu selama ini buatku untuk membuat langkah pertama?”

“Ini pizza kalian,” kata pelayan, saat ia meletakkan nampan ke meja, bersama dengan dua piring dan setumpuk kecil serbet kertas. “Silahkan,” tambahnya, dan pindah untuk mengambil pesanan dari meja lain.

“Itu yang aku katakan Jason,” kata Becky, seolah-olah gangguan itu tak pernah terjadi, “Kebanyakan cewek nggak melihatmu seperti yang aku melihatmu. Mereka enggan untuk melihat ke dalam, tapi aku bisa melihat kau seorang yang istimewa.”

Ia menatapnya lama. Ia telah membayangkan saat-saat seperti ini sejak ia melihatnya pertama kali di kelas. Akhirnya, ia berkata, “Aku nggak tahu harus bilang apa Becky.”

“Katakan saja kau akan mencobanya denganku Jason. Itu saja permintaanku.”

Jason tersenyum dan memegang tangannya. “Aku akan senang untuk mencobanya denganmu.”

Dia tersenyum kembali. “Jadi hariku nggak sia-sia. kau lapar?”

Ia menyadari bahwa ternyata ia sangat lapar, dan pizza itu rasanya enak.

Mereka menyelesaikan makannya ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya.

“Jason?” Itu adalah suara perempuan yang akrab ditelinganya.

Dia berbalik, dan untuk dua malam berturut-turut ia terkejut melihat wajah Donna.

“Donna!” Seru dia, dan melihat dia memakai seragam pelayan Angelo. “kau bekerja di sini?”

“Nggak, aku suka nongkrong di sini memakai ini.”

Dia tertawa.

Donna memandang Becky, kembali ke Jason, kemudian kembali ke Becky. “Hei Becky. Apa aku mengganggu kencan kalian?”

“Mungkin,” kata Becky.

“Wah,” jawab Donna. “Serius?”

Becky tersenyum.

Donna kembali ke Jason. “Hei, apa yang terjadi padamu tadi malam? kau berdiri di sampingku satu menit, dan menghilang menit berikutnya. aku merasa seperti Lois Lane.”

“Ya, maaf soal itu. Tapi aku harus memastikan Danny baik-baik saja.”

“Kau mengikuti mereka?” Tanya Donna dengan alis melengkung.

“Ya.”

“Apakah Danny dalam masalah? Sebagian besar dari kita langsung pulang dari sana dan nggak mendengar apa yang terjadi.”

“Nggak, Chief Lobeaux membiarkan dia pergi, itu hanya ancaman lidah.” Dia tersenyum dalam hati karena pilihan kata-kata itu.

“Baguslah. Kupikir pasti dia menghabiskan malam di penjara.”

“Jadi kalian berdua saling mengenal?” Sela Becky.

“Kami bertemu tadi malam di party-nya Danny,” kata Jason. “Kami ngobrol di sekitar api cukup lama. Donna sini yakin dia tahu sesuatu, dan aku yakin aku telah membuktikan dia salah. Benar kan Donna? “Dia tersenyum.

Donna tidak membalas senyumnya.

Becky menarik tangan Jason kearahnya. “Jason, bisakah kita pergi ke suatu tempat yang lebih privat? Aku butuh udara segar.”

“Tentu Becky. Aku akan memanggil pelayan dulu.”

“Aku akan mengurus tagihannya untukmu,” kata Donna, masih melihat Jason tanpa tersenyum.

“Terima kasih.”

Donna pergi dan Jason melihat Becky, yang sepertinya tampak kesal.

“Apa yang salah?”

“aku nggak suka dia,” jawabnya.

“Donna?”

“Ya Donna. Aku punya permintaan Jason.”

“Apa itu?”

“Jangan percaya apapun yang dikatakannya. Dia suka bohong. Dan kupikir dia lesbian.”

“Ok,” katanya dengan nada bertanya dalam suaranya.

Donna kembali dengan tagihan, menempatkannya terbalik atas meja di depan Jason, mengata apa yang biasa dikata “Semoga malam kalian menyenangkan” dan pergi.

Jason meninggalkan tip yang cukup banyak, dan pergi ke kasir untuk membayar tagihan. Becky mengatakan dia akan ke kamar kecil, dan pergi ke arah itu.

Saat ia akan menyerahkan tagihan ke kasir, dia melihat tulisan tangan dibaliknya. Menariknya kembali, ia membaca “Jangan percaya dia!!!D. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Tapi itu akan jadi jauh lebih buruk.

Setelah membayar, ia berjalan keluar ke lobi untuk menunggu Becky, dan untuk kedua kalinya malam itu, seseorang memanggil namanya. Suara perempuan yang akrab ditelinganya.

“Jason!”

Dia berbalik dan ternyata Sam. Oh ya tuhan, dia lupa semua tentang dia!

“Sam!” Jawabnya, tak tahu harus berkata apa lagi.

“Kupikir kita seharusnya ketemu di tempatku,” katanya, dan melihat bagaimana dia berpakaian. “Apakah kau datang dari acara pemakaman?”

“Um, Sam …” ia tak bisa menemukan kata-katanya.

“Nggak papa Jason,” katanya tersenyum, “kita di sini sekarang. Mari kita cari meja.”

“Sam …” ia memulai bicara, tetapi sebelum dia bisa bicara lebih banyak, Becky muncul di sampingnya, dan menyelipkan tangannya dilengannya.

Sam memandang Becky, dan menatap lengannya yang terkait dengan Jason. Ekspresi sedih datang diwajahnya.

“Sam,” katanya, “ini Becky. Becky, ini adalah Samantha. “Dia berharap dia telah membawa kalung itu, karena dia benar-benar ingin menghilang saat ini.

Becky tersenyum. “Jason,” katanya manis, “Apa kita akan selalu ketemu cewek yang kau kenal setiap kali kita pergi?” Dia menambahkan, “Bisakah kita pergi sekarang? Jangan tersinggung Samantha, tapi aku sudah menunggu lama untuk mendapatkan orang ini sendiri. kau mengerti.”

Jason memejamkan mata. Bagaimana mungkin sesuatu yang dia tunggu begitu lama akan berubah jadi begini mengerikan?

Dia membuka matanya dan menatap Sam. Raut wajahnya menunjukkan betapa hancur hatinya. Dia harus pergi.

“Maaf Sam,” katanya, “Aku akan bicara dengan kau besok.” Dia memegang tangan Becky dan membawanya keluar pintu, ke udara malam yang lebih segar.

Amulet Bab 11
Amulet Bab 11

“Apa sebenarnya itu tadi?” Kata Becky beberapa menit kemudian saat mereka berkendara, memecah kesunyian.

“Masalahnya rumit.”

“Mantan pacar?”

“Bukan, sobat lama. Kami tetangga sebelah rumah sejak kita lahir.”

“Aku tahu. Dan dia ingin menjadi lebih dari sekedar teman?”

“Aku nggak bisa bicara tentang ini sekarang.”

“Maafkan aku sayang,” katanya, dan meluncur ke arahnya dan menyandarkan kepala di bahunya, menggosok tangannya dengan ringan di perutnya.

Itu yang membangunkannya. Dia mengguncang lamunan pergi dari kepalanya. Di sini dia dengan gadis yang telah diimpikannya selama dua tahun terakhir, dan dia merusaknya dengan sikapnya. Sam akan ok. Mereka adalah teman, itu saja. Ia akan berbicara dengannya besok dan meluruskan permasalahannya.

Dia menarik satu tangan dari kemudi untuk memeluk bahunya. Becky mendesah dan meringkuk lebih dekat.

“Kita mau kemana?” Tanyanya.

“Aku mengira kau mau pulang.”

“Perkiraanmu salah,” katanya, menarik dirinya lebih dekat kepadanya.

“Benarkah? Di mana kau ingin pergi?”

“Di suatu tempat dimana kita bisa sendirian,” katanya, napas hangat menghembus di lehernya.

Dia bisa merasakan penisnya pengerasan. Dia begitu dekat dan wanginya begitu nikmat.

“Kita bisa parkir di suatu tempat,” usulnya.

“Aku suka ide itu. Gimana kalo Brady Overlook?”

Yang Brady Overlook adalah tempat bercumbu remaja lokal, setiap remaja tahu tempat itu. Jason belum pernah kesana, selain pada siang hari untuk menikmati pemandangan.

“Nah,” katanya, “kita nggak akan benar-benar sendirian di sana. Aku pernah dengar itu akan cukup ramai pada Sabtu malam.”

“Ayo kita pergi. aku nggak ingin berkeliling sepanjang malam mencari suatu tempat” Becky menekankan maksudnya dengan membiarkan tangannya jatuh ke bagian dalam paha Jason, Jari-jarinya hanya beberapa inci dari kemaluannya yang jadi bertambah keras.

Lima belas menit kemudian, ia mematikan mobilnya yang ia parkir di tempat berkerikil dari Overlook. Dia memarkir sejauh mungkin dari mobil lain di tempat parkir.

Jason memutuskan sudah gilirannya untuk mengambil inisiatif. Becky telah menelponnya, memberitahu padanya bahwa dia tertarik, dan Becky sudah menyarankan mereka untuk datang ke sini. Jason harus menunjukkan betapa ia menginginkannya.

Dia sudah menaruh satu lengan di bahunya, jadi ia berbalik dan menempatkan tangan lainnya di sekitar pinggangnya, dan menarik Becky kearahnya. Becky menyodorkan bibir merahnya dan memejamkan mata, menunggunya. Ia mencondongkan tubuhnya dan bibir mereka bertemu, dengan lembut pada awalnya, dan kemudian dengan bernafsu saat gairah mereka meningkat.

Dia seperti kabel bertegangan listrik dalam pelukannya, tubuh Becky bergerak terhadap tubuhnya dan payudara yang lembut menekan ke dadanya. Dia membuka bibir dan lidahnya melesat keluar, bertemu dan menyebabkan ia tersentak.

Setelah beberapa menit berciuman, dia merasa cukup berani untuk menangkup salah satu payudaranya, merasakan kelembutan di tangannya. Ketika ia membawa ibu jarinya di sekitar puting dan menyenggolnya, ia merasa putingnya sudah mengeras di bawah sentuhannya, dan Becky tersentak ke dalam mulutnya.

Becky mundur dan memisahkan diri darinya, dan Jason khawatir ia melakukan sesuatu yang salah. Tapi dia mengulurkan tangan dan menarik bagian bawah blusnya dari dari dalam roknya, dan dengan lancar menarik di atas kepalanya, melepas sepenuhnya. Jason menatap dengan mata terbelalak.

Bra-nya berwarna putih, dan sebagian besar tembus pandang. Ada renda halus di sekitarnya, dan ia bisa melihat sedikit putingnya yang gelap kontras dengan kulit pucatnya. Tapi dia tak sempat mengaguminya terlalu lama, karena dia meraih ke belakang dan dengan cekatan melepas kait di belakang punggungnya. Bra-nya menjadi kendur, dan dia menarik tali dari bahu masing-masing sebelum akhirnya mengangkatnya dan mengekspos seluruh payudaranya pada Jason.

Payudaranya adalah berbentuk sempurna. Jason menatapnya sejenak, mengamati keindahannya. Bulat dan kencang, seakan mengundang sentuhannya. Tangannya menangkupnya lagi, merasakan kulit yang luar biasa lembut. Becky tersentak lagi oleh sentuhannya, dan putingnya naik serentak. Dia mengejutkan Jason dengan mengaitkan tangannya di lehernya, dan menarik wajahnya ke dadanya. Tangannya tetap di lehernya, dan menggunakan tangannya yang lain untuk menangkup payudara sendiri dan membimbing putingnya ke dalam mulut Jason. Dia mengisap dengan rakus, bibirnya bergerak bersamaan saat lidahnya menyentil puting kerasnya. Ketika giginya menggigit dengan lembut, dia mengerang dan mendesaknya lebih keras kedadanya. Dia pindah ke puting lainnya, dan melakukan hal yang sama.

Becky mengganti posisi duduknya, membuat ruang agar tangannya bisa bergerak di antara mereka. Menggesernya ke bawah, tiba giliran Jason untuk terkesiap oleh kenikmatan dari sentuhannya. Dia mencengkeram batang kerasnya melalui celananya, meremas dengan lembut. Tangannya meluncur di atasnya, sampai ke bola sensitifnya, hingga menemukan ujung kepala dan menjalankan jari-jarinya sepanjang titik-titik sensitifnya. Dia belum pernah lebih setegang ini. Ereksinya terasa sakit karena tekanan, dan ia membutuhkan pelepasan.

Jason menggerakkan tangannya menelusuri ke bawah perutnya, dan ia duduk kembali di kursi, memberinya ruang baginya. Rok pendeknya terangkat, tapi melihat ke bawah dia masih tak tahu apa jenis celana dalam yang dia pakai. Tangan Jason turun ke paha bagian dalamnya, dan ia mulai dengan lambat bergerak ke atas. Dia merespon dengan membentangkan kakinya, mengundang untuk dieksplorasi. Tangannya bergerak lebih tinggi lagi, mencari sasaran. Akhirnya terjadi kontak, tapi bukan bahan sutra seperti yang dia kira, yang dia rasakan adalah kulit halus seluruhnya. Tangannya menangkup gundukan miliknya, yang benar-benar licin dan tanpa selembar benangpun disana.

Dia menarik kepalanya ke belakang dan menatap wajahnya dengan terkejut, tapi Becky tersenyum seksi dan menciumnya, menggunakan tangannya untuk menekan lebih ketat kearahnya, mendesak Jason melakukan lebih jauh. Dia menelusuri ujung jari di atasnya, dan kulit terasa lembut dan kenyal. Becky meregangkan kakinya lebih lebar dan mengangkat pinggulnya, dan jari-jarinya dengan alami menemukan celahnya, sedikit terbuka dan licin karena basah. Ia menelusuri jari telunjuknya lembut sepanjang celah itu, dan Becky gemetar karena sentuhannya.

“Rasanya enak, sayang,” erangnya, suaranya berbisik lembut. “Tolong jangan berhenti.”

Ia menemukan lubangnya dan perlahan-lahan menyelipkan jari di dalamnya. Dia begitu basah dan hangat. Dengan perlahan mendorong seluruh jarinya ke dalam dirinya, ia tak bisa percaya betapa ketatnya dia. Dia bertanya-tanya bagaimana kemaluannya bisa masuk ke sana. Setelah jarinya masuk seluruhnya, ia menyentuh ibu jarinya terhadap bagian atas kemaluannya, pada titik di mana bibir bawahnya bertemu. Dia bereaksi dengan mengerang pelan dan meraih lengannya, tubuhnya berkedut sedikit. Mengingat apa yang telah dilihatnya dari cewek-cewek beberapa hari terakhir, ia tahu ia telah menemukan sasarannya.

Dia merasakan tonjolan kecil, dan memutar dengan lembut di bawah ibu jarinya. Dia bereaksi dengan erangan lembut. Dia mulai memutar ibu jarinya dengan lembut, perlahan, seperti yang ia lihat ketika Tom melakukannya siang tadi, dan Becky menempel ketat kearahnya, tubuhnya bergetar. Dia ingin lakukan persis seperti apa yang Tom lakukan untuk Beth siang tadi, untuk membuat dia orgasme dengan hebat.

“Ya,” bisiknya, “di situ. Ya sayang, di situ.”

Ia melanjutkan gerakannya, dengan lambat dan lembut, yang memungkinkan tubuhnya untuk membangun kenikmatan dengan kecepatannya sendiri. Satu-satunya suara di dalam mobil adalah napasnya, panjang dan lambat pada awalnya, tetapi saat menit berlalu dan kenikmatan terlihat semakin meningkat, napasnya jadi lebih pendek dan tak teratur. Dia bisa merasakan tubuhnya perlahan-lahan menegang, seperti pegas yang ditekan semakin kencang.

penisnya sangat keras didalam celananya. Dia bertanya-tanya bagaimana rasanya jika ia memasukkannya ke dalam, menggantikan jarinya, tenggelam dalam suatu tempat yang ketat, hangat dan licin.

Becky mulai menggerakkan pinggulnya, menekan vagina kearah jarinya, tubuhnya secara tak sadar memintanya untuk menggerakkan jarinya lebih cepat. Dia merasakan dorongan untuk mengikuti keinginannya, mempercepat gerakan jarinya sampai dia meledak, tapi ia terus bergerak dengan lambat, tahu bahwa pada akhirnya, kenikmatannya akan lebih meningkat.

Menit-menit berlalu, dan napasnya perlahan-lahan tetapi terus-menerus meningkat intensitasnya. Ibu jarinya terus menjaga irama, bergerak dalam lingkaran kecil di atas benjolan klitorisnya, dan Becky memegang lengannya untuk pegangan, kukunya mencengkeram ke dalam kulitnya. Jason tahu dia semakin dekat. Tanda yang sama seperti Beth tunjukkan kini tampak nyata pada Becky. Napas berirama, erangan lembut setiap bernapas, otot-ototnya semakin tegang.

“Ya ya ya,” bisiknya. “Nikmat sayang. Nikmat. Sudah hampir.”

Berputar dan berputar ibu jarinya bergerak, menekan lembut di tonjolan itu, tanpa henti dengan perlahan menarik mendekatkan kenikmatan kearahnya. Becky membuat suara yang awalnya erangan rendah jauh di dalam dirinya, tetapi volumenya jadi semakin meningkat. Tubuhnya berhenti sejenak, seolah-olah bergetar di tepi jurang.

Tiba-tiba tubuhnya mengejang, dan jeritan keluar dari bibirnya. Pinggulnya terangkat dari kursi, dan menekan keras pada tangannya mengikuti gerakan melingkar. Dia bisa merasakan vaginanya meremas jarinya dengan erat dengan denyutan stabil. Mulutnya terbuka, dan wajahnya itu terkunci dalam sebuah ekspresi entah antara kesakitan atau kenikmatan.

Dia bertahan di sana untuk beberapa saat, dan rileks kembali turun ke kursi, matanya tertutup dan ekspresinya tampak tenang. Napasnya mulai melambat dan panjang. Jason memeluknya dengan lembut, menarik jari darinya, dan menutupi vaginanya dengan tangannya. Satu getaran kecil mengalir kearahnya.

Akhirnya dia membuka mata dan menatapnya. Dia bisa melihat pandangan terkejut di dalamnya. “Sialan,” katanya, “aku tak mengira akan seperti ini.”

Jason tersenyum.

“Di mana kau belajar melakukan itu?”

“Aku nggak tahu,” katanya, sekarang merasa sedikit malu, “Mengambil dari sana-sini.”

“Kupikir kau seorang perjaka.”

“Memang,” jawabnya, terkejut karena ia bisa mengakuinya begitu mudah.

“Tapi kau sudah pernah dengan cewek sebelumnya, kan? Maksudku, itu bukan pertama kali kau melakukannya.”

“Belum pernah. Kau orang pertama yang pernah sedekat ini. Secara fisik.”

“Itu luar biasa,” katanya. Tapi sesuatu tampaknya mengganggunya, seakan sedang mencoba untuk membuat keputusan. Akhirnya dia berbicara.

“Jason, aku harus bilang padamu sesuatu,” katanya, duduk dan bergerak sedikit menjauh dari dia, dan tangannya terlepas terlepas dari posisinya semula.

“Apa?” Dia merasa ketegangan di perutnya.

“kau perlu tahu yang sebenarnya.”

“Yang sebenarnya? Tentang apa? ”

“Tentang aku,” katanya, “dan Danny.”

“Danny?” Katanya, ekspresi kebingungan di wajahnya. “Apa hubungannya Danny dengan kita?”

“Aku benci harus menjadi orang yang mengatakan ini, tapi Danny sudah menyimpan rahasia darimu.”

“Rahasia tentang apa?” Ketegangan di perutnya melilit sekarang.

“Rahasia tentang aku.”

“Kau? Apa rahasianya?”

“Danny selalu tahu bahwa kau peduli tentang aku, dan tahu kau akan marah jika kau tahu dia dan aku terlibat.”

“Dia dan kau terlibat? Apa maksudmu? ”

“Danny dan aku pernah jadi kekasih selama setahun lebih.”

“Nggak mungkin, itu nggak benar.”

“Ini benar Jason. Ini sudah berakhir sekarang, tapi itu pernah terjadi.”

“Nggak, dia nggak akan melakukannya.”

“Jason, dengarkan aku. Aku minta kau untuk pergi keluar denganku malam ini, agar aku bisa mengatakan ini padamu. Itu salah gimana Danny sudah bohong padamu.”

Jason tegas. “Kami bersahabat. Dia nggak akan melakukan itu padaku.”

“Menurutmu siapa yang mengatakan padaku bahwa kau membantunya dalam ujiannya? Bagaimana aku tahu itu?”

Kepala Jason mulai berputar. Dia benar, dia tak mungkin tahu. Kalau tidak dia sendiri atau Danny yang memberitahunya. Tekadnya mulai runtuh.

“Seseorang bilang padaku agar aku nggak boleh percaya padamu,” katanya, “Kenapa aku harus percaya padamu?”

Kilatan kemarahan melintas di matanya. “Karena itu benar.”

“Kau bohong.”

Wajahnya berubah, dan ketika dia berbicara ada kekejian di balik kata-katanya.

“Apa kau ingin mendengar rinciannya Jason?” Apakah kau ingin mendengar bagaimana aku mengisap penis besar Danny di jok belakang bus sekolah setiap perjalanan pulang pertandingan? Bagaimana dia selalu menyelinap ke kamar tidurku dan menyetubuhiku sepanjang malam?”

Jason melotot kearahnya, tapi tak berkata apapun.

“Pikirkan hal ini. Danny meniduri apapun yang bergerak. kau tahu itu. Alasan apa dia menolak mendekatiku? Lihat aku Jason. Aku adalah kepala cheerleader. Apakah kau benar-benar berpikir dia akan berhenti mendekatiku karena kamu? Kau pikir kau ini siapa?”

Dia akhirnya membentak. “Kau tahu apa? Persetan kau, dan persetan dengan Danny. Aku nggak butuh kalian. Pakai pakaian sialanmu. Aku akan antar kau pulang.”

Mereka melaju dalam kebisuan selama perjalanan. Ketika mereka tiba di rumah Becky, ia keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan Jason melesat pergi. Saat ia melangkah di jalan setapak depan rumahnya, bibir merahnya membentuk sebuah senyuman.

Amulet Bab 12
Amulet Bab 12

Jason terbangun dengan sakit kepala. Dia mengalami mimpi buruk di mana segala hal menjadi salah. Dia gagal ujian semua pelajaran sekolah, ia kehilangan kesempatan mendapatkan beasiswa, dan orang tuanya mengatakan bahwa dia harus pergi dari rumah, jadi sekarang dia gelandangan. Ketika ia terbangun, ia pikir bahwa peristiwa semalam menjadi bagian dari mimpi buruknya. Ketika dia ingat bahwa hal itu nyata, ia mengerang ke dalam bantalnya. Dia benar-benar mengacaukan segalanya.

Dia telah berhasil mengacaukan segalanya dengan gadis yang secara diam-diam ia cintai selama dua tahun terakhir, tepat ketika fantasinya hendak menjadi kenyataan. Dia ingin bersamanya, dan entah kenapa, pada akhirnya, ia mendorongnya menjauh, mungkin selamanya.

Plus, dia telah menyakiti Sam lagi. Dia telah memaafkannya atas semua kesalahan yang telah ia lakukan padanya, dan ia telah membayar kebaikannya dengan memperlakukan dia seperti kotoran. Sama seperti sebelumnya, ia mendorongnya jatuh ke tanah, dan berjalan pergi saat ia berdarah. Dia mungkin tidak memberikan luka yang berdarah kali ini, tapi apa yang ia lihat di wajahnya tadi malam jauh lebih buruk dari itu.

Dan, untuk membuat malamnya lebih spesial, ia baru tahu bahwa sahabatnya telah berbohong padanya cukup lama. Salah satu kualitas yang ia paling kagumi dari Danny yaitu kesetiaannya, telah lenyap sama sekali.

Tapi ia tidak bisa menilai Danny terlalu keras, kan? Lagi pula, jika ia bisa memperlakukan persahabatan dirinya dengan Sam seperti suatu hal yang tak penting, bagaimana ia bisa mengharapkan sesuatu yang lebih baik dari Danny? Dia tak pantas mendapat kesetiaan apapun.

Kehidupan menyebalkan. Dia bahkan tak bisa mencari kesenangan apapun dengan kalungnya hari ini.

Dia mendengar pintu mobil ditutup di halaman tetangga, dan ia bangkit untuk melihat ke luar jendela. Mr. dan Mrs. Scott bersiap-siap untuk pergi ke gereja. Sam biasanya pergi bersama mereka, tapi pagi ini ia tak kelihatan. Dia cepat-cepat memakai celana pendek dan kemeja, lalu berlari menuruni tangga dan keluar dari pintu depan.

“Mrs. Scott,” panggilnya sambil bergegas menyeberangi halaman,” Bolehkah aku bicara denganmu?”

Dia berhenti dengan tangan di gagang pintu mobil, dan memberinya tatapan dingin. “Kami sedang dalam perjalanan keluar,” katanya, dan membuka pintu.

“Apakah Sam ada didalam?”

Mendengar ini, dia berjalan ke tempatnya berdiri di pagar, ekspresi wajahnya mengeras.

“Bukankah kau sudah cukup melukai putriku?” Katanya, matanya dingin hijaunya menatapnya.

“Mrs Scott, aku-”

“Aku tak tertarik pada alasanmu. Aku hanya tertarik pada kebahagiaan putriku, dan apa yang membuat dia bahagia adalah kau. aku tak tahu apa yang kau lakukan padanya tadi malam, tapi itu akibatnya. Aku tak ingin kau bergaul dengannya lagi” Dengan itu, dia berbalik dan berjalan kembali ke mobil, masuk, dan membanting pintu. Jason mengawasi mobil meluncur di jalan dan menghilang di tikungan, hatinya sakit.

Dia mendongak ke jendela kamar Sam, tapi tak ada tanda-tanda keberadaannya. Perasaannya mengatakan bahwa ia harus melihat dia sekarang, dan ia tahu hanya ada satu cara untuk melakukan itu. Dia kembali ke kamarnya untuk mengambil kalung itu.

Beberapa menit kemudian, dia menyelinap diam-diam melalui pintu belakang rumahnya, telinganya waspada mendengarkan tanda-tanda keberadaan Sam. Saat ia berdiri di dapur, ia mendengarkan setiap suara, tapi rumah itu benar-benar sepi. Setelah beberapa menit memastikan kondisi tetap sepi, ia menuju ke ruang tamu. Tak ada tanda keberadaan Sam sana. Dia pasti ada di atas, mungkin di kamar tidurnya.

Dia diam-diam berjalan menaiki tangga berkarpet, mengawasi dengan cermat kalau-kalau muncul suara berderit. Di ujung lorong ia berjalan sangat pelan, dan melihat pintu Sam sedikit terbuka. Ia menganggap Sam ada di sana sedang duduk dan mendengarkan, dan dia akan mendengar setiap suara kecil yang dibuatnya. Saat-saat yang tampaknya tak berujung kemudian, ia akhirnya di sana, dan memiringkan kepalanya untuk mendengarkan setiap suara dari dalam. Dia mendengar suara pernapasan berirama lembut dari seseorang, mungkin dia sedang tidur.

Dia menunggu diam selama beberapa menit untuk memastikan, kemudian merasa cukup percaya diri untuk mendorong pintu agar lebih terbuka. Dia memiliki firasat yang mengerikan bahwa pintunya akan menjerit keras pada engselnya, tapi pintunya berayun lancar tanpa suara. Dia melangkah ke dalam ruangan.

Sam di tempat tidur, kali ini mengenakan baju tidur putih yang mungkin panjangnya sampai ke ujung kaki ketika dia berdiri, tapi sekarang terlipat di sekitar pahanya. Dia berbaring miring pada posisi yang sama ketika ia meninggalkannya malam itu, dan sekali lagi, selimutnya telah didorong ke bawah tempat tidur.

Dadanya naik-turun dengan irama yang stabil, dan matanya tertutup tenang. Satu tangan berada di bawah bantal dekat kepalanya, dan yang lainnya diadakan ke dada, mengepalkan tinju.

Jason melihat sekeliling ruangan, dan tampak seolah-olah tak ada yang berubah sejak malam ia berada di sini. Ada setumpuk kecil pakaian di sudut kamar, dan ia tersenyum mengingat bagaimana ia melihatnya menaruh pakaiannya di sana, menendang dan melemparkannya dari seberang ruangan. Tapi senyumnya menghilang ketika dia mengenali pakaian yang ada di sana adalah pakaian yang dia pakai di restoran tadi malam. Kenangan itu datang kembali, membuat rasa sakit muncul kembali.

Ia mengalihkan pandangan matanya menjauh dan tatapannya mendarat di kolase foto di dinding. Ini tampak sama seperti malam yang lalu – tidak, ada sesuatu yang berbeda. Dia berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas. Ada satu foto yang hilang, meninggalkan bercak putih kosong diatasnya. Melihat foto-foto yang lain, ia mencoba mengingat foto yang mana yang sudah hilang. Setelah beberapa saat itu ia mengenalinya. Itu adalah salah satu foto dari Sam dan dia, berpakaian seperti bajak laut.

Dia melihat sekeliling ruang mencarinya, tapi ia tak bisa ditemukannya. Dengan sedikit takut-takut ia memeriksa keranjang sampah dari rotan kecil disebelah meja riasnya, mengharapkan menemukannya foto yang tercabik-cabik dan dibuang ke dalamnya, tapi disana juga tak ada.

Sam membuat suara bergumam kecil, dan ia menatapnya. Setelah Sam tenang kembali, ia berjalan menuju ke tempat tidur ke sisi Sam berbaring, dan memandang dari atas. Dia tampak tenang berbaring di sana, dengan rambut merahnya lembut menyebar di atas bantal di sekitar kepalanya, dan kulit krim putihnya begitu sempurna kontras dengan warna rambutnya. Bulu matanya panjang dan kulit pipinya lembut dan halus. Dia belum pernah memperhatikan itu sebelumnya. Mungkin karena kacamatanya, atau mungkin karena ia tak pernah melihat cukup dekat.

Dia tampak cantik. Kata itu muncul di kepalanya sebelum ia bisa menghentikannya, tapi itu kata yang tepat. Kata yang sempurna. Bagaimana ia bisa begitu buta sampai-sampai ia tak melihat ini sebelumnya? Cewek ini ada dihadapannya seumur hidupnya, dan ia selalu memandang Sam dengan matanya yang dulu, bukan apa yang ada sekarang ini.

Ia berlutut di samping tempat tidur dan meletakkan lengannya dengan lembut di atas tempat tidur, tangannya lurus di atas sprei dan hampir menyentuh tangan Sam. Ia mengamati seluruh wajahnya, seolah-olah melihatnya untuk pertama kalinya. Hidungnya mancung di antara kedua matanya. Bibirnya penuh, sedikit terbuka dan warna pucat yang indah alami berwarna merah muda yang tak membutuhkan bantuan apapun dari lipstik untuk membuatnya menarik. Telinga yang sempurna dengan gumpalan rambut berbaring di atasnya.

Kata-kata Donna tadi beberapa malam yang lalu datang kembali padanya, dan ia menyadari sebenarnya apa yang ia cari seluruh hidupnya: Sam adalah kepingannya yang hilang. Jika disatukan akan pas dengan sempurna.

“Jason?”

Suara Sam mengejutkannya. Itu sangat pelan dan lembut ia hampir tak bisa mendengarnya, dan pada awalnya dia bertanya-tanya apakah ia hanya salah dengar. Napasnya tetap tak berubah, dan matanya tertutup. Dia pasti bicara dalam tidurnya.

Dia ingat mimpi Sam yang dia ceritakan kemarin. Apakah dia mimpi yang sama lagi? Bisakah Sam dengan cara entah bagaimana merasakan ia ada di sini? Ia memutuskan untuk mengambil resiko.

“Aku di sini Sam,” bisiknya.

Dia bergerak sedikit, dan ia takut Sam terbangun, tapi dia diam lagi.

“Kau seharusnya melindungiku.” Kata-kata itu cukup jelas, meskipun nyaris seperti bisikan.

Dia merasakan denyutan yang menyakitkan dalam hatinya.

“Maafkan aku Sam.” Suaranya tersendat.

“Aku sendirian sekarang,” desahnya, “Aku takut.”

“kau nggak sendirian Sam, Aku di sini bersamamu.” Secara naluriah, ia mengambil tangannya, dan menyadari apa yang telah dilakukannya, melihat wajahnya dengan waspada.

Sam terus bernapas dengan pelan.

Dia merasakan sesuatu di tangannya, dan melihat ke bawah, melihat sedikit warna putih menyembul dari ujung kepalan tangannya. Dia dengan lembut membuka jari-jarinya, dan melihat segenggam kertas tebal yang kusut. Menarik dari tangannya, ia mulai membukanya, menarik lipatan itu untuk diratakan. Dia tahu apa itu sebelum ia selesai melakukannya – itu foto mereka.

Dia menatap foto itu, mencoba meratakannya pada sprei. Tetesan basah jatuh ke atasnya, dan dia sadar bahwa itu adalah air matanya sendiri. Dia mengusap matanya agar ia bisa melihat foto itu lebih jelas, dan tersenyum lagi pada kenangannya yang datang kembali.

Dia berdiri dari tempat tidur dan berjalan kembali ke pigura, membawa serta foto itu. Setelah mengambil pigura itu dari dinding, ia melepas karton dibagian belakang dan menaruh foto itu kembali di posisinya semula. Ia memasang kartonnya lagi dan menaruh kembali pigura pada gantungannya.

Ia yakin Sam pasti akan melihatnya, tapi ia tak peduli. Foto itu tempatnya ada di sana, sama seperti halnya ia dengannya. Dan sementara foto mungkin mudah untuk dipasang kembali, ia tahu ia akan melakukan apapun agar dirinya bisa kembali dengan Sam.

Dia kembali ke samping tempat tidur dan berlutut di sampingnya lagi, meraih tangannya yang kini kosong kedalam genggamannya, ia tak lagi perduli akan membangunkannya.

“Sam, kau bisa mendengarku?”

Dia menggeliat lagi. “Jason?”

“Sam, aku ingin kau tahu sesuatu.” Ia berhenti sejenak dan menarik napas. “Aku mencintaimu. aku rasa aku selalu mencintaimu. Aku tahu kau marah padaku, dan kau berhak melakukannya. Tapi aku berjanji hal ini: Ketika kau hanya mendengarku bilang aku mencintaimu dalam mimpi, suatu hari nanti aku akan bilang padamu saat kau terjaga.”

Dia membungkuk dan menciumnya lembut di pipi. Sebelum ia pergi, ia sekali lagi menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

Amulet Bab 13
Amulet Bab 13

Duduk di perpustakaan tiga jam kemudian, Jason merasa sulit untuk berkonsentrasi pada tugas-tugasnya. Dia masih harus menyelesaikan laporannya, dan bukannya membawa pulang buku perpustakaan, ia memutuskan untuk menyelesaikannya di sini. Robin Lobeaux menghabiskan harinya dengan adik perempuannya di rumah mereka, dan ia tak punya keinginan untuk melihatnya dan diingatkan akan apa yang telah ibunya lakukan pada Jumat malam. Plus, tak ada di rumah mengurangi kemungkinan dia bertemu dengan ke Sam atau ibunya, ia tak punya keinginan untuk menghadapi mereka saat ini.

Dia baru saja menyelesaikan tugasnya ketika seseorang duduk di kursi di seberang mejanya.

Berbisik dengan keras “Dude!” membuat ia tahu itu adalah suara Danny. Ibunya pasti telah mengatakan pada temannya di mana dia bisa menemukannya.

“Hei Danny,” katanya, menghentikan apa yang sedang dikerjakannya. Dia masih bingung tentang tadi malam, dan memiliki beberapa pemikiran yang harus dilakukan sebelum ia keluar dan menuduh temannya berbohong padanya.

“Dude!” Temannya mengulang bisikan kerasnya, “Kau terkenal!”

“Ssst!” Terdengar suara bisikan dari lantai bawah. “Ini adalah perpustakaan.” Ini adalah suara Miss Parkes, Kepala perpustakaan, yang menjalankan tugasnya dengan ketat.

Danny mengulangi perkataannya lagi, dengan bisikan sedikit lemah. “Kau terkenal Jason!”

“Kau ngomongin apa sih?” Bisik Jason merespon.

“Kau dan Becky. Ini diseluruh kota.”

Jason tampak terkejut. “Apa yang diseluruh kota?”

“kau dan dia, di restoran Angelo, dan sampai ke Brady’s Overlook. Kau hebat!”

“Shhhhh,” terdengar suara Miss Parkes dari bawah.

“Kau tahu tentang itu?” Tanya Jason.

“Semua orang tahu tentang itu. Seperti aku bilang, kau orang yang dibicarakan di seluruh kota.”

Jason menggeleng. Ini tidak bagus. Sam jelas tahu tentang kejadian di Angelo, tapi ia berharap Sam tak akan tahu tentang kejadian di Overlook. Dia membuat ekspresi sedih.

“Apa yang salah? Kukira kau sangat ingin bersama dengan Becky cukup lama?”

“Memang. Tapi bukan berarti aku mau itu terpampang di seluruh kota.”

Danny nyengir. “Kalau gitu mungkin kau seharusnya nggak ajak kapten tim cheerleader ke restoran terpopuler di kota ini, lalu pergi ke tempat bermesraan paling populer, pada malam ketika semua orang di sana. Dude, kau praktis memohon agar dimasukkan dalam berita jam 11.”

Jason memegangi kepalanya. Tentu saja Danny benar.

“Apa masalahnya sih?” Kata Danny. “Kau mewujudkan impianmu. Apa pedulimu jika orang-orang membicarakan tentang hal itu?”

“Ini rumit. Hei, aku harus pergi” Dia membutuhkan waktu untuk mencerna berita baru yang sedikit berita buruk ini.

“Kalian berdua!” Itu suara Miss Parkes dan dia berjalan menuju kearah mereka. “aku bilang ini adalah perpustakaan dan kau harus-“, ia berbelok dan menghadap mereka, dan berhenti di tengah kalimat saat melihat Danny.

“Danny!” Katanya, tampak terkejut. “Aku tak tahu kalau itu kamu. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Ngobrol dengan temanku Jason disini.”

Dia tak pernah melirik ke arah Jason. “Senang memiliki kau di sini Danny, tidak sering kau datang kesini.”

Jason melihat bahasa tubuhnya. Biasanya ia berdiri tegak, memancarkan aura otoritas tak diragukan lagi. Di sini, tubuhnya gelisah dengan gugup, lututnya merapat dan pinggulnya bergerak-gerak. Dan dia memutar seikat rambutnya di jari telunjuknya. Dia tampak seperti anak sekolah ketika diminta menari untuk pertama kalinya. Jason memandang antara Miss Parkes dan temannya yang sedang nyengir. Sialan!

“Maaf tentang kebisingan Miss Parkes,” kata Danny, “tapi kami akan segera pergi.”

“Oh Danny,” katanya sambil melambaikan tangan, seolah-olah ia ingat ini adalah hari Nasional Boleh Teriak di Perpustakaan. “kau tak perlu pergi.”

Danny berdiri dan Jason melakukan hal yang sama. “Kami memiliki beberapa hal untuk dibicarakan. Sampai nanti Miss Parkes,” kata Danny.

“Bye Danny. Ingat kita buka setiap malam dalam seminggu. Waktu penutupan adalah jam 9 malam”

Terpikir oleh Jason mengapa dia memberitahunya waktu penutupan, dan sekali lagi ia harus bermain game mental untuk mencegah gambaran yang tak diinginkan masuk kedalam kepalanya.

“Jadi ada apa, teman?” Tanya Danny saat mereka melangkah keluar dari pintu masuk perpustakaan. “Ada sesuatu yang tak kau katakan.”

“Aku hanya bingung tentang beberapa hal.”

“Masalah cewek? Hei, kau sedang melihat masternya masalah cewek.”

“Dude,” kata Jason, meniru kata favorit Danny, “Satu-satunya masalah cewek yang kau punya adalah bagaimana menjauhkan mereka darimu.”

Danny menyeringai. “kau ada benarnya, tapi itu nggak sepenuhnya benar.”

Jason memandang temannya. “Tunggu, kau mengalami beberapa masalah dengan seorang cewek? kau? Danny Double-Z Mazzelli?”

Danny tampak malu. “Ini bukan seorang cewek, itu mereka semua.”

“Hah?”

Danny berhenti sejenak, seolah mencari kata yang tepat. “Rasanya seperti makan junk food. Maksudku, kita semua suka keripik kentang, Twinkies, permen, dan sejenisnya.”

“Aku tak paham arah pembicaraanmu.”

Danny tampak frustrasi. “cewek-cewek itu seperti junk food. Makanan ringan yang lezat.”

Sinar pemahaman menyala di kepala Jason.

“Dan seperti yang aku bilang, kita semua suka junk food,” Danny melanjutkan, “tapi jika kau makan itu setiap hari, bukankah kau akan mulai ingin makan steak?”

“Aku paham. Dan apa yang akan kau anggap sebagai makan steak?”

“Aku nggak tahu,” kata Danny, terlihat lebih frustrasi. “Mungkin seseorang yang akan ingin bersamaku karena dia menyukaiku, bukan karena football atau seks. Seseorang yang mungkin bisa aku ajak bicara setelah itu.”

Jason tampak kagum. “Kau tahu, kupikir aku tak akan pernah mendengar kau mengatakan sesuatu seperti itu.”

Danny menyeringai malu.

Jason memikirkan hal itu sejenak, kemudian berkata, “Kau seharusnya bicara dengan Donna.”

“Donna? Dia salah satu dari Makanan ringan lezat yang aku bicarakan. Suatu kali dia dan aku-” Dia berhenti, memutuskan untuk tak melanjutkan.

“Beri dia kesempatan. Dia punya eksterior keras, tapi hatinya lembut. Dan kupikir dia benar-benar peduli tentangmu. Plus, kau mungkin menemukan bahwa kau punya banyak kesamaan dengan dia dari yang kau kira” Jason mengingat kembali saat ke ruang ganti.

“Donna,” kata Danny, pikirannya bekerja.

Jason masih membutuhkan jawaban dari temannya. Dia punya ide.

“Danny, kupikir aku dan Becky nggak akan berhasil,” kata Jason, mengamati reaksinya.

“Apa yang terjadi?” Kata Danny, nada suaranya benarbenar terkejut. “Kalian makan malam dan pergi ke Overlook. Kedengarannya kau bersenang-senang disana.”

“Kau tahu bagaimana ketika kau menginginkan sesuatu,” Jason memulai, “tapi ketika kau mendapatkannya, ternyata itu bukan seperti apa yang kau harapkan?”

“Yah,” kata Danny, ekspresi kebingungan ada di wajahnya. “Tapi kita sedang bicara tentang Becky Johnson sini. Bagaimana bisa dia bukan apa yang kau harapkan?”

Jason mencoba membaca wajah temannya. Dia tak melihat apa-apa selain kejujuran yang terbuka. Jika Danny bohong, pasti dia aktor yang cukup baik.

“Dia bilang padaku beberapa hal. Hal tentang masa lalunya.”

“Wah, tahan dulu sebentar.” Danny berhenti berjalan, dan Jason berhenti dengan dia. Temannya menatapnya dengan serius. “Jason, aku nggak yakin apa yang kau harapkan, tapi aku harap kau nggak berpikir dia masih perawan.”

Jason menggeleng. “Bukan itu. Nggak sama sekali. ”

“Penyebabnya dude, aku bisa memberitahumu beberapa cerita. Kupikir kau nggak ingin mendengarnya.”

“Cerita?”

“Ya, cerita.” Temannya tampak tak nyaman. Bukan kondisi yang biasa dihadapi oleh Danny.

“Seperti apa?”

Danny menatapnya. “Ayolah Jason, jangan minta aku untuk melakukan itu. kau nggak ingin mendengar hal-hal semacam itu tentang Becky.”

“Aku ingin mendengar apa pun yang kau anggap penting bagiku untuk didengar. Ada yang perlu diwaspadai.”

Danny menggeleng. “Kau sedang bicara dalam teka-teki di sini. Tanya saja padaku apa yang ingin kau tahu.”

Jason mengusap tangannya di dahinya. Ini tak akan ke mana-mana. Dia memutuskan untuk mencoba taktik yang berbeda. Dia mulai berjalan lagi, dan Danny diikuti.

“Aku jatuh cinta pada orang lain.”

Danny tampak terkejut. “Dude, orang lain selain Becky? Kenapa kau nggak bilang? Siapa cewek yang beruntung itu?”

“Dia belum tahu.”

“Jason, kau jatuh cinta dengan Becky selama dua tahun tanpa dia tahu. Bagaimana ini berbeda?”

“Beda.”

“Jadi siapa dia? Orang yang aku kenal?”

“Aku lebih suka tak mengatakannya.”

Danny menatapnya dengan penuh perhatian. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Ini Sam, kan?”

Jason berhenti dan ternganga pada temannya. “Gimana kau bisa menebaknya?”

Danny menyeringai. “Bung, ternyata dia! Selamat. Kalian berdua diciptakan untuk satu sama lain. Aku selalu tahu itu.”

“Ini rumit,” lanjut Jason sambil terus berjalan.

“Apa yang rumit? kau menyukainya, dan dia jelas menyukaimu. Kau mungkin buta terhadap kenyataan ini, tapi itu jelas seperti siang hari bagiku. Cewek tu berseri-seri ketika kau didekatnya.”

“Kemarin dia melihat aku di Angelo bersama Becky, setelah itu aku baru ingan bahwa aku punya janji kencan dengannya pada saat yang sama.”

“Ouch! Dude, kau benar-benar kacau. Seluruh hidupmu kau belum pernah berkencan, dan lalu kau menjadwalkan dua cewek pada saat yang sama?”

“Dan yang lebih parah lagi, sekarang ini berita menyebar di seluruh kota bahwa aku ke Brady Overlook dengan Becky, dia akan tahu tentang itu juga.”

“Double Ouch! kau lebih baik menjaga bolamu ketika dia didekatmu, dia mungkin akan memotong bolamu.”

“Ya, aku memang kacau.” Jason memutuskan untuk kembali ke pertanyaan yang ia butuhkan dari Danny.

“Jadi,” katanya, “hal ini berarti aku dan Becky sudah selesai. Kami tak bergaul dengan baik, dan sekarang aku jatuh cinta dengan Sam, Becky keluar dari radarku.”

“Keren dude. aku tak pernah bilang apapun, tapi aku selalu berpikir bahwa kau melamun terus tentang dia itu nggak sehat.”

“Jadi,” lanjut Jason, mencoba untuk mencari tahu bagaimana mengatakannya, “aku tak peduli tentang Becky lagi, jadi jika dia kencan dengan siapapun, atau berhubungan seks dengan siapapun, aku tak peduli. Bahkan jika itu dengan seseorang yang aku kenal.”

“Ya,” jawab Danny, tampak bingung, “itu nggak perlu dikatakan.”

“Aku hanya bilang dia bebas untuk melakukan apapun yang dia mau, dan setiap orang bebas untuk melakukan apa saja dengan dia.”

“Sekarang kau bicara aneh lagi.” Mereka telah mencapai Mustang kuning Danny, dan dia membuka pintu dengan remote-nya. “Kau mau pulang?”

“Nggak, aku punya beberapa hal untuk dipikirkan.”

Danny tertawa. “Tentu kau harus teman. Seperti yang aku bilang, hati-hati dengan bolamu.”

Danny masuk ke mobilnya, dan Jason memutuskan untuk mencobanya sekali lagi. “Kalau Sam dan aku jadian, salah satu manfaat adalah ada nol persen kesempatan kau dan aku tidur dengan cewek yang sama.”

Danny memandangnya, seolah-olah dia tak tahu apa maksudnya, dan kemudian dia tertawa terbahak-bahak. “Kau benar sekali. Dia membenciku. Tapi ada juga sisi negatifnya yang kau belum pikirkan. Jika kau pacaran dan akhirnya menikah, tak mungkin dia akan mengijinkanku untuk menjadi pendamping pernikahanmu” Dengan itu, Ia tertawa lagi dan melesat pergi.

Jason menyaksikan ‘DOUBLEZ’ plat menghilang di tikungan, dan memutuskan bahwa ia merasa sedikit lega tentang temannya itu.

Amulet Bab 14
Amulet Bab 14

Jason menyelesaikan laporan di kamarnya, dan merasa perlu untuk berpikir, sehingga ia berbaring di tempat tidurnya. Dia telah berhasil kembali ke dalam rumahnya tanpa harus bertemu dengan salah satu wanita dari keluarga Scott, atau Robin. Sejauh ini, baik-baik saja. Pikirannya berada di dalam pusaran. Danny di perpustakaan adalah Danny yang sama yang ia selalu kenal. Dia tak bisa mendeteksi tanda-tanda ketidakjujuran Danny tentang hubungannya dengan Becky. Dan ketika dia membiarkan Danny tahu dia tidak peduli lagi tentang Becky, reaksi temannya hanya acuh tak acuh. Apakah Danny benar-benar bagus sebagai seorang pembohong?

Di sisi lain, Becky cukup meyakinkan juga. Dia tahu tentang Jason memberi les Danny yang itu tak terbantahkan. Ini tidak benar-benar membuktikan bahwa mereka berdua telah berhubungan seks, tapi itu menunjukkan hubungan mereka jauh lebih dalam daripada yang Danny sadari, karena jika Danny mengatakan padanya tentang hal itu, itu berarti ia mempercayainya. Dan apa yang akan menjadi motifnya untuk berbohong? Dia tidak bisa memikirkan satupun alasan.

Dan apa yang Donna tahu tentang Becky? Dia menyembunyikan sesuatu, tapi apa?

Itu semua berputar-putar di kepalanya hingga otaknya sakit. Tak satu pun yang masuk akal. Bukankah ia seharusnya orang yang pintar? Mungkin di mata pelajaran sekolah ia pintar, tapi ketika berurusan dengan hubungan cowok dan cewek, dia adalah anak paling bodoh di dalam kelasnya, dan ia tahu itu.

Dia memegang kalung itu di tangannya, merasakan kehalusan diantara jari-jarinya. Dan bagaimana dengan benda ini? Mungkinkah ia menggunakannya untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapinya? Saat sel-sel otaknya kelelahan, ia mulai tertidur. Dia mencoba memikirkan Sam, berharap mimpinya akan berhubungan tentang dia. Ternyata tidak. Tapi ia bermimpi tentang seorang cewek.

Dalam mimpinya ia duduk di bawah pohon di padang rumput besar. Begitu besar dia hanya bisa melihat rumput di segala arah. Tidak ada gunung dan tidak ada pohon lain selain pohon tempat dimana sekarang ia berada. Di padang rumput matahari bersinar cerah, tetapi di bawah bayangan pohon terasa dingin.

Dia sendirian pada awalnya, tapi kemudian dia melihat seorang cewek bersamanya. Dia tak yakin bagaimana dia sampai di sana, tetapi ketika ia menoleh, dia sudah ada disana. Dia telanjang, dan ini tampaknya tak mengganggu atau menggairahkan dirinya. Dia hanya telanjang,itu saja. Itu hanya sebuah fakta untuk diamati. Lalu ia melihat dirinya telanjang juga, dan itu juga tidak mengganggunya.

Dia tidak mengenalinya, tapi itu juga bisa berarti bahwa dia mungkin telah duduk di belakangnya di kelas Sejarah. Dalam mimpinya, ia tertawa ketika ia berpikir tentang hal ini, dan cewek itu tersenyum oleh tawanya.

Dia memiliki kulit yang bersih, tapi rambutnya hitam seperti tinta. Panjang dan mengalir di sekitar kepalanya seolah-olah berada di bawah air. Mata biru cerahnya tampaknya seperti memandang tembus melalui dirinya. Diantara payudaranya terdapat kalung, berputar dengan warna cerah di sana, hampir berwarna hitam. Dia pikir itu adalah kalung miliknya, tetapi ketika ia melihat ke bawah, kalung itu masih tergantung di lehernya, seterang kalung yang dikenakan cewek itu.

“Hello Jason. Aku Ambriel.”

“Halo Ambriel. Dimana kita?”

“Ini adalah tempat di mana kau dan aku bisa bertemu.”

“Bagaimana aku sampai di sini?”

“Amuletku yang membawamu ke sini.” Entah bagaimana ia tahu bahwa cewek itu sedang membicarakan tentang kalung itu.

“Bisakah punyaku melakukan itu?”

“Tidak semua amulet punya kegunaan yang sama. Amuletmu memungkinkan kau untuk melihat kebenaran.”

Ia menyadari bahwa sekarang mereka duduk bersama. Ia bersila dengan punggung menempel pohon, dan cewek itu sekarang berada di pangkuannya, kaki cewek itu melilit pinggangnya, dan penisnya berada di dalam dirinya. Dia tidak keras, dan bertanya-tanya bagaimana caranya ia bisa masuk kevaginanya itu. Entah bagaimana ia mengerti ini bukan seks yang sekarang sedang mereka lakukan, melainkan sejenis koneksi.

“Apakah amuletku selalu menunjukkan kebenaran?”

“Amuletmu selalu menunjukkan kebenaran, tapi kadang-kadang kau mungkin tidak melihatnya.”

“Aku tak paham.”

“Jika aku mengatakan sebuah kebenaran, dan kau mendengar itu sebagai sebuah kebohongan, apakah itu membuatku jadi seorang pembohong?”

“Tidak,” jawabnya. Dia menunduk dan amulet mereka sekarang bersatu, membentuk massa yang menggeliat penuh warna, beberapa warna bahkan ia belum pernah lihat sebelumnya.

“Kau dipilih untuk memiliki amulet ini karena keberanianmu Jason.”

“aku tidak merasa sebagai seorang pemberani.”

“Keberanian bukanlah tentang perasaan. Ini adalah kekuatan batin untuk membuat pilihan yang tepat ketika pilihan yang tepat itu adalah sulit.”

Dia melanjutkan, “Pemilik amulet diuji dua kali, sekali untuk mendapatkannya, dan sekali untuk memilikinya. Tes keduamu sudah dekat. Aku akan membantumu mempersiapkan diri ketika saatnya tiba.”

Dia ingin bertanya lebih lanjut tentang pengujian itu, tapi dia berkata, “Kita harus berpisah sekarang. Selamat tinggal Jason.”

“Selamat tinggal Ambriel.”

Dia meraih amulet di antara tubuh mereka dan menarik amulet itu lepas darinya.

Amulet Bab 15
Amulet Bab 15

Ketika ia terbangun, hari sudah malam. “Mimpi apaan ini,” ia bergumam, tapi mimpinya begitu nyata dan hidup. Dan itu tidak memudar seperti mimpi lain yang biasa ia alami.

Dia melirik alarm dan melihat itu sudah jam delapan.

Dia merasa perlu untuk pergi keluar. Ada sesuatu yang akan terjadi yang perlu ia lihat. Dia bisa merasakannya. Memastikan ia membawa amulet, ia pergi keluar.

Di lantai bawah, ia bertanya pada ayahnya apakah boleh jika ia meminjam mobil. Agaknya ibu Jason, yang duduk menunggu sampai ia tiba di rumah tadi malam, telah memberitahu ayahnya tentang keadaan buruknya saat ia tiba di rumah. Jadi ayahnya bersedia untuk memberi kelonggaran padanya. “Kuncinya ada di gantungan, ia berkata ,”Sampai di rumah jam 10, dan Jase …”

Jason berbalik ke arah ayahnya.

“Segalanya akan beres nak. Hanya beri sedikit waktu.”

“Terima kasih, yah.” Jason tersenyum lemah, meraih kunci dan pergi keluar, tanpa tahu ke mana ia menuju.

Dia menyetir tanpa berpikir, pikirannya terganggu. Tapi setelah beberapa saat, itu jelas di mana ia akan pergi. Dia bergerak ke arah lingkungan rumah Becky, tak yakin apa yang dia lakukan di sini. Saat ia melewati rumahnya, ia mempertimbangkan kemungkinannya. Dia bisa mengetuk pintu dan bicara dengannya, atau dia bisa memakai amulet dan mencoba untuk menyelinap ke kamarnya. Dia tak yakin apa yang baik untuk dilakukan. Dia mungkin akan membanting pintu di wajahnya, dan ia juga sedang tak ingin menonton dia duduk kamar hanya dengan celana dalam. Pikiran yang terakhir itu tak pernah terpikirkan dua hari lalu, tapi sudah banyak yang terjadi sejak dua hari terakhir.

Dia memutuskan bahwa ia telah keliru untuk datang ke sini, dan setelah berputar-putar bloknya tiga kali, ia berniat pulang ke rumah. Tapi saat ia berbelok keluar dari gerbang perumahan, sebuah Mustang kuning melintas melewatinya dan melaju ke dalam.

Ia sangat terkejut. Mengapa Danny di ada sini?

Dia berputar dan kembali. Ia berharap tak akan melihatnya, tapi ada disitu, Mustang dengan plat ‘DOUBLEZ’ diparkir tepat di depan rumah Becky. Itu kosong jadi Danny pasti sudah berada di dalam. Sudah saatnya untuk menggunakan amulet.

Dia parkir di jalan di mana ada semak-semak membuat mobilnya tak terlihat dari pandangan. Dia dengan canggung melepas pakaiannya di dalam mobil, dan memakai amuletnya. Dengan cepat keluar dari mobil sehingga cahaya lampu mobil tidak terlalu lama menyala, ia kemudian menuju ke jalan.

Dia mencoba pintu belakang dulu, yang merupakan pintu kaca geser yang menuju ke dek yang rendah, tapi itu terkunci. Berjalan berputar, ia tak bisa menemukan jalan masuk selain pintu depan. Josh mungkin di tempat tidur sekarang, jadi dia tidak bisa bergantung pada anak kecil itu untuk membukakan pintu buatnya saat ini.

Tak ada pilihan lain – ini pasti pintu depan. Dia berharap itu tak terkunci. Dia menguji pegangan pintu dan ia beruntung, dan pintu bersuara klik terbuka. Mendorongnya terbuka cukup lebar hanya memungkinkan dia untuk menerobos, dia menutupnya dengan pelan-pelan.

Suara TV terdengar dari ujung lain rumah itu, datang dari satu-satunya kamar di mana lampunya menyala. Dia mencari tangga, menemukannya di tengah rumah, dan berjalan dengan hati-hati naik ke lantai atas. Karpetnya sangat mewah, dan karena rumah baru, tidak ada suara yang muncul ketika ia berjalan ke atas. Lorong di lantai atas gelap, tapi kamar tidurnya tidak sulit untuk ditemukan. Ini adalah satu-satunya kamar dengan musik samar terdengar dari balik pintu.

Ia menempelkan telinganya ke pintu, dan mendengar musik yang keras, tapi ada juga suara gumaman. Lampu di kamar mati – sebuah fakta yang menyebabkan rasa sakit ke dadanya.

Dia harus tahu. Dia meraih pegangan pintu dan memutarnya perlahan-lahan. Pintunya tidak terkunci, dan ketika ia tidak bisa memutarnya lebih jauh lagi, ia mendorong dengan lembut dan pintu berayun berbuka sekitar satu inci. Musik terdengar keras. Ia mengira salah satu dari mereka melihat ke arah pintu, dan menunggu respon mereka, tetapi tak ada tanggapan. Dia mendorong pintunya lebih lebar, dan sekarang bisa melihat ke dalam ruangan, setidaknya salah satu sudutnya.

Dia ternyata salah, ada cahaya menyala di dalam. Tapi itu hanya lampu meja dan cahayanya menerangi kamar dengan cahaya yang rendah. Becky ternyata tidak berbohong tentang penghargaan cheerleader-nya. Benda sialan itu ada di mana-mana. Sertifikat dan selempang di dinding, piala dan foto ada di meja. Seluruh ruangan tampak seperti lemari piala.

Dimanapun mereka berada, mereka pasti tak berada di bagian ruang yang ia bisa melihat. Tapi ia mendengar suara mereka lagi, suara gumaman lembut nyaris tak terdengar tenggelam oleh musik. Otot di perutnya terpilin.

Dia mendorong pintu lebih lebar, dan sekarang ada cukup ruang baginya untuk menyelinap ke dalam. Dia menunggu beberapa saat untuk memastikan tak ada yang melihat kondisi pintu yang berubah, tapi sekali lagi tak ada reaksi. Dia dengan hati-hati melangkah kedalam, dan berbalik menuju ujung lain dari kamar itu.

Perutnya melilit. Mereka berada di tempat tidur. Jason berdiri di kaki tempat tidur, dan bisa melihat Danny berbaring telentang, kakinya diluruskan ke arah Jason. Becky mengangkangi dia, duduk, memunggungi Jason, dan menghalangi seluruh tubuh Danny dari pandangannya. Dalam cahaya redup ia nyaris tak bisa melihat penis keras Danny masuk ke dalam Becky. Pinggulnya yang bergoyang-goyang, dan Becky meluncurkan tubuhnya ke atas dan ke bawah. Dia bisa melihat cairan licinnya, dan dia bisa mendengar suara yang basah berasal dari mana organ mereka yang terangsang bertemu. Jason melihat lebih dekat dan melihat sesuatu yang aneh. Dalam cahaya redup ia bisa melihat sebuah vibrator plastik merah muda mencuat keluar dari pantat Danny.

Dia ingin meninggalkan kamar itu. Dia tak bisa menonton ini. Tapi dia masih harus tahu. Apakah mereka melakukan ini karena apa yang ia telah katakan pada Danny hari ini, atau ini sudah berlangsung cukup lama?

“Lebih cepat sayang,” bisik Danny.

Irama kecepatan Becky meningkat dan dia bisa mendengar erangan Danny juga bertambah. Pantat Becky bergerak melompat naik turun, menampar keras melawan paha Danny, dan kemudian kembali ke atas, sampai hanya ujungnya berada dalam dirinya. Berulang-ulang, pantatnya berputar naik dan turun di kemaluannya. Danny meraih pinggulnya dan meningkatkan kecepatannya, menarik ke bawah dengan kuat. Tangan Becky bergerak kebelakang dan meraih vibrator, dan memasukkannya lebih dalam lagi.

Tiba-tiba tubuh Danny menegang, dan ia mendorong kemaluannya seluruhnya keatas, jauh di dalam dirinya. Erangan Danny berubah menjadi jeritan bernada tinggi dan Becky mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menutupi mulut Danny dengan tangannya, mengingatkan dia untuk diam. Jason mencatat dengan sedikit kepuasan bahwa Becky tidak berbagi orgasme bersamanya.

Becky berbaring diatas tubuhnya, menciumnya saat rambutnya menjuntai di sekitar wajah Danny.

“Kau keluar dengan cepat hari ini sayang,” katanya lembut.

“Itu karena aku sudah cukup lama tidak didalam dirimu,” bisik Danny. “Tapi jaga tetap seperti ini, aku segera akan keras lagi.”

Jason tertegun. Bagaimana bisa Danny jadi pembohong yang ulung?

“Mmmm,” katanya, “Ingin mainannya tetap di dalam juga?”

“Yah sayang. Rasanya seperti surga.”

“Ok, tapi kita harus tetap tenang agar orang tuaku nggak bisa dengar.”

“Ceritakan tentang kencanmu dengan si kutu buku itu,” bisik Danny, “Gimana hasilnya?”

“Itu berjalan dengan sempurna. Sama seperti yang kau rencanakan. Kupikir Jason nggak akan jadi masalah lagi.”

“Kukira sedikit memuakkan untuk melihat dia menatapmu sepanjang waktu. Aku dengar kalian berdua pergi ke Overlook. Apa kau tidur dengannya?”

“Tidak Sayang, kita hanya bicara. Dia bersikap gentlemen. Dia benar-benar cowok yang baik. aku merasa nggak enak memperlakukan dia seperti itu.”

Danny tertawa. “Itu kedengarannya seperti Jason. Pecundang itu nggak akan pernah dapat kesempatan untuk bercinta.”

“Kupikir dia punya perasaan pada si Samantha itu.”

“Botol cola. Panggilan itu yang kita pakai untuk memanggilnya ketika kita masih kecil karena ia pakai kacamata tebal. Dia masih membenci kita untuk hal itu.”

Becky tertawa, “Itu kejam.”

“Ya, tapi dia sekarang berubah jadi cewek yang seksi sekarang. Aku punya rencana untuk menidurinya segera.”

“Kau bilang dia membencimu?”

“Aku akan merayunya habis-habisan, dan jika itu nggak berhasil, aku tetap akan mengambilnya. Cewek bilang nggak mau sebab mereka sudah diajarkan untuk mengatakan tidak, tapi jauh di dalam hatinya, mereka semua menginginkannya.”

“Kau benar-benar romantis,” kata Becky pura-pura sinis.

“Hei, kau merasakannya? Berpikir tentang meniduri si Botol cola membuatku jadi keras lagi” Dia menampar pantatnya. “Ayo kerja lagi, seksi.”

Dia mulai bergerak lagi, tapi Jason tak bisa menontonnya lagi. Dia sudah tahu apa yang dia perlu tahu, dan amarah telah mengalir keseluruh tubuhnya.

Amulet Bab 16
Amulet Bab 16

Jam ketiga pelajaran Sejarah. Jason ketakutan. Ini adalah kelas pertama hari ini bersama Becky dan ia tak yakin ia bisa melaluinya. Mimpinya tadi malam dipenuhi dengan bayangan Becky dan Danny, dan dia kesulitan tidur, bangun dalam suasana hati yang buruk.

Beberapa teman-temannya memberinya tanda acungan jempol ketika ia pertama kali tiba di sekolah, dan memintanya untuk menceritakan secara rinci tentang kencannya dengan Becky. Dia terus terang mengatakan kepada mereka untuk meninggalkan dia sendirian, dan mereka mundur, tak terbiasa melihat dia seperti itu.

Berjalan ke dalam kelas sejarah, ia duduk, dan melihat Becky belum datang. Berharap dia beruntung bahwa Becky tak masuk sekolah hari ini.

“Hei Jason.”

Dia berbalik dan Donna mengambil tempat duduknya di belakangnya. “Hei Donna,” katanya datar.

“Lihat, kan?” Katanya, memberinya senyum, “Aku benar-benar duduk di sini.”

Dia tidak membalas senyumnya. Sedang tidak mood.

“Kamu nggak papa?” Tanya Donna.

Dia menjawab dengan mengangkat bahu tanpa komitmen tanpa membalikkan badan.

Sisa murid-murid yang lain mulai masuk, dan ia melihat Becky mengambil tempat duduknya. Dia mengambil resiko melirik sekilas padanya, dan Becky bersikap normal, yang berarti dia benar-benar mengabaikan Jason seperti biasa. Dia melakukan hal yang sama padanya, tidak ingin menjadi ‘memuakkan’ untuknya. Setidaknya ia sudah menyelesaikan laporannya, itu merupakan keajaiban kecil mengingat apa yang ia telah lalui empat hari terakhir.

Setelah kelas bubar, Donna menyusulnya. “Jason, bisa kita bicara sebentar?”

“Kau ternyata salah Donna,” katanya sambil terus berjalan.

Dia mengikutinya. “Salah apa?”

“Tentang Becky. aku bisa mempercayainya.”

“Apa yang dia bilang?”

“Dia bilang pada yang sebenarnya. Pada awalnya aku nggak percaya, tapi tadi malam aku membuktikannya sendiri.”

“Sebenarnya tentang apa?”

“Tentang siapa sebenarnya sahabatku.”

“Katakan padaku apa yang dia katakan Jason.”

“Aku harus masuk kelas.”

“Jason.”

Dia berbelok menuju kelas berikutnya, mengabaikannya.

***

Dia sedang duduk di kantor Kepala Sekolah, dia memegangi kepalanya, menunggu ibunya tiba untuk menjemputnya pulang. Kemejanya bernoda darah dan beberapa kancingnya hilang. Tiga hari hukuman adalah putusan Kepala Sekolah. Ibunya pasti akan marah besar. Persetan! Bagaimana mungkin hidupnya jadi begitu diluar kendali dalam waktu yang begitu singkat?

Masalah yang terbaru awalnya dimulai saat pertemuan dengan Sam sebelum makan siang. Dia berjalan di sekitar sudut lorong dan itu dia disana. Senyum yang biasa menyambutnya sekarang tak ada.

“Hi Sam,” katanya, mencoba terdengar optimis.

“Hi Jason.” Suaranya datar dan tanpa emosi.

“Sam, um,” ia terbata-bata, “aku ingin minta maaf untuk malam kemarennya. Aku benar-benar bodoh.”

“Nggak perlu minta maaf.” Satu-satunya emosi dalam suaranya adalah ketidakpedulian.

“Mungkin kita bisa ketemu malam ini dan bicara?”

“Aku sibuk.”

“Kau dan ibumu pergi ke suatu tempat?”

“Aku ada kencan.”

Hatinya sakit. Ini bertambah buruk ketika ia ingat Danny bicara tentang rencananya tadi malam.

“Apakah aku kenal dia?” Dia mencoba untuk terdengar ringan.

Mata hijaunya menatapnya lalu menunduk, dan ia tahu yang sebenarnya.

“Aku harus pergi Jason. Aku harus belajar untuk ulangan.”

Dia melihat Sam berjalan pergi, dan kemarahannya dari kejadian tadi malam pada Danny muncul kembali. Ia berusaha sekerasnya mencoba mencegah pikiran itu muncul, gambaran Sam dan Danny berduaan memenuhi pikirannya. Sam duduk di kemaluannya, seperti yang Becky lakukan tadi malam. Selanjutnya, ia melihat Sam mengoral Danny, memegang rambut Sam erat-erat di tangannya saat ia mendorong miliknya jauh ke dalam tenggorokannya, memutar putingnya dengan kejam saat ia mendengus dalam kenikmatan. Bulu mata yang panjang indahnya tertutup dengan lembut saat ia menerima Danny keluar di dalam mulutnya.

Dia tidak punya nafsu untuk makan siang. Sebaliknya, ia berjalan di sekitar halaman sekolah marah tentang Danny dan Sam. Semakin dia berpikir tentang mereka, itu membuatnya semakin marah.

Dia tahu apa yang harus ia lakukan.

Itu tepat sebelum kelas dimulai setelah makan siang, dan ia menemukan Danny berdiri di lokernya, sedang tertawa dengan Gary. Keduanya tertawa lumayan keras, dan Jason berasumsi mereka menertawakannya. Danny mungkin mengatakan pada Gary bagaimana si kutu buku itu tak akan pernah dapat kesempatan bercinta, terutama karena ia akan meniduri cewek yang ia cintai malam ini.

Jason berjalan langsung kearahnya, dan Danny melihat dia pada akhirnya. Danny nyengir padanya, tapi kata yang bisa ia keluarkan adalah “Hey Ja-” sebelum Jason mendorong keras di dadanya, membuatnya membentur lokernya, membuat suara benturan keras.

“Jangan dekati dia!” Kata Jason, suaranya gemetar.

Danny tak bisa berkata-kata. Matanya melebar terkejut saat ia memdapatkan kembali keseimbangannya.

Jason datang padanya lagi, tapi kali ini Danny sudah siap dan dorongan Jason tak banyak berpengaruh padanya.

“Jason!” Kata Danny, “apa-apaan ini?”

“Jauhi dia!”

“Siapa?” Kata Danny, wajahnya tampak kebingungan.

Murid-murid mulai membentuk lingkaran di sekitar mereka.

“Aku nggak peduli kalau kau bohong padaku, tapi jangan berani-berani kau menyakitinya,” kata Jason. Dia mengayunkan pukulan canggung ke wajah Danny, Danny menghindarinya dengan mudah. Kehilangan keseimbangan, Jason terjatuh, wajahnya membentur lantai. Ada beberapa anak yang tertawa di sekitar kerumunan itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Kata Danny. “Jason, bicaralah padaku.”

Jason bangkit, dan meletakkan tangannya ke hidungnya yang sakit. Tangannya basah oleh darah di atasnya.

“Aku nggak akan membiarkanmu menyakitinya,” kata Jason, dan mencoba untuk mendorong Danny lagi. Kali ini Danny mencengkeram bagian depan kemejanya, membuat beberapa kancingnya terlepas, dan dengan mudah memutarnya dan menekan tubuhnya kearah dinding loker.

“Jason! Tenanglah!”

“Ok, apa yang terjadi di sini?” Itu suara Mr. Greer yang menggelegar. “Mundur kalian berdua!”

Jason berdiri melihat ke arah guru itu membereskan situasi. Dia menolak untuk menatap Danny saat murid-murid yang lainnya maju dan menjelaskan apa yang mereka lihat. Itu disepakati bahwa Jason yang memulainya, dan ia dikirim ke kantor Kepala Sekolah, Mr. Bennett.

Dua cewek berdiri dikejauhan, masing-masing ada di sisi berlawanan dari kerumunan, keduanya sudah menyaksikan seluruh kejadiannya. Becky akhirnya berpaling, ada senyum puas di wajahnya. Sam tetap tinggal, menatap ke tempat di mana peristiwa itu terjadi, air mata menggenang di matanya.

Amulet Bab 17
Amulet Bab 17

Jason berbaring di tempat tidurnya, membiarkan pikirannya hanyut. Dia benar tentang ibunya. Dia marah besar, dan menghukumnya tak boleh keluar rumah selama dua minggu. Entah kapan, ibunya mengetuk pintu kamarnya dan mengatakan bahwa ia mendapat telepon. Ketika ia bertanya siapa itu dan dia mengatakan bahwa itu adalah Danny, ia menolak untuk bangun dan menerimanya. Ia mendengar telepon berdering beberapa kali lagi, tapi ibunya tidak bertanya padanya lagi.

Dia mengeluarkan amulet keluar dan memutar-mutar dijarinya, menonton pusaran warna didalamnya. Dia tak bisa memikirkan alasan apapun untuk menyalahkan masalah yang dihadapnya pada sepotong batu yang ada di tangannya, tapi tampaknya dimulai bersamaan saat Malchediel memberikan padanya. Mungkin akan lebih baik untuk jadi tetap bodoh, tak tahu yang sebenarnya tentang Danny, atau tentang perasaan yang sebenarnya pada Sam.

Dia menolak untuk mempercayainya, terutama tentang Sam. Perasaan saat ia melihat dia tidur dan setelah membuat pikirannya terbuka olehnya – dia tak akan menukarnya dengan apapun. Jika semua rasa sakit hati yang sekarang ia rasakan adalah bayaran untuk itu, itu layak diterima.

Dia merasa kantuk datang padanya. Dia berjuang untuk menjauh, tapi itu seolah-olah ia ditarik ke dalam tidurnya.

Dia kembali di padang rumput. Saat ini Ambriel sudah ada di sana ketika ia tiba, dan dia sudah duduk di pangkuannya, amulet mereka bersatu lagi.

“Halo Ambriel.”

“Waktu kita singkat Jason. Aku datang untuk mempersiapkanmu.”

“Mempersiapkan aku untuk apa?”

“Ujianmu tiba malam ini, ditepi air.”

“Kupikir aku belum siap.”

“Pemandumu sedang dalam perjalanan untuk menerangi jalanmu, tapi kau harus mengikuti jalan itu sendirian.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Kau adalah seorang pelindung, Jason. kau selalu begitu.”

“Aku nggak paham.”

“Kau akan paham. Tapi sekarang kau harus buru-buru kembali. Ada sesuatu yang penting yang harus kau lihat” Dia meraih dan menarik amulet terpisah.

Dia terbangun dengan terkejut, dan menatap langit-langit kamar tidurnya dalam cahaya senja yang redup. Ia mendengar diluar suara pintu mobil ditutup, dan kemudian sekali lagi.

Ada sesuatu yang penting yang harus kau lihat.

Dia melompat dari tempat tidur dan pergi menuju ke jendela. Dia melihat Mustang kuning berjalan keluar dari depan rumah Sam, dan bergerak masuk ke jalan.

Bahunya merosot. Persetan. Dia terbangun hanya untuk melihat itu?

Amulet Bab 18
Amulet Bab 18

Melihat Sam pergi dengan Danny menghancurkan setiap perasaan positif yang ia dapat ketika bertemu Ambriel barusan. Dia mencoba untuk menjauhkan pikiran tentang apa yang akan mereka lakukan. Danny jelas sudah bisa mengatasi ketidaksukaan Sam terhadapnya, dan sekarang ia bertanya-tanya pesona apa lagi akan dia berikan padanya. Atau yang dia keluarkan. Dia berpikir untuk pergi keluar mencari mereka, menggunakan amulet untuk membuatnya impas antara dia dan Danny. Apakah itu ujian yang Ambriel sudah bicarakan? Apakah ia dianggap gagal jika sekarang hanya berbaring di sini tidak melakukan apapun?

Ia telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak bisa berbaring di sini lebih lama lagi, ketika ia mendengar ketukan di pintunya.

“Jason?” Itu ibunya.

“Ya?”

“Apakah kau berpakaian?”

Dia menatap ke bawah. Dia memakai jeans dan t-shirt. Ibunya telah bergegas mengganti pakaiannya yang berdarah ketika mereka sampai di rumah.

“Ya. Kenapa?”

“kau ada tamu.”

Dia bangkit, pergi ke pintu, dan membukanya.

“Donna?” Katanya, ekspresi terkejut tampak jelas di wajahnya.

“Hi Jason,” katanya, “Bisa nggak kita bicara?”

Reaksi pertama adalah untuk mengatakan tidak, tapi ia ingat.

Pemandumu sedang dalam perjalanan untuk menerangi jalanmu.

“Uh … Tentu. Ma, apa boleh kalau kita bicara di sini? Aku akan biarkan pintunya terbuka.”

Ibunya memandang dengan ragu-ragu.

“Ini benar-benar penting Mrs. Ramsey,” tambah Donna.

“Ok,” kata ibunya, “tapi pintu tetap terbuka.” Dia meninggalkan mereka dan pergi menuruni tangga.

Donna masuk ke kamarnya, dan duduk di ujung tempat tidur. Jason mengambil tempat lebih jauh, dan berkata, “Apa yang kau ingin bicarakan?”

“Jason, katakan padaku apa yang Becky bilang padamu.”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Karena kupikir dia bohong padamu.”

“Dia nggak berbohong padaku. Aku sudah bilang itu padamu.”

“Katakan saja. Kumohon?”

Dia mengambil napas. Apa salahnya? “Dia bilang dia dan Danny terlibat hubungan dan sudah melakukannya dalam waktu yang cukup lama.”

“Jason, itu nggak benar.”

“Nggak.”

“Benar. Dia sudah mengejar Danny sejak dia tiba di sekolah dua tahun lalu. Tapi Danny nggak pernah mau menerimanya.”

“Kau salah.”

Donna meneruskan seolah-olah Jason tidak bicara. “Dan alasan Danny nggak menerimanya karena kamu. Dia tahu kau punya perasaan padanya.”

Jason mendengus.

“Ingat ketika aku tanya padamu kenapa dia nggak pernah mau bicara denganmu?”

“Ya.”

“Itulah alasan kenapa dia nggak pernah melakukannya. Karena Becky melihatmu sebagai alasan kenapa dia nggak pernah bisa mendekati Danny. Dia membencimu untuk alasan itu Jason.”

“Gimana kau tahu ini?”

“Karena aku pernah dengar dia bicara. Yang dibicarakan adalah tentang Danny terus. Becky ingin apa yang ia bisa berikan padanya.”

“Maksudmu seks?”

“Nggak, bukan seks. Pikirkan gambaran yang lebih besar Jason. Pikirkan gimana Danny lima tahun kedepan.”

“Sangat sukses dan sangat kaya?”

“Tepat. Itulah yang dia inginkan. Dan kau berdiri menghadang jalannya. Setidaknya kau penghalangnya sampai dia membisikkan kebohongan di telingamu, dan membuatmu marah pada Danny. Jadi, menurut skema kecilnya, Danny nggak punya alasan lagi untuk menjauhinya.”

“Tapi dia tahu rahasia tentang Danny, dan Danny pasti sudah bilang padanya. Satu rahasia yang hanya dia katakan pada seseorang yang dekat.”

“Satu rahasia?”

“Ya.”

“Maksudmu rahasia bahwa kau telah membantu Danny meningkatkan nilainya?

Jason menatapnya kaget. “Bagaimana kau tahu itu?”

“Robin Lobeaux sudah ngoceh di sekolah selama berminggu-minggu. Dia menghabiskan banyak waktu di sini, di rumahmu, benar kan?

“Robin,” desah Jason. Mengapa ia tidak memikirkan tentang dia?

“Becky bilang bahwa Danny yang mengatakannya?”

“Ya.”

“Aku bilang, dia pembohong.”

“Dia nggak bohong tentang dia dan Danny yang terlibat hubungan.”

“Tentu saja dia bohong.”

“Nggak, dia nggak bohong. Aku lihat mereka berduaan.”

“Berduaan? Apa maksudmu?”

“Mereka berduaan. Di tempat tidur.”

Matanya terbelalak. “Kau lihat Danny dan Becky berhubungan seks?”

“Ya.”

“Di mana?”

“Di kamar tidur Becky.”

“Gimana caranya kau bisa lihat mereka di kamar Becky?”

Ia mendesah lagi. “Aku nggak bisa bilang, tapi percayalah, aku melihatnya.”

“Kapan itu?”

“Tadi malam.”

Donna menatapnya dengan penasaran. “Jam berapa?”

“Sekitar jam sembilan.”

“Nggak mungkin,” katanya datar.

“Tentu saja mungkin. Aku lihat mereka melakukannnya.”

“Jason, Danny denganku tadi malam.”

“Hah?”

“Dia sekonyong-konyong meneleponku kemarin sekitar jam lima, dan bilang ia ingin bicara. Dia datang rumahku sekitar jam setengah enam, dan kita ngobrol sampai jam dua pagi. Bayangkan. Kita ngobrol semalaman dan nggak sempat punya waktu buat bercinta.”

“Mustahil.”

“Aku pikir juga begitu, tapi aku sumpah, kita nggak berhubungan seks.”

Dia tampak bingung, dan berkata, “Bukan itu, maksudku nggak mungkin Danny denganmu tadi malam.”

“Kalau begitu kau harus kasih tahu aku dengan siapa aku bicara semalaman. Sebab kalau itu bukan Danny, dia pasti punya kembaran identik yang berkeliaran disana.”

“Dia ada di sana. Aku lihat dia dan aku juga lihat mobilnya diparkir di depan rumahnya.”

“Tunggu, kau lihat mobilnya?”

“Ya, diparkir tepat di luar rumah Becky.”

“Jason, Danny nggak bawa mobilnya tadi malam. Gary meminjamnya.”

“Gary?”

“Ya, si pecundang sialan itu sudah pinjam mobil Danny tiap saat. Terus bilang ini yang terakhir kalinya, tapi lalu datang lagi keesokan harinya dan pinjam lagi. Danny terlalu lembek, ia membiarkan dia meminjamnya.”

“Gary?” Ulangnya. Dia mengingat kembali apa yang telah dilihatnya di kamar Becky. Dia melihat kaki Danny dan mendengar suaranya, tetapi mereka selalu berbisik-bisik. Karena berhalang pandangannya oleh Becky, dia tak pernah melihat wajah Danny.

Amuletmu selalu menunjukkan kebenaran, tapi kadang-kadang kau mungkin tidak melihatnya.

“Oh tuhan,” katanya.

“Apa?”

“Berarti itu Gary yang aku lihat dengan Becky. Bagaimana aku bisa begitu bodoh?”

“Nah,” katanya, terlihat lega. “Aku senang bahwa misterinya sudah terpecahkan.”

“Ya Tuhan, bagaimana aku memperlakukan Danny. Betapa kacaunya aku.”

“Danny sudah berusaha untuk meneleponmu seharian. nggak usah khawatir Jason, dia akan paham.”

Dia tidak merasa terlalu yakin.

“Jadi kau bilang Gary dan Becky terlibat hubungan?”

“Ya,” jawabnya, sambil memegangi kepalanya. Tapi ada sesuatu yang salah. Dia melupakan sesuatu yang penting.

“Biarpun aku nggak tahan sama si jalang itu, aku berharap Sam berhati-hati dengan psiko itu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau belum pernah dengar bahwa dia terlibat masalah tahun lalu?”

“Aku mendengar rumor, tapi nggak ada yang spesifik.”

“Dia dan teman-temannya dituduh memperkosa beramai-ramai seorang cewek di kabin memancing ayahnya di Blue Lake. Satu-satunya alasan kenapa mereka nggak masuk penjara sebab cewek itu takut buat bersaksi.”

“Oh my god.”

“Ya, itu sangat mengerikan.”

“Tidak tidak tidak tidak.” Dia berbicara cepat.

“Ada apa sebenarnya?” Katanya, tampak khawatir.

“Apa Gary pinjam mobil Danny malam ini?”

“Ya, dia datang dan meminjamnya dua jam yang lalu.”

“Oh my god!”

“Jason, kau membuatku takut.”

“Tadi malam, ketika aku melihat Gary dan Becky, Gary bicara tentang Samantha, dan bagaimana ia ingin menidurinya. Bilang jika Sam nggak mau, dia akan memerkosanya.”

“Di mana Samantha sekarang?”

“Dia pergi dengan Mustang Danny sejam yang lalu…”

Amulet Bab 19
Amulet Bab 19

Jason mencengkeram kemudi mobil dengan erat saat ia berbelok dari jalan raya utama menuju ke Blue Lake Road, memacu mesin setelah mobilnya lurus. Donna tak yakin persis di mana kabin itu, yang dia tahu adalah itu ada di di sisi seberang danau. Dia ingin ikut bersama Jason, tetapi ia mengatakan ia harus pergi sendirian. Akan lebih mudah untuk menggunakan amulet tanpa keberadaan dia.

Dia tidak minta ijin orang tuanya jika ia membawa mobil mereka. Dia sudah dihukum dan butuh terlalu banyak waktu untuk menjelaskannya. Setelah Donna pergi, dia menulis catatan pendek dan meninggalkannya di tempat tidurnya, menyelinap turun, mengambil kunci dari gantungan, dan menyelinap keluar dari pintu belakang.

Mereka mungkin tidak di kabin. Mereka mungkin saja masih di Brady Overlook sekarang, tangan Gary mengerayangi seluruh tubuh Sam, dan sekarang dia malah menuju ke arah yang salah.

Ujianmu tiba malam ini, ditepi air.

“Aku dalam perjalanan Sam,” katanya dengan suara keras, berharap entah bagaimana caranya Sam bisa mendengarnya.

Mencapai sisi lain danau, ia terus mecari-cari mobil Danny. Sebagian besar Cottage berada di jalan sisi danau, tapi ia menoleh kepalanya bolak-balik, tak ingin melewatkan apapun.

Sepertinya ia sedang mengemudi lama sekali. Cottage demi cottage setelah dilewati, tapi tak ada Mustang. Dia mulai khawatir ia telah salah mengambil jalan. Hanya satu tambahan kekacauan dari daftar panjang kekacauannya. Maafkan aku Sam, aku…

Itu dia. Mobil itu diparkir jauh dari kabin dan dekat dengan pinggiran danau, dan ia hampir saja melewatkannya. Dia melaju lewat dan berbalik, menyetir kembali tanpa menyalakan lampu. Dia berhenti keluar dari jalan, tepat di belakang kabin. Dengan pelan-pelan membuka pintu, melangkah keluar, menutupnya tanpa suara, dan cepat melepas pakaian, melemparkan pakaiannya ke kursi melalui jendela yang terbuka. Dia memasang amulet di lehernya, dan menuju kabin.

Lampu di dalam menyala, dan dia melangkah ke teras, mencoba untuk bergerak secepat dan setenang mungkin. Ada sebuah jendela yang panjang yang membentang di sepanjang teras ke pintu, dan ia bisa melihat ke dalam. Jantung berpacu keras di dadanya, takut pada apa yang akan ia lihat, tapi ia merasa sangat lega ketika ia melihat Gary berdiri di bagian dapur kabin, sendirian.

Dia mengamati seluruh ruangan, tapi melihat ada tanda-tanda Sam. Ketakutannya melonjak lagi mengingat kemungkinan Gary mungkin sudah melakukannya, dan meninggalkannya di suatu tempat. Tapi dia melihat pintu terbuka di dinding belakang, yang jelas mengarah kamar tidur.

Menatap sekilas kearah Gary, yang mana sedang membungkuk dan melihat di dalam lemari es, Jason tidak ragu lagi. Dia melangkah ke pintu, membukanya dengan diam-diam sebisa mungkin, dan melangkah masuk. Itu tidak terlalu pelan, karena Gary berbalik dan berkata, “Aku sudah menunggu-” tapi berhenti ketika ia melihat ruang kosong. Ia tampak bingung sejenak, dan berkata, “Angin sialan.” Dia berjalan ke pintu untuk menutupnya. Jason berpikir untuk menyerah dia, dengan menggunakan unsur kejutan, tapi ketika dipikir-pikir kemungkinannya kecil. Gary berbadan seperti Danny, dan mungkin memiliki pengalaman lebih banyak dalam berkelahi. Sebaliknya, ia mengambil kesempatan untuk berjalan cepat ke arah pintu kamar tidur. Dia harus menemukan Sam.

Ketika ia melangkah masuk, apa yang dilihatnya membuatnya dipenuhi dengan kemarahan. Sam berada di tempat tidur dengan bandana dilipat dan diikat di kepalanya, menutupi matanya. Tangannya diikat dengan lakban di atas kepalanya, dan banyak lakban lagi yang menempel ke bilah dari kepala tempat tidur. Kakinya yang telanjang juga diikat di pergelangan kakinya.

Pakaiannya masih utuh, namun bajunya robek di depan dan menggantung ke satu sisi yang memperlihatkan tali bra dan bagian atas bra yang menutupi payudaranya. Wajahnya dipenuhi ekspresi sedih, seolah-olah dia baru saja selesai menangis.

“Kau Ok di sana Botol Cola?” Teriak Gary dari ruang lainnya. “Jangan khawatir seksi, teman-temanku akan ada di sini segera dan kita akan segera dimulai party-nya.” Dia diucapkan pihak sebagai ‘par-TAY’.

Dia mulai menangis, dan mulutnya mengernyitkan menjadi ketat, bibir bawahnya menonjol. Isak tangis menguncang tubuhnya.

Jason pindah ke sisi lain tempat tidur, membungkuk di atasnya, dan tanpa berpikir, membelai sisi wajahnya. Kesalahan besar. Sam tersentak keras menghindar, mengeluarkan jeritan dan menarik tangannya dari ikatan. “Jangan sentuh aku!” Teriaknya. Dia cepat-cepat menarik tangannya pergi.

Gary muncul di pintu. “Ada apa sayang?”

“Jangan sentuh aku!” Teriaknya lagi.

Gary tertawa. “Jadi sedikit nggak sabar rupanya kita? Jangan khawatir seksi, nggak akan lama sebelum aku menyentuhmu” Dia berbalik dan berjalan kembali ke ruang lainnya.

Dia pasti telah mendengar dia pergi, karena Sam rileks kembali ke tempat tidur, napasnya menjadi lebih lambat.

Jason harus mencoba sesuatu yang berbeda.

Dia membungkuk di tempat tidur. Berbisik, ia berkata, “Sam, ini Jason.”

“Jason?” Katanya keras.

Gary muncul di pintu lagi. “Kau memanggil-manggil pacar kutu bukumu itu?” Dia tertawa. “Betapa manisnya. Tapi dia mungkin dirumah dengan ibunya sekarang” Sambil masih tertawa, ia meninggalkan pintu.

Jason mencoba lagi. “Sam, kau harus tenang,” bisiknya pada dirinya.

“Jason?” Kali ini suaranya berupa bisikan.

“Ya, ini aku Sam. Aku di sini.”

“Gimana kau bisa di sini?”

“Aku akan menjelaskannya nanti, tapi kau harus percaya padaku. Aku akan membawamu keluar dari sini.”

“Apakah aku bermimpi tentangmu lagi?”

“Tidak Sam, aku benar-benar di sini. Aku akan menyentuh wajahmu sekarang, jangan takut.”

Dia menjulurkan tangannya lagi, dan menyentuh pipinya. Dia menarik diri sedikit, tapi kemudian berhenti. Jason membelainya dengan lembut dan Sam menekan kembali kearah sentuhannya.

Dia mulai menangis dengan pelan.

Jason memindahkan posisinya, membawa wajahnya ke pipi Sam yang lain, dan menekannya, menempelkan wajahnya antara pipi dan tangannya.

“Ini memang kamu,” katanya, masih menangis. “Oh Jason, aku sangat menyesal. Aku hanya pergi keluar dengan Gary sebab aku marah padamu.”

Tawa muncul dari ambang pintu. Jason segera menarik diri.

“Botol Cola,” kata Gary, “Semua tangisanmu memanggil-manggil pacarmu membuatku berpikir bahwa sudah kau nggak sabar lagi. Gimana kalau kau dan aku sedikit bersenang-senang dulu sebelum teman-temanku datang di sini?”

Sam memiringkan kepalanya, mencoba untuk mencari tahu di mana suara Gary berasal. Itu tidak masuk akal.

Gary duduk di tempat tidur, menyebabkan pegas ranjangnya berderit. Dia berusaha menggeliat menjauh dari suaranya.

Gary terkekeh. “Mau ke mana seksi? Bukankah kau ingin aku menghangatkanmu buat teman-temanku?” Tangan gary terjulur dan meletakkan tangannya di atas dadanya, memberikan remasan melalui blusnya.

“Tolong aku Jason,” jeritnya, bercampur isakan dalam suaranya.

Sebuah tirai kemarahan jatuh atas pikiran Jason, dan semua pikiran yang waras menghilang. Dia melemparkan berat badan sepenuhnya dari seberang tempat tidur ke arah dada Gary, mendorong cowok besar itu terlempar dari kasur dan menabrak dinding.

Gary berbaring di sana tertegun saat Sam mulai menangis lagi. Jason bangkit dan berlari ke pintu, melesat melewatinya dan pergi ke arah dapur. Matanya mencari dengan panik di sekitar ruangan untuk mencari sesuatu yang ia cari. Dia membuka satu laci, dan satunya, dan akhirnya menemukannya di laci ketiga. Menarik keluar pisau steak dari baki, ia berbalik dan kembali ke tempat Sam.

Ketika ia masuk kamar tidur, Sam masih menangis, tapi Gary sedang duduk, menggelengkan kepala, mengatakan “Apa-apaan ini?” Dia mulai berdiri, menggunakan satu tangan memegangi tempat tidur untuk menyeimbangkan diri. Jason melemparkan tubuhnya kearah Gary lagi, dia tak menduga serangan itu dan membenturkan kepalanya dengan keras ke dinding di atas kepala tempat tidur. Kali ini Gary jatuh benar-benar tak sadarkan diri.

“Aku di sini Sam,” kata Jason, “waktunya untuk pergi.”

Menempatkan pisau di bawah lakban yang mengikat tangannya ke tempat tidur, ia menekan ke atas, dan ketika ia yakin, ia menarik keatas dengan keras. Lakban terpisah, dan tangannya, yang masih terikat, turun ke dadanya.

“Apa yang terjadi Jason?” Katanya dengan nada ketakutan dalam suaranya.

“Kita segera pergi,” katanya. Dia mencoba untuk memasukkan pisau itu di sakunya, tapi ternyata ia tak punya. Mengingat kembali ke film Tarzan dulu, ia menempatkan pisau di mulutnya dan menggigit di antara bibirnya, membungkuk dan mengangkat tubuh Sam dalam pelukannya.

Dia tak percaya bagaimana entengnya Sam terasa saat ia membawanya keluar dari kamar tidur dan berjalan menyeberangi ruangan ke pintu. Dua langkah di teras, menuruni tangga, dan berpaling ke arah mobil. Mencapai sisi penumpang, dia menurunkan Sam dengan kaki yang masih terikat, dan menjaga seimbangnya saat ia membuka pintu. Dia membimbingnya mundur dan menggesernya duduk ke jok mobil.

“Tolong melepaskan ikatanku Jason.” Ada nada kepanikan dalam suaranya.

Mengambil pisau dari mulutnya dan menaruhnya di atap mobil, ia berkata, “Tunggu sebentar Sam.” Dia mengulurkan tangannya ke seberang ke tempat duduknya, menyambar celananya, dengan cepat memakainya, kemudian melepas amulet dan melemparkannya ke jok arah belakang.

Sam menarik-narik bandana yang menutup matanya, tapi tidak berhasil karena masih ada lakban diatasnya.

“Biar aku yang melakukannya.” Dia membungkuk dan menarik bandana keatas yang menutupi matanya, dan melepas sepenuhnya dari kepalanya. Sam mengerjap beberapa kali dengan mata merah dan bengkak, kemudian melihat Jason. Sam menatapnya seolah-olah ia tak nyata, wajahnya jelas terlihat shock.

“Jason?”

Jason membungkuk mendekatinya, dan menatap tepat di matanya. “Aku di sini Sam.” Menggapai keatas, ia menyentuh pisau di atap mobil dan menariknya ke turun. Dia mengambil tangannya, menempatkan pisau di antara ikatan tangannya dan dengan hati-hati memotong lapisan lakban. Ketika sudah berpisah, ia menarik lakban tebal dari pergelangan tangannya. Segera setelah tangannya bebas, lengan Sam langsung memeluknya, menarik keras-keras kearahnya dengan kekuatan yang tak pernah ia sadari. Jason melingkarkan lengan ketubuhnya, dan mereka saling berpelukan, tanpa bicara.

Setelah semenit, Jason mencoba melepaskan diri, tapi Sam menolak untuk lepaskannya.

“Sam, kita harus pergi. Aku nggak tahu berapa lama dia akan pingsan.”

Mendengar ini, Sam duduk kembali, rasa ketakutan muncul kembali dimatanya.

Ia menimbang untuk memotong ikatan kakinya, tetapi memutuskan itu bisa menunggu sampai mereka pergi. Jason membantu Sam menaruh kakinya ke dalam mobil ketika ia melihat cahaya lampu mobil.

Amulet Bab 20
Amulet Bab 20

Mobil melaju di jalan, dan untuk sesaat, Jason pikir mobil itu akan lewat. Tapi ketika mencapai mereka, pengemudi menginjak rem dan berbalik cepat ke jalan masuk kabin, menggelincir diatas rumput.

Jantung Jason mulai berpacu keras di dadanya. Dia menatap ke kursi belakang untuk mencari amuletnya, tapi ia tak melihat sama sekali. Pasti terselip di bawah bantal.

Tiga pintu mobil terbuka dan tiga pria yang besar dan berwajah jelek keluar. Sopirnya, yang terbesar dari tiganya, berjalan ke arah Jason. Salah satu gigi depan sebelah atas tanggal.

“Apa yang kita punya di sini?” Tanyanya.

Berpikir cepat, Jason mengatakan, “Kami sedang berkendara bersama dan aku harus kencing. Baru saja selesai, dan sekarang kita sedang menuju keluar. Tapi terima kasih sudah berhenti untuk melihat apakah kita OK.” Dia berdiri di depan Sam, mencoba untuk memblokir pandangan mereka dari kaki Sam yang masih terikat.

Pria itu menelitinya. “Kau mengemudi hanya pakai celana dan tanpa sepatu?”

Pikiran Jason bekerja. “Ya,” dia tersenyum, “Pacarku dan aku berada di jalan sedikit…bermesraan, kau tahu kan, nyaris telanjang. Kita pikir kita melihat polisi datang, jadi kami buru-buru berpisah dengan cepat. Nggak punya waktu untuk berpakaian.” Dia melihat mereka mencoba untuk melihat sekelilingnya, untuk melihat wajah Sam seperti apa.

“Dan lalu,” Jason melanjutkan, “Tahu nggak? Pacarku mual dan muntah ke badannya sendiri dan bagian dalam mobilku. bau sekali di dalam, dan penampilannya nggak karuan.”

Orang-orang itu mengambil langkah mundur, tidak lagi tertarik seperti apa penampilan Sam.

Gigi Tanggal mulai tertawa. “Kau mengalami malam yang benar-benar sial, nak. Gimana kalau kau masuk kembali ke mobil busukmu dengan pacar mesummu dan segera minggat keluar dari sini.”

“Ya, Sir,” kata Jason, berusaha untuk tidak menunjukkan rasa leganya.

Dia berbalik untuk menutup pintu Sam ketika terdengarlah suara dari samping kabin. “Kau nggak akan kemana-mana Jason.”

Jason berbalik dan melihat Gary keluar dari kegelapan, menggosok kepalanya dan mengedip-ngedipkan matanya.

“Gary?” Kata Gigi Tanggal, “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

“Bocah ini hampir saja pergi membawa cewek kita,” kata Gary.

Sam mulai menangis lagi.

“Maksudmu kita akan bercinta dengan cewek dengan muntahan di seluruh tubuhnya?” Ini berasal dari salah satu pria lain, seorang pria berambut panjang kurus berantakan seperti dia mengalami kesulitan naik di kelas tiga SD.

Gary tertawa. “Nggak, dia cewek seksi yang cantik. Benar-benar bagus. Jauh lebih bagus daripada seharusnya si pecundang ini pantas dapatkan.”

Jason memelototinya.

“Aku nggak yakin di mana kau sembunyi di sana, menyerangku tak terduga seperti itu,” kata Gary yang masih menggosok bagian belakang kepalanya, “tapi itu nggak akan terjadi lagi.”

Sekali lagi, Jason tidak menanggapi.

“Tapi aku akan kasih tahu kau Jason. Sebab kita teman lama dan karena kau bersahabat baik dengan Danny, aku akan berlaku ringan padamu. Tinggalkan Botol Cola di sini, dan kau menyetir pergi, jadi kau masih punya gigi yang utuh dan nggak ada patah tulang.”

Kau adalah pelindung, Jason. kau selalu begitu.

Jason mengambil langkah maju. “Kau nggak akan pernah menyentuhnya lagi.”

Gary tertawa. “Oh ya, aku lihat aksimu hari ini pada Danny. Akhirnya kau malah berdarahhidungnya padahal ia nggak melawan” Dia tertawa lebih keras.

“Omong-omong Jason,” ia melanjutkan, “kau tahu nggak? Tentang Becky? Bahwa cewek sialan itu terlalu tolol, jadi aku harus menjelaskan padanya bagaimana untuk menyingkirkanmu. Kencan kecilmu dengan dia adalah ideku. Dan itu berjalan dengan sempurna, melihat bagaimana caramu menyerang Danny. Tapi apa kau tahu apa bagian yang paling menyedihkan dari semuanya Jason?”

Dia menunggu Jason menjawab, tapi hanya menatapnya Jason, jadi dia melanjutkan.

“Bagian yang paling menyedihkan adalah, kau nggak dapat apapun dari perek itu. kau bersama dia di Brady Overlook, dan yang kau lakukan cuma ngobrol. Oh yah, dia bilang semuanya padaku” Gary tertawa. “Pecundang menyedihkan macam apa kau.”

“Dan sekarang kita akan meniduri cewekmu,” lanjutnya, “Dan karena kau nggak mau pergi, kita akan membuatmu menonton. Aku akan mengikatmu di kursi dan kau akan menonton kita memasukkan penis kita dalam si Botol Cola. Dan Carl sini,” dia menunjuk pada si gigi tanggal, “Suka merasakan pantat ketat di sekitar penisnya, betul kan Carl? Apa kau pikir dia memiliki pantat ketat, Jason?”

Jason bisa merasakan kemarahannya meningkat. Dia mencoba menenangkan napasnya. Dia membiarkan pikirannya kembali ke hari dimana ia bertemu Malchediel. Dia berpikir tentang bagaimana dia bereaksi di sana waktu itu, tanpa berpikir, dan melakukan hal yang mustahil. Dia mengambil napas dalam-dalam. Sudah waktunya.

“Hei Gary,” kata Jason dengan tenang, “Becky membagi rahasianya bukan denganmu saja.”

“Ya?” Kata Gary tersenyum, “Apa dia bilang padamu aku mampir ke rumahnya setiap minggu untuk menidurinya?”

“Ya, dia menyebut itu, tapi dia juga bilang kau suka kalau dia mendorong vibratornya masuk kedalam pantatmu.”

Gary ternganga. Tiga orang lainnya mencibir.

“Dia perek tukang bohong,” kata Gary.

“Nggak, dia bilang padaku semuanya,” lanjut Jason, “Itu warnanya pink dan dia bilang kau menjerit seperti gadis kecil ketika ia mendorongnya masuk dalam-dalam saat kau keluar.”

Gigi Tanggal tertawa terbahak.

“Tutup mulut pembohongmu sialan,” kata Gary, memelototi Jason.

“Dia cerita katanya kau bilang rasanya seperti surga.” Dia mengeluarkan kata terakhirnya perlahan-lahan.

Rambut panjang dan orang ketiga bergabung ikut tertawa.

“Aku akan mematahkan leher sialanmu, keparat!” Teriak Gary, dan bergegas di Jason.

Jason menunggu, perasaan tenang datang padanya. Kemudian pada saat yang tepat, ia melangkah maju, berat badannya ditransfer dengan sempurna, dan tinjunya bertemu tepat ditengah wajah Gary. Gary berhenti, hidungnya muncrat darah, matanya berputar kebelakang kepalanya, dan ia roboh ke belakang seperti pohon tumbang, mendarat di tanah dengan bunyi gedebuk.

Itu semua terjadi begitu cepat hingga semua orang tertegun, bahkan Jason sendiri. Ia berharap Gary untuk bangkit kembali, tapi dia hanya berbaring di sana, tak bergerak.

Semua orang berdiri diam selama beberapa saat, menyaksikan Gary terbaring di sana, dan kemudian Gigi Tanggal melangkah maju. Dia meraih ke sabuknya dan mengeluarkan sesuatu. Jason melihat pisau berkilau dalam cahaya yang redup.

“Bocah,” katanya, “Aku datang kemari malam ini untuk mendapatkan cewek, dan kau merobohkan si homo ini nggak akan menghentikanku.”

Jason berdiri tegak. “Tak ada satupun dari kalian yang akan menyentuhnya.”

Si Gigi Tanggal terkekeh. “Kita lihat saja.” Dia mengambil langkah menuju kearah Jason.

Lampu mobil tiba-tiba muncul entah dari mana, sebuah mobil meluncur melalui kerikil. Saat mencapai tempat mereka, roda terkunci dan mobil tergelincir berhenti, melemparkan debu ke udara. Pintu terbuka dan Danny melangkah keluar.

“Dan siapa lagi yang datang ke sini?” Tanya Gigi Tanggal, mengayunkan pisau ke arah Danny. Danny menyerangnya sebelum ia bisa bereaksi, yang mempersempit jarak dengan gerakan atletik yang melebihi apapun yang pernah dia lakukan di lapangan football. Tinjunya menghajar ke dalam mulut pria itu, dan si Gigi Tanggal giginya hilang satu lagi, ambruk dan teronggok di tanah. Rambut panjang dan pria satunya berdiri di sana shock, dan Danny meraih pria pertama pada kemejanya, berputar, dan melemparkan tubuhnya ke batang pohon, kepalanya membuat suara dung, membentur batang kayu yang berongga. Tanpa menghentikan geraknya, Danny meraih bagian belakang kepala orang ketiga, dan menariknya ke bawah, disaat bersamaan lututnya menyambut wajah pria itu. Dia roboh dengan erangan.

Itu berlangsung hanya dalam sekejap. Danny berdiri diantara tiga pria itu, nyaris tanpa terengah-engah, disaat Donna melangkah keluar dari dalam mobil. Mereka bisa melihat kilatan cahaya merah dan biru mendekat menandakan itu adalah lampu polisi yang berasal dari seberang danau.

***

Sam dan Jason duduk di tangga kabin dengan selimut melilit mereka. Lengan Sam berada dilehernya, memeluk ketat dirinya pada tubuh Jason, ia telah melakukan itu saat kakinya tak terikat lagi. Lengan Jason berada di belakang punggungnya, mendekap Sam di kehangatan tubuhnya. Sam diam, dan setelah beberapa kali gagal untuk mengajak bicara dengannya, Jason menerima dan memeluknya dalam keheningan. Donna duduk di samping mereka mengenakan selimut sendiri.

Ketika kru EMT telah tiba, mereka datang menuju ke arah Sam dan memintanya untuk datang ke van mereka sehingga mereka bisa memberikan pemeriksaan medis. Dia menolak untuk meninggalkan Jason, sehingga mereka memeriksa sebaik yang mereka bisa di tangga, dan menemukan tak ada yang salah.

Gary dan tiga lainnya sudah dibawa pergi, dan Danny sedang diwawancarai oleh polisi, termasuk petugas Lobeaux, yang tampaknya sangat peduli tentang dia. Mereka akhirnya selesai, dan Danny berjalan menuju ke teras.

“Ada apa, Butthead?” Katanya kepada Jason.

Jason tersenyum lemah.

“Donna menceritakan semuanya,” kata Danny, mencegah kata-kata berikutnya yang akan Jason ucapkan, “Kita bisa membicarakan itu lain waktu, tapi untuk sekarang, untuk malam ini, ayo kita lupakan saja peristiwa siang tadi, anggap nggak pernah terjadi.” Dia duduk di samping Donna dan dia membuka selimut untuk menyambut Danny masuk.

“Terima kasih,” kata Jason, “kepalaku sakit memikirkannya. Dan terima kasih sudah muncul malam ini. Menyelamatkan kita berdua.”

“Dude,” kata Danny, “Kau sudah melakukan hal yang tepat di mana kau menginginkannya. Kau merobohkan Gary begitu saja. Hanya soal waktu sebelum kau menyelesaikan sisanya.”

Jason tersenyum. “Pastikan kau mengulang cerita yang sama di sekolah besok.”

Danny tertawa.

“Terima kasih juga Donna,” kata Jason.

“Untuk apa?” Jawabnya.

“Untuk membuka mataku dan menunjukkan padaku kebenaran. Untuk menjadi pemanduku dan menerangi jalanku,”

Donna menatapnya. “Apa salah satu dari idiot itu memukul kepalamu?”

Jason tertawa. Dia menyukai Donna yang tangguh.

“Danny?” Itu suara Sam.

Danny bangkit dan pergi kearahnya, berlutut untuk mendekati.

“Hi Sam,” katanya lembut, “Apa kau ok?”

“Terima kasih Danny.” Itu adalah bisikan samar.

“Sama-sama Sam.”

Sam tidak berkata-kata lagi sehingga ia mulai bangkit kembali, tapi tangan Sam terjulur dan menyambar bagian depan kemejanya. Dia menariknya ke dia dan mencium lembut pipi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jason melihat wajah temannya memerah.

***

Keesokan harinya, Jason merasa seperti binatang yang terkurung. Meskipun ia sudah melakukan tindakan heroik, orang tuanya tetap tidak mencabut hukumannya. Di sisi lain, mereka tidak memperpanjang lagi hukuman untuk memakai mobil mereka.

Orang tuanya pasti mendapat tumpangan ke kabin ini bareng Mr. Scotts dan istrinya, dan setelah polisi menjelaskan apa yang sudah terjadi, ibunya datang dan memeluk dia dan ayahnya menjabat tangannya. Sam masih memeluk Jason sepanjang waktu, suatu fakta yang membuat Mrs. Scott tidak terlalu senang. Pandangan yang dia berikan pada Jason menyatakan bahwa dia pikir itu adalah kesalahan dirinya sehingga putrinya terlibat dalam kekacauan ini. Dan Jason benar-benar tidak bisa tidak setuju tentang urusan itu.

Mr. Scott jauh lebih ramah, dan memberinya pelukan. Dia juga yang jadi penentu dalam memungkinkan Jason untuk pulang ke rumah di mobil mereka sehingga ia bisa tetap bersama Sam. Ketika mereka kembali ke rumah, Sam akhirnya membiarkan dirinya lepas darinya, dan Jason menyaksikan dia menghilang ke dalam rumah dalam pelukan ibunya. Dalam perjalanan kembali ke rumahnya, ia berhenti untuk mencari di jok belakang mobilnya, dan menemukan amulet di lantai di bawah karpet.

Ketika ia bangun dan turun ke lantai bawah keesokan paginya, ibunya menyatakan satu-satunya perkecualian pada hukumannya akan mengunjungi Sam. Sekitar tengah hari, ia pergi ke rumah Sam, tapi Mrs. Scott menjawab di pintu dan mengatakan padanya bahwa Sam masih di tempat tidur sepanjang hari, dan memerlukan istirahat. Jason tahu dia ingin mengatakan lebih padanya, tapi dia menahan lidahnya.

Sekarang dia sedang berbaring di tempat tidurnya, memutar-mutar amulet di antara jari-jarinya, menimbang-nimbang apakah ia harus menggunakannya untuk mengunjungi Sam. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk tidak melakukannya, mengingat cara Sam memeluknya. Ibunya benar, dia memang perlu istirahat.

Dia tidur siang memegang amulet, berharap untuk bertemu Ambriel lagi dan mengucapkan berterima kasih, tapi itu tidak terjadi.

Dia menghabiskan sisa malam menonton acara TV yang membosankan. Robin mampir untuk mengunjungi Jenny, tapi Jason bisa mengatakan dia hanya ingin mendapatkan beberapa info segar langsung dari sumbernya tentang peristiwa di kabin itu. Dan karena Jason masih jengkel padanya karena menyebarkan rahasianya, ia mengabaikan pertanyaan itu dan pergi ke kamarnya.

Amulet Bab 21
Amulet Bab 21

Keesokan harinya ia terbangun oleh suara ketukan di pintu kamarnya. Itu ibunya.

“Jason, kupikir kau ingin bangun sekarang.”

“Hah?” Katanya, berkedip menghilangkan rasa kantuk keluar dari matanya.

“Sam ada di halaman belakang rumahnya.”

Kabar itu membangunkannya. Dia segera mencuci muka, memakai pakaian, dan menuruni tangga. Ia pergi ke halaman belakang dan mengintip ke sebelah rumah, dan melihat Sam duduk di ayunan tuanya. Melompati pagar, ia berjalan mendekatinya dan duduk di ayunan yang lain.

“Hi Sam.”

Dia berbalik dan menatapnya, lalu tersenyum. “Hi Jason.”

“Bagaimana perasaanmu?”

“Jauh lebih baik saat ini. Tidur sepanjang hari kemarin dan sepertinya itu cukup membantu.”

“Kau kelihatan jauh lebih baik.”

“Bisakah kau melakukan sesuatu untukku Jason?”

“Apa saja.”

“Bisakah kau memelukku?”

Jason mengulurkan tangan pada ayunan Sam dan menarik kearahnya, memutarnya sampai mereka saling berhadapan. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Sam, dan ia menempatkan tangannya di bahu Jason. Mereka memeluk satu sama lain tanpa bicara selama beberapa menit.

Akhirnya Sam yang bicara. “Aku sangat takut.”

Jason memeluknya lebih erat lagi. “Itu sangat menyakitiku mendengar kau ketakutan. Aku nggak pernah ingin kau jadi takut.”

Dia diam lagi, lalu berkata, “Kau menyakitiku Jason.”

“Aku tahu. Sepertinya aku terus menerus melakukannya padamu. Maafkan aku.”

“Apakah kau mencintai dia?”

Jason mendorong tubuh Sam agar bisa melihat dia, tangannya memegang rantai ayunan di kedua sisinya, menjaga dirinya di depannya. “Becky?”

“Ya.”

“Nggak. Aku nggak mencintai dia. Aku bahkan nggak suka padanya.”

“Tapi kau menyerang Danny karena dia.”

“Itu nggak benar Sam. Aku menyerang Danny karena kamu.”

“Aku?”

“Ya kau.”

“Apa yang Danny lakukan padaku?”

“Aku sudah menguping pembicaraan Gary yang bilang beberapa hal-hal buruk tentangmu, dan kupikir saat itu Danny yang bicara. Lalu kau bilang kau punya kencan, dan aku menduga itu adalah Danny. Itulah sebabnya aku marah.”

“Kau menyerang Danny karena aku?”

Dia tersenyum. “Ya, lumayan tolol kan?”

“Ya, tapi romantis juga.”

Senyumnya melebar. “Pantatku ditendang itu romantis ya? bisakah aku hanya membawakan bunga untukmu lain kali?”

Sam tertawa. Itu bagus untuk mendengar dia tertawa.

“Kau menyelamatkanku,” katanya.

“Aku sudah banyak berlatih.”

Dia memberinya tatapan bingung. “Berlatih?”

Dia melihat sekeliling. “Kapal bajak laut kita. Kita menghabiskan seluruh musim panas di sini berlatih penyelamatan.”

Sam berseri-seri. “Kau ingat itu?”

“Tentu saja. Tapi itu agak mengejutkanku ketika aku muncul dan kau nggak memakai penutup mata dan janggut.”

Dia terkikik. “Aku punya foto kita saat memakai kostum itu.” Wajahnya berubah sedih.

“Apa?” Tanyanya.

“Aku meremas-remasnya menjadi bola hari itu ketika aku marah padamu.”

“Ingatkan aku jangan pernah membuatmu marah lagi.”

“Tapi anehnya, ketika aku bangun keesokan paginya, foto itu kembali ke dalam bingkainya. Aku pasti yang memasangnya lagi saat tengah malam.”

“Kukira moral dari cerita ini adalah,” kata Jason, “bahwa kau dan aku mungkin akan hancur, tapi kita akan selalu bangkit kembali.

Dia tersenyum. “Aku suka itu.”

“Kau punya bulu mata yang indah.”

Sam tampak terkejut. “Dari mana kata-kata ini berasal?” Katanya, melihat ke arahnya.

“Aku melihatnya dulu untuk pertama kalinya, dan kupikir kau harus tahu.”

“Bulu mataku indah?”

“Ya, dan hidungmu.”

“Hidungku?”

“Ya, hidungmu sangat indah” Dan telingamu.”

“Telingaku?”

“Ya, aku suka bagaimana rambutmu berada di atasnya.”

“Jason?”

“Dan kau mata. Matamu berwarna hijau indah dan bahkan lebih cantik lagi ketika mata itu sedang menatapku.”

“Jason.”

“Dan bibirmu. Bibirmu sempurna. Begitu lembut dan penuh dan berwarna merah muda indah.”

“Bibirku?”

Wajahnya dekat dengan miliknya, napasnya yang hangat di kulitnya

“Ya, bibirmu.”

Lengan Jason tergelincir di pinggangnya, menarik tubuh Sam ke arahnya. Sam merespon dengan menempatkan tangannya di leher Jason.

Bibir mereka bertemu, sangat ringan, dan napas mereka berbaur. Waktu serasa berhenti, Jason menariknya lebih erat ketubuhnya dan bibir mereka bersatu, menandai saat yang tepat di mana kehidupan terpisah mereka telah berakhir, dan kehidupan bersama telah dimulai. Ciuman itu berlangsung beberapa saat, dan mereka memisahkan diri dan menatap mata satu sama lain.

“Wow,” kata mereka berdua secara bersamaan.

“Aku punya mimpi lain tentangmu,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena aku ada di sana.”

“Jadi kau tahu apa yang kau janjikan padaku.”

“Ya aku tahu.”

“Kalau begitu katakan padaku.”

“Aku mencintaimu Sam. kupikir aku selalu memiliki perasaan itu.”

Sam tersenyum, wajahnya terang berseri. “Aku juga mencintaimu Jason. Dan aku tahu aku selalu punya perasaan itu.”

Lalu merekapun berciuman lagi.

***

Beberapa hari kemudian, mereka berbaring di hammock (tempat tidur gantung) di halaman belakang rumah Jason. Dia berbaring telentang dan Sam berada disampingnya, kepalanya bersandar di dadanya. Mereka menikmati keheningan bersama-sama.

Tapi kemudian Sam bicara. “Jason, kau merahasiakan sesuatu dariku.”

Dia sudah siap untuk pertanyaan itu, bertanya-tanya kapan dia akan menanyakannya.

“Ya aku punya rahasia. Aku sudah menunggumu untuk menanyakan tentang hal itu.”

“Ketika kita berada di kabin bersama-sama, itu nggak masuk akal. Kau ada bersamaku, tapi Gary nggak tahu kau ada disana.”

“Ya.”

“Dan tentang mimpiku. Apakah kau di sana saat pertama kali juga?”

“Ya, aku disana.”

“Bagaimana caranya?”

Jason kemudian menceritakan segalanya.

Amulet Bab 22
Amulet Bab 22

Dua bulan kemudian.

Jason menyelipkan keycard untuk membuka pintu kamar hotel. Lampu menyala hijau dan dia mendorong pintunya terbuka.

Mereka telah menyewa kamar ini beberapa minggu yang lalu, dalam mengantisipasi untuk menghabiskan malam bersama setelah prom. Pada saat itu, ia memiliki fantasi mengangkat Sam ke dalam ruangan, dia mengenakan tuksedo dan Sam dengan gaunnya, membawanya menyeberang ke tempat tidur, dan meletakkan di atasnya, jatuh ke pelukannya.

Tapi sekarang, dia masuk ke kamar ini sendirian. Dia memakai tuksedonya, tapi itu satu-satunya bagian dari fantasinya yang menjadi kenyataan. Dia melihat ke sekeliling di ruang kosong itu. Furniturnya mewah, dan Jason telah menghabiskan uang ekstra karena dia ingin malam ini menjadi spesial. Dia bertanya-tanya di mana Sam berada.

Berdiri di samping tempat tidur, ia melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi. Dasinya jatuh di atasnya, dan dia membuka kancing kemejanya, menariknya keluar dari celananya dan meletakkan di atas jaket. Udara kamar hotel terasa dingin di kulitnya, dan dia perlahan menyentuh tangannya di atas dadanya untuk menghangatkannya.

Dia menendang sepatu dan melucuti celananya, meluncur turun dan melangkah keluar dari setiap kaki, melepaskan kaus kakinya dalam waktu yang bersamaan. Dia berdiri hanya dengan celana dalamnya – celana dalam berwarna putih. Mengambil napas dalam-dalam, ia mendorongnya turun dan melepaskannya, dan ia sekarang telanjang.

Menggapai ke tempat tidur, ia memindah bantal di kepala ranjang. Dia naik ke atas kasur, dan duduk tegak dengan punggung menempel bantal, di atas selimut. Dia memejamkan mata dan memikirkan Sam, mencoba mengingat tubuhnya yang telanjang dari dua bulan yang lalu. Kilatan memori datang padanya, lekuk lembut payudaranya, puting berwarna merah, rambut pubis keriting.

Dia mulai menjadi keras, dan ia mengulurkan tangan dan memegang kemaluannya, merasakan itu menjadi semakin besar dan kaku. Tangan lainnya memijat bola-nya, dan kenikmatannya meningkat. Kenangan tentang Sam lebih banyak lagi datang padanya, dengan beberapa kenangan yang baru masuk juga ke dalam pikirannya, tangan Sam berada pada putingnya, membuatnya jadi mengeras, bagaimana Sam tersenyum setelah mereka berciuman, jari-jari Sam di antara kedua kakinya yang melebar, memanggil namanya saat ia datang.

Kemaluannya sepenuhnya tegak sekarang, dan ia mengeluskan tangannya dengan lembut ke atas dan ke bawah. Dia berharap itu adalah sentuhan Sam dan bukan sentuhan dirinya sendiri. Dia berharap Sam berada di tempat tidur di sampingnya, sehingga ia bisa memeluk dirinya.

Dia mendengar suara dan membuka matanya. Itu terdengar seperti kaki telanjang berjalan di atas karpet. Tiba-tiba, selimut di ujung bawah dari tempat tidur terangkat, tinggi ke udara, dan ketika itu turun kembali, ada sosok badan dibawahnya, dan tekanan yang muncul di atas bantal. Dia tersenyum.

Dia mengangkat selimut di sisinya dan meluncur masuk kedalamnya, kemudian bergerak di tempat tidur sampai ia merasakan tubuh hangat menempel ditubuhnya. Menutup matanya agar tidak menjadi bingung, ia menggunakan indera sentuhan untuk menemukan bibir dan mencium, menciumnya dalam-dalam. Tangannya mencari belakang lehernya, menemukan pengait, dan memisahkannya. Dia membuka matanya dan tampak Sam dengan senyum nakal di wajahnya.

“Kau puas sekarang?” Katanya, “Apa kau sudah cukup menontonnya?”

Sam tersenyum lebar.

“Aku nggak percaya kau membuatku melakukan ini.”

“Cukup adil,” jawabnya puas, “Selain itu, sepertinya kau sedang menikmati dirimu sendiri. Apakah kau ingin aku pergi?”

“Aku ingin kau tetap berada disini,” katanya, menatap matanya. Tangan Jason menyentuh sisi wajahnya, dan membelai dengan lembut. Sam menutup matanya dan menekan pipinya pada sentuhan Jason, bernapas dalam-dalam.

Tangan Jason perlahan-lahan bergerak ke bawah lehernya, melewati tonjolan tulang selangka, dan Sam gemetar menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Bergerak lebih rendah, ujung jarinya menelusuri sampai ke payudaranya, terus hingga mencapai putingnya. Dia menangkup payudaranya di tangannya, merasakan berat dan kelembutannya. Sam menghela napas dengan keras, menciptakan suara halus “oh” di antara bibirnya.

Putingnya menempel telapak tangannya, dan dia meremas payudara dengan lembut, tubuh Sam gemetar hampir tak kentara dalam merespon. tangannya pindah untuk menangkupnya dari bawah, ini membawa putingnya langsung di antara jempol dan jari telunjuknya. Jason melihat ekspresi wajahnya saat ia mencubit dengan lembut, dan bergulir di antara jari-jarinya. Sam mendesah keras saat rasa nikmat melintas di wajahnya. Sam tampak begitu cantik.

Dia melanjutkan terus dengan cara ini, dan Sam mulai lembut bernapas secara ritmis. Ia menundukkan kepalanya dan mengganti jari-jari dengan mulutnya, mengambil putingnya di antara bibirnya dan mengisapnya dengan lembut. Sam terengah keras dan tangannya bergerak ke bagian belakang kepala Jason, mendesak dia. Kulit lembut payudaranya yang lain menyapu pipinya, dan ia pindah dan mengambil puting itu ke mulutnya, membiarkan lidahnya menjentik terhadap daging kakunya.

Kemaluan Jason menekan pinggulnya, dan dia suka merasakan kehangatan pada tubuhnya. Tubuhnya bergerak di bawah sentuhannya, terbangun oleh gairah.

Mulutnya terus bergantian di antara putingnya, keduanya basah dan tegak. Tangannya meluncur ke bawah perutnya, kukunya menelusuri kulitnya. Merasa lekukan sedikit di pusarnya, ia bergerak melewatinya dan menjelajah lebih jauh. Mencapai bagian atas rambut pubisnya, jari-jarinya menyebar, dan ia menutupi dengan tangannya. Dia bisa merasakan kehangatan melalui rambut yang lembut, dan kakinya melebar, menyambut dia.

Jari tengahnya menempel di sepanjang alur dari bibirnya, mengikuti lengkuknya. Ujung jarinya menyentuh di mana labia bertemu di bawahnya, dan ia bisa merasakan basah di sana. Menekan lembut, jarinya tergelincir sedikit ke dalam dirinya, di mana ia menemukan sebuah sumber cairannya, licin dan hangat.

Sam menggigil seluruh tubuhnya, disertai dengan erangan.

“Ya,” bisiknya. “Ya.”

Dia meluncur jarinya perlahan ke atas, merasakan tepi pintu masuknya dan bagian luarnya yang ketat. Saat jarinya tiba di mana bibir dalamnya bertemu, ia merasakan inti kecilnya, keras karena gairah. Sam mengerang lagi ketika ujung jari licin meluncur di atasnya, seperti penggesek pada senar biola.

“Oh Jason, ia berbisik,” Rasanya begitu nikmat.”

Tangan Sam meraih ke bawah, mencari miliknya. Tangan hangat Sam menemukan apa yang ia cari, dan sekarang giliran Jason yang terkesiap saat jari-jarinya melingkari miliknya yang keras dan meremasnya. Jason tak pernah merasa sebaik ini. Sam mulai membelai dengan gerakan lembut saat jari-jarinya dengan lembut menggenggamnya. Jason memejamkan mata dan fokus pada kenikmatan yang ia berikan.

Setelah beberapa saat, dia kembali fokus pada diri Sam, jarinya mengelilingi benjolan kecilnya. Kaki Sam dibuka lebih lebar dan ia memutar pinggulnya sedikit, menekan dirinya ke dalam sentuhannya. Tubuhnya benar-benar terbuka baginya untuk menerima kesenangan dia memberi padanya, dan Jason tahu sekarang sudah saatnya.

Jason berpindah di atasnya, menetap tubuhnya di antara kedua kakinya dan menahan berat badan dengan lengannya, sehingga ia bisa melihat ke bawah diatas wajahnya. Sam membuka mata dan menatapnya. Tak ada ketidakpastian dalam ekspresinya.

Jason tersenyum padanya. “Aku sangat mencintaimu.”

Sam menyentuh sisi wajah Jason dan membelainya.

“Aku juga mencintaimu. Aku selalu menjadi milikmu.”

Jason bergeser sedikit dan sekarang ia ada di pintu masuknya, kepalanya menyentuh bibir dalamnya. Sam melebarkan kakinya lebih luas, wajahnya penuh dengan antisipasi.

Dia menekan dan basahnya melapisi miliknya, mempersiapkan dirinya untuk masuk. Tangan Sam pindah ke bahunya, memegang kedua sisi lehernya. Dia meregangkan pinggul, dan kepalanya di dalam dirinya, mulai menyebarkan hingga terbuka. Sam tersentak nikmat dan pikirannya berenang, tak percaya bisa merasakan senikmat ini.

Menarik kebelakang sedikit dan menekan ke depan lagi, ia mendorong lebih dalam, tapi ia merasakan sesuatu menghentikannya. Jason menatap wajahnya ketika dia menekan lebih keras, dan melihat Sam meringis.

“Sam? kau ok?”

Matanya tertutup tapi ia membukanya dan berkata, “Teruskan.”

Dia mendesak maju lagi dan bisa melihat dia menggigit bibir bawahnya. Ketika ia menyadari usahanya untuk melakukan dengan lembut malah memperpanjang rasa sakitnya, ia menekuk pinggulnya dengan keras.

Penghalangnya memberi jalan dan ia mendorong melewatinya, sesak basah licinnya menyebar di sekitar miliknya saat ia mengubur seluruhnya dalam dirinya dalam satu langkah yang panjang.

Sam menjerit kecil karena rasa sakitnya, dan dia berhenti.

“Sam?”

“Nggak apa-apa. pelan-pelan.”

Dia menahan sejenak, dan perlahan-lahan mundur, merasakan dinding bagian dalamnya meremas seolah-olah mencoba untuk menahannya tetap di dalam.

Sam mendesah. “Ya.”

Ketika ia hampir keluar semuanya, dia berhenti dan berbalik arah, memulai kembali langkah yang panjang dan lambat ke dalam dirinya. Setelah beberapa saat, Sam membuka matanya dan tersenyum padanya.

“Oh Jason, aku nggak pernah tahu kalau rasanya seperti ini.”

Ia membungkuk dan menciumnya, mulut mereka membuka saat lidah mereka menari dan bermain satu sama lain. Dia melanjutkan dengan ritme stabil, kedalam dan keluar dari dirinya, mengisi dan meluncur keluar dimana kemaluannya mencium ujung miliknya.

Kakinya datang di sekelilingnya, dengan lututnya berada di sisi tubuhnya, pergelangan kakinya mengkunci di sekitar punggungnya. Dia benar-benar terbuka baginya, menyambut dorongan ke dalam intinya yang ketat, sudut yang sempurna untuk menjangkau lebih dalam.

Secara insting, kecepatannya meningkat, dan Sam mengerang setuju ke telinganya. Tangannya mencengkeram bahunya dengan erat, kukunya menekan ke dalam kulitnya. Pinggulnya tertekuk dalam irama yang stabil, nafsu mereka berdua mendaki bersamaan dengan setiap dorong ke dalam dirinya.

Wajahnya tenggelam di sisi lehernya, dan ia mengisap dan menggigit kulitnya. Ia bisa merasakan puting kerasnya menekan ke dadanya, saat pinggulnya mulai berputar melawan dia, menyambut dorongan darinya.

Mereka berdua mengerang, kenikmatan mereka mendekati puncak bersama-sama. Dorongannya keras dan cepat, membawa mereka makin dekat ke tepian. Sam datang lebih dulu, jeritan keluar dari bibirnya saat tubuhnya mengejang dalam kenikmatan, gelombang orgasme melanda dirinya. Jason mengikuti tak jauh di belakang, dan dengan satu dorongan terakhir dia mengerang dan mengubur dirinya dengan dalam, otot-ototnya terkunci saat kejang dari kenikmatan berdenyut pada dirinya.

Mereka seperti itu sejenak, terkunci dalam ekstasi pertama yang mereka bagi, dan kemudian mereka mulai rileks, Sam ke tempat tidur dan dia ke pelukannya.

***

Mereka tergeletak di tempat tidur bersama, bercanda dengan puas. Mereka berbaring telungkup, dengan tangan mereka saling terkait. Tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa mereka menciptakan kembali posisi ini seperti waktu dulu saat membuat tenda di tempat tidurnya.

Sam merasakan sesuatu di bawah tubuhnya dan menariknya keluar. Itu adalah amulet, terlupakan karena gairah mereka. Dia melihat pusaran warna dalam cahaya redup. Jason menontonnya saat Sam mempelajarinya, ia masih kagum dengan kecantikannya.

“Aku akan menyingkirkan itu,” katanya.

Sam tidak bertanya mengapa. Dia sudah tahu.

“Tahu apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?”

“Aku sudah memikirkannya, dan kurasa aku tahu orang yang bisa menggunakannya.”

Amulet Bab 23
Amulet Bab 23

Jason berjalan ke restoran yang tenang, kosong sekarang sebelum pengunjung siang berdatangan. Dia berdiri di lobi untuk beberapa saat, menunggu seseorang untuk muncul. Sebuah suara tiba-tiba datang dari belakangnya.

“Bisa aku bantu?” Dia berbalik, dan melihat seorang cewek berambut gelap dengan seragam pelayan. Dia menatap lekat-lekat padanya. Dia tampak familier.

“Kuharap begitu. Aku berada di sini beberapa bulan yang lalu, dan aku meninggalkan jaketku. Aku sudah kembali beberapa kali kesini, tapi aku nggak ingat bahwa jaketku hilang sampai hari ini.” Menatap dia, Jason menambahkan,” Kau tahu, kurasa kau adalah pelayan kami pada malam saat aku meninggalkannya di sini.”

“Mari kita periksa ke tempat barang yang hilang dan ditemukan,” kata cewek itu sambil tersenyum. Dia pergi di belakang meja dan menarik sebuah kotak kardus dari rak yang lebih rendah, menempatkannya di atas permukaannya.

Jason segera melihat jaketnya. Itu agak kusut dan berdebu, namun masih utuh.

“Itu dia,” katanya, menariknya keluar dari kotak. “Terima kasih.”

“Sama-sama. Apa ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu?”

Dia menatapnya. Sesuatu mengganjal di otaknya. Dia adalah pelayan yang telah melayani dia dan Becky, tapi ada sesuatu yang lain, sesuatu yang ia tak bisa ia jelaskan.

Lalu ia melihat itu. Tergantung di lehernya dengan rantai perak adalah sebuah amulet, seperti miliknya. Matanya melebar dan ia menatap kembali pada wajahnya. Rambutnya berbeda, tapi itu adalah dia. Dia tersenyum padanya.

“Ambriel?”

“Hello Jason.”

“Ambriel, kau nyata!”

“Dengan caraku sendiri.”

“Tapi bagaimana?”

“Malchediel dan aku berasal dari keluarga yang sama. Dia menginginkan aku untuk mengawasi hadiah-hadiahya.”

“Bagaimana orang tua itu kabarnya?”

“Dia masih suka pergi keluar sesekali, mengevaluasi orang dengan ujiannya.”

Jason menatapnya cukup lama. Akhirnya, ia berkata, “Apakah kau mengatakan bahwa aku benar-benar tidak menyelamatkan nyawanya?”

“Biar kutebak – sebuah truk akan menabraknya? Itu favoritnya.”

“Ya,” kata Jason sambil menghela napas.

“Nggak ada truk.”

Dia menggelengkan kepalanya.

“Jason, apa yang penting adalah keputusan yang kau buat, bukan apakah bahaya itu nyata atau tidak. kau adalah orang yang baik. Ingat itu.”

“Aku telah berikan pada orang lain, kau tahu.”

“Aku tahu. Malchediel senang dengan pilihanmu, karena ujiannya pertama telah dilewati. Apa kau dan Samantha bahagia?”

“Sangat.”

“Jadi amulet telah memberikan manfaatnya untukmu. Aku sudah mengunjungi pemilik yang baru.”

“Dengan padang rumput dalam mimpi itu?”

“Ya.”

“Bagaimana hasilnya?”

“Dia bertanya apa aku ingin bergabung dengan dia dan pacarnya untuk threesome.”

“Maaf tentang itu.”

“Aku sedang mempertimbangkannya.”

“Serius?”

“Nggak,” katanya sambil tersenyum.

“Oh,” kata Jason, terlihat lega.

“Dia adalah pria yang baik juga. Ujian kedua akan datang suatu hari nanti.”

“Dan kau akan membantunya seperti kau membantuku?”

“Ya.”

“Aku belum pernah mengucapkan berterima kasih untuk itu. Nggak yakin aku bisa melakukannya tanpa bantuanmu.”

“Sama-sama.”

“Yah, aku sebaiknya pergi. Sam menungguku. Kami akan pergi keluar untuk merayakan beasiswaku malam ini” Dia mengangkat jaket untuk menekankan maksudnya.

“Lebih baik dibersihkan dulu,” katanya sambil membuka pintu untuknya.

Dia berjalan melalui pintunya, berhenti, dan berbalik ke arahnya. “Ambriel, bisa aku tanya satu hal lagi?”

“Ya.”

“Amulet-amulet itu, dari mana benda itu berasal?”

Dia tersenyum dengan mata birunya yang cerah. “Rahasia keluarga,” katanya, dan menutup pintu.

***

Duduk di sebuah meja di perpustakaan, asyik tenggelam membaca buku, Jason tak menyadari ketika seseorang duduk di kursi sebelahnya.

“Hi Jason.”

Dia mendongak, dan terpana melihat Becky duduk di sana. Dia nyaris tak mengenalinya. Semua makeup dan gaya rambut yang elegan telah lenyap. Bibirnya berwarna normal, dan rambutnya yang panjang sebahu membingkai wajahnya dengan tampilan alami. Alih-alih memakai pakaian dari desainer seperti biasa, ia mengenakan celana jins sederhana dan kemeja longgar yang normal.

“Becky,” katanya, kebingungan tampak di wajahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Tentang apa?” Ia bertanya, nada waspada ada dalam suaranya.

Dia berhenti sejenak sebelum menjawab. “Jason, aku minta maaf atas semua yang kulakukan padamu. Dan pada Danny dan Samantha.”

Dia menatapnya, masih tak percaya dia ada di sini.

“Aku akan mengerti jika kau tak bisa memaafkanku, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku minta maaf tentang hal itu. Apa yang kulakukan adalah salah. Tak ada alasan, jadi aku tak membuatnya. Aku hanya secara egois peduli tentang apa yang kuinginkan, dan tak peduli pada siapa pun. Aku jadi orang yang tak baik dan aku sedang mencoba untuk mengubahnya.”

Sekali lagi, Jason tidak menjawab.

“Dan aku ingin kau tahu sesuatu yang lain. Malam itu saat kita habiskan bersama, itu semua bukanlah pura-pura. Aku benar-benar bersenang-senang denganmu. Dan juga bukan tentang seks-nya, meskipun aku tak pernah merasa seperti itu dengan orang lain. Itu adalah seluruh malam. Kau lucu dan menawan, dan kau memperlakukan aku dengan spesial, seperti seorang cewek ingin diperlakukan. Dan kau pasti membuat kesan pada adikku Josh. Dia masih bicara tentangmu. Dia sekarang memanggilku ‘wanita cantik’, dia bilang dia dapat kata-kata itu darimu.”

Becky tersenyum, dan matanya bergelimang basah. Jason menatap bukunya, matanya tidak fokus.

Becky mengamatinya sejenak, menunggu jawaban. Ketika tak ada jawaban, dia akhirnya berdiri. “Tak apa Jason, aku mengerti.” Dia menyentuh tangannya dengan pelan, dan berjalan pergi.

“Aku sudah bilang Josh dan aku punya koneksi,” katanya, menghentikan langkah Becky, “Kami benar-benar terikat saat di depan pintu itu.”

Dia berbalik dan menghadapnya, tersenyum dengan air mata di pipinya.

Jason mengulurkan tangan ke kursi di mana dia telah duduk tadi, dan menepuk permukaannya. “Duduklah,” katanya.

Amulet – Epilog
Amulet – Epilog

Enam tahun kemudian.

“Hei Becky,” teriak Jason ke arah dapur, “Cepatlah. Pertandingannya akan mulai, dan mereka akan mewawancarai Danny.”

“Segera datang,” kata suara dari ruang lain.

Beberapa saat kemudian, ketika siaran pertandingan dimulai, sepasang lengan melingkari di lehernya dari belakang sofa, menarik kepalanya menekan terhadap sepasang payudara yang hangat dan penuh.

“Ah,” katanya, “Ini istri cantikku Becky. Aku merindukanmu. Apa yang membuatmu jadi begitu lama?”

Lengan yang ada di lehernya jadi bertambah ketat. “Begini saja Mister, jika kau sekali lagi memanggilku dengan nama itu aku akan memotong bolamu.”

Dia tertawa dan mengulurkan tangan, memeluknya dengan tangan dan menariknya ke atas sofa, dan ia mendarat tertelungkup di pangkuannya. Dia menatap ke arah wajah Sam yang tersenyum.

“Jika kau memotong bolaku, apa yang akan kau mainkan saat kau sedang menghisapku?” Katanya tertawa. “Selain itu, kaulah yang bilang bagaimana mengerikannya hidupku jika aku menikah dengan Becky bukannya dengan kau. Aku hanya mencoba untuk membuat pengalaman itu nyata.”

“Aku sudah bilang dua hari yang lalu. Lelucon itu sudah membosankan.”

“Ayolah Becky, jangan seperti itu. Mari kita buktikan bahwa Sam yang salah. Kita bisa membuat ini berhasil. Terutama jika kau terus melakukan dengan lidahmu seperti yang kau lakukan tadi malam. Ya tuhan, di mana kau belajar itu, Pramuka?”

Dia bergeser dan sikunya bersandar langsung pada bolanya.

“Hey hey hey, ow ow, ok ok, aku berhenti.”

Dia tersenyum, meredakan tekanan. “Nggak ada lagi Becky?”

“Nggak ada lagi Becky,” katanya dengan lembut, “Hanya Sam. Itu selalu hanya Sam. Hanya orang tolol seperti aku ini yang butuh delapan belas tahun untuk menyadarinya.”

Wajahnya berseri-seri seperti yang selalu terjadi ketika cintanya untuk dia bersinar di dalam dirinya. “Kau benar bermulut manis.”

“Kalau itu benar,” katanya serius, “mengapa aku masih tak bisa membuat ibumu menyukaiku?”

Sam tertawa. “Hei, dia mulai bersikap hangat padamu. Bukankah dia bilang hallo padamu bulan lalu saat Thanksgiving ketika kita berkunjung? Itu adalah peningkatan.”

“Sangat benar. Mungkin Thanksgiving berikutnya ketika kita membawa cucunya datang mengunjunginya, dia bahkan akan memberiku pelukan” Dia meletakkan tangannya di perutnya yang sedikit membesar.

Sam tersenyum dan mengulurkan tangan, menarik dia kearahnya, bibir mereka bertemu dalam ciuman lembut.

Televisi mengumandangkan suara, “Mari kita menuju ke lapangan, di mana Stacy Roberts melakukan wawancara di lapangan dengan Dan Mazzelli, si luar biasa Doble Z yang telah menguasai NFL di musim pertamanya.”

Jason melepaskan Sam, dan dia berguling dan duduk, mereka berdua menonton TV. Pada layar mereka melihat sahabat mereka Danny berdiri samping wanita pirang yang sangat cantik. Apa lagi yang baru? pikir Jason.

“Jadi, katakan padaku Dan,” kata si pirang, “Bagaimana rasanya menjadi raja NFL?”

“Menyenangkan Stacy,” kata Danny, “aku suka pertandingannya, aku suka rekan timku, tapi kau tahu apa bagian terbaik dari itu?”

“Apa itu?”

“Aku bisa bertemu wanita cantik sepertimu.” Seringai lebar yang familiar muncul di wajahnya. Sam cekikikan dan Jason mendengus.

Stacy tampak gugup. Dia berusaha untuk menyelamatkan wawancaranya. “Omong-omng tentang itu Dan, bukankah kau baru saja menikah? kurasa istri Donna tidak akan senang dengan apa yang kau katakan.”

“Jangan terlalu yakin, sayang” kata Danny, dan menambahkan kedipan mata ke arah Stacy. Jason dan Sam hampir jatuh dari sofa karena tertawa.

“Um, ok, um, aku kira sudah selesai di sini,” si pirang tergagap lelah, “Kembali pada anda Tim, um, maksudku Tom.”

“Terima kasih Stacy,” kata Tom, dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Dia berpaling kepada rekannya, dan berkata, “Brent, apa pendapatmu kenapa Mazzelli begitu istimewa? Mengapa dia jadi bintang begitu cepat di awal karirnya?”

“Begini Tom,” kata Brent, yang merupakan seorang mantan quarterback, “Dia punya semua bakat di dunia ini, tapi apa yang membuat dirinya berada di atas adalah kemampuannya untuk membaca pertahanan. Seolah-olah dia menyelinap ke ruang ganti tim lawan tanpa terlihat dan membaca buku pedoman pertahanan mereka. Ini luar biasa.”

Sam dan Jason berbalik dan saling memandang, senyuman lebar menyebar di wajah mereka berdua.

***Tamat buku pertama***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s